SRC-2013 Bulan Maret: The Girl with the Dragon Tattoo


Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu
Judul : The Girl with the Dragon Tattoo
Judul Asli: Män som hatar kvinnor(Pria yang membenci wanita)
Pengarang : Stieg Larsson
Penerbit : Qanita
Penerjemah: Nurul Agustina
Tahun : 2011
Genre : Crime, Detective, Thriller
Tebal : 780
ISBN13: 9786029225341


Sinopsis

Mikael Blomkvist, seorang wartawan investigasi yang sedang dirudung masalah hukum, mendapat pekerjaan dari seorang pensiunan taipan industrialis, Henrik Vanger, untuk menyelidiki kasus hilangnya keponakan kesayangan Vanger, Herriet Vanger, 36 tahun silam. Blomkvist menyewa bantuan Lisbeth Salander, seorang peretas jenius anti-sosial yang memiliki ingatan fotografis untuk mengungkap kasus hilangnya Harriet serta masalah keluarga Vanger yang menyelimutinya.

Ulasan

Melanjutkan SRC 2013 yang bertemakan ekranisasi yang dimana saya harus mengambil sebuah novel yang pernah diadaptasi menjadi film. Maka, saa melihat lemari buku saya dan mengambil satu buku menarik yang sudah lama saya beli namun tidak sempat saya baca, yakni The Girl with the Dragon Tattoo. Pilihan saya sekali lagi tidak salah, dan pujian yang disampaikan pada buku ini memang tidak berlebihan.

The Girl with the Dragon Tattoo bisa dikatakan sebagai novel kriminal investigatif yang tidak akan bisa tepat disebut sebagai novel “detektif”. Pertama karena cerita ini tidak dibawakan oleh seorang detektif, profesional, atau amatir melainkan seorang wartawan. Dia bisa memberikan perspektif yang cukup berbeda daripada novel detektif kebanyakan karena walaupun persis, prinsip investigasi seorang wartawan seperti Blomkvist sangat berbeda daripada detektif swasta apalagi profesional. Salander yang bekerja paruh waktu untuk sebuah perusahaan keamanan pun sama sekali jauh dari apa yang sering kita lihat dari investigasi ala detektif.

Hal yang patut dipuji dari cerita yang dibawakan penulis ini tidak berhenti sampai pada karakterknya melainkan juga ide-ide dalam buku yang dimiliki secara keseluruhan. Berbeda dari novel kriminal kebanyakan, Stieg Larsson berusaha menuliskan tidak hanya memberi rasa ketegangan dan misteri dari mengejar dan mengupas suatu kasus namun juga memberi kritik sosial pada kondisi masyarakat Swedia di masanya. Dengan banyaknya isu sosial yang begitu banyak dia gambarkan dalam buku, tidak ada satupun yang terasa benar-benar terasa hanya memperpanjang buku tanpa tujuan. Setiap kritik dan penggambaran yang di lakukan Stieg Larsson terasa pas sehingga cakupan yang ada pada The Girl with the Dragon Tattoo lebih luas daripada sekedar konflik utama penyelesaian kasus hilangnya Harriet Vanger. Buku ini adalah cerita detektif dengan Swedia yang benar-benar lengkap dari berbagai sisi sebagai latar belakang, tidak hanya sekedar panggung yang ada sebagai tempat untuk cerita.

Karakter-karakter yang berperan dalam The Girl with the Dragon Tattoo terasa berbeda satu sama lain. Setiap dari mereka terasa lebih dari sekedar boneka yang berjalan, melainkan juga terasa seperti manusia. Baik Lisbeth Salander maupun Mikael Blomkvist tidak akan ragu mempertahankan pendirian yang sudah menjadi bagian dari karakter mereka bahkan terhadap karakter lain yang sudah banyak membantu sekalipun jika mereka berusaha menyalahi pendirian keduanya. Hubungan antar karakter juga terjadi secara alami sebagaimana mestinya tanpa ada yang terasa tidak perlu. Setiap interaksi membawa kita jauh lebih dalam kepribadian karakter baik langsung pada saat itu juga atau nanti di suatu titik dalam cerita.

Plot dan cerita juga disajikan dengan baik. Setiap misteri muncul satu sama lain silih berganti setelah yang lainnya terungkap. Stieg Larsson juga dengan sangat mantap bisa menempatkan plot device yang awalnya saya kira itu bukanlah sama sekali yang penting sampai suatu titik dalam cerita. Klimaks dalam perajutan benang konflik juga terasa memuaskan karena dieksekusi dengan ciamik setelah dilakukannya rangkaian pengungkapan kebenaran yang menegangkan. Epilog mengenai kasus pribadi Mikael Blomkvist yang menjadi pembuka dari cerita ini bisa menjadi pengingat betapa luasnya cakupan dalam buku ini.

Masalah yang selalu saya temui di buku ini adalah bagaimana Stieg Larsson melakukan deskripsi tidak penting secara berlebihan. Banyak sesungguhnya detil akan suatu tempat yang tidak diperlukan dituliskan secara berlebihan sehingga menambah ketebalan yang tidak perlu bagi buku ini. Satu hal yang paling mengganggu adalah bagaimana Stieg Larsson meletakkan paragraf infodump yang disamarkan dalam bentuk dialog. Itu benar-benar bagian penulisan paling buruk dalam buku yang untungnya tidak diulangi oleh si penulis sepanjang buku sesudahnya.

Stieg Larsson, penulis Trilogi Millenium, adalah seorang wartawan sekaligus partisan partai kiri yang meninggal sebelum dapat melihat buku pertamanya rilis. Walaupun Stieg Larsson berafiliasi politik, dia tidak melakukan filibuster pemikirannya kedalam cerita. Dia tidak menyerang orang-orang yang memiliki pemikiran yang bersebrangan dengannya. Apa yang ada didalam bukunya hanya kritik sosial pada masyarakat Swedia secara luas pada masanya.
Satu hal lagi, walaupun seri buku yang dituliskan oleh Stieg Larsson ini bertajuk sebagai Trilogi Millenium(Millenium adalah majalan yang didirikan Blomkvist), tidak konflik yang tidak terselesaikan yang mengharuskan kita membaca buku berikutnya. Yang ada mungkin hanyalah bibit konflik ataupun misteri kecil yang tidak terungkap untuk diekspos pada buku berikutnya dan ini menurut saya perlu dipuji mengingat genre buku ini adalah detektif dan kriminal. Membiarkan pembacanya tergantung dan diharuskan membaca satu buku lagi agar suatu hal yang penting menjadi jelas itu merupakan kesalahan yang banyak dibuat penulis novel berseri-logi kebanyakan. Stieg Larsson menghindari jebakan yang sama.

The Girl with the Dragon Tattoo merupakan sebuah novel detektif dan kriminal yang tidak biasa karena luasnya cakupan konflik dan ide-ide yang dituliskan kedalamnya jika dibandingkan dengan novel se-genre lainnya di masa kekinian. Mungkin ini bisa saja salah karena bahan pembanding saya pada saatmembaca buku hanyalah Tokyo Zodiac Murders. Tapi walau begitu, kualitas yang ditawarkan novel ini tidak dapat disangkal. Tebal yang ditawarkan mungkin mengintimidasi tapi itu tidak akan benar-benar terasa begitu kita mulai masuk kedalam misterinya.

Tidak salah lagi, buku pantas mendapat 4/5. Jika bukan karena penulisannya yang berlebih pada deskripsi sehingga menghemat halaman, pasti bisa dapat nilai sempurna.

4/5
emoticon-thumbsupemoticon-thumbsupemoticon-thumbsupemoticon-thumbsup