alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/573370ce96bde6f9788b4569/kembalilah-tak-terungkap--ketulusan-cinta-para-bidadari--r-17

Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17



Quote:



Apa kau percaya dengan Hukum Kekekalan Energi?
Kalau aku percaya dengan Hukum Kekekalan Cinta.
Bahwa Cinta itu tidak dapat dibuat atau dimusnahkan.
Tetapi hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
Itulah cinta yang kupercaya.

Ini adalah kisah nyata tentang mereka.
Tentang semua cinta yang tak terbalas.
Tentang semua rasa yang tak terungkap.
Yang terukir indah dalam 874 lembar buku harianku sejak SMA.
Ditambah 101 halaman dari kisahku yang hilang bersama seseorang.

Maka, saat kau bertanya, mengapa kau masih ingat?
Buku harianku yang mengingatkanku.
Disana tertulis nama lengkap mereka.
Disana tertulis semua perkataan antara aku dan mereka
Disana tertulis semua proses pendewasaanku.

Ini kisah nyata.
Buku harian 975 lembar letter size itu saksi sejarahnya.
Ditulis dengan font Times New Roman 10 Pt.
Dan akan kutulis ulang semuanya untuk kalian.
Bidadari yang pernah datang mengisi hariku.
Bidadari yang mendewasakanku.



Orang bilang, jatuh cinta itu menyenangkan.
Aku mengakui itu, sepanjang aku jatuh cinta, rasanya menyenangkan.

Tetapi orang juga bilang, jatuh cinta itu menyakitkan.
Entah, tetapi aku tidak pernah setuju dengan frasa bahwa cinta itu menyakitkan.

Cinta adalah saat kita menginginkan orang yang kita cintai bahagia.
Tidak peduli seberapa sakitnya kita dibuatnya.
Karena ketulusan yang akan mengobati semua sakit.
Di atas senyum bahagia, dia yang kita cintai.

Namum, apabila ada banyak hati yang saling mencinta.
Apakah akan berakhir bencana?
Ataukah ketulusan yang akan menyembukan mereka.
Ini kisah tentang mereka.

Bidadari sempurna yang hadir dalam hidupku.



Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari





MAKLUMAT

Cerita ini berdasarkan kisah nyata, nama karakter disamarkan sesuai dengan kebutuhan untuk melindungi privasi dari tokoh yang ada di dalam cerita ini. Dan cerita ini sebisa mungkin menggunakan kaedah sastra secara teknis, sehingga akan dibutuhkan waktu yang lama untuk dicerna.

Rating dalam cerita ini adalah R-17, dengan kata lain, cerita ini mengandung bahasa yang kasar dan juga isi cerita yang hanya sesuai untuk usia 17 tahun atau di atasnya, dan atau usia di bawahnya dengan bimbingan orang yang lebih dewasa.

Perlu diingat, rating Restricted tidak serta merta hanya mengacu kepada konten cerita yang mengandung adegan dewasa, belajar dari cerita sebelumnya, saya selaku author akan meminimalisir cerita dengan adegan dewasa di thread ini. Restricted di sini mengacu kepada kompleksitas cerita yang akan mempengaruhi ideologi pada pembaca, khususnya remaja yang memiliki usia di bawah 17 tahun.

Penggunaan bahasa yang tidak pantas, serta adegan yang penuh dengan konspirasi dan atau tindakan kejahatan juga menjadi pertimbangan saya untuk tetap mempertahankan rating Restricted di dalam cerita ini, jadi terlebih dahulu harus dipahami mengapa saya tetap menggunakan rating R-17 pada cerita ini, dan bukan serta merta karena adanya adegan yang kurang pantas di sini.

Mohon untuk pembaca memahami bahwa tidak semua adagan dalam cerita ini bisa dicontoh, ditiru, dan atau diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, terlebih untuk material yang hanya boleh dilakukan untuk pasangan pernikahan yang sah. Pembaca dimohon untuk mengambil hikmah dari cerita ini sebaik-baiknya.

Kritik dan saran dari pembaca sangatlah saya harapkan, dan mohon maaf apabila banyak tulisan dari karya saya yang masih jauh menyimpang dari Sastra Indonesia. Saya mohon koreksinya dari pembaca, karena saya ingin tetap mempertahankan kaedah menulis Sastra, bukan asal cerita.

Demikian maklumat dari saya, Terima Kasih.


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


OVERTURE


     Selamat pagi rekan-rekan Kaskuser, khususnya di Sub-Forum Story from the Heart, perkenalkan, saya Faristama Aldirch, selaku Nubie SR di sini untuk berbagi kisah. Sebelumnya pasti rekan-rekan semua tahu apa alasan saya menggunakan User ID m60e38, tentunya ada hubungannya antara mesin BMW M60 dan sasis BMW E38.

     Tentu saja, cerita ini berawal dari saya yang jatuh cinta kepada Aerish Rivier, menyatakan cinta kepada gadis itu, dan membuat saya menanti akan sebuah balasan yang tak berujung. Menutup hati dari banyak hati yang berusaha mengisi hati saya dan berusaha tak acuh dengan apa yang saya alami sendiri. Hingga pada akhirnya banyak hal yang terlewatkan hingga semuanya menjadi satu.

     Tetapi, hal tersebut tidak pernah disadari oleh saya, Cauthelia Nandya datang dengan membawa cinta dan keikhlasan yang begitu luar biasa, tertuang dalam diary-nya sejak tahun 2002. Nadine Helvelina datang dengan cinta dan ketulusan yang tidak pernah bisa diragukan. Shinta Adinda yang menjadi sahabat terbaik saya juga datang dengan ketulusan yang benar-benar membuat saya berpikir tidak akan meninggalkannya.

     Arteana Andrianti, seorang Guru penjaga UKS yang merasakan bahwa saya adalah laki-laki yang telah menyelamatkannya di satu peristiwa pada pertengahan 2006. Hingga Aluna Amelia, gadis berdarah Oriental yang begitu cantik, mempercayakan segala perasaannya kepada saya atas semua apa yang pernah saya lakukan kepadanya.

     Ketulusan mereka semua sudah tidak mungkin diragukan lagi, apapun mereka lakukan bukan serta merta menginginkan saya bahagia, tetapi ingin yang lainnya bahagia. Memang ini terlihat menyenangkan, dicintai banyak wanita sekaligus, dan mereka terlihat begitu akrab dan juga akur satu sama lainnya, padahal hal tersebut benar-benar menjadi sebuah beban yang begitu luar biasa untuk saya.

     Semenjak kedatangan Erik di kehidupan saya, semuanya mulai terasa begitu berat, dengan anak buahnya, ia berusaha untuk mendekati satu per satu bidadari untuk sekadar mengancam saya, atau mungkin melakukan hal yang buruk kepada mereka. Hal tersebut membuat saya benar-benar was-was, terlebih saat ini saya tidak bisa tenang karena Cauthelia tidak bisa dihubungi.

     Satu persatu masalah muncul dan semuanya bermuara ke satu nama, yaitu Markus, siapakah orang itu? Entahlah, hanya Sang Jabbar yang tahu siapakah Markus itu, yang pasti semenjak kedatangan Nancy malam itu, setidaknya selain hengkangnya Erik perlahan dari kehidupan saya, muncul aliansi baru yang akan membantu saya mengungkap siapa dan apa tujuan Markus sebenarnya.

     Semoga cerita ini bisa menjadi salah satu kawan di kala senggang untuk rekan-rekan Kaskuser yang senang membaca cerita dengan format baku seperti yang saya suguhkan. Tidak perlu banyak kata-kata dalam pembukaan ini, saya akan melanjutkannya pada kisah yang akan saya tulis dengan format yang sama seperti cerita saya sebelumnya. Atas perhatian dan kerjasama Anda, saya mengucapkan Terima Kasih.

Quote:

profile-picture
profile-picture
profile-picture
just.endra dan 15 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh m60e38

Secercah Cahaya Langit | Bagian 6

SECERCAH CAHAYA LANGIT (BAGIAN 6)


      “Aku mau tanya, seberapa jauh hubungan kamu sama Ka Nana?”

      Bagaikan sebuah sistem yang berada dalam kondisi halt state, aku hanya bisa terdiam mendengar pertanyaan yang keluar dari lisan Nadine. Aku tahu, memang hanya hubunganku dan Teana yang tidak pernah ia tahu. Instruksi demi instruksi terus diproses di dalam prosesor ini, mengalihkan segala data-data dari RAM untuk memberikan sebuah jawaban yang tepat atas pertanyaan Nadine barusan.

      Sungguh, aku tidak dapat menjawab sampai sejauh mana hubunganku dengan Teana. Ia selalu tidak pernah mau bertanya apapun tentang wanita itu sejak awal memang. Ia mengetahui seberapa dekat aku dengan Cauthelia, Shinta, atau Aluna, tetapi tidak dengan Teana. Hal itu yang membuatku sedikit bingung dan kewalahan menjawab pertanyaan dia.

      “Aku tahu, mungkin kamu susah jawabnya,” ujar Nadine pelan, “tapi jujur, aku liat kamu deket banget sama Ka Nana sejak awal.”

      “Aku tahu, mana ada cewe yang tahan nyium wangi kamu Tam,” ujarnya lalu memandangku, seraya masih sesekali menyeka air matanya, “jujur aku aja gak bisa tahan pengen meluk kamu pas nyium wangi kamu, gimana mereka yang udah sedeket itu sama kamu?”

      “Maaf, mungkin pertanyaan aku terlalu tiba-tiba,” ujar Nadine, ia lalu menggenggam kedua tanganku erat, “tapi aku pengen hatiku tenang Tam.”

      Aku terdiam sejenak, membiarkan semilir angin membasuh seluruh kulitku dengan hawa yang begitu menyejukkan. Kutatap dalam-dalam mata gadis itu, meskipun aku hanya dapat melihatnya di bawah temaramnya sinar Luna. “Apapun jawaban aku, janji kamu gak akan marah ya Nad.”

      Gadis itu mengangguk pelan, “aku janji Tam, aku gak akan marah sama kamu, apapun itu.”

      Kuhela napas seraya menegakkan tubuhku di depannya, “kamu harusnya tahu, seberapa jauh hubungan aku sama Ka Nana, dan kamu juga tahu kalo aku cinta sama dia.”

      “Bukan itu Tam, bukan,” ujar Nadine, tampaknya aku salah menafsirkan pertanyaan dari lisannya, “maksud aku, apa kamu udah masuk ke blackhole Ka Nana?” tanyanya begitu pelan, bahkan aku hampir-hampir tidak dapat mendengar kata-katanya tadi.

      Kutundukkan kepalaku, aku benar-benar terbungkam oleh pertanyaan yang diajukan oleh Nadine barusan. Apabila aku menjawabnya, berarti akan ada babak baru yang harus kujalani bersama dengan Nadine nantinya. Tetapi, aku juga tidak dapat menjawab sebuah kebohongan yang tentu saja bisa membuat segala hal yang telah berjalan begitu harmonis kini hancur.

      Apakah ia tahu yang sebenarnya? Pertanyaan itu terus berputar-putar di kepalaku, menanti sebuah jawaban konkret yang mungkin akan sulit kuutarakan pada saat ini.

      Apa mungkin ia akan diam saja atas kejujuranku? Pertanyaan itu terus menyeruak, seolah ingin sekali lisan ini mengujarkan apa-apa yang terjadi di antara aku dan Teana sejak tadi siang.

      “Aku tahu, mungkin kamu gak harepin jawaban apapun tentang itu Nad,” ujarku pelan, “ya emang aku sama Ka Nana udah sampe Event Horizon, kamu sendiri tahu kan.”

      “Gak mungkin,” ujarnya pelan, “aku tahu kamu juga tahu apa yang terjadi sama Ka Nana kan sebelumnya,” ujarnya lalu memandangku, “aku gak yakin hal itu Tam.”

      “Apa itu salah satu alasan kamu nanyain hal ini Nad?” tanyaku pelan, “kalopun aku udah masuk blackhole Ka Nana, apakah itu ngubah semuanya yang ada di hatimu Nad?” Saat aku mengakhiri lisanku barusan, gadis itu hanya tertunduk. Kali ini ia yang mengunci lisannya, membiarkan deburan ombak berbicara tentang apa yang ia alami saaat ini, ketika riaknya pecah menghantam karang yang berada tidak jauh dari kami.

      “Aku tahu Tam, cepet ato lambat kamu sama Ka Nana pasti sampe ke sana,” ujarnya pelan, “aku tahu semua cerita dia Tam, hal yang gak pernah mau dia ceritain sama kamu,” ujarnya lalu memandangku.

      Saat itu aku pun hanya dapat terdiam, sedikit terhentak atas pernyataan Nadine barusan. “Emang Nana cerita apaan sama kamu Nad?”

      “Banyak Tam,” jawabnya singkat, “banyak hal yang enggak pernah dia omongin sama kamu,” ujarnya lalu memandangku, “banyak hal yang kamu enggak pernah nyangka akan Ka Nana ceritain ke kamu.”

      “Tapi bukan aku gak percaya sama kamu Tam,” ujar suara itu tiba-tiba ada di belakangku.

      Deg! Entah mengapa jantungku kembali berdetak sangat cepat, layaknya sebuah Ferrari 053 yang dipacu pada sembilan-belas-ribu-putaran-per-menit. Seolah tidak ada waktu bagiku untuk berpikir lagi saat ini. Ketika semua hal menjadi sebuah teka-teki yang begitu rumit, saat ini aku hanya dapat memejamkan mata, mencoba untuk memahami satu per satu hal yang tengah menggeluti pikiranku.

      Kubalik tubuhku. Teana sudah berdiri di sana, mengenakan gaun berwarna jingga yang begitu indah menutupi tubuh sintalnya. Angin yang berembus lembut juga terkadang menerbangkan lembaran demi lembaran kain yang akhirnya membentuk tubuhnya dengan begitu jelas di bawah temaramnya sinaran Luna.

      “Aku cuma kadang cerita sama Nadine soalnya aku sama dia sama-sama cewek,” ujarnya pelan seraya mendekat ke arahku, “aku cerita betapa inginnya aku ada di deket kamu Tam, dan aku cerita itu udah sejak lama sama dia.”

      Aku masih terdiam. Membiarkan angin yang semilir ini terus bernyanyi bersama orkestra ombak yang begitu mendayu, melarutkan segala asa yang terpendam di dalam hati untuk semua bidadari yang saat ini berada di sekitarku.

      “Maafin aku Tam,” ujar Nadine dari sebelahku, “aku juga gak maksud buat sembunyiin hal ini dari kamu, tapi jujur aku bener-bener pengen tahu sampe mana kamu sama Kak Nana,” ujarnya pelan.

      “Kamu mau aku yang jujur, ato Tama yang jujur Nad?” tanya Teana pelan, wanita itu tampaknya juga enggan menceritakan segala yang terjadi di antara kami.

      “Those supernova explode inside her blackhole, if you want to know,” ujarku pelan.

      Suasanya mendadak hening. Duniaku terasa berhenti berputar saat itu. Bahkan indraku tidak dapat mendengarkan deburan ombak yang sejak tadi menemani diamku. Nadine menatapku dengan tidak percaya. Ia bahkan menutup mulutnya dengan kedua tangannya seraya memandangku.

      Aku tahu, ada wajah kecewa tersirat dari sorot matanya yang begitu menampakkan segala kesedihan yang teramat dalam di hatinya saat ini. Bahkan aku tidak berani sekadar menggenggam tangannya dan menjelaskan segala yang terjadi di antara aku dan Shinta serta Aluna. Hal itu bahkan tidak pernah ia tahu hingga saat ini, dan jujur aku tidak ingin membuat hatinya semakin hancur.

      Tiba-tiba segala lamunanku berjalan begitu cepat, mengarahkan semua ingatanku kepada segala kesalahan Nadine lagi. Akhir-akhir ini aku seringkali terkenang atas semua pengakuannya terhadap segala hal yang telah ia lakukan kepada Cauthelia, Shinta, bahkan Aluna.

      Aku hanya dapat memejamkan mata dan menghela napas begitu panjang, mencoba memaafkan segala kesalahan yang telah ia perbuat sejak awal. Tetapi, terkadang kata-kata ikhlas itu jauh lebih mudah ketimbang aplikasinya dalam kehidupan, dan untuk hal itu kuakui bahwa aku belum sepenuhnya bisa memaafkan kesalahan Nadine, bahkan hingga saat ini.

      “Aku tau, aku bukan cewek yang sempurna Tam,” ujarnya pelan, “aku tau semua hal yang udah aku lakuin ke Tata juga ke Elya, semuanya emang aku yang salah,” ujarnya mulai terisak lagi. “Aku tau, aku masih belum sedewasa Kak Nana, aku jauh Tam, jauh banget dari itu.”

      “Nad,” panggilku, “bukan di sana esensi cinta yang sebenernya,” ujarku pelan, “kamu gak akan bisa nyamain siapapun di sini, terlebih Elya,” ujarku lagi, lalu kupandangi kedua wanita yang saat ini berada di sebelahku, “dan sampe kapanpun kamu tetaplah kamu dengan semua hal yang aku cinta.”

      “Jujur, aku gak terima Tam,” ujarnya pelan, nadanya lirih di dalam isakan tangis yang semakin menjadi-jadi, “aku ngerasa kalo aku yang seharusnya ada di posisi itu, bukan Kak Nana,” ujarnya lalu menatapku, “tapi aku bisa apa Tam, kalo kamu gak pernah mencintai aku sepenuhnya.”

      “Kapan sih Tam, kamu hargain aku, sebagai yang satu-satunya?”

      “Nad, belom ada seminggu kamu ngomong sama aku, kalo kamu janji gak akan bahas masalah ini?” tanyaku tegas, “kenapa kamu bahas ini lagi?”

      Plak! Sebuah tamparan yang sebenarnya tidak seberapa sakit mendarat di pipiku. Sungguh, aku tidak menyangka gadis itu akan benar-benar meluapkan emosinya malam ini. Aku bahkan hanya tertunduk, menahan perasaan yang seharusnya tidak pernah ada ini.

      Aku geram. Aku kesal. Aku marah.

      Bukan karena tamparan yang ia lakukan tadi, dan bukan karena pernyataan dan pertanyaannya kepadaku tadi. Bukan karena apapun yang telah ia lakukan malam ini. Tetapi karena ia tidak pernah menyadari, betapa ia terlalu egois terhadap perasaannya sendiri ketimbang apa yang telah ia lakukan kepada Cauthelia, ya khususnya gadis itu.

      Tetapi, aku paham bahwa Nadine sesungguhnya memiliki hak untuk melakukan semua ini. Ia adalah gadis yang selalu berpikir dengan tenang dan tegas, dan aku tahu bahwa ia pasti sudah memikirkan matang-matang apa yang akan ia perbuat. Dan aku rasa, tamparan tadi adalah suatu harga yang belum pantas atas ketidaktegasanku atas perasaan yang terbagi ini.

      Meskipun aku masih tidak terima apa yang telah ia lakukan kepada Cauthelia, Shinta, dan Aluna.

      “Kalo itu bisa buat amarah kamu berenti, aku terima Nad,” ujarku, “tapi aku gak akan pernah bisa jadiin kamu satu-satunya.”

      Plak! Satu tamparan yang lebih keras lagi mendarat di pipiku yang lain.

      “Kalo loe pikir gue bisa terima sama ini semua, loe salah besar tam!” teriak gadis itu seraya menatapku dengan begitu tajam.

      “Nad,” panggil Teana lembut, “kamu gak seharusnya begitu sama Tama.”

      “Berisik loe p**e*!” Nadine membentak Teana, plak! satu tamparan yang lebih keras mendarat di pipinya. “Murah banget loe jadi cewek!” bentaknya lagi, “muka doang alim, kelakuan bejat dasar loe!”

      “Nad!” teriakku saat kedua tangan gadis itu berusaha untuk mendorong Teana. “Kalo kamu marah sama aku, gak usah marah sama semua orang yang cinta sama aku.”

      “Kemaren Luna, terus Tata, sekarang kamu kasar sama Nana, besok mungkin kamu akan jahatin Elya lagi,” ujarku agak tinggi, “nanti mungkin kamu akan mau jadi satu-satunya terus singkirin semua orang yang cinta sama aku.”

      “Emang kenapa?” Nadine masih berteriak, membentakku dengan begitu keras, “loe gak berhak ngatur hidup gue, loe itu sampah Tam, sampah!” bentaknya, menekankan kata sampah di akhir lisannya.

      “Loe anggap dengan loe selametin cewek-cewek murahan itu, loe bisa seenaknya maenin perasaan gue! Hah!”

      “Aku gak pernah maenin perasaan kamu Nad,” ujarku, “sekalipun aku ada di posisi ini, aku gak pernah mau mainin perasaan kamu Nad.”

      “Tapi kenapa kamu malah n***e sama cewek yang udah gak perawan macem dia! Hah!”

      Nadine makin menjadi, ia menerjang tubuh Teana, kali ini ia langsung mendorongnya jatuh di atas pasir pantai ini tanpa bisa kucegah. Gadis itu langsung menjambak kuat-kuat rambut Teana. Sungguh, andai aku memiliki satu detik sebelum gadis itu menerjang Teana, aku pasti bisa menghentikannya.

      Aku langsung menahan tangan Nadine yang masih saja menarik keras-keras rambut Teana. Sungguh sulit rasanya meredakan amarah gadis itu dan melerai perkelahian satu arah yang dilakukan oleh Nadine kepada Teana.

      “Berenti gak Nad!” bentakku. Kutahan tangannya yang masih menggenggam kuat rambut Teana yang saat ini tidak melawan pergerakan Nadine sama sekali.

      “Dia itu guru kamu Nad,” ujarku setengah tinggi, “kamu harus hormatin dia.”

      “Eh *a***a*! *e*** ini sama kayak *e*** loe yang ada di sana!” bentaknya dengan tatapan yang begitu penuh amarah, “loe semua itu cuma budak nafsu cowok sampah ini doang!”

      “Okay, di sekolah loe itu guru gue, tapi di tempat ini loe cuma cewek murah!” Plak! Plak! Dua tamparan mendarat di pipi kanan dan kiri Teana.

      “Kamu itu siapa? Kamu bukan kami yang aku kenal Nad,” ujarku, “aku gak tahu siapa cewek yang ada di depanku sekarang.” Aku benar-benar kecewa atas perlakuannya yang benar-benar meledak-ledak seperti itu. “Aku bener-bener gak tau apa isi kepala kamu Nad.”

      Aku menjauhi gadis itu. Ia terdiam saat ini, seraya aku melepaskan genggamanku di pergelangan tangannya. Ia pun langsung melepaskan jambakannya dari rambut Teana yang saat ini sedang menangis sesunggukan. Wanita itu tampak begitu ketakutan melihat Nadine yang tersulut dengan amarah barusan.

      Sejalan dengan apa yang telah ia lakukan, Nadine lalu berdiri, berjalan dengan cepat di atas isak tangisnya sendiri dan meninggalkan kami berdua di sini. Menyisakan sebuah penyesalan yang sesungguhnya tidak perlu terjadi di antara kami bertiga. Sungguh menurutku betapa bodohnya Nadine melakukan itu kepada Teana di depanku.

      Sejalan, aku langsung mendekap Teana yang saat itu masih menangis, bergeming di atas pasir yang begitu lembut ini. “Udah Na, udah,” ujarku pelan, tak kuasa rasanya mendengar isakan wanita itu, “semua itu salah aku, semua itu bersoal dari aku yang gak peka.”

      “Elya Tam, Elya,” ujar Teana lirih, “kejar Nadine, nanti dia bisa kalap sama Elya,” wanita itu langsung mendorong tubuhku untuk segera menyusul Nadine.

      “Tapi kamu gimana Na?” tanyaku, mencemaskan dirinya yang saat ini masih terdiam seraya menyeka air matanya dengan cepat.

      “Aku gak apa-apa, kamu kejar Nadine, aku takut Elya diapa-apain sama dia.”

      Tiba-tiba teriakan yang sama terdengar begitu menggelegar dari sini. Dan itu adalah suara Nadine yang begitu hebat dan angkuhnya memaki Cauthelia yang saat ini berada agak jauh posisiku dan Teana saat ini. Benar ujar lisan Teana barusan, aku tidak menyangka kalau gadis itu akan meluapkan segala perasaan kecewanya kepada semua orang. Termasuk Cauthelia. Gadis yang pernah ia coba untuk celakakan.

      Sontak saja aku berlari, meninggalkan Teana dengan miliaran kekalutan yang begitu mendasar di hatiku. Mengapa karena seorang Nadine semuanya jadi begini? Gumamku seraya kupercepat lajuku menuju cottage tempat di mana Cauthelia berada.

      Tunggu. Tunggu dulu. Ini bukanlah kesalahan Nadine, ini adalah murni kesalahanku sebagai laki-laki yang tidak bisa tegas memilih hati mana yang berlabuh di hatiku kini. Seharusnya aku memilih salah satu, bukan kelimanya.

      Tetapi, apakah apabila aku hanya memilih Cauthelia di dalam hatiku bisa menenangkan Nadine?

      Apakah dengan aku hanya memilih Teana dan aku melakukan segala hal yang terlarang itu bisa membuat Nadine tidak tersulut amarah seperti tadi?

      Apa mungkin? Apa itu semua mungkin?

      “Loe itu bego apa gimana sih!” Nadine tampak membentak Cauthelia, “loe itu cuma jadi pemuas nafsu Tama doang!” ia membentak Cauthelia, sementara tangannya menunjuk ke arahku yang saat ini berada di jangkauan pandang mereka.

      Berbeda dengan Nadine, Cauthelia tampak sangat tenang menghadapi Nadine yang begitu tersulut oleh amarahnya. Nadine tampak seperti sebuah mesin V6 yang dipaksa berputar hingga torsi tertinggi, sementara tiada yang meredam getaran mesin yang sangat keras saat itu. Tidak butuh waktu lama, mesin itu akan overheat dan merusak semua komponen internalnya.

      Sungguh sebuah ironi. Melihat Nadine yang selalu tenang, tegas, dan menjaga sikap di depan banyak orang kini berubah menjadi orang lain yang begitu tempramental. Ia bahkan tidak malu berteriak dan memaki Aluna di depan banyak orang, seolah apa yang ia lakukan adalah pembenaran dari rasa cemburu dan kecewa yang melebur di hatinya.

      “Kak Nadine itu kenapa?” Cauthelia bertanya dengan nada yang begitu lembut. Ucapannya bahkan terasa lebih sejuk ketimbang angin laut yang berembus menerpa kulitku. “Kalopun aku emang jadi pemuas nafsu Kak Tama, aku ikhlas kok.”

      “Kalopun pada akhirnya aku dibuang, aku juga ikhlas,” ujar gadis itu, ia memandangku dengan senyuman yang begitu hangat dan menentramkan. “Kamu lupa apa Kak Nad, siapa yang nolong kamu pas kamu lakuin hal konyol waktu itu?”

      “Kak Tama kan?”

      Gadis itu langsung terdiam, memandang Cauthelia yang tampak begitu tenang menjawab setiap gempuran emosi yang terlihat jelas dari dadanya yang bergerak naik turun dengan cepat. “Ya itu buat loe Elya, bukan buat gue.”

      “Gimanapun gue yang paling berhak atas semuanya karena gue yang cinta sama Tama duluan,” ujar Nadine setengah tinggi, “bukan loe, apalagi p***** satu ini!” bentaknya lalu mendorong jatuh Aluna yang saat itu berada di sebelah Cauthelia.

      Cauthelia tampak terkejut dengan apa yang dilakukan Nadine. Sejurus ia lalu berlutut dan membantu Aluna untuk berdiri. Saat itu, tidak ada amarah yang tersulut dari sorot mata Cauthelia yang masih begitu teduh. Ia benar-benar mencoba untuk meredakan emosi Nadine yang sungguh begitu meledak. Seketika, aku merasa ada kekecewaan yang mendalam atas apa yang terjadi di depan mataku kini.

     “Kak Nadine lupa ya?” tanya Cauthelia, tetap tenang di saat situasi sudah mulai semakin panas, “Kak Nadine lupa kalo,” ujar Cauthelia lalu menghela napas panjang.

<<< SEBELUMNYA (EP276)


Diubah oleh ms.mriva
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di