alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Dunia Yang Sempurna [TAMAT]
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/571e34a9de2cf202198b456c/dunia-yang-sempurna-tamat

Dunia Yang Sempurna





(credit to : risky.jahat for the beautiful cover)


PROLOG :


Gue selalu percaya, apapun yang kita alami di dunia ini selalu memiliki alasan tersendiri. Ga terkecuali dengan kehadiran orang-orang di kehidupan kita. Setiap orang, setiap hal, memiliki perannya masing-masing di kehidupan kita ini. Ada yang datang untuk sekedar menguji kesabaran kita, ada yang datang untuk menyadarkan kita akan mimpi dan harapan yang selalu mengiringi kita.

Gue menulis cerita ini, sebagai wujud rasa cinta gue terhadap segala yang pernah terjadi kepada gue. Ada yang ingin gue lupakan, dan ada yang ingin gue kenang selamanya. Tapi pada satu titik gue menyadari, bahwa ga ada yang harus gue lupakan, melainkan gue ambil pelajarannya. Dan untuk segala yang pernah hadir di hidup gue, ataupun yang akan hadir, gue mengucapkan terima kasih dari hati gue yang terdalam.

Cerita ini berawal pada tahun 2006, pada saat gue masih culun-culunnya menjalani kehidupan. Gue baru saja lulus SMA, dan memutuskan untuk merantau, meskipun ga jauh-jauh amat, ke ibukota untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi lagi. Gue masih mengingat dengan jelas momen ketika gue mencium tangan ibu, dan elusan kepala dari bapak, yang mengantarkan gue ke gerbang rumah, sebelum gue menaiki angkutan umum yang akan membawa gue ke ibukota.

Ketika angkutan umum yang membawa gue ke ibukota itu mulai berjalan, gue sama sekali ga bisa membayangkan apa yang akan terjadi di hidup gue selanjutnya. Tentu saja gue ga bisa membayangkan kehadiran seseorang, yang dengan segala keunikan dan keistimewaannya, memberikan warna tersendiri di hati gue.

Nama gue Gilang, dan semoga sekelumit cerita gue ini bisa berkenan bagi kalian semua.


Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan2604 dan 20 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh carienne
Thread sudah digembok
PART 10

Suara dosen di kelas yang monoton itu membuat gue mengantuk, dan untuk mengatasi ngantuk itu gue mencoret-coret buku catatan gue. Entah apa hasilnya. Gue melirik sebentar ke samping, dimana Soraya duduk. Dia juga sedang tenggelam dalam dunianya sendiri, membaca-baca majalah khusus wanita. Sempet-sempetnya, batin gue.

“lo baca apaan si, Ra?” gue melirik.

“zodiak”

Gue mendengus pelan.

“bukannya kuliah malah baca majalah lo” omel gue.

Ara mengalihkan matanya dari majalah, dan memandangi gue. “kaya lo betah tersiksa aja. Lo mau ikutan baca?” sahutnya.

“emang zodiak lo apaan si?”

“Pisces, kalo lo?”

Gue mengangkat bahu, “ga tau, kalo ga salah si Virgo.”

“kok bisa ga tau zodiaknya sendiri” gerutunya pelan.

“gue bukan tipe orang yang percaya zodiak, Ra. Jadi ya ga ada kepentingannya buat gue ingat-ingat jenis zodiak gue.”, gue melipat tangan diatas meja, “lo percaya zodiak, Ra?”

“kadang-kadang percaya, kadang enggak juga.” sahutnya sambil membalik halaman majalah. “kalo ramalannya bagus ya gue percaya, kalo jelek gue enggak percaya.”

“enak bener lo ya….” gue mencibir.

Ara terkikih pelan. “abisnya ngapain percaya sama omongan jelek, yang penting optimis gue mah”

“gue malah ga suka baca ramalan”

“kenapa gitu?” tanyanya sambil menopang dagu.

Gue mengangkat bahu, “buat gue, aneh aja hidup bisa diatur lewat ramalan. Kalo semua orang percaya ramalan, yang ada malah pada ga berusaha semaksimal mungkin tuh. Toh mereka sudah tahu jalan cerita mereka sendiri.” gue tertawa, “gue lebih suka berusaha dalam ketidakpastian. Cieeh bahasa gue berat amat yak?” gue nyengir bego.

Ara tertawa, dan memandangi gue dengan penuh minat.

“kenapa?” gue merasa risih dengan tatapannya itu.

“TUA LO” semburnya dan dilanjut dengan tawa berderai.

Kampret, gerutu gue dalam hati. Susah-susah mikirin kata yang keren buat diucapkan, eh cuma ditanggapin “tua” doang. Dengan dongkol gue cuekin Ara, sementara dia kembali membaca-baca majalahnya.

“eh lo berapa bersaudara si?” tanyanya tiba-tiba.

Gue menoleh, “kenapa emang?”

“gapapa, dari dulu gue belom tahu latar belakang keluarga lo. Boleh gue nanya?” Ara tersenyum lembut.

Gue terdiam sejenak. Mungkin gue bukan orang ekstrovert, jadi agak susah buat gue untuk menceritakan segala sesuatu tentang kehidupan pribadi gue.

“kalo ga boleh gapapa si” sambungnya sambil merapikan rambut.

“gue anak pertama, Ra” gue tersenyum.

Kembali Ara memandangi gue dengan penuh minat. “oya? Anak pertama? Adik lo ada berapa?”

“dua”

“seberapa umurnya?”

“yang satu masih SMP, yang satu lagi baru masuk SD” sahut gue sambil tertawa. Mendadak gue merindukan adik-adik gue di kampung. Apa kabarnya ya mereka, pikir gue.

“kelas 2 SMP, tepatnya” gue meralat, “kalo lo?”

“gue anak tunggal” Ara terkikih pelan.

“enak dong, apa-apa diturutin”

“dari luar sih kelihatannya enak, tapi aslinya gue kesepian” Ara mengangguk-angguk sendiri, seakan berusaha menenangkan hatinya atas kenyataan itu. “kadang-kadang gue kepingin tahu rasanya jadi adik atau jadi kakak….”

“jadi kakak ga enak, kalo adik lo nangis, pasti lo yang disalahin” gue cemberut.

“lo kaya gitu emangnya?”

Gue mengangguk sambil tertawa, “dulu sih iya…”

“itu mah kakaknya aja yang bego ga bisa cari alibi hahaha” ejeknya sambil menoyor kepala gue.

Iya juga sih, gue bisa dibilang lemah kalo urusan cari alasan. Ga kaya adik gue yang pertama, dia jago banget urusan ngeles. Apapun yang buruk yang terjadi di adik-adik gue, pasti gue yang disalahin. Ya udahlah, mau gimana lagi…

“lo ga balik Surabaya, Ra?” gue mengalihkan topik.

“kapan? Sekarang? Mana bisa gue bolos kuliah, gimana si ah”

“ya maksud gue ga sekarang juga….” gue menahan niat untuk mengutuk.

“iya nanti nunggu liburan, lagi gue agak males balik Surabaya”

“kenapa?”

“ogah ketemu mantan, enakan liburan kemana gitu hehe” jawabnya asal.

“oh iya ada mantan lo ya, gimana, masih sering kontakan ga?” tanya gue penasaran. Kali-kali aja sekarang hubungannya udah mulai membaik.

Ara menggeleng. “boro-boro kontakan, yang ada gue block semua tuh nomor dia” sahutnya santai.

Gue tertawa mendengarnya. Kemudian kami berdua kembali berkonsentrasi kuliah, karena sepertinya dosen didepan sana mulai terganggu dengan obrolan kami. Ara menutup majalahnya, dan pura-pura mencatat, meskipun gue tahu dia ga paham materi hari itu.

“liburan yuk” celetuknya tiba-tiba.

Gue menoleh setelah beberapa saat.

“lo ngomong sama gue?” tanya gue memastikan.

“enggak, gue ngomong sama bolpen nih” Ara mengacungkan bolpen tepat di hidung gue. “iyalah gue ngomong sama lo” sungutnya.

Gue tertawa.

“mau liburan kemana lo?”

“ke pantai hahaha”

“isinya emang cuma gunung sama pantai doang, Ra, disini ga ada padang pasir” balas gue.

“ya udah ke pantai aja kalo gitu” ucapnya sambil mengangguk mantap.

“kapan?”

“weekend depan?” tawar Ara.

Gue berpikir sejenak, “boleh deh” gue mengangguk setuju.

“oke jadi ya? Deal!” Ara dan gue bersalaman, dan diikuti dengan tawa pelan kami berdua.

“lo bisa berenang, Gil?” tanyanya.

Gue mengangguk mantap, “bisa, gaya sapu.”

Ara memandangi gue dengan heran. “gaya sapu? Apaan tuh? Gue baru denger…”

“gaya ikan sapu-sapu....” balas gue asal.

Ara kemudian dengan gemas menggigit lengan gue, dan itu membuat gue mengaduh agak keras. Alhasil siang hari itu gue ditegur dosen dengan kata-kata pedas. Malu banget gue….
profile-picture
aan2604 memberi reputasi
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di