alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a062830dac13e9f048b4567/roman-sejarah-sinar-jingga-ditanah-blambangan

[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN

"Dahulu Blambangan adalah sebuah kerajaan berdaulat. sebelum ditaklukkan Majapahit atau mungkin Singasari semasa Ken Arok dan keturunannya berkuasa disana. Majapahit menempatkan Keturunan Empu Kepakisan, yaitu Dalem Kepakisan dari Kediri pada tahun 1265 Caka untuk memerintah Blambangan.
Pembentukan Istana Utara di Panarukan untuk menjaga Bandar pelabuhan Panarukan yang dekat Pelabuhan pelabuhan utama Majapahit. Apalagi sejak Keraton dikuasai Orang orang Majapahit sebagai taklukan, yaitu dari Keluarga Empu Kepakisan. Semakin berkembang saja Keraton Utara itu. Sementara keraton timur berada di Kutalateng, semenanjung Banyuwangi. Disana tinggal keluarga taklukan dari dinasti Blambangan terdahulu.
"





Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 94 lainnya memberi reputasi
Thread sudah digembok
MELAWAN BEGAL

Di Kadewaguruan persaingan antar siswa membentuk dua kubu. Kubu anak anak asrama sebagai kelompok anak anak luar Kotaraja dan kubu anak anak Kotaraja. Jingga sebagai anak yang paling muda dan paling kecil postur tubuhnya sering menjadi incaran kejahilan kubu anak Kotaraja. Bila berpapasan di jalan, mereka menyenggol pundak Jingga sampai terhuyung. Atau diselonjorkan kakinya mengunci jalan Jingga sampai terjatuh.

“Apa lihat lihat!” pelotot mereka, “Nantang berkelahi?!”
Melihat kejadian itu, Sasi dan Padang nimbrung. Dada mereka adukan dengan dada anak anak Kotaraja.
“Sudah, sudah jangan berkelahi,” pinta Jingga menarik kedua temannya menjauh.
“Puih! Dasar anak kampung!” Yang menabrak Jingga meludah mengejek. Sekuat tenaga Jingga menahan kedua temannya yang sudah merah padam menahan amarah.
“jangan dilayani, ingat mereka kedudukannya lebih tinggi dari kita. Jangan menyulitkan diri,” Jingga berusaha meredam amarah.
“Mulut mereka minta disikat!” Geram Padang mengayunkan kepalannya memukul angin.

Di kelas permusuhan masih berlanjut. Bila anak anak asrama bisa menjawab pertanyaan Guru langsung disambut seruan “Huuuu…..”
Guru pengajar mengetahui hal itu, namun mereka tidak berani menindak mereka. Siapa yang tidak mengenal orang tua mereka. Para pejabat tinggi keraton. Berurusan dengan mereka bisa bisa mematikan asap dapur anak istrinya di rumah. Kadewaguruan inipun dibentuk oleh leluhur mereka.

Hanya Dewaguru yang berani menghukum mereka. Tapi hal itu jarang terjadi, karena jarang mengajar disini. Beliau mengajar kelas di tingkat atas. Menyiapkan calon calon perwira kerajaan sebelum keluar Kadewaguruan, atau bertapa di wanaprasta bersama sesepuh sesepuh kerajaan yang telah meninggalkan urusan duniawi. Kalaupun datang ke kelas, anak anak Kotaraja itu akan berubah manis mirip kelinci di hadapannya.

Menghindari permusuhan, Jingga di kelas memilih diam. Menyimak semua yang diajarkan. Dia tak pernah bertanya atau mengajukan diri menjawab soal yang diajukan Guru. Kalaupun terpaksa, dia hanya menjawab seperti jawaban teman temannya.

Bila ada waktu kosong, Jingga menyelinap pergi ke rumah kitab. Disana banyak kitab kitab yang ditulis para Empu dari jaman dahulu sampai sekarang. Sebagian sudah pernah Dia baca kala di rumahnya di Blambangan. Sebagian besar belum.

Rumah kitab itu terletak di bagian belakang, dalam lingkungan tapowana Dewaguru. Suasananya tenang hampir tanpa suara. Hanya bunyi lontar yang bersentuhan dengan peti kayu pelindungnya yang terdengar. Rimbunan pepohonan tua disekitarnya menambah suasana sejuk cenderung angker. Disana hanya siswa siswa tingkat atas yang mau menghadapi ujian kelulusan sibuk membaca. Disudut lain ada seseorang yang dari penampilannya bukan seorang siswa, lebih mirip pertapa. Namun dari wajahnya terlalu muda untuk menjadi pertapa. Orang itu serius menulis pada lembar demi lembar daun lontar. Hampir setiap Jingga kesana, orang itu selalu melakukan aktifitas yang sama. Jingga tidak berani mendekat mencari tahu apa yang dikerjakannya. Pernah mencoba lewat dekat orang itu, beberapa Guru langsung melotot dengan isyarat mata memerintahkannya pergi menjauh.

Awal kesana, Jingga sempat disuruh keluar. Penjaga gedung Kitab mengira Jingga akan bermain di ruangan itu. Setelah melihat minat Jingga terhadap buku, barulah mereka mengijinkan dengan berbagai nasehat, peringatan dan larangan. Itupun hanya bisa membaca kitab kitab yang ditulis dengan bahasa Jawa. Kitab kitab sempalan dari kitab yang namanya hanya di dengar ditelinganya dari guru guru. Sementara kitab kitab berbahasa sansekerta disimpan di ruang dalam.

Hal itu tidak mengurangi tekat Jingga membaca. Kebiasaannya menghapal kitab tanpa harus mengerti apa isinya sejak kecil bisa dilanjutkan disini. Apalagi semua kitab ditulis dalam bentuk syair, memudahkan dia mengingat tanpa harus mengerti. Setiap bait syair dia kaitkan dengan kejadian atau suasana saat membacanya. Dia tidak membaca seluruh isi kitab, melainkan per lembar sampai hapal benar isinya baru menginjak lembaran lain.

Hari ini Jingga menghapal bait demi bait kitab arjuna wiwaha karya Empu Kanwa.
Jingga tidak menyadari kalau dia diamati oleh pemuda berpenampilan pertapa itu.


* * * *


Jingga bergegas pergi meninggalkan Kadewaguruan menuju kearah selatan, hutan tempat Jingga dibawa Sang Bayangan. Siang tadi Jingga sudah berpamitan pada kedua sahabat akbrabnya mau pergi ke sanak saudaranya malam ini -bohong- agar mereka tidak menggagalkan rencananya juga membantunya bila ada pemeriksaan petugas asrama.

Ternyata untuk kesana memakan waktu lama. Beberapa kali dia harus sembunyi agar tidak dilihat para penjaga. Setelah melewati beberapa kanal, sampailah Jingga di Regol selatan, tempat penjagaan terakhir. Senyap jingga menyusup keluar lalu sekuat tenaga berlari menembus gelap malam menyusuri jalan tikus pencari kayu. Bintang kesayangannya sudah condong ke barat. Ia terlambat.

Disana ternyata tidak ada tanda tanda Sang Bayangan. Terengah engah Jingga memanggil, namun tak ada jawaban. Jingga memeriksa takut salah tempat, diperhatikannya sekeliling. “Tidak salah,” gumamnya, “Disini aku duduk,” meraba bekas tempat duduknya. “Apakah sudah pergi?”

Kelelahan Jingga merebahkan diri diatas dedaunan kering. Hampir saja terlelap kalau tidak dibangunkan sayup sayup bunyi senjata beradu di kejauhan. Segera ia bangkit berlari menuju sumber suara itu. Dari balik pohon Ia melihat segerombolan orang menyerang arak arakan pedati dan kereta. Beberapa pengawal arak arakan itu sudah terjengkal ditebas pedang gerombolan itu. Denting senjata beradu, erangan kematian dan jerit tangis wanita dalam rombongan itu membuat bulu kuduk Jingga merinding. Tangannya gemetar. Sejenak dia bingung harus bagaimana melihat para begal itu membantai satu persatu lawannya.

Jingga meloncat dari persembunyiannya. Dia mengambil senjata pengawal yang terpental didekatnya. Sekali sabetan Dia menyerang mengenai salah seorang Begal yang tidak siap menerima serangan dari belakang. Mendapat serangan, Begal itu berbalik menyerang Jingga. Kata kata kotor berhamburan dari mulutnya. Namun Begal itu lebih tinggi mulutnya daripada kemampuannya. Dalam dua jurus, Jingga kembali dapat melukai, kali ini lebih parah sehingga pedang ditangannya terlepas.

Melihat temannya terancam, beberapa Begal turun bergabung mengeroyok. Gemercik letikan api akibat benturan senjata menerangi malam. Gempuran mereka membuat Jingga terdesak. Jurus jurus mereka amat kacau namun kejam. Mereka bukan orang terlatih yang pernah berguru pada sebuah perguruan silat, hanya mengandalkan tenaga dan pengalaman. Mereka terbiasa bertempur dalam gelap. Sementara Jingga baru kali ini turun dalam perkelahian sebenarnya. Membunuh atau dibunuh.

Jingga meloncat mundur kedalam hutan. Ia berusaha menggunakan pepohonan sebagai pelindungnya. Namun lama kelamaan, pengalaman lebih banyak berbicara. Meski dapat melukai, namun karena dia tidak berani membunuh orang membuat pengeroyoknya semakin berani menggempurnya. Sebuah sabetan mengenai pahanya. Kainnya sobek, darah mengucur deras turun merambat kaki. Jingga meringis menahan sakit. Akankah aku mati disini? Pikirnya. Sekuat tenaga dia mengerahkan segala kemampuannya. Jeritan dan makian semakin banyak meluncur dari mulut lawannya. Jingga bertempur seperti kesurupan, matanya dia pejamkan, pasrah. Lalu dia terjatuh, badannya seperti melayang.

Gelap.

Saat tersadar, Dia meringis menahan sakit. Badannya terasa lumpuh tak bisa digerakkan. Denyut sakit dipahanya mengingatkannya akan kejadian yang Dia alami.

“Wah sudah sadar,” seru seorang Nenek, dari pakaiannya adalah penduduk miskin. Orang itu bergegas keluar lalu masuk kembali bersama laki laki tua -mungkin suaminya- diikuti anak muda seusianya.
“Aku dimana?” Jingga bertanya, berusaha mengangkat kepala, namun pening luar biasa menghalangi keinginannya.
Nenek itu buru buru menahan geraknya. Mereka membantu Jingga bersandar.
“Aku dimana?” Jingga bertanya lagi.
“Dirumah kami, Kakekmu yang menemukanmu di sungai, hanyut. Kami kira sudah meninggal, untunglah Tuhan masih melindungi,” jelas Pak Tua itu gembira.
“Iya, lukamu parah sekali. Kami sudah beri boboran, semoga cepat sembuh,” sambung Nenek.
“Terima kasih Kek, Nek, Mas,” Jingga menganggukkan kepala memberi hormat.

Dalam pembicaraan Jingga mengetahui dirinya pingsan sehari semalam. Ditemukan hanyut disungai tanpa sehelai kainpun. Mereka tinggal di pedalaman jauh dari perkampungan. Menggarap ladang yang ditanami umbi umbian. Anak itu cucu mereka, namanya Wijo. Kedua orang tuanya meninggal terkena wabah yang menyerang kampung mereka lima tahun yang lalu. Umumnya rakyat jelata tanah Jawa, perawakan mereka sedang, kulit coklat kehitaman, badan kurus, wajah bulat, hidung tidak mancung.

Sejak itu Wijo ikut Kakek Neneknya. Trauma akan wabah itu begitu melekat pada diri mereka. Bagaimana satu persatu penduduk sakit lalu meninggal tanpa dapat dicegah karena tidak tahu dan tak ada obat penawarnya. Sejak kejadian itu Kakek Nenek bertekat mengumpulkan tanaman obat di hutan, menanam di pekarangannya. Dikirim ke kampung kampung terdekat dengan imbalan seadanya.
Beruntung Jingga diselamatkan mereka. Dalam perawatan mereka lukanya cepat pulih. Disana Jingga mempelajari tanaman tanaman obat yang ditanam.

Sepasar Jingga disana. Setelah agak lancar berjalan, Jingga berpamitan kembali ke Kotaraja. Nenek dan Kakek itu berat melepaskan, namun mendengar penjelasannya bahwa orang orang yang ditinggalkannya selama ini cemas mencari dan berjanji lain hari akan sering berkunjung kemari, mereka merelakan kepergiannya. Meski tidak tahu asal usul Jingga, namun dari perwakannya bukan kaum jelata seperti umumnya. Dari kulitnya yang putih menurut ukuran mereka, hidungnya yang mancung, pastilah anak bangsawan Kotaraja.

Membawa bekal seadanya, gula jawa dan sesobek daging kelapa, Jingga diantarkan Wijo menyusuri jalan setapak menuju perkampungan terdekat.
“Terima kasih Jo, salam untuk Kakek Nenek ya,” Jingga memeluk Wijo. Wijo hanya mengangguk, anak itu memang sedikit bicara. Dari raut wajahnya Jingga merasakan Wijo sama dengan Kakek Neneknya, berat berpisah dengan Jingga.

Di jalanan Ia baru menyadari kain yang dikenakan membuat orang orang terganggu. Kain murah dan lusuh pemberian Kakek dimata orang orang menjadikannya sederajat dengan pengemis. Terpaksa dia bersembunyi menunggu gelap untuk masuk Kotaraja.

Setelah perjuangan yang sulit, harus sembunyi dari semak ke semak, masuk got agar tidak dicurigai orang. Jingga sampai ke Asrama. Di kamar Jingga berganti kain lalu keluar menuju kamar Padang. Malam larut. Pelan mengetuk pintu.
“Siapa?”
“Aku.”
“Darimana saja?”
“Panjang ceritanya.”
“Kamu dicari di kelas, Sasi sudah memintakan ijin kamu pergi ke keluargamu yang datang ke Kotaraja. Tapi kamu diminta menghadap kalau sudah kembali.” Jelas Padang dengan mata selidik, “Kamu kenapa? Sakit?”

Tertatih Jingga duduk di tempat tidur Padang, “sebentar,” Padang keluar kamar. Sesaat dia kembali bersama Sasi.
Jingga menceritakan kejadian yang beruntun menimpanya, kecuali tentang Sang Bayangan dan semua kejadian yang menghubungkan dirinya dengannya. Sasi dan Padang bersemangat mendengarkan. Jingga menunjukkan luka sabetan pedang di pahanya.
“Wah hebat, kamu ternyata jago berkelahi, melawan begal lagi.”
“Bagaimana kalau kita tantang anak anak Kotaraja,” tambah Sasi. Dendam masih membara.
“Hus! Sudah ya mau tidur, kakiku masih sakit.”
“Yaaa….”

****
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh curahtangis
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di