alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Dunia Yang Sempurna [TAMAT]
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/571e34a9de2cf202198b456c/dunia-yang-sempurna-tamat

Dunia Yang Sempurna





(credit to : risky.jahat for the beautiful cover)


PROLOG :


Gue selalu percaya, apapun yang kita alami di dunia ini selalu memiliki alasan tersendiri. Ga terkecuali dengan kehadiran orang-orang di kehidupan kita. Setiap orang, setiap hal, memiliki perannya masing-masing di kehidupan kita ini. Ada yang datang untuk sekedar menguji kesabaran kita, ada yang datang untuk menyadarkan kita akan mimpi dan harapan yang selalu mengiringi kita.

Gue menulis cerita ini, sebagai wujud rasa cinta gue terhadap segala yang pernah terjadi kepada gue. Ada yang ingin gue lupakan, dan ada yang ingin gue kenang selamanya. Tapi pada satu titik gue menyadari, bahwa ga ada yang harus gue lupakan, melainkan gue ambil pelajarannya. Dan untuk segala yang pernah hadir di hidup gue, ataupun yang akan hadir, gue mengucapkan terima kasih dari hati gue yang terdalam.

Cerita ini berawal pada tahun 2006, pada saat gue masih culun-culunnya menjalani kehidupan. Gue baru saja lulus SMA, dan memutuskan untuk merantau, meskipun ga jauh-jauh amat, ke ibukota untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi lagi. Gue masih mengingat dengan jelas momen ketika gue mencium tangan ibu, dan elusan kepala dari bapak, yang mengantarkan gue ke gerbang rumah, sebelum gue menaiki angkutan umum yang akan membawa gue ke ibukota.

Ketika angkutan umum yang membawa gue ke ibukota itu mulai berjalan, gue sama sekali ga bisa membayangkan apa yang akan terjadi di hidup gue selanjutnya. Tentu saja gue ga bisa membayangkan kehadiran seseorang, yang dengan segala keunikan dan keistimewaannya, memberikan warna tersendiri di hati gue.

Nama gue Gilang, dan semoga sekelumit cerita gue ini bisa berkenan bagi kalian semua.


Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
17062018 dan 20 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh carienne
Thread sudah digembok
PART 61

Suara gemuruh kereta api terdengar dari balik bangunan stasiun tempat dimana gw menunggu dibawah pepohonan yang teduh. Gw bangkit dari duduk, membersihkan celana jeans gw, dan berjalan mendekati pintu kedatangan. Gw melihat banyak orang berlalu lalang, dengan segala aktivitasnya. Suasana cukup ramai di sore hari itu. Berbagai pertemuan dan perpisahan gw lihat di sekeliling gw. Terkadang gw juga melihat optimisme di wajah beberapa orang.

Gw menunggu dengan sabar, mengamati wajah masing-masing penumpang yang keluar dari pintu itu. Sosok yang gw tunggu-tunggu belum juga tampak. Sepertinya dia telat turun dari gerbongnya, sehingga agak lama juga sampai kemari. Gw masih menunggu selama beberapa saat, sampai dari kejauhan gw melihat sesosok wanita menuruni tangga, dengan membawa ransel dan sebuah tas di tangannya.

Semakin mendekat ke posisi tempat dimana gw berdiri, gw semakin bisa melihat sosoknya dengan jelas. Dia mengenakan kaos berwarna putih, dengan jaket tebal berwarna biru tua. Rambutnya tergerai agak panjang, wajahnya menurut gw semakin tirus, dan sedikit memucat. Dia tersenyum lebar ketika melihat gw, dan berlari kecil ke arah gw.

“hey...” sapanya, “udah lama yah?”

gw mengamatinya dari atas ke bawah, kemudian menggeleng pelan. “ah engga juga kok, ga lama. Sini gw bawain tas ransel lo...” kata gw sambil mengulurkan tangan.

Dia melepas ranselnya tanpa banyak protes seperti dulu, kemudian membiarkan gw membawakan semua barang bawaannya.

“motornya lo parkir dimana?” tanyanya.

gw menggeleng. “ga naik motor kok, tadi naik bus gw. Kita pulang naik taksi aja...”

“hah? taksi? ngapaiiin.... boros ah. Naik bus aja.”

“naik taksi aja, biar ga capek. Udah ga usah protes lo, ini gw yang bayar. Yah?”

dia cemberut, tapi kemudian dia mengalah.

“yaudah naik taksi aja sekali-kali...” dia menonjok lengan gw pelan, “boros aja lo gegayaan naik taksi segala...”

gw nyengir. “yah sekali-kali gegayaan gakpapa dong...” gw membela diri.

sambil menunggu taksi dia menatap gw cukup lama, hingga gw merasa risih dengan tatapannya itu. Gw merasa risih karena dia menatap gw bukan hanya dengan tatapan, tapi juga sambil senyum-senyum sendiri. Gw mulai salah tingkah, jangan-jangan ada yang konyol dari diri gw hari ini.

“kenapa lo, Cha?” tanya gw.

dia tertawa. “gakpapa...”

“kenapa?” cecar gw.

“gw cuma kangen aja ngeliat muka lo... hahaha...” dia tertawa lagi cukup lebar. Suaranya menyenangkan.

Gw mengamatinya, kali ini lebih seksama. “lo kayanya kurusan yah, Cha? muka lo juga lebih pucet dari biasanya...”

“ah sok tau aja lo ah....”

“yee beneran ini, gw 3 minggu ga ketemu lo ngerasanya lo jadi tambah kurus, tambah pucet... lo disana diapain si, Cha?” tanya gw datar. Gw berusaha bertanya dengan intonasi biasa-biasa saja, tapi di dalam hati gw rasanya ga karuan.

“ya diobatin lah, yakali disana gw main petak umpet...” dia mencibir ke gw, sementara gw cuma bisa tertawa mendengar jawaban khasnya itu. Gw merindukan gayanya ini.

“lo apa kabar disini?” dia bertanya sambil memegang bahu gw.

“sehat, alhamdulillah...”

dia menghela napas berat, dan mengarahkan matanya ke atas. “ya iyalah lo sehat, orang lo ada disini sekarang... maksud gw, selama gw tinggal ini ada cerita apa aja?” tanyanya sebal.

gw tersenyum simpul.

“banyak si, di kampus juga ada. Ntar deh gw ceritain ke lo. Sambil makan. Eh, lo belum makan kan yak?”

“udah tadi di kereta makan sandwich dibawain mama...”

“mana sandwichnya?”

“udah abis lah...”

“yaah...”

“lo mau?”

“ngicipin dikit...”

“ntar gw buatin di kosan deh...”

“emang ada bahannya?”

“ya ntar mampir dulu di supermarket, beli dulu...”

“ah ngerepotin banget kayanya...”

dia melotot.

“mau apa enggak?”

“mau, mau....”

“makanya jangan bawel.”

gw tertawa mendengar dia mulai ngomel-ngomel lagi seperti sediakala. Di titik ini, gw bahkan kangen dengan omelannya. Kadang-kadang dia bisa sangat menyebalkan, tapi ada kalanya juga gw merindukan waktu-waktu dimana dia jadi menyebalkan itu.

Malamnya, ketika kami sudah bersantai di kosan, dia tiduran di kasurnya, sementara gw duduk bersila, bersandar pada tembok, dan ada sepiring sandwich di hadapan kami. Angin malam berhembus masuk ke kamar, mendinginkan kamar yang berhawa agak pengap karena lama ga dibuka.

“Cha...” panggil gw.

“hmmh...” dia sedang asyik membersihkan kukunya.

“gimana keadaan lo?”

“gw baik-baik aja kok...”

“masa?” gw menatapnya lekat-lekat.

“lah kan gw ada disini sekarang?”

gw berpikir sejenak.

“lo masih mau balik ke kampus lagi kan?” tanya gw sungguh-sungguh.

dia memandangi gw sesaat, kemudian melanjutkan membersihkan kukunya lagi. tapi gw tahu dia sedang memikirkan jawaban dari pertanyaan gw.

“iya, gw masih ke kampus kok...” dia mengangguk-angguk. “lo jangan takut gitu siii...” sebuah senyuman jahil mengembang di wajahnya.

“......”

“kan gw kepingin lulus, masih inget kan lo ama impian gw?”

gw mengangguk mantap. “iya, gw inget kok, Cha.”

“nah, berarti lo jangan khawatir ya gw ga balik ke kampus...” katanya sambil tertawa pelan.

“iyaaa.....”

kemudian ada kebisuan panjang diantara kami berdua. Barangkali terlalu banyak yang ingin disampaikan, tapi kata-kata ga cukup menggambarkan itu semua. Kebisuan sepertinya menjadi harmoni melodi yang merdu yang menyampaikan semua pesan kami.

“Gil...” panggilnya mendadak.

gw agak terkesiap. “ya?”

dia terdiam sebentar.

“kalo gw pergi, lo bakal kangen gw ga?” dia menoleh ke gw dan bertanya dengan wajah sendu namun bersungguh-sungguh.

“gw selalu kangen lo, Cha.” jawab gw.

kemudian gw melihat dia tersenyum. Sebuah senyum lega, dan tulus. Seakan jawaban gw itu memberikan hari baru baginya. Gw tahu, dan gw yakin dia juga mengetahui, bahwa kami berbagi ketakutan yang sama. Ketakutan untuk saling kehilangan satu sama lain.
×
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di