alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/573370ce96bde6f9788b4569/kembalilah-tak-terungkap--ketulusan-cinta-para-bidadari--r-17

Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17



Quote:



Apa kau percaya dengan Hukum Kekekalan Energi?
Kalau aku percaya dengan Hukum Kekekalan Cinta.
Bahwa Cinta itu tidak dapat dibuat atau dimusnahkan.
Tetapi hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
Itulah cinta yang kupercaya.

Ini adalah kisah nyata tentang mereka.
Tentang semua cinta yang tak terbalas.
Tentang semua rasa yang tak terungkap.
Yang terukir indah dalam 874 lembar buku harianku sejak SMA.
Ditambah 101 halaman dari kisahku yang hilang bersama seseorang.

Maka, saat kau bertanya, mengapa kau masih ingat?
Buku harianku yang mengingatkanku.
Disana tertulis nama lengkap mereka.
Disana tertulis semua perkataan antara aku dan mereka
Disana tertulis semua proses pendewasaanku.

Ini kisah nyata.
Buku harian 975 lembar letter size itu saksi sejarahnya.
Ditulis dengan font Times New Roman 10 Pt.
Dan akan kutulis ulang semuanya untuk kalian.
Bidadari yang pernah datang mengisi hariku.
Bidadari yang mendewasakanku.



Orang bilang, jatuh cinta itu menyenangkan.
Aku mengakui itu, sepanjang aku jatuh cinta, rasanya menyenangkan.

Tetapi orang juga bilang, jatuh cinta itu menyakitkan.
Entah, tetapi aku tidak pernah setuju dengan frasa bahwa cinta itu menyakitkan.

Cinta adalah saat kita menginginkan orang yang kita cintai bahagia.
Tidak peduli seberapa sakitnya kita dibuatnya.
Karena ketulusan yang akan mengobati semua sakit.
Di atas senyum bahagia, dia yang kita cintai.

Namum, apabila ada banyak hati yang saling mencinta.
Apakah akan berakhir bencana?
Ataukah ketulusan yang akan menyembukan mereka.
Ini kisah tentang mereka.

Bidadari sempurna yang hadir dalam hidupku.



Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari





MAKLUMAT

Cerita ini berdasarkan kisah nyata, nama karakter disamarkan sesuai dengan kebutuhan untuk melindungi privasi dari tokoh yang ada di dalam cerita ini. Dan cerita ini sebisa mungkin menggunakan kaedah sastra secara teknis, sehingga akan dibutuhkan waktu yang lama untuk dicerna.

Rating dalam cerita ini adalah R-17, dengan kata lain, cerita ini mengandung bahasa yang kasar dan juga isi cerita yang hanya sesuai untuk usia 17 tahun atau di atasnya, dan atau usia di bawahnya dengan bimbingan orang yang lebih dewasa.

Perlu diingat, rating Restricted tidak serta merta hanya mengacu kepada konten cerita yang mengandung adegan dewasa, belajar dari cerita sebelumnya, saya selaku author akan meminimalisir cerita dengan adegan dewasa di thread ini. Restricted di sini mengacu kepada kompleksitas cerita yang akan mempengaruhi ideologi pada pembaca, khususnya remaja yang memiliki usia di bawah 17 tahun.

Penggunaan bahasa yang tidak pantas, serta adegan yang penuh dengan konspirasi dan atau tindakan kejahatan juga menjadi pertimbangan saya untuk tetap mempertahankan rating Restricted di dalam cerita ini, jadi terlebih dahulu harus dipahami mengapa saya tetap menggunakan rating R-17 pada cerita ini, dan bukan serta merta karena adanya adegan yang kurang pantas di sini.

Mohon untuk pembaca memahami bahwa tidak semua adagan dalam cerita ini bisa dicontoh, ditiru, dan atau diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, terlebih untuk material yang hanya boleh dilakukan untuk pasangan pernikahan yang sah. Pembaca dimohon untuk mengambil hikmah dari cerita ini sebaik-baiknya.

Kritik dan saran dari pembaca sangatlah saya harapkan, dan mohon maaf apabila banyak tulisan dari karya saya yang masih jauh menyimpang dari Sastra Indonesia. Saya mohon koreksinya dari pembaca, karena saya ingin tetap mempertahankan kaedah menulis Sastra, bukan asal cerita.

Demikian maklumat dari saya, Terima Kasih.


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


OVERTURE


     Selamat pagi rekan-rekan Kaskuser, khususnya di Sub-Forum Story from the Heart, perkenalkan, saya Faristama Aldirch, selaku Nubie SR di sini untuk berbagi kisah. Sebelumnya pasti rekan-rekan semua tahu apa alasan saya menggunakan User ID m60e38, tentunya ada hubungannya antara mesin BMW M60 dan sasis BMW E38.

     Tentu saja, cerita ini berawal dari saya yang jatuh cinta kepada Aerish Rivier, menyatakan cinta kepada gadis itu, dan membuat saya menanti akan sebuah balasan yang tak berujung. Menutup hati dari banyak hati yang berusaha mengisi hati saya dan berusaha tak acuh dengan apa yang saya alami sendiri. Hingga pada akhirnya banyak hal yang terlewatkan hingga semuanya menjadi satu.

     Tetapi, hal tersebut tidak pernah disadari oleh saya, Cauthelia Nandya datang dengan membawa cinta dan keikhlasan yang begitu luar biasa, tertuang dalam diary-nya sejak tahun 2002. Nadine Helvelina datang dengan cinta dan ketulusan yang tidak pernah bisa diragukan. Shinta Adinda yang menjadi sahabat terbaik saya juga datang dengan ketulusan yang benar-benar membuat saya berpikir tidak akan meninggalkannya.

     Arteana Andrianti, seorang Guru penjaga UKS yang merasakan bahwa saya adalah laki-laki yang telah menyelamatkannya di satu peristiwa pada pertengahan 2006. Hingga Aluna Amelia, gadis berdarah Oriental yang begitu cantik, mempercayakan segala perasaannya kepada saya atas semua apa yang pernah saya lakukan kepadanya.

     Ketulusan mereka semua sudah tidak mungkin diragukan lagi, apapun mereka lakukan bukan serta merta menginginkan saya bahagia, tetapi ingin yang lainnya bahagia. Memang ini terlihat menyenangkan, dicintai banyak wanita sekaligus, dan mereka terlihat begitu akrab dan juga akur satu sama lainnya, padahal hal tersebut benar-benar menjadi sebuah beban yang begitu luar biasa untuk saya.

     Semenjak kedatangan Erik di kehidupan saya, semuanya mulai terasa begitu berat, dengan anak buahnya, ia berusaha untuk mendekati satu per satu bidadari untuk sekadar mengancam saya, atau mungkin melakukan hal yang buruk kepada mereka. Hal tersebut membuat saya benar-benar was-was, terlebih saat ini saya tidak bisa tenang karena Cauthelia tidak bisa dihubungi.

     Satu persatu masalah muncul dan semuanya bermuara ke satu nama, yaitu Markus, siapakah orang itu? Entahlah, hanya Sang Jabbar yang tahu siapakah Markus itu, yang pasti semenjak kedatangan Nancy malam itu, setidaknya selain hengkangnya Erik perlahan dari kehidupan saya, muncul aliansi baru yang akan membantu saya mengungkap siapa dan apa tujuan Markus sebenarnya.

     Semoga cerita ini bisa menjadi salah satu kawan di kala senggang untuk rekan-rekan Kaskuser yang senang membaca cerita dengan format baku seperti yang saya suguhkan. Tidak perlu banyak kata-kata dalam pembukaan ini, saya akan melanjutkannya pada kisah yang akan saya tulis dengan format yang sama seperti cerita saya sebelumnya. Atas perhatian dan kerjasama Anda, saya mengucapkan Terima Kasih.

Quote:

profile-picture
profile-picture
profile-picture
just.endra dan 15 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh m60e38

Bidadari Tanpa Sayap | Bagian 18

BIDADARI TANPA SAYAP (BAGIAN 18)


      “Gampang banget menggigil kalo kedinginan!” pekik Shinta begitu panik, jujur aku juga bingung menghadapi situasi seperti ini, “cepetan buka bajunya terus peluk Luna Kak!” teriak Shinta, air matanya bahkan mengalir perlahan dari kedua matanya.

      Tanpa menghiraukan apapun, aku segera menanggalkan seluruh pakaianku yang basah ini. Kuraih tubuh Aluna dan Shinta yang saling berpagutan, dan kubimbing mereka untuk merebahkan diri di atas ranjang double bed ini. Kutarik selimut perlahan dan kututup tubuh kami bertiga di bawah selimut ini, berharap konduksi panas bersuhu tiga-puluh-tujuh-derajat-celcius ini bisa teradiasi dengan baik di dalamnya.

      Dinginnya udara di Batu membuat selimut yang kami gunakan tidak cepat menyerap panas dari tubuh kami bertiga, Aluna masih menggigil begitu kuat seraya suara gemeretak gigi yang beradu memenuhi ruangan ini. Rasanya, bagaikan mendengar asahan pisau yang begitu tajam dan menyayat hati siapapun. Bahkan Shinta sampai terisak saat mendekap Aluna dengan begitu erat saat ini.

      Lima menit berlalu, perlahan-lahan suhu tubuh Aluna mulai stabil meskipun napasnya masih terengah ketika aku masih mendekapnya erat. Aku dan Shinta saling berpandangan, wajahnya sangat merah ketika wajah kami bertiga saling berdekatan. Seiring dengan berjalannya waktu, Aluna semakin stabil, napasnya mulai teratur seraya wajah pucatnya berubah memerah ketika ia memandang kami.

      “kamu itu ngapain sih Lun sampe begitu sama Kakak?” tanya Shinta, nadanya begitu cemas, wanita itu hanya menggeleng pelan, ia mencoba tersenyum kepadaku, “kamu itu tahu gak, aku itu cemas ngeliat kamu gitu tadi,” pekik Shinta, air matanya perlahan mengalir dari kedua mata indahnya.

      “Gak apa-apa kok Ta,” ujar Aluna pelan, “maafin Dede yah Kak,” ujarnya lalu memandangku, “gara-gara Dede, semuanya jadi panik,” ia lalu tersenyum kepadaku.

      “Dede ngapain begitu kalo misalnya tahu gampang menggigil?” tanyaku pelan di telinganya, “Dede gak harus lakuin itu kan?” nadaku meninggi seraya ia memandangku, begitu dekat, dengan wajah yang bersalah, seakan-akan ia adalah penyebab semua ini.

      “Maafin Dede Kak,” ujarnya pelan, “Dede cuma gak pengen ngeliat Kakak begitu terus,” ujar Aluna lalu memandangku, “Dede udah ngomong ke Luna Kak, tapi dia tetep gitu,” tukas Shinta, saat itu wajah Aluna berubah, perlahan air matanya mengalir.

      “Maafin Dede ya Kak,” ujarnya lagi, “maaf udah bikin semuanya panik,” ujar Aluna pelan, “Dede cuma gak mau ngeliat Kakak sedih gitu, rasanya sesek kalo ngeliat Kakak mukanya sedih gitu,” ia terisak pelan, “Dede sayang banget sama Kakak, Dede cinta banget sama Kakak, Dede pengen Kakak selalu senyum, terus gak usah mikirin hal lainnya,” air mata itu masih mengalir pelan dari kedua matanya.

      “Dede gak perlu buktiin itu sampe harus ngorbanin diri Dede kan?” tanyaku, ia lalu menggeleng pelan.

      “Kakak inget, gimana Kakak lindungin aku dari Erik sama temen-temennya pas di Villa?” tanyanya, “Kakak inget pas rela digebukin sama temennya Dimas pas di pintu tol Pasteur?”

      “Kakak lupa semua hal yang udah Kakak lakuin kan?” tanya Aluna, “bahkan Kakak gak ada perasaan cinta apa-apa buat Dede saat itu,” ujarnya lagi.

      Deg, jantungku langsung berdetak sangat cepat, masih segar di ingatanku saat pukulan-pukulan Dimas dan temannya mendarat di tubuhku. Dan masih jelas juga saat satu per satu teman-teman Erik datang, menistakan tubuh-tubuh tak berdosa Teana, Shinta, dan Aluna yang saat itu menjadi jaminanku. Benar kata wanita itu, bahkan aku tidak memiliki perasaan apapun ketika bersusah payah melindungi mereka.

      “Apa Dede salah Kak?” tanya Aluna pelan, “saat ada rasa cinta di hati Dede buat Kakak, apa bisa Dede tetep diem ngeliat Kakak murung gitu?” tanyanya, “apa iya Dede setega itu buat orang yang udah mati-matian lindungin Dede?” nadanya meninggi seraya isakannya makin menjadi, air matanya pun mengalir pelan, terlihat bak butiran permata yang begitu bening.

      “Gak salah sayang,” ujarku pelan, “apa yang Dede lakuin gak salah kok,” ujarku lalu mengusap pelan kepalanya, ia tersenyum, “Dede sayang banget sama Kakak, Dede mau Kakak bahagia,” Aluna lalu mendekapku lebih erat, mengisyaratkan cinta yang begitu dalam dari lubuk hatinya.

      “Tapi kenapa semalem Dede gak kedinginan ya?” tanyaku keheranan, wanita itu hanya memandangku dengan wajah yang sangat merah.

      “Gimana mau kedinginan, kan Dede dipeluk terus diangetin terus sama Kakak,” ujar Aluna, aku lalu terdiam dan memandangnya, “sekali lagi, maafin Dede ya Kak.”

      “Iya sayang, tapi janji jangan ulangin lagi ya,” ujarku lalu melepas dekapanku, membuka selimut, dan segera memisahkan diri dari mereka. Wajah-wajah kecewa tampak dari dari tiap centimeter guratan kulit yang terlihat, bahkan mereka berdua mengerucutkan bibir mereka lalu memandangku.

      “No no no,” ujarku tiba-tiba menyadari, “udah mendingan kan gak usah aneh-aneh,” ujarku, berusaha pergi dari mereka.

      Secepat kilat dua pasang tangan mendarat di masing-masing tanganku, menarikku begitu manja. Kupandangi wajah mereka yang berubah sayu, pipi-pipi mereka merah seperti tomat, dan bahasa tubuh mereka terlihat begitu gelisah saat mencoba berdiri di belakangku. Aku menggeleng pelan, terlintas dalam pikiranku mengenai kegilaan-kegilaan yang mungkin terjadi ketika aku memenuhi apa-apa yang mereka inginkan.

      “Kak, tanggung jawab,” ujar Shinta dengan nada yang begitu manja, “angetin Dede juga ya,” ujarny lagi, “sama kayak Kakak angetin Luna pas di Sarangan.”

      “Enggak enggak,” ujarku menggeleng pelan, “gak sekarang, gak hari ini, gak di kehidupan ini.”

      “Sekali aja, please,” ujar Shinta lagi, “bertiga ya Ta,” ujar Aluna, mereka lalu berpandangan, “Kakak,” panggil mereka berdua manja bersamaan.

      Malam ini, aku melangkahkan kaki keluar dari kamar untuk mencari makan malam. Lesu sekali rasanya saat aku melangkahkan kakiku keluar dari sini. Mereka berdua sudah tertidur lelap di balik selimut, seraya pikiranku mencoba untuk tersadar, betapa runtuhnya pendirianku saat ini di balik semua yang terjadi di antara aku, Aluna dan Shinta. Semuanya terasa begitu salah dan hina saat ini.

      Alih-alih menuju ke restoran untuk makan malam, aku justru bersandar di depan beranda yang berada di depan kamarku, mencoba untuk terus tersadar dari semua hal gila yang sudah menjebakku. Supernova yang terjadi di dua Blackhole itu, bahkan terus menerus terngiang di kepalaku saat in beserta deru-deru redline panjang pada gir keenam mesin V10 Forced Induction dan V12 Naturally Aspirated itu.

      “Bengong aja Mas,” ujar Pak Andre, ia lalu bergabung di sebelahku, terselip di antara jari telunjuk dan jari manisnya rokok filter yang mengepulkan asap.

      “Iya nih Pak, lagi banyak pikiran,” ujarku lalu tersenyum kepada Pak Andre, ia menyambutku dengan tawa kecil yang begitu renyah. Ia mendekatkan tubuhnya dan merangkulku, mencoba memberikan sedikit sentuhan sahabat yang begitu terasa saat ini.

      “Masih muda, udah banyak pikiran,” ujar Pak Andre, meledekku dengan intonasinya, “udah jangan banyak dipikirin, selagi muda nikmati masa muda kamu Mas, nanti kalo udah mantep baru tentuin pilihan,” ujarnya lalu memandangku, “meskipun pilihan itu lebih dari satu.”

      Aku hanya tersenyum dan menggelengkan kepala pelan, “saya cuma milih Elya Pak, gak mau yang laen.”

      “Realistis Mas,” ujar Pak Andre, satu hisapan ringan rokok fiter mengakhiri kata-katanya barusan, “Mas udah ada calon, tinggal milih mana yang paling Mas suka, gampang kan,” ujar Pak Andre, “lagian gak ada loh Mas hubungan yang seaneh ini.”

      “Iya Pak aneh banget,” kuhela napas begitu panjang saat memandang Pak Andre, “saya sampe bingung, dosa dosa ini gimana saya minta ampunnya,” ujarku lagi, “saya tahu, cuma ada dua cara keluar dari Blackhole, membalikkan waktu ato jalan bergerak lebih cepat ketimbang kecepatan cahaya.”

      “Ya Mas hanya bisa lakuin cara kedua,” ujar Pak Andre, memulai lagi menghisap rokok yang masih mengepul itu, “kayak yang saya lakuin pas masih seumuran Mas dulu lah,” ujarnya lagi, “berat mas keluar dari ketergantungan itu, sampe akhirnya saya nikah, dan sejak itu saya tobat sampe hari ini.”

      “Rasa itu lebih bikin candu ketimbang rokok loh Mas,” ujarnya lagi, “saya bisa ngurangin rokok dari dua bungkus sehari sampe dua batang sehari,” ujar Pak Andre, tersenyum ke arahku, “tapi kalo ketergantungan sama itu, bukannya bisa ngurangin, malah minta nambah terus.”

      Benar apa yang dikatakan Pak Andre, rasa itu benar-benar semakin membuatku ketagihan. Saraf parasimpatikku benar-benar dimanjakan dengan impuls-impuls itu, memberikanku waktu sepuluh detik untuk terbang berulang kali di sana. Meledakkan Supernova begitu dahsyat di dalam Blackhole mereka, mengalirkan bintang-bintang baru di dalamnya, dan suatu saat akan menjadikan sebuah Bintang yang akan bersinar.

      Aku merasa, Tama yang dahulu hilang. Tama yang selalu menjaga agar tidak melintasi Semboyan 7 yang selalu menyala dengan galaknya menghadang tiap-tiap langkahku. Tama yang sekarang adalah orang yang malah sengaja menantang Semboyan 7, berjalan lebih cepat ketika lampu itu sudah menyala, dan malah melajukan lokomotif pada gir puncak, memanjakan lajunya, demi semua hasrat sesaat yang begitu menggelora.

      “Mas,” panggilnya seraya menepuk pelan pundakku, “gimana rasanya maen bertiga tadi?”

      “Kok tahu Pak?” tanyaku, jujur saja aliran darahku langsung melaju begitu cepat seraya lemasnya kakiku saat ini, ia hanya tersenyum. Detak jantungku terasa begitu cepat hingga sesak rasanya di dadaku ketika

      “Saya tahu Mas, meskipun gak perlu ngeliat,” ujar Pak Andre, “dua-duanya udah addicted sama Mas, apapun yang Mas lakuin, gak akan ngerubah cinta mereka sampe mereka mati,” ujarnya lalu memandang ke arah kamarku, “cinta mereka udah gede banget buat Mas, jangan sampe mas kehilangan mereka.”

      “Itu Pak yang saya pikirin dari tadi,” ujarku pelan, menatap ke arah langit hanya hanya disesaki oleh warna kelabu, tanpa ada kerlipan bintang yang bersembunyi di balik mega mendung yang menutupi kota ini, “apa jadinya saya kalo kehilangan mereka.”

      “Mas gak akan jadi apa-apa,” ujar Pak Andre setelah ia mengembuskan asap rokok dari mulutnya, “Mas cuma apa tanpa mereka yang selama ini udah ngajarin banyak hal ke Mas,” Pak Andre lalu menegakkan tubuhnya, “pertahanin mereka, bikin mereka makin deket, soalnya keliatan banget gap-nya di antara Teana, Nadine, Aerish ke Aluna sama Shinta.”

      “Bener kata Bapak,” ujarku dan menghela napas, “selama ini saya malah gak acuh sama mereka,” aku lalu memandang Pak Andre, “saya harus lakuin sesuatu biar mereka gak sedih, padahal mereka selalu berusaha buat saya gak sedih.”

      “Nadine aja Mas, yang laennya gak usah,” ujar Pak Andre, lalu menghisap lagi rokok filternya, “yang saya liat masih labil cuma Nadine, kalo Teana udah jelas dia dewasa banget,” ujar Pak Andre, “nah kalo Aerish, dia malah makin deket sama Dika, jadi saya rasa Mas harus konsen ke Nadine aja.”

      Ada benarnya kata-kata Pak Andre, saat itu aku menyadari bahwa Nadine lah yang selama ini paling mudah berubah perasaannya, tidak dengan Teana, terlebih Cauthelia. Teringat saat tadi pagi ketika Nadine malah menjauhiku dan Teana yang saat itu tidak ikut dengan rombongan teman-temanku yang lain. Saat itu aku tersadar, bahwa Nadine masih sedikit labil dengan keputusannya.

      Pak Andre kemudian mengajakku turun, ia mencarikanku tempat untuk makan malam di mana Nadine sudah berada di sana saat ini. Aku melambaikan tangan ke udara, ia menyambutku begitu hangat di atas senyumannya yang begitu khas dan meneduhkanku. Aku duduk di sebelahnya, sementara ia masih tersenyum dengan raut wajah yang belum berubah.

      “Tata sama Luna mana Tam?” tanya Nadine, ia adalah salah seorang yang tidak pernah tahu kejadian Bali dan sejauh apa hubunganku dengan Aluna serta Shinta.

      “Lagi di kamar tuh tidur abis menggigil tadi si Luna,” ujarku, seolah tidak terjadi apa-apa di antara kami, “daritadi tidur, mungkin kecapean dia.”

      “Kamu gak abis ngapa-ngapain kan sama Luna?” selidik Nadine, kali ini wajahnya langsung berubah, “gak kok Nad,” ujarku berusaha tetap menatap matanya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa barusan.

      “Tadi pagi kata Kevin kamu bobo sama Luna, bener?” tanya Nadine, menyelidikiku dengan nada yang begitu penasaran, aku mengangguk pelan namun pasti, “bener Nad, aku bobo sama Aluna semalem soalnya jalan-jalan ke belakang Telaga terus baliknya keujanan.”

      “Oh,” sahutnya seraya mengangguk, saat itu ia langsung terdiam.

      Ada apa dengan Nadine? Tanyaku dalam hati saat pandanganku tertuju kepada wajahnya yang telah berpaling dariku, entahlah tetapi aku merasakan ada sesuatu yang berbeda dari gadis itu. Senyuman hangat dan meneduhkannya langsung hilang seketika saat aku mengatakan masalah Aluna tadi, apa benar dugaanku selama ini apabila Nadine cemburu dengan Aluna.

      Aku tidak ingin mencari tahu, aku hanya merasakan sikapnya yang begitu dingin layaknya udara di Kota Batu malam ini, lebih dingin bahkan. Matanya sesekali menatapku dengan tajam seraya bahasa tubuhnya yang terlihat tidak nyaman dengan kehadiranku saat ini. “Nad, abis maem aku mau ngomong sama kamu, berdua aja ya,” ujarku, ia hanya memandangku sepintas, mengangguk pelan lalu melanjutkan makan malamnya.

      Setengah jam dalam kebisuan masih membuat Nadine tetap bergeming dalam raut wajah yang sama seperti tadi, hanya sesekali menatapku dengan pandangan yang begitu tajam. Entahlah, tetapi inilah Nadine, ia bisa berubah dari kondisi satu ke kondisi yang lainnya dengan begitu cepat karena gadis ini memang memiliki sifat yang seperti itu, terlebih dalam perasaan yang seperti itu.

      Rintik-rintik hujan masih membahasi Kota Batu ini, hawanya begitu dingin sama seperti dinginnya genggaman tangan yang kupagut saat aku mengajaknya untuk sekadar berjalan dan menjauhi keramaian. Hanya suara gemercik hujan, sesekali beradu dengan genangan-genangan air yang berada di sekitar kami, menyisakan sebuah simfoni, begitu merdu di kala malam gelap ini.

      “Nad,” sapaku pelan, “hmm,” sahutnya, tidak menghentikan langkahnya hanya terus berjalan mengikuti kemana kakiku melangkah saat ini.

      “Kamu bete sama aku?” tanyaku pelan, “enggak,” sahutnya singkat.

      “Kamu marah sama aku?” tanyaku lagi, “enggak.”

      “Terus kamu kenapa Nad?” tanyaku lagi, kali ini intonasiku lebih pelan, “aku gak apa-apa.” Sungguh jawaban yang tidak ingin kudengar keluar dari lisan seorang gadis yang saat ini ada di sebelahku. Sejalan, aku menghentikan langkah dan memutar tubuhku, menghadap kepadanya dan tersenyum, “kalo ada sesuatu yang mau diomongin, kamu ngomong aja sayang,” sahutku lalu kubelai rambutnya.

      Ia menanggapi dingin belaianku, wajahnya hanya menatap tegak lurus melewati tubuhku, ada perasaan yang begitu berbeda yang kurasakan terpancar dari tubuh gadis ini. Ia masih bungkam, membiarkan seluruh tubuhnya membiasakan terdiam dalam kondisi seperti itu. Bahkan saat kuusap pipinya, ekspresinya masih tidak berubah, masih saja sama seperti barusan.

      Ada apa Nad? Batinku terus menerus berteriak seraya detak jantungku berdenyut makin cepat hingga benar-benar terasa sesak saat aku memandang gadis itu. Tidak ada ekspresi apapun, hanya pandangan dingin dengan bibir cemberut yang terlihat di bawah temaramnya lampu taman yang berada di dekat sini. Dadanya terlihat naik turun menahan amarah saat aku mengusap pelan bibir bawahnya saat itu.

      “Udah lah Tam,” ujar Nadine, intonasinya cukup tegas meski suaranya pelan, “ngaku sama aku, kamu ngapain sama Luna?” tanya Nadine, mencoba mengeluarkan apa-apa yang tampak ia pendam sejak tadi.

      “Aku sama Luna,” ujarku pelan, terputus oleh helaan napas yang menyesakkan dadaku, “ya sama kayak aku ke kamu, ke Kak Nana, ke Tata, ke Elya,” ujarku lalu memejamkan mata.

      “Semaleman di luar gitu?” tanya Nadine, nadanya mulai meninggi, aku hanya mengangguk pelan, tetap berusaha tersenyum saat mata itu memandangku begitu tajam seolah ingin mengulitiku. Tangannya dikepal begitu keras berusaha untuk tidak meluapkan emosinya yang semakin menjadi-jadi, aku hanya “kok bisa sih Tam!”

      “Aku mati-matian pertahanin ini buat kamu, nahan sakit hati dicuekin sama kamu bertahun-tahun, pas ada Aluna kamu lebih cinta sama dia?” ia membentakku, suara begitu menggelegar. Aku hanya hanya terdiam mendengar kata-kata yang terlontar dari lisan gadis itu, “aku gak terima Tam, aku gak terima kalo kamu lebih cinta ke Aluna ketimbang sama aku!”

      Apa-apaan Nadine? Hatiku kembali bergumam, selama ini ia hanya menahan kekesalannya, berkata-kata seolah-olah tidak terjadi apa-apa di dalam hatinya dan kini ia mengatakan bahwa ia tidak terima apabila aku mencintai Aluna lebih besar ketimbang dia. “Terus kalo aku lebih cinta Elya ketimbang kamu, kamu juga gak terima?” tanyaku pelan.

      “Kamu tanya aja sama cewek laen, ada gak yang rela kalo cowok yang paling dia cinta mendua?” tanya Nadine, napasnya begitu terburu saat patah-demi-patah kata terlontar, “cuma cewek bego tolol aja yang mau terus dibego-begoin sama cowok yang maruk kayak kamu Tam!” gadis itu membentakku, aku hanya terdiam dan memandangnya, jujur kata-katanya barusan justru menyadarkanku atas semua yang telah terjadi selama ini.

      “Kamu bener Nad,” ujarku lalu tersenyum, “aku cuma cowok maruk yang gak pantes dapetin bidadari, apalagi yang kayak kamu,” aku menghela napas begitu panjang, “mulai sekarang aku mau,” ujarku sedikit tertahan oleh pandangannya yang penuh dengan amarah itu.

<<< SEBELUMNYA (EP258)


Diubah oleh ms.mriva
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di