alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a062830dac13e9f048b4567/roman-sejarah-sinar-jingga-ditanah-blambangan

[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN

"Dahulu Blambangan adalah sebuah kerajaan berdaulat. sebelum ditaklukkan Majapahit atau mungkin Singasari semasa Ken Arok dan keturunannya berkuasa disana. Majapahit menempatkan Keturunan Empu Kepakisan, yaitu Dalem Kepakisan dari Kediri pada tahun 1265 Caka untuk memerintah Blambangan.
Pembentukan Istana Utara di Panarukan untuk menjaga Bandar pelabuhan Panarukan yang dekat Pelabuhan pelabuhan utama Majapahit. Apalagi sejak Keraton dikuasai Orang orang Majapahit sebagai taklukan, yaitu dari Keluarga Empu Kepakisan. Semakin berkembang saja Keraton Utara itu. Sementara keraton timur berada di Kutalateng, semenanjung Banyuwangi. Disana tinggal keluarga taklukan dari dinasti Blambangan terdahulu.
"





Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 94 lainnya memberi reputasi
Thread sudah digembok
ILMU DEMIT


Pertandingan menginjak babak selanjutnya. Ditambah Jingga, anak anak asrama yang masuk babak kedua ada tiga orang. Pertandingan semakin seru, meski ada satu dua yang kelelahan karena kehabisan tenaga pada pertandingan pertama. Satu persatu sahabatnya berjatuhan. Sekarang tinggal Jingga, apakah dia mampu menghadapi lawannya.

Lawannya sudah lebih waspada daripada Darpala. Tak ada yang menjagokan Jingga dapat memenangkan pertarungan kali ini. Kemenangan tadi tidak dianggap sebagai kemenangannya, melainkan kesalahan Darpala semata.

Danu melakukan gerakan pembuka mencari posisi dan jarak tepat untuk menyerang. Jingga mengimbangi dengan melakukan gerakan pancingan. Kakinya ditendangkan ke tubuh Danu, namun tidak dilepaskan, sebelum mendekati lawan, kaki itu ditariknya kembali.
Tiba tiba Danu maju menyerang dengan pukulannya kearah wajah Jingga. Semua menahan napas menunggu detik detik masuknya pukulan itu. Posisi kaki Jingga tidak sempurna karena kakinya yang baru melakukan tendangan pancingan belum menjejak tanah.

Diluar dugaan, Jingga malah menjatuhkan diri sehingga pukulan itu melewati kepalanya. Hanya destarnya terlepas terserempet tangan Danu. Sedang kedua tangannya meraih tangan kiri Danu. Danupun terhuyung terbawa beban berat badan Jingga yang menjatuhkan diri. Dengan bertumpuan pada tanah, Jingga memanfaatkan tenaga jatuhan menjadi tenaga tolakan. Danu tak menduga mendapat serangan, badannya melayang salto dan jatuh dengan punggung lebih dulu. Sebelum menyadari kejadian yang menimpanya. Jingga sudah duduk diatas dadanya mengunakan jurus trenggiling. Tangan Jingga ditarik tinggi menyiapkan pukulan terakhir, namun wasit pertandingan sigap menahan tangannya, menariknya berdiri menyatakan Jingga sebagai pemenangnya. Sementara Danu tergeletak linglung.

eman temannya berhamburan kedalam arena melihat kemenangan singkat Jingga. Ia digotong keluar lapangan bak pahlawan. Dibawah pohon, teman temannya mengipasinya, menyediakan minum, memijiti sekujur tubuhnya. Semuanya begitu riang menyambut kemenangan Jingga. Beberapa meniru adegan Jingga dengan gaya lucu tentunya disambut tawa gembira yang lain.

Di sudut lain terlihat wajah wajah geram mengawasi.

Matahari sudah meninggi, arena pertandingan penuh diterangi cahaya matahari. Lawan Jingga selanjutnya adalah Arya, anak senopati yang berpengaruh di Kotaraja. Gaya berkelahi anak itu agak keji. Dia belum puas kalau tidak menghajar habis lawannya. Salah satu korbannya adalah Padang. Bahkan teman sendiripun Dia hajar habis hanya untuk menunjukkan pada Jingga bahwa Dia akan menghajar Jingga seperti itu.
Pertarungan Jingga dengan Arya sebetulnya bukan pertandingan terakhir, masih perempat final, namun karena keduanya dari kubu yang berbeda -Jingga adalah satu satunya yang tersisa dari kelompok anak anak asrama sedang Arya adalah anak terkuat dari sekian banyak anak Kotaraja- semua sepakat menyatakan partai kali ini adalah partai puncak perseteruan dua kubu.

Sorak sorai membahana memberi dukungan masing masing jagoannya. Di lapangan keduanya saling mengitari, berpandangan tajam mengamati dan mencari titik lemah lawan. Gerakan pancingan dibalas dengan pancingan. Gerakan tipuan dibalas dengan tipuan. Silih berganti mereka melakukan serangan.

Jingga mengurangi serangannya. Dia tersadar, bukankah selama ini Ia merahasiakan kemampuannya, lalu mengapa sekarang memamerkannya. Kali ini aku harus mengalah, putusnya. Beberapa pukulan sengaja Ia terima lalu pura pura terhuyung kesakitan. Sorak sorai pendukung Arya semakin gegap gempita. Membuat Arya semakin bersemangat menyerangnya, bahkan membabi buta. Watak kejamnya muncul, Ia mulai menggunakan tenaga dalam untuk menyerangnya.

Dug!

Pukulan mengenai dada Jingga. Namun bukan Jingga yang kesakitan, tapi Arya yang meringis menahan sakit di dadanya. Pukulan tenaga dalamnya berbalik ke dirinya. Jingga sendiri terbengong bengong melihat Arya menjerit. Dia hanya merasakan sebuah tenaga mengarah ke dadanya, lalu tiba tiba seperti getaran hangat mengalir dari telapak kakinya bergerak berkumpul di dadanya. Tepat di titik dimana pukulan Arya telak mengenai dadanya.

“Ilmu demit!” seru sebuah bayangan meloncat kedalam arena.

Sebuah kebatan membanting Arya menjauh dari tubuh Jingga. Sementara Jingga masih berdiri tegak tidak merasakan hempasan angin yang diakibatkan jubah orang itu. Orang itu adalah Ki Lembu Girah. Matanya melotot terkejut. Bukan saja kebatannya bisa ditahan oleh Jingga, bahkan dirinya sendiri tercekat tertahan oleh kekuatan yang melindungi Jingga.

Sebagai penanggung jawab pendidikan kanuragan. Dia tahu luar dalam kemampuan setiap siswa didiknya. Namun Jingga lepas dari pengamatannya. Selama pelatihan, anak itu tidak lebih dari yang lain. Bahkan cenderung lemah. Mengenalpun karena kejadian bolos, bukan karena ilmu kanuragannya.

Pasti ada orang lain yang membantunya, pikir Ki Lembu Girah. Dipandanginya orang orang sekitar. Tak ada yang mencurigakan. Dia sudah mengukur kemampuan wajah wajah disekeliling arena.

“Silahkan yang bermain main masuk kedalam gelanggang!” Suara Ki Lembu Girah menantang. Hening tidak ada yang bereaksi. Hanya wajah wajah kebingungan tidak mengerti apa yang terjadi di arena.

Karena tidak ada tanggapan, perhatian Ki Lembu Girah beralih ke Jingga yang masih berdiri bingung. Dia berencana menyelidiki dengan memancing orang yang main main itu memanfaatkan Jingga. Apa maksud orang itu? adakah hubungannya dengan desas desus di kalangan istana. Bukankah disini tempat anak anak pejabat Istana belajar. Segala kemungkinan bisa saja terjadi disini.

Menghadapi situasi kacau tersebut, panitia memutuskan perandingan di bubarkan. Arya yang terluka dalam segera dilarikan ke ruangan Dewaguru untuk mendapatkan pertolongan. Untunglah buru buru dibebaskan oleh Ki Lembu Girah. Jadi lukanya tidak parah.

Jingga diamankan di ruangan khusus, ruangan itu dulunya digunakan untuk menahan murid Kadewaguruan yang berbahaya. Setelah sekian lama tidak digunakan akhirnya digunakan lagi. Jinggalah yang mendapat kehormatan itu, bukan murid tingkat akhir, tapi murid tingkat dasar. Sebuah kejadian yang sulit dibayangkan kalau tidak terjadi.

*****

Ruang pasowan nanti Dewaguru begitu hening, para biku, wiku yang bertugas mengurus Kadewaguruan terdiam memikirkan kejadian siang tadi. Mereka berkumpul untuk mendapatkan fakta sebenarnya, apa latar belakangnya, adakah kaitannya dengan orang luar. Kalaupun ada apakah ada kaitannya dengan gerakan pemberontakan yang sampai saat ini belum jelas akan dilakukan siapa.

“Ki Girah, ada hal lain untuk melengkapi yang telah kami ketahui?” Mahaguru meminta Ki Lembu Girah menambahkan.
“Data Jingga sama dengan yang lain, anak kedua Pangeran Blambangan, direkomendasi Senopati Ajisaka. Prestasi biasa biasa saja, sering diganggu teman temannya, pernah bolos satu minggu katanya menemui sanak saudaranya yang berkunjung ke Kotaraja. Sebelum kejadian itu Dia masih menjalani hukuman atas kesalahan pergi tidak ijin.”
“Teman temannya bagaimana?”
“Teman temannya biasa saja. Dia dekat dengan Sasi dan Padang karena sama sama dari pesisir.”
“Ada yang mencurigakan?”
“Tidak ada, teman temannya memberi kesaksian sama dengan yang diceritakan Jingga.”
“Ada tamu yang sering berkunjung menemuinya?”
“Tidak ada.”

“Dewaguru, maaf, kalau boleh tahu, ilmu apakah yang digunakan anak itu?” Tanya salah satu pengurus Kadewaguruan.

“Melihat dari luka Raden Arya, hanya tenaga pukulan berbalik. Mungkin anak itu terlalu emosi menyerang sehingga tidak bisa mengukur kemampuannya. Pukulan itupun belum waktunya Raden Arya memiliki. Ki Girah, apakah anda yang mengajari mereka?”

“Ampun Dewaguru, hamba tidak berani melebihi yang ditentukan oleh Kadewaguruan. Hamba juga heran mengapa Raden Arya punya pukulan itu. Tapi? Saya merasakan sebuah tenaga yang besar diluar tenaga yang dikeluarkan Raden Arya, mohon penjelasan Guru.”

“Lebih baik kita berbaik sangka dulu agar tidak menganiaya anak itu. Bisa saja ada salah satu keluarga peserta ujian tadi yang tak punya maksud apa apa, hanya menolong Jingga dari pukulan keji Raden Arya. Tak lebih dari itu.

Maka waktu Ki Girah menantang tadi, orang itu tidak menanggapi, hal ini dilakukan agar masalah tidak tambah berat.
Bukan berarti kita mengurangi kewaspadaan, tapi kewaspadaan jangan sampai menganiaya orang yang tidak berdosa agar tidak timbul masalah baru karena kecerobohan kita.

Anak itu sementara tetap disana menunggu situasi reda. Agar tidak timbul anggapan bahwa Kadewaguruan melindungi penyerang keluarga Wredamentri Ranggapane. Setelah situasi reda, baru kita putuskan langkah berikutnya.

Memang aku mendengar anak Wredamentri Ranggapane sering membuat ulah disini. Semoga kejadian ini bisa dijadikannya pelajaran agar dia memperbaiki sikapnya.

Untuk kalian, aku berpesan agar selalu waspada. Suasana keraton sedang menghadapi desas desus pemberontakan. Jangan sampai Kadewaguruan ini terbawa bawa. Bila ada hal yang mencurigakan segera laporkan.
Untuk Ki Girah, anak itu menjadi tanggung jawabmu. Jaga dia baik baik. Suradira jayadiningrat, lebur dening pangastuti (ambil tindakan terbaik).”

Semua yang hadir mengaturkan sembah hormat, beringsut meninggalkan pasowan nanti satu persatu.

****
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 10 lainnya memberi reputasi
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di