CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Ayahmu Adalah Lelaki Yang Pernah Menikahi Ibuku
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c84e91d82d4952c437d561f/ayahmu-adalah-lelaki-yang-pernah-menikahi-ibuku

Ayahmu Adalah Lelaki Yang Pernah Menikahi Ibuku

Tampilkan isi Thread
Halaman 49 dari 59
Quote:


Makasih udah diingetinemoticon-terimakasih
Link-nya udah ke-indeks, ganemoticon-Shakehand2
profile-picture
profile-picture
actandprove dan medina12 memberi reputasi
Lihat 1 balasan

Ayahmu Adalah Lelaki Yang Pernah Menikahi Ibuku

Part. 23 Ada Hati Berwarna Merah Jambu

Ayahmu Adalah Lelaki Yang Pernah Menikahi Ibuku

Episode Sebelumnya


emoticon-floweremoticon-floweremoticon-floweremoticon-floweremoticon-floweremoticon-floweremoticon-floweremoticon-floweremoticon-floweremoticon-flower


Kuliah hari ini berjalan sesuai keinginan, tak ada apa-apa bahkan beban. Sejauh ini berjalan dengan aman, akan kubuat Ana terkejut karena aku telah akrab dengan ibunya. Gadis itu senang mengetahui kalau malam nanti aku akan datang menemuinya.

Panasnya terik matahari semakin sangar membakar kulit, untungnya pas pulang kuliah sore ini, cuaca panas agak sedikit mereda. Aku langsung pulang ke kost-an, kebetulan tak ada jadwal ke mana-mana juga.

Sesampainya di kost, aku segera masuk kamar dan tak lupa mengunci pintu, sore ini aku harus bersiap dengan rapi. Keinginan bertemu Ana membuat semangat dalam diri begitu antusias.

Saking lama di kamar mandi, aku tak mendengar pintu kamar diketuk-ketuk oleh seseorang. Sampai gawai ikut berdering pun terlewat dari pendengaran karena suara air dari kran juga suara fals dari nyanyianku semua ikut mengaburkan panca indera.

Begitu ke luar kamar mandi , suara ketukan dan gawai telah lama berhenti, aku segera memilih baju kaos dan celana panjang dari lemari. Tak lupa menyemprotkan parfum andalan, di depan Ana aku harus tampil gagah, dong.

Suara ketukan pintu kembali terdengar, dengan langkah tegap kubuka. Rupanya Fani.

"Ada apa, Fani?"

"Tadi ada yang mencari Kak Fajar, seorang perempuan … kayaknya dia pacar Kakak, deh. Soalnya Aku pernah melihat dia bersama Kakak di kamar ini."

"Oh, ya? Pacar apaan? Udah putus juga, kok. Hmmm … makasih infonya, Fan."

"Tumben rapi, mau kemana, Kak?"

"Mau tau aja, Kamu. Kakak ada janjian ma teman, kenapa?"

"Oh, gak apa-apa. Fani ke kamar dulu, ya, Kak."

Fani berlalu, aku segera mengambil dompet, gawai dan jaket. Tak lupa kunci motor di atas nakas, setelah mengunci kamar aku segera ke parkiran motor.


emoticon-Cool


Sesampainya di rumah Ana, dengan perlahan kubuka pagar dan memasukkan motorku ke halaman, takutnya kemalingan bila terparkir di luar.

Dadaku berdegup ketika hendak memencet bel pintu rumah Ana, semoga kedatanganku tidak membawa masalah. Gawai di kantong celana kukeluarkan, hendak memberitahu Ana kalau aku ada di teras depan.

Namun, aku terpaku melihat notif panggilan dari seorang gadis yang sudah menyakiti hatiku, Ranti. Apa dia yang tadi datang ke kamarku?

Lama memandangi nama Ranti di barisan notif panggilan masuk di gawai, tanpa kusadari pintu telah terbuka dan Ana tengah memandangi lalu menyapaku, menyadarkan ingatan kembali ke masa kini.

"Liat apa, Kak?"

Tersadar dari lamunan, segera kumasukkan gawai kembali ke kantong celana, lalu memandangi gadis cantik yang tengah menunggu jawabku.

"Cuma liat notif aja, kok. Ayahmu sudah di rumah, kan?" tanyaku.

"Iyaa … Ibu tadi bercerita kalo Kakak datang ke rumah sakit. Silahkan masuk, Kak," jawabnya kemudian.


emoticon-Maluemoticon-Malu emoticon-Malu


Aku mengikuti Ana masuk, dia langsung menuju ruang tengah dimana ayah dan ibu Risa tengah duduk bersantai.

"Bu … ada Kak Fajar, nih."

Mendengar perkataan  Ana, ayah langsung mengangkat pandangannya menuju ke arahku. Ibu Risa segera berdiri menyambut dan mempersilahkan aku duduk di depan ayah.

"Duduklah, Nak."

"Makasih, Bu," ucapku sambil duduk diikuti pandangan ayah.

Ana juga ikut duduk di sampingku, ibu Risa telah kembali duduk di samping ayah. Kini dengan senyuman yang hangat aku membuka percakapan agar terkesan tak kaku.

"Apa kabar, Pak. Akhirnya Bapak kembali ke rumah, semoga tidak sakit-sakit lagi, ya. Oh iya, rumah Ibu nyaman sekali … pantas Ana betah tinggal di rumah."

Ibu tersenyum. Ayah mengangguk, "Alhamdulillah. Kabar Bapak baik, makasih doanya, Nak. Naik apa kemari?"

"Naik motor, Pak. Lebih aman menghindari jalanan macet," jawabku.

"Ana … ambilkan minum buat Nak Fajar, pasti dia haus," tukas ibu kemudian.

Ana hendak berdiri, tetapi dengan sigap kuraih tangannya. Ia melihatku, "Tak usah repot, Aku tak haus, kok," kataku kepadanya.

Ana kembali duduk. 

"Bu … Pak, tak usah repot. Fajar datang kemari ingin mengajak Ana ke luar sebentar, boleh?"

"Mau ke mana?" Bapak bertanya duluan.

"Cuma jalan-jalan saja, kok, Pak. Paling jam 9, kami sudah kembali."

"Yaelah, Ayah ini kayak gak ngerti aja. Nak Fajar dan Ana mau malam mingguan di luar, iya, kan?" Ibu Risa menggodaku.

"Eh … iya, Bu. Boleh, ya?"

"Hmmm, boleh. Ana … segera ganti bajumu, masa mau keluar cuma pakai baju piyama, doang?" Ibu memberi ijin dan menyuruh Ana berganti pakaian.

"Iya, Bu. Kak Fajar, tunggu sebentar, ya …."

Gadis cantik itu segera berlari menuju kamarnya, ayah dan ibu Risa hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah anaknya.

"Kau lihat sendiri, kan? Ana masih kayak anak-anak. Besok-besok kalau kalian berjodoh, tolong bimbing dia ya, Nak."

Deeghh!

Kata-kata ibu Risa langsung membuatku mati gaya. Berjodoh dengan Ana? Wow … hal itu di luar nalarku.

"Husst, Ibu ini bicaranya ngelantur, tuh lihat Fajar … jadi grogi dia." 

Ayah menimpali perkataan  ibu Risa sambil menunjuk ke arahku. Ibu langsung tertawa, aku jadi malu sendiri.

"Tak apa-apalah, Yah. Hari ini Nak Fajar datang meminta ijin membawa anak kita jalan-jalan. Tak menutup kemungkinan, besok atau lusa dia akan datang meminta anak kita untuk jadi istrinya. Iya kan, Nak Fajar?"

Aku hanya tersenyum. Ayah langsung terbatuk-batuk, seperti kata-kata ibu Risa membuatnya tersedak. Aku segera mengulurkan gelas air minum di atas meja kepada ayah.

"Diminum, Pak."

Ibu menerima gelas itu dan membantu ayah untuk minum. Ana ke luar dari kamar. Dia berpakaian sederhana, t-shirt polos dan celana panjang hitam. Tak lupa tas selempang di bahunya.

"Ayah kenapa, Bu?"

"Ayahmu baik-baik saja, cuma belum siap kalau besok-besok Kamu dilamar orang."

Ibu mengerling ke arahku sambil tersenyum. Tak mau lama-lama diledekin, aku segera berdiri di dekat Ana.

"Pak, Bu … kami pamit pergi dulu."

"Iya … hati-hati bawa motornya, jangan ngebut di jalan. Jaga Ana, ya," sahut ibu Risa diiringi pandangan ayah yang mulai reda batuknya.


emoticon-Ngacir


Kami hanya berkeliling-keliling saja, Ana belum menentukan tempat kemana kami harus pergi. Sepertinya gadis itu masih bingung harus ke mana.

Akhirnya kubawa saja ia ke Mang Jagat, kebetulan perutku sudah mulai minta diisi. Ana hanya mengiyakan waktu kuajak ke sana.

Setelah memarkir motor, aku dan Ana segera mencari tempat duduk, seperti biasa di tempat kami duduk bersama. Ana duduk dan aku ke Mang Jagat memesan dua porsi nasi goreng andalan kami.

Berhubung banyak orang yang mengantri, maka pesanan harus dicatat dulu biar bisa kebagian semua. Semoga Ana tidak gelisah menungguku kelamaan.

Begitu berjalan kembali ke kursi taman di mana Ana duduk, samar dari jauh kulihat Ana sedang berdebat dengan seorang perempuan. Hei … itu seperti Ranti!

Kupacu langkah segera, aku tak mau Ana diapa-apakan oleh Ranti. Jujur, naluri melindungi Ana lebih besar dari rasa yang dulu kurasakan terhadap Ranti.

"Ranti, ada apa ini! Ana, kau tidak apa-apa, kan?" tanyaku kepada Ana yang masih sengit berdebat dengan Ranti.

"Ana tidak apa-apa, Kak. Tuh, pacar Kak Fajar yang duluan menyerang Ana."

"Enak saja, dikatain menyerang! Makanya kalau ditanya baik-baik itu, ya langsung jawab, jangan ngeles melulu! Dasar bocah!" seru Ranti.

"Ada apa, sih? Kenapa Kamu nyolot gitu ngomong ke Ana? Dia salah apa sama Kamu?" tanyaku kepada Ranti yang seperti termakan emosi.

"Aku hanya menanyakan soal Abang ke dia, tapi dia jawabnya ngeselin, Bang," tukasnya.

"Yeei, Kak Ranti  tuuh nyolot bener nanyanya, Ana aja baru ketemu Kak Fajar malah ditanyain macam-macam. Katanya pacaran, kok malah gak tau kabar pacarnya?" selidik Ana.

"Ranti, sudah tak ada apa-apa di antara kita, kenapa juga sekarang Kamu begini? Kemarin-kemarin itu kamu kemana?" tanyaku sambil memandangi wajahnya.

Duh! Aku tak boleh luluh, hatiku bukan rempeyek yang bisa diremuk hingga hancur tak bersisa.

"Ranti minta maaf, Bang. Dengarkan penjelasanku dulu,  laki-laki itu bukan siapa-siapa Ranti, dia cuma mantan dan ingin kembali, tetapi Ranti hanya menganggapnya sebagai teman. Tak lebih!"

"Oh, yaa? Sampai berpelukan begitu? Bukan hanya sekali Abang melihatmu, Ranti. Di halaman parkir rumah sakit pun, Abang juga melihat kalian saling berpelukan! Kurang bukti apa lagi?

Air mata mulai menetes di pipi gadis yang dulu mendiami hatiku, tetapi aku tak boleh hanyut dalam suasana melow seperti itu. Ana masih berdiri di sampingku, memegang lenganku sejak tadi.

"Sudahlah, tak usah menangis. Mungkin kita memang cocok menjadi teman saja, bukan sepasang kekasih. Carilah laki-laki yang bisa Kau bodohi, sayangnya ... laki-laki itu bukan Aku."

Kutarik tangan Ana dan meninggalkan taman itu untuk membatalkan pesanan nasi goreng di Mang Jagat, untung masih dalam daftar antrian. Selera makanku langsung hilang, gara-gara Ranti. Ana tidak banyak bicara, ia sepertinya paham apa yang sedang bergejolak dalam hatiku.

Motor kembali melaju, pikiranku gamang. Di belakang, Ana memeluk punggungku. Seakan ingin membantu meredam emosi yang tiba-tiba hadir.


emoticon-No Hopeemoticon-No Hope emoticon-No Hope


Quote:

Bersambung ke
Episode Selanjutnyaemoticon-Peace


Ayahmu Adalah Lelaki Yang Pernah Menikahi Ibuku
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rita08048 dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh evywahyuni
Lihat 1 balasan
Balasan post evywahyuni
Quote:


Mantap gan!!!
Next updatenya ditunggu
profile-picture
profile-picture
actandprove dan evywahyuni memberi reputasi
Quote:


Tuh udah di atasemoticon-Jempol
profile-picture
actandprove memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post evywahyuni
Quote:


Oiya gan... baru kebaca emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
actandprove dan evywahyuni memberi reputasi
Quote:


Berarti, kelewat bis tadiemoticon-Leh Uga
profile-picture
actandprove memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Ranti nasibmu kiniemoticon-Cape d... (S)
profile-picture
profile-picture
evywahyuni dan actandprove memberi reputasi
Quote:


Jangan sedih, ganemoticon-Turut Berduka
Balasan post evywahyuni
Derita neng Ranti,akibat tergoda pesona sang mantan membuat lupa apa yg sudah nyata dihadapan. Disaat tersadar semuanya sudah tidak sesuai harapan.
profile-picture
evywahyuni memberi reputasi
Quote:


Satu kesimpulan yang sangat sesuai dengan kondisi Ranti, mantulemoticon-2 Jempol
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
Ditunggu update berikutnya bu emoticon-Hansip
profile-picture
evywahyuni memberi reputasi
Quote:


Makasih emoticon-terimakasih
Udah baca cerbung Alena? Baru2 sudah updet jugaemoticon-Jempol
Quote:


Ntar nunggu tamat aja bu, biar enak bacanya kagak gantung2 emoticon-Big Grin
profile-picture
evywahyuni memberi reputasi
Quote:


Okelah kalok gitu
Siip dahemoticon-Shakehand2
Balasan post evywahyuni
Quote:


Sering ganemoticon-Ngakak
Quote:


Lain kali nungguin baik2 biar gak ketinggalan, ganemoticon-terimakasih
profile-picture
bayutriadmojo memberi reputasi
Lihat 1 balasan
emoticon-Cendol Gan
profile-picture
evywahyuni memberi reputasi
Balasan post evywahyuni
Quote:


Biasanya kalo nunggu mlh ngga ada kepastian gan... Pas digas kenceng mlh kelewatanemoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
profile-picture
evywahyuni memberi reputasi
Quote:


Biasanya gitu ya, ganemoticon-Bingung
profile-picture
bayutriadmojo memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post evywahyuni
Quote:


Thread sebelah mungkin emoticon-Hammer2
profile-picture
evywahyuni memberi reputasi
Halaman 49 dari 59


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di