alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/573370ce96bde6f9788b4569/kembalilah-tak-terungkap--ketulusan-cinta-para-bidadari--r-17

Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17



Quote:



Apa kau percaya dengan Hukum Kekekalan Energi?
Kalau aku percaya dengan Hukum Kekekalan Cinta.
Bahwa Cinta itu tidak dapat dibuat atau dimusnahkan.
Tetapi hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
Itulah cinta yang kupercaya.

Ini adalah kisah nyata tentang mereka.
Tentang semua cinta yang tak terbalas.
Tentang semua rasa yang tak terungkap.
Yang terukir indah dalam 874 lembar buku harianku sejak SMA.
Ditambah 101 halaman dari kisahku yang hilang bersama seseorang.

Maka, saat kau bertanya, mengapa kau masih ingat?
Buku harianku yang mengingatkanku.
Disana tertulis nama lengkap mereka.
Disana tertulis semua perkataan antara aku dan mereka
Disana tertulis semua proses pendewasaanku.

Ini kisah nyata.
Buku harian 975 lembar letter size itu saksi sejarahnya.
Ditulis dengan font Times New Roman 10 Pt.
Dan akan kutulis ulang semuanya untuk kalian.
Bidadari yang pernah datang mengisi hariku.
Bidadari yang mendewasakanku.



Orang bilang, jatuh cinta itu menyenangkan.
Aku mengakui itu, sepanjang aku jatuh cinta, rasanya menyenangkan.

Tetapi orang juga bilang, jatuh cinta itu menyakitkan.
Entah, tetapi aku tidak pernah setuju dengan frasa bahwa cinta itu menyakitkan.

Cinta adalah saat kita menginginkan orang yang kita cintai bahagia.
Tidak peduli seberapa sakitnya kita dibuatnya.
Karena ketulusan yang akan mengobati semua sakit.
Di atas senyum bahagia, dia yang kita cintai.

Namum, apabila ada banyak hati yang saling mencinta.
Apakah akan berakhir bencana?
Ataukah ketulusan yang akan menyembukan mereka.
Ini kisah tentang mereka.

Bidadari sempurna yang hadir dalam hidupku.



Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari





MAKLUMAT

Cerita ini berdasarkan kisah nyata, nama karakter disamarkan sesuai dengan kebutuhan untuk melindungi privasi dari tokoh yang ada di dalam cerita ini. Dan cerita ini sebisa mungkin menggunakan kaedah sastra secara teknis, sehingga akan dibutuhkan waktu yang lama untuk dicerna.

Rating dalam cerita ini adalah R-17, dengan kata lain, cerita ini mengandung bahasa yang kasar dan juga isi cerita yang hanya sesuai untuk usia 17 tahun atau di atasnya, dan atau usia di bawahnya dengan bimbingan orang yang lebih dewasa.

Perlu diingat, rating Restricted tidak serta merta hanya mengacu kepada konten cerita yang mengandung adegan dewasa, belajar dari cerita sebelumnya, saya selaku author akan meminimalisir cerita dengan adegan dewasa di thread ini. Restricted di sini mengacu kepada kompleksitas cerita yang akan mempengaruhi ideologi pada pembaca, khususnya remaja yang memiliki usia di bawah 17 tahun.

Penggunaan bahasa yang tidak pantas, serta adegan yang penuh dengan konspirasi dan atau tindakan kejahatan juga menjadi pertimbangan saya untuk tetap mempertahankan rating Restricted di dalam cerita ini, jadi terlebih dahulu harus dipahami mengapa saya tetap menggunakan rating R-17 pada cerita ini, dan bukan serta merta karena adanya adegan yang kurang pantas di sini.

Mohon untuk pembaca memahami bahwa tidak semua adagan dalam cerita ini bisa dicontoh, ditiru, dan atau diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, terlebih untuk material yang hanya boleh dilakukan untuk pasangan pernikahan yang sah. Pembaca dimohon untuk mengambil hikmah dari cerita ini sebaik-baiknya.

Kritik dan saran dari pembaca sangatlah saya harapkan, dan mohon maaf apabila banyak tulisan dari karya saya yang masih jauh menyimpang dari Sastra Indonesia. Saya mohon koreksinya dari pembaca, karena saya ingin tetap mempertahankan kaedah menulis Sastra, bukan asal cerita.

Demikian maklumat dari saya, Terima Kasih.


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


OVERTURE


     Selamat pagi rekan-rekan Kaskuser, khususnya di Sub-Forum Story from the Heart, perkenalkan, saya Faristama Aldirch, selaku Nubie SR di sini untuk berbagi kisah. Sebelumnya pasti rekan-rekan semua tahu apa alasan saya menggunakan User ID m60e38, tentunya ada hubungannya antara mesin BMW M60 dan sasis BMW E38.

     Tentu saja, cerita ini berawal dari saya yang jatuh cinta kepada Aerish Rivier, menyatakan cinta kepada gadis itu, dan membuat saya menanti akan sebuah balasan yang tak berujung. Menutup hati dari banyak hati yang berusaha mengisi hati saya dan berusaha tak acuh dengan apa yang saya alami sendiri. Hingga pada akhirnya banyak hal yang terlewatkan hingga semuanya menjadi satu.

     Tetapi, hal tersebut tidak pernah disadari oleh saya, Cauthelia Nandya datang dengan membawa cinta dan keikhlasan yang begitu luar biasa, tertuang dalam diary-nya sejak tahun 2002. Nadine Helvelina datang dengan cinta dan ketulusan yang tidak pernah bisa diragukan. Shinta Adinda yang menjadi sahabat terbaik saya juga datang dengan ketulusan yang benar-benar membuat saya berpikir tidak akan meninggalkannya.

     Arteana Andrianti, seorang Guru penjaga UKS yang merasakan bahwa saya adalah laki-laki yang telah menyelamatkannya di satu peristiwa pada pertengahan 2006. Hingga Aluna Amelia, gadis berdarah Oriental yang begitu cantik, mempercayakan segala perasaannya kepada saya atas semua apa yang pernah saya lakukan kepadanya.

     Ketulusan mereka semua sudah tidak mungkin diragukan lagi, apapun mereka lakukan bukan serta merta menginginkan saya bahagia, tetapi ingin yang lainnya bahagia. Memang ini terlihat menyenangkan, dicintai banyak wanita sekaligus, dan mereka terlihat begitu akrab dan juga akur satu sama lainnya, padahal hal tersebut benar-benar menjadi sebuah beban yang begitu luar biasa untuk saya.

     Semenjak kedatangan Erik di kehidupan saya, semuanya mulai terasa begitu berat, dengan anak buahnya, ia berusaha untuk mendekati satu per satu bidadari untuk sekadar mengancam saya, atau mungkin melakukan hal yang buruk kepada mereka. Hal tersebut membuat saya benar-benar was-was, terlebih saat ini saya tidak bisa tenang karena Cauthelia tidak bisa dihubungi.

     Satu persatu masalah muncul dan semuanya bermuara ke satu nama, yaitu Markus, siapakah orang itu? Entahlah, hanya Sang Jabbar yang tahu siapakah Markus itu, yang pasti semenjak kedatangan Nancy malam itu, setidaknya selain hengkangnya Erik perlahan dari kehidupan saya, muncul aliansi baru yang akan membantu saya mengungkap siapa dan apa tujuan Markus sebenarnya.

     Semoga cerita ini bisa menjadi salah satu kawan di kala senggang untuk rekan-rekan Kaskuser yang senang membaca cerita dengan format baku seperti yang saya suguhkan. Tidak perlu banyak kata-kata dalam pembukaan ini, saya akan melanjutkannya pada kisah yang akan saya tulis dengan format yang sama seperti cerita saya sebelumnya. Atas perhatian dan kerjasama Anda, saya mengucapkan Terima Kasih.

Quote:

profile-picture
profile-picture
profile-picture
just.endra dan 15 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh m60e38

Bidadari Tanpa Sayap | Bagian 30

BIDADARI TANPA SAYAP (BAGIAN 30)


      “Kalo Dede sebenernya lagi deket sama cowok di sana,” ujarnya pelan.

      Deg! Entah mengapa ada rasa sesak yang begitu terasa meruntuhkan hatiku ketika ia mengatakan itu di antara senyuman dan pandangan matanya yang begitu nanar. Rasanya, hampir aku tidak mempercayai apa yang kudengar barusan terlontar dari lisan gadis itu.

      Kupejamkan mataku sejenak, seraya menghela napas panjang. Sungguh, apapun itu kalau memang ia merasa bahagia bersama laki-laki itu kurasa, itu bukanlah satu masalah untukku. Kugenggam tangannya lembut, aku berusaha tersenyum meskipun rasanya begitu berat di dadaku saat ini.

      Mungkin, ini adalah rasanya menjadi dirinya, ketika aku harus merelakan ia untuk bahagia bersama laki-laki lain yang mungkin jauh lebih baik ketimbang aku saat ini. Apapun itu, aku harus siap mendengar kata-kata selanjutnya, bisa jadi lebih menyakitkan ketimbang kata-katanya barusan. Aku harus bersedia menjadi dirinya, saat aku memang tidak bisa membahagiakannya lagi, suatu saat nanti.

      “Dede naksir sama dia kah?” tanyaku pelan.

      Gadis itu tersenyum, ia menggeleng, “sama sekali enggak Kak.”

      Ibarat sebuah Formula One setelah meninggalkan Pit Lane. Lajunya yang semula tertahan di kecepatan 100 Kmh lalu bisa langsung melonjak secara gradual ke kecepatan yang jauh lebih tinggi. Ada kelegaan yang begitu terasa, layaknya putaran mesin pada 19,000 RPM yang meraung dan meletupkan tenaga yang sangat besar ke roda-roda penggeraknya di belakang.

      Ia masih tersenyum. Kali ini, ia mengusap pipiku dengan ibu jarinya dengan begitu lembut. Sesekali, bibirku disentuhnya, memberikan sebuah getaran yang benar-benar hangat dan nyaman. Sebuah perasaan yang bisa kurasakan hanya bersama gadis ini. Pandanganku masih terpaku kepada segala kesempurnaan gadis ini.

      “Tapi kenapa Dede bilang lagi deket sama dia?” tanyaku pelan.

      “Namanya Arif, orangnya baik terus ganteng,” ujarnya, “kalo dibandingin Kakak jauh gantengan dia, Dede serius.”

      “Tapi, gak ada perasaan apapun Dede buat dia, kecuali karena dia emang mau anter jemput Dede ke sekolah,” ujarnya pelan, “itu aja kok Kak.”

      “Tapi, kalo emang Dede naksir sama dia, Kakak gak masalah kok sayang,” ujarku pelan.

      “Loh kok gitu Kak?” tanya gadis itu dengan wajah yang keheranan.

      Aku tersenyum, kuusap pelan kepalanya, “kembali ke prinsip cinta.”

      “Cinta itu, saat kita melakukan hal yang tidak ia minta, ia bahagia dan kita bahagia,” ujarku pelan, “dan kalo emang ada orang lain yang bikin Dede bahagia, Kakak rela kok.”

      “Tapi, cewek gak sepantesnya kan punya cowok dua,” ujar Cauthelia, ia bahkan mengatakan itu begitu ringannya. Seolah, tidak ada pernyataan lain di balik lisannya barusan. “Tapi kalo cowok, gak masalah punya istri sampe empat, makanya Dede gak masalah kalo emang Kakak juga jatuh cinta sama Ka Nana, Ka Tata, Ka Nadine, ato bahkan Ka Luna.”

      “Dan, Dede bahagia dengan keputusan Dede, karena mereka juga harus bahagia sama Kakak.”

      Lisanku kembali kelu. Jangankan mengatakan satu kalimat, satu patah katapun bibirku bahkan tidak mampu untuk berujar. Tangan-tangan lembut Aluna dan Shinta pun juga ikut memagut ringan jemari-jemariku kini. Sungguh sebuah hal yang benar-benar diluar logika berpikir manusia normal pada umumnya.

      “Sekarang, Dede yang mau minta Kakak jujur sama Dede,” ujar Cauthelia pelan, “sejauh mana Kakak cinta sama Kak Luna sama Kak Tata?”

      Aku menghela napas begitu panjang. “Kalo boleh jujur, Kakak paling cinta sama Dede,” ujarku pelan, “kalo ditanya seberapa besar sama mereka, Kakak gak bisa jawab.”

      “Perasaan ini udah terlanjur kebagi,” ujarku pelan, “kalo sekarang Kakak suruh milih, Kakak pasti milih Dede.”

      “Dede yang mana?” tanya mereka bertiga bersamaan.

      Aku menghela napas panjang. Sebuah pernyataan ambigu yang salah telah kubuat barusan. “Ya Dede Elya lah,” ujarku lalu menghela napas.

      “Tanpa lupain janji Kakak buat Dede Tata sama Dede Nana,” ujarku lalu memandang ke arah keduanya.

      Cauthelia kini tersenyum, ia sepertinya mengerti apa yang kubicarakan. Tentu saja, ada beban moral yang saat ini kupikul begitu berat di pundakku kini. Aku bukan hanya mencintai kedua wanita itu, tetapi sudah banyak hal yang terjadi di antara kami. Entah berapa banyak gir puncak yang telah kami raih bersama. Entah berapa banyak supernova terjadi di dalam blackhole. Entah berapa besar dosa yang terjalin di antara kita.

      Mereka, lebih dari segalanya untukku kini. Aku bahkan membutuhkan mereka lebih dari apapun saat ini. Aku tidak dapat lagi melangkah lebih jauh apabila mereka tidak menemani langkahku. Mereka bagaikan candu untukku, apabila mereka menghilang niscaya aku akan kesakitan. Mereka bagaikan penawar untukku, mengurai bebagai racun yang ada di dalam tubuhku, dan aku sangat membutuhkan mereka.

      “Kakak inget semua janji Kakak ke kalian,” ujarku pelan.

      “Dan Kakak gak mungkin lupain itu semua, dan semua yang terjadi di antara kita.”

      “Kak,” panggil Aluna pelan, “yang penting Dede udah pernah belajar, gimana rasanya mencintai dengan tulus.”

      “Karena cinta itu gak harus memiliki juga kan Kak,” sambung Shinta dengan wajah yang sangat merah, “tapi cinta itu bagaimana kita bisa bahagiain orang yang kita cinta.”

      “Dede mau Kakak bahagia,” sambung Cauthelia, “Dede juga mau semua orang yang mencintai Kakak bahagia.”

      “Kakak itu segalanya buat Dede,” ujar Cauthelia pelan, “tiga peristiwa itu udah berhasil nundukkin hati Dede buat segalanya ke Kakak.”

      “Juga gimana Kakak jagain Dede pas dari dulu,” sambung Shinta, “sepuluh tahun kita barengan, sepuluh tahun Dede ngerasain cinta ke Kakak, tapi baru akhir-akhir ini Dede bisa nyatain itu.”

      “Meskipun Dede juga baru kenal Kakak,” lanjut Aluna pelan, “tapi kejadian di Tol Pasteur itu nyadarin Dede, terus kejadian di Puncak, kalo betapa Kakak pengen semuanya baik-baik aja.”

      “Salahkah Dede ngelakuin ini semua, buat orang yang udah ngelakuin banyak hal buat Dede?” tanya Shinta pelan.

      Semua pernyataan dan pertanyaan itu tidak dapat kujawab sama sekali. Rasanya, aku ingin menangis karena hal itu. Bahkan, pandanganku pun terasa sedikit buram. Entah apa yang bisa kulakukan untuk membahagiakan mereka yang telah merelakan semuanya kepadaku saat ini. Aku benar-benar lemah, tak berdaya atas kata-kata mereka yang benar-benar menikam hatiku.

      Dekapan yang kami lakukan bersamaan benar-benar memberikan sebuah arti cinta yang benar-benar begitu lembut kurasakan menembus seluruh pertahananku saat ini. Segalanya benar-benar begitu cepat terjadi. Mesin-mesin itu kembali mencapai puncak torsi begitu cepat, seolah menggeontorkan seluruh tenaganya menuju transmisi tanpa kepayahan.

      Siang tiba dengan begitu cepat. Masih terasa begitu melelahkan beberapa waktu yang kuhabiskan barusan bersama mereka. Senyuman yang tersungging di bibir mereka seolah menyatakan betapa bahagianya mereka saat ini. Sebuah kebahagiaan semu di atas supernova yang begitu dahsyat yang mendera mereka. Aku pikir, itu masih tetap menjadi sebuah perayaan cinta yang sangat salah.

      “Kak,” panggil Shinta pelan. Ia masih terjaga, sementara Cauthelia dan Aluna tampak sudah kelelahan.

      “Iya Dek,” sahutku seraya memandangnya.

      “Jangan pernah tinggalin kita ya,” ujarnya lirih, “janji sama Dede, buat kita semua.”

      Sejenak, kata-kata yang terlontar dari lisan Shinta benar-benar menenggelamkanku dalam diam yang begitu pilu. Bagaimana bisa aku meninggalkan dua orang wanita dan satu orang gadis yang telah berjasa begitu besar dalam hidupku? Bagaimana mungkin aku bisa memalingkan hatiku sejenak saja untuk para bidadari yang benar

      Batinku terus menerus bertanya sendiri. Sampai kapan kebersamaan yang begitu aneh ini akan terus berjalan. Sampai kapan laju V12 Forced Induction yang dipimpin oleh gadis itu akan terus bertahan dalam kondisi ini sampai segalanya benar-benar rusak dan tidak dapat diperbaiki?

      Hanya satu hal yang kutakutkan di atas ini semua. Tidak ada hal lain yang sampai saat ini menjadi momok yang begitu memimpinku dalam kekalutan hati yang tak pernah berujung. Entah berapa lama ini akan terus bertahan? Entah sampai kapan Cauthelia bisa membagi perasaannya untuk wanita lain yang juga berusaha mencintaiku?

      Apa aku yang terlalu percaya diri dengan perasaan ini? Ataukah memang aku yang tidak seharusnya menyatakan cinta kepada mereka semua?

      Sungguh, aku takut apabila mereka tiba-tiba memutuskan untuk pergi dari hidupku. Aku takut apabila aku harus berjalan sendiri tanpa mereka yang mengajarkanku arti cinta yang sesungguhnya. Aku takut apabila apa yang dikatakan Kakek itu tentang ini semua terjadi.

      “Kak,” panggil Shinta, membuyarkan semua lamunanku tentang apa-apa yang mungkin terjadi nanti, “kok bengong?”

      “Enggak Dek,” sahutku sekenanya.

      “Kalo Kakak mikir, kita semua akan pergi dari hidup kita, jujur salah banget,” ujarnya pelan.

      Deg! Perasaan ini lagi. Entah dari mana wanita itu mengetahui apa yang ada di dalam kepalaku kini. Aku hanya bisa memandangnya dengan miliaran rasa yang mungkin tidak akan pernah bisa kuungkapkan kepada mereka yang telah memberikan segala arti hidup untukku.

      “Jujur, iya,” ujarku singkat.

      “Kakak gak tahu, sampe kapan kalian bisa mempertahankan rasa cinta ini, sampai kapan bisa begini terus.”

      Aku menggeleng pelan, lalu memandang wanita itu, “suatu saat Kakak pasti akan ditinggal kan sama kalian?”

      Kali ini Shinta yang menggeleng pelan, “gak akan Kak.”

      “Kakak salah kalo mikir begitu,” ujarnya lagi.

      Kudekap tubuh wanita itu dengan erat, “cinta itu gak sekadar masalah perayaannya aja Dek.”

      “Tapi lebih jauh dari hal itu.”

      “Dede ngerti Kak,” ujar Shinta di telingaku, “karena cinta itu juga masalah rasa nyaman dan tenang yang jujur cuma Dede dapetin dari Kakak sejak dulu.”

      “Jangan pernah pergi dari Dede ya Kak,” pinta wanita itu pelan di telingaku.

      Jam demi jam berlalu dengan cepat setelah peristiwa itu. Kelima bidadari itu pun begitu akrab berbincang, menebarkan kehangatan yang begitu terasa di antara senyuman mereka semua. Cauthelia pun banyak berbagi cerita tentang apa-apa saja yang telah berlalu semenjak ia tinggal di Semarang dan memutuskan untuk tidak menghubungi siapapun dari kami di sini.

      Kutinggalkan mereka sejenak. Kulangkahkan kaki menuju cottage kedua. Dika dan Kevin menyambutku dengan sapaan mereka yang begitu khas. Jujur, kurasakan atmosfer yang begitu berbeda saat aku menutuskan untuk masuk ke dalam sana. Ada Kiara yang saat itu tengah mengobrol bersama Farhan. Sementara Aerish tampak sedikit sibuk di dapur.

      “Rish,” panggilku seraya menghampiri gadis itu.

      “Tama,” sahutnya tidak percaya seraya memandang ke arahku, “tumben.”

      “Cupcakes?” tanyaku seraya memandang empat buah cupcakes yang tengah ia buat saat ini.

      “Eh i…iya,” ujarnya agak terbata, “udah sana ah Tam.”

      Aku memandang wajah gadis yang pernah kucintai itu. Wajahnya sangat merah saat aku mengetahui apa yang ia lakukan saat ini.

      “Bikin buat siapa Rish?” tanyaku seraya meledeknya, “pasti buat Dika.”

      “Gak lah,” tukasnya cepat, “aku bikinin ini buat kamu tahu,” ujarnya dengan nada yang begitu manja.

      “Really?” aku bahkan tidak percaya dengan apa yang kudengar saat ini.

      Ia menangguk pelan, “ya aku sadar banget, mungkin aku gak akan pernah bisa dapet perhatian kamu lebih Tam.”

      “Aku juga nyadar, kalo aku dulu begitu sombongnya gak acuhin perasaan kamu buat aku,” ujarnya pelan, “wajar kalo aku kalah dari Nadine, Shinta, bahkan Lia.”

      “Aku yang minta maaf,” ujarku pelan, “aku yang gak bisa nahan hati aku buat gak jatuh cinta lagi.”

      “Aku juga udah lakuin banyak hal buat kamu dulu kok Rish, dan aku bener-bener masih inget itu semua.”

      “Ya secara fisik emang mereka lebih-lebih dari aku kok Tam,” ujarnya pelan.

      “Hei Rish,” ujarku seraya menepuk pundaknya pelan, “cinta itu bukan masalah fisik.”

      “Cinta karena fisik pasti akan pudar saat kecantikan fisiknya juga pudar.”

      “Cinta itu ada di sini,” ujarku pelan seraya menunjuk kepalaku sendiri, “dan cinta itu diliat pake ini,” ujarku lalu menunjuk ke arah jantungku sendiri.

      “Cinta itu bisa dirasa meskipun aku pejamin mata, dan rasanya begitu anget.”

      Gadis itu lalu mendekapku. Sungguh, aku begitu terkejut dengan apa yang ia lakukan. Tidak pernah aku merasakan dekapan Aerish sehangat ini sebelumnya. Begitu erat pagutan lengan-lengannya di tubuhku saat ini. Ia bahkan seolah tidak mempedulikan bahwa ruangan ini sejajar dengan ruang tengah tempat di mana Dika dan Kevin berada.

      Sungguh, aku sangat tidak enak kepada laki-laki itu saat ini. Tetapi, inilah yang terjadi. Aerish mendekapku dengan begitu erat, seolah aku tidak boleh pergi darinya walaupun hanya sedetik. Sungguh rasa yang sebenarnya sejak dahulu kuidam-idamkan berada di sisiku, tetapi saat ini rasanya itu semua sudah terlambat saat aku sudah menyerahkan hatiku untuk orang lain. Parahnya tidak hanya satu orang.

      “Rish,” ujarku pelan seraya melepas dekapannya, “udah lanjutin masaknya dulu.”

      “Makasih ya Tam,” ujarnya pelan, wajahnya sangat merah saat ia mengatakan itu, “betapa begonya aku nyia-nyiain kamu dulu.”

      “Justru aku yang harus makasih sama kamu Rish,” ujarku. Tersenyum seraya memandang wajahnya yang masih memerah.

      “Loh, makasih kenapa Tam?”

      Aku terdiam sejenak, menghela napas begitu panjang tanpa melepaskan pandanganku kepada gadis itu, “ya karena kamu aku belajar banyak hal tentang cinta.”

      “Gimana aku harus mencintai orang dengan tulus tanpa harepin apapun itu.”

      “Semuanya karena kamu Rish.”

      Tiba-tiba air mata meleleh dari kedua mata Aerish. Aku tertegun, apakah ada kesalahan redaksi dari lisanku, sehingga membuatnya menangis saat ini? Sungguh aku tidak dapat kuasa menahan perasaan apabila melihat wanita menangis di hadapanku.

      Kuseka perlahan air matanya dengan ibu jariku, “kenapa kamu jadi nangis Rish?”

      Ia menggeleng cepat, “gak apa, cuma ngerasa bego aja udah nyia-nyiain kamu selama ini.”

      “Seandainya waktu bisa aku ulang Tam, aku bakal terima pernyataan kamu waktu itu,” ujarnya, tiba-tiba air matanya berderai makin deras seiring dengan isak tangis yang memilukan siapa saja yang mendengarnya.

      “Kamu jangan bilang gitu Rish,” ujarku pelan, “kamu gak akan bisa ngulang waktu, walau cuma satu micro.”

      “Yang kamu bisa saat ini cuma jalanin apa yang udah terjadi, berkaca dari masa lalu, terus jangan ulangin lagi kesalahan itu,” ujarku, seraya tersenyum, berusaha menyingkirkan perasaan gundah yang mungkin ia rasakan kini.

      “Lagian, apapun itu, aku kan tetep pacar kamu Rish.”

      Ia mendekapku sekali lagi. Sama hangatnya dengan apa yang telah ia lakukan beberapa saat yang lalu. Hanya sekejap, tetapi itu bisa mewakili apa-apa yang ada dirasakan oleh gadis itu. Aku pun memutuskan untuk meninggalkannya, “aku tunggu cupcakesnya nanti malem ya Rish.” Ia hanya tersenyum seraya langkah kakiku yang menjauhi ruangan itu.

      Malam tiba dengan cepat, sesuai dengan keinginanku, kami membuat api unggun di bibir pantai ini. Hangatnya perapian beradu dengan dinginnya angin laut yang berembus begitu lembut melintasi kami semua. Suara gemeretak kayu yang terbakar terdistorsi dengan lembut suara ombak yang begitu mendayu-dayu memanjakan seluruh indraku saat ini.

      Alunan musik Rhythm and Blues yang dimainkan dari Player yang dibawa dari cottage juga menemani malam ini. Spontan Cauthelia, Aluna, dan Shinta langsung menuju ke tengah. Gerakan tubuh mereka seolah mengalir mengikuti ritme lagu, begitu menghipnotis mata-mata yang tengah memandang gemulainya tari di atas tubuh-tubuh sintal mereka.

      Sesekali aku memperhatikan Kevin, Farhan dan juga Dika. Mereka tampak terdiam, terpukau dengan wajah yang memerah. Sesekali aku melihat mereka menelan ludah sendiri. Hahaha, bagaimanapun mereka menghormati ketiga bidadari itu, mereka tetaplah laki-laki biasa yang juga bisa tergoda oleh gerakan gemulai yang sesekali menjadi gerakan yang sedikit menggoda untukku, entah untuk mereka.

      “Tam, loe kok bisa nemu cewek macem begini semua sih?” Kevin membisikkan kata-kata tersebut di telingaku.

      “Kalo yang bohay seorang masih mending bro, ini tiga loh,” sahut Farhan yang duduk di sebelah Kevin.

      “Jujur, padahal gue ngincer Aluna gara-gara mirip sama Elya, eh naksir juga sama loe,” ujar Kevin ketus, aku hanya tersenyum mendengar jawabannya.

      “Gak gak abis pikir, enak kali ya begituan sama cewek yang kembar gitu, gimana gitu rasanya,” sahut Farhan lalu terus memperhatikan ketiga wanita yang masih lincah menari itu.

      “Dasar loe ngeres,” ujar Kevin, menempeleng pelan kepala Farhan saat itu.

      “Udah udah, sesama ngeres nikmatin aja lah,” ujar Dika, ia lalu tertawa kecil, dan tawa pun pecah di antara kami semua.

      Mereka masih terus menari di depan kami dengan begitu lincah. Peluh yang terlihat mengkilap di kulit-kulit bersih dan putih mereka bahkan menambah daya tarik mereka. Seraya dengan harum tubuh alami mereka yang menyeruak, sesekali memenuhi indraku dengan aroma yang begitu kukenal.

      “Tam,” panggil Teana pelan, "ikut aku sebentar yuk ke ujung sana, aku mau ngomong sesuatu,” ujarnya dengan begitu serius. Deg! Hal apa yang ingin ia sampaikan sehingga ia berbicara dengan wajah yang begitu serius seperti itu.

<<< SEBELUMNYA (EP270)

Diubah oleh ms.mriva
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di