alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / REGIONAL / All / ... / Bromo /
¤* [FORSUP Reg. Bromo] Supranatural , Spiritual & Budaya Regional BROMO *¤

Legenda Coban Baung

COBAN BAUNG

Pada suatu malam, bulan nampak bundar di langit. Cahayanya yang keemasan menambah keelokan malam.
Seorang putri jelita terbangun dari semadinya. Cahaya bulan yang masuk ke dalam gua, tempatnya bertapa, menyilaukan matanya. Sementara itu, gemuruh suara air terjun di hadapannya terdengar merdu. Gua, tempat putri itu bertapa memang terletak di balik air terjun itu.
'Ah, indah sekali malam ini. Tak terasa sudah sepurnama aku bersemadi," ujar putri itu sambil memandang keindanan bulan dari balik air terjun.
Putri itu mengalihkan pandang matanya ke desa di bawah sana. Desa itu nampak indah sekali. Sang Putri tiba-tiba merasa kesepian. Sejak tadi cuma gemuruh air terjun yang terdengar.
Tiba-tiba, timbul keinginan Putri itu untuk bercengkrama dengan seseorang. Lalu, ia mengamati desa itu. Berkat kesaktiannya ia bisa melihat seluruh wajah desa itu.
Tatapannya terhenti pada seorang pemuda yang se­dang menatap bulan dari jendela kamarnya yang terbuka.
"Oh, sungguh rupawan pemuda itu! Malam ini pasti menyenangkan bila aku bisa bersamanya," desah putri itu, mengagumi ketampanan pemuda itu. Wajah pemuda itu semakin nampak elok, karena cahaya bulan bermain-main di wajahnya.
Putri itu lalu bersemadi. Kesaktiannya ternyata bisa mempengaruhi pemuda itu. Tiba-tiba saja pemuda itu ingin pergi ke air terjun.
"Hmm....! Pasti asyik sekali mandi di bawah cahaya bulan," gumam pemuda itu. Kemudian bagaikan dituntun sebuah kekuatan gaib, ia bergegas pergi ke air terjun. .
Di tengah jalan ia bertemu dengan seorang kakek tua, sesepuh di desa itu.
"Mau ke mana, Anak Muda?" sapa kakek itu. "Saya. hendak mandi di bawah air terjun, Kek,” jawab pemuda itu.
"Wahai pemuda! Sebaiknya jangan pergi mandi di sana saat bulan purnama seperti ini," nasihat kakek itu.
"Baiklah, Kek. Saya tidak akan mandi. Saya cuma ingin memandangi keindahan air terjun di sana," jawab pemuda itu. Lalu, ia meninggalkan kakek itu. Sementara itu, sang kakek memandangi punggung pemuda itu dengan perasaan gundah.
Sesampainya di air terjun, tiba-tiba pemuda itu melihat suatu pemandangan yang ganjil. la melihat sebuah istana megah di balik air terjun itu. Titik-titik air terjun bagaikan sebuah tirai tipis yang menyelubungi istana itu.
"Aneh! Ada istana megah di sana! Apakah aku sedang bermimpi?" gumamnya takjub.
Tiba-tiba, air yang bagaikan tirai tersibak. Seorang putri jelita muncul di sana. Pemuda itu terpana seketika. "Oh, cantik sekali putri itu," pikirnya. "Kenapa termangu-mangu di situ, Pemuda Rupawan? Kemarilah, temani aku!" sapa putri itu dengan suara merdu.
Pemuda itu belum pulih dari rasa terkejutnya. la belum bisa berkata-kata. Agak lama kemudian ia berkata tergagap, "Siapakah kau? Dedemitkah?"
"Aku seorang putri raja dari Madura. Aku penguasa istana ini! Ayo kemarilah! Aku sengaja mengundangmu kemari karena aku ingin berbincang denganmu," jawab putri itu sembari tersenyum memikat.
Di hadapan pemuda itu, tiba-tiba membentang sebuah tangga. Ujung tangga itu menguak air terjun dan menuju ke istana. Setengah sadar, pemuda itu menaiki tangga dan pergi menemui putri jelita itu.
Malam itu, penduduk desa kehilangan seorang warganya. Mereka mencari pemuda itu ke seluruh pelosok desa. Namun, pemuda itu tidak mereka temukan.
"Mungkin, ia masih ada di sekitar air terjun!" ujar kakek yang semalam bertemu dengan pemuda itu. Penduduk desa pun segera mencari ke sana. Mereka memanggil-manggil nama pemuda itu. Namun, pemuda itu tak muncul jua.
Tiba-tiba, mereka mendengar sayup-sayup suara gamelan ditabuh di sela-sela gemuruh air terjun. Suara itu seakan-akan berasal dari gua di balik air terjun. Sepertinya di sana sedang berlangsung sebuah pesta pernikahan. Penduduk desa mendadak merasa sedih.
"Kau tak mau mendengarkan nasihatku, Nak," ujar kakek tua itu sedih. "Agaknya, Putri Madura itu sedang mencari korban lagi semalam. Kaulah yang dipilihnya. Sungguh malang nasibmu, Nak!"
Hari itu seluruh penduduk desa berkabung. Mereka menyesali kepergian seorang warga desanya yang ru­pawan.
Kesimpulan
Cerita ini termasuk legenda. Sampai sekarang air terjun yang konon meminta kurban tubuh pemuda itu masih ada. Air terjun itu dinamai Coban Baung. Air yang jatuh dari ketinggian 55 meter itu masih tetap mempesona. Apalagi saat purnama.
Kini, Coban Baung termasuk salah satu obiek wisata di Jawa Timur. Letaknya di dekat kawasan Kebun Raya Purwodadi. Siapa pun boleh mengagumi keindahannya. asal tidak naik ke puncak air terjun itu.
Puncak Coban Baung itu terdiri dari batu-batuan yang sangat licin. Kalau tidak hati-hati kita bisa tergelincir dan terbanting ke bawah. Kecelakaan seperti itu tentu bisa mengakibatkan kematian. Itukah yang menyebabkan kematian pemuda itu? Tak seorang pun yang tahu!
Kata-kata manis belum tentu bermaksud manis. Oieh karena itu, kita harus pintar menafsirkan apa yang tersirat dalam kata-kata manis itu.
Diubah oleh Kwek.Kwek.Kwek
Thread sudah digembok
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di