alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/573370ce96bde6f9788b4569/kembalilah-tak-terungkap--ketulusan-cinta-para-bidadari--r-17

Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17



Quote:



Apa kau percaya dengan Hukum Kekekalan Energi?
Kalau aku percaya dengan Hukum Kekekalan Cinta.
Bahwa Cinta itu tidak dapat dibuat atau dimusnahkan.
Tetapi hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
Itulah cinta yang kupercaya.

Ini adalah kisah nyata tentang mereka.
Tentang semua cinta yang tak terbalas.
Tentang semua rasa yang tak terungkap.
Yang terukir indah dalam 874 lembar buku harianku sejak SMA.
Ditambah 101 halaman dari kisahku yang hilang bersama seseorang.

Maka, saat kau bertanya, mengapa kau masih ingat?
Buku harianku yang mengingatkanku.
Disana tertulis nama lengkap mereka.
Disana tertulis semua perkataan antara aku dan mereka
Disana tertulis semua proses pendewasaanku.

Ini kisah nyata.
Buku harian 975 lembar letter size itu saksi sejarahnya.
Ditulis dengan font Times New Roman 10 Pt.
Dan akan kutulis ulang semuanya untuk kalian.
Bidadari yang pernah datang mengisi hariku.
Bidadari yang mendewasakanku.



Orang bilang, jatuh cinta itu menyenangkan.
Aku mengakui itu, sepanjang aku jatuh cinta, rasanya menyenangkan.

Tetapi orang juga bilang, jatuh cinta itu menyakitkan.
Entah, tetapi aku tidak pernah setuju dengan frasa bahwa cinta itu menyakitkan.

Cinta adalah saat kita menginginkan orang yang kita cintai bahagia.
Tidak peduli seberapa sakitnya kita dibuatnya.
Karena ketulusan yang akan mengobati semua sakit.
Di atas senyum bahagia, dia yang kita cintai.

Namum, apabila ada banyak hati yang saling mencinta.
Apakah akan berakhir bencana?
Ataukah ketulusan yang akan menyembukan mereka.
Ini kisah tentang mereka.

Bidadari sempurna yang hadir dalam hidupku.



Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari





MAKLUMAT

Cerita ini berdasarkan kisah nyata, nama karakter disamarkan sesuai dengan kebutuhan untuk melindungi privasi dari tokoh yang ada di dalam cerita ini. Dan cerita ini sebisa mungkin menggunakan kaedah sastra secara teknis, sehingga akan dibutuhkan waktu yang lama untuk dicerna.

Rating dalam cerita ini adalah R-17, dengan kata lain, cerita ini mengandung bahasa yang kasar dan juga isi cerita yang hanya sesuai untuk usia 17 tahun atau di atasnya, dan atau usia di bawahnya dengan bimbingan orang yang lebih dewasa.

Perlu diingat, rating Restricted tidak serta merta hanya mengacu kepada konten cerita yang mengandung adegan dewasa, belajar dari cerita sebelumnya, saya selaku author akan meminimalisir cerita dengan adegan dewasa di thread ini. Restricted di sini mengacu kepada kompleksitas cerita yang akan mempengaruhi ideologi pada pembaca, khususnya remaja yang memiliki usia di bawah 17 tahun.

Penggunaan bahasa yang tidak pantas, serta adegan yang penuh dengan konspirasi dan atau tindakan kejahatan juga menjadi pertimbangan saya untuk tetap mempertahankan rating Restricted di dalam cerita ini, jadi terlebih dahulu harus dipahami mengapa saya tetap menggunakan rating R-17 pada cerita ini, dan bukan serta merta karena adanya adegan yang kurang pantas di sini.

Mohon untuk pembaca memahami bahwa tidak semua adagan dalam cerita ini bisa dicontoh, ditiru, dan atau diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, terlebih untuk material yang hanya boleh dilakukan untuk pasangan pernikahan yang sah. Pembaca dimohon untuk mengambil hikmah dari cerita ini sebaik-baiknya.

Kritik dan saran dari pembaca sangatlah saya harapkan, dan mohon maaf apabila banyak tulisan dari karya saya yang masih jauh menyimpang dari Sastra Indonesia. Saya mohon koreksinya dari pembaca, karena saya ingin tetap mempertahankan kaedah menulis Sastra, bukan asal cerita.

Demikian maklumat dari saya, Terima Kasih.


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


OVERTURE


     Selamat pagi rekan-rekan Kaskuser, khususnya di Sub-Forum Story from the Heart, perkenalkan, saya Faristama Aldirch, selaku Nubie SR di sini untuk berbagi kisah. Sebelumnya pasti rekan-rekan semua tahu apa alasan saya menggunakan User ID m60e38, tentunya ada hubungannya antara mesin BMW M60 dan sasis BMW E38.

     Tentu saja, cerita ini berawal dari saya yang jatuh cinta kepada Aerish Rivier, menyatakan cinta kepada gadis itu, dan membuat saya menanti akan sebuah balasan yang tak berujung. Menutup hati dari banyak hati yang berusaha mengisi hati saya dan berusaha tak acuh dengan apa yang saya alami sendiri. Hingga pada akhirnya banyak hal yang terlewatkan hingga semuanya menjadi satu.

     Tetapi, hal tersebut tidak pernah disadari oleh saya, Cauthelia Nandya datang dengan membawa cinta dan keikhlasan yang begitu luar biasa, tertuang dalam diary-nya sejak tahun 2002. Nadine Helvelina datang dengan cinta dan ketulusan yang tidak pernah bisa diragukan. Shinta Adinda yang menjadi sahabat terbaik saya juga datang dengan ketulusan yang benar-benar membuat saya berpikir tidak akan meninggalkannya.

     Arteana Andrianti, seorang Guru penjaga UKS yang merasakan bahwa saya adalah laki-laki yang telah menyelamatkannya di satu peristiwa pada pertengahan 2006. Hingga Aluna Amelia, gadis berdarah Oriental yang begitu cantik, mempercayakan segala perasaannya kepada saya atas semua apa yang pernah saya lakukan kepadanya.

     Ketulusan mereka semua sudah tidak mungkin diragukan lagi, apapun mereka lakukan bukan serta merta menginginkan saya bahagia, tetapi ingin yang lainnya bahagia. Memang ini terlihat menyenangkan, dicintai banyak wanita sekaligus, dan mereka terlihat begitu akrab dan juga akur satu sama lainnya, padahal hal tersebut benar-benar menjadi sebuah beban yang begitu luar biasa untuk saya.

     Semenjak kedatangan Erik di kehidupan saya, semuanya mulai terasa begitu berat, dengan anak buahnya, ia berusaha untuk mendekati satu per satu bidadari untuk sekadar mengancam saya, atau mungkin melakukan hal yang buruk kepada mereka. Hal tersebut membuat saya benar-benar was-was, terlebih saat ini saya tidak bisa tenang karena Cauthelia tidak bisa dihubungi.

     Satu persatu masalah muncul dan semuanya bermuara ke satu nama, yaitu Markus, siapakah orang itu? Entahlah, hanya Sang Jabbar yang tahu siapakah Markus itu, yang pasti semenjak kedatangan Nancy malam itu, setidaknya selain hengkangnya Erik perlahan dari kehidupan saya, muncul aliansi baru yang akan membantu saya mengungkap siapa dan apa tujuan Markus sebenarnya.

     Semoga cerita ini bisa menjadi salah satu kawan di kala senggang untuk rekan-rekan Kaskuser yang senang membaca cerita dengan format baku seperti yang saya suguhkan. Tidak perlu banyak kata-kata dalam pembukaan ini, saya akan melanjutkannya pada kisah yang akan saya tulis dengan format yang sama seperti cerita saya sebelumnya. Atas perhatian dan kerjasama Anda, saya mengucapkan Terima Kasih.

Quote:

profile-picture
profile-picture
profile-picture
just.endra dan 15 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh m60e38

Bidadari Tanpa Sayap | Bagian 28

BIDADARI TANPA SAYAP (BAGIAN 28)


      “Kakak cinta sama Dede,” ujarku seraya memandang mereka semua, “Kakak cinta sama kalian semua, bidadari yang udah dateng dan berikan hidup buat Kakak,” ujarku lagi.

      Hening. Hanya suara deburan ombak yang memecah karang-karang besar yang berada di sebelah kananku saat ini. Belaian mesra ombak pun mengayun, menggelitik separuh betisku dengan begitu lembutnya. Wangi air laut yang tercampur dengan pasir juga membuat segalanya semakin syahdu ketika mata-mata mereka hanya memandangku dengan tatapan yang sama.

      Entah perasaan apa yang saat kurasakan kepada mereka saat ini, hanya saja senyuman dari wajah cantik mereka benar-benar menenangkan. Perlahan, langkah kecil mereka bertiga mendekatiku, seraya tangan-tangan mereka yang saling berekapan kepadaku.

      Hubungan macam apa ini? Selaku di dalam hati seraya pagutan mesra tubuh mereka di atas tubuhku kini. Apa mungkin ini semua akan bertahan dengan ketulusan cinta mereka masing-masing saat ini? Apa mungkin segala keindahan dan kebahagiaan ini akan terus ada hingga akhir napas ini? Apa mungkin aku bisa membagi perasaan ini kepada mereka bertiga?

      Aku bukanlah sistem dengan Load Balancing, aku hanyalah sistem diskrit yang begitu rapuh saat salah satu komponen dalam sistem ini hilang. Aku pasti akan hancur ketika mereka memutuskan untuk pergi dari hidupku satu persatu, dan mungkin tidak akan ada yang tersisa untukku saat ini.

      Aku sadar, aku bukanlah orang yang sempurna, layaknya mereka. Aku bagaikan ruang hampa udara, begitu sesak, dingin dan gelap tanpa adanya sinar yang menerangi tiap langkahku. Aku bagaikan tanah kemarau, begitu tandus tanpa setetes airpun yang mau mencumbu tiap jengkal retakannya. Aku bagaikan daun kering, begitu rapuh sehingga sejentik embusan angin dapat mematahkanku.

      Aku adalah kosong tanpa mereka. Aku hanyalah sampah berserakan yang menunggu untuk dibuang, bertebaran menyeruakkan bau busuk yang sangat menyengat. Aku adalah benalu yang tidak mungkin hidup tanpa sari pati tumbuhan lain. Aku adalah sesuatu yang tidak mungkin bisa hidup tanpa tetesan cinta yang selalu mereka berikan untukku.

      Mereka adalah cahaya yang begitu terang, menyinari tiap-tiap sudut ruang hampa yang begitu dingin dan gelap. Memberikan kehangatan dan kehidupan yang begitu bersinergi dengan segala yang berada di sekelilingnya. Memberikan estetika yang begitu indah di setiap pancaran cahaya cinta yang terasa begitu lembut membelaiku.

      Mereka adalah air yang begitu menyejukkan. Menetes tercurah, perlahan menggenangi dan mengalir di atas tanah-tanah kemarau retak yang tandus. Mencumbui tiap-tiap jengkalnya dengan kesegaran yang begitu memberikan kehidupan di setiap tetesnya yang terasa sangat segar dan melegakan.

      Mereka adalah segalanya, semua keindahan yang begitu berarti untukku kini. Tidak ada sedetikpun waktu yang terlewati tanpa kusebut nama mereka. Semua batinku tersadar atas apa-apa yang sudah mereka berikan untukku, sebuah kehidupan baru yang begitu indah di atas segala perasaan yang mereka miliki untukku. Aku begitu sempurna saat kehangatan cinta mereka menyelimutiku.

      “Kak, sarapan yuk,” ajak Aluna dengan begitu manjanya.

      “Iya nih Kak,” sambung Shinta seraya melepas dekapannya, “mumpung masih jam segini,” pandangannya begitu berbeda saat ini.

      “Okay,” ujarku lalu tersenyum, “yuk balik ke cottage.”

      “Eh, bukan itu Kakak,” ujar Cauthelia manja, kedua tangannya menggenggam tanganku dengan begitu lembut, “sarapan yang laen maksudnya.”

      “Enggak,” ujarku lalu menggelengkan kepalaku, “mendingan Kakak masakin buat kalian aja,” ujarku berusaha menolak, saat Sagittarius A* itu terus menarik segala cahaya ke pusatnya.

      “Sebentar aja Kak,” ujar Shinta lalu tersenyum.

      Mungkin satu jam, itu yang kuperkirakan, kami sudah kembali ke cottage. Saat ini aku benar-benar berniat memasak makanan untuk mereka. Senyuman hangat Teana bahkan menyambut kedatangan kami saat pintu cottage ini terbuka. Hanya Nadine yang saat ini tidak ada dalam jangkauan pandangku, jujur aku takut terjadi sesuatu kepada gadis itu saat ini.

      Saat aku berniat untuk membuatkan sarapan, mereka semua justru melarangku. Sepertinya aku bisa menarik napas sejenak seraya memandang laut dari kamarku. Kulangkahkan kaki ini begitu ringan ke dalam kamar, di antara riuhnya canda keempat wanita yang saat ini sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing di dapur. Sementara, aku hanya memandang ke arah laut seraya menikmati angin semilir yang terembus dari penyejuk udara di atas.

      Aku termenung di sini, duduk di tepian ranjang seraya melihat birunya laut yang terhampar di depanku. Terlihat horizon yang begitu indah bertemu di satu garis, menunjukkan betapa indah dan sempurnanya ciptaan Sang Jabbar. Sesekali kupandangi awan-awan yang berada di sana, menempel dengan begitu indah terbentang bak karpet bersih nan empuk.

      Semuanya pasti bertemu di satu titik, gumamku saat kuperhatikan benar-benar horizon yang yang berada jauh di sana. Begitu pula dengan apa yang terjadi di hidupku kini, semuanya pasti akan bertemu di satu titik yang akan menentukan apa-apa yang terjadi ke depannya. Setidaknya semua peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini membuatku semakin terlena dalam perasaan yang menuntunku dalam kenikmatan yang begitu semu.

      Kedatangan gadis itu yang begitu tiba-tiba juga mampu mengubah segalanya yang ada di dalam hatiku. Seluruh hatiku bahkan langsung menatap presensi gadis itu, melupakan apa-apa yang terjadi di antara aku dan semua wanita yang sudah berusaha susah payah mengalihkan kesedihanku selama ini. Aluna dan Shinta, kedua wanita yang benar-benar bekerja keras mengalihkan ini semua.

      “Tam,” panggil suara itu, membuyarkan segala lamunanku saat ini.

      “Nad?” sahutku tidak percaya seraya menoleh ke arahnya.

      “Bengong aja kamu,” ujarnya, berjalan perlahan hingga berada di sebelahku. Ia lalu duduk di sebelahku, menyandarkan kepalanya di bahuku seraya menggenggam erat tanganku. “Kangen deh sama kamu, Tam.”

      “Iya Nad,” sahutku ringan, pelan namun begitu terasa dalam di hatiku kini, “maaf kalo aku lebih sibuk sama Luna ato Tata.”

      "Gak apa Tam,” ujar Nadine pelan, “aku juga sadar, aku gak sebaik mereka.”

      “Jujur, kadang masih ada rasa cemburu di hati ini kalo ngeliat kamu sama mereka,” ujarnya pelan, “dan aku yakin mereka juga punya, tapi mereka bisa redam itu semua.”

      “Khususnya Aluna,” ujar Nadine lagi, “aku sadar selama ini aku selalu mikir buruk sama dia.”

      “Kenapa gitu Nad?” tanyaku pelan.

      Ia hanya memandangku, tersenyum seraya menundukkan kepalanya, “ya aku rasa dia itu gak pantes aja dateng di hidup kamu,” ujarnya pelan, “tadinya aku mikir gitu.”

      “Apalagi, maaf Tam, dia beda sama kita,” ujarnya lagi.

      “Aku ngerti,” ujarku pelan, “aku juga udah berlebihan tentang ini semua Nad.”

      “Aku udah ngelakuin banyak salah, ngebiarin orang baru ngisi hati aku,” ujarku lagi, “tapi ini bener-bener cepet, aku gak bisa nolak perasaan itu.”

      “Karena dia kembarannya Elya,” ujar Nadine pelan, “dan gak banyak yang nyadarin itu dulu.”

      Kugelengkan kepalaku pelan tapi pasti, “bukan karena itu aku jatuh cinta sama dia Nad.”

      “Aku pun gak pernah tahu kalo mereka begitu miripnya.”

      “Aku sadar pas ngeliat dia di garasi rumah Ayah waktu itu,” ujarku pelan, “dia itu bener-bener sama kayak Elya pas pertama kali aku ketemu dia di bawah ujan,” kenangku pelan.

      “Jujur, perasaan itu dateng gitu aja Nad,” kugelengkan kepala ini cepat, seraya kutahan dengan kedua tanganku, “kalo aku boleh milih, aku juga gak mau saat itu terjadi.”

      “Aku gak mau liat dia, aku gak mau liat mata Luna yang penuh harap sama aku.”

      “Bahkan aku gak mau nyium wangi badannya yang bener-bener langsung bikin aku jatuh cinta sama dia,” ujarku lagi.

      “Aku gak mau dia ada di sana, buat lakuin apa yang gak seharusnya dia lakuin di rumah, tapi dia bener-bener lakuin itu,” ujarku, emosiku mulai meningkat secara gradual saat ini.

      “Dia tulus, dia tahu aku gak akan pernah nyatain cinta sampe saat itu,” kenangku dengan segala bentuk emosi yang benar-benar memuncak, “dia tetep cuciin baju aku, gosokin, siapin sarapan, bahkan bangun lebih pagi ketimbang aku selama dia ada rumah.”

      “Dia masakin makan malem pas aku jalan sama kamu, dia nyambut aku pake senyum, gak ada ekspresi kesel sedikitpun pas aku dateng telat, dan aku sengajain itu.”

      “Asal kamu tau Nad, aku udah lakuin segala cara biar dia jauhin aku,” ujarku pelan, “tapi aku tetep jatuh cinta sama Luna.”

      “Bukan karena dia mirip secara fisik sama Elya, tapi karena dia sama gigihnya kayak Elya,” ujarku lalu tanpa sadar air mataku menetes pelan mengenang apa-apa yang pernah ia lakukan untuk meraih hatiku.

      Tidak ada sepatah lisanpun teruntai dari bibir Nadine, hanya sentuhan lembut ibu jarinya menyeka air mata yang tiba-tiba saja mengalir di pipiku. Sungguh, tidak pernah kubayangkan sebelumnya untuk mencintai Aluna, terlebih untuk mengambil segalanya darinya. Tetapi, semuanya terjadi begitu saja, jauh lebih cepat ketimbang apapun yang telah terjadi selama ini.

      Sungguh, ia benar-benar menunjukkan betapa ia memiliki ketulusan cinta yang masih belum bisa tertandingi kecuali oleh Cauthelia. Sungguh, ia benar-benar memberikanku sebuah arti yang begitu mendalam akan makna cinta tulus yang tidak pernah kuduga datang dari seorang Aluna. Sungguh, ia benar-benar menyerahkan segalanya untukku, membuatku semakin tidak mungkin meninggalkannya begitu saja.

      “Jujur Tam,” ujar Nadine pelan, “aku emang sinis banget sama Luna.”

      “Aku juga kenal Luna dari Elya dulu,” ujarnya lagi, “pas sebelum ketemu kamu, dan sebelum kamu ngomong dia mirip Elya, bahkan gak ada yang sadar betapa miripnya dia sama Elya.”

      “Old school glasses, model rambutnya, itu yang buat dia keliatan beda sama Elya,” ujarku pelan, “tapi ngeliat dia abis keujanan waktu itu, semuanya bikin aku sadar, kalo dia itu kembar sama Elya.”

      “Maafin aku Tam,” ujar Nadine pelan, “aku terlalu cemburu sama mereka,” ujarnya pelan, “aku terlalu mikirin perasaan aku sendiri, gak pernah coba buat ngerasa jadi mereka.”

      “Aku tahu semua cerita kamu sama Tata dari dulu, dari SMP,” ujar Nadine lagi, “aku tahu betapa deketnya kamu sama Tata, makanya aku berusaha jauhin kamu sama Tata pake Agung.”

      “Aku tahu semua cerita kamu sama Elya, bahkan cuma aku yang sadar kalo yang dideketin Elya itu kamu,” ujar Nadine pelan, “aku tahu kalo suatu saat cinta akan nyatuin kalian, tapi aku dengan jahatnya malah coba pisahin kalian.”

      “Aku tahu semua cerita kamu sama Kak Nana, bahkan gak ada orang laen yang segila aku buat cari tau,” ujar Nadine, kali ini air matanya mulai meleleh dari kedua matanya, “aku tahu suatu saat kalian pasti nyatu, lagi-lagi aku cari cara buat kalian pisah.”

      “Tapi di depan kalian semua, aku pura-pura dukung hubungan kalian, aku pura-pura seneng sama hubungan kalian,” ujar Nadine dengan air mata yang benar-benar jatuh dengan derasnya, “aku terlalu egois buat ngebagi perasaanku buat kamu Tam.”

      “Padahal aku jatuh cinta karena hal sederhana, dan aku ngerasa milikin kamu karena ada darah kamu di badan aku, jadi aku ngerasa aku yang paling berhak buat milikin kamu.”

      “Aku bener-bener egois Tam,” ujarnya, terisak dengan begitu pilunya di antara derai air mata yang terus menerus menetes tanpa henti.

      Aku terdiam, hanya bisa menyeka pelan air mata yang terus terurai dari matanya. Kuhela napas panjang. Sebegitu sesalnya Nadine atas apa-apa yang pernah ia lakukan kepada mereka yang telah ia sebut barusan. Tetapi, aku mengerti apabila salah satu komponen cinta adalah nafsu. Dan nafsu ingin memiliki yang diutarakan Nadine tadi sudah cukup membuatku mengerti.

      Ia belum ikhlas dan tulus sepenuhnya, ia masih meninggikan rasa ingin memiliki yang mungkin begitu menggebu di hatinya saat ini. Tetapi, kurasa itu bukanlah masalah. Yang menjadi masalah adalah aku. Karena aku yang begitu bodoh dan membiarkan semua hati itu beradatangan dan mengisi kekosongan hatiku karena perasaanku yang hampa karena Aerish.

      Kebanyakan orang salah menafsikan cinta. Mereka mengatakan tidak akan ada perasaan itu tanpa hasrat ingin memiliki orang yang dicintai. Tetapi, sesungguhnya cinta lebih murni dan juga lebih tinggi ketimbang hanya sekadar perasaan ingin memiliki.

      Cinta adalah disaat kita menginginkan kebahagiaan orang yang kita cinta. Tanpa peduli betapa sakitnya dan lelahnya jiwa raga hanya untuk sekadar menyunggingkan senyum di bibirnya. Cinta adalah disaat kita melakukan apapun tanpa ia minta, dan kita merasakan bahagia atas apa yang kita lakukan kepadanya.

      Cinta adalah disaat segala sesuatu yang buruk bisa diubah menjadi lebih baik karenanya. Karena dengan cinta, kita bisa merasakan sebuah perasaan dan getaran lembut nan menenangkan. Sebuah perasaan yang akan membawa kita kepada sebuah kebahagiaan yang begitu hakiki.

      “Kak,” panggil suara itu pelan, saat itu aku langsung menoleh ke belakang. Kulihat sesosok wanita berambut panjang tengah memandangku dengan air mata yang juga berderai, mengalir deras di kedua pipinya saat ini. Aku hanya bisa memandang wanita yang tersenyum itu kepadaku.

      Ia lalu melangkahkan kakinya pelan seraya terisak, sejurus ia bersimpuh di depanku lalu menatapku dengan pandangan yang sama seperti saat aku jatuh cinta pertama kali dengannya. Ia menggenggam tangan kananku dengan jemarinya yang begitu lembut. Jujur, perasaanku langsung berubah seketika, seolah saat ini hanya wanita itu yang berada di sebelahku.

      “Apapun yang udah terjadi, Dede cuma mau bilang, kalo semua rasa yang Dede punya juga karena Kakak udah lakuin banyak hal ke Dede,” ujarnya pelan, “apa salah Dede jatuh cinta sama orang yang udah rela dipukulin buat Dede?”

      Kata-kata itu pernah terlontar beberapa kali dari lisan Aluna, dan jujur saat itu aku hanya bisa tertunduk, menyadari bahwa presensi wanita itu begitu kuat di depanku saat ini. Kugenggam jemarinya lebih erat, “gak ada yang salah sama itu semua Dek, Kakak udah bilang berkali-kali.”

      “Lun, maafin aku ya,” ujar Nadine pelan di sebelahku, ia pun menjatuhkan tubuhnya, duduk di sebelah Aluna lalu mendekapnya dari samping. Tampak jutaan sesal dari tiap-tiap gerakannya saat ini. Air mata masih berderai dari kedua matanya, serapa dekap di atas isak tangisnya yang begitu haru.

      “Maafin aku udah jahat sama kamu kemaren,” ujarnya lagi.

      “Udah Nad,” ujar Aluna ia melepas genggaman tanganku dan menyambut tangan-tangan Nadine, “aku udah gak pernah marah gara-gara masalah itu kok.”

      “Aku sadar, aku yang salah tiba-tiba dateng di hidupnya Kak Tama,” ujarnya pelan, “dan aku yang udah terlalu berharap dicintai sama dia dari pertama kali ketemu Nad.”

      “Enggak Lun,” ujar Nadine pelan, “enggak gitu.”

      “Aku tahu betapa Tama pengen kamu baik-baik aja,” ujar Nadine lagi, “wajar kalo kamu bener-bener jatuh cinta sama orang yang udah lakuin semua hal tanpa pamrih ke kamu, karena aku juga ngerasain hal yang sama.”

      “Aku cuma egois aja, gak nyadar kalo gak cuma aku yang punya cerita indah sama Tama,” ujar Nadine pelan, dan kedua wanita itu berdekapan.

      Kuhela napas begitu panjang seraya memandang ke arah mereka. Entah apa yang ingin kulakukan saat ini. Aku hanya bisa memandang wajah keduanya yang saling berpandangan dengan air mata yang terus mengalir saat ini. Sejurus, mereka mengakhiri itu semua dengan tersenyum kepadaku. Hanya satu harapku saat ini, apapun perasaan mereka akhirnya kepadaku, aku tidak ingin keduanya saling bermusuhan.

      Tidak ada yang lebih membuatku damai selain melihat orang yang kucintai bahagia, dan aku benar-benar melihat itu dari mereka. Lima menit berselang, akhirnya kami memutuskan untuk bergabung bersama Cauthelia, Shinta dan Teana yang tampak sudah selesai memasak sarapan pada pagi ini. Mereka bahkan sudah mempersiapkan alat makan saat ini.

      Sebuah kehormatan memimpin sarapan di antara para bidadari yang menyunggingkan senyum begitu hangat kepadaku. Cauthelia duduk berselahan dengan Shinta, sementara tepat di depannya duduk Aluna yang bersebelahan dengan Nadine. Sementara aku duduk di ujung lainnya. Dan kami pun memulai sarapan pagi ini dengan masakan yang cukup sederhana, nasi goreng.

      Hangat rasanya berada di antara mereka. Riuh canda tawa yang begitu terdengar mesra di inderaku juga membuat suasana pagi ini begitu berkesan. Banyak sekali hal yang mereka bicarakan, seolah tidak ada batasan di antara mereka dan juga diriku. Bahkan, mereka saling mengakui kekagumannya masing-masing satu sama lainnya, dan Cauthelia lah yang paling banyak mendapat pujian.

      Apa yang kurang dari gadis itu? Batinku bergumam sendiri seraya pandangku terpaku kepada wajahnya saat ini. Sekilas aku memandang ke arah Aluna yang tampak begitu mirip dengan Cauthelia. Bahkan tidak ada yang bisa membedakannya apabila dilihat dari sini. Mungkin hanya satu hal yang tampak begitu berbeda, panjang rambut keduanya. Rambut Cauthelia lebih panjang dan terlihat lebih berkilau ketimbang Aluna.

      Tok! Tok! Tok! Terdengar suara ketukan pintu cukup keras dari ruang depan. Saat itu kuputuskan untuk segera membukakan pintu sementara aku membiarkan para bidadari itu untuk menyelesaikan sarapannya. Kubuka pintu ini dengan pasti, dan setelah kubuka betapa terkejutnya aku melihat siapa yang datang. Bagaimana mungkin dia ada di sini saat ini?

<<< SEBELUMNYA (EP268)


Diubah oleh ms.mriva
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di