alexa-tracking
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/59a41aa4ddd770594e8b456f/dan-bernyanyilah

Dan Bernyanyilah

Quote:


Quote:


Quote:

Manusia adalah makhluk paling bebas. Kita, (manusia) dianugerahi akal, pikiran, nafsu, indera dan semua yang melengkapinya untuk menjadi bebas. Bolehkah manusia membunuh? Boleh. Bolehkah manusia jadi jahat? Silahkan. Bahkan Tuhan pun "membiarkan" pembunuhan antar sesama manusia. Tapi, setiap tindakan pasti ada konsekuensinya. Kamu membunuh, ya siap-siap saja menerima akibatnya. Alam tidak akan membiarkan mu. Karena akalnya, manusia pun tidak membiarkan pembunuhan terjadi begitu saja.

Lahirlah hukum, aturan yang mengatur hubungan antar manusia. Tapi namanya manusia, yang secara lahiriah adalah makhluk paling bebas, hukum dan aturan itu pun disikat, dilanggar, dicari celahnya. Apa tujuannya? Ya untuk mencari kebebasan itu tadi. Menuruti nafsu alamiahnya. Jika nafsu alamiah itu tidak dikendalikan oleh manusia itu sendiri, maka nilai manusia tidak ada bedanya dengan nilai binatang. Tau ya, binatang? Mau apa saja, sah! Anjing membunuh, tidak akan dipenjara. Di sinilah, nilai manusia ditentukan. Semakin bisa menahan nafsu, semakin bisa menggunakan akalnya, maka dia akan semakin "manusia".

Bagaimana tetap menjadi bebas, tetap bisa menyalurkan kebebasan, dan naluriah tadi dengan baik, sehingga nafsu terpenuhi, tapi tidak mengganggu orang lain? Gampang, jangan pernah sakit hati, jangan pernah membenci, jangan merasa sedih. Orang bunuh orang, apa alasannya? Pasti karena jengkel, dan tidak ingin melihat muka orang yang dibenci. Bagaimana kalo rasa benci itu dinihilkan. Apapun perbuatan yang tidak kita sukai dan dilakukan oleh orang lain kepada kita, kita anggap nol. Bahagia kan? Plong kan? Jelas, wong tidak merasa disakiti.

Dibohongi, ya sudah. Anggap kita sedang membahagiakan mereka. Mungkin, cara dia bahagia adalah dengan bohong. Duit kita ilang karena kebohongan itu, ya biar. Toh, kita lahir juga telanjang tidak memakai apa-apa, lalu apanya yang diambil dari kita? Yang diambil itu punyanya Tuhan. Gimana kalo itu kehendak Tuhan, yang mengambil lewat cara itu? Mau protes? Siapa kamu? Cukup dibatin sambil tertawa, dan bilang "Kakek ane, Han Tuhan. Coro ne Njenengan gojekan ki lho kok asik nemen, meneh mbokan, ben aku strong" Itu salah satu contohnya.

Last. Tulisan ini tidak menarik, dan aku cuma berharap, tulisan ini dibaca saja, tidak usah direnungkan terlalu dalam. Bebaskan pikiran mu, jangan jadi bodoh dengan sedih dan air mata. Dan Bernyayilah niscaya kamu akan bahagia.
profile-picture
boegiel memberi reputasi
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Thread sudah digembok

5. Kelas Baru

Lima hari aku kerja keras seolah tidak kenal waktu. Dan benar, usaha keras, hasilnya itu menyenangkan. Aku hitung asil keringat ku ternyata banyak juga. Kalo untuk menjahit seragam ku yang jumlahnya kutaksir enam potong, aku kira cukup. Akhirnya, jadi orang yang berguna. Tidak mengharapkan kasihan dari teman-teman ku. Ada perasaan bahagia yang tidak bisa aku jelaskan dengan kata. Ini lebay? Buat kalian iya. Karena kalian tidak pernah menderita. Tidak punya uang tinggal Pak, Bu, duit. Cair. Aku? Pak? Bu? Pancal rai mu purun? Ya wes, memang garisnya lagi seperti ini, mau apa? Protes? Tidak tau malu kalo sampai aku protes apalagi mewek di depan Tuhan hanya karena kekurangan harta.

Rabu pagi. Hari ini jadwal di SMA G adalah daftar ulang, ambil bahan seragam. Karena aku anak kere, maka daftar ulangnya pun beda dengan yang lain. Iya, yang lain datang dengan membawa kuintansi transfer ke rek sekolah, aku cuma bawa selembar kertas dengan kop logo Djarum Super. Ajaibnya, aku langsung dilayani secara khusus, dikasih bahan seragam, bahkan siberi amplop yang aku yakin berisi uang! Aku tidak membuka amplop itu. Aku memilih segera pulang, dan tidak berusaha mencari tahu teman-teman ku. Khawatir aja kalo aku akan merepotkan mereka lagi.

Siang yang panas. Matahari bersinar dengan beringas membakar kulit ku yang hitam dan akan semakin hitam. Aku berjalan menuju pasar, bukan untuk belanja. Tujuan ku ingin menjahit seragam yang aku terima. Hingga pada waktunya kelak, aku bisa memakainya sama seperti yang lain. Transaksi dan tawar menawar pun terjadi, bukan maksudku pelit atau apa, tapi aku ingin uang yang aku punya cukup untuk ongkos jahit semua celana dan baju seragam ku. Setelah tawar-menawar yang lumayan a lot, akhirnya penjahit itu mau menerima tawaran ku. Jumlahnya pas dengan uang yang aku punya.

Lega. Itu yang aku rasakan sekarang. Kertas nota yang nanti aku pakai untuk ambil jahitan, aku kantongi dengan rapi. Sekarang aku sudah punya seragam SMA. Paling tidak, aku akan sama dengan yang lain dalam hal penampilan. Baru aku sadar, setelah keluar pasar, aku belum makan seharian ini. Lagi dan lagi, cacing dalam perutku berontak, menagih untuk dikasih makan. Ah, sudahlah! Bukankah aku sudah biasa kelaparan? Tanpa menghiraukan nyanyian perut, aku berjalan menyusuri jalanan di pinggiran kota ini. Tujuan ku satu, kosan. Aku pengen rehat sejenak.

Pintu ku buka, sepati aku lepas, seragam aku copot dan aku tiduran di kasur tipis, tapi nikmat. Aku tersentak ketika mengingat amplop yang diberikan guru SMA G tadi. Ya, aku tidak membukanya memang. Segera ku ambil amplop yang ada di dalam tas lusuh ku. Pelan aku membukanya. Hampir saja aku berteriak kaget. Gial! Uang yang ada di dalam amplop itu berjumlah nyaris lima kali lipat dari uang yang aku pakai untuk jahitkan semua baju dan celana seragam ku. Ada sedikit penyesalan di hati ku, kenapa aku tega menawar, sementara aku punya uang banyak.

OK aku akan sisihkan uang ini, dan aku akan memberikan pada penjahit itu harga yang dia tawarkan di awal. Lebay? Terserah. Tapi aku tidak mau menjadi orang tidak tau diri nan serakah. Aku bingung memandang uang yang masih ku pegang. Mau aku apakan uang ini. Amanah dari pemberi, agar aku gunakan uang ini untuk keperluan masuk sekolah. OK aku akan beli tas, sepatu dan buku-buku. Makan? Yang memberi tidak mengatakan ini untuk makan. Jadi, aku tidak boleh gunakan ini untuk beli makan. Pinjam dulu, lalu nanti kamu kembalikan kan bisa? Suara iblis yang berdengung menggoda ku. Dikira aku orang lemah. Sekali tidak, walau aku mati karena kelaparan, ya akan tetap tidak!

Buru-buru aku masukkan uang itu ke dalam amplop dan menyimpannya di tempat yang tersembunyi. Aku pakai baju, ambil karung yang biasa aku pakai untuk mencari rosok. Dan bernyanyilah. Mari menyanyilan nada kehidupan. Dimana hidup bukan menyerah dan pasrah pada keadaan, tapi hidup adalah terus berjuang melawan keadaan. Semangat macam ini yang membuat lapar tidak terasa semangat pun makin membara. Hingga saat matahari mulai condong ke arah barat, beberapa lembar uang sukses masuk dalam kantong.

Sebelum aku kembali ke kosan, aku mampir ke warung nasi pinggir kali. Aku pesan dua porsi nasi bungkus dengan lauk tahu plus sayur dan juga kerupuk. Agak "mewah" dan tidak seperti kemarin. Kenapa beli dua? Aku mau memberikan pada tetangga kosan ku yang sepertinya memerlukan nasi untuk makan. Bukan menghinanya, tapi lebih pada keinginan untuk berbagi. Toh dengan beli dua nasi, aku masih punya uang untuk beli senior dua batang yang bisa aku udut untuk nanti, dan nanti malam sebelum tidur.

Sampai kosan, aku taruh karung yang sudah aku lipat rapi. Aku lihat, sekelebat tetangga kosan ku masuk ke kamarnya, semi melihat aku pulang. Tanpa masuk ke kamar terlebih dahulu, aku mengetuk pintu kamarnya. Dia membuka, dan tanpa banyak basa-basi aku utarakan maksudku memberikan nasi, ala kadarnya sebagai tanda syukur, aku sudah bisa daftar ulang di sekolah baru. Ada raut wajah bahagia. Aku pun sama, ternyata bisa memberi rasanya itu luar biasa. Pantas saja orang kaya di luar sana selalu bernafsu buat memberi kepada yang membutuhkan atau pun yang tidak membutuhkan.

Hidup dan kehidupan. Benar-benar menarik dan menantang untuk terus dijalani. Kadang aku mikir, kenapa dalam hidup yang enak ini ada orang stress. Memikirkan sesuatu yang sebenarnya mudah, tapi dibikin susah. Sudah gitu ngakunya Sholat! Edan njaran! Lho Sholat kok masih takut miskin. Sholat kok masih takut besok makan apa! Sholat kok takut kalo pacar ku selingkuh gimana? Lalu apa artinya dia takbir berkali-kali? Apa artinya di menyebut Allah Maha Besar? Lips service doang! Bohong doang! Munafik doang! Wkwkwkwkwkwk. Lucu sekali orang orang ini. Coba cari arti bacaan Sholat, lalu gunakan sebagai cermin dalam kehidupan mu. Makanya, orang yang bisa Sholat itu sedikit. Tapi orang yang bisa gerakan dan bacaan Sholat, banyak! Anak umur 5 tahun bisa!

Kalo kamu percaya "Allah Maha Besar!" Ya sudah, kalo kamu di jalan Nya Allah jangan takut dong! Gimana kamu ini! Memuji kok habis itu ragu. Itulah manusia. Ada duren yang lexatnya luar biasa, tapi lebih suka makan kulitnya. Belajar agama hanya pada bacaannya, tapi hakekat yang terkandung di dalamnya diabaikan. Makanya ada orang salah ngomong, ngamuk ga jelas. Tapi ada yang pake ayat dan bohong, pada diam semua, kincep semua, bisu semua! Semoga saja Tuhan tidak membuatnya bisu permanen karena bergerak berdasar pesanan.

Aku tertawa, menertawakan isi dunia ini, terutama manusia. Tapi sudahlah. Toh aku juga bukan orang baik kok. aku cuma punya harapan, agar aku jadi Insan, bukan cuma manusia yang cuma bisa marah-marah dan mencari salah.

Sabtu pagi. Hari ini adalah hari perdana aku masuk ke SMA G. Menurut jadwal yang aku terima, acara hari ini adalah membagi kelas, mencatat penugasan MOS, dan persiapan MOS. Aku tidak terlalu berharap bisa satu kelas dengan si A atau si B. Beda dengan anak-anak lain, yang sudah ribut dan kasak kusuk. Sepertinya hari ini bukan hari baik buat ku. Baru saja masuk, aku sudah ketemu dengan Nenek Sihir lengkap dengan suara cempreng, muka bocah, pipi merah, dan cerewet yang tidak ada abisnya. Yang kayak gini, boyo setan bisa begitu tertarik. Geblek emang! Mending Diana, ketahuan kan. Toge Pasar.

"Rif, kamu baru datang?" Pertanyaan apaan ini? Udah tau gw baru saja masuk, ya baru datang lah. Basa-basi basi. "Iya Ra, lha kamu mau kemana?" Bego aja sekalian. Tapi gw nyesel, dengan ini dia akan ajak gw ngobrol panjang kali lebar sama dengan luas alias lama. "Ya mau ke sekolah lah, gimana sih kamu? Gitu aja pake ditanyain." Setan nih anak? Lha kamu tadi nanya baru datang, emang penting? Tapi sudahlah, semakin aku ladeni, semakin panjang urusannya. "Kamu tau londo ga Ra?" Ini pertanyaan yang akan membuat dia salah tingkah. Terbukti dengan memerahnya Pipi Rara. "Ga tau lah Rif, coba kamu cari dalam sana." Meski suara yang keluar dari mulutnya cempreng, namun kalo yang dibahas londo, pasti rada alus. "Ok Ra, duluan ya." Dan aku pun selamat dari hadangan nenek sihir.

Pembagian kelas pun digelar di lapangan SMA G. Tercatat Liem pisah sama pacarnya. Cuma boyo yang nasibnya bagus, isa sekelas lagi sama nenek sihir. Buat aku musibah kalo itu, tapi buat boyo ya anugerah wong dia suka. Untung aku tidak sekelas dengan mereka. Aku masuk ke kelas yang menurut ku biasa-biasa saja. Tidak ku perhatikan satu satu sih siapa saja yang satu kelas sama aku. Yang aku tau, aku masuk 1-5. Lagi dan lagi kemampuan brengsekku menuntun pada pengalaman yang tidak aku inginkan. Kelas ku tidak terlalu bagus auranya. Itu saja deh, capek membahas hal yang tidak masuk logika dan tidak ada buktinya.

Seluruh siswa baru diinstruksikan masuk ke kelas masing-masing. Aku ikuti perintah itu sambil memperhatikan siapa tau ada yang aku kenal. Nyatanya, tidak ada. Aku hanya sekedar tau mereka teman satu SMP sama aku. Tapi ya gitu, gembel seperti aku tidak ada harganya dibanding mereka, para borju pemilik uang segunung. Aku memilih duduk di kursi nomor dua dari belakang pojok dekat jendela. sebelah ku anak SMP X! Ini beneran, SMP X musuh bebuyutan SMP ku dulu. Entah berapa kali tawuran yang terjadi. Dari mana aku tau dia anak SMP X? Dari badge yang dia pakai tentu saja.

Sedikit basa-basi, ternyata dia tau peristiwa koplak dulu. Tapi dia tidak masuk golongan anak-anak yang suka tawuran. Kalo boleh menebak, dia anak paling pintar dan alim di sana. Terlihat jelas dari potongannya, jauh dari kesan preman. Ketika gw masih ngobrol sama dia (sebut saja Salim) suara lembut menyapa ku. Ah. Demit sialan. Apa maksud nya coba ganggu-ganggu.


Bye.
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di