alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
KITA - A TALE TO REMEMBER
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/597608cdc0d77014438b456b/kita---a-tale-to-remember

KITA - A TALE TO REMEMBER

Assalamualaikum. Sebelum gue berdua mulai basa-basinya, ijinkan gue berdua untuk terlebih dahulu meminta ijin momod untuk ikut meramaikan forum ini. Kalian pasti bertanya-tanya kenapa gue berdua?, ya, karena gue gak sendiri. emoticon-Ngakak tapi serius, gue emang gak sendiri. Jadi, sebelum kalian mulai bertanya-tanya dan gue makin ngelantur, gue akan jelaskan kenapa gue gak sendirian.
Perkenalkan, nama gue, ya, panggil aja Piyan. Dan perkenalkan juga, sesosok makhluk di samping gw yang lagi cekikikan baca tulisan ini, namanya, ya, panggil aja Ugi. Dia lebih suka di panggil begitu, percaya deh ke gue. Dan sebelum salah satu di antara kalian mengira kalau gue dan ugi adalah sepasang homo, maka perlu gue jelaskan kalau Ugi adalah perempuan, lebih tepatnya perempuan yang sejak desember 2016 lalu sudah sah secara agama dan negara untuk gw panggil istri. emoticon-Malu (S) emoticon-Malu (S) ya, pokoknya begitulah. emoticon-Hammer2
Dan sebelum akhirnya omongan gue ngelantur kemana-mana, jadi gue serahkan sisanya ke Ugi.
“woooiiii, niiihh!!!”
“iya bentarrr piyaan!!”
*sfx-hening

Hey, hey, hey. Sori ya. Hehehe. Duh jadi ga tauk harus mulai dari mana nih.
“eh piyan, kalau mau pakek emot tuh gimana piyan?”
“itu liat aja di tulisan yang di atas!!”
“ oh iya, hehehe!!” emoticon-Malu (S) emoticon-Malu (S)

Okeh, jadi gini, karena gw dan si Piyan udah baca beberapa cerita di sfth, Gw jadi kepingin ikutan nulis di forum ini. Dan setelah negosiasi yang alot, akhirnya piyan setuju. Dengan syarat, dia akan nulis bagian ceritanya sendiri karena ceritanya akan mengambil dari sudut pandang gw dan dia waktu, juga semua nama tempat dan orang-orang yang terlibat di dalam cerita kita berdua harus di samarkan karena memang kita belum minta ijin dan demi menghindari masalah apabila kelak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan. karena Konon, gw denger, penghuni forum ini bisa ngelacak identitas para thread starter yang pada akhirnya menimbulkan kekacauan. Ya,ya,ya, maka dari itu, setelah basa-basi yang agak panjang dan membosankan ini. Ijinkanlah gw, sebagai Ugi, dan Piyan sebagai laki-laki yang gw cintai, untuk memulai cerita ini. Cerita yang buat gw pribadi merupakan sebuah sejarah yang selalu pantas untuk di kenang, lagi dan lagi. gak tauk deh kalo piyan. emoticon-Ngakak
“wooiii jangan sepihak gitu doongg!!”
“biariiinnn!!!”
Oke, oke, jadi sebelum kalian denger ada piring yang di banting. Mendingan kita mulai aja ceritanya. Semoga kisah kami berdua bisa memberikan penghiburan tersendiri, khususnya buat jomblo-jomblo di luar sana yang masih gak tau jodohnya ada di mana. Hehehe
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
GETARAN YANG PERTAMA





1.
Seperti biasa, bandung saat senja menjelang maghrib adalah waktu paling cocok untuk segelas teh manis hangat dan lagu angie-nya the rolling stones, Bersama semilir angin yang tenang tanpa bising kendaraan di beranda rumah. Ada rasa kantuk yang mendadak menyerang gw, namun tiba-tiba, satu suara yang gw kenal sejak cukup lama menangkal rasa kantuk yang barusan.

“hey, geulis!”

Gw langsung menoleh ke arah pagar teralis yang setenghanya terbuka, dimana Antam sudah berdiri di sana dengan satu tangannya melambai-lambai tak karuan ke arah gw.

“hoii, ada apa kasep?” gw balas melaimbaikan tangan.

“boleh ke situ?” tanyanya.

“ya boleh atuh ntam, ih kaya ke siapa wae!” gw mengangguk gemas. “sini, sini, sini, ada naon ntam?”

“ini gi, anu . . .” bola mata Antam berputar-butar, seakan dia sedang mencari kata apa yang ingin dia ucapkan.

“anu naon?” gw mencoba mengikuti arah matanya yang kemudian berhenti tepat ke arah bona yang berselimut teduh warna senja di sudut halaman.

“itu gi, boleh besok gw pinjem si bona?” tanyanya sambil menggigiti bibir bawahnya, persis anak kecil yang sedang minta uang jajan ke bapaknya.

“ih boleh atuh ntam, tumben atuh? Mau kemana?”

“itu besok mau jemput saudara yang dari demak tea gi. Mobil teh kan lagi di bawa ayah ke karawang, pulangnya abis maghrib katanya. Jadi, yah, gak ada pilihan selain bona.” Antam menjelaskan sambil masih menggigiti bibirnya. “boleh ya gi, boleh ya?” rengeknya.

“gak ada pilihan selain bona? Sialan juga siaa!!! Hahaha” gw menggelngkan kepala. “iya boleh antam, boleh, eh tapi jangan di pake bawa yang berat siah!”

“buat bawa saudara gw doang kok gi, barang-barangnya biar di bawa mang entis, gw udah bilang kemaren ke mang entis kok!”

“oh gitu, yaudah atuh ntam bawa aja besok. Eh tapi …”

“ih tapi tapi wae dari tadi, kayak yang mau pinjem mobil presiden aing euy!” Antam mendengus kesal, memotong ucapan gw yang sudah menggantung di ujung lidah.

“gw sorenya mau keluar ntam, gimana atuh?”

“gak sampek sore ugiii!!”

“oh yaudah atuh iya iya. Eh …”

“eh kenapa lagiiii sih??” Antam mendengus lagi, kali ini lebih keras. Sementara gw setengah mati berusaha menahan tawa saat memandangi wajahnya yang sedemikian rupa.

“ini kenapa jadi galakan yang mau pinjem ya?”

“abisnya kebanyakan tapi-tapi sia!!” Antam menoyor kepala gw. sialan. Dan belum sempat gw membalas toyoran kepalanya, dia sudah ngeloyor pergi. “udah ah, gw balik dulu. Besok gw ambil si bona rada pagian ya geulis? Dadah!”



2.
Jam setengah sepuluh pagi menjelang siang saat pintu kamar gw di ketuk dan suara ramah menelusup dari celah-celahnya.

“gi, itu ada antam.”

“iya bilang bentar bun. Tanggung nih!”

“tanggung? Cepet bangun, kasian dia nungguin dari tadi!!”

“iya bunda iya!”

Dan gw terpaksa bangun dengan kelopak mata yang masih saling tarik menarik dengan hebatnya. Satu tangan gw terulur meraba-raba kunci bona di atas meja. gw seret langkah dari kamar sampai di beranda yang gw rasa jaraknya sekarang hampir sama dengan jarak bogor jakarta. Tapi, tapi semua itu mendadak siran saat gw baru saja berdiri di pintu beranda. Cuma karena satu sosok bernama Antam yang melambaikan tangannya ke arah gw sedang sibuk mengucek mata.

“Antaaaaam … lo seriusss?” gw Cumiik histeris. Bagaimana enggak kalau melihat Antam yang mau ke bandara hanya dengan celana boxer dan jaket levis belel warisan ayahnya?.

“serius apanya gi?” tanya antam tanpa perasaan berdosa dan bersalah sedikitpun.

“lo serius mau begitu ke bandara, Antaam?” gw Cumiik makin keras.

“ya emangnya harus gimana atuh? Pake jas gitu? Gak punya jas kan gw mah, ada sih punya ayah, tapi kegedean semua kan!!” Antam menerawang, seakan sedang berkaca pada langit yang birunya sama cerahnya dengan bona. Lalu kepalanya menggeleng-geleng.

“ya maksud gw, gimana gitu, pake celana yang bener kek, terus itu rambut juga di sisir atuh antaaam!!” gw teriak gemas. Semua kantuk yang masih melekat di kelopakmata itu sekarang benar-benar hilang entah kemana.

“ah ribet, kayak mau jemput megawati aja!”

“ih terserah sia deh. Nih nih nih, cepet deh angkat kaki dari sini!! Bisa stress sendiri gw nanti lama-lama deket sia mah!!” gw mendengus sambil melemparkan kunci ke arah antam yang langsung dengan sigap menangkapnya. Dan dengan sebuah senyuman, ia pergi begitu saja, tanpa permisi atau tanpa salam perpisahan. Ah, sial dia itu. Gw Cuma bisa berdoa, semoga bona baik-baik aja berada di tangan orang kayak antam.



3.
Jam di dinding baru menunjukkan pukul 4 sore saat telpon rumah berdering. Di susul teriakan bunda yang memanggil nama gw, pertanda bahwa telpon itu dialamatkan buat gw.

“giii, dari vero nihh! Katanya bisa gak berangkat sekarang?” teriak bunda.

“coba bentar deh bun aku liat dulu antam udah pulang apa belum! Bilangin aja nanti aku telpon lagi!” gw menyahut tak kalah kencangnya dengan teriakan bunda. Setelah itu, dengan celana cut bray yang sobek di dengkul kanan dan kiri dan dengan kaos oblong gw dengan santai melangkah meninggalkan kamar menuju rumah Antam. Udara lembut yang menyesatkan segera menyapa gw begitu sampai di beranda.

Di halaman rumah Antam, Bona gagah terparkir. Pintu depan terbuka lebar, menampilkan tiga sosok yang sedang hangat bercengkrama di dalamnya. Seperti biasa, gw masuk ke rumah Antam tanpa permisi, dan entah kenapa, mendadak tubuh gw kehilangan kemampuannya untuk bergerak saat sepasang mata yang asing itu terlempar ke arah gw, namun gw sebisa mungkin memasang raut wajah yang biasanya, walau jujur saja itu sulit sekali.

“eh Antam udah pulang gening!” gw meringis ke arah antam, lalu menundukkan kepala sedikit ke arah suadaranya, bukan karena sopan, tapi, tapi jujur aja, ada yang aneh dengan pancaran setiap detik dari sepasang matanya. Pancaran maha teduh yang membuat kedua kaki gw seakan terpancang.

“udah kok gi, sini masuk dulu, ada pisang molen tuh karesep kamu!” Teh Arum, begitu biasanya gw memanggil ibunya Antam, menyambut gw dengan keramahannya.

“enggak ah teh, aku mau buru-buru nih.” Gw tersenyum tipis untuk menjawab tawaran teh Arum. “tam, mana kunci?”

“nih gi, nuhun pisan ya! Hehehe” Antam melemparkan kunci yang tergeltak di atas meja. dengan cepat gw menangkapnya. Namun bukannya segera pergi, gw malah berjalan menghampiri saudaranya Antam.

“eh ini saudaranya antam ya?” tanya gw dengan polosnya. Sementara dia hanya mengangguk canggung, gw tanpa sadar mengulurkan sejabat tangan.

“Ugi …”

“Piyan ….” Ia berkata lirih, dan saat tangannya menjabat tangan gw. entah kenapa, ada getaran aneh yang terasa, menjalar dari ujung jemari sampai akhirnya menyesakkan rongga dada. Membuat gw bertanya-tanya, gak mungkin ini cinta, gak mungkin. Dari sekian banyak laki-laki yang pernah gw temui, gak pernah gw rasa ada getaran yang semacam ini. Gak pernah ada sedikitpun. Tapi mata itu, sial, ada yang lain di sana. Siapa tadi namanya? Piyan, iya piyan.

×
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di