KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Reuni 212 Untuk Apa?
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5de467b3018e0d1c2041a919/reuni-212-untuk-apa

Reuni 212 Untuk Apa?

Tampilkan isi Thread
Halaman 8 dari 10
Pengangguran emoticon-Leh Uga
profile-picture
c4punk1950... memberi reputasi
Quote:


Fasik, kafir, dzalim... lalu di panggil Ulil Amri... 🙄🙄🙄

Terima kasih sudah di jelaskan dengan 2 ayat lainnnya 🙏🙏🙏
Quote:


emoticon-Leh Uga
buat pengangguran yg mau makan gratis tanpa harus kerja emoticon-Ngakak
Diubah oleh hankzz
Quote:


Yoyoy gan
Balasan post Ahong79
Sangat setuju sama agan ini emoticon-Shakehand2
buat ajang kumpul orang kurang kerjaan dan yamg pasti GOBLOK semua
Quote:


Patuh kalau hukumnya sudah berlandaskan syariat Islam, kalau hukumnya kuhp buatan londo ya ikuti aja cara mainnya negara, demi kemaslahatan agan biar tertib hukum, sama akan halnya agan bertamu ke negara non muslim ya harus ikuti cara main sistem negara tersebut kalau ga bisa masuk penjara.

Patuh di sini tidak hanya taat, tapi semua kebijakan dan perintah kebaikan dari ulil amri nantinya agan juga harus ikuti.

Baca artikel dulu...

   

KIBLAT.NET – Belakangan ini, tema ulil amri kembali hangat diperbincangkan di sosial media. Meski sudah final dalam kajian para ulama, namun ternyata masih ada sebagian masyarakat kita yang belum mengerti siapa sesungguhnya ulil amri yang harus ditaati itu. Selama ini, banyak di antara mereka yang memahami bahwa ulil amri yang wajib ditaati itu adalah setiap pemimpin yang ada hari ini. Tanpa peduli, apakah pemimpin tersebut menjalankan syariat Allah ataukah tidak.

Di sinilah kemudian kajian tentang ulil amri menjadi tema yang cukup urgen untuk dipahami dengan baik. Pasalnya, ketika definisi ulil amri ini tidak dipelajari dengan utuh dan benar, maka rentetan hukum berikutnya pun—hukum terkait tentang bagaimana memperlakukan pemimpin—berujung pada kesimpulan yang salah.

Jadi, sebelum berbicara lebih jauh tentang persoalan hukum seputar ketaatan kepada penguasa, hal yang penting untuk dikaji terlebih dahulu adalah:

Apa definisi yang dihadirkan oleh para ulama tentang ulil amri.

Apa saja kriteria seseorang bisa disebut sebagai ulil amri atau pemimpin umat Islam.

Definisi ulil amri

Secara bahasa, kata ulil amri terdiri dari dua suku kata yaitu; kata uli yang bermakna memiliki dan al-amr yang bermakna memerintah. Dalam Lisanul Arab, Ibnu Mandzur menguraikan bahwa maksud dari kata uIi adalah memiliki. Dalam bahasa Arab, masih menurut Ibnu Mandzur, ia adalah kata tidak bisa berdiri sendiri, namun selalu harus berdampingan dengan kata yang lain (idhafah).

Sedangkan definisi al-amr, Ibnu Mandzur mengatakan, “Seseorang memimpin pemerintahan, bila ia menjadi amir bagi mereka. Amir adalah penguasa yang mengatur pemerintahannya di antara rakyatnya.” (lihat; Lisanu Arab: 4/31)

Jadi, menurut istilah, kata ulil amri dapat didefinisikan yaitu; para pemilik otoritas dalam urusan umat. Mereka adalah orang-orang yang memegang kendali semua urusan. (lihat: Al-Mufradat, 25)

Siapakah yang Disebut dengan Ulil Amri?

Para ulama sepakat bahwa hukum taat kepada ulil amri adalah wajib. Kaum muslimin tidak diperolehkan memberontak ulil amri meskipun dalam kepemerintahannya sering berlaku dzalim. Prinsip ini menjadi pegangan yang lahir dari salah satu pokok aqidah ahlus sunnah wal jamaah.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيهَا الذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An Nisa’: 59)

Ibnu Abi ‘Izz dalam Syarah Aqidah Thahawiyah, berkata, “Hukum mentaati ulil amri adalah wajib (selama tidak dalam kemaksiatan) walaupun mereka berbuat dzalim. karena kalau keluar dari ketaatan kepada mereka akan menimbulkan kerusakan yang berlipat ganda dibanding dengan kezhaliman penguasa itu sendiri.” (Lihat: Syarh Aqidah Ath Thahawiyah, hal. 381)

Namun kemudian muncul salah satu pertanyaan yang cukup mendasar dan perlu dijabarkan secara utuh, yaitu; siapakah yang disebut dengan ulil amri?  Apakah setiap pemerintahan yang ada hari ini bisa disebut ulil amri?

Ketika menjelaskan ayat di atas, para ulama tafsir telah menyebutkan beberapa pandangan tentang siapakah yang dimaksud ulil amri yang dimaksudkan dalam ayat tersebut.

Imam At-Tabari dalam tafsirnya menyebutkan bahwa para ahli ta’wil berbeda pandangan mengenai siapa ulil amri yang dimaksudkan dalam ayat di atas. Sebagian ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan ulil amri adalah para penguasa. Sebagian lagi menyebutkan bahwa ulil amri itu adalah ahlul ilmi wal fiqh (mereka yang memiliki ilmu dan pengetahuan tentang fiqh). Ada juga yang berpendapat bahwa mereka adalah sahabat-sahabat Rasulullah SAW. Dan Sebagian lainnya berpendapat ulil amri itu adalah Abu Bakar dan Umar. (Lihat Tafsir at-Thabari, 7/176-182)

Sementara itu Ibnu Katsir, setelah mengutib beberapa pandangan ulama tentang ulil amri, beliau menyimpulkan bahwa ulil amri itu adalah penguasa dan ulama. Lalu beliau mengatakan, “Ayat ini merupakan perintah untuk menaati para ulama dan penguasa. Oleh karena itu, Allah ta’ala berfirman, ‘Taatilah Allah,’ maksudnya adalah ikutilah kitab-Nya. ‘Dan taatilah Rasul’ maksudnya adalah ambillah sunnahnya. ‘Dan ulil amri di antara kalian,’ maksudnya adalah menaati perkara yang diperintahkan oleh mereka berupa ketaatan kepada Allah, bukan dalam maksiat kepada-Nya. (Tafsir Ibnu Katsir, 4/136)

Perbedaan pendapat tentang siapa yang dimaksud ulil amri dalam ayat di atas juga disebutkan dalam kitab-kitab tafsir lainnya. Namun di antara seluruh pendapat tersebut, mayoritas ulama menguatkan bahwa maksud ulil amri dalam ayat tersebut ialah para penguasa dan ulama yang memiliki otoritas dalam mengurus urusan kaum muslimin, baik urusan dunia maupun agama mereka.

Imam Asy-Syaukani berkata:

وأولي الأمر هم : الأئمة ، والسلاطين ، والقضاة ، وكل من كانت له ولاية شرعية لا ولاية طاغوتية

“Ulil amri adalah para imam, penguasa, hakim dan semua orang yang memiliki kekuasaan yang syar’i, bukan kekuasaan thaghut.”  (Fathul Qadir, Asy-Syaukani, 1/556)

Imam Nawawi berkata, “Ulil amri yang dimaksud adalah orang-orang yang Allah ta’ala wajibkan untuk ditaati dari kalangan para penguasa dan pemimpin umat, inilah pendapat mayoritas ulama terdahulu dan sekarang yaitu dari kalangan ahli tafsir, fikih, dan selainnya.” (Lihat: Syarh Shahih Muslim 12/222)

Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Ulil amri adalah pemegang dan pemilik kekuasaan. Mereka adalah orang-orang yang memerintah manusia. Perintah tersebut didukung oleh orang-orang yang memiliki kekuatan (ahli qudrah) dan ahli ilmu. Karena itulah, ulil amri terdiri atas dua kelompok manusia: ulama dan umara. Bila mereka baik, manusia pun baik. Bila mereka buruk, manusia pun buruk. Hal ini seperti jawaban Abu Bakar Ash-Shiddiq kepada wanita dari bani Ahmas saat bertanya kepadanya, ‘Apa hal yang menjamin kami akan senantiasa berada di atas perkara (yang baik yang Allah datangkan setelah masa jahiliah) ini?’ Abu Bakar Ash-Shiddiq menjawab, ‘Kalian akan senantiasa di atas kebaikan (Islam ) tersebut selama para pemimpin kalian bertindak lurus.” (HR Al-Bukhari) (lihat: Majmu’ Fatawa, 28/170)


Dari penjelasan di atas, setidaknya ada tiga kesimpulan mendasar yang dituliskan oleh para ulama dalam memaknai ulil amri, pertama: Ulil amri yang wajib ditaati adalah ulil amri dari kalangan orang-orang beriman. Kedua: Ketaatan kepada ulil amri tidak mutlak, namun bersyarat. Yaitu selama bukan dalam perkara maksiat. Ketiga: Ulil amri yang tidak menjadikan syariat Islam  sebagai hukum dalam pemerintahannya tidak wajib ditaati

Kesimpulan ini selaras dengan tujuan (maqashid) kepemimpinan itu sendiri. Para ulama menyebutkan bahwa tujuan pokok dari adanya kepemimpinan adalah untuk mengatur kemaslahatan umat,  yaitu dengan menjalankan syariat yang telah Allah gariskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Oleh karena itu, dalam Islam  pemimpin juga disebut sebagai pengganti peran Nabi SAW dalam menjalankan tugas kenabian.

Imam Al-Mawardi berkata, “Kepemimpinan adalah pengganti tugas kenabian dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia.” (lihat: Al-Ahkamus Sulthaniyah, 1/3)

Lalu mau nunggu pemimpin yang kya gimana, untuk mnjaga agama dan mengatur urusan dunia, Imam Mahdi yg kita tunggu donk klo gitu 🤭🤭


🙏🙏🙏🙏
profile-picture
Cupidokidz memberi reputasi
Diubah oleh c4punk1950...
aslinya ane sudah malas menanggapi isu ini, pilpres sudah lewat, ahok sudah lengser dengan "people power" mereka, hanya saja kelompok ini masih belum puas, sok eksis dan memang ane khawatirnya simpatisannya banyak, tujuannya bukan lain ya, spt yang dijelasin agan di atas, masuk ke sendi2 pemerintahan dan bikin rusak tatanan organisasi, kalau bisa sampai mengganti pancasila jadi khilafah...
kelompok2 spt ini harusnya jangan dibiarkan menurut ane, sudah banyak contohnya negara2 arab dan afrika utara collapse jadi civil war gara2 ada kelompok spt ini...
profile-picture
c4punk1950... memberi reputasi
Quote:


Emang bener...demo itu tipikal khawarij... 😂😂
Diubah oleh c4punk1950...
Quote:


Strategi pelan, terencana, tapi efeknya bisa masiv ya gan. Mirip seperti virus. Menyusup, membajak DNA, berkembang biak kemudian pindah ke sel lain.
Balasan post 37sanchi
Paling doi di kirim pake roket apache..
Quote:


ini yang ane sedih om emoticon-Frown
ngeri" sekarang

udah lah yang lurus" aja
heran

udah gitu kemarin anak buah ane pake izin ga masuk kantor karea mau ngikut 212 .
hadehhh keong

Quote:


Memang itu tujuannya kok... 😁😁
lha yang bilang Reuni 212 tanpa politik itu yoo uwong anggota reuni 212 itu sendiri kok..
makanya kalomau jujur...orang MUNAFIK itu amat mudah dilihat sekarang ini...tapi mo gimana lagi
Quote:


Meninggalkan pekerjaan untuk mencari nafkah Keluarga atau mencari ilmu di monas mana yang maslahatnya lebih banyak ? Silahkan di fikirkan... 🙂🙂
Quote:


Jujur saya pingin tau mnurut agan sendiri mana yg lbh banyak?
reuni terbanyak sepanjang sejarah indo
emoticon-Malu
212 dari simbolnya aja "sableng" udah pasti gak bener lah emoticon-Angkat Beer
mayan dagang kopi di sana
Halaman 8 dari 10


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di