alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/573370ce96bde6f9788b4569/kembalilah-tak-terungkap--ketulusan-cinta-para-bidadari--r-17

Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17



Quote:



Apa kau percaya dengan Hukum Kekekalan Energi?
Kalau aku percaya dengan Hukum Kekekalan Cinta.
Bahwa Cinta itu tidak dapat dibuat atau dimusnahkan.
Tetapi hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
Itulah cinta yang kupercaya.

Ini adalah kisah nyata tentang mereka.
Tentang semua cinta yang tak terbalas.
Tentang semua rasa yang tak terungkap.
Yang terukir indah dalam 874 lembar buku harianku sejak SMA.
Ditambah 101 halaman dari kisahku yang hilang bersama seseorang.

Maka, saat kau bertanya, mengapa kau masih ingat?
Buku harianku yang mengingatkanku.
Disana tertulis nama lengkap mereka.
Disana tertulis semua perkataan antara aku dan mereka
Disana tertulis semua proses pendewasaanku.

Ini kisah nyata.
Buku harian 975 lembar letter size itu saksi sejarahnya.
Ditulis dengan font Times New Roman 10 Pt.
Dan akan kutulis ulang semuanya untuk kalian.
Bidadari yang pernah datang mengisi hariku.
Bidadari yang mendewasakanku.



Orang bilang, jatuh cinta itu menyenangkan.
Aku mengakui itu, sepanjang aku jatuh cinta, rasanya menyenangkan.

Tetapi orang juga bilang, jatuh cinta itu menyakitkan.
Entah, tetapi aku tidak pernah setuju dengan frasa bahwa cinta itu menyakitkan.

Cinta adalah saat kita menginginkan orang yang kita cintai bahagia.
Tidak peduli seberapa sakitnya kita dibuatnya.
Karena ketulusan yang akan mengobati semua sakit.
Di atas senyum bahagia, dia yang kita cintai.

Namum, apabila ada banyak hati yang saling mencinta.
Apakah akan berakhir bencana?
Ataukah ketulusan yang akan menyembukan mereka.
Ini kisah tentang mereka.

Bidadari sempurna yang hadir dalam hidupku.



Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari





MAKLUMAT

Cerita ini berdasarkan kisah nyata, nama karakter disamarkan sesuai dengan kebutuhan untuk melindungi privasi dari tokoh yang ada di dalam cerita ini. Dan cerita ini sebisa mungkin menggunakan kaedah sastra secara teknis, sehingga akan dibutuhkan waktu yang lama untuk dicerna.

Rating dalam cerita ini adalah R-17, dengan kata lain, cerita ini mengandung bahasa yang kasar dan juga isi cerita yang hanya sesuai untuk usia 17 tahun atau di atasnya, dan atau usia di bawahnya dengan bimbingan orang yang lebih dewasa.

Perlu diingat, rating Restricted tidak serta merta hanya mengacu kepada konten cerita yang mengandung adegan dewasa, belajar dari cerita sebelumnya, saya selaku author akan meminimalisir cerita dengan adegan dewasa di thread ini. Restricted di sini mengacu kepada kompleksitas cerita yang akan mempengaruhi ideologi pada pembaca, khususnya remaja yang memiliki usia di bawah 17 tahun.

Penggunaan bahasa yang tidak pantas, serta adegan yang penuh dengan konspirasi dan atau tindakan kejahatan juga menjadi pertimbangan saya untuk tetap mempertahankan rating Restricted di dalam cerita ini, jadi terlebih dahulu harus dipahami mengapa saya tetap menggunakan rating R-17 pada cerita ini, dan bukan serta merta karena adanya adegan yang kurang pantas di sini.

Mohon untuk pembaca memahami bahwa tidak semua adagan dalam cerita ini bisa dicontoh, ditiru, dan atau diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, terlebih untuk material yang hanya boleh dilakukan untuk pasangan pernikahan yang sah. Pembaca dimohon untuk mengambil hikmah dari cerita ini sebaik-baiknya.

Kritik dan saran dari pembaca sangatlah saya harapkan, dan mohon maaf apabila banyak tulisan dari karya saya yang masih jauh menyimpang dari Sastra Indonesia. Saya mohon koreksinya dari pembaca, karena saya ingin tetap mempertahankan kaedah menulis Sastra, bukan asal cerita.

Demikian maklumat dari saya, Terima Kasih.


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


OVERTURE


     Selamat pagi rekan-rekan Kaskuser, khususnya di Sub-Forum Story from the Heart, perkenalkan, saya Faristama Aldirch, selaku Nubie SR di sini untuk berbagi kisah. Sebelumnya pasti rekan-rekan semua tahu apa alasan saya menggunakan User ID m60e38, tentunya ada hubungannya antara mesin BMW M60 dan sasis BMW E38.

     Tentu saja, cerita ini berawal dari saya yang jatuh cinta kepada Aerish Rivier, menyatakan cinta kepada gadis itu, dan membuat saya menanti akan sebuah balasan yang tak berujung. Menutup hati dari banyak hati yang berusaha mengisi hati saya dan berusaha tak acuh dengan apa yang saya alami sendiri. Hingga pada akhirnya banyak hal yang terlewatkan hingga semuanya menjadi satu.

     Tetapi, hal tersebut tidak pernah disadari oleh saya, Cauthelia Nandya datang dengan membawa cinta dan keikhlasan yang begitu luar biasa, tertuang dalam diary-nya sejak tahun 2002. Nadine Helvelina datang dengan cinta dan ketulusan yang tidak pernah bisa diragukan. Shinta Adinda yang menjadi sahabat terbaik saya juga datang dengan ketulusan yang benar-benar membuat saya berpikir tidak akan meninggalkannya.

     Arteana Andrianti, seorang Guru penjaga UKS yang merasakan bahwa saya adalah laki-laki yang telah menyelamatkannya di satu peristiwa pada pertengahan 2006. Hingga Aluna Amelia, gadis berdarah Oriental yang begitu cantik, mempercayakan segala perasaannya kepada saya atas semua apa yang pernah saya lakukan kepadanya.

     Ketulusan mereka semua sudah tidak mungkin diragukan lagi, apapun mereka lakukan bukan serta merta menginginkan saya bahagia, tetapi ingin yang lainnya bahagia. Memang ini terlihat menyenangkan, dicintai banyak wanita sekaligus, dan mereka terlihat begitu akrab dan juga akur satu sama lainnya, padahal hal tersebut benar-benar menjadi sebuah beban yang begitu luar biasa untuk saya.

     Semenjak kedatangan Erik di kehidupan saya, semuanya mulai terasa begitu berat, dengan anak buahnya, ia berusaha untuk mendekati satu per satu bidadari untuk sekadar mengancam saya, atau mungkin melakukan hal yang buruk kepada mereka. Hal tersebut membuat saya benar-benar was-was, terlebih saat ini saya tidak bisa tenang karena Cauthelia tidak bisa dihubungi.

     Satu persatu masalah muncul dan semuanya bermuara ke satu nama, yaitu Markus, siapakah orang itu? Entahlah, hanya Sang Jabbar yang tahu siapakah Markus itu, yang pasti semenjak kedatangan Nancy malam itu, setidaknya selain hengkangnya Erik perlahan dari kehidupan saya, muncul aliansi baru yang akan membantu saya mengungkap siapa dan apa tujuan Markus sebenarnya.

     Semoga cerita ini bisa menjadi salah satu kawan di kala senggang untuk rekan-rekan Kaskuser yang senang membaca cerita dengan format baku seperti yang saya suguhkan. Tidak perlu banyak kata-kata dalam pembukaan ini, saya akan melanjutkannya pada kisah yang akan saya tulis dengan format yang sama seperti cerita saya sebelumnya. Atas perhatian dan kerjasama Anda, saya mengucapkan Terima Kasih.

Quote:

profile-picture
profile-picture
profile-picture
just.endra dan 15 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh m60e38

Bidadari Tanpa Sayap | Bagian 21

BIDADARI TANPA SAYAP (BAGIAN 21)


     Aku langsung bergegas menuju tempat yang diarahkan oleh telunjuk Kevin, di mana aku tahu arahnya adalah kamar tempat Aluna dan Shinta saat ini berada. Dengan kesadaran yang masih belum sepenuhnya pulih, aku bergegas menghampiri Nadine yang saat itu tengah berteriak di depan kamar tersebut.

     Sungguh memalukan, gumamku dalam hati saat melihat ia menjadi pusat perhatian di antara tamu penginapan ini, teriakkannya benar-benar begitu menggelegar, memekikkan siapapun yang saat ini mendengarkannya kini. Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh gadis itu?

      “Eh *e**k, keluarin Tama dari sana!” teriaknya seraya memukul-mukul pintu dengan begitu kerasnya.

     Aku langsung berjalan menghampirinya dengan sedikit tergesa, “Nad, kamu ngapain?” Saat itu, Nadine hanya memandangku dengan tatapan yang tidak percaya, di antara amarah yang membakarnya saat ini.

      “Loh, kok?” tanyanya dengan begitu keheranan, aku hanya tersenyum simpul melihat Nadine.

      “Makanya, kalo gak tahu jangan sok tahu,” ujarku mengomentari apa yang dilakukan oleh Nadine barusan. Ia hanya memandangku dengan wajah yang sangat merah, antara menahan malu dan juga emosi. Sementara ia benar-benar sudah sukses menjadi tontonan oleh penghuni penginapan yang lainnya.

     Jelas sekali ada suara-suara sumbang yang juga terdengar dari sekitarku saat ini, mereka mengatakan bahwa Aluna dan juga Shinta adalah wanita yang tidak bermoral. Sungguh, aku juga tidak bisa menerima animo penghuni di sana yang mengatakan seolah di kondisi ini Nadine yang benar, tetapi mereka yang salah.

     Aku hanya bisa menghela napas sangat panjang ketika satu-persatu dari mereka melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan kami. Bahkan Nadine sepertinya tidak dapat menahan malunya ketika aku hanya menatapnya dengan senyuman yang begitu mengambang. Akhirnya, ia pun ikut memimpin langkahnya untuk kembali ke kamarnya sendiri tanpa mengajakku.

     Tinggallah aku bersama Teana yang sejak tadi hanya memandangku dengan tatapan nanar, aku pun tidak mengerti apa yang ada di dalam kepalanya saat ini. Ia terus memandangku dengan ekspresi yang sama, hingga akhirnya ia menghampiriku dan tersenyum tepat di depanku.

      “Tam,” panggilnya begitu lembut, “kenapa kamu mikirin gitu sayang?” tanya Teana dengan nada yang begitu menenangkan, sementara aku hanya menggelengkan kepalaku pelan.

      “Gimana aku gak mikirin Kak,” ujarku pelan, “semaleman aku gak bisa berenti buat mikirin kenapa Nadine jadi begitu,” ujarku lagi, sementara Teana hanya tersenyum seraya menggenggam tanganku pelan.

      “Dia iri,” ujarnya lalu tersenyum.

     Aku hanya memandangnya, memejamkan mata sesaat lalu melempar pandangan ke arah lain, melangkahkan kakiku perlahan hingga aku berada di ujung beranda di depan kamar Aluna dan Shinta. Teana lantas mengikuti langkahku, berdiri sangat dekat di sampingku dan memagutkan jemarinya di jemariku.

     Begitu hangat, itulah yang kurasakan saat genggaman tangan lembutnya menempel ketat di atas kulitku. Ada perasaan tenang dan nyaman yang kurasakan saat wanita itu menempelkan tubuhnya di sebelahku dan menyandarkan kepalanya begitu nyaman di pundakku. Harum tubuhnya pun langsung terendus oleh indraku, memberikan rasa nyaman yang luar biasa di tubuhku.

      “Kakak gak akan begitu kan?” tanyaku pelan, “kakak gak iri sama kayak Nadine kan?”

      “Tam,” panggil Teana pelan, “kalo rasa iri itu pasti ada, boong kalo gak iri,” ujarnya lagi, “tapi aku gak akan pernah mau nunjukkin itu di depan kamu.”

      “Aku tahu apa-apa aja yang udah kamu lakuin sama Tata ato Luna,” ujar Teana lagi, “aku juga pengen kamu ngelakuin itu ke aku, jujur.”

      “Tapi,” ujarnya pelan, “aku tahu gimana Luna mirip banget sama Elya,” ujar Teana, “terus aku juga tahu, gimana manjanya Luna sama Tata ke kamu dari peristiwa waktu itu,” ujar Teana lagi, “tapi hal itu gak ngebuat aku marah atas apa yang kuliat kok.”

      “Aku cinta kamu, karena ya aku cinta,” ujar Teana, suara begitu lembut seraya genggaman tangannya terasa begitu hangat, “aku gak butuh alasan kan buat cinta sama kamu, dan aku juga gak butuh alasan buat marah sama kamu.”

      “Buatku, bisa ada di deket kamu, megang tangan kamu, manja sama kamu itu udah lebih cukup Tam.”

     Deg, jantungku langsung berdetak begitu cepat saat mendengar kata-kata itu keluar dari lisan lembut Teana. Ia memandangku dengan wajah yang sangat merah di atas senyuman yang mengembang begitu indah di bibirnya. Entahlah, apakah wajahku juga merah saat aku memandangnya, tetapi seluruh tubuhku terasa begitu merinding ketika ia memandangku dengan tatapan itu.

     Wajahku yang begitu panas, bahkan semakin panas saat ia menghela napas begitu pelan, membelai leherku dengan embusan udara yang keluar dari paru-parunya. Seketika tubuhku bergetar dengan begitu hebat, memberikan sebuah perasaan yang begitu luar biasa saat ini. Merengkuhku dalam hangat cintanya yang menyelimutiku di dinginnya udara pagi ini.

     Sejurus, ia menggenggam tanganku dan mengajakku untuk bersama-sama menjemput Aluna dan Shinta. Saat kami tiba di depan pintu kamar kedua wanita itu, Teana hanya memandangku dengan senyuman yang begitu berbeda, seolah menyatakan miliaran rasa yang saat ini tersimpan di dalam hatinya.

     Hanya beberapa kali ketukan, Aluna langsung membukakan pintu kamar itu, wajahnya masih sedikit pucat ketika ia memandangku kini. Jelas, terlihat ada ketakutan yang tersisa di tiap sorotan mata wanita itu. Aku mencoba menenangkannya walaupun aku tahu itu tidak akan sepenuhnya menghapus segala yang terjadi semalam.

      “Maem dulu Dek,” ujarku, seraya menggenggam tangan Aluna, ia hanya menggeleng pelan, “gak deh Kak, Dede di kamar aja.”

      “Dek Tata juga gak mau maem?” tanyaku, pandanganku beralih ke sosok wanita yang saat ini duduk di pinggir ranjang dengan wajah yang tidak kalah pucatnya dengan Aluna.

     Wanita itu menggeleng pelan, “gak Kak, Dede di kamar aja sama Luna.”

      “Takut sama Nadine?” tanya Teana lembut, sementara tidak ada jawaban apapun yang terlontar dari lisan mereka berdua, selain pandangan nanar seraya naik turunnya dada mereka.

     Aku hanya terdiam memandang Teana yang saat itu begitu lembut menyapa dan menggapai hati mereka, seolah tidak ada perasaan cemburu ataupun iri atas apa-apa yang telah kulakukan kepada kedua wanita itu. “Kalo aku tanya, kalian takut gak sama aku?”

     Spontan, kedua wanita itu menggelengkan kepalanya cepat, “kenapa harus takut sama Ka Nana?” tanya Aluna yang saat itu merespons kata-kata Teana.

     Teana tersenyum, “tapi kamu tahu kan Lun kalo aku juga cinta sama Tama?” tanya Teana lagi, kedua wanita itu spontan mengangguk, “kalo kalian gak takut sama aku, kenapa juga harus takut sama Nadine?”

      “Aku cinta sama Tama, bahkan aku posisiin cowok item jelek itu di atas segalanya buatku,” ujar Teana, meledekku dengan kata-katanya barusan, “tapi aku gak pernah mikir buat iri ato cemburu sama kalian.”

      “Deket sama Tama udah jadi hal yang bener-bener membahagiakan buat aku.”

     Aku terdiam, tertegun lagi dengan kata-kata yang barusan terlontar dari lisan seorang wanita yang lebih tua dariku. Ia melemparkan senyuman yang begitu hangat kepadaku, menyiratkan sebuah rasa cinta yang begitu luar biasa, terpendam begitu dalam di hatinya untukku. “Makasih,” ujarku singkat, “justru kalian yang bikin aku jadi ngerasa bahagia.”

      “Makasih,” ujarku singkat, “justru karena kalian aku bisa ngerasa berarti.”

     Tidak ada kata-kata lagi yang terlontar, hanya senyuman hangat dari ketiga wanita yang memancarkan rasa cintanya hingga menyelimutiku dengan perasaan yang begitu menyenangkan. “Yaudah, sarapan dulu yuk, abis itu kita jalan lagi,” Teana lalu menggenggam tanganku hangat.

     Wanita itu lalu mengajak kami untuk menyantap sarapan yang disediakan oleh pihak hotel, di mana sebelum kami menuju ke restoran, terlebih dahulu aku merapikan kamar dan meletakkan barang bawaan di dalam mobil. Pak Andre bahkan tampak sudah tidak sabar menanti kami semua agar segera bertolak menuju Bali, tujuan terakhir liburan kami.

     Setengah jam berlalu, aku bahkan tidak melihat Nadine dalam jangkauanku, entah kemana perginya gadis itu. Tapi satu hal yang kuketahui, ia masih saja menyimpan amarah atas apa yang terjadi kemarin. Sedikit cemasku tersembul dari lubuk hati yang terdalam, sungguh aku tidak ingin terjadi apa-apa kepada gadis itu.

      “Nadine kemana Pak?” tanyaku seraya menyamakan langkahku bersama Pak Andre yang saat ini sedang menuju ke mobil.

      “Dia tadi sarapan duluan Mas, terus langsung masuk di mobil Pak Yaya,” ujar Pak Andre ringan, “keliatannya dia malu gara-gara tadi pagi.”

     Aku terdiam sejenak, memandang ke arah mobil satunya dan menghela napas panjang, “saya harus ke sana kayaknya Pak.”

      “Gak usah dulu Mas,” ujar Pak Andre mencoba mencegahku, “mendingan Mas sedikit jaga jarak dulu, biar dia tahu kalo dia yang salah.”

      “Tapi Pak, saya khawatir dia kenapa-napa.”

      “Gak apa-apa Mas,” ujar Pak Andre ringan, “cinta itu emang saling membahagiakan, saya amat sangat setuju sama pola pikir Mas.”

      “Tapi, cinta itu gak menyakiti orang lain Mas,” ujar Pak Andre, kali ini nadanya serius, “saya gak mau kalo Mas masih manjain dia, nanti mereka yang bener-bener tulus malah tersakiti.”

     Deg, seketika seluruh tubuhku bergetar mendengar kata-kata Pak Andre barusan. Separuh hatiku ingin sekali melangkahkan kakiku untuk menuju ke tempat di mana Nadine berada saat ini. Tetapi, separuh hatiku yang lain mengatakan untuk tidak ke sana, menuruti kata-kata Pak Andre dan berjalan menuju mobil.

     Sudahlah, aku tidak ingin menambah waktu untuk hanya berdiam saja, aku lalu melangkahkan kakiku menuju ke pintu penumpang belakang. Saat kubuka sliding door ini, ketiga bidadari yang selalu setia sudah menungguku, senyuman hangat mereka seakan memberikan energi baru yang begitu menenangkan.

     Aku duduk di kursi paling belakang bersama Teana, sementara Aluna dan Shinta duduk di baris kedua. Sementara kursi penumpang depan di isi oleh Kevin yang saat itu hanya memandang ke arahku dengan senyuman yang agak dipaksakan.

     Kami melaju meninggalkan Kota Batu di jalanan menurun menuju Malang dengan kecepatan menengah. Jam 0900 pagi, itu adalah waktu yang tertera di Seiko 5 yang melingkar di pergelangan tangan kananku. Sesekali jemari lembut Teana mengenggam ringan tanganku seraya menyandarkan kepalanya di pundakku.

      “Tama apa akan pergi ya?” tanya Teana pelan, nadanya begitu lirih saat menelusup di telingaku.

      “Maksudnya Kakak?”

      “Ya, kamu kan sebentar lagi lulus, kamu pasti akan ketemu sama orang-orang baru, sama cewek baru, mungkin lebih cantik dari aku,” ujarnya pelan, “kamu pasti akan mudah lupain aku.”

      “Kak,” panggilku pelan, “cinta itu di dalam hati, yang sebenernya lokasinya di otak.”

      “Selama otak kita masih mendapat suplai darah, selama itu otak akan mengingat setiap rasa yang udah tercipta,” ujarku pelan, kupandangi wajahnya yang begitu merah saat itu. Sementara Aluna dan Shinta hanya memandangku sekilas di atas senyuman manis yang tersungging di bibir mereka yang tipis. “Selama itu juga, aku akan terus mencintai Kakak.”

      “Kalo kita gimana Tam?” tanya Aluna pelan, ia menoleh ke arahku, dilanjutkan dengan Shinta, wajah mereka berdua memerah saat itu.

      “Kan aku udah bilang, cinta itu ada di sini,” ujarku, lalu menempelkan telunjukku di kepala, “selama aku masih hidup, cinta itu pasti akan ada, dan gak akan pernah ilang.”

      “Cinta itu gak akan musnah, hanya berpindah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.”

      “Halah Tama, macem hukum kekekalan energi aja,” sahut Teana, tertawa kecil seraya menyentuhkan jemarinya di hidungku.

      “Itu namanya hukum kekekalan cinta Kak,” tukasku ringan, dan lisanku hanya disambut senyuman hangat oleh ketiga wanita itu.

     Volkswagen ini terus melaju, mengarah ke Kepanjen untuk melanjutkan perjalanan melalui jalur Semeru Selatan yang terkenal dengan panoramanya. Sebenarnya bisa saja Pak Andre memilih melaju ke Malang lalu ke Pasuruan dan menempuh jalur utara untuk menuju Banyuwangi, tetapi ia lebih memilih untuk menempuh lajur Selatan, dengan konsekuensi waktu tempuh jadi lebih lama.

     Tetapi itu semua terbayarkan dengan betapa anggun dan kokohnya Mahameru yang bertengger begitu angkuh di antara rimbunnya pepohonan yang terhampar di kompleks Pegunungan Tengger. Begitu luar biasa ciptaan Sang Malik, sekali lagi menyadarkan akan segala kesalahan dan juga dosa-dosa besar yang telah kuperbuat, betapa kecil dan tidak bergunanya aku saat ini, melampaui segala batasan yang ada, dan semuanya atas nama perayaan cinta yang salah.

     Semakin lama, jalan semakin menanjak hingga tibalah kami di sebuah jembatan yang dinamakan Gladak Perak. Terletak di Kabupaten Lumajang, tidak jauh dari Piket Nol yang merupakan titik tertinggi di jalur Semeru Selatan. Jembatan ini sendiri merupakan rekondisi dari jembatan lama yang dibangun pada tahun 1925 pada masa kolonial Belanda.

     Jembatan Gladak Perak dibangun di atas Sungai Besuk Sat, yang juga merupakan sungai aliran lahar dari puncak Mahameru apabila meletuskan erupsi. Sebuah tempat yang begitu indah ketika Pak Andre memutuskan untuk menepikan kendaraannya di sisi kiri jalan, di mana banyak pengendara sepeda motor yang berhenti dan melihat-lihat pemandangan yang ada.

     Jujur, aku pernah berada di sini saat tahun 2005, ketika itu masa mudik Lebaran, dan aku juga masih ingat bahwa aku pernah membayangkan berada bersama Aerish, saling bercengkrama walaupun hanya menghabiskan waktu untuk sesaat. Dan saat ini, bukan hanya Aerish yang ada di sisiku, tetapi para bidadari yang begitu tulus dan luar biasa yang menemaniku kini.

      “Di mana ini Kak?” tanya Aluna seraya menolehku.

      “Gladak Perak, Piket Nol,” ujarku singkat, “kita udah masuk wilayah Lumajang sekarang.” Aku lalu mengisyaratkan mereka untuk turun sejenak, sekadar menikmati kesejukan udara siang di kompleks Pegunungan Tengger ini.

     Saat kami keluar dari sini, udara sejuk yang tercampur dengan wangi daun menyambut kami dengan begitu ramah, memberikan kesejukan dan juga rasa tenang yang benar-benar menelusup hingga ke seluruh indraku. Sekali lagi, hati ini memuji kesempurnaan ciptaan Sang Jabbar yang saat ini terhampar di depanku dengan begitu luar biasa.

     Kuhela napas begitu panjang seraya melangkahkan kaki untuk menuruni anak tangga dan menuju jembatan Gladak Perak yang asli, terletak hanya beberapa meter dari jembatan baru yang berdiri kokoh di sebelah kiriku kini. Di sebelah kananku tampak celah di antara tebing curam, di mana sungai Besuk Sat ada di bawahnya. Aliran airnya pun tidak seberapa deras, bahkan bisa dikatakan bahwa alirannya tidak sesuai dengan lebar sungainya.

     Jembatan lama ini terlihat begitu usang, itu yang ada di pikiranku saat ini. Bahkan karat sudah menutupi sebagian besar konstruksi besi yang tersisa di jembatan ini. Dengan lebar jembatan yang hanya sekitar lima meter, tentu saja hal itu sudah tidak sesuai dengan kebutuhan transportasi masa kini.

     Jembatan ini memang dibuat pada jaman kolonial, tetapi pernah dihancurkan pejuang Indonesia, baru kemudian dibuat lagi. Terang saja, Lumajang adalah lumbung buah-buahan, termasuk tebu yang dibutuhkan untuk suplai makanan para imperialis pada masa itu. Seraya aku memandang ke arah celah di antar dua tebing itu, kuhela napas begitu panjang, ada sejarah yang terukir di tiap-tiap centimeter jembatan yang saat ini kuinjak.

     Sesekali, angin berembus dari celah tebing yang berada di sebelah kananku, menurungkan suhu beberapa centigrade di tempat ini. Cuaca yang begitu berawan juga menambah syahdunya suasana yang saat ini kurasakan, begitu sejuk mendekati dingin.

      “Bengong aja sayang,” ujar Shinta, ia lalu berdiri di sebelahku, menyandarkan separuh tubuhnya di tubuhku.

      “Gak bengong kok Dek,” sahutku lalu memandangnya, “cuma mikir aja, betapa banyak sejarah tercipta di tempat ini,” ujarku lagi seraya menyapu pandangan ke arah ujung jembatan lama dari arah Malang.

      “Dingin ya Kak,” ujar Shinta, ia memeluk sendiri tubuhnya yang saat itu hanya mengenakan kaus tipis berwarna kuning, yang jelas-jelas menampakkan keindahan apa-apa yang disimpan di baliknya.

      “Lagian Dede pake baju tipis bener,” ujarku, ia hanya memandangku dengan wajah yang sangat merah, dan makin menyandarkan tubuhnya kepadaku. Aku lalu merangkulnya, mencoba memberikan sedikit kehangatan yang mungkin tidak akan begitu terasa kepadanya kini.

      “Love you so much Kak,” ujar Shinta pelan, “Dede gak pernah bisa bayangin, gimana Dede tanpa Kakak.”

     Aku terdiam sejenak, mengembuskan napas begitu panjang dan pelan seraya berpikir, bagaimana mungkin aku tetap bertahan di keadaan seperti ini sekarang. Lisanku bahkan tak kuasa untuk sekadar merespons pernyataannya barusan, aku hanya bisa memandangnya yang tampak nyaman di sebelahku kini.

      “Kak, Dede rela kok kalo harus jadi yang kesekian,” ujarnya pelan, “Dede gak boong kok.”

     Lagi, aku hanya dapat terdiam mendengar untaian kata yang terucap dari Shinta, entah keberapa kali aku harus tertegun dengan ketulusan mereka. Dan itu semakin membuatku larut dalam buaian cinta yang seharusnya tidak seperti ini. Seandainya pun aku harus memilih, aku tidak tahu siapa yang harus kupilih saat ini. Hatiku tengah bimbang dalam gelombang yang mengombang-ambing perasaanku ke sana dan ke mari.

      “Kakak,” panggil Aluna, ia lalu berjalan bersama Teana dan juga Aerish yang saat itu tersenyum ke arahku, memberikan sebuah getaran yang begitu kuat di dalam dadaku kini. Deg, perasaan apa ini?

<<< SEBELUMNYA (EP261)

Diubah oleh ms.mriva
×
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di