alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
(Kiara) It’s not easy like Sunday morning
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c0d1bced4397257a321777c/kiara-its-not-easy-like-sunday-morning

(Kiara) It’s not easy like Sunday morning

Tampilkan isi Thread
Halaman 235 dari 237
Quote:


oh ya.
baik,biasa aja emoticon-Mad
profile-picture
profile-picture
fee.fukushi dan indahmami memberi reputasi
Quote:


Baru kelihatan, sibuk banget yah?
Silahkan dibuat senyaman mungkin di sini.
*mewakili Ts.
emoticon-Shakehand2
profile-picture
fee.fukushi memberi reputasi

Quote:

Tau aja deh sis indah ini emoticon-Embarrassment I love you 3000 lah emoticon-Kiss (S)

Quote:

Eh... masih ingat aku kau? emoticon-Nohope
profile-picture
indahmami memberi reputasi
Diubah oleh fee.fukushi
Absen dl sambil nunggu update terbaru.. emoticon-Hai
profile-picture
fee.fukushi memberi reputasi
Quote:


Biarlah rahasia menjadi rahasia sist, takut'y suatu hari ada pergolakan masalah.
Malah bahaya, kecuali klw satu sama lain tahu.
Njagani mawon..
emoticon-Malu
profile-picture
fee.fukushi memberi reputasi
Lama nggak mampir gara gara sibuk jadi laki laki tampan

Eh balik kesini masih belom ada juga karakter yg namanya irfan

Yaudah deh saya puter balik lagi tan, yg penting udah komen
profile-picture
fee.fukushi memberi reputasi
Quote:


Laki tampan kepala bapak kau fan emoticon-Blue Guy Bata (S) big
profile-picture
fee.fukushi memberi reputasi
Quote:


Belum tau aja kau laee, kalo dah liat cem mana mukak ku, langsung nyesel kau lahir sebagai lelaki emoticon-Leh Uga
profile-picture
fee.fukushi memberi reputasi
Part 77

Hmm… AP? Kenapa bukan OH? Bukan Oliver dong berarti. He?!!! Lalu dari siapa iniiiii…?!

“Ini tadi siapa aja yang udah liat ada bunga di sini Pak?” tanyaku khawatir.

“Semua deh, kan udah pada balik dari makan siang.”

He?! Semua? Berarti termasuk Pak Chris dan Oliver juga? Duh, malu aku!

“Oke Pak. Makasih yah.” segera aku berjalan melewatinya menuju pintu kaca.

“Lho Mbak. Ini bunganya ketinggalan lho.”

“Biar di situ aja Pak. Buat hiasan di situ aja.”

---

Beberapa hari berlalu. Siapa pun ‘AP’ yang mengirimiku bunga waktu itu belum juga kuketahui identitasnya, biar saja aku tak peduli. Untungnya Oliver juga tidak mempermasalahkan hal itu, malahan dia menggodaku ‘A secret admirer huh? That’s my girl!’

Malam ini, Oliver menjemputku ke Gym Center tempatku berlatih. Sudah menjadi rutinitas barunya menjemputku seperti ini, padahal sudah kukatakan aku tak perlu dijemput. Tapi Oliver mengatakan, kapan lagi punya waktu untuk berdua karena di saat jam kantor kami harus menghindar satu sama lain. Lagipula pengaturan waktunya sangat pas, setiap malam Oliver tetap lembur seperti biasanya sambil menunggu saat menjemputku.

“Sorry to make you wait.” (-Maaf bikin kamu nunggu)

Selesai mandi dan berganti pakaian, kuhampiri dirinya yang sudah duduk di lobi.

“Ah it’s nothing.” sahutnya sambil memasukkan HP ke kantong. “What do you want to eat?” (-Ah gapapa kok) (-Mau makan apa?)

“Anything.” (-Apa aja)

Kami duduk di sebuah restoran kecil yang tidak terlalu mencolok tapi sangat ramai. Oliver dan aku duduk bersebelahan supaya tidak perlu berteriak saat mengobrol. Aku memesan Caesar Salad dan dia Grilled Tuna.

“Are you on diet or something?” (-Kamu lagi diet apa gimana?)

“I’m not. I’m not that hungry, that’s all.” jawabku ke Oliver lalu menoleh ke pelayan yang sedang mencatat pesanan kami. “Sama teh manis hangat ya Mbak. Makasih.” (-Enggak kok. Aku ga terlalu laper aja)

“Btw the AP guy. Have you found out who he is?” (-Btw si AP itu. Kamu udah tau siapa orangnya?)

“No. I don’t really care anyway. Why? Are you jealous?” (-Belum. Aku ga gitu peduli juga kok. Kenapa? Kamu cemburu?)

“Nope. Not at all.” (-Enggak. Ga sama sekali)

“Good. It’s probably just a prank. Don’t give it a damn! Btw I think I’ll drop my Muay Thai class.” (-Baguslah. Paling orang iseng aja itu. Ga usah dipeduliin deh. Btw aku kayanya mau berenti ikut kelas Muay Thai)

“You will? Why?” (-Benarkah? Kenapa)

“I feel tired of having classes 4 nights in a row. I’ll just keep my Pilates. Besides, I don’t like the idea of hurting people. Although it’s for a self-defense or something, in the end people will get hurt by me.” (-Capek aja harus ikut kelas 4 malem berturut-turut. Aku tetep akan ikut yang Pilates. Lagian aku ga suka bikin orang lain sakit. Walaupun itu untuk pembelaan diri atau apalah, pada akhirnya kan nyakitin orang juga)

“Hmm…”

“Besides again… I took the class due to my emotion was unstable at that time.” (-Lagian lagi… aku ambil kelas itu kan karena emosiku lagi ga stabil waktu itu)

“So now you think you’re much more stable?” (-Jadi emosimu udah jauh lebih stabil sekarang?)

“I think so.” (-Kayanya sih)

“Is it because of me?” mata birunya tampak berbinar-binar. (-Apa karena aku?)

“Uhm… part of it… may be...” (-Uhm… sebagiannya… mungkin…)

“Ha ha ha… don’t be shy Babe. I won’t get cocky if you say so.” Oliver memandangku lekat. (-Ha ha ha… ga usah malu-malu gitu Beb. Aku biasa aja kok kalaupun kamu bilang gitu)

“Don’t call me Babe please. It doesn’t feel good to my ear.” (-Jangan panggil aku Beb please. Aku ga suka dengernya)

“I don’t really get it, but fine. I’ll call you… mmm… wait… Apple Pie then.” (-Aku ga terlalu ngerti maksudnya sih, tapi okelah. Kalo gitu aku panggil kamu… mmm… tunggu… Apple Pie aja deh)

“Wh... what? Apple Pie? Ha ha… Why is that?” (-A... apa? Apple Pie? Ha ha… kenapa gitu?)

“Every time your cheeks get red, it reminds me of an apple pie. See… you’re doing it now.” (-Tiap kali pipimu merah mengingatkanku pada apple pie. Tuh kan… kaya sekarang ini)

“No… I’m not blushing right now.” (-Enggak… pipiku ga merah kok sekarang)

“Yes you are! Ha ha ha… no need to be ashamed. That’s cute!” Oliver sedikit mendekatkan wajahnya. (-Iya tuh! Ha ha ha… ga usah malu lah. Lucu kok!)

“Oh shut up!” kutepis pipinya agar menjauh. (-Oh diamlah!)

“Did I tell that Nick is very curious about you. He really wants to see you in person. He was never interested to come here before, but now he really wants to fly here.” (-Aku udah bilang belum kalo Nick sangat penasaran sama kamu. Dia bener-bener pengen ketemu sama kamu. Dulu dia ga pernah tertarik untuk datang ke sini, sekarang dia pengen banget terbang ke sini)

“Ha ha... what did you tell him about me?” (-Ha ha… kamu bilang apa emangnya tentang aku?)

Bersama Oliver, aku memang merasa nyaman. Tapi rasanya sama seperti jika aku sedang bersama Reno. Memang di saat-saat tertentu, Oliver mampu membuat dadaku berdesir. Namun entah kenapa tidak sama dengan yang kurasakan saat bersama Ian.

Selesai mengedropku di depan gerbang kos, Oliver memacu motornya pulang. Kutunggu hingga sosoknya hilang di belokan sebelum aku masuk ke halaman. Di ruang tamu sebelah tangga, Erna tetangga kamarku yang baru kembali dari pulang kampung sedang mengobrol dengan pacarnya.

“Bar olahraga Ra?” sapanya.

“Iya Er. Eh halo Mas, apa kabar?” jawabku lalu menyapa pacarnya yang mengangguk untuk meresponku.

“Dianter bojomu? Kok ga masuk?”

“Keburu-buru dia. Yawes ya Er, aku naik dulu. Mari Mas!” kulambaikan tangan kepada mereka berdua lalu mulai melangkah naik.

Dalam Bahasa Jawa, istilah ‘bojo’ yang berarti suami/istri juga sering digunakan untuk menyebut pacar. Aku sadar, yang dimaksud oleh Erna adalah Ian. Erna tidak tahu jika ternyata ‘bojoku’ yang sekarang bukanlah orang yang sama.

Hingga kini, masih sulit kupercaya aku berpacaran dengan seorang Oliver. Apa sebenarnya yang terlintas di kepalaku saat mengatakan ‘iya’? Apakah ini bentuk pelarian diriku? Kurasa tidak. Jelas aku merasa nyaman dan juga senang dengan Oliver. Tapi bagaimanapun juga, rasanya tidak sama.

Apa mungkin… aku masih mengharapkan Ian kembali? Akankah itu terjadi? Aku dan Ian bersama lagi? Jika pun itu terjadi, lalu bagaimana dengan Angel? Urgh… setan!

Setiap malam sebelum tidur, yang kulakukan adalah membuka kotak pesan dan membaca pesan berbalas kami yang masih tersimpan rapi. Lalu pergi ke daftar panggilan telpon dan mengamati nama Ian yang semakin tenggelam oleh nama-nama baru di atasnya.

Hmph… apa yang sedang dilakukannya saat ini? Apakah dia sedang merindukanku? Apakah dia merasa sedih? Atau malah sudah tidak perduli sama sekali?

Berulang kali daftar nama tersebut ku-scroll ke atas bawah. Pikiranku kosong, ibu jariku sibuk memencet tuts tanpa henti.

Eeeehhh…. Lho lho lhooo…. kok kepenceeet??!!! Lhaaaa!

Nama Ian kini berkelap-kelip di layar, pertanda aku memanggilnya. Duh! Haruskah kutekan ‘akhiri panggilan’? Percuma! Pastinya panggilanku sudah terekam di sana. Ah biarlah kuteruskan saja!

Sambil menunggu, mulai kupikirkan alasan yang sekiranya masuk akal mengapa aku menelponnya. Beberapa detik berlalu, tak terdengar nada sambung sama sekali. Hal ini malah membuatku penasaran. Kutelpon nomornya sekali lagi, tetap saja tak terdengar nada sambung.

Ck! Apa Ian sengaja agar tak dapat kuhubungi?

---

Hari berganti hari, kini hampir sebulan aku menjalani masa pacaran dengan Oliver. Rutinitas baru kami mulai terbentuk, kami telah terbiasa satu sama lain.

Apa yang kurasakan? Biasa saja. Apakah aku bahagia? Biasa saja. Tapi setidaknya, aku tidak tertekan sama sekali.

Aku baru kembali dari meja Hasan, Mas Purbo menugaskanku untuk membimbing dan mensupervisi pekerjaannya. Kuteguk botol air minum beberapa kali sebelum mulai mengetikkan password untuk membuka kunci laptop.

Sambutan pertama yang kudapat adalah email dari Oliver. Cara berkomunikasi kami memang seperti ini, dengan mengirimkan email yang memang ‘on screen’ setiap saat. Jadi tidak akan pernah tak terbaca kecuali saat kami tidak ada di meja.

‘Are you free tonight? Could we hangout?’ (-Ada waktu nanti malem? Bisa jalan?)

‘Yeah sure.’ (-Iya bisa)

‘Great!’ (-Mantap!)

Selesai membalas email Oliver, kuputar kursi untuk menghadap workstation, berniat melanjutkan pekerjaanku. Sapaan Pak Ujang tiba-tiba terdengar.

“Mbak Kiara. Ada kiriman lagi nih.” Pak Ujang membawa kotak cukup besar berisi aneka macam coklat.

“Yakin bukan buat Dina ini Pak?” aku menerimanya sambil meraih kartu yang tersemat di kotaknya.

-AP-

Lagi-lagi dia. Ini sudah kesekian kalinya. Sejujurnya sempat terbersit harapan ‘AP’ ini adalah Ian, tetapi intuisiku mengatakan bukan.

Siapa sebenarnya yang sok misterius seperti ini? Menyebalkan!!!

“Makasih Pak. Eh, Pak Ujang mau ga? Pilih deh yang mana aja boleh.” mulai kubuka kemasannya dan menyodorkan ke hadapannya.

“Enggak Mbak, ga usah.” tolaknya ramah.

“Eee… harus ambil atuh…! Saya tersinggung nih kalau Bapak nolak.” aku memasang wajah cemberut.

Aktingku ternyata cukup meyakinkan, Pak Ujang mengambil beberapa coklat sebelum dia pamit untuk kembali ke tempatnya. Selanjutnya, kubawa kotak itu ke meja tengah yang biasa dipakai untuk menaruh makanan yang boleh diambil oleh siapa pun.

‘Another one from the secret admirer?’ (-Satu lagi dari si penggemar rahasia?)

Begitu kembali ke meja, email baru dari Oliver mendarat di kotak masuk. Letak meja tengah tersebut memang sangat jelas dari jendela ruangannya, wajar jika Oliver tadi melihatku menaruh sesuatu di sana.

‘Creepy boyfriend! Stop stalking me!’ balasku cepat. (-Pacar yang nyeremin! Stop menguntitku!)

‘I didn’t stalk, I just observed.’ (-Aku ga nguntit, aku cuma mengamati)

Malas aku membalas pesannya. Segera kupakai headset dan menghadap workstation untuk mulai bekerja. Jika sedang fokus, tak begitu kupedulikan lalu lalang orang di belakang. Beberapa menit kemudian, Oliver tiba-tiba sudah ada di kubikalku. Dia menarik kursi kosong lalu duduk menghadapku.

“Are you mad?” dia sedikit berbisik. (-Kamu marah ya?)

Kulepas headset lalu menoleh kepadanya.

“What are you doing here? Get back to your desk!” aku pun berbisik membalasnya. (-Ngapain kamu di sini? Balik ke mejamu sana!)

“I will, but please answer me first. Are you mad at me?” tangannya meraih tanganku yang masih memegang mouse dan mengusapnya lembut. (-Iya nanti, tapi jawab dulu dong pertanyaanku. Kamu marah sama aku ya?)

“No, I’m not. But you can’t be here. Please go!” aku masih berbisik. (-Enggak aku ga marah. Tapi kamu ga boleh ada di sini. Please sana pergi!)

Segera kulepaskan tangannya yang masih menggenggam erat tanganku, aku tak mau orang lain melihat. Pekerjaanku sama sekali tidak berhubungan dengan yang dikerjakan oleh Oliver, kecurigaan sangat mungkin timbul jika rekan lain melihatnya terlalu lama di sini.

“Sorry. It wasn’t that I’m jealous or something…” (-Maaf. Aku bukannya cemburu atau apa…)

“I’m also sorry. It something that I can’t take control. After all, I have no idea who the person is.” (-Aku juga minta maaf. Ini hal yang aku ga bisa atur. Lagian aku ga tau ini orangnya siapa)

“Yeah I know.” (-Iya aku tau)

“And don’t even think to find out! I don’t want to create any problem with anyone. Please?” (-Dan ga usah mikir buat nyari tau! Aku ga mau cari masalah dengan siapapun. Please?)

“Uhm… yeaa... I don’t know…” (-Uhm… yaaaa… ga tau)

“What do you mean I don’t know? Are you up to something?” (-Maksudnya gimana kok ga tau? Kamu lagi ngerencanain sesuatu?)

“No, I’m not up to anything...” (-Enggak, aku ga ngerencanain apa-apa kok…)

Kalimatnya terkesan mengambang, sepertinya masih ada sesuatu yang menganggunya.

“Talk about this later?” (-Kita bicarain ini lagi nanti?)

“Sure.”

“Thanks!”

Oliver berdiri, memandangiku sebentar lalu berbalik.

“Looking for me? Since when were you there?” (-Nyari aku? Sejak kapan kamu di situ?)

Elaaaahhh?! Oliver berbicara dengan siapa? Sial! Siapa pun orang yang diajaknya bicara itu, kemungkinan besar telah mendengar pembicaraan kami. Sungguh sial!

Keringat dingin seketika muncul dari setiap jengkal pori-poriku.

>>bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
atikamut dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh fee.fukushi
Lihat 1 balasan

Quote:

Udah tuh nyaaaaaah emoticon-Embarrassment

Quote:

Iya sis. Siap emoticon-Malu (S) eh udah apdet lho itu

Quote:

Irfaaaaan!!!! Kangeeeeen...!!!! *eh emoticon-Nohope
Ahahaha nanti deh kalo ada karakter baru tak kasih nama irfan. Atau kita bikin kolab aja yuk, buat lucu2an emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
indahmami dan g.gowang memberi reputasi
sepertinya si AP karakter baru nih. TSnya aja gak tahu siapa si inisial AP, emoticon-No Hope
Klo mmg ternyata ian,brarti waktu itu mbak TS blom tahu nama lengkap ian ?? emoticon-Bingung
profile-picture
fee.fukushi memberi reputasi

Quote:

Ya jelas udah tau lah nama lengkap Ian waktu itu, gila lu ndro emoticon-Ngakak (S) emoticon-Peace
profile-picture
profile-picture
pavidean dan g.gowang memberi reputasi
Quote:

Tuuhhhh.. inisial AP nongol... ArifPansyah... alias Irpan.emoticon-Hammer2

Eeeehhh…. Lho lho lhooo…. kok kepenceeet??!!! Lhaaaa!

Pura-pura kepencet lagi..padahal emang kangen dan gengsi tuk telp...emoticon-Peace
profile-picture
fee.fukushi memberi reputasi
Quote:


Muuuoossoookkk.....
emoticon-Leh Uga
Brarti ane salah komen yg tadi , emoticon-Ngakak (S)
profile-picture
fee.fukushi memberi reputasi
Diubah oleh g.gowang
Quote:


Pesona kiara emang bikin klepek2.
Duuhhh...
Nyaman emang bikin susah berkutik.
Nyaman tuh gimana yah?
Mau nolak ko' takut kehilangan, g' nolak ko' cuma pelarian dari sepi.
emoticon-nulisah
profile-picture
fee.fukushi memberi reputasi

Quote:

Wkwkwk bisa ini bisa ArifPansyah emoticon-Ngakak (S)

Eeeh.... beneran kepencet ituuu... jaman dulu kan HPnya belum touch screen, masih yg pencet2 tuts itu naik turun naik turun eh malah kepencet ok. emoticon-Nohope

Quote:

emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak

Quote:

Lha kok malah pesona Kiara toh sis. Biasa aja kok Kiaranya emoticon-Embarrassment nyaman tuh ya nyaman gimana coba jelasinnya hehehe... itu nerimanya kan khilaf sis emoticon-Malu
profile-picture
indahmami memberi reputasi
Quote:


Entar nyalahin jari lagi pencet tuts HP..
Si babang makin tenggelam nih ceritanya.. apalagi di telp ngga aktif..emoticon-Nohope
profile-picture
fee.fukushi memberi reputasi
Quote:


Wkwkwk..
Khilaf emang bikin serba salah.
Pasti amazing banget nih si kiara dulu.
emoticon-Betty
profile-picture
fee.fukushi memberi reputasi
"lalu bagaimana dengan Angel? Urgh… setan!"

Eleh - eleh Kak Fee galak pisanemoticon-Big Grin
Tp bukannya Angel itu Malaikat ya, kok jadi Setan emoticon-Ngakak
profile-picture
fee.fukushi memberi reputasi
Sebulanan nggak pernah sekalipun si bule nyosor bu??

Atau di sensor jaga2 kalau ini thread ketahuan vavang sakuragi

😄😄😄
profile-picture
fee.fukushi memberi reputasi
Halaman 235 dari 237


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di