alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dc138be9a972e255c7f6aa7/ketika-don-juan-jatuh-cinta

Ketika Don Juan Jatuh Cinta

Tampilkan isi Thread
Halaman 2 dari 2

Part 3 : Ketika Don Juan Jatuh Cinta

Sejak saat itu semua berubah. Sapaan gadis-gadis di sepanjang kampus tak lagi membuatku bergairah seperti dulu. Apa yang sebenarnya terjadi pada diriku?

“Fai!” Suara itu dan sentuhan di pundak membuatku terkejut. Kudongakkan wajah. Gita berdiri dengan wajah penuh tanya. Tapi dia diam kemudian duduk di sebelahku. Beberapa saat kami sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Gimana penelitiannya? Sukses?” Suara Gita memecahkan kebisuan di antara kami.

“Iya,” jawabku pelan.

“Lantas kenapa wajahmu seperti mendung di musim hujan?” Tak seperti biasanya, Gita terlihat kalem. Gadis yang mengejar-ngejarku akhir-akhir ini sepertinya lelah. Kulirik wajahnya sekilas. Dia terlihat polos hari ini, tanpa make up bahkan sapuan bedak.

“Gimana skripsimu?” tanyaku tanpa menjawab pertanyaan Gita.

“Hampir selesai,” jawabnya. Gita melihat arlojinya. “Aku ada janji sama dosen pembimbing. See you!” katanya seraya berlalu. Beberapa langkah setelahnya dia menoleh, menatapku sebentar kemudian tersenyum dan melambaikan tangan. Kubalas lambaian tangannya dengan memaksakan senyum di bibir. Gita terlihat aneh hari ini. Ataukah hanya pengaruh dari perasaanku yang tak menentu saja?

Pukul satu siang aku pulang ke kos. Bergegas aku membuka laptop dan kembali menulis skripsiku. Tinggal kesimpulan dan aku akan bisa mendapatkan tanda tangan dosen pembimbing.

Tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Wajah mama menyembul di sana.

“Sedang apa Fai?” Mama berjalan ke arahku sembari memerhatikan layar laptop.

“Tumben nggak kasih kabat mau datang, Ma.”

“Sengaja, sidak!”

Aku tertawa.

“Tumben rajin,” sindir Mama.

“Mama suka, kan?”

“Coba dari kemarin-kemarin gini. Pasti saat ini kamu sudah kerja atau bahkan menikah.”

“Apaan, sih, Ma!”

Kedatangan Mama ternyata karena undangan sebuah pernikahan anak teman sekolahnya dulu. Jadi, Mama sekalian mampir untuk menengokku. Aku menemani Mama ke acara itu.

Tak kusangka aku bertemu lagi dengan Gita. Ternyata dia keponakan teman Mama. Gita tampil di acara itu dengan kebaya. Rambutnya digelung dan riasan wajahnya natural. Dia memang cantik. Namun sayang, hatiku tak pernah tergetar oleh kecantikannya. Gita—sebagai among tamu—menyambutku dan Mama, kemudian membawa kami ke sebuah meja. Aku memperkenalkan Gita sebagai teman kuliah, dan gadis itu tak protes sedikitpun. Dia duduk bersama kami dan mengobrol dengan Mama. Obrolan mereka terlihat asyik. Gita pandai membawa diri dan Mama terlihat suka padanya.

“Sudah punya pacar belum?” tanya Mama pada Gita yang membuat gadis itu salah tingkah. Dia sekilas melirik padaku.

“Belum, Tante,” jawab Gita yang entah kenapa membuat hatiku lega.

“Mau nggak jadi menantu Tante?” Pertanyaan Mama membuat Gita tersipu. Sejenak aku menahan napas.

“Faisalnya yang nggak mau Tante,” jawaban Gita terdengar santai, tapi terasa menohokku.

Aku hanya bisa tertawa dan memilih untuk tidak menanggapi candaan itu. Tak lama, Gita memohon diri untuk kembali bertugas sebagai among tamu. Mama mengikuti gadis itu pergi dengan pandangannya.

“Mama suka gadis itu,” gumam Mama.

Namun, aku tidak mencintainya, Mama, jawabku, tapi hanya dalam hati. Rasa sakit karena Arini masih terasa berdenyut. Entah apa yang dimiliki gadis desa itu hingga mampu menjungkitbalikkan hatiku. Aku yang dikenal sebagai cowok play boy di kampus tellah bertekuk lutut di hadapan gadis lugu itu. Apakah kepedihan hidupnya yang telah merebut cintaku? Ataukah aku benar-benar jatuh cinta padanya.
***
Aku terdiam sejenak di depan pintu ruangan pembimbing skipsi. Kuambil napas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu itu. Terdengar jawaban “masuk!” dari dalam sana yang membuatku segera menekan handelnya.

Tampak dosen pembimbingku sedang duduk dan memerhatikan aku berjalan. Seulas senyum terukir si bibirnya. “Bagaimana, Fai? Siap untuk ujian?”

Aku terkesiap. Mungkinkah ini ....?

“Ini skripsimu!” Dosen pembimbingku menyodorkan sebuah file tebal.

Tak sabar aku segera membukanya, dan ... ya Tuhan, apa ini nyata? Kulihat tanda tangannya yang berarti skripsiku di-acc.

“Terima kasih, Pak,” kataku dengan sedikit gugup.

“Harusnya kamu bisa lebih dari ini. Bapak tahu kamu itu cerdas, hanya saja terlalu sibuk dengan hal lain.”

Aku nyengir mendengarnya. Hal lain? Hmm, aku tahu apa yang beliau maksud.

“Bersiap-siaplah untuk maju ujian, Bapak ingin kamu dapat nilai A.”

“Akan saya usahakan, Pak,” jawabku seraya berpamitan. Lelaki penyabar itu menjabat tangaku erat. Kelegaan terlihat di wajahnya. Aku sungguh bersyukur mendapatkan dosen pembimbing sepertinya. Sosok seperti inilah yang patut disemati predikat “guru”. Seorang yang ngemong kepada muridnya serta memberikan contoh dalam sikap dan perkataan.

Keluar dari ruangan itu, aku tersenyum. Yess! Segera kutelpon nomor Mama untuk memberitahukan kabar gembira itu. Aku bisa membayangkan ekspresi Mama saat mendapat kejutan dariku.

Satu tahapan telah kulalui dan, hei, hari ini aku bisa tersenyum, sejak peristiwa itu ....

Ketika melangkah di jalan depan perpustakaan aku bertemu Gita. Wajahnya terlihat semringah.

“Happy banget,” kataku.

“Coba tebak kenapa?”

“Dapat gaun incaranmu?”

“Salah!”

“Dapat lotre?”

“Ngaco!”

“Dapat pacar baru?”

Gita melotot. Tapi wajahnya tetap ceria. “Gue di-acc Bro!” katanya seraya meninju pundakku.

“Widiw, kereeen!” kataku seraya memamerkan jempol. “Sama dong kita.”

“Kamu juga di-acc?”

“Iya!”

“Yess!!!” Gita mengepalkan kedua tangannya. “Jangan lupa datang di ujianku, ya?”

“Insya Allah.”

“Ke mall, Yuk? Aku traktir makan siang, apapun yang kamu mau.”

“Siapa takut?”

Kami segera melangkah ke parkiran. Gita bersikap biasa saja. Tak ada tanda-tanda dia masih mengejar cintaku. Apakah dia benar-benar telah lelah? Namun, entah kenapa ada rasa aneh yang menyeruak dalam dadaku. Apakah ini karena aku telah terbiasa mendapatkan perhatiannya yang berlebihan? Entahlah. Tapi aku suka Gita yang seperti ini. Fia sebenarnya gadis yang cerdas. Namun sikap manja dàn posesifnya suka kelewatan. Dan aku tidak suka itu. Aku cowok yang tidak suka dikekang, apalagi dikuntit baik secara nyata maupun melalui pesan-pesan WA yang selalu dia kirim.

Langit terlihat mendung. Siang di kota ini menjadi sejuk. Aku mengarahkan motor menuju sebuah mall tengah kota yang biasa kami datangi.

Setelah memarkir motorku, kami segera melangkah ke dalam. Seorang pamuniaga yang mendorong puluhan troli hampir saja menabrak Gita. Dengan sigap aku menarik tangan gadis itu. Dia memandangku dan tersenyum.

Cepat kulepas tangannya. Sesaat kami terdiam dan segera melanjutkan langkah. Kupilih sebuah restoran dimsum. Gita mengikuti masuk restoran. Kami duduk di pojok, tempat yang nyaman untuk melihat sekitar.

Pelayan datang dan mencatat pesanan kami kemudian pergi. Gita memandangku lurus-lurus. “Kamu sekarang berubah,” katanya.

“Masa? Apanya yang berubah?”

“Entahlah. Aku merasa kamu sekarang lain. Sejak pulang dari desa itu. Apakah telah terjadi sesuatu di sana?” Pandangan Gita penuh selidik. Aku jengah, merasa seperti terdakwa di bawah sorotan mata sang hakim.

“Tidak ada sesuatu yang terjadi di sana. Hanya hal-hal biasa.”

Pelayan datang menyuguhkan minuman. Gita menyeruput minumannya. Pandangannya tak lepas dari wajahku. “Aku sudah lama mengenalmu. Dulu kamu tidak seperti ini,” katanya santai.

“Hmm ... mungkin saja dengan bertambah usia seseorang akan menemukan jati dirinya.”

“Dengan kata lain kamu sudah menemukan jati dirimu?”

“Mungkin.” Kuseruput lemon tea di depanku dengan pelan. “Kamu juga berubah sekarang.”

Gita tertawa. “Aku berubah karenamu!”

Aku melotot. “Maaf. Lupakan aku. Aku bukan cowok yang baik.”

“Maaf juga. Aku nggak bisa janji.”

Sekali lagi pelayan datang menyelamatkan suasana tidak nyaman di antara kami. Dia menyajikan makanan yang kami pesan.

Tak banyak bicara kami makan dengan cepat. Setelah itu aku mengantarkan Gita pulang ke kostnya.
***
Jadwal ujian skripsi telah keluar. Gita akan menjalani ujiannya hari ini.

“Jam sepuluh, ya, jangan lupa!” katanya. Aku mengangguk dan membiarkannya masuk ke perpustakaan. Aku tak mau mengikutinya. Pasti gadis itu sedang mempersiapkan ujiannya. Aku tak mau mengganggunya.

Jam sepuluh tepat aku muncul di ruangan itu. Gita berjalan ke depan kemudian mengucapkan salam. Sekilas dia melihat kedatanganku.

Gadis itu terlihat begitu menguasai materi dan menjawab semua pertanyaan penguji dengan baik. Dia terlihat begitu cerdas dan anggun. Hei, ke mana saja diriku selama ini hingga baru menyadari hal itu?

Menit-menit telah berlalu. Gita telah menyelesaikan ujiannya. Kujabat tangannya dan mengucapkan selamat. “Kamu pasti dapat A,” kataku.

“Aamiin.” Gita tersenyum bahagia.

“Mau kutraktir?”

“Serius?”

“Tapi aku yang tentukan tempatnya.”

“Okey.”

Siang itu, kubawa Gita ke arah luar kota. Sejujurnya aku tak tahu akan membawanya ke mana. Aku hanya ingin jalan bersamanya.

Bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
medina12 dan 6 lainnya memberi reputasi
Quote:


Sudah ada part 3 nya Gan. Silakan dibaca
Quote:


Hehe, enaknya Arini nikah sama siapa ya? emoticon-Betty

Quote:


Boleh juga nih ide ceritanya. Silakan dibaca part 3 nya ya Gan, sudah ane upload

Quote:


Gimana lagi deh Gan. Namanya juga sudah suratan takdir. Manusia bisa berusaha tapi takdir yang menentukan emoticon-Betty

Quote:


Udah ane lanjutin Gan. Silakan baca part 3-nya. Happy reading.
Quote:


Silakan dibaca lanjutannya Gan. Sudah ane upload part tiganya.

Quote:


Aturannya memang gitu. Kalau cerbung harus disambung di kolom komentar.

Quote:


Siaaap. Part ke tiga sudah tayang ya. Happy reading Gan.

Quote:

Sudah ane upload Gan par letiga. Silakan dibaca.
sedikit rumit. faisal yg masih galau karna arini udh mulai diserang gita yg mengeluarkan potensi tersembunyinya. apalagi gita sedikit diatas angin dengan dukungan mama faisal...
.
.
.
hmmm, ngga sabar pengen baca part lanjutanya emoticon-Big Grinemoticon-Big Grin
profile-picture
fikrionly memberi reputasi
Nunggu updetan smbi gelar tiker
profile-picture
fikrionly memberi reputasi
asyeek...ada cerita bagus...gue tunggulah lanjutan ceritanya
Sundul
lanjut part 4 gan nenda dulu ahh 😉
Bagus ceritanya gan, mengalir, natural, enak sekali dibaca,

Tulisan gak kebanyakan basa basi muter2 bla,, bla.. bla..mantep deh.

*Nunggu update nya gan


Salam kenal buat agan ts.
emoticon-Shakehand2
Tandai dulu lahhh....😁
ijin nenda dulu gan
Seru nih..ijin gabung gan..
cerita bagus, semoga terus lanjut...
lanjut gan...
lanjut gan ceritanya..

kalau bisa lebih dikembangin alurnya.. karena terlalu cepat skip alurnya.. maaf jika tidak berkenan gan..
semangat gan..
Balasan post fikrionly
tikung bang
TIKUUUUUUUUUUUUUNNNNNGGGGGGG
Halaman 2 dari 2


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di