KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Dunia Yang Sempurna [TAMAT]
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/571e34a9de2cf202198b456c/dunia-yang-sempurna-tamat

Dunia Yang Sempurna





(credit to : risky.jahat for the beautiful cover)


PROLOG :


Gue selalu percaya, apapun yang kita alami di dunia ini selalu memiliki alasan tersendiri. Ga terkecuali dengan kehadiran orang-orang di kehidupan kita. Setiap orang, setiap hal, memiliki perannya masing-masing di kehidupan kita ini. Ada yang datang untuk sekedar menguji kesabaran kita, ada yang datang untuk menyadarkan kita akan mimpi dan harapan yang selalu mengiringi kita.

Gue menulis cerita ini, sebagai wujud rasa cinta gue terhadap segala yang pernah terjadi kepada gue. Ada yang ingin gue lupakan, dan ada yang ingin gue kenang selamanya. Tapi pada satu titik gue menyadari, bahwa ga ada yang harus gue lupakan, melainkan gue ambil pelajarannya. Dan untuk segala yang pernah hadir di hidup gue, ataupun yang akan hadir, gue mengucapkan terima kasih dari hati gue yang terdalam.

Cerita ini berawal pada tahun 2006, pada saat gue masih culun-culunnya menjalani kehidupan. Gue baru saja lulus SMA, dan memutuskan untuk merantau, meskipun ga jauh-jauh amat, ke ibukota untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi lagi. Gue masih mengingat dengan jelas momen ketika gue mencium tangan ibu, dan elusan kepala dari bapak, yang mengantarkan gue ke gerbang rumah, sebelum gue menaiki angkutan umum yang akan membawa gue ke ibukota.

Ketika angkutan umum yang membawa gue ke ibukota itu mulai berjalan, gue sama sekali ga bisa membayangkan apa yang akan terjadi di hidup gue selanjutnya. Tentu saja gue ga bisa membayangkan kehadiran seseorang, yang dengan segala keunikan dan keistimewaannya, memberikan warna tersendiri di hati gue.

Nama gue Gilang, dan semoga sekelumit cerita gue ini bisa berkenan bagi kalian semua.


Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jenthek dan 20 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh carienne
Thread sudah digembok
PART 60

Gw terbangun di suatu pagi, tergagap, dan perasaan gw ga karuan. Napas gw memburu, bahkan untuk beberapa saat gw seperti ga mengenali dimana gw berada. Dada gw terasa sesak ketika gw mengingat kembali mimpi yang membuat gw tergagap bangun.

mungkinkah itu?

Gw memandangi dinding di hadapan gw, dimana di sebelah dinding itu tinggal seseorang yang gw cintai. Dengan gontai gw bangkit, dan keluar kamar, mencoba membuka pintu kamar di sebelah kamar gw itu. Terkunci. Mendadak gw teringat bahwa dia selalu meninggalkan kunci pintu kamarnya di ventilasi yang terletak diatas pintunya. Gw merogoh ventilasi yang berdebu itu, dan menemukan apa yang gw cari.

Ketika pintu kamar telah terbuka, rasanya gw seperti diterpa oleh rasa rindu dan sesak yang menjalari hati dan tubuh gw. Aroma khas sang pemilik kamar masih tertinggal dengan jelas, yang membuat gw semakin hanyut dengan kerinduan. Gw memandangi perabotan kamar itu, dan mengelusnya dengan rasa sayang. Seolah apapun yang pernah disentuhnya menjadi kesayangan gw juga. Gw memejamkan mata untuk beberapa saat.

Ketika gw membuka mata gw, yang tampak di hadapan gw adalah dua orang yang duduk berdua, bersandar pada tembok kamar, dan berbincang satu sama lain tentang mimpi-mimpi dan banyolan-banyolan, menertawakan kehidupan itu sendiri. Satu dari mereka adalah lelaki, yang selalu gw lihat sebagai diri gw sendiri. Sementara yang seorang lagi wanita, dengan rambut tergerai sebahu, dan mengenakan kaos putih gombrong khas dirinya. Mereka saling berbicara, dan tertawa, seolah hari esok masih terbentang jauh bagi mereka.

Gw menatap mereka dengan kelu, sebelum bayangan diri mereka menghilang secara perlahan-lahan dari pandangan gw, dan kembali menjadi sebuah kamar kosong yang gelap. Gw menyalakan lampu, dan melihat seisi kamar dengan lebih jelas. Deretan foto berbingkai yang diletakkan di meja menyapa gw dengan hangatnya, dan membuat gw mengambil salah satu foto itu, mengelusnya dengan perasaan ga karuan.

“impian gw itu bisa wisuda, dan menikah....”

sebuah suara entah darimana datangnya, menggema di otak dan hati gw. Seolah mengingatkan gw kembali tentang apa yang seharusnya gw lakukan. Gw memandangi foto dirinya yang sedang tersenyum bersama orang tuanya, dan membuat gw ikut tersenyum. Lo itu terbuat dari apa si, Cha, batin gw sesak. Segala sifatnya itu membuat gw selalu bersyukur atas setiap hari baru di hidup gw. Gw tahu seharusnya gw bersyukur sejak lama, jauh sebelum itu. Tapi gw bahagia jika memang dirinyalah yang menjadi penyebab gw bersyukur atas ini semua.

Gw menggigil ketika merasakan angin malam yang berhembus kencang di pagi buta itu. Gw menoleh, memandangi langit gelap yang sedikit berubah menjadi keperakan di ufuk timur. Gw merindukan berdiri di balkon ini bersamanya. Gw merindukan celotehannya setiap kali kami berangkat kuliah bersama. Gw merindukan tingkahnya ketika kami sedang berbincang berdua disini setiap malam. Gw merindukan segalanya tentang elo, Cha.

Gw ga pernah menyangka gw akan jatuh cinta di kota ini. Di waktu ini. Gw ga pernah menyangka gw akan mencintai seseorang yang selalu ada di sebelah kamar gw. Dan gw ga pernah menyangka akan mencintainya sedemikian dalam. Mungkin gw terlalu mencintainya, melebihi dari apa yang seharusnya.

Gw cinta lo, Cha. Lo-lah matahari yang selalu menerangi hari-hari gw disini.

Lamunan gw itu buyar, ketika sebuah suara dering handphone terdengar dari kamar gw. Siapa yang menelepon pagi-pagi buta ini? Tanpa berpikir lagi gw mengambil handphone itu, dan mengangkat telepon setelah melihat identitas peneleponnya.

“halo?” sapa gw.

“halo, selamat pagiii...” sapa sebuah suara diujung sana dengan riang.

gw tertawa.

“selamat pagiii juga. Tumben telepon pagi-pagi gini lo? udah sholat belum?” kata gw bahagia.

“gapapa lah, sekali-sekali gw bangunin elo lewat telpon...” gw mendengar dia bersin diujung sana, “belum nih, baru gw mau sholat. Lo barusan bangun? suara lo kaya seger banget...”

“engga, gw udah bangun dari tadi kok...”

“tumben? ngapain lo?”

“tadi gw kebangun gara-gara mimpi tentang lo...”

“kok sama sih, gw juga kebangun gara-gara mimpiin elo. Hahaha...” dia tertawa pelan. “mimpiin apa lo tadi?”

“ah males ah ngomonginnya, ga enak pokoknya.” jawab gw.

“lo sehat-sehat kan, Cha?” tanya gw lagi.

dia terdiam beberapa waktu.

“Alhamdulillah gw sehat, Gil. Lo jangan khawatirin gw yaah...”

“disini sepi tau ga ada elo...” kata gw miris.

dia tertawa renyah.

“gw bakal balik lagi kesana kok. Gw janji...”

gw tersenyum.

“gw akan selalu menunggu lo, Cha...”

Gw melihat sebuah tumpukan CD grup-grup musik favoritnya, The Beatles dan Coldplay. Tanpa sadar gw menggumamkan sepenggal lirik lagu favoritnya yang selama ini selalu dia perdengarkan ke gw, menggema dengan merdunya di pikiran gw.

And I could write a song

A hundred miles long

Well, that's where I belong

And you belong with me


The streets you're walking on

A thousand houses long

Well, that's where I belong

And you belong with me



Gw cinta lo, Cha. Dan gw tahu lo mengetahui itu, bahkan melebihi diri gw sendiri.

Gw mencintai lo, seperti pagi mencintai hangatnya sinar mentari. Gw mencintai lo, seperti burung mencintai cericipnya yang merdu. Gw mencintai lo, seperti layaknya manusia yang mencintai. Dan gw mencintai lo, selalu dan semoga selamanya.
profile-picture
jenthek memberi reputasi
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di