alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Debate Club /
Trending Topic Debate
4.18 stars - based on 49 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000011306488/trending-topic-debate

Trend Topic Debate Club

WELCOME DEBATERS

Intellectual Debaters Club
Visi :

- Menjadi wadah para intelektual debaters berkumpul di dunia maya Indonesia.
Misi :

  1. Mengumpulkan debaters yang pintar berargumen dan cantik mengambil celah.
  2. Mendapatkan solusi dan kesimpulan dari debat.


Latar belakang :

  • Makin banyaknya debaters DC yang hanya mengandalkan kemampuan bacot dan junknya , menjadikan DC seolah tempat para SARAers , tukang flame dan para troller dan junker bermartabat ngumpul tanpa disertai kejeniusan yang memadai
  • Kurangnya debat bermutu yang benar-benar memperjuangkan pendapatnya dan didukung dengan data dan sumber yang menunjang ( data dan sumber penunjang argumen , bukan sebaliknya - red ) membuat tret-tret yang bermutu jadi ajang debat kusir yg tidak menemukan inti dari permasalahan yang didebatkan dan pembahasan terlalu meluas dan merubah alur tret .
  • Para debaters yang memang bertujuan debat tidak menemukan lawan yg sesuai dan akhirnya mengikuti arus atau malah tak ikut lagi terlibat dalam tret debat .


Intellectual debaters club terlahir sebagai wadah untuk menampung para debaters berdebat pintar nan cantik.


IDC terbuka kepada siapa saja , sepanjang berminat debat cantik dengan bebas , sesuai dengan rules yang berlaku di thread ini :
  1. Debat bebas tanpa batasan kriteria SARA tapi harus berkualitas dan tidak sekedar flame
  2. Debaters harus jelas menunjukkan sikap pro atau kontra dan mempertahankan mati-matian pendapatnya
  3. Perdebatan tidak meluas , hanya sebatas motion dari topik debat
    Contoh :
    motion : hukuman mati buat koruptor
    maka perdebatannya kagak bahas mending hukuman mati daripada penjara dsb yg ga berhubungan dgn motion
  4. Bahan debat bisa dari tret yang ada buat didebatkan lagi disini , atau disediakan panitia .
  5. Tiap 1 topik maksimal 1 minggu , bila panitia anggap belum 1 minggu sudah stagnan maka segera akan diganti. Bagi yang punya topik menarik ditunggu by pm
  6. Tiap junk post akan dideleted

Trit ini ga untuk didebatkan keberadaannya atau tempat bahas rulesnya , silahkan pm saia bila ada ide atau mau gabung jadi panitia :shakehand


Topik Sekarang :




Quote:


[url=http://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=543629447&postcount=2[/url]
Topik-topik Sebelumnya[/URL]

Topik-topik Sebelumnya II
Topik-topik Sebelumnya III

Quote:



DAFTAR PEMENANG

DAFTAR PEMENANG II
DAFTAR PEMENANG III



Let's debate. :beer:


Yang mau ikutan langsung aja reply , ingat rulesnya :mad:

Tambahan Rule :
Kalo di FJB ada rule No Afgan! atau No Rossa!
Untuk di IDC :
No junk and OOT, akan request delete post di D'Tox dan bila bandel request banned
Diubah oleh joeraygaul
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Thread sudah digembok

Closing Statement

Sudah closing ya? Okay then.

Begini, sejak awal saya berpegang teguh pada jawaban saya bahwa ya, download illegal memang merugikan musisi. Salah satu argumentasi saya adalah analogi petani yang tadi saya gunakan. Misalnya, seorang petani memiliki 3 buah ladang yang dia andalkan untuk mencari nafkah dan uang. Masing-masing ladang punya output produksi... katakanlah 20. Mendadak, pada suatu hari, ladang nomor satu hanya bisa memproduksi 10. Apakah ini kerugian? Ya, karena petani itu kehilangan ladang nomor satu sebagai salah satu sumber kehidupannya. Namuna apakah itu akhir dunia? Tidak. Sang petani bisa saja menambah output produksi ladang 2 dan 3, atau, lebih baik lagi, menciptakan ladang keempat.

Lantas dari manakah letak ruginya?

CD telah kehilangan prestise-nya. CD, yang tadinya dianggap sebagai sebuah pinnacle dan pencapaian tersendiri bagi sebuah band, tidak lagi menjadi sesuatu yang patut dibanggakan. Tentu saja, faktor ekonomi dari hilangnya aliran deras uang dari penjualan CD menjadi salah satu sudut pandang yang patut kita perhitungkan. Namun, faktanya CD tidak lagi menjadi sumber penghidupan yang valid. Hilang sudah pemandangan antrian-antrian fans yang rela menginap semalaman di depan toko musik terdekat untuk menunggu launching album baru artis kesayangan mereka. Malah, banyak sekali toko-toko musik yang berbondong-bondong gulung tikar di Indonesia. Hilangnya CD adalah kerugian tersendiri, bukan hanya dari sisi uang, namun juga dari sisi sentimental. Memiliki musik di komputer rasanya tidak sama dengan memegang CD di tangan anda. Di posting pertama saya, saya sudah menjelaskan panjang lebar bagaimana euforia saya saat membeli CD, sesuatu yang (jujur saja) hanya terjadi sesekali. Di lubuk hati saya, saya merasa sayang bahwa euforia itu tidak lagi menjadi santapan massa, namun hanya bisa dinikmati segelintir orang belaka.

Namun mau bagaimana lagi? Komentar agan2 Kaskuser di thread ini dengan sempurna menggarisbawahi carut-marutnya dunia musik Indonesia. Salah satu pertanyaan yang paling membuat saya geleng2 kepala adalah: "Apakah musisi-musisi masa depan Indonesia yang ingin membuat karir di kancah internasional harus hijrah ke luar negeri seperti Anggun?" Apakah indeed. Kenapa kita tidak bisa membangun karier internasional yang sukses dari tanah air kita sendiri? Indonesia bukanlah negara kecil, miskin, terpencil, yang dijauhi dunia internasional. Indonesia bukanlah Korea Utara. Kenapa musisi-musisi kita seolah 'terperangkap' di sini?

Simpel: Tidak ada fasilitas.

Saya memegang teguh pendapat saya bahwa pemerintah/sponsor swasta harus membantu band-band indie Indonesia. Ciptakan, kembangkan, dan bina komunitas-komunitas musisi indie regional dan nasional. Buat Gogoyoko versi Indonesia. Buat Bandcamp versi Indonesia. Apa kita perlu Sumpah Pemuda khusus musisi? Sumpah yang menyatukan musisi-musisi yang berceceran di penjuru Indonesia dalam satu persaudaraan? Sebagai seorang remaja yang menjelang SMA, saya sebenarnya ingin segera mempelajari musik lebih dalam lagi. Namun mau bilang apa, jumlah SMA musik berkualitas di Indonesia bisa dihitung dengan jari. SMK digembar-gemborkan, RSBI diributkan, namun tidak ada akademi/sekolah khusus seni dan musik di mana the next Chairil Anwar, the next Rendra, the next Koes Plus, the next Harry Roesli bisa berilmu. Apakah ini atmosfir dan tempat yang kondusif bagi perkembangan musik dan kreativitas?

Belum lagi, nihilnya kultur review musik di Indonesia. Majalah-majalah remaja masa kini tidak terlalu memikirkan substansi, hanya memberi berita gosip dan meniru tren kala itu. Tidak ada Pitchfork.com-nya Indonesia. Tidak ada Robert Christgau-nya Indonesia. Tidak ada NME-nya Indonesia. Jumlah majalah yang khusus membahas musik, review musik, dsb sangat-sangat minim. Hasilnya? Masyarakat takut mencicipi band-band baru karena seperti kata salah satu agan Kaskuser di thread ini, mereka tak mau membeli 'kucing dalam karung'. Apa itu salah mereka? Tidak!

Download musik adalah masa depan. Saya sendiri kerap mengunduh lagu, walau sangat mencintai CD. Namun di Indonesia, dengan kondisi infrastruktur, kondisi media, dan kondisi persepsi masyarakat seperti sekarang, tak heran bila banyak musisi yang 'mewek' melihat karya mereka dibajak. Dengan bantuan pemerintah/sponsor swasta, revolusi media, serta (tentu saja) totalitas, dedikasi, kerja keras, dan kreativitas dari kubu musisi dan label itu sendiri, download musik bisa saja berubah dari 'mimpi buruk musisi' menjadi 'awal sesungguhnya dari era musik digital'. Namun melihat kondisi masa kini? Jujur saja, saya skeptis.

Thx emoticon-Angkat Beer
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di