alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/573370ce96bde6f9788b4569/kembalilah-tak-terungkap--ketulusan-cinta-para-bidadari--r-17

Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17



Quote:



Apa kau percaya dengan Hukum Kekekalan Energi?
Kalau aku percaya dengan Hukum Kekekalan Cinta.
Bahwa Cinta itu tidak dapat dibuat atau dimusnahkan.
Tetapi hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
Itulah cinta yang kupercaya.

Ini adalah kisah nyata tentang mereka.
Tentang semua cinta yang tak terbalas.
Tentang semua rasa yang tak terungkap.
Yang terukir indah dalam 874 lembar buku harianku sejak SMA.
Ditambah 101 halaman dari kisahku yang hilang bersama seseorang.

Maka, saat kau bertanya, mengapa kau masih ingat?
Buku harianku yang mengingatkanku.
Disana tertulis nama lengkap mereka.
Disana tertulis semua perkataan antara aku dan mereka
Disana tertulis semua proses pendewasaanku.

Ini kisah nyata.
Buku harian 975 lembar letter size itu saksi sejarahnya.
Ditulis dengan font Times New Roman 10 Pt.
Dan akan kutulis ulang semuanya untuk kalian.
Bidadari yang pernah datang mengisi hariku.
Bidadari yang mendewasakanku.



Orang bilang, jatuh cinta itu menyenangkan.
Aku mengakui itu, sepanjang aku jatuh cinta, rasanya menyenangkan.

Tetapi orang juga bilang, jatuh cinta itu menyakitkan.
Entah, tetapi aku tidak pernah setuju dengan frasa bahwa cinta itu menyakitkan.

Cinta adalah saat kita menginginkan orang yang kita cintai bahagia.
Tidak peduli seberapa sakitnya kita dibuatnya.
Karena ketulusan yang akan mengobati semua sakit.
Di atas senyum bahagia, dia yang kita cintai.

Namum, apabila ada banyak hati yang saling mencinta.
Apakah akan berakhir bencana?
Ataukah ketulusan yang akan menyembukan mereka.
Ini kisah tentang mereka.

Bidadari sempurna yang hadir dalam hidupku.



Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari





MAKLUMAT

Cerita ini berdasarkan kisah nyata, nama karakter disamarkan sesuai dengan kebutuhan untuk melindungi privasi dari tokoh yang ada di dalam cerita ini. Dan cerita ini sebisa mungkin menggunakan kaedah sastra secara teknis, sehingga akan dibutuhkan waktu yang lama untuk dicerna.

Rating dalam cerita ini adalah R-17, dengan kata lain, cerita ini mengandung bahasa yang kasar dan juga isi cerita yang hanya sesuai untuk usia 17 tahun atau di atasnya, dan atau usia di bawahnya dengan bimbingan orang yang lebih dewasa.

Perlu diingat, rating Restricted tidak serta merta hanya mengacu kepada konten cerita yang mengandung adegan dewasa, belajar dari cerita sebelumnya, saya selaku author akan meminimalisir cerita dengan adegan dewasa di thread ini. Restricted di sini mengacu kepada kompleksitas cerita yang akan mempengaruhi ideologi pada pembaca, khususnya remaja yang memiliki usia di bawah 17 tahun.

Penggunaan bahasa yang tidak pantas, serta adegan yang penuh dengan konspirasi dan atau tindakan kejahatan juga menjadi pertimbangan saya untuk tetap mempertahankan rating Restricted di dalam cerita ini, jadi terlebih dahulu harus dipahami mengapa saya tetap menggunakan rating R-17 pada cerita ini, dan bukan serta merta karena adanya adegan yang kurang pantas di sini.

Mohon untuk pembaca memahami bahwa tidak semua adagan dalam cerita ini bisa dicontoh, ditiru, dan atau diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, terlebih untuk material yang hanya boleh dilakukan untuk pasangan pernikahan yang sah. Pembaca dimohon untuk mengambil hikmah dari cerita ini sebaik-baiknya.

Kritik dan saran dari pembaca sangatlah saya harapkan, dan mohon maaf apabila banyak tulisan dari karya saya yang masih jauh menyimpang dari Sastra Indonesia. Saya mohon koreksinya dari pembaca, karena saya ingin tetap mempertahankan kaedah menulis Sastra, bukan asal cerita.

Demikian maklumat dari saya, Terima Kasih.


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


OVERTURE


     Selamat pagi rekan-rekan Kaskuser, khususnya di Sub-Forum Story from the Heart, perkenalkan, saya Faristama Aldirch, selaku Nubie SR di sini untuk berbagi kisah. Sebelumnya pasti rekan-rekan semua tahu apa alasan saya menggunakan User ID m60e38, tentunya ada hubungannya antara mesin BMW M60 dan sasis BMW E38.

     Tentu saja, cerita ini berawal dari saya yang jatuh cinta kepada Aerish Rivier, menyatakan cinta kepada gadis itu, dan membuat saya menanti akan sebuah balasan yang tak berujung. Menutup hati dari banyak hati yang berusaha mengisi hati saya dan berusaha tak acuh dengan apa yang saya alami sendiri. Hingga pada akhirnya banyak hal yang terlewatkan hingga semuanya menjadi satu.

     Tetapi, hal tersebut tidak pernah disadari oleh saya, Cauthelia Nandya datang dengan membawa cinta dan keikhlasan yang begitu luar biasa, tertuang dalam diary-nya sejak tahun 2002. Nadine Helvelina datang dengan cinta dan ketulusan yang tidak pernah bisa diragukan. Shinta Adinda yang menjadi sahabat terbaik saya juga datang dengan ketulusan yang benar-benar membuat saya berpikir tidak akan meninggalkannya.

     Arteana Andrianti, seorang Guru penjaga UKS yang merasakan bahwa saya adalah laki-laki yang telah menyelamatkannya di satu peristiwa pada pertengahan 2006. Hingga Aluna Amelia, gadis berdarah Oriental yang begitu cantik, mempercayakan segala perasaannya kepada saya atas semua apa yang pernah saya lakukan kepadanya.

     Ketulusan mereka semua sudah tidak mungkin diragukan lagi, apapun mereka lakukan bukan serta merta menginginkan saya bahagia, tetapi ingin yang lainnya bahagia. Memang ini terlihat menyenangkan, dicintai banyak wanita sekaligus, dan mereka terlihat begitu akrab dan juga akur satu sama lainnya, padahal hal tersebut benar-benar menjadi sebuah beban yang begitu luar biasa untuk saya.

     Semenjak kedatangan Erik di kehidupan saya, semuanya mulai terasa begitu berat, dengan anak buahnya, ia berusaha untuk mendekati satu per satu bidadari untuk sekadar mengancam saya, atau mungkin melakukan hal yang buruk kepada mereka. Hal tersebut membuat saya benar-benar was-was, terlebih saat ini saya tidak bisa tenang karena Cauthelia tidak bisa dihubungi.

     Satu persatu masalah muncul dan semuanya bermuara ke satu nama, yaitu Markus, siapakah orang itu? Entahlah, hanya Sang Jabbar yang tahu siapakah Markus itu, yang pasti semenjak kedatangan Nancy malam itu, setidaknya selain hengkangnya Erik perlahan dari kehidupan saya, muncul aliansi baru yang akan membantu saya mengungkap siapa dan apa tujuan Markus sebenarnya.

     Semoga cerita ini bisa menjadi salah satu kawan di kala senggang untuk rekan-rekan Kaskuser yang senang membaca cerita dengan format baku seperti yang saya suguhkan. Tidak perlu banyak kata-kata dalam pembukaan ini, saya akan melanjutkannya pada kisah yang akan saya tulis dengan format yang sama seperti cerita saya sebelumnya. Atas perhatian dan kerjasama Anda, saya mengucapkan Terima Kasih.

Quote:

profile-picture
profile-picture
profile-picture
just.endra dan 15 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh m60e38

Satu Senyum di Ujung Senja | Bagian 3

SATU SENYUM DI UJUNG SENJA (BAGIAN 3)


      “Ada yang spesial kah dengan apa yang kita lakuin tadi Fel?” tanyaku langsung.

      Ia mengangguk, “dan aku bahagia Kakak bisa begitu tadi,” ujarnya pelan, “aku mau seterusnya bisa begitu Kak.”

      “Satu hal Fel, no replacement,” ujarku pelan, “aku gak akan ganti Rolls-Royce Wraith dengan Hatchback B Segment,” ujarku, menyinggung hal yang selalu ia inginkan sejak dahulu.

      “Aku paham Kak,” ujarnya lalu tertunduk, “maafin aku, aku tahu aku belom dewasa, aku masih umur segini Kak,” ujarnya, memberikan pembelaan atas segala sikapnya yang menurutku masih kekanak-kanakan itu.

      “Enggak Fel,” ujarku lalu menginjak pedal gas lebih dalam, seraya memindahkan posisi perseneling ke kiri untuk memasuki mode manumatic, “Cauthelia udah begitu dewasa saat umurnya belum enam-belas-tahun,” ujarku lalu sekilas meliriknya, ia tengah memandangku dengan wajah yang begitu merah, “kamu September ini kan sembilan-belas-tahun, which is harusnya kamu lebih dewasa dari dia yang dulu umurnya baru lima-belas-tahun.”

      Ia terdiam, dadanya tampak naik turun karena menghela napas beberapa kali. Sejurus ia mencoba menggenggam tanganku yang saat ini masih berada di atas tuas perseneling yang dilapisi dengan kayu ini. Aku membiarkannya melakukan itu, tanpa sedetikpun aku memandang ke arahnya. Aku masih berkonsentrasi dengan jalanan yang saat ini mulai dipadati kendaraan yang menuju searah dengan jalanku.

      Mesin-delapan-silinder ini begitu tangguh, tenaga sebesar 250 dk hasil dari pembakaran mesin otto disalurkan secara halus ke dalam transmisi 5 percepatan manumatic ini. Keempat Toyo Tranpath R30 235/50 R18 nya bahkan begitu presisi melahap centimeter-demi-centimeter aspal yang tidak begitu mulus di jalan tol ini. Tanpa sadar, speedometer menunjukkan angka seratus-lima-puluh-kilometer-per-jam.

      “Maafin aku Kak,” ujarnya pelan, “mungkin aku emang gak sehebat Kak Elya masalah itu,” ia menggenggam tanganku lebih erat, “jujur, aku gak pernah bayangin ini semua terjadi sama aku, bahkan aku masih gak percaya kalo Kak Tama mau temuin aku, mau begitu sama aku.”

      “Jujur, aku bahagia Kak,” ujarnya pelan, “Kakak tahu gak, ini adalah hal yang paling ngebahagiain buat aku setelah sekian lama aku kehilangan arah,” ia memulai cerita atas semua hal yang telah terjadi kepadanya.

      “Aku tahu,” ujarku singkat, “aku tahu semua cerita kamu, itu semua sama kayak kisahnya Aluna.”

      “Jujur, kalo aku tiba-tiba sayang sama kamu, itu karena aku tahu gimana rasanya jadi kamu, karena itu yang dialamin sama Aluna, dan saat itu aku dateng di hidupnya.”

      “Aluna siapa kak?” tanyanya keheranan, ia bahkan tidak mengetahui terkadang Aluna yang menemuinya, tetapi biarlah ia tidak mengetahui itu.

      “Aluna itu salah satu mantan terindah aku,” ujarku pelan, memulai kenangan yang masih begitu jelas tentang bagaimana aku bertemu dengannya sepuluh tahun yang lalu, “dia dulu dancer tapi beda sekolah sama aku, dan dia kenal deket sama Elya.”

      “Bedanya, dia harus berusaha hidupin dirinya sendiri sama Kakaknya, dan hal itu yang ngebuat dia jadi begitu hebat dan tegar sampe sekarang.”

      “Kalo mantan terindah, kenapa sampe putus?” tanyanya, mulai penasaran dengan masa lalu yang kuceritakan kepadanya.

      “Karena ada banyak hal yang terjadi di antara kita, dan aku gak mungkin kalo gak mutusin dia,” ujarku lalu memandangnya, “pas aku tahu kamu juga sama kayak Aluna, pas itu juga aku langsung tertegun sama semua yang kamu alami.”

      “Mungkin kamu gak separah Aluna dalam jalanin kehidupan,” ujarku pelan, “tapi tanpa orangtua, apa yang kamu bisa Fel?”

      Ia terdiam, air mukanya langsung berubah saat aku berbicara tentang orangtuanya yang memang telah tiada. Sungguh aku langsung bisa merasakan kesedihan yang begitu pekat dari sorot mata nanarnya saat ini. “Karena itu, aku berusaha keras buat terus ketemu sama Kakak.”

      “Selama ini aku hampir gak ada semangat Kak,” ujarnya pelan, “tapi semenjak aku kenal Kakak, aku ngerasa kalo Kakak itu semangat hidup aku.”

      “Banyak hal berubah setelah aku kenal Kakak, dan hal itu masih aku rasain sampe sekarang,” ujarnya, “Kakak tahu, aku hampir putus asa pas aku tahu Kakak gak respons perasaan aku, tapi surat yang ada di Kaskus waktu itu bener-bener bikin aku semangat Kak.”

      Ia lalu menundukkan pandangannya. Tangannya masih lekat di atas tanganku, tampaknya ia tidak akan pernah bosan melakukan hal itu hingga kami tiba di tujuan. Aku berusaha sedikit lunak kepadanya, mencoba untuk mengerti betapa besar beban hidupnya ketika ditinggal pergi oleh orang yang ia cintai pertama kali dalam hidupnya dalam usia yang masih sangat muda.

      “Tiap sore aku ke rukonya Tante cuma buat ketemu Kakak yang jarang dateng, aku belajar suka kucing, aku belajar suka anak kecil,” ujarnya pelan, “soalnya aku sadar, sometimes I will have a child,” ujarnya lalu memandangku, “and I hope it’s your child.”

      Aku hanya terdiam, tidak menjawab apapun dari pernyataannya barusan. Ia masih tersenyum, tangannya yang berada di atas tanganku bahkan terlihat masih belum ia singkirkan. Bergeming di sana, seolah menyatakan sebuah perasaan cinta yang begitu tersirat kepadaku.

      “Aku suka wanginya Kakak,” ujarnya pelan, “aku suka bisa sedeket ini sama Kakak,” ujarnya lagi lalu ia menggenggam tanganku dengan kedua tangannya, “aku suka Kakak kayak tadi sama aku.”

      “It never happens again Fel,” ujarku pelan, “it never gonna happen,” aku lalu menatapnya sekilas. “Cukup tadi, dan aku gak mau ngulang lagi,” ujarku lalu menghela napas.

      “I addicted,” ujarnya pelan, “it give me a great pleasure,” ujarnya dengan wajah yang merah.

      “Aku gak berhak sampe kapanpun ngelakuin itu sama kamu Fel,” ujarku dengan menghela napas, “cuma suami kamu yang berhak lakuin itu.”

      “Kalo gitu, nikahin aku Kak,” ujarnya pelan, “aku pengen ada Kakak di setiap aku bangun tidur, di setiap sebelum aku tidur.”

      Aku menggeleng pelan, “kamu gak akan pernah bisa jadi istri aku Fel,” ujarku pelan, “apapun permintaan kamu, hal itu mustahil bisa aku penuhin.”

      “Tapi, Kak Elya kan bolehin Kak,” tukasnya, wajah orientalnya yang begitu putih memandangku dengan penuh harap. “Jujur, apapun itu akan aku lakuin Kak, yang penting aku bisa ada terus sama Kakak.”

      “Aku cinta sama Kakak, lebih dari apa yang Kakak tahu tentang aku dari semua orang,” ujarnya, berusaha meyakinkanku dengan perasaan yang ia miliki. Bahkan, aku tidak pernah melihat wajah Fela seperti itu sebelumnya. Ia tampak begitu bersungguh-sungguh dengan keyakinannya, bahwa aku mungkin akan menikahinya setelah ia mendapatkan izin dari Cauthelia.

      Aku hanya tersenyum simpul, tanpa melontarkan sepatah katapun dari lisanku. Pandanganku kembali berfokus kepada kepadatan kendaraan yang acap kali menahan laju kendaraan ini. Sudahlah, yang bisa kulakukan saat ini adalah tetap berkonsentrasi dalam perjalanan yang cukup panjang ini. Sementara, Fela akhirnya menumpukan tubuhnya di sandaran jok penumpang depan yang telah direbahkan.

      “Mungkin aku yang picik,” ujarnya pelan, “tapi aku pengen kita ngelakuin itu tiap pagi Kak.”

      Aku menghela napas begitu panjang, rasanya tidak ingin lisanku merespons apapun perkataannya tadi. Aku tahu, ia begitu berharap atas apa yang ia katakan tadi. Tetapi, aku benar-benar tidak ingin memberikan komentar apapun selain memandang ke arah jalan yang dipenuhi kendaraan yang melaju begitu lambat di lajur kanan.

      “Aku berharap Kakak mau jadi suami aku,” ujarnya lagi, pelan, seraya ia menurunkan lagi sandaran joknya.

*****


      Waktu sudah menunjukkan pukul lima-lewat-dua-puluh-dua-menit, itu yang ditampilkan oleh head unit yang ada di tengah dashboard mobil ini. Fela masih terlelap di kursinya saat ini, bajunya yang begitu pendek bahkan tersingkap cukup tinggi, memperlihatkan abdomen miliknya yang begitu bersih.

      “Fel, bangun Fel,” panggilku, tanpa menyentuh tubuhnya, “udah sampe nih.”

      “Eh iya Kak,” sahutnya, suaranya masih parau. Ia lalu menggeliatkan tubuhnya, sontak saja bajunya tersingkap makin tinggi dan memperlihatkan tubuhnya lebih jelas kepadaku.

      Tubuhnya yang sintal dan wajah orientalnya merupakan salah satu kelebihannya. Ia tahu, ia memiliki bentuk tubuh dan paras yang menarik. Ia pun sering menggunakan push-up bra untuk

      Sejurus, aku mematikan mesin mobil ini dan keluar dari pintu pengemudi. Alih-alih menunggunya hingga ia benar-benar terbangun, aku langsung saja menuju ke resepsionis yang terletak agak jauh dari parkir mobilku saat ini. Sejalan, kudengar derap langkah Fela agak tergesa di belakangku.

     “Ka…Kakak, nga…ngapain kita ke sini?”

GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di