alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Sejarah & Xenology /
Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
Duel di Awal Pertempuran Marajus Suffar (19 Agustus 634)


Setelah mengalami kekalahan dalam Pertempuran Ajnadayn, Kaisar Heraklius tidak memiliki pilihan selain mempertahankan Damaskus sekuat tenaga. Ia berpacu dengan waktu, pasukan Islam telah mendekati Damaskus. Dari Antiokia, ia mengirim bala bantuan tentara pimpinan Jenderal Kulus ke Damaskus. Bala bantuan lainnya masih Heraklius siapkan, namun baru bisa tiba di Damaskus kelak setelah Damaskus telah dikepung.

Setelah tiba di Damaskus, Thomas (menantu Heraklius dan Panglima tertinggi Bizantin di Syam) mengirim semua pasukan bantuan pimpinan Kulus tersebut, ditambah sejumlah garnisun Damaskus yang dipimpin Jenderal Azazir untuk menghadang kemajuan pasukan Khalid. Jumlah pasukannya adalah 12.000 orang, misi mereka setidaknya memberikan waktu bagi Thomas untuk mempersiapkan kebutuhan logistik Damaskus dalam menghadapi kepungan pasukan Islam yang segera tiba.

Sayangnya, Thomas tidak memperhatikan permasalahan kepemimpinan pasukan. Azazir dan Kulus (keduanya merupakan veteran perang) pada kenyataannya saling bersaing untuk memperoleh prestasi pribadi dan mengakibatkan dualisme kepemimpinan dalam pasukan yang dikirim.

Pasukan ini bertemu dengan bagian depan pasukan Islam di Marajus Suffar. Bagian utama pasukan Islam masih tertinggal sejauh dua jam perjalanan. Khalid dan Azazir-Kulus membariskan pasukan masing-masing dalam barisan siap tempur. Khalid mengambil inisiatif untuk berduel, sambil menunggu badan utama pasukannya tiba. Pasukan Bizantin pun tidak berinisiatif ofensif karena mereka juga hendak mengulur waktu untuk persiapan Damaskus.

Fase duel ini diawali Khalid dengan mengutus Dhirar, Syurahbil, dan Abdurrahman bin Abu Bakr (anak khalifah). Ketiganya berkelompok bertarung dalam pertarungan 3-on-3 melawan tiga orang kapten Bizantin. Ketiga kapten Bizantin terbunuh. Bahkan Dhirar, Syurahbil, dan Abdurrahman sempat memancing emosi sejumlah prajurit Bizantin di barisan depan. Setidaknya, sejumlah prajurit Bizantin termakan pancingan dan terbunuh juga. Dhirar yang bertarung sambil bertelanjang dada, membunuh lebih banyak daripada kedua rekannya sebelum ketiganya kembali ke barisan pasukan masing-masing.

Proses ini memakan waktu sekitar satu jam lebih. Khalid memutuskan sudah waktunya pertunjukan "kelas berat". Khalid maju mengendarai kudanya ke depan, sambil berteriak menantang,

"Aku pilar Islam!
Aku sahabat Nabi!
Aku prajurit terhormat, Khalid bin Al-Walid!"

Karena Khalid adalah komandan pasukan, tantangannya diterima oleh sesama komandan di pihak musuh. Kulus maju, namun tidak sepenuh hati setelah melihat sejumlah prajuritnya tewas dalam pertarungan sebelumnya. Ia akhirnya maju karena dipancing gengsi setelah Azazir mencemoohnya.

Ketika Kulus telah mendekati Khalid, ia memberi bahasa tubuh bahwa ia hendak berbicara terlebih dahulu. Namun Khalid tidak memperhatikan hal ini dan langsung menyerang Kulus dengan tombaknya. Kulus berhasil menghindar dan menunjukkan skill bertarungnya yang sebenarnya cukup spesial. Khalid menyerang kembali, tetapi tusukan tombaknya kembali dihindari.

Khalid memutuskan tidak menggunakan tombaknya. Khalid mengendarai kudanya mendekati Kulus dan berhasil merenggut tubuhnya, kemudian Kulus dilempar dari kudanya. Kulus kesulitan bangun dan Khalid memanggil dua orang prajuritnya untuk menangkap Kulus dan menjadikannya tawanan perang.

Pasukan Bizantin terpukul secara moral, tetapi Azazir diam-diam merasa senang dan berharap pasukan Islam membunuh Kulus. Azazir kemudian maju dengan percaya diri, menganggap dirinya petarung yang lebih tangguh dibanding Kulus. Dia berpikir dapat menjatuhkan Khalid dengan mudah. Tetapi ia memilih untuk menghibur dirinya dengan mengejek Khalid. Ia berkata pada Khalid dalam Bahasa Arab, "Wahai saudara Arab-ku, mendekatlah sehingga aku bisa menanyakan sejumlah hal."

"Wahai musuh Allah," jawab Khalid. "Mendekatlah atau aku yang mendekatimu dan mengambil kepalamu." Azazir sedikit terkejut, tetapi ia mendekatkan kudanya pada kuda Khalid. Dengan intonasi santai dan bernada persuasif, ia berkata, "Wahai saudara Arab, apa yang membuatmu bertarung sendiri? Tidakkah Kau takut jika aku membunuhmu, pasukanmu akan bertempur tanpa komandan?"

"Wahai musuh Allah, Engkau telah menyaksikan apa yang sejumlah rekanku telah lakukan. Jika aku memberi mereka izin, niscaya mereka akan menghancurkan semua pasukanmu dengan pertolongan Allah. Aku memiliki pasukan yang menganggap kematian sebagai rahmat dan menganggap kehidupan ini sebagai ilusi belaka. Omong-omong, siapa Engkau ini?"

"Tidakkah Kau tahu siap aku? Aku adalah jagoan dari Syam! Aku adalah pembunuh orang Persia! Aku adalah penghancur pasukan Turki!" (sebelum diserbu pasukan Islam, Bizantin bertempur melawan Persia dan Turki yang masih bersifat nomad-pent)

"Siapa namamu?" tanya Khalid.

"Aku dipanggil menurut nama malaikat pencabut nyawa. Aku Azrael!"
(sebagian umat Kristen juga menganggap Izra'il atau Azrael sebagai malaikat maut-pent)

Khalid tertawa. "Aku khawatir dia yang namanya kau ambil, sedang mencarimu dengan semangat... untuk mengantarmu ke dasar neraka.!"

Azazir mengabaikan balasan ejekan Khalid dengan mengganti pokok pembicaraan," Apa yang telah kau lakukan dengan tawananmu, Kulus?"

"Kami menawannya dalam penjara."

"Apa yang mencegahmu untuk membunuhmu? Ia adalah orang Romawi yang paling cerdik."
(Orang Bizantin memanggil bangsa mereka Romawi-pent)

"Tidak ada yang mencegahku kecuali keinginan membunuh kalian berdua bersama."

"Dengar, aku akan memberimu 1.000 bongkah emas, 10 jubah tenun sutra, dan lima kuda jika Engkau membunuhnya dan memberikan kepalanya padaku."

"Itulah harga untuknya. Apa yang akan Engkau berikan untuk menyelamatkan dirimu sendiri? Apa yang Engkau inginkan dariku?"

"Jizyah!"

Jawaban ini membuat Azazir marah, "Saat kami bangkit dalam kehormatan, jatuhlah kalian dalam cela. Siapkan dirimu, karena aku akan membunuhmu."

Namun, kata-kata terakhir Azazir tidak sempat keluar dengan jelas karena Khalid ternyata menyerang terlebih dahulu. Khalid menyabetkan pedangnya beberapa kali. Tetapi Azazir menunjukkan skill pedangnya dengan menghindari semua serangan. Suara-suara kagum terdengar dari barisan pasukan Islam mengingat hanya sedikit orang yang bisa menandingi Khalid dalam duel di kalangan muslim. Khalid pun sedikit terperangah.

Wajah Azazir sedikit tersenyum saat ia berkata, "Demi Kristus, aku bisa membunuhmu dengan mudah jika aku mau. Namun aku memutuskan untuk menangkapmu hidup-hidup agar aku bisa membebaskanmu dengan syarat kalian meninggalkan tanah kami."

Khalid geram dengan sikap tenang dan percaya diri jenderal Bizantin tersebut. Khalid menyerang lagi, tetapi Azazir membalik tubuh kudanya dan berlari menjauh. Menganggap Azazir melarikan diri, Khalid mengejarnya. Keduanya kejar-kejaran di ruang kosong antara kedua pasukan masing-masing. Seiring waktu, kuda Khalid kelelahan. Kuda Bizantin ternyata lebih terawat dan lebih terlatih.

Tampak bahwa ini semua adalah rencana Azazir. Saat ia melihat kuda Khalid semakin tertinggal, ia dengan sengaja memperlambat kudanya dan menunggu Khalid. Suasana hati Khalid saat itu telah memanas setelah kalah dalam adu cepat, apalagi setelah mendengar Azazir mengejeknya, "Wahai orang Arab! Jangan berpikir aku kabur karena takut. Pada kenyataannya, aku bermaksud baik kepadamu. Perhatikanlah, aku adalah pencabut nyawa! Akulah malaikat maut!"

Kuda Khalid tidak sanggup lagi berlari. Khalid turun dari kudanya dan berjalan ke arah Azazir dengan pedang di tangan. Azazir tampak senang melihat musuh duelnya turun dari kuda. Azazir membawa kudanya berlari dan menyabetkan pedangnya untuk memotong kepala Khalid, tetapi Khalid menunduk dan pedang berlalu beberapa cm di atas kepalanya. Ternyata sambil merunduk, Khalid berhasil memotong paha depan kuda Azazir. Sesaat kemudian, Azazir dan kudanya terbanting ke tanah. Kali ini, Azazir kehilangan kepercayaan dirinya dan benar-benar berupaya melarikan diri. Namun Khalid melompat dan menangkap musuhnya. Khalid kemudian mengangkat dan membanting Azazir ke tanah. Azazir pingsan dan Khalid menyeretnya ke arah pasukan Islam. Azazir bergabung dengan rekannya, Kulus, di dalam penjara.

Duel ini berakhir sesaat sebelum badan utama pasukan Islam tiba. Segera setelah mereka dibariskan di sayap, Khalid memerintahkan serangan umum ke arah pasukan Bizantin yang telah kehilangan dua panglimanya.
×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di