alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Sejarah & Xenology /
Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God

Terjemahan The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed, Pekan I

Saya sudah berusaha cari buku terjemahan The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed, tapi sampai sekarang belum ketemu. Kelihatannya memang langka, nggak tahu kalo di Jakarta atau kota besar lainnya. So, mulai pekan ini, saya coba terjemahkan dari bahasa aslinya, Bahasa Inggris. Ebook bisa dibaca atau didownload gratis dari link ini...
The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed


Pekan ini akan saya mulai dari daftar pustaka (supaya lebih jelas sumber primernya) dan Bagian I Bab Pertama. Mudah-mudahan bermanfaat dan bisa membawa pada diskusi yang positif.


Penyusun: A. I. Akram
Penerbitan Pertama: Oktober 1969
Lokasi Terbit Pertama: Rawalpindi, West Pakistan

Bibliografi
1. Ibnu Hisyam: Siratun Nabawi, Kairo, 1955.
2. Waqidi: Maghazi Rasulillah: Kairo, 1948; Futuhusy Syam, Kairo, 1954.
3. Ibnu Sa’d: Tabaqatul Kubara, Kairo, 1939.
4. Ibnu Qutaybah: Al Ma'arif, Kairo, 1960.
5. Al-Yaqubi: Tarikhul Yaqubi, Beirut, 1960; Al-Buldan, Leiden, 1892.
6. Al-Baladhuri: Futuhul Buldan, Kairo, 1959.
7. Dinawari: Akhbarut Tiwal, Kairo, 1960.
8. Ath-Thabari: Tarikhul Umam wal Muluk, Kairo, 1939.
9. Al-Mas’udi: Murujudz Dzahab, Kairo, 1958; Al-Tanbih wal Ashraf, Kairo, 1938.
10. Ibnu Rustah: A'laqun Nafisa, Leiden, 1892.
11. Isfahani: Al-Aghani, Kairo, 1905.
12. Yaqut: Mu'jamul Buldan, Teheran, 1965.
13. Abu Yusuf: Kitabul Kharaj, Kairo, 1962.
14. Edward Gibbon: Decline and Fall of the Roman Empire, London, 1954.
15. Alois Musil: The Middle Euphrates; New York, 1927.

Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi
Bab 1: Sang Anak Lelaki
(Halaman 1)
"Sebaik-baik kamu di masa jahiliyah adalah sebaik-baik kamu di masa Islam apabila mereka mengetahui." [Nabi Muhammad (Saw)][1]


Khalid dan seorang anak lelaki yang jangkung saling berpandangan. Mereka mulai bergerak memutar, fokus satu sama lain, masing-masing mencari celah untuk menyerang dan bersiap menerima serangan. Tidak ada kebencian dalam mata mereka; yang ada hanya sebuah semangat kompetisi dan ketetapan hati yang tidak tergoyahkan untuk menang. Khalid merasa perlu untuk berhati-hati karena lawannya adalah seorang kidal yang mempunyai keunggulan seperti orang kidal lainnya dalam pertarungan.

Gulat adalah olahraga yang populer di kalangan anak-anak Arab di masa itu dan mereka biasa bergulat dengan teman sebayanya. Tidak ada kebencian dalam pertarungan-pertarungan tersebut. Gulat adalah olahraga dan anak laki-laki diajarkan untuk bergulat sebagai salah satu syarat mencapai kedewasaan. Namun, kedua remaja ini adalah yang terkuat dan pemimpin di antara anak-anak sebayanya. Bisa dibilang, ini adalah sebuah pertarungan kelas berat. Keduanya seimbang. Mereka seumur dan baru masuk di usia belasan tahun. Keduanya tinggi dan tegap, otot-otot bahu dan lengan tampak jelas berselimut keringat di bawah sinar matahari. Lawan Khalid lebih tinggi sekitar 2,5 cm, dan keduanya memiliki wajah yang sangat mirip sehingga orang sering keliru memanggil mereka.

Khalid membanting si anak jangkung, tetapi jatuhnya tidak seperti biasa. Ketika ia jatuh, terdengar bunyi patah dan sesaat kemudian, bentuk kakinya menunjukkan dengan jelas bahwa tulangnya patah. Anak itu terkulai di tanah dan Khalid hanya bisa melihat keadaan mengerikan yang dialami teman dan sekaligus keponakannya.

Seiring waktu, cedera anak jangkung itu sembuh dan kembali kuat. Ia kembali bergulat dan bahkan menjadi salah satu pegulat terbaik. Bersama Khalid, ia terus menjadi teman. Meskipun keduanya secara alami cerdas, kuat, dan bertenaga, keduanya kurang memiliki kesabaran dan kebijaksanaan. Mereka terus bersaing di hampir setiap aktivitas yang mereka lakukan.

Pembaca sebaiknya mencatat bahwa anak jangkung ini akan memainkan peranan penting dalam kehidupan Khalid. Dia adalah anak Al-Khaththab, yaitu 'Umar.

Segera setelah dilahirkan, Khalid dipisahkan dari ibunya, sebagai salah satu adat kaum bangsawan Quraysy, dikirim kepada salah satu suku Badwi di gurun pinggiran kota. "Ibu susu" dicarikan untuknya untuk merawat dan membesarkannya. Dalam udara gurun yang jernih, kering, dan tidak terpolusi, pondasi-pondasi kehidupan ditanamkan bersamaan dengan kekuatan fisik dan kesehatan prima yang akan sangat bermanfaat bagi Khalid di sepanjang hayatnya kelak. Dari masa bayi, ia tumbuh sampai masa kanak-kanak bersama suku Arab gurun pasir (Badwi); dan ketika usianya lima atau enam tahun, ia dikembalikan ke rumah orang tuanya di Makkah.

Semasa kanak-kanaknya, ia mendapat serangan cacar ringan yang tidak membahayakan, tetapi menyisakan sedikit bekas cacar di wajahnya. Bekas ini tidak merusak wajah tampannya, bahkan wajah tampannya "menyusahkan hati" para gadis Arab .

Khalid tumbuh menjadi remaja dan mulai merasakan hidup enak kaum bangsawan karena ia adalah anak seorang kepala klan. Ayahnya, Al-Walid, adalah kepala Bani Makhzum, salah satu klan bangsawan di Makkah, dan ia juga terkenal dengan gelar Al-Wahid 'Satu-satunya'. Pengasuhan Khalid kini diambil alih ayahnya yang dengan usaha terbaiknya (dan juga hasil yang sempurna), menanamkan nilai-nilai tradisi Arab: keberanian, keterampilan bela diri, ketangguhan, dan kedermawanan. Al-Walid sangat bangga dengan keluarganya dan silsilah moyangnya, dan ia mengenalkan kepada Khalid bahwa dia adalah:

Khalid
bin Al-Walid
bin Al-Mughirah
bin Abdullah
bin 'Umar
bin Makhzum (nama Bani Makhzum diambil dari namanya)
bin Yaqza
bin Murrah
bin Ka'ab
bin Lu'ay
bin Ghalib
bin Fihr
bin Malik
bin Nadr
bin Kinanah
bin Khuzaimah
bin Mudrikah
bin Ilyas
bin Muzar
bin Ma'ad
bin Ud
bin Muqawwam
bin Nahur
bin Tairah
bin Ya'rub
bin Yashjub
bin Nabit
bin Isma'il (dianggap sebagai bapak Bangsa Arab)
bin Ibrahim (sang nabi)
bin 'Azar
bin Nahur
bin Sarugh
bin Arghu
bin Falakh
bin 'Aibar
bin Syalakh
bin Arfakhshaz
bin Sam
bin Nuh (sang nabi)
bin Lamik
bin Mattusyalakh
bin 'Idris (sang nabi)
bin Yard
bin Muhlayl
bin Qaynan
bin Anusy
bin Syits
bin Adam (bapak seluruh manusia)

Catatan Kaki Halaman 1
[1] Bukhari, dari Abu Hurayrah. Shahih Al-Jami'us Shaghir No. 3267


______________________________________________________
(Halaman 2)
Suku besar Quraysy yang mendiami Makkah telah mengembangkan sebuah pembagian tugas yang jelas tentang hak dan tanggung jawab kepada klan-klan utamanya. Tiga klan yang paling utama di dalam Suku Quraysy adalah Bani Hasyim, Bani Abduddar (yang darinya terbentuk Bani Umayyah), dan Bani Makhzum. Bani Makhzum adalah penanggung jawab masalah militer. Klan ini mengembangbiakkan dan melatih kuda yang akan digunakan oleh Suku Quraysy dalam pertempuran. Mereka juga mengatur dan mempersiapkan perbekalan untuk ekspedisi militer; dan secara umum, menyediakan komandan-komandan yang memimpin Quraysy dalam pertempuran. Suasana militer ini mempengaruhi Khalid dalam pertumbuhannya.

Ia diajarkan berkuda sejak kecil. Sebagai seorang Makhzumi, ia harus menjadi menjadi penunggang yang sempurna dan dalam waktu singkat, ia menguasai seni berkuda. Tidak cukup hanya menunggang kuda terlatih, dia harus bisa menjinakkan kuda liar menjadi kuda perang terlatih. Bani Makhzum termasuk di antare penunggang kuda terbaik di Arab dan Khalid menjadi salah satu penunggang terbaik di antara Bani Makhzum. Terlebih lagi, tidaklah seorang Arab dinilai sebagai penunggang yang baik jika ia hanya tahu tentang kuda; ia juga harus sama baik pengetahuannya tentang unta, kedua hewan ini sangat penting dalam gaya peperangan Arab. Kuda digunakan ketika bertarung, sedangkan unta digunakan untuk perjalanan jauh dimana kuda tidaklah dibebani atau ditunggangi.

Di samping menunggang kuda, Khalid mempelajari keterampilan bertarung. Ia berlatih menggunakan semua senjata: tombak, lembing, panah, dan pedang. Ia berlatih bertarung di atas kuda maupun dengan berjalan kaki. Di antara keahliannya dalam menggunakan berbagai senjata, ia secara alami berbakat dalam menggunakan lembing, senjata yang ia gunakan saat menyerbu dari atas kuda; dan pedang, baik untuk duel di atas kuda maupun dengan berjalan. Pedang dianggap oleh orang Arab sebagai senjata ksatria karena selalu dibawa; dan dalam pertarungan dengan pedang, seseorang akan bergantung pada kekuatan dan keterampilan, bukan dengan menjaga jarak dengan lawan. Pedang adalah senjata yang paling dipercaya.

Ketika Khalid tumbuh dewasa, tingginya lebih dari 183 cm. Bahunya lebar, dadanya bidang, dan ototnya tampak kokoh pada tubuhnya yang tegap dan atletis. Janggutnya tebal dan memenuhi wajahnya. Dengan tubuh yang baik ini, ditambah kepribadian yang keras dan kemampuannya menunggang kuda serta menggunakan berbagai senjata, dia dengan cepat menjadi populer dan dikagumi di Makkah. Sebagai pegulat, ia telah mendaki tangga menuju pencapaian tertinggi dengan menggabungkan keahlian dengan kekuatannya yang besar.

Bangsa Arab biasa memiliki keluarga besar. Seorang ayah biasanya memiliki sejumlah istri untuk menambah jumlah anaknya. Al-Walid mempunyai enam saudara laki-laki. (Kemungkinan ada lebih, tetapi yang dicatat hanya enam). Dan anak-anak Al-Walid yang tercatat ada lima laki-laki dan dua perempuan. Anak laki-lakinya adalah Khalid, Walid (diberi nama yang sama dengan ayahnya), Hisyam, Ammarah, dan Abdu Syams. Anak perempuannya adalah Faktah dan Fatimah.

Al-Walid adalah orang kaya. Oleh karena itu, Khalid tidak harus bekerja untuk penghidupannya dan bisa berkonsentrasi untuk melatih keahliannya dalam menunggang kuda dan bertarung. Karena latar belakang keluarganya yang kaya, Khalid tumbuh tanpa menghiraukan kondisi ekonomi dan dikenali sebagai orang yang hidup mewah dan sangat dermawan ketika ada orang yang meminta tolong kepadanya. Kedermawanannya ini kelak akan membawanya pada masalah serius.

Al-Walid adalah orang kaya, tetapi Suku Quraysy adalah orang-orang demokratis, setiap orang disyaratkan untuk bekerja atau beraktivitas lainnya; entah untuk mendapat upah atau hanya untuk menjadi orang yang berguna di masyarakatnya. Dan Al-Walid, selain merekrut pekerja dalam jumlah cukup banyak, ia juga bekerja sendiri. Di waktu senggangnya, ia adalah pandai besi [1] dan tukang jagal hewan [2], menyembelih hewan untuk klannya. Ia juga adalah pedagang dan bersama anggota dari klan lain, ia mengorganisasikan dan mengirim kafilah dagang ke negeri tetangga. Lebih dari satu kali, Khalid menemani kafilah dagang ke Syams dan mengunjungi kota-kota perdagangan yang besar yang berada di salah satu provinsinya Romawi. Di sana, ia bertemu dengan orang-orang Arab beragama Kristen dari Suku Ghassan, orang-orang Persia dari Ctesiphon, Koptik dari Mesir, dan Romawi dari Imperium Bizantin.

Khalid memiliki banyak teman yang bersamanya, mereka berkuda dan berburu. Ketika mereka tidak beraktivitas di luar rumah, mereka akan saling mengadu kemampuan syair, membangga-banggakan jalur keturunan mereka, dan berlomba meminum minuman keras. Beberapa di antara teman dekatnya ini akan memainkan peranan penting dalam kehidupan Khalid kelak. Di antara mereka, sejumlah nama yang perlu dicatat selain ‘Umar adalah ‘Amr bin Al-‘Ash dan Abul Hakam. Abul Hakam bernama asli ‘Amr bin Hisyam bin Al-Mughirah, yang kelak akan mendapat nama baru: Abu Jahl. Dia adalah kakak sepupu Khalid. Kemudian anaknya, Ikrimah, adalah keponakan kesayangan Khalid dan sekaligus teman dekatnya.

Al-Walid bukan hanya sekedar ayah dan guru anak-anaknya; ia juga adalah instruktur militer, dan dari beliaula, Khalid mendapat pelajaran pertamanya tentang seni berperang. Ia mempelajari bagaimana cara bergerak dengan cepat di gurun, bagaimana cara mendekati pemukiman musuh, dan bagaimana cara menyerangnya. Ia mempelajari pentingnya menyerang musuh saat mereka tidak siap, menyerang musuh di momen yang tidak diduga-duga, dan bagaimana mengejar mereka ketika mereka telah kabur dari medan tempur. Peperangan ini biasanya terkait masalah kesukuan, tetapi Bangsa Arab telah sangat paham pentingnya kecapatan, mobilitas, dan efek kejutan. Peperangan antar suku saat itu didasarkan pada taktik ofensif.

Di saat mencapai kedewasaannya, fokus ketertarikan Khalid tertuju pada peperangan dan dengan cepat menjadi sebuah obsesinya. Pikiran Khalid adalah pikiran tentang pertempuran; ambisinya adalah ambisi kemenangan. Kemauannya sangat keras dan hiasan psikologisnya adalah tentang militer. Ia mengimpikan untuk ikut dalam pertempuran besar dan memenangkannya, ia sendiri adalah seorang jagoan; dikagumi dan dipuja semua orang. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk mengikuti pertempuran dan kemenangan. Dan ia menjanjikan dirinya dengan banyak darah. Tanpa diketahui olehnya, takdir mempunyai pikiran yang sama tentang Khalid, anak Al-Walid.

Catatan Kaki Halaman 2
[1] Ibnu Qutaybah: hlm. 575.
[2] Ibnu Rustah: hlm. 215.


--Akhir dari Bab 1--
Diubah oleh plonard
×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di