Gowes Pioneering …

Track Kucur

Hari Sabtu, 9 Februari 2014 sekali lagi kita membangkitkan Divisi Sabtu dari alam kesunyiannya. Kali ini tujuannya adalah Nyari Jalur baru di sekitaran Malang Raya saja.

Seperti direncanakan semula, kali ini track yang pilih adalah daerah Kalisongo, tepatnya Dusun Kucur via Bandulan.

Peserta Divisi Sabtu kali ini adalah WW, Heru, Erik, dan Rombeng KW…….Yah .. cukup berempat namun bakalan seru.

Kami memilih titik kumpul di depan Museum Brawijaya Jl Ijen Malang. Karena memang gowes santai, kami berkumpul sekitar jam 06.30. Meski tidak ikut, Mlg Ngoeg menyempatkan diri untuk mampir ke titik kumpul sebelum memulai ritual memandikan bayi (maklum kemaruk anak pertama hahahahah).

Setelah chit chat sebentar dan menunggu Heru datang, kami pun langsung memulai start lewat Jl. Wilis menuju perempatan Dieng. Sampai perempata Dieng, kami tekuk kiri menuju Jl. Raya Langsep dan menuju perempatan Mergan. Kontur jalan masih landai dan turun sampai ke Jembatan Bandulan.

Dari jembatan Bandulan ini, kontur mulai nanjak, dan kami menyempatkan diri untuk mampir ke salah satu swalayan jamur untuk membeli perbekalan ala kadarnya. Di sini Heru setelah berdikusi dengan Erik masih sempat-sempatnya KLIK BELI di Bukalapak ..... Mumpung murah katanya… urusan bayar dipikir belakang daripada keduluan yang lain wakakakakakak …. Saya suka semangat pemudah macam ini ….

Dari swalayan, kami langsung menjejak pedal menerbangkan sepedah di sela-sela desiran angin dan bunyi knalpot kendaraan yang super bising di jalanan Bandulan yang terkenal dengan pusatnya buruh pabrik…. Jangan tanya kalo jam-jam segitu di sini bakalan tumplek blek orang-orang dari daerah selatan yang berbondong-bondong menyerbu pabrik-pabrik di kawasan Bandulan.

Sampai di pertigaan Pabrik Bandulan, kami ambil jalur ke kiri dan lanjut masuk gang menuju Perumahan Pandanlandung … Yah … perumahan sangat sederhana di tengah-tengah kebun tebu dan persawahan … gak bisa membayangkan kalau malam hari lewat sini gimana rasanya …. Hiiiiiiiii

Kontur jalanan di sini mulai menanjak, perlahan tapi pasti Heru Tri sebagai Kepala Suku Divisi Sabtu menyeruak di depan di susul WW dan Erik dan Rombeng KW di bagian belakang. Kami pun tiba di salah satu spot yang cukup menarik. Sebuah pohon besar di tepi sungai.

Jalan terus menanjak menuju Dusun Kuso Kalisongo. Setelah memasuki perkampungan, kami memutuskan untuk ambil jalur tanah... hanya berbekal GPS dan nekat, kami pun masuk ke rerimbunan pohon yang langsung disambut dengan kontur tanah yang menanjak di sela-sela pohon bambu. Tapi ini tidak berlansung lama karena begitu samapai di bibir jurang, kami pun langsung disambut dengan turunan yang aduhai.

Turunan ini tidak terlalu panjang tapi cukup memberikan sensasi tersendiri. Dengan kontur tanah yang basah dan cenderung lembek, kami pun tertawa terbahak-bahah ketika melihat Rombeng KW berusaha mengendalikan sepedanya saat menuruni jalanan yang lembek ini….

Setelah habis turunan, kami dihadapkan oleh pertigaan… ke kanan arahnya naik …. Ke kiri turun… degan sedikit menebak, kami memutuskan ambil kiri karena kalo ke kanan pasti menuju kampung. Ternyata tebakn kami rada meleset, ambil jalur kiri malah cenderung nanjak hahahahaha .... meskipun akhirnya setelah sampai di puncak, kami bertemu dengan sedikit turunan menuju sungai (jalan nanjaknya udah habis dan buntu).

Dengan sedikit mengeluarkan tenaga ekstra kami pun turun menuju sungai yang otomatis selanjutnya tanjakan panjang pun siap menanti. Dan tanjakan ini pun tidak ada habisnya sampai menuju Dusun Kucur Desa Kalisongo. Namun dengan melihat kontur yang ada, kami pun sepakat kalau next time, harus dibalik jalurnya pasti seru.

Setelah sampai perkampungan, kami pun harus memilih lagi. Ambil jalur aspal atau turun menju ke bawah dan pasti ketemu jurang lagi. Akhirnya kami memutuskan untuk turun ke bawah ambil jalur jurang dan ketemu lagi dengan sungai dan tanjakan panggul di mana kami harus memanggul sepeda untuk bisa naik ke tebing menuju bukit selanjutnya.

Setelah penuh perjuangan menaiki tebing dan sampai ke jalan datar, kami pun sedikit menikmati lagi track yang datar dan turun sampai akhirnya ketemu dengan sungai kecil dan menuju ke perkampungan lagi lewat makam.

Sampai di jalan raya, tampaknya kami sudah mulai ragu-ragu apakah lanjut nyari track lagi via Tegalweru, namun waktu sudah menujukkan pukul 10.00 yang dirasa tidak lagi memungkinkan untuk ambil jalur lagi karena salah satu dari kami harus sudah balik kandang jam 11.00.

Kami pun ambil jalur jalan raya via BCT dan Tidar lalu kembali ke rumah masing-masing.

Perjalanan singkat namun keluar keringat dan menyehatkan …. Next time, kita coba ambil jalur dari atas Kucur untuk mencoba sensasi turunan yang lumayan aduhai ….