KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/573370ce96bde6f9788b4569/kembalilah-tak-terungkap--ketulusan-cinta-para-bidadari--r-17

Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17



Quote:



Apa kau percaya dengan Hukum Kekekalan Energi?
Kalau aku percaya dengan Hukum Kekekalan Cinta.
Bahwa Cinta itu tidak dapat dibuat atau dimusnahkan.
Tetapi hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
Itulah cinta yang kupercaya.

Ini adalah kisah nyata tentang mereka.
Tentang semua cinta yang tak terbalas.
Tentang semua rasa yang tak terungkap.
Yang terukir indah dalam 874 lembar buku harianku sejak SMA.
Ditambah 101 halaman dari kisahku yang hilang bersama seseorang.

Maka, saat kau bertanya, mengapa kau masih ingat?
Buku harianku yang mengingatkanku.
Disana tertulis nama lengkap mereka.
Disana tertulis semua perkataan antara aku dan mereka
Disana tertulis semua proses pendewasaanku.

Ini kisah nyata.
Buku harian 975 lembar letter size itu saksi sejarahnya.
Ditulis dengan font Times New Roman 10 Pt.
Dan akan kutulis ulang semuanya untuk kalian.
Bidadari yang pernah datang mengisi hariku.
Bidadari yang mendewasakanku.



Orang bilang, jatuh cinta itu menyenangkan.
Aku mengakui itu, sepanjang aku jatuh cinta, rasanya menyenangkan.

Tetapi orang juga bilang, jatuh cinta itu menyakitkan.
Entah, tetapi aku tidak pernah setuju dengan frasa bahwa cinta itu menyakitkan.

Cinta adalah saat kita menginginkan orang yang kita cintai bahagia.
Tidak peduli seberapa sakitnya kita dibuatnya.
Karena ketulusan yang akan mengobati semua sakit.
Di atas senyum bahagia, dia yang kita cintai.

Namum, apabila ada banyak hati yang saling mencinta.
Apakah akan berakhir bencana?
Ataukah ketulusan yang akan menyembukan mereka.
Ini kisah tentang mereka.

Bidadari sempurna yang hadir dalam hidupku.



Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari





MAKLUMAT

Cerita ini berdasarkan kisah nyata, nama karakter disamarkan sesuai dengan kebutuhan untuk melindungi privasi dari tokoh yang ada di dalam cerita ini. Dan cerita ini sebisa mungkin menggunakan kaedah sastra secara teknis, sehingga akan dibutuhkan waktu yang lama untuk dicerna.

Rating dalam cerita ini adalah R-17, dengan kata lain, cerita ini mengandung bahasa yang kasar dan juga isi cerita yang hanya sesuai untuk usia 17 tahun atau di atasnya, dan atau usia di bawahnya dengan bimbingan orang yang lebih dewasa.

Perlu diingat, rating Restricted tidak serta merta hanya mengacu kepada konten cerita yang mengandung adegan dewasa, belajar dari cerita sebelumnya, saya selaku author akan meminimalisir cerita dengan adegan dewasa di thread ini. Restricted di sini mengacu kepada kompleksitas cerita yang akan mempengaruhi ideologi pada pembaca, khususnya remaja yang memiliki usia di bawah 17 tahun.

Penggunaan bahasa yang tidak pantas, serta adegan yang penuh dengan konspirasi dan atau tindakan kejahatan juga menjadi pertimbangan saya untuk tetap mempertahankan rating Restricted di dalam cerita ini, jadi terlebih dahulu harus dipahami mengapa saya tetap menggunakan rating R-17 pada cerita ini, dan bukan serta merta karena adanya adegan yang kurang pantas di sini.

Mohon untuk pembaca memahami bahwa tidak semua adagan dalam cerita ini bisa dicontoh, ditiru, dan atau diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, terlebih untuk material yang hanya boleh dilakukan untuk pasangan pernikahan yang sah. Pembaca dimohon untuk mengambil hikmah dari cerita ini sebaik-baiknya.

Kritik dan saran dari pembaca sangatlah saya harapkan, dan mohon maaf apabila banyak tulisan dari karya saya yang masih jauh menyimpang dari Sastra Indonesia. Saya mohon koreksinya dari pembaca, karena saya ingin tetap mempertahankan kaedah menulis Sastra, bukan asal cerita.

Demikian maklumat dari saya, Terima Kasih.


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


OVERTURE


     Selamat pagi rekan-rekan Kaskuser, khususnya di Sub-Forum Story from the Heart, perkenalkan, saya Faristama Aldirch, selaku Nubie SR di sini untuk berbagi kisah. Sebelumnya pasti rekan-rekan semua tahu apa alasan saya menggunakan User ID m60e38, tentunya ada hubungannya antara mesin BMW M60 dan sasis BMW E38.

     Tentu saja, cerita ini berawal dari saya yang jatuh cinta kepada Aerish Rivier, menyatakan cinta kepada gadis itu, dan membuat saya menanti akan sebuah balasan yang tak berujung. Menutup hati dari banyak hati yang berusaha mengisi hati saya dan berusaha tak acuh dengan apa yang saya alami sendiri. Hingga pada akhirnya banyak hal yang terlewatkan hingga semuanya menjadi satu.

     Tetapi, hal tersebut tidak pernah disadari oleh saya, Cauthelia Nandya datang dengan membawa cinta dan keikhlasan yang begitu luar biasa, tertuang dalam diary-nya sejak tahun 2002. Nadine Helvelina datang dengan cinta dan ketulusan yang tidak pernah bisa diragukan. Shinta Adinda yang menjadi sahabat terbaik saya juga datang dengan ketulusan yang benar-benar membuat saya berpikir tidak akan meninggalkannya.

     Arteana Andrianti, seorang Guru penjaga UKS yang merasakan bahwa saya adalah laki-laki yang telah menyelamatkannya di satu peristiwa pada pertengahan 2006. Hingga Aluna Amelia, gadis berdarah Oriental yang begitu cantik, mempercayakan segala perasaannya kepada saya atas semua apa yang pernah saya lakukan kepadanya.

     Ketulusan mereka semua sudah tidak mungkin diragukan lagi, apapun mereka lakukan bukan serta merta menginginkan saya bahagia, tetapi ingin yang lainnya bahagia. Memang ini terlihat menyenangkan, dicintai banyak wanita sekaligus, dan mereka terlihat begitu akrab dan juga akur satu sama lainnya, padahal hal tersebut benar-benar menjadi sebuah beban yang begitu luar biasa untuk saya.

     Semenjak kedatangan Erik di kehidupan saya, semuanya mulai terasa begitu berat, dengan anak buahnya, ia berusaha untuk mendekati satu per satu bidadari untuk sekadar mengancam saya, atau mungkin melakukan hal yang buruk kepada mereka. Hal tersebut membuat saya benar-benar was-was, terlebih saat ini saya tidak bisa tenang karena Cauthelia tidak bisa dihubungi.

     Satu persatu masalah muncul dan semuanya bermuara ke satu nama, yaitu Markus, siapakah orang itu? Entahlah, hanya Sang Jabbar yang tahu siapakah Markus itu, yang pasti semenjak kedatangan Nancy malam itu, setidaknya selain hengkangnya Erik perlahan dari kehidupan saya, muncul aliansi baru yang akan membantu saya mengungkap siapa dan apa tujuan Markus sebenarnya.

     Semoga cerita ini bisa menjadi salah satu kawan di kala senggang untuk rekan-rekan Kaskuser yang senang membaca cerita dengan format baku seperti yang saya suguhkan. Tidak perlu banyak kata-kata dalam pembukaan ini, saya akan melanjutkannya pada kisah yang akan saya tulis dengan format yang sama seperti cerita saya sebelumnya. Atas perhatian dan kerjasama Anda, saya mengucapkan Terima Kasih.

Quote:

profile-picture
profile-picture
profile-picture
just.endra dan 15 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh m60e38

Bidadari Tanpa Sayap | Bagian 8

BIDADARI TANPA SAYAP (BAGIAN 8)


      Aku terdiam, helaan napas itu benar-benar terasa semakin kuat ketika angin dingin itu makin terasa menusuk ke seluruh tubuhku. Kupejamkan mata ini sejenak, sekadar menurunkan tensi jantungku yang meninggi karena perasaan yang begitu menusuk ini. “Sayang,” panggil suara itu seraya sudah berada di sebelahku, aku menoleh ke arah asal suara itu, “Kak Nana,” ujarku lalu menghela napas, “kirain siapa.”

      “Hehehe,” ujarnya terkekeh lalu mendekapku, “ngapain kamu di belakang sini?” tanyanya pelan, aku tersenyum seraya memandang wajahnya di bawah temaramnya sinar lampu yang berada di sekitar kami, “gak ada, cuma pengen menyendiri aja,” ujarku ringan, “Tama,” panggil satu suara lagi, Aluna, ia setengah berlari ke arahku, menggoyangkan Mammanya yang terlihat busung saat ini.

      “Hah hah hah,” gadis itu terengah ketika tiba di depanku, “pada ngapain di belakang, dicariin juga,” ujar Aluna, ia menumpukan kedua tangannya di lutut seraya memandangku dari posisi seperti itu, “cuma cari angin doang,” ujarku singkat, Aluna lalu menegakkan tubuhnya dan berdiri di antara diriku dan Teana, “eh Tam, serem ih di sini,” ujarnya lagi seraya memandangku, aku hanya menggeleng, “gak ada yang serem selama kita berani.”

      Pandangannya langsung tertuju ke ruangan kosong yang berada di ujung sana, sesekali angin menggoyangkan pintu tersebut, mendecitkan bunyi engsel berkarat yang langsung terdengar begitu jelas, “tuh kan Tam, udah ah,” ujarnya lalu memandangku, wajahnya agak pucat, “bawel ih Luna,” ujar Teana lalu tertawa kecil, “noh Ka Nana aja bilang kamu bawel Lun,” ujarku meledeknya.

      “Udah ah, berangkat lagi yuk, mau sampe Semarang jam berapa nanti?” tanya Aluna dengan nada yang agak terburu, “oh iya jadi lupa, aku tadi kesini mau ngajak kamu cepet-cepet berangkat, malah ngobrol,” ujar Teana lalu tersenyum, aku lalu mengangguk pelan, “sebentar deh Kak,” ujarku, lalu menggenggam pelan tangannya, “aku mau di sini sebentar lagi, ya?”

      Kedua wanita itu terdiam, mereka saling melempar pandang satu sama lain, menyiratkan sebuah tanda tanya besar sejurus dengan diangkatnya kedua bahu mereka bersamaan, “yaudah kalo kamu masih mau di sini,” ujar Teana, ia lalu menghela napas, “aku jalan duluan deh, agak creepy creepy gimana gitu disini,” ujarnya lalu membalik tubuhnya, “well, bilangin sama Pak Andre, aku mau di sini lima menit lagi.”

      Teana melambaikan tangannya pelan, sementara Aluna masih berada di sini bersamaku, ia mendekatkan tubuhnya ke arahku seraya menggenggam jemarinya begitu hangat. Hanya suara alam dan desir angin yang terdengar begitu syahdu dikala embusannya terasa begitu menusuk kulitku. Cahaya yang berkelip di ujung sana juga seolah menemani kami berdua di belakang restoran yang sudah berdiri cukup lama ini.

      Aku memandang wajah cantik gadis itu, cahaya temaram dari lampu-lampu penerangan yang hanya sekadarnya mencapai kami, bahkan aku tidak bisa melihat ekspresi gadis itu. Cukup lama kami beradu pandang dalam diam yang menyunggingkan senyum di lisan masing-masing, ia lalu menggenggam tanganku, mulai menikmati suasana yang begitu menenangkan ini.

      Tak lama, gadis itu memagut manja tubuhku di antara pekatnya gelap yang menemani kami sejak tadi, tidak ada kata-kata yang terucap, hanya helaan napas yang terdengar begitu mesra di telingaku saat ini. Menyiratkan perasaan yang begitu dalam dari gadis yang baru saja kukenal ini, seolah aku adalah pelabuhan terakhirnya, meletakkan seluruh muatannya di dermaga cinta yang ia percaya.

      Hangat menyelimuti tubuhku kini, mengubah segala dingin yang menusuk menjadi sebuah keadaan yang begitu membuatku nyaman, dan tampaknya ia pun merasa nyaman karena semakin lama ia semakin menyandarkan tubuhnya di atasku. Helaan napasnya semakin lama semakin manja menggelitik telingaku, bahkan anak-anak rambutnya yang beterbangan menyebarkan harum yang begitu menggodaku, aku jujur.

      Ia menenggelamkanku begitu dalam di samudera cintanya yang begitu luas, menarikku seolah aku tidak boleh lagi untuk sekadar muncul ke permukaan untuk bernapas dan mereguk cinta lainnya. Pagutannya semakin menguat seraya Labia orisnya menyentuh tengkukku dengan begitu manja, dan kurasakan ia mulai memagutkannya di sana, memberikanku sensasi yang luar biasa pada malam ini.

      “Lun,” panggilku pelan, ia bahkan tidak menggubrisku, “hmmm,” gumamannya menandakan bahwa ia sedang nyaman dan menikmati apa yang ia lakukan, “eh nanti ada bekasnya,” ujarku lalu tidak lama ia melepaskan pagutan Labia orisnya di sana. Gadis itu lalu memandangku, matanya terlihat agak sayu dengan napas yang begitu terburu, “abisnya kamu wangi jeruk, enak banget, rasanya pengen diisep.”

      “Hadeh Luna,” ujarku lalu melepaskan pagutan tanganku yang melingkari pinggangnya, “pasti bekas deh,” ujarku seraya menghela napas, “hehehe, maaf sayang,” ujarnya lalu mendekapku lagi. Ia menyandarkan seluruh tubuhnya di atasku kini, memaksa tubuhku untuk menopangnya, “sayang banget sama kamu Tam,” ujarnya dalam dekapanku, “rasanya pengen terus ada begini, meskipun aku rasa itu gak mungkin.”

      Aku terdiam mendengar kata-kata yang teruntai dari lisan gadis itu, kukecup ringan kening gadis itu, “Tama,” panggil Aluna begitu manja, “apa Lun,” sahutku pelan, “kamu malah bikin aku melow deh Tam,” ujarnya lagi, aku hanya tertawa kecil di telinganya, “kamu itu yang bikin aku melow akhir-akhir ini,” ujarku pelan, “selama kamu tinggal di rumah, kamu bener-bener gantiin Elya.”

      “Tapi Tam,” ujarnya pelan, mencoba memotong ucapanku, seolah aku tidak boleh berbicara lagi, “aku gak ada maksud buat gantiin Elya di hati kamu,” ujarnya pelan, “sama sekali.” Deg, detak jantungku langsung terpacu mendengar kata-kata yang terlontar lagi dari lisan gadis ini, entah berapa kali ia melakukan ini kepadaku, membuatku terdiam, bergeming atas semua yang kurasakan, “aku juga enggak pernah ngerasa kamu gantiin Elya kok.”

      “Kamu beda, Nadine beda, Tata beda, Kak Nana juga beda,” ujarku pelan di telinganya, “makasih buat semuanya ya Lun,” ujarku pelan, “justru aku yang makasih Tam,” ujar Aluna pelan di telingaku, “karena kamu aku tahu rasanya dicintai,” ujar Aluna lagi, “karena kamu juga aku bisa tahu, betapa indahnya mencintai orang yang udah lakuin semuanya tulus buat aku.”

      Aku lagi-lagi terdiam, entahlah, rasanya aku tidak bisa berkata apapun saat ini, selain merasakan betapa besarnya cinta yang mengalir di tiap-tiap desir darahnya yang begitu terasa hangat di kulitku, “aku mau jadi punya kamu Tam,” ujar Aluna pelan, “biarpun harus jadi yang kesekian, ato yang terakhir,” ujarnya lagi, “seenggaknya, kamu udah lakuin banyak hal ke aku, meskipun kamu baru kenal sama aku.”

      “Lun,” panggilku pelan, “iya sayang,” sahutnya begitu manja di telingaku, “entah aku mau bilang apa sama kamu,” ujarku pelan, “aku juga sayang sama kamu Lun, tapi kamu tahu kan gimana?” ia terdiam dan hanya menghela napasnya begitu menggelitik di telingaku, “lima belas menit cukup ya Tam?” tanya gadis itu, “eh maksudnya?” tanyaku balik.

      Ia tidak mengatakan apapun, jemarinya langsung memagut lenganku dengan begitu lembut, mengarahkan langkahnya ke dalam ruangan yang berada di ujung area ini. Setibanya di sana, ia menutup pintu ruangan itu dan menahannya dengan batu yang berada di sekitarnya, “aku tahu Tam, ini gak buktiin apa-apa,” ujarnya lalu berlutut, setidaknya itu yang aku tahu saat ini, “tapi aku lakuin ini karena aku selalu suka ngeliat kamu bahagia,” ujarnya dengan nada yang begitu menggelitik, “I love you, Tama.”

      Dua puluh menit kemudian, aku sudah berjalan kembali dari restoran tersebut menuju ke Semarang, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 2100. Kemacetan di wilayah Indramayu barusan membuat jadwal kami sedikit terlambat, tetapi tidak apa, yang penting aku bisa bertemu dengan Cauthelia pada esok hari. Alih-alih untuk duduk di kursi penumpang depan, aku malah berada di kursi baris ketiga, di antara Aluna dan Shinta.

      Siapa yang tidak kenal dengan Volkswagen Transporter? Aku yakin semua pernah tahu kendaraan yang cukup terkenal ini. Pada masa sekarang, khususnya di Indonesia nama Volkswagen Transporter memang terdengan asing di telinga, tetapi apabila kita berbicara Volkswagen Kombi, aku yakin banyak orang akan mengenal sebuah mobil minivan dengan layout mesin Rear-Engine-Rear-Wheel-Drive yang cukup fenomenal.

      Mobil ini tentu saja memiliki sejarah dan perjalanan yang panjang sebagai mobil M-Segment, atau biasa disebut Light-Commercial-Vehicle. Apabila disamakan dengan masa sekarang, tentu saja Volkswagen Kombi sekelas dengan Toyota Alphard, Nissan Elgrand, bahkan Mercedes-Benz V-Klasse. Pada masa sekarang, nama Volkswagen Transporter lebih dikenal dengan Volkswagen Caravelle.

      Sesungguhnya, sebutan Caravelle adalah salah satu dari empat trim yang diberikan oleh Volkswagen Transporter selain Kombi, Shuttle, dan Multivan. Caravelle sendiri adalah kelas kedua setelah Multivan dengan standar perlengkapan seperti ABS, EPS, TCSC, dan bahkan kursi penumpang dengan lumbar support yang dapat diubahsuaikan. Kelas Caravelle ke atas juga sudah menggunakan armrest untuk penumpang baris pertama dan kedua.

      Dikenal sebagai Volkswagen Type 2, Volkswagen Transporter pertama kali meluncur di publik pada tahun 1950 dengan mengusung mesin Flat 4 yang begitu terkenal penggunaannya di Volkswagen Beetle. Model Type 2 yang paling terkenal adalah T2, yaitu yang biasa disebut Volkswagen Kombi oleh kebanyakan orang, diproduksi dari tahun 1967 hingga 1979, dan tipe ini banyak diburu dan dirawat oleh kolektor Volkswagen.

      Untuk masalah kenyamanan, mobil ini bisa dikatakan cukup nyaman apabila dibandingkan dengan pesaing terdekatnya, Mercedes-Benz V-Klasse, hanya saja unsur kemewahan bak Toyota Alphard tidak bisa didapatkan dari mobil ini, meskipun secara keseluruhan mobil ini masih lebih baik dibandingkan Toyota Alphard atau Nissan Elgrand sekalipun.

      “Tama abis ngapain sama Luna?” tanya Shinta, membuyarkan segala lamunanku tentang mobil ini, “enggak ngapa-ngapain, cuma nyari angin aja di belakang,” sahut Aluna dengan nada yang manja, “boong ah, ayo ngapain?” tanya Shinta lagi, nadanya tidak kalah manja, sementara Nadine dan Teana juga memandangku dari baris kedua, “palingan abis yang iya-iya tadi sama Luna,” sahut Nadine, “bener tuh, kan dingin ples gelap gitu,” ujar Teana menambahkan.

      “Tama yang enak,” ujar Aluna lalu tertawa kecil, “nakal ya Tama,” ujar Teana lalu memandangku, sementara Nadine dan Shinta juga memandangku, “hu um, pokoknya nanti berlima sekamar,” ujar Nadine mulai menggodaku, “Ehm, bilangin Ayah,” ujar Pak Andre lalu meledekku, “pokoknya Mas Tama harus tidur bareng sama Farhan, Kevin, sama Dika, yang cewek gabung sama cewek.”

      “Yaaaah,” koor keempat wanita itu kompak memenuhi kabin Volkswagen Transporter ini, “semalem aja Pak, boleh yah,” ujar Shinta agak keras, “enggak boleh Mbak Shinta, nanti kalo pada kenapa-napa gimana?” tanya Pak Andre semakin meledek dan memojokanku, “biarin,” koor keempat wanita itu kompak, dan setelah itu tawa pecah di antara kami berenam.

      Canda tawa begitu riang menemani perjalanan di hiruk pikuknya malam ini, bus-bus malam saling berkejaran mengejar waktu untuk tiba di tempat tujuan mereka masing-masing. Lampu-lampu kendaraan lalu lalang, berpendar sepanjang jalan, terbias menembus Saint-Gobain Sekurit Tempered Glass yang dilapisi window tint 60% ini. Sesekali pendaran cahaya itu menyorot ke wajah-wajah cantik bidadari itu.

      Ada ketenangan yang tercipta ketika aku berada dalam temaramnya kabin kendaraan ini, rasa sejuk yang terasa menyelimuti hatiku, mencoba membisikkan kata-kata yang begitu menenangkan karena mereka dalam kondisi baik-baik saja saat ini. Segala canda tawa itu perlahan meredup ketika kami sudah melintasi jalan Batang – Gringsing, kontur jalan yang naik turun dan berkelok seakan menimang kami dalam buaian kenyamanan suspensi mobil ini.

      Satu persatu dari mereka mulai memejamkan matanya, hingga pada akhirnya Aluna dan Shinta juga tertidur di pundak kanan dan kiriku. Agak pegal rasanya, tetapi tidak apa, melihat mereka begitu bahagia merupakan hal yang sangat menyenangkan bagiku kini. Deru mesin yang begitu halus terharmonisasi indah dengan embusan angin yang melewati bagian terluar mobil ini, lama-kelamaan menenggelamkanku dalam kantuk yang akhirnya melelapkanku dalam tidur yang begitu nyenyak.

      “Mas Tama,” panggil suara itu, aku pun membuka mataku perlahan saat Pak Andre memanggil namaku, “iya Pak,” suaraku bahkan masih parau saat aku menyahuti panggilannya, “ini ada hotel rekomendasi saya, masih bangunan baru tahun 2005,” ujarnya, saat itu aku langsung mengucek mataku dan berusaha memandang ke sekitarku, masih agak buram rasanya.

      Aku lalu membangungkan Aluna serta Shinta yang saat ini masih terlelap di pundakku, perjalanan jauh dari Batang ke Semarang yang hanya memakan waktu tiga jam ternyata tidak begitu terasa. Setelah kedua wanita itu terjaga, aku lalu memutuskan untuk turun dan menuju ke lobi hotel untuk menanyakan ruangan kosong untuk kami bersebelas.

      Awalnya kami berniat untuk menyewa empat kamar dengan masing-masing kamar diisi oleh tiga orang, tetapi karena kebijakan satu kamar hanya boleh diisi dua orang, akhirnya kami terpaksa mengikuti peraturan tersebut. Dengan hasil mengumpulkan uang yang kami bawa, akhirnya kami pun memutuskan untuk menyewa lima Standard Room dan satu Superior Room.

      Aku memutuskan untuk sekamar dengan Farhan, sementara Kevin bersama Dika, dan Pak Yayan bersama Pak Andre. Shinta bersama Aluna, Nadine bersama Teana, dan Aerish memilih untuk tidur sendiri pada malam ini. Kami bersama-sama menaiki elevator menuju kamar kami masing-masing, tetapi di tengah perjalanan Farhan memutuskan untuk mampir ke kamar Kevin terlebih dahulu, dan aku menyanggupinya. Setelah mereka semua turun, tinggalah aku sendirian berjalan menuju ke kamar yang sudah kupesan pada dini hari ini.

      Hotel Berbintang Empat besutan Accor ini masih tergolong baru, wangi lem perekat wallpaper dan juga karpetnya benar-benar menandakan umur pakainya yang masih singkat. Detail ruangan masih terlihat bagus, bahkan kenop pintunya juga masih terlihat mengkilap dengan tulisan KEND yang tercetak timbul di bagian bawahnya. Aku lalu masuk ke dalam ruangan dengan lantai kayu dan ranjang queen size, lumayan untuk harga diskon yang diberikan.

      Ruangan seluas kira-kira tiga-puluh-meter-persegi ini disusun dengan sangat apik dan kompak. Sebuah meja panjang terbentang kira-kira dua meter di seberang bibir ranjang, di mana terdapat televisi plasma yang menyiarkan saluran televisi closed loop milik hotel tersebut ketika kunci elektronik ini kuletakkan di tempatnya. Ada kursi panjang di bagian terluar kamar yang berhadapan langsung dengan pemadangan pusat kota Semarang.

      Sudah menjadi kebiasaanku sejak kecil, sebelum aku merebahkan diriku di atas ranjang, aku terlebih dahulu menggunakan kamar mandi untuk membasuh seluruh tubuhku. Air hangat itu tercurah begitu ganas dari ujung-ujung pancuran yang terletak sekitar satu meter di atas kepalaku, seketika memberikan kenyamanan yang begitu luar biasa ketika seluruh tubuhku dibasahi oleh curahan air tersebut.

      Kupejamkan mata ini, seketika ingatanku terbang, melayang melintasi segala apa yang membatasi ini semua, kembali ke masa satu bulan yang lalu. Cauthelia, hanya nama itu yang kusebut dalam lamunanku kini, seluruh kenangan bersamanya ketika berlibur di Resort besutan Marriot langsung menyeruak, terbentang begitu luas di depanku layaknya sebuah televisi yang menyiarkan gambar-gambar kehidupan yang begitu nyata.

      “Aku di sini,” kalimat pertama yang terucap dalam lisanku, pelan namun pasti, di Semarang, kota di mana Cauthelia tinggal saat ini. Hanya beberapa jam dari sekarang aku mungkin bisa menemuinya di salah satu sudut kota yang begitu ramah menyapaku. Kusudahi mandi di tengah malam ini, sesaat setelah aku mengenakan pakaian santai aku berjalan menuju ke arah jendela kamar, kubuka tirai yang membatasi pandanganku ke arah kota ini.

      Semarang, gumamku dalam hati, gemerlap lampu di malam itu masih menyisakan untaian hiruk-pikuk kota yang seakan belum mau tidur ini. Sinar-sinar kendaraan masih terlihat lalu lalang meskipun hanya satu atau dua kendaran yang melaju begitu cepat, berburu waktu untuk istirahat. Sementara, rumah-rumah penduduk tampak begitu tenang, terlelap di bawah temaramnya lampu-lampu rumah yang menyiratkan lelah pada hari ini, begitu pula denganku.

      Kunikmati malam ini dengan duduk bersandar di kursi panjang ini seraya menunggu pemanas air elektronik untuk meletupkan buih-buih air untuk kuseduh ke dalam teh celup yang sudah berada di sebelahnya. Teh hangat ini menemaniku melewati lima belas menit pertamaku di ujung jendela ini, di batas antara dunia luar yang tampak sangat ramah menyapaku, di bawah alunan sang rembulan yang tampak malu bersembunyi di sana.

      Kuhela napas begitu panjang seraya tegukan terakhir dari teh yang menggenang di dasar cangkir ini kuhabiskan, begitu nikmatnya. Aku masih memandang ke arah langit, karena aku yakin kapanpun aku memandang ke arah sana, Cauthelia pun juga memandang ke arah langit yang sama, meskipun jarak kami cukup jauh saat itu. Segalanya terasa begitu menyenangkan kini, jujur tidak ada hal yang lebih kurindukan ketimbang bertemu dengan kekasih hatiku yang amat kucintai.

      Kupejamkan mata seraya kurebahkan seluruh tubuhku di atas ranjang empuk ini, melemaskan seluruh persendianku yang begitu lelah karena perjalanan hari ini. Degup jantungku pun seolah berdenyut tak beraturan ketika aku mulai menikmati rasa nyaman yang benar-benar menyelimuti seluruh tubuhku, memberikan sensasi yang begitu luar biasa bagiku kini.

      Lima menit, derap langkah terdengar begitu perlahan mengiringi suara beep yang keluar dari kenop pintu elektronik yang terbuka, pasti Farhan sudah memutuskan untuk kembali. Aku menghela napas seraya menocba membuka mataku untuk sekadar memastikan siapa yang datang. Tiba-tiba semuanya gelap saat sepasang tangan mencoba menutup mataku, “siapa!” aku membentak orang yang mencoba menutup mataku, dan akhirnya ia menutup mulutku.

<<< SEBELUMNYA (EP248)


Diubah oleh deesanti
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di