KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/573370ce96bde6f9788b4569/kembalilah-tak-terungkap--ketulusan-cinta-para-bidadari--r-17

Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17



Quote:



Apa kau percaya dengan Hukum Kekekalan Energi?
Kalau aku percaya dengan Hukum Kekekalan Cinta.
Bahwa Cinta itu tidak dapat dibuat atau dimusnahkan.
Tetapi hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
Itulah cinta yang kupercaya.

Ini adalah kisah nyata tentang mereka.
Tentang semua cinta yang tak terbalas.
Tentang semua rasa yang tak terungkap.
Yang terukir indah dalam 874 lembar buku harianku sejak SMA.
Ditambah 101 halaman dari kisahku yang hilang bersama seseorang.

Maka, saat kau bertanya, mengapa kau masih ingat?
Buku harianku yang mengingatkanku.
Disana tertulis nama lengkap mereka.
Disana tertulis semua perkataan antara aku dan mereka
Disana tertulis semua proses pendewasaanku.

Ini kisah nyata.
Buku harian 975 lembar letter size itu saksi sejarahnya.
Ditulis dengan font Times New Roman 10 Pt.
Dan akan kutulis ulang semuanya untuk kalian.
Bidadari yang pernah datang mengisi hariku.
Bidadari yang mendewasakanku.



Orang bilang, jatuh cinta itu menyenangkan.
Aku mengakui itu, sepanjang aku jatuh cinta, rasanya menyenangkan.

Tetapi orang juga bilang, jatuh cinta itu menyakitkan.
Entah, tetapi aku tidak pernah setuju dengan frasa bahwa cinta itu menyakitkan.

Cinta adalah saat kita menginginkan orang yang kita cintai bahagia.
Tidak peduli seberapa sakitnya kita dibuatnya.
Karena ketulusan yang akan mengobati semua sakit.
Di atas senyum bahagia, dia yang kita cintai.

Namum, apabila ada banyak hati yang saling mencinta.
Apakah akan berakhir bencana?
Ataukah ketulusan yang akan menyembukan mereka.
Ini kisah tentang mereka.

Bidadari sempurna yang hadir dalam hidupku.



Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari





MAKLUMAT

Cerita ini berdasarkan kisah nyata, nama karakter disamarkan sesuai dengan kebutuhan untuk melindungi privasi dari tokoh yang ada di dalam cerita ini. Dan cerita ini sebisa mungkin menggunakan kaedah sastra secara teknis, sehingga akan dibutuhkan waktu yang lama untuk dicerna.

Rating dalam cerita ini adalah R-17, dengan kata lain, cerita ini mengandung bahasa yang kasar dan juga isi cerita yang hanya sesuai untuk usia 17 tahun atau di atasnya, dan atau usia di bawahnya dengan bimbingan orang yang lebih dewasa.

Perlu diingat, rating Restricted tidak serta merta hanya mengacu kepada konten cerita yang mengandung adegan dewasa, belajar dari cerita sebelumnya, saya selaku author akan meminimalisir cerita dengan adegan dewasa di thread ini. Restricted di sini mengacu kepada kompleksitas cerita yang akan mempengaruhi ideologi pada pembaca, khususnya remaja yang memiliki usia di bawah 17 tahun.

Penggunaan bahasa yang tidak pantas, serta adegan yang penuh dengan konspirasi dan atau tindakan kejahatan juga menjadi pertimbangan saya untuk tetap mempertahankan rating Restricted di dalam cerita ini, jadi terlebih dahulu harus dipahami mengapa saya tetap menggunakan rating R-17 pada cerita ini, dan bukan serta merta karena adanya adegan yang kurang pantas di sini.

Mohon untuk pembaca memahami bahwa tidak semua adagan dalam cerita ini bisa dicontoh, ditiru, dan atau diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, terlebih untuk material yang hanya boleh dilakukan untuk pasangan pernikahan yang sah. Pembaca dimohon untuk mengambil hikmah dari cerita ini sebaik-baiknya.

Kritik dan saran dari pembaca sangatlah saya harapkan, dan mohon maaf apabila banyak tulisan dari karya saya yang masih jauh menyimpang dari Sastra Indonesia. Saya mohon koreksinya dari pembaca, karena saya ingin tetap mempertahankan kaedah menulis Sastra, bukan asal cerita.

Demikian maklumat dari saya, Terima Kasih.


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


OVERTURE


     Selamat pagi rekan-rekan Kaskuser, khususnya di Sub-Forum Story from the Heart, perkenalkan, saya Faristama Aldirch, selaku Nubie SR di sini untuk berbagi kisah. Sebelumnya pasti rekan-rekan semua tahu apa alasan saya menggunakan User ID m60e38, tentunya ada hubungannya antara mesin BMW M60 dan sasis BMW E38.

     Tentu saja, cerita ini berawal dari saya yang jatuh cinta kepada Aerish Rivier, menyatakan cinta kepada gadis itu, dan membuat saya menanti akan sebuah balasan yang tak berujung. Menutup hati dari banyak hati yang berusaha mengisi hati saya dan berusaha tak acuh dengan apa yang saya alami sendiri. Hingga pada akhirnya banyak hal yang terlewatkan hingga semuanya menjadi satu.

     Tetapi, hal tersebut tidak pernah disadari oleh saya, Cauthelia Nandya datang dengan membawa cinta dan keikhlasan yang begitu luar biasa, tertuang dalam diary-nya sejak tahun 2002. Nadine Helvelina datang dengan cinta dan ketulusan yang tidak pernah bisa diragukan. Shinta Adinda yang menjadi sahabat terbaik saya juga datang dengan ketulusan yang benar-benar membuat saya berpikir tidak akan meninggalkannya.

     Arteana Andrianti, seorang Guru penjaga UKS yang merasakan bahwa saya adalah laki-laki yang telah menyelamatkannya di satu peristiwa pada pertengahan 2006. Hingga Aluna Amelia, gadis berdarah Oriental yang begitu cantik, mempercayakan segala perasaannya kepada saya atas semua apa yang pernah saya lakukan kepadanya.

     Ketulusan mereka semua sudah tidak mungkin diragukan lagi, apapun mereka lakukan bukan serta merta menginginkan saya bahagia, tetapi ingin yang lainnya bahagia. Memang ini terlihat menyenangkan, dicintai banyak wanita sekaligus, dan mereka terlihat begitu akrab dan juga akur satu sama lainnya, padahal hal tersebut benar-benar menjadi sebuah beban yang begitu luar biasa untuk saya.

     Semenjak kedatangan Erik di kehidupan saya, semuanya mulai terasa begitu berat, dengan anak buahnya, ia berusaha untuk mendekati satu per satu bidadari untuk sekadar mengancam saya, atau mungkin melakukan hal yang buruk kepada mereka. Hal tersebut membuat saya benar-benar was-was, terlebih saat ini saya tidak bisa tenang karena Cauthelia tidak bisa dihubungi.

     Satu persatu masalah muncul dan semuanya bermuara ke satu nama, yaitu Markus, siapakah orang itu? Entahlah, hanya Sang Jabbar yang tahu siapakah Markus itu, yang pasti semenjak kedatangan Nancy malam itu, setidaknya selain hengkangnya Erik perlahan dari kehidupan saya, muncul aliansi baru yang akan membantu saya mengungkap siapa dan apa tujuan Markus sebenarnya.

     Semoga cerita ini bisa menjadi salah satu kawan di kala senggang untuk rekan-rekan Kaskuser yang senang membaca cerita dengan format baku seperti yang saya suguhkan. Tidak perlu banyak kata-kata dalam pembukaan ini, saya akan melanjutkannya pada kisah yang akan saya tulis dengan format yang sama seperti cerita saya sebelumnya. Atas perhatian dan kerjasama Anda, saya mengucapkan Terima Kasih.

Quote:

profile-picture
profile-picture
profile-picture
just.endra dan 15 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh m60e38
BIDADARI TANPA SAYAP (BAGIAN 3)


      Shinta sudah terlelap di ranjangku, menyisakan sebuah senyum kebahagiaan yang selalu terlihat di saat-saat seperti ini, tidak butuh waktu lama untuk membuatnya tertidur, hanya sekitar empat puluh menit, dan kemudian aku teringat dengan para gadis yang masih tertidur di dalam mobil Nadine di bawah. Aku lalu bergegas turun dan menghampiri mereka, dan untunglah mereka masih tertidur di sana.

      “Sayang,” panggilku pelan, seraya memandang ke arah Nadine, “bangun udah lama nih sampe,” ujarku pelan, dan gadis itu membuka matanya yang masih sayu.

     “Eh udah sampe?” tanyanya dengan suara yang parau.

     “Udah dari tadi,” ujarku lalu memandang Nadine.

     “Lun, bangun,” ujarku lagi seraya menggoyangkan tubuhnya pelan.

     “Tama,” panggilnya seraya memandangku, “udah sampe?” tanyanya pelan, aku hanya mengangguk pelan.

      Kedua gadis itu lalu tampak menggeliatkan tubuhnya lalu perlahan menurunkan tubuhnya dari mobil tersebut, seraya melangkahkan kakinya dengan gontai menuju ke dalam rumah. Setelah aku selesai mematikan mesin kendaraan tersebut, aku pun menyusul mereka yang melangkah pelan menuju ke kamarku, keduanya sedikit terkejut melihat Shinta yang sudah terlelap di sana.

      “Curang ah,” ujar Aluna dengan nada yang begitu manja

     “Curang apaan?” tanyaku keheranan.

     “Itu Shinta bobo di kamar kamu, kita malah di mobil?” tanya Aluna dan mengerucutkan bibirnya, seraya protes tadi ternada dari lisannya

     “Tahu nih Tama,” ujar Nadine, lalu mendapati keadaan Shinta yang seperti itu, mata-mata mereka mulai berubah.

     “Tama,” panggil mereka bersamaan.

      Jam 1300, aku terjaga dari kantuk yang menenggelamkanku dalam lelapnya tidur barusan, kini aku terbangun di sofa ruang tamu, karena memang aku sengaja tidur siang di sini sembari mendengarkan lantunan lagu dari Dream Theater pada siang ini. Kuhela napas panjang, mengingat segala yang telah terjadi barusan, semuanya tampak begitu cepat hingga dosa-dosa itu kembali tercipta.

      Seseorang turun dari lantai atas, gadis berkacamata full frame itu tersenyum seraya langkah ringannya berjalan satu satu menuju ke arahku. Pandangannya masih sayu, bahkan ia masih menguap dan merenggangkan tubuhnya saat berada di depanku, barulah ia duduk di sebelahku dan menyandarkan seluruh tubuhnya di tubuhku, begitu manjanya ia siang ini.

      “Laper gak Tam?” tanya Nadine dengan nada yang begitu manja.

     “Aku gak terlalu sih,” ujarku lalu memandangnya yang hanya mengenakan kemejaku.

     “Aku laper sayang,” ujarnya manja.

     “Yaudah aku yang masak ya,” ujarku lalu membelai rambutnya.

     “Eh katanya ke Bali, jadi enggak?” tanya Nadine pelan, aku memandangnya sesaat, deg, detak jantungku pun langsung melonjak tajam saat itu.

      Seluruh anganku langsung tenggelam mengingat ketika aku berlibur bersama Shinta dan Cauthelia pada saat aku berjanji kepada Nadine untuk mengajaknya menonton konser Jazz pada akhir tahun lalu. Aku hanya memandangnya dengan tersenyum, rasanya cukup mengambang ketika jemarinya menggenggam ringan jemariku, begitu hangat rasanya meskipun mengganjal di hatiku.

      Tanpa banyak kata, kupagutkan Labia orisku di atasnya, ia menerimanya dengan dekapan yang begitu hangat, entahlah, aku benar-benar merasa bersalah saat aku memutuskan tidak memberikan kabar kepadanya ketika aku justru memilih Cauthelia dan Shinta yang saat itu mengajakku untuk berlibur ke Bali. Sangat lama ia menyambut pagutan Labia orisku, hingga napas kami tersengal saat ini.

      Sentuhan jemarinya benar-benar menerbangkanku jauh melintasi segala yang ada di atasku, degup jantungku berdetak makin cepat seraya tanganya menggenggamku dengan makin erat, sesekali suara menggelitik menggumam dari lisan Nadine yang saat itu terkunci oleh ciuman ini. Begitu dalam rasa yang kutaruh untuk gadis ini, seolah aku tidak mampu untuk berpaling walaupun sekejap dari dekapannya saat itu, hingga akhirnya Nadine melepas dekapannya dan memandangku.

      “Entah, tapi aku gak pernah bosen lakuin ini Tam,” ujar Nadine pelan, ia lalu memandangku, melepas satu persatu kancing yang saat itu mengikat kedua sisi kemeja yang ia kenakan.

     “Nad, tapi Nad,” ujarku berusaha mencegah tangannya, ia menggeleng pelan.

     “Kamu yang mulai kan tadi,” ujar Nadine, ia lalu beranjak dari tempatnya, dan menumpukan seluruh tubuhnya di Femurku.

      Jam 1430, makan siang yang sudah terlampau sore ini sudah tersaji di meja makan, kami memasak makanan ini segera setelah menyelesaikan apa yang tidak sengaja kumulai. Aku melangkahkan kaki menuju ke kamarku untuk meminta Shinta dan Aluna makan siang, dan saat kubuka pintu kamar ini, mereka masih terlelap dalam tidurnya siang ini, luar biasa.

      “Tata,” panggilku seraya duduk di sebelahnya.

     “Tama, jam berapa sekarang?” tanyanya sambil merenggangkan tubuhnya.

     “Setengah tiga, bangun yuk maem,” ujarku pelan, ia lalu tersenyum.

     “Lama banget aku bobonya ya?” tanyanya manja, aku mengangguk dan tersenyum.

     “Cape banget ya?” tanyaku lagi, kini gilirannya yang mengangguk pelan.

     “Gak tahu, rasanya cape banget emang,” ujar Shinta lalu ia menoleh ke sebelah, “eh Aluna?” tanyanya keheranan.

      “iya tadi pada bobo di sini juga sama Nadine,” ujarku pelan.

     Ia lalu memandang ke balik selimut yang menutupi tubuh Aluna, “ah ada juga kan,” ujar Shinta lalu tertawa kecil, “Aluna pengenan juga ternyata,” ujar Shinta mengomentari Aluna yang saat itu juga membuka matanya.

     “Siang Tam,” sapa Aluna berusaha tersenyum walaupun baru saja membuka matanya.

     “Sore Luna,” sahutku dan tersenyum.

      “Ngapain loe sama cowok gue,” ujar Shinta malah meledek.

     “Eh, Tama cowok gue juga kali,” ujar Aluna lalu tertawa kecil.

     “Yaudah gak usah rebutan, cewek aku namanya Aerish, kalian gak tahu disebut apaan,” ujarku datar.

     “Calon Istri,” ujar keduanya bersamaan, seketika mereka saling berpandangan dengan wajah yang memerah.

      Aku lalu menggeleng pelan, “udah pada pake baju sana, ayo maem siang dulu, udah kesorean.”

      Aku lalu beranjak dari ranjangku dan meninggalkan mereka di sana seraya aku memimpin langkah untuk turun ke bawah, dimana Nadine sudah menyambutku dengan senyuman yang begitu hangat. Tidak lama kedua wanita itu turun dengan langkah yang begitu riang, bahkan sesekali keduanya sempat bercanda sebelum duduk di sebelahku, dan mereka mengenakan pakaian yang sama seperti Nadine.

      “Ya kali gak usah pake baju yang sama,” ujarku datar.

     “Udah sih Tam, ribet aja,” ujar Aluna malah membuka dua kancingnya dan menjulurkan lidahnya kepadaku.

     “Udah deh udah,” ujarku seraya memandang sinis Aluna yang hanya tertawa kecil melihatku saat ini.

     “Yaudah maem dulu aja sayang,” ujar Nadine lalu memandangku, dan aku pun memulai makan siang ini.

      Canda dan tawa ketiga wanita ini yang saling meledeki satu sama lainnya benar-benar memenuhi ruangan ini, suasana yang begitu hangat benar-benar tercipta di antara kami semua siang ini. Ada rasa damai melihat mereka dalam keadaan seperti ini sekarang, setidaknya aku bisa menjaga apa yang harus kujaga, dan aku bisa melihat senyuman bahagia mereka.

      Setengah jam kami bercengkrama, bercanda sembari menikmati makan siang ini, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Aku sedikit kaget mendengar suara itu, tidak biasanya ada orang yang datang kemari pada jam-jam ini, sejurus aku memandang ketiga wanita yang saat itu hanya memandangku dengan tatapan yang sama, saling bingung satu sama lainnya.

      Aku menghela napas dan beranjak dari kursi tempatku duduk saat ini, melangkahkan kaki ini untuk berjalan perlahan menuju pintu yang sesekali masih diketuk ini. Aku menoleh ke arah jendela samping, tetapi aku tidak dapat melihat siapa yang mengetuk pintu ini, sedikit gugup, akhirnya aku membuka pintu ini dengan menarik napas agak dalam, berharap orang yang datang adalah orang yang kukenal.

      “Tama,” panggil suara itu.

     “Walah, Farhan dan Kevin bersahabat,” ujarku sedikit bernapas lega ketika kedua laki-laki itu tersenyum seraya menjabat tanganku, “masuk masuk, kebeneran gue lagi makan siang,” ujarku santai.

     “Sama ceweknya pasti tuh,” ledek Farhan lalu tertawa kecil.

      Aku mengangguk, “hidup gak sempurna bro tanpa wanita,” ujarku meledeknya balik.

      “Halah, sepa gaya loe Tam,” ujar Kevin lalu memukul ringan lenganku.

     “Spa itu sirkuit kan?” tanyaku mulai meledeknya.

     “Udah udah, mana makannya gue pengen nyicipin,” ujar Kevin, tanpa izin, ia langsung melewatiku dan menuju ke ruang makan, sementara aku dan Farhan menyusul di belakangnya, saat Kevin sudah mendekati ruang makan, langkahnya terhenti saat itu.

     “Vin, loe baek-baek aja kan?” tanyaku seraya memandang laki-laki yang wajahnya memerah saat itu.

      Ia beradu pandang dengan Aluna yang saat itu menatapnya tanpa senyuman, gadis itu terus menatap Kevin yang hanya terdiam melihat pujaan hatinya duduk di sana. Aku hanya tersenyum seraya memperhatikan tingkah laku Kevin yang mendadak kaku ketika senyum simpul tersungging di bibir tipis nan merah muda milik Aluna, ia lalu beranjak dan menghampiri Kevin yang saat itu hanya terpaku, seraya lisannya terkunci ketika Aluna malah sengaja merenggangkan tubuhnya di depan laki-laki itu dan kemudian merangkulku.

      “Tam,” panggil Kevin, “ya kali buat loe juga,” ujarnya setengah protes.

     Aluna lalu tertawa kecil, “aku kan sayang sama Tama,” ujar Aluna, malah sengaja meledek, Kevin hanya menghela napas.

     “Udah Lun, gak usah begini juga,” ujarku lalu memandangnya datar.

     Ia hanya menjulurkan lidahnya dengan manja, “maaf yah sayang,” ujarnya lalu tersenyum kepada Kevin yang hanya memandangku dengan nanar.

      “Loe mah Tam,” ujar Kevin.

     “Lah kok gue?” tanyaku keheranan.

     “Loe itu gue liat-liat gak ganteng, tapi yang naksir sama loe udah kayak apaan tahu,” ujar Kevin lalu mendekat kepadaku.

     “Loe pake pelet ya Tam?” tanya Farhan dari belakang Kevin.

     “Loe kan udah tahu, pelet apaan yang gue pake buat gaet mereka,” ujarku lalu tertawa kecil, saat itu mereka hanya memandangku dengan lisan yang terkunci.

      Setelah semuanya selesai, para wanita yang mengenakan pakaian menggoda itu langsung beranjak dan membawa seluruh peralatan makan yang tadi kami gunakan untuk dicuci, sementara aku bergabung bersama Kevin dan Farhan yang duduk di ruang depan, sekilas aku memandang ke arah para wanita itu, mereka hanya duduk di ruang tengah sambil menonton film.

      Gelak tawa yang begitu lembut terujar dari bibir manis mereka benar-benar menenangkan hatiku yang beberapa hari ini gundah karena memikirkan mereka. Atmosfer yang begitu hangat sesekali terasa begitu lembut menyentuh hatiku seraya riuhnya obrolan mereka yang terdengar hingga ruang depan tempat aku bersama Kevin dan Farhan menghabiskan waktu di sore ini.

      “Tam, denger-denger katanya loe mau ke Bali ya?” tanya Farhan.

     “Bener bro, Bokap gue yang ngajakin,” ujarku bersemangat.

     “Aluna ikut gak?” tanya Kevin.

     Aku mengangguk pasti, “Aluna, Nadine, Aerish, Tata, sama Kak Nana,” ujarku dan tersenyum.

     “Siapa tuh Tata sama Kak Nana?” tanya Kevin setengah meledek.

     “Ya kali loe gak tahu panggilan itu buat siapa,” ujar Farhan menambahkan.

      “Ngeledek aja loe,” ujarku datar.

     “Yaudin eh yaudah, kita ikut boleh?” tanya Farhan.

     Aku seketika memandang mereka, “serius loe mau pada ikut?” tanyaku, tiba-tiba merasa bersemangat saat mereka berbicara tentang hal itu.

     “Seriusan lah,” ujar Kevin.

     “Kapan berangkatnya?” tanya Farhan.

     “Gue tanyain Bokap gue dulu kapan berangkatnya, soalnya kan di sana harus beres-beres dulu,” ujarku.

      “Yaudah, loe pastiin kapan berangkatnya, gue juga mau siap-siap,” ujar Farhan bersemangat.

     “Akhirnya ada temen juga gue, gak sama cewek doang,” ujarku pelan.

     “Lah loe harusnya seneng, kan bisa yang iya-iya, tinggal pilih,” ujar Farhan meledekku.

     Aku hanya menghela napas, “loe liat sendiri noh pada pake bajunya gitu,” ujarku datar.

     “Emangnya loe apain sih Tam, pada nurut gitu?” tanya Kevin setengah berbisik.

      “Gue gak apa-apain kok,” ujarku pelan.

     “Tapi gede juga ya ternyata Shinta sama Aluna, baru ngeh gue,” ujar Kevin setengah berbisik lagi.

     “Apanya yang gede?” tanyaku sinis.

     “Ya loe kan yang sering megang, masa iya gue yang jelasin,” ujar Kevin lagi.

     “Ah mesum loe Vin,” ujar Farhan seraya menempeleng ringan kepala Kevin, lalu mereka berdua tertawa.

      “Hayo ngomongin gue ya?” tanya Shinta tiba-tiba muncul.

     saat itu Kevin dan Farhan langsung terdiam memandang Shinta yang langsung duduk di sebelahku, “iya tuh Ta, katanya kamu gede,” ujarku.

     Shinta lalu memandang keduanya, “dasar mesum,” ujar Shinta lalu memandang sinis.

     “Ya maaf Shin, jujur gue,” ujar Kevin seakan takut kepada Shinta.

     “Tapi emang gede sih,” ujar Shinta lalu kedua temanku memandang Shinta dengan heran.

     “Udah udah, gak perlu dilanjut, kamu ke kamar aja sama Aluna sama Nadine.”

      Aku hanya memandang gerakan Clunis Shinta yang begitu indah, seiring dengan langkahnya yang berjalan satu-satu menuju ke kamarku saat ini. Aku kembali memandang ke arah Farhan dan Kevin yang saat itu tampak terpana kepada bentuk tubuh Shinta yang memang indah itu. Bahkan kedua laki-laki itu tampak tidak berkedip ketika Aluna dan Nadine juga naik ke lantai atas, meninggalkan kami bertiga di sini.

      “Gak nyangka, ketua OSIS kita cakep juga ya,” ujar Kevin.

     “Bohay juga loh,” ujar Farhan.

     “Yaelah, malah ngomongin cewek,” ujarku lalu menghela napas.

     “Loe enak Tam, cewek loe cakep semua,” ujar Farhan, “lah gue sama Kevin kan jomblo, bisa apa gue kalo loe cerita?” tanya Farhan lagi, aku hanya tersenyum.

     “Inget cewek gue yang resmi itu ya Aerish, selaen dia mereka nyebut Calon Istri,” ujarku pelan.

      “Tapi apa mau mereka loe nikahin semua?” tanya Kevin.

     Aku hanya terdiam, “mereka sih bilang mau, enggak tahu masalah hatinya bilang gimana,” ujarku lalu menghela napas, “udahlah, gak usah diomongin, yang penting urusin masalah UN aja, gak sampe setengah tahun lagi coy,” ujarku berusaha mengganti topik pembicaraan.

     “Gimana kalo nonton film Tam?” tanya Farhan, aku pun mengangguk setuju.

      Kami menghabiskan waktu untuk menonton telivis hingga malam hari, hingga tibalah waktu makan malam tanpa terasa, dan selama itu pula aku merasa nyaman bersama teman-temanku, tanpa adanya gangguan dari pada wanita yang saat ini berada di kamarku. Penasaran dengan apa yang mereka lakukan, aku pun melangkahkan kakiku menuju ke lantai atas, dan ketika aku membuka kamarku, mereka tampak asyik bertiga di depan komputer.

      Mereka bertiga bergantian memainkan game yang kumiliki saat itu, dan saat aku masuk ke kamar, ketiga bidadari itu tersenyum begitu hangat ke arahku. Aku menghampiri mereka yang masih mengenakan pakaian yang sama seperti tadi, padahal suhu penyejuk ruangan di kamar ini begitu dingin, tetapi mereka tampak biasa saja dengan hal itu.

      Tidak lama berselang, seseorang terlihat memarkirkan mobil di depan rumahku, bukan mobil yang kukenal, entahlah tetapi aku yakin itu bukanlah milik Aerish, Kiara, ataupun orang lain yang kukenal. Sejurus setelah mobil tersebut berhenti, seseorang keluar dari pintu pengemudi, aku bergegas turun menuju ruang tamu dengan sedikit tergesa, dan tepat sebelum ia mengetuk pintu, aku terlebih dahulu membukanya.

<<< SEBELUMNYA (EP243)


Diubah oleh m60e38
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di