alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/573370ce96bde6f9788b4569/kembalilah-tak-terungkap--ketulusan-cinta-para-bidadari--r-17

Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17



Quote:



Apa kau percaya dengan Hukum Kekekalan Energi?
Kalau aku percaya dengan Hukum Kekekalan Cinta.
Bahwa Cinta itu tidak dapat dibuat atau dimusnahkan.
Tetapi hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
Itulah cinta yang kupercaya.

Ini adalah kisah nyata tentang mereka.
Tentang semua cinta yang tak terbalas.
Tentang semua rasa yang tak terungkap.
Yang terukir indah dalam 874 lembar buku harianku sejak SMA.
Ditambah 101 halaman dari kisahku yang hilang bersama seseorang.

Maka, saat kau bertanya, mengapa kau masih ingat?
Buku harianku yang mengingatkanku.
Disana tertulis nama lengkap mereka.
Disana tertulis semua perkataan antara aku dan mereka
Disana tertulis semua proses pendewasaanku.

Ini kisah nyata.
Buku harian 975 lembar letter size itu saksi sejarahnya.
Ditulis dengan font Times New Roman 10 Pt.
Dan akan kutulis ulang semuanya untuk kalian.
Bidadari yang pernah datang mengisi hariku.
Bidadari yang mendewasakanku.



Orang bilang, jatuh cinta itu menyenangkan.
Aku mengakui itu, sepanjang aku jatuh cinta, rasanya menyenangkan.

Tetapi orang juga bilang, jatuh cinta itu menyakitkan.
Entah, tetapi aku tidak pernah setuju dengan frasa bahwa cinta itu menyakitkan.

Cinta adalah saat kita menginginkan orang yang kita cintai bahagia.
Tidak peduli seberapa sakitnya kita dibuatnya.
Karena ketulusan yang akan mengobati semua sakit.
Di atas senyum bahagia, dia yang kita cintai.

Namum, apabila ada banyak hati yang saling mencinta.
Apakah akan berakhir bencana?
Ataukah ketulusan yang akan menyembukan mereka.
Ini kisah tentang mereka.

Bidadari sempurna yang hadir dalam hidupku.



Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari





MAKLUMAT

Cerita ini berdasarkan kisah nyata, nama karakter disamarkan sesuai dengan kebutuhan untuk melindungi privasi dari tokoh yang ada di dalam cerita ini. Dan cerita ini sebisa mungkin menggunakan kaedah sastra secara teknis, sehingga akan dibutuhkan waktu yang lama untuk dicerna.

Rating dalam cerita ini adalah R-17, dengan kata lain, cerita ini mengandung bahasa yang kasar dan juga isi cerita yang hanya sesuai untuk usia 17 tahun atau di atasnya, dan atau usia di bawahnya dengan bimbingan orang yang lebih dewasa.

Perlu diingat, rating Restricted tidak serta merta hanya mengacu kepada konten cerita yang mengandung adegan dewasa, belajar dari cerita sebelumnya, saya selaku author akan meminimalisir cerita dengan adegan dewasa di thread ini. Restricted di sini mengacu kepada kompleksitas cerita yang akan mempengaruhi ideologi pada pembaca, khususnya remaja yang memiliki usia di bawah 17 tahun.

Penggunaan bahasa yang tidak pantas, serta adegan yang penuh dengan konspirasi dan atau tindakan kejahatan juga menjadi pertimbangan saya untuk tetap mempertahankan rating Restricted di dalam cerita ini, jadi terlebih dahulu harus dipahami mengapa saya tetap menggunakan rating R-17 pada cerita ini, dan bukan serta merta karena adanya adegan yang kurang pantas di sini.

Mohon untuk pembaca memahami bahwa tidak semua adagan dalam cerita ini bisa dicontoh, ditiru, dan atau diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, terlebih untuk material yang hanya boleh dilakukan untuk pasangan pernikahan yang sah. Pembaca dimohon untuk mengambil hikmah dari cerita ini sebaik-baiknya.

Kritik dan saran dari pembaca sangatlah saya harapkan, dan mohon maaf apabila banyak tulisan dari karya saya yang masih jauh menyimpang dari Sastra Indonesia. Saya mohon koreksinya dari pembaca, karena saya ingin tetap mempertahankan kaedah menulis Sastra, bukan asal cerita.

Demikian maklumat dari saya, Terima Kasih.


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


OVERTURE


     Selamat pagi rekan-rekan Kaskuser, khususnya di Sub-Forum Story from the Heart, perkenalkan, saya Faristama Aldirch, selaku Nubie SR di sini untuk berbagi kisah. Sebelumnya pasti rekan-rekan semua tahu apa alasan saya menggunakan User ID m60e38, tentunya ada hubungannya antara mesin BMW M60 dan sasis BMW E38.

     Tentu saja, cerita ini berawal dari saya yang jatuh cinta kepada Aerish Rivier, menyatakan cinta kepada gadis itu, dan membuat saya menanti akan sebuah balasan yang tak berujung. Menutup hati dari banyak hati yang berusaha mengisi hati saya dan berusaha tak acuh dengan apa yang saya alami sendiri. Hingga pada akhirnya banyak hal yang terlewatkan hingga semuanya menjadi satu.

     Tetapi, hal tersebut tidak pernah disadari oleh saya, Cauthelia Nandya datang dengan membawa cinta dan keikhlasan yang begitu luar biasa, tertuang dalam diary-nya sejak tahun 2002. Nadine Helvelina datang dengan cinta dan ketulusan yang tidak pernah bisa diragukan. Shinta Adinda yang menjadi sahabat terbaik saya juga datang dengan ketulusan yang benar-benar membuat saya berpikir tidak akan meninggalkannya.

     Arteana Andrianti, seorang Guru penjaga UKS yang merasakan bahwa saya adalah laki-laki yang telah menyelamatkannya di satu peristiwa pada pertengahan 2006. Hingga Aluna Amelia, gadis berdarah Oriental yang begitu cantik, mempercayakan segala perasaannya kepada saya atas semua apa yang pernah saya lakukan kepadanya.

     Ketulusan mereka semua sudah tidak mungkin diragukan lagi, apapun mereka lakukan bukan serta merta menginginkan saya bahagia, tetapi ingin yang lainnya bahagia. Memang ini terlihat menyenangkan, dicintai banyak wanita sekaligus, dan mereka terlihat begitu akrab dan juga akur satu sama lainnya, padahal hal tersebut benar-benar menjadi sebuah beban yang begitu luar biasa untuk saya.

     Semenjak kedatangan Erik di kehidupan saya, semuanya mulai terasa begitu berat, dengan anak buahnya, ia berusaha untuk mendekati satu per satu bidadari untuk sekadar mengancam saya, atau mungkin melakukan hal yang buruk kepada mereka. Hal tersebut membuat saya benar-benar was-was, terlebih saat ini saya tidak bisa tenang karena Cauthelia tidak bisa dihubungi.

     Satu persatu masalah muncul dan semuanya bermuara ke satu nama, yaitu Markus, siapakah orang itu? Entahlah, hanya Sang Jabbar yang tahu siapakah Markus itu, yang pasti semenjak kedatangan Nancy malam itu, setidaknya selain hengkangnya Erik perlahan dari kehidupan saya, muncul aliansi baru yang akan membantu saya mengungkap siapa dan apa tujuan Markus sebenarnya.

     Semoga cerita ini bisa menjadi salah satu kawan di kala senggang untuk rekan-rekan Kaskuser yang senang membaca cerita dengan format baku seperti yang saya suguhkan. Tidak perlu banyak kata-kata dalam pembukaan ini, saya akan melanjutkannya pada kisah yang akan saya tulis dengan format yang sama seperti cerita saya sebelumnya. Atas perhatian dan kerjasama Anda, saya mengucapkan Terima Kasih.

Quote:

profile-picture
profile-picture
profile-picture
just.endra dan 15 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh m60e38

Bidadari Tanpa Sayap | Bagian 16

BIDADARI TANPA SAYAP (BAGIAN 16)


      “Tama!” pekik Kevin di sebelahku, “apaan sih Vin?” tanyaku seraya membuka mataku, menyadari Aluna tengah mendekapku hangat

      “Loe bisa-bisanya tidur bareng Luna di sini?” tanyanya, setengah heran namun wajahnya kesal. Aku menghela napas begitu panjang, menyadari bahwa Aluna saat ini masih tertidur dengan amat lelap, ia pun hanya mengenakan kemeja milikku.

      “Udah loe jangan liat-liat,” ujarku lalu mengucek mataku, dan menutup selimutku lebih tinggi, menutup tubuh Aluna yang sedikit tersingkap dari baliknya.

      “Sekalinya gue naksir sama cewek udah diembat sama Tama,” sungut Kevin, ia lalu melangkahkan kaki untuk keluar, “bangun Tam, udah jam berapa ini, biar cepet jalan lagi ke Bali.” Kevin lalu menutup pintu dan saat itu aku baru tersadar bahwa aku terbangun pada pukul 0830.

      Aku segera membangunkan Aluna, sesaat setelah ia membuka matanya, ia malah mendekapku dengan begitu erat, ia bahkan tetap bergeming di atas kasur ini dan tidak menggerakkan tubuhnya lagi. Setelah kata-kata lembut yang kuucapkan di telinganya, ia pun terbangun dan mengajakku untuk mandi, aku mengiyakan keinginannya untuk membasuhkan tubuhku di antara dinginnya air dan hawa pegunungan ini.

      Dan lagi, pagi ini semua dosa-dosa itu terulang dengan begitu cepatnya, mengakhiri semuanya dengan indah di balik perayaan cinta yang amat salah. Hal itu kembali menerbangkan perasaan cintaku kepada wanita yang saat ini sudah benar-benar berada dalam pelukku, “makasih yah Kak buat semua kebahagiaan yang udah dikasih buat Dede.” Ia lalu memagut Labia oris-ku di antara dinginnya air yang membasuh tubuh kami berdua.

      “Ehm ehm, semalem pada kemana nih?” tanya Shinta, ia tampak curiga dengan apa yang telah kami lakukan semalam. Aluna hanya tersenyum, wajahnya sangat merah, ia bahkan hanya duduk di sebelah Shinta dan menyembunyikan tangan kanannya meskipun gemerincing itu sedikit terdengar. Mata Shinta langsung menatap lekat-lekat gelang yang tersemat di pergelangan tangan kanan wanita itu.

      “Dikasih hadiah ulang tahun ya sama Kakak?” tanya Shinta lalu memandangku, aku mengangguk pelan, seolah menyetujui apa yang ditanyakannya barusan. Wanita itu tersenyum dengan begitu manis, seraya ia menegakkan tubuhnya, berdiri dan berjalan menjauhi kami.

      “Tunggu sebentar yah Kak, Dede ambilin maem buat kita,” ujarnya manja, “gantian, kan biasanya Kakak yang ambilin buat kita.” Ia lalu pergi, menyisakan wangi vanili yang begitu lembut menelusup ke seluruh tubuhku.

      Aku memandang dari belakang wanita yang begitu ramah menyambutku dengan dekapan cinta yang selalu saja terbuka untukku, rasanya begitu indah dan damai saat ini. Sesekali aku menyapu pandangan ke arah Teana dan Nadine yang duduk berseberangan denganku. Ada rasa canggung saat aku memandang lekat-lekat wajah gadis itu, sebuah rasa bersalah yang sulit kutebus kepadanya.

      Entahlah, mengapa segalanya begitu cepat ketika Aluna datang di hidupku, memberikan sejuta asa yang indah dan tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Lamunanku bahkan sesekali melayang mengingat semua yang telah terjadi, dan perasaan ini benar-benar rasa yang begitu sama dengan rasa yang kurasakan saat aku bersama Cauthelia. Rasa yang datang begitu cepat dan begitu terpatri di hatiku.

      Shinta kembali membawakan makanan untuk sarapan kami bertiga, matanya berseri seraya senyuman yang tersungging begitu indah di bibirnya yang merah muda itu. Ia lalu duduk di seberangku, memperhatikan Aluna yang berada di sebelahnya seraya memulai sarapan yang telah ia ambil sendiri. Sesekali aku masih memandang Nadine dan Teana yang berada di sana, wajah mereka bahkan tidak menampakkan kesedihan sama sekali.

      Obrolan demi obrolan hangat tercipta di pagi yang begitu dingin ini, bahkan Nadine dan Teana yang sedari tadi hanya duduk berdua di sana pun ikut menghabiskan sarapan bersama kami. Ada rasa begitu hangat dan nyaman berada di sekitar mereka, seolah-olah ada naungan yang tak kasat mata melindungiku kini, dan aku merasa begitu aman berada di sekeliling mereka.

      Setengah jam berlalu begitu cepat bersama keempat bidadari itu, dan setelah semuanya menyelesaikan sarapan masing-masing kami langsung keluar dari penginapan ini dan menuju ke arah telaga yang tidak jauh dari kami. Di bawah limpahan sinar mentari yang bahkan tidak terasa hangat di kulitku, semuanya dikalahkan oleh dinginnya udara pegunungan yang memberikan sensasi yang amat berbeda untukku.

      Di sana, mataku tertuju ke arah gubuk tempatku menghabiskan malam di bawah hujan bersama Aluna. Sesaat aku berpandangan dengannya, wajahnya langsung memerah di atas senyum yang tersungging begitu indah saat itu. Entah apa yang kupikirkan, tetapi apapun yang terjadi bersamanya sudah membuatku begitu terpatri akan kehadirannya, mengubah segalanya menjadi begitu indah dengan cepat.

      “Kak,” panggil Shinta seraya menggenggam tanganku, ia lalu menarik pelan tanganku hingga agak menjauh dari semua orang, “kenapa Dek?” tanyaku setengah keheranan.

      “Dede boleh tanya sesuatu?” tanya Shinta, wajahnya mendadak menjadi merah saat ia melontarkan lisannya, aku mengangguk dan tersenyum, mengisyaratkannya. “Kakak udah berapa kali sama Luna semalem?” tanyanya, wajahnya sangat merah.

      Deg, detak jantungku langsung berdegup sangat kencang, napasku langsung sesak saat Shinta seolah mengetahui apa yang terjadi semalam bersama Aluna. Aku menghela napas begitu panjang, mencoba untuk menenangkan diriku lalu memandangnya, “Kakak gak tahu Dek,” sahutku pelan, “itu kejadian gitu aja sama Luna.” Sesaat lisanku menjadi kelu setelah mengatakan itu.

      “Luna!” panggil Shinta agak keras, lalu wanita itu datang menghampiri kami, jujur saja perasaanku mendadak tidak enak ketika melihat Aluna datang dan berdiri di sebelah Shinta, mereka berdua tersenyum dan memandangku, “who’s the best?” tanya Shinta dan Aluna berbarengan, dan aku hanya menggelengkan kepalaku pelan, “Kakak gak punya jawaban atas pertanyaan itu.”

      “Lucu banget ngeliat Kakak mukanya merah,” ujar Shinta lalu tertawa kecil, “iya biasanya Kakak kan orangnya cuek,” sambung Aluna lalu mereka berdua tertawa kecil.

      “Ada gak pertanyaan laen selain hal itu?” tanyaku ketus, wajahku masih terasa begitu panas, lalu mereka berdua hanya tertawa melihatku, “yaudah nanti aja kita buktiin di Bali yah,” ujar Shinta lalu ia menggandeng tangan Aluna dan kembali bersama yang lain.

      Bodoh, gumamku dalam hati ketika melihat mereka di sana, ada perasaan yang begitu aneh di dalam hatiku kini, ya aku sadar aku sudah melintas terlalu jauh melewati event horizon bersama Aluna dan Shinta. Aku hanya terdiam, mendengar deburan ombak ringan yang sesekali memercikkan air-air yang begitu dingin hingga bersalaman manja dengan kulit-kulitku.

      Kuhirup udara pegunungan ini dalam-dalam, mencoba berdamai dengan apa-apa yang sudah terjadi di dalam hidupku kini. Kupandangi keempat bidadari itu, dan entahlah mengapa ini semua terasa fana? Semuanya terasa begitu tidak masuk akal ketika satu persatu kejadian itu datang di hidupku. Semua membawakan arti tersendiri yang membuatku semakin tenggelam dalam lautan cinta yang menggelora.

      Kemana semua ideologi yang selalu kupertahankan mengenai cinta? Kemana larinya logika yang selama ini kukedepankan tentang kasih sayang? Semuanya berakhir ketika hal-hal itu terjadi dalam hidupku. Rasa itu bagaikan candu yang begitu nikmat, menjebakku dalam rasa yang seakan meminta lagi dan lagi tanpa peduli bahwa apa-apa yang kulakukan adalah sebuah dosa besar.

      Bodoh, gumamku dalam hati ketika melihat mereka di sana, semuanya tidak dapat kuulangi bahkan aku malah menghujat waktu yang selalu sombong berjalan maju tanpa pernah menoleh mundur sedikitpun. Aku tidak tahu, apakah yang mereka anggap benar itu benar juga untukku? Jujur, ingin rasanya aku menegakkan kepala sejenak, keluar dari samudera cinta yang sudah menyambutku dengan lembut ini.

      Pikiranku masih saja berkecamuk, meninggalkan pertanyaan yang begitu intens terngiang di kepalaku. Sampai kapan aku harus bertahan di posisi ini? Aku sadar, pada akhirnya aku harus memilih salah satu dari mereka, dan saat ini aku tidak mungkin memilih, kebimbangan di hati ini terasa begitu berat, dan aku tidak mungkin bisa lepas dari rasa cinta mereka yang sudah melekat di jiwa dan ragaku.

      Cauthelia, aku sangat merindukan gadis itu. Entahlah, meskipun Aluna adalah representasi Cauthelia dengan apa-apa yang ia miliki, tetapi hatiku masih saja menunjuk Cauthelia. Aku akan memilihnya, itu yang diucapkan hatiku berulang-ulang saat aku menyadari bahwa Cauthelia adalah gadis yang sudah memberikanku segalanya. Ia yang mengajarkanku segalanya tentang cinta dan ketulusan.

      Apa yang aku cari, semuanya ada di dalam gadis itu, begitu sempurna dan tanpa ada salah sedikitpun, setidaknya itu yang selalu ada di mataku. Tidak ada yang seperti dia, dan aku tahu itu ketika aku memejamkan mataku kini. Semua kenangan itu seolah terputar, tampak jelas di dalam benakku, dan hanya satu suara lembut yang selalu terngiang di kepalaku, Cauthelia.

      “Tam,” panggil suara itu lembut, seketika aku membuka mataku, menghela napas begitu panjang dan menoleh ke arah kiri, “Kak Nana.”

      “Apa sih yang kamu pikirin Tam, perasaan itu di mata kamu keliatan berat banget?” tanya wanita itu lembut, jemarinya memagut pelan jemariku, senyumanya begitu teduh menenangkanku.

      “Aluna Kak,” ujarku singkat, aku menghela napas panjang lagi, melempar pandanganku ke arah Aluna yang selalu melihatku dengan senyum yang begitu lekat di bibirnya, “aku gak bisa berenti mikirin dia.”

      “Wajar lah Tam,” ujar Teana pelan, “dia mirip sama Elya,” ujarnya lagi, “seluruh badan kamu pasti nerima dia sebagai Elya, aku tahu itu.”

      Aku terdiam, mengiyakan apa-apa yang telah wanita itu katakan. “Kak gak ikutan naek speedboat?” tanyaku seraya melempar pandanganku ke arah semua orang di sana seraya mengalihkan pembicaraan yang sedang berlangsung, “kamu itu sayang, bisa aja ngelesnya,” Teana lalu tertawa kecil.

      “Aku takut Tam, kalo kamu maen naek, sana gih,” ujarnya lagi, aku lalu tersenyum dan menggeleng, “kan tadi di hotel aku udah ngomong, kalo misalnya Kak Nana gak naek, ya aku gak naek juga,” sambungku, wanita itu lalu mengangguk.

      “Jalan-jalan aja muter-muter telaga,” ujarku, saat itu Teana hanya memandangku keheranan, “gak cape Tam?” tanyanya dengan nada yang tidak percaya.

      “Tenang aja Kak,” sahutku ringan, “semalem aku jalan sama Aluna, rasanya gak terlalu cape kok.”

      “Aluna kan?” ujar Teana lalu tertawa kecil seraya langkahku memimpin perjalanan ini menjauhi seluruh temanku, “udah ngapain aja sama Aluna, Tam?” tanya Teana, jujur pertanyaan itu langsung membuat sekujur tubuhku merinding, aku bahkan tidak kuasa menjawab pertanyaan itu.

      “Jawab sayang,” ujar Teana, mendekatkan lisannya di sebelah telingaku, membuatku semakin terpojok dengan pertanyaan yang barusan ia lontarkan.

      “Kalo kak Nana tanya, aku udah ngapain aja sama Luna,” ujarku pelan lalu memandangnya, “semuanya udah kejadian pas di Semarang kok,” ujarku pelan, saat itu Teana hanya tersenyum dan memandangku dengan wajah yang merah.

      “Aha, udah dapet dua ya,” ujar Teana lalu mengacak-acak rambutku yang sebenarnya sudah acak-acakan ini, “ternyata Tama udah makin gede ya sekarang,” ujar Teana lagi, saat itu aku menghentikan langkahku, menghela napas begitu panjang dan memandang wanita ini.

      “Bukan mau aku Kak,” ujarku pelan, “aku jujur gak pengen ini semua kejadian,” sambungku lagi, “aku cuma pengen punya pacar, normal, gak diwarnain sama hal-hal kayak gini.”

      Teana lalu tersenyum begitu manis ke arahku, jemari lembutnya yang sedari tadi menggenggam tanganku dipagutnya makin erat. Ia lalu menuju ke depanku, membalik tubuhnya dan memandangku dengan pandangan yang begitu teduh. Jujur saja, aku sangat lumpuh dengan pandangannya yang sangat menusukku kini, bahkan dadaku terasa sesak ketika helaan napasnya terasa hingga ke wajahku.

      “Apapun itu Tam,” ujarnya pelan, “aku selalu sayang sama kamu, aku selalu cinta sama kamu.” Aku terdiam, mendengar lisan Teana yang begitu lembut menelusup ke indraku, “kamu tahu Tam, semenjak hari itu aku gak pernah berhenti buat mikirin kamu,” ujarnya pelan, “apapun itu aku tetep akan selalu sayang dan cinta sama kamu.”

      “Makasih Kak,” ujarku pelan, wajahku benar-benar terasa panas saat ini, “aku gak tahu gimana bisa ini semua terjadi gitu aja, kadang aku mikir semuanya kayak gak nyata.” Aku menghela napas begitu panjang seraya memandang ke arah wanita itu, menatap matanya dalam-dalam dan aku memejamkan mataku, “aku juga sayang sama kamu, Kak.”

      “Tama,” panggil Teana pelan, aku lalu membuka mataku, “seandainya aku tahu kamu dari dulu, aku pasti udah jalanin ini semua sama kamu,” ujarnya lalu menunduk, aku mengenggam pundaknya pelan, “udah Kak, kalo Kakak masih nyesel sama mantan pacar Kakak, mendingan dilupain aja,” ujarku, ia hanya tersenyum dan menggeleng.

      “Bukan masalah lupain ato enggak,” ujarnya dengan wajah yang sangat merah, “tapi aku iri, Aluna sama Shinta bisa kasih yang pertama buat kamu,” ujar Teana, ia tertunduk, aku lalu mengusap pelan kepalanya, ia lalu memandangku dengan pandangan yang amat berbeda, “gak usah dipikirin lagi Kak,” ujarku pelan, “apapun itu aku gak boleh lakuin ini sama Aluna ato sama Shinta.”

      Teana terdiam sesaat aku mengatakan itu, Labia oris-nya terbuka sedikit seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi belum sempat ia berujar, kudaratkan Labia oris-ku di sana, membungkam segala bentuk lisannya. Jemarinya lincah memagut tubuhku, aku tidak tahu apakah ini dilihat oleh orang lain atau tidak, tetapi ciuman yang cukup singkat itu diakhiri dengan senyumannya yang begitu menggetarkan seluruh jiwa dan ragaku.

      Kami melanjutkan perjalanan mengitari bagian luar telaga ini, udara yang masih sejuk meskipun bermandikan pendaran sinar Sol pada pagi menuju siang ini membuat langkah demi langkah yang kami lalui tidak terasa lelah. Hingga setelah sekian lama kami berjalan tibalah aku di gubuk tempatku berteduh dengan Aluna semalam, dan di sana memang dipergunakan untuk tempat berkumpul pemuda di area ini.

      Sejenak, lamunanku langsung melayang, begitu segar di ingatanku apa-apa yang sudah terjadi semalaman bersama Aluna, dan itu bukanlah hal yang diperbolehkan terjadi di antara kami, sebuah perayaan cinta yang begitu salah. Tetapi, seolah aku tidak peduli dengan semboyan yang telah kulewati itu, bayangku justru berusaha menagih lagi rasa impuls yang menerbangkanku jauh melintasi Event Horizon, Supernova di dalam Blackhole mereka.

      Hampir satu jam kami berjalan mengelilingi telaga ini, hingga akhirnya kami tiba di tempat penginapan ini. Pukul sepuluh tepat, itu yang tertera di jam dinding besar di atas meja resepsionis. Seluruh teman-temanku belum berkumpul semua, hanya ada Aluna, Shinta dan Aerish yang asyik mengobrol di lobby. Sementara Nadine, Kevin, Farhan dan Dika masih bermain di sekitar telaga.

      Sepertinya gadis itu berusaha mencari pengalihan, mungkin ada rasa cemburu yang membakar perasaannya ketika aku memilih berjalan dengan Aluna semalam, atau mungkin berjalan dengan Teana barusan. Aku tidak mengambil pusing dengan tindakan Nadine, karena ia adalah gadis yang amat sulit di tebak. Sikapnya selalu saja berubah meskipun hanya terpaut beberapa jam, dan itulah yang kusuka dari sosok mungil Nadine.

      Jam 1030, Pak Andre dan Pak Yaya memutuskan untuk checkout dan melanjutkan perjalanan ke Bali. Kali ini, aku meminta mereka untuk langsung menuju ke Bali tanpa berhenti terlebih dahulu, dan hal itu diamini oleh mereka berdua yang tampaknya juga tidak sabar ingin segera tiba di Bali. Beberapa rute jalan kami diskusikan hingga akhirnya aku memutuskan untuk melalui rute Kediri – Pujon – Batu – Kepanjen – Lumajang.

      Itu bukanlah jalur favorit, jujur karena Kediri – Pujon – Batu adalah rute jalan kelas IIIC yang lebarnya hanya sekitar lima meter dan itu artinya hanya bisa dilewati oleh dua kendaraan kecil apabila berpapasan dalam kecepatan menengah. Tetapi pemandangan yang disuguhkan sepanjang perjalanan akan menjadi daya tarik tersendiri apabila melewati rute tersebut, terlebih apabila melintasi jalanan Pujon ke Batu dan Kepanjen ke Lumajang.

      Diawali dengan doa, akhirnya kami bertolak dari Telaga Sarangan pada pukul 1040 dan dengan cepat mobil ini melaju dan turun dari area Gunung Lawu ke kota Magetan. Tidak banyak yang terjadi selama perjalanan itu, hanya saja para bidadari yang tampak kelelahan kembali tenggelam dalam lelap yang menyisakan dengkuran-dengkuran halus yang membuatku merasa tenang.

      Kami terus melaju ke timur melalui Madiun dan Nganjuk, lalu setibanya di jalan raya menuju ke Kediri, Pak Andre yang memimpin perjalanan langsung membelokkan setir ke arah Kediri. Sekitar sepuluh menit dari persimpangan tersebut, Pak Andre lalu mengarahkan kendaraan ini menuju ke arah Pare untuk selanjutnya menuju ke Pujon dan juga batu.

      Kebetulan ketika kami tiba di sana, masih cukup siang dan menurut penuturan Pak Andre, kita bisa tiba di Semeru Selatan pada sore hari sehingga masih bisa menikmati pemandangan yang disuguhkan di sana. Kali ini aku bisa beristirahat dan memejamkan mata sebelum tiba di Pujon. Dengan menghela napas cukup panjang, aku lalu merebahkan jok kursi penumpang depan dan terlelap dengan cepat.

      “Kak, bangun Kak,” panggil suara itu, Aluna, aku lalu berusaha membuka mataku dan saat itu aku menyadari mobil ini tidak berada di jalan raya, “loh Dek, kenapa?” aku panik sendiri saat mengetahui kami berada di tepi jalan. “Ini Kak, Pak Andre.”

<<< SEBELUMNYA (EP256)


Diubah oleh ms.mriva
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di