alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/573370ce96bde6f9788b4569/kembalilah-tak-terungkap--ketulusan-cinta-para-bidadari--r-17

Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17



Quote:



Apa kau percaya dengan Hukum Kekekalan Energi?
Kalau aku percaya dengan Hukum Kekekalan Cinta.
Bahwa Cinta itu tidak dapat dibuat atau dimusnahkan.
Tetapi hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
Itulah cinta yang kupercaya.

Ini adalah kisah nyata tentang mereka.
Tentang semua cinta yang tak terbalas.
Tentang semua rasa yang tak terungkap.
Yang terukir indah dalam 874 lembar buku harianku sejak SMA.
Ditambah 101 halaman dari kisahku yang hilang bersama seseorang.

Maka, saat kau bertanya, mengapa kau masih ingat?
Buku harianku yang mengingatkanku.
Disana tertulis nama lengkap mereka.
Disana tertulis semua perkataan antara aku dan mereka
Disana tertulis semua proses pendewasaanku.

Ini kisah nyata.
Buku harian 975 lembar letter size itu saksi sejarahnya.
Ditulis dengan font Times New Roman 10 Pt.
Dan akan kutulis ulang semuanya untuk kalian.
Bidadari yang pernah datang mengisi hariku.
Bidadari yang mendewasakanku.



Orang bilang, jatuh cinta itu menyenangkan.
Aku mengakui itu, sepanjang aku jatuh cinta, rasanya menyenangkan.

Tetapi orang juga bilang, jatuh cinta itu menyakitkan.
Entah, tetapi aku tidak pernah setuju dengan frasa bahwa cinta itu menyakitkan.

Cinta adalah saat kita menginginkan orang yang kita cintai bahagia.
Tidak peduli seberapa sakitnya kita dibuatnya.
Karena ketulusan yang akan mengobati semua sakit.
Di atas senyum bahagia, dia yang kita cintai.

Namum, apabila ada banyak hati yang saling mencinta.
Apakah akan berakhir bencana?
Ataukah ketulusan yang akan menyembukan mereka.
Ini kisah tentang mereka.

Bidadari sempurna yang hadir dalam hidupku.



Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari





MAKLUMAT

Cerita ini berdasarkan kisah nyata, nama karakter disamarkan sesuai dengan kebutuhan untuk melindungi privasi dari tokoh yang ada di dalam cerita ini. Dan cerita ini sebisa mungkin menggunakan kaedah sastra secara teknis, sehingga akan dibutuhkan waktu yang lama untuk dicerna.

Rating dalam cerita ini adalah R-17, dengan kata lain, cerita ini mengandung bahasa yang kasar dan juga isi cerita yang hanya sesuai untuk usia 17 tahun atau di atasnya, dan atau usia di bawahnya dengan bimbingan orang yang lebih dewasa.

Perlu diingat, rating Restricted tidak serta merta hanya mengacu kepada konten cerita yang mengandung adegan dewasa, belajar dari cerita sebelumnya, saya selaku author akan meminimalisir cerita dengan adegan dewasa di thread ini. Restricted di sini mengacu kepada kompleksitas cerita yang akan mempengaruhi ideologi pada pembaca, khususnya remaja yang memiliki usia di bawah 17 tahun.

Penggunaan bahasa yang tidak pantas, serta adegan yang penuh dengan konspirasi dan atau tindakan kejahatan juga menjadi pertimbangan saya untuk tetap mempertahankan rating Restricted di dalam cerita ini, jadi terlebih dahulu harus dipahami mengapa saya tetap menggunakan rating R-17 pada cerita ini, dan bukan serta merta karena adanya adegan yang kurang pantas di sini.

Mohon untuk pembaca memahami bahwa tidak semua adagan dalam cerita ini bisa dicontoh, ditiru, dan atau diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, terlebih untuk material yang hanya boleh dilakukan untuk pasangan pernikahan yang sah. Pembaca dimohon untuk mengambil hikmah dari cerita ini sebaik-baiknya.

Kritik dan saran dari pembaca sangatlah saya harapkan, dan mohon maaf apabila banyak tulisan dari karya saya yang masih jauh menyimpang dari Sastra Indonesia. Saya mohon koreksinya dari pembaca, karena saya ingin tetap mempertahankan kaedah menulis Sastra, bukan asal cerita.

Demikian maklumat dari saya, Terima Kasih.


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


OVERTURE


     Selamat pagi rekan-rekan Kaskuser, khususnya di Sub-Forum Story from the Heart, perkenalkan, saya Faristama Aldirch, selaku Nubie SR di sini untuk berbagi kisah. Sebelumnya pasti rekan-rekan semua tahu apa alasan saya menggunakan User ID m60e38, tentunya ada hubungannya antara mesin BMW M60 dan sasis BMW E38.

     Tentu saja, cerita ini berawal dari saya yang jatuh cinta kepada Aerish Rivier, menyatakan cinta kepada gadis itu, dan membuat saya menanti akan sebuah balasan yang tak berujung. Menutup hati dari banyak hati yang berusaha mengisi hati saya dan berusaha tak acuh dengan apa yang saya alami sendiri. Hingga pada akhirnya banyak hal yang terlewatkan hingga semuanya menjadi satu.

     Tetapi, hal tersebut tidak pernah disadari oleh saya, Cauthelia Nandya datang dengan membawa cinta dan keikhlasan yang begitu luar biasa, tertuang dalam diary-nya sejak tahun 2002. Nadine Helvelina datang dengan cinta dan ketulusan yang tidak pernah bisa diragukan. Shinta Adinda yang menjadi sahabat terbaik saya juga datang dengan ketulusan yang benar-benar membuat saya berpikir tidak akan meninggalkannya.

     Arteana Andrianti, seorang Guru penjaga UKS yang merasakan bahwa saya adalah laki-laki yang telah menyelamatkannya di satu peristiwa pada pertengahan 2006. Hingga Aluna Amelia, gadis berdarah Oriental yang begitu cantik, mempercayakan segala perasaannya kepada saya atas semua apa yang pernah saya lakukan kepadanya.

     Ketulusan mereka semua sudah tidak mungkin diragukan lagi, apapun mereka lakukan bukan serta merta menginginkan saya bahagia, tetapi ingin yang lainnya bahagia. Memang ini terlihat menyenangkan, dicintai banyak wanita sekaligus, dan mereka terlihat begitu akrab dan juga akur satu sama lainnya, padahal hal tersebut benar-benar menjadi sebuah beban yang begitu luar biasa untuk saya.

     Semenjak kedatangan Erik di kehidupan saya, semuanya mulai terasa begitu berat, dengan anak buahnya, ia berusaha untuk mendekati satu per satu bidadari untuk sekadar mengancam saya, atau mungkin melakukan hal yang buruk kepada mereka. Hal tersebut membuat saya benar-benar was-was, terlebih saat ini saya tidak bisa tenang karena Cauthelia tidak bisa dihubungi.

     Satu persatu masalah muncul dan semuanya bermuara ke satu nama, yaitu Markus, siapakah orang itu? Entahlah, hanya Sang Jabbar yang tahu siapakah Markus itu, yang pasti semenjak kedatangan Nancy malam itu, setidaknya selain hengkangnya Erik perlahan dari kehidupan saya, muncul aliansi baru yang akan membantu saya mengungkap siapa dan apa tujuan Markus sebenarnya.

     Semoga cerita ini bisa menjadi salah satu kawan di kala senggang untuk rekan-rekan Kaskuser yang senang membaca cerita dengan format baku seperti yang saya suguhkan. Tidak perlu banyak kata-kata dalam pembukaan ini, saya akan melanjutkannya pada kisah yang akan saya tulis dengan format yang sama seperti cerita saya sebelumnya. Atas perhatian dan kerjasama Anda, saya mengucapkan Terima Kasih.

Quote:

profile-picture
profile-picture
profile-picture
just.endra dan 15 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh m60e38

Secercah Cahaya Langit | Bagian 3

SECERCAH CAHAYA LANGIT (BAGIAN 3)


      “Kapan Kakak mau ajak Dede pindah?”

      Deg! Tidak ada lisan yang dapat terucap saat kulihat wajah Aluna yang saat itu menatapku dengan memerah. Dan mengapa hanya dia yang selalu saja berada di dekat jangkauanku akhir-akhir ini? Kuhela napas panjang seraya berusaha tersenyum kepada wanita itu.

      “Maksud Dede pindah?” tanyaku dengan penuh keheranan, sebenarnya apa yang ia maksud dengan pindah itu.

      “Kayak yang Dede ngomong pas di Semarang, inget kan Kak?” Aluna lalu menggenggam pelan tanganku, “ apapun itu, keputusan Dede udah bener-bener bulet,” ujarnya pelan, “ Dede mau mutusin buat pindah sama kayak Kakak.”

      Kuhela napas begitu panjang seraya menatap dalam-dalam matanya. Kulihat miliaran ketulusan terurai dari palung hatinya, kurasakan napas yang begitu ikhlas saat ia mengatakan hal itu barusan. Sejenak, kulafalkan pujian kepada Sang Jabbar seraya tersenyum kepada wanita itu. Sungguh luar biasa kata-kata yang teruntai barusan dan itu membuatku begitu merinding.

      “Kok diem Kak?” tanya wanita itu pelan. Kurasakan genggaman tangannya makin erat kini, dan setiap detik yang kulalui terasa benar-benar bermakna bersama wanita itu.

      “Tapi bukan karena Kakak lakuin itu pertama kali sama Dede di Semarang kan?” tanyaku balik. Pelan. Di atas triliunan rasa bersalah yang mungkin tidak dapat kutebus dengan apapun saat ini.

      Sekejap. Ia menggeleng pelan, begitu singkat menepis pertanyaan yang kulantunkan begitu penuh rasa bersalah tadi. Sesungguhnya, aku benar-benar merasa tidak pantas untuk memindahkannya pada saat ini. Aku tidak ingin ada rasa bersalah yang semakin menjadi saat ia benar-benar berada di jalan yang ia telah pilih untuk bersamaku. Apakah yang menyebabkannya mengatakan itu, aku pun tidak pernah tahu.

      “Tapi, bukan sama Kakak Dek,” ujarku pelan, “Kakak masih belum pantes buat mindahin Dede, seenggaknya kan harus ada yang lebih alim, lebih berilmu dari Kakak.”

      Ia tersenyum seraya menggelengkan kepalanya pelan, “tapi buat Dede, Kakak itu udah cukup berilmu kok, kan cuma nuntun Dede aja, iya kan Kak?” tanya wanita itu pelan. Ia lalu terdiam, menyisakan hening yang begitu sunyi menusuk-nusuk hati ini dengan segala pernyataan ia barusan. “Dede mau pindah bukan cuma karena Dede cinta sama Kakak kok,” sambungnya, “tapi emang karena Dede nemuin kedamaian di sana.”

      Entah. Itu adalah kata-kata yang langsung tersirat begitu cepat di kepalaku. Bak raungan mesin 053 yang langsung melaju begitu saja melalui Eau Rouge, melahap tiap sisi chichane dengan begitu rakus, seperti itulah apa yang kurasakan kini. Apa yang kupikirkan hanya sekadar lalu, melampaui segenap saraf sadarku. Batinku bertanya, apa mungkin yang dikatakan Aluna adalah sesuatu yang benar ia nyatakan dari dalam hatinya?

      “Kok diem sayang?” Aluna lalu menggenggam tanganku lebih erat.

      Aku menggeleng pelan, kupandang dalam-dalam mata wanita itu. “Iya Dek, nanti kalo udah balik lagi ke Jakarta, Kakak akan bimbing Dede yah.”

      Seraya senyuman yang tersungging begitu indah di bibirnya, sejurus dengan embusan angin yang lembut membelai kulitku, ia menerjang tubuhku dengan cepat. Tubuhnya begitu lekat memagut setiap milimeter tubuhku, kurasakan kehangatan cinta yang begitu ikhlas mengalir bersama desir darah yang bersahutan dengan degup jantung yang begitu terasa terpacu di dadaku kini.

      “Kakak tahu,” bisiknya pelan, “kalo selama tujuh-belas-tahun Dede hidup di dunia ini, baru kali ini Dede bener-bener ngerasa bahagia.”

      “Apa iya, setelah apa yang Kakak lakuin ke Dede, itu semua ngebuat Dede bahagia?” tanyaku pelan, “yang Kakak tahu, apa yang Kakak lakuin itu salah, terus itu malah ngebuat Dede dipandang rendah sama orang lain nantinya.”

      Ia menggeleng, “cuma Dede yang tahu gimana Dede bahagia,” ujarnya pelan, “dan buat Dede, pernah dimiliki seutuhnya sama Kakak udah ngebuat Dede jadi orang yang paling bahagia di muka bumi ini.”

      “Apalagi, kalo Dede bener-bener bisa jadi milik Kakak seumur hidup Dede, itu adalah hal yang paling ngebahagiain buat Dede, sampe akhir nanti Dede embusin napas.”

      Aku terdiam lagi. Embusan napasnya terdengar terdistorsi bersama dengan deburan ombak yang bersahutan, seolah tidak pernah lelah menyapu bibir pantai. Menggerus pasir-pasir bening yang akhirnya ikut terbawa ke tengah lautan, hilang bersama arus laut menuju samudera. Kuhela napas panjang sekali lagi. Kutempelkan pelan labia orisku di telinga wanita itu.

      “Buat Kakak, Dede adalah wanita terindah,” bisikku pelan, “meskipun Dede sendiri tahu kalo Elya yang jadi yang pertama buat Kakak,” ujarku lagi. Ia tidak bereaksi apapun kecuali mengeratkan pagutan tubuhnya kepadaku, “Kakak pun gak tahu kenapa Kakak begitu merasa begini sama Dede.”

      “Dede pun gak ngerti Kak,” ujarnya pelan, “kenapa Dede begitu ngerasa deg-degan kalo ada di deket Kakak, padahal Dede tahu kalo Kakak waktu itu punyanya Panda sama Shinta,” ujarnya lagi pelan, “tapi Dede gak boong, dada Dede serasa sesek banget kalo deket sama Kakak.”

      “Rasanya pengen banget ada di dalem pelukan Kakak terus, meskipun Dede tahu itu bukan hal yang mungkin dilakuin.”

      “Tapi, semenjak ini semua, setelah apa yang Dede dapet dari Kakak, semuanya terasa indah buat Dede,” ujarnya lalu melepaskan pagutannya di tubuhku, “Dede mau keindahan ini selalu ada buat Dede, selalu ada di sini,” ujar Aluna, ia menggenggam tanganku, menempelkannya di atas dadanya. “Dede cinta sama Kakak,” Aluna lalu memagut bibirku dengan begitu lembut.

      Romansa ini sungguh begitu menggelora di dalam hati. Bertumbukan, membaurkan segala kebahagiaan yang seakan berkumpul di satu tempat. Rasanya benar-benar menggetarkan seluruh tubuhku saat jemarinya meremas pelan bagian belakang bajuku seraya pagutan bibirnya yang semakin erat di Labia oris-ku.

      Ia menarikku, menenggelamkanku dalam samudera cintanya yang benar-benar dalam. Menahanku di dalam sana hingga kurasakan setiap centimeter tubuhku seakan tidak berhenti memuja keindahan yang ia berikan saat ini. Begitu dalam cinta yang kurasakan dari wanita ini hingga tanpa sadar segalanya sudah berjalan begitu jauh.

      “Gak akan akan yang ke sini jam segini Kak,” ujar Aluna seraya menanggalkan apa yang ia kenakan, ia bahkan sudah di atasku saat ini, “apalagi di sini gak ada yang akan ngeliat kan,” ujar wanita itu seraya tersenyum di atasku. Ia lalu terhenti sejenak, dan lagi mengajakku masuk ke dalam gravitasi Sagittarius A* miliknya.

      Segalanya terasa begitu indah kini. Aku memiliki banyak hal yang membutku berpikir miliaran kali sebelum aku bisa meninggalkan ini semua. Sungguh, keadaan ini makin memaksaku untuk tetap berada di posisi ini, dan terkadang aku ingin sekali sejenak saja bisa pergi dan menghabiskan waktuku sendiri tanpa mereka, tetapi kurasakan itu semua makin tidak mungkin.

      Senyum dan tawa di atas peluh yang begitu deras mengalir dari tubuh wanita itu mengakhiri semuanya. Tidak ada wajah menyesal ataupun sedih yang terpancar dari tiap-tiap sorotan mata yang benar-benar begitu berarti untukku kini. Ia adalah salah satu wanita terindah yang pernah hadir di hidupku, dan ialah yang bisa membuatku jatuh cinta dalam sekejap, seperti Cauthelia yang begitu cepat mengisi hatiku saat ini.

      “Makasih yah Kak,” ujar Aluna, ia tersenyum kepadaku. Jemarinya bahkan menyentuh lembut pipiku dengan kehangatan yang begitu terasa indah.

      “Gak seharusnya Dede makasih atas ini semua,” ujarku pelah, “Kakak tahu, ini semua gak seharusnya begini.”

      “Tapi Dede bahagia kok Kak,” ujar Aluna pelan, “gak akan mungkin Dede bisa lepas dari ini semua,” ujarnya lagi, “segalanya, semuanya begitu berarti buat Dede, Kakak itu udah jadi segalanya buat Dede.”

      Aku terdiam sejenak. Tersentuh akan lisan wanita yang saat ini tengah duduk di sebelahku. Entah bagaimana aku bisa lepas dari gravitasi Sagittarius A* yang begitu dalam menarikku kini. Segala rasa cintanya bahkan sangat indah kurasakan walaupun banyak hal sudah terjadi diantara kami semua.

      Kupandang wajah wanita itu. Senyumannya membusur begitu indah bak pelangi yang tiap-tiap warnanya seolah memancarkan kebahagiaan yang begitu absolut. Secercah sinar bahkan tampak dari kedua matanya. Sangat indah berpadu dengan harum tubuh yang membiusku dengan segala rasa yang tidak akan pernah padam.

      “Once more please,” ujar wanita itu dengan senyuman yang begitu berarti saat tangannya menggenggam lagi tanganku dengan begitu hangat.

      Aku berjalan menyusuri bibir pantai yang begitu riuh mendeburkan gulungan ombak. Sesekali airnya mengenai langkahku yang memang begitu mendekati air yang sedikit dingin ini. Aluna terus mendekap erat lenganku, seraya sesekali menyandarkan kepalnya di bahuku. Entah bagaimana aku bisa mendeskripsikan ini semua, tetapi rasanya benar-benar indah saat ini.

      “Ehm,” suara perempuan terdengar di belakangku, “dari tadi dicariin, ternyata pada di sini.”

      Aku menoleh ke belakang, “Nadine,” panggilku seraya melihat wanita itu tengah tersenyum.

      Ia berjalan menghampiriku. Wajahnya tersenyum dengan rona yang tidak pernah kulihat itu ada dalam beberapa waktu terakhir. Sungguh, keindahan yang ia miliki jauh melebihi apa yang kulihat hingga ujung horizon ini. Dia adalah Nadine dengan segala kebaikan dan juga keramahan hatinya. Dan lagi, ia menghampiriku dengan wajah yang seperti itu.

      Seperti Nadine yang selalu kukenal sejak dahulu. Tanpa ada tatapan benci menyorot ke setiap centimeter tubuh Aluna yang saat ini ada di sebelahku.

      “Lagi pada ke sini gak ngajak-ngajak nih,” gerutunya, dengan wajah yang masih sama menggemaskannya seperti ia yang selalu aku kenal.

      “Aku yang ngajak kok Nad,” ujar Aluna, nada bicaranya masih bergetar, tampaknya ia masih takut untuk berbicara kepada Nadine.

      “Nanti malem ada waktu gak Tam?” tanya gadis itu.

      “Aku selalu ada waktu kok buat kamu,” ujarku lalu memandangnya.

      Ia tersenyum, seolah menyiratkan banyak hal di dalam bibirnya yang membusur itu. “Nanti malem, di tempat ini ya, aku mau abisin waktu sama kamu, bisa kan?”

      Aku mengangguk pelan, menyetujui permintaannya, “okay, malem ini jam delapan ya.”

      “Kamu tapi gak sibuk kan Tam?” tanya Nadine pelan, aku paham, seolah ada yang tertahan di ujung lisan gadis itu.

      Kugelengkan kepalaku pelan seraya tersenyum kepadanya, “aku ada waktu kok buat kamu, kapanpun itu Nad.”

Quote:


      Lamunanku terhenti saat gadis itu lalu menggenggam tanganku ringan. Aku mengerti apa yang tersirat dari genggaman itu. Ia tersenyum seraya melempar pandangannya ke arah Aluna yang saat itu hanya terdiam memandang Nadine. Ia memutuskan untuk berbalik badan, meninggalkan kami di tepian pantai ini.

      Gadis itu berlalu, bersama dengan hilangnya harum tubuhnya yang begitu kukenal sejak dahulu. Di ujung jalan sana, ia bahkan melambaikan tangannya seraya menyunggingkan senyum ke arahku. Rambutnya sesekali berterbangan ditiup angin yang berembus lembut dari belakangku.

      “Masih takut sama Nadine Dek?” tanyaku pelan.

      Aluna menggeleng pelan, “udah enggak kok kak.”

      “Tapi kadang, Dede masih sedikit takut kalo ngobrol sama Nadine,” ujarnya pelan, “takutnya nanti dia masih keinget kejadian waktu itu, terus dia meledak lagi.”

      Nadanya begitu lesu, aku begitu paham apa yang ia rasakan saat ini. Mungkin rasa takut akibat apa yang dilakukan Nadine beberapa hari yang lalu masih begitu membekas dalam ingatannya kini. Tetapi, aku rasa, bukan itu masalah utamanya. Mungkin, ada rasa sungkan atau entahlah yang ia rasa, setidaknya yang aku tahu Aluna adalah wanita yang begitu tulus.

      Kugenggam tangannya lembut untuk mengajaknya kembali ke cottage. Sudah banyak waktu kuhabiskan hari ini berdua dengan Aluna. Wanita yang baru saja kukenal dalam tiga bulan belakangan ini. Tetapi, apa-apa yang terjadi di antara kami terkadang membuatku berpikir, bagaimana mungkin ini semua terjadi begitu saja?

      Tetapi, itulah cinta. Sebuah rasa yang terkadang tidak mampu dijelaskan dengan logika manusia sekalipun. Hanya bisa dirasakan oleh letupan hati yang sesekali menyenangkan atau bahkan menyakitkan. Di atas segala itu, cinta adalah sebuah perasaan yang tidak pernah bisa dinilai, kecuali oleh kebahagiaan yang dirasakan oleh orang yang mencintai dan dicintai.

      Kami masuk ke dalam cottage, di ruang tengah ada Cauthelia dan Shinta yang tampak asyik menonton televisi. Mereka hanya mengenakan daster yang begitu ketat dan pendek, seolah mereka yakin hanya ada aku yang akan masuk ke sana, tidak ada laki-laki lain. Aluna yang saat itu mengenakan pakaian yang serupa langsung bergabung bersama mereka.

      Senyuman yang begitu tulus tersungging dari bibir tipis Cauthelia dan Shinta. Bahkan, aku bisa merasakan begitu hangatnya perasaan cinta yang mendekapku saat ini. Sungguh, aku terkadang berpikir untuk sekali saja ingin melepaskan ini semua, meskipun kurasa tidak mungkin.

      Setelah sekadar berbicara sejenak, aku langsung melangkahkan kakiku menuju ke kamar. Kututup perlahan pintu kamar ini seraya menghela napas panjang. Lagi, kulihat laut yang berada di ujung sana, begitu indah dengan birunya langit yang bertemu di ujung horizon. Kupejamkan mata ini sejenak seraya mengingat semua hal yang sudah terjadi di antara aku dan mereka.

      “Tam,” panggil suara itu, sejenak benar-benar membuyarkan seluruh lamunanku.

      “Nana,” ujarku lalu memandang wanita itu yang ternyata baru keluar dari kamar mandiku,”kenapa mandi di sini?”

      “Tadi air panas di tempat aku gak nyala, makanya aku numpang mandi di tempat kamu Tam,” ujarnya manja, “maaf ya sayang.”

      Aku tersenyum, “gak masalah lah, gitu aja minta maaf.”

      “Ya kali, kamu nanti marah sama aku, nanti kalo kamu marah aku sama siapa?”

      “Ya gak sama siapa-siapa Bu,” ujarku, menggodanya dengan panggil formal yang biasa kugunakan saat aku berada di sekolah.

      Teringat satu hal yang ingin kubicarakan dengan wanita itu, aku lalu memandangnya, “Na, aku mau ngomong sesuatu yang penting sama kamu.”

      “Aku punya satu permintaan,” ujarku lalu mendekat ke arahnya, wajahnya begitu memerah saat aku memandang tubuhnya yang hanya dibalut handuk itu.

     “Aku mau.”

<<< SEBELUMNYA (EP273)


Diubah oleh ms.mriva
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di