alexa-tracking
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b363b9e947868297a8b4567/the-game-thriller

The Game (Thriller)

Tampilkan isi Thread
Halaman 2 dari 2
GEMBOKED YA OM
Trit keren, update lagi gan emoticon-Peace
Lihat 1 balasan
Balasan post mindtalkplus
Quote:

ok gan, maksih banyak. ane usahain buat sering update kok emoticon-Big Grin

PART 6

“Hah…” Aku menghela napas panjang.

Kupikir Sasya akan segera berhenti menyiksa Rinrin. Namun, dugaanku salah. Situasi ini kembali membuatku tegang. Kedua tangan Rinrin yang berlubang tampak begitu mengerikan. Sudut bibir Sasya tertarik hingga menciptakan seringai yang lebar, gadis bermata sipit itu kembali menggerakkan obengnya. Sementara tangan Rinrin terkulai lemah, ia tak dapat melakukan perlawanan apa pun. Hanya mampu pasrah.

Rinrin memejamkan sebelah matanya, menahan sakit dari luka yang disebabkan obeng tadi. Aku yakin bagian berwarna putih pada bola mata Rinrin kini berubah merah. Sasya melepaskan tangannya dari leher Rinrin dan untuk sesaat Rinrin dapat menghirup oksigen dengan lega.

Rinrin kembali terkejut begitu Sasya memegangi kelopak matanya. Ia mencoba membuka mata kanan Rinrin dengan paksa. Kemudian memasukkan obeng ke sisi matanya, mencoba untuk mencungkilnya secara perlahan.

Dengan pucat Rinrin bertanya, “Sasya, apa kau sudah kehilangan akal sehatmu? Apa yang coba kau lakukan pada mataku!?”

“Heh? Apa? Bukankah mata harus dibalas mata? Tidak, maksudku kupingnya Pinkan harus kau balas dengan matamu.” Aku tidak bisa percaya lagi bahwa gadis yang tengah menyiksa Rinrin itu adalah Sasya. Teman masa kecil yang kukenal tidak mungkin mengatakan hal sesadis itu.

“Kumohon hentikan! Itu menyakitkan!” Permohonan Rinrin terdengar sia-sia.

Sasya masih pada pendirian semula, ia tidak akan puas sebelum Rinrin sangat menyesal dan menderita. Dia mulai terkekeh begitu benda bulat lembek yang dicungkilnya menggelinding ke lantai. Rinrin tak sanggup berteriak lagi, dia sudah berada di titik di mana tak mampu mengekspresikan rasa sakitnya dengan teriakkan.

“Oh tidak, bola mataku …,” desisnya lemah.

“Rinrin, apa kau tahu? Selain telah membunuhnya kau juga telah melukai perasaannya. Dan itu tidak termaafkan.”

“Kurasa kau salah, jelas-jelas aku yang perasaannya paling terluka di sini,” jawab Rinrin sambil menahan sakit.

“Kau tidak tahu apa pun. Apa kau tahu seberapa seringnya Pinkan menceritakan tentang Iki padaku? Apa kau tahu seberapa sering dia bergurau hanya untuk mendapat perhatian dari Iki? Apa kau tahu semenjak dia menyadari bahwa Iki itu menyukaimu, dia selalu sabar dan menekan perasaannya? Apa kau juga tahu, jika Pinkan tidak punya nurani sepertimu, seharusnya sejak awal, sejak game ini dimulai, kau adalah orang pertama yang dibunuhnya!” ungkap Sasya dengan memuntahkan segala kekesalannya.

Sasya memang orang yang menjunjung tinggi persahabatan. Jadi ini hal yang wajar ketika dia membela Pinkan mati-matian. Sial aku semakin bingung. Apa dia memang Sasya yang kukenal atau bukan?

“Lalu apa? Aku tidak peduli lagi dengannya. Lagi pula, dia kan sudah mati. Setidaknya kamu perlu tahu, yang membunuh Pinkan itu adalah Iki.”

“Diam! Ini semua bermula karena kamu menyiksanya! Pokoknya ini salahmu.”

Sasya memungut benda yang menggelinding di lantai tadi. Lalu ia memaksa Rinrin membuka mulut. Tanpa aba-aba, Sasya memasukkan bola mata ke dalam mulut Rinrin. Rinrin mencoba memuntahkan apa yang baru saja masuk ke dalam mulutnya itu. Namun, Sasya segera membungkam mulut gadis itu dengan tangannya.

Rinrin tidak dapat menjerit. Mata sebelah kirinya terbelalak dan tampak dapat melompat kapan saja. Rinrin pasti sangat mual dengan membiarkan bola matanya sendiri berada di dalam mulutnya. Rasa darah yang menggenangi lidahnya bercampur amis dipadu dengan tekstur bola mata yang sudah benyek akibat ditusuk obeng, pasti mejadi rasa paling menjijikkan yang tak ingin ia rasakan untuk kedua kalinya.

Buk! Denis tiba-tiba menendang dagu Sasya hingga ia terjatuh dari tubuh Rinrin. Bibir Sasya berdarah, ia tampak tidak percaya dengan aksi Denis yang tak terduga. Pukulan telak di dagu itu benar-benar fatal.

“Ok perkiraanku tepat. Sudah jelas Sasya adalah pemilik nomor enam,” kata Denis sambil menunjuk Sasya yang terkapar di lantai.

“Ba-bagaimana mungkin?” tanya Sasya heran.

“Benar kan? Aku memang benar, aku ini kan jenius,” aku Denis dengan wajah beseri-seri.

Sasya masih kesulitan untuk bangkit. Kepalanya pusing dan tendangan tadi membuatnya kehilangan keseimbangan.
Diubah oleh ningsiw878

PART 7

Sadar bahwa dirinya terbebas dari Sasya, Rinrin memuntahkan apa yang sedari tadi menganggunya. Huuuueeekkk! Muntahnya bercampur darah dan beberapa sisa makanan.

“Denis, ternyata kau masih peduli padaku…” Rinrin sedikit mendongak untuk memastikan kehadiran Denis. Untuk sejenak ia lupa akan rasa sakitnya.

“Rinrin, sebaiknya kau diam saja! Aku melakukan ini bukan demi dirimu, melainkan demi diriku sendiri. Bangunlah dari khayalanmu itu. Kau paham?”

Denis menginjak tangan Rinrin. Menekan tangan Rinrin yang terluka dengan tumit sepatunya. Lalu meghentakkan kakinya beberapa kali hingga tulang-tulang tangan Rinrin terasa begitu ngilu.

“Aaaww! Ba-baiklah, aku paham.”

Denis memegang tangkai kacamatanya, berpose ala detective. “Oh iya, aku hampir lupa tentang Sasya.” Ia mengalihkan pandangannya ke arah gadis sipit itu. “Ini sangat mudah untuk menebaknya. Mungkin terlihat wajar bahwa Sasya marah dan melampiaskannya kepada Rinrin, tapi bukankah ini sedikit ganjal? Sasya yang terus-menerus menyiksa Rinrin, memberi kesan bahwa dia sedang berusaha mengulur waktu. Asal dia bisa mempertahankan situasi ini selama lima menit dengan menyita perhatian kita semua, maka dia akan aman. Tinggal menunggu si nomor lima yang berakhir seperti Pinkan. Rencana yang sempurna. Lagipula, siapa yang masih memikirkan tentang omong kosong persahabatan di situasi seperti ini?”

Aku hampir tertawa begitu mendengarkan argumen Denis yang dipenuhi unsur fantasi. Sudah jelas Sasya melakukan itu semua didasari amarahnya karena kehilangan sesuatu yang berharga. Maksudku, Sasya yang kukenal tak sepintar itu untuk menyusun sebuah rencana. Dia bukan orang yang licik.

Ekspresi Sasya tiba-tiba berubah, dia terlihat seperti kucing yang tertangkap basah.

“T-tidak. Aku melakukannya benar-benar demi Pinkan, tidak ada maksud lain.”

“Kau pikir aku akan percaya? Kau saja sanggup menyiksa Rinrin, jadi tidak mungkin kau tidak sanggup menipu kami, bukan?”

“Obeng! Di mana obeng tadi?!” teriak Sasya panik.

Ternyata obeng itu terlepas dari tangan Sasya dan menggelinding ke samping kaki Denis.

“Lihat, benda kecil ini bahkan dapat memilih pemiliknya dengan benar.” Denis memungut obeng itu.

Sebelum Sasya dapat pulih dan melarikan diri, Denis segera menjambak rambut pendek milik gadis itu.

“Hei Reol, bukankah permainan ini membosankan? Apa kau ingin melihat lebih banyak darah lagi? Aku akan menunjukkannya. Kau cukup duduk manis sambil menyaksikan kehebatan seorang Denis.”

“Hooo… Baiklah, aku sudah tidak sabar lagi. Sepertinya ini akan menjadi satu menit yang luar biasa.”

“Tentu.”

“Timi! Selamatkan aku!” Tiba- tiba Sasya berteriak.

Teriakkan Sasya sudah seperti alarm otomatis yang membuatku bertindak tanpa banyak berpikir. Lucky! Begitu aku mengintip meja paling depan yang berada pada barisan kedua dari kiri, aku menenemukan sesuatu yang setidaknya dapat digunakan untuk menolong Sasya. Sebuah benda berbentuk palu, hanya saja di ujung bagian pegangannya terdapat besi tipis yang tajam dan runcing seperti paku. Jadi palu itu memiliki dua sisi, yaitu sisi yang tajam dan sisi yang tumpul. Palu yang cukup unik.

“Cih, berisik.” Denis segera mendaratkan obeng penuh karat itu di tengorokkan Sasya. Obengnya diputar secara perlahan, menembus kulit yang tipis dan mengenai dagingnya yang lunak. Jeritan Sasya seolah tertahan di ruang hampa udara. Tidak terdengar lagi.

Kedua mata Sasya yang sipit itu berusaha agar tetap terbuka. Ia menatap Denis seperti ingin melahapnya saat ini juga. Dengan tidak sabarnya, Denis kembali mendorong obeng itu cukup dalam, obengnya semakin masuk dan mengoyak pembuluh darah, hingga akhirnya melubangi leher Sasya. Mata Sasya tidak berkedip lagi. Tidak ada lagi pergerakan dari tangan-tangannya yang sebelumnya membuat perlawanan.

Diubah oleh ningsiw878
Asyik. Cerita baru nih..
Thriller dan game..

Lanjutkan,gan!

ane gelar tikar dulu..

bookmark..bookmark..bookmark!!!

sekalian ane mau ijin belajar cara penulisan buat cerita ane ya.. metode penulisan agak mirip dengan sudut pandang "aku".
Ane masih nubie gan.. jadi harap maklum.. numpang promo dikit..Link ane:
A Girl from My Dream

emoticon-Cendol Gan emoticon-Cendol Gan


Jangan ampe kentang ceritanya,Gan!! Ceritanya kayak Escape Room or SAW ya?
wkwkwk
Diubah oleh angelous91
Lihat 1 balasan
Lanjut dong gan.. jangan kentang..

emoticon-Hansip emoticon-Hansip
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15

PART 8

“Ups, sepertinya tanganku kelepasan.” Denis terkekeh. Ia mencabut obeng itu dan cairan merah kental keluar dengan derasnya. Darahnya muncrat hingga mengotori kacamata Denis.

Denis segera melepas kacamata dengan bingkai putih itu, lalu mengusap bagian lensa yang kotor dengan ujung baju kaosnya. Noda-noda darah itu begitu menggangu pengelihatannya.

Menyaksikan aksi Denis seketika membuat otot-ototku mengeras kaku hingga menyesakkan dada. Beberapa hormon mulai bereaksi dalam tubuhku dan menimbulkan sensasi tegang.

Denis yang tengah membersihkan kacamatanya tampak begitu lengah. Dia bahkan tidak menyadari bahwa aku sudah berdiri di belakangnya. Tam! Bunyi palu yang beradu dengan kepala Denis langsung bergema. Hanya satu pukulan kuat yang mengenai belakang kepalanya dan dia langsung pingsan.

Aku bergegas menyumbat darah yang keluar dari leher Sasya dengan kedua tanganku. Namun, itu sia-sia. Darahnya terus keluar melalui sela jari-jari tanganku. Pupil mata Sasya bergerak, menangkap sosokku yang saat ini berdiri di sampingnya. Napas Sasya mulai terdengar berat, dan itu menambah kekhawatiranku.

“Sasya, apa kau bisa melihatku? Tenanglah, aku ada di sini.” Aku terus mengulang kalimat yang sama. Dengan begitu, semua akan baik-baik saja.

Reol berdiri dan memukul sisi papan tulis. Sontak, semua orang mengalihkan pandangan ke arahnya.

“Selamat! Kalian berhasil membunuh si nomor enam.” Pengumuman mengejutkan itu sukses memukulku secara telak. “Dan lagi-lagi si nomor lima yang cerdik berhasil lolos dari kematian.”

“Aku tidak mendengarnya,” gumamku pada diri sendiri.

“Sayang sekali, apa yang Denis lakukan sedikit mengecewakan. Sasya yang menyedihkan, sampai akhir pun berharap diselamatkan oleh Timi sang pahlawan. Rinrin yang dibutakan oleh cinta kini sebelah matanya benar-benar buta. Iki yang biasanya berwibawa dan tetap tenang memberi arahan di kelas, sekarang dia bahkan tak dapat berkutik dari sebelah mayat gadis yang dibunuhnya. Perngorbanan Pinkan tidak begitu buruk, orang yang dilindunginya untungnya masih bertahan hingga saat ini.” Reol memberikan tepuk tangan yang keras.

Hey, tunggu sebentar. Aku tidak ingin mendengar semua omong kosong ini. Seharusnya mereka bertindak untuk segera menolong Sasya. Jika begini terus, aku bahkan tak tahu apa yang akan kulakukan degan benda yang ada di tanganku ini. Ibu pasti akan marah besar jika aku pulang tanpa membawa Sasya bersamaku.

“Karena aku mulai bosan, mari kita mengubah rulenya.”

Kami semua tercengang. Rule ini saja sudah sangat-sangat gila, dan sekarang dia ingin mengubah rule seenak jidatnya? Tolong, aku bahkan belum sempat menangisi kepergian Sasya. Apa dia tidak bisa mengkondisikan sedikit kegilaannya? Dasar wanita gila!

“Aturan seperti apa?” tanya Iki ragu.

Dia terlihat begitu menyedihkan karena sempat melukai kakinya sendiri dengan benda yang ada di tangannya itu. Di situasi seperti ini, seharusnya dia bisa bersikap lebih tenang.

Reol merapikan rambutnya sambil berjalan mondar-mandir di depan papan tulis. “Satu hal yang perlu kalian tahu, di antara kalian ternyata terdapat si penyusup dengan nomor kematian nol. Selama permainan berlangsung, dia bersandiwara dan terus menghasut dengan baik. Jadi, siapa pun yang dapat membunuh nomor nol, maka dia akan kubebaskan dari tempat ini. Kabar baiknya, tidak ada batas waktu.”

“Tunggu dulu, aturan sebelumnya itu sangat menguntungkan bagi si nomor nol. Berapa kali pun dadu itu dikocok, nomor kematiannya tidak akan pernah muncul,” gumamku.

“Ya begitulah, dia ada untuk membantu memperkeruh suasana. Berhubung permainannya akan berakhir, aku berpikir untuk segera menyingkirkannya.”

Tanpa sengaja aku dan Iki sama-sama melirik Denis. Sepertinya kami punya pemikiran yang sama. Denis belum sadar dan ini kesempatan emas bagi kami berdua untuk menyingkirkannya. Lihat saja, aku akan segera membalas perlakuan yang dia lakukan terhadap Sasya.

“Tahan emosi kalian, permainan akan ditunda hingga Denis kembali sadar. Sambil menunggu lakukanlah hal yang kalian inginkan baik itu mengatur strategi atau sebagainya.”

Tingkah Reol yang terlalu tenang dan memberi sedikit keringanan ini terlalu mencurigakan. Dari awal permainan hingga sekarang dia bahkan tidak memberi jeda kepada kami agar setidaknya dapat bernapas dengan benar. Tenang saja, tak satu pun yang akan lepas dari pengawasanku. Untuk sementara, aku berpikir akan memindahkan mayat Sasya ke sudut ruangan agar setidaknya ia dapat beristirahat dengan tenang.

Aku menggendong Sasya seperti seorang tuan putri. Jika dia masih hidup, dia pasti akan sangat bahagia. Bagaimana tidak? Seorang Timi rela mengorbankan kedua lengannya untuk menopang tubuh gadis yang berat ini. Namun, entah mengapa dia terasa sedikit ringan.

Sasya kubaringkan dengan hati-hati. Kemudian aku melepas hoodie yang kukenakan dan menggunakannya untuk menutup wajah Sasya yang pucat. Untungnya masih tersisa baju kaos hitam yang menempel di tubuhku.

“Timi, aku tahu kita tidak begitu akrab. Aku hanya berpikir agar kau mau sedikit membantuku. Letakkan juga tubuh Pinkan di samping tubuh Sasya, aku yakin mereka pasti akan merasa jauh lebih baik.”

Tanpa banyak bicara aku menuruti permintaan Iki. Sejujurnya ada banyak hal yang ingin kuperdebatkan dengannya, tetapi itu hanya buang-buang tenaga. Aku tidak sanggup menatap mayat Pinkan yang cukup hancur, jadi aku segera meletakkannya dan berdoa untuk mereka berdua.

***

“Jangan ada yang bergerak atau aku akan menusuk dan melubangi tenggorokkan Rinrin!” Suara itu tidak salah lagi adalah Denis.

Denis sudah sadar, dan begitu sadar dia langsung membuat kekacauan. Huh Rinrin ya? Kupikir dia sudah mati tapi sepertinya dia masih hidup dengan kondisi yang sekarat. Dalam situasi seperti ini, prioritas utamaku adalah membunuh si nomor nol keparat itu.


Diubah oleh ningsiw878

PART 9

“Denis, kau tak harus menjadikan Rinrin sebagai sandera. Dia sudah sangat tidak berdaya,” ujar Iki lemah.

“Aku sudah dengar semua yang dikatakan Reol dan kalian pasti menargetkanku, bukan?”

Sepertinya dia punya akting yang bagus hingga bisa berpura-pura pingsan dengan baik. Dasar bajingan! Di mana keberaniannya yang tadi? Kehilangan akal sehat dan membunuh hanya demi pujian dari seorang Reol? Aku sangat ingin berteriak dan menyumpahinya sekarang juga. Rasanya aku sudah bukan Timi yang penyabar lagi.

“Bunuh saja Rinrin! Lagipula akan sangat kasihan jika dia harus hidup dengan menanggung malu.” Aku berbicara dengan nada serius dan tenang.

Senjata yang ada di tangan kananku itu kuayunkan pelan. Menimbang ukurannya dan berusaha menyesuaikan beratnya dengan kekuatan genggamanku. Senjata ini benar-benar tidak buruk. Aku menyukainya.

Iki menatapku dengan mata yang melotot. “Tarik kembali ucapanmu Timi! Kupikir hanya kau satu-satunya yang tidak sinting di sini.”

“Woa perdebatan antara lelaki dan sepertinya semakin memanas. Kalian bisa saling memulai pertarungan berdarah tanpa ampun itu sekarang juga,” sela Reol di tengah perbincangan.

“Ya kurasa Timi kehilangan ketenangannya gara-gara dia gagal menyelamatkan Sasya. Uh, menggemaskan sekali. Namun, aku tidak akan melewatkan kesempatan ini karena aku juga ingi mengakhiri permainan sebagai satu-satunya pemenang dan membuat Reol ingin memelukku. Iki, apa kau yakin akan bekerja sama dengan Timi? Apa kau yakin tidak ada kemungkinan sedikit pun bahwa Timi adalah nomor nol?”

Sesaat Iki tampak bimbang. Dia sudah pulih dari depresinya dan mencoba tetap berdiri dengan darah yang mengalir dari luka di kakinya. Luka di telapak tangannya masih sedikit basah. Dia menguatkan cengkramannya pada pisau yang dia pegang. Ditinjau dari segi senjata, jelas bahwa pisau dan palu lebih unggul dari pada obeng yang berkarat. Terkadang, seseorang harus punya batas dalam hal menyombongkan diri. Dan kesombongan Denis yang kelewat batas itu benar-benar tak tertolong.

“Baiklah, mari mengkonfirmasi siapa pemilik nomor nol itu. Caranya simpel, cukup menunjukkan nomor masing-masing dan targetnya dapat tertangkap. Lagipula sudah tidak ada alasan bagi kita untuk tetap menjaga kerahasiannya, bukan? Aku hanya ingin memastikan yang mana kawan dan lawan,” saranku kepada mereka berdua.

“Setuju,” jawab Iki.

“Tentu saja aku tidak keberatan,” balas Denis.

Pada hitungan ketiga kami memutuskan untuk sama-sama mengangkat stik yang bertuliskan angka-angka itu dan menyebut angka yang tertera dengan lantang.

“Well, punyaku nomor satu.”

“Aku nomor tiga,” ungkap Iki tak lama setelahku.

“Apa-apaan ini! Keparat! Kalian telah menjebakku! Stikku hilang dan aku tidak bisa membuktikan bahwa aku bukanlah nomor nol.” Denis tiba-tiba menjadi kesal.

“Sekarang sudah terungkap. Dari awal memang hanya Denis yang jago bersandiwara. Setelah tidak bisa membuktikan apa-apa, kau mau mencoba mengelak ya?” tanyaku sinis.

“Persetan! Aku hanya perlu memaksa Iki berada dipihakku selama aku punya Rinrin, bukan? Dia pasti akan menurutiku dan akan mengincarmu, Timi.”

“Jadi kau berpikir seperti itu ya? Sebagai ketua kelas yang selalu memimpin anggota kelas, sayang sekali kau telah salah menilaiku, Denis.”

Bersamaan dengan itu, Iki melemparkan pisau ke arah Denis. Pisau itu melesat dan melaju dengan cepat. Terlambat bagi Denis untuk menghindar. Iki mengincar tangan Denis, dan begitu pisau tepat sasaran menancap di tempat yang seharusnya, obeng di tangan Denis pun terlepas. Ia tidak dapat lagi mengancam Iki.

“Dengar ya mata empat sialan! Aku tidak akan menuruti siapa pun dan akan membuat orang lain mematuhiku. Itulah pesona yang di miliki oleh seorang ketua kelas. Timi, sisanya kuserahkan padamu!”

Setelah mengakhiri kata-katanya dengan memberi perintah, Iki tumbang dan tidak dapat kembali berdiri. Memaksa kakinya berdiri sambil berkonsentrasi melemparkan pisau dengan akurat pasti sangat membebani tubuhnya yang terluka. Jadi wajar jika Iki membutuhkan sedikit istirahat.

Ini bukan karena aku ingin bersikap keren, tetapi hanya aku yang tersisa dan orang seperti Denis itu memang layak dimusnahkan. Membunuh memang bukan hal yang baik tetapi dibunuh adalah hal yang terburuk, yang perlu kulakukan adalah menjadi sedikit nekat dan mencoba untuk membunuh. Jika kami selamat dan polisi datang ke sini, kami hanya perlu membela diri dengan mengatakan kami membunuh dalam keadaan penuh tekanan dan melakukannya sebagai bentuk perlawanan.

Untuk yang kedua kalinya aku memburu Denis dan kali ini aku tidak akan melepaskannya. Denis menyilangkan kedua tangannya dengan harapan dapat memblok serangan dadakanku. Tam! Kali ini aku memukul kedua tangannya lebih keras dari sebelumnya. Denis terdorong kebelakan dan tulang tangannya hancur. Kupikir aku akan menang dengan mudah, namun seorang pengganggu tiba-tiba saja mengusikku.

PART 10

“Rinrin memegangi kakiku dengan tangannya yang terluka. “Denis, larilah! Kali ini biarkan aku berguna.”

Denis mencoba menjauh dariku dengan senyum sedikit kemenangan di wajahnya. Dia merasa bangga karena Rinrin terlalu bodoh dan mau membantunya dengan sukarela setelah semua yang terjadi.

“Rinrin lepaskan aku! Sekarang!” bentakku.

“Tidak akan pernah! Meski aku sekarat, aku ingin jadi berguna untuk Denis!”

“Dasar gadis bodoh! Denis sudah memanfatkanmu, menyakitimu dan dia ingin merenggut nyawamu! Ini terakhir kalinya aku memintamu sebelum aku benar-benar marah.”

Sedari tadi aku sudah menendang-nendang kepala Rinrin dengan satu kakiku yang bebas. Namun dia gigih, tetap memeluk erat kaki kiriku dengan kedua tangannya yang rapuh.

Akhirnya aku memutuskan untuk menunduk dan berbisik di telinga Rinrin, “Aku tidak ingin yang lain mendengar ini. Aku hanya mengatakannya sekali. Jadi dengarkan baik-baik, semua akan kubunuh tanpa terkecuali jadi tunggulah giliranmu dengan sabar!”

“B-bagaimana mungkin kau mengatakan itu disaat dulu kita semua pernah berteman?” lirih Rinrin lemas.

Rinri mendongak dan tampak gemetaran. Apa wajahku sebegitu menakutkannya? Aku mengambil obeng yang tadi lepas dari tangan Denis. Kekuatanku jauh lebih kuat dari Rinrin dan aku dapat dengan mudah melepaskan tangannya dengan tanganku sendiri. Hanya untuk berjaga-jaga agar Rinrin tidak mengganggu, aku pun meletakkan obeng di atas telapak tangannya yang kudorong ke kaki meja, lalu memukulnya dengan palu yang kupegang. Tam! Tam! Butuh beberapa pukulah hingga obeng menembus kedua telapak tangannya dan tertancap dengan sempurna. Rinrin semakin kesakitan dan tak dapat berkata-kata lagi.

“Kau tak seharusnya menyakiti Rinrin, apa yang baru saja kau perbuat itu Timi?” Tindakanku secara jelas memancing kemarahan Iki. Namun aku sudah tak peduli lagi.

“Diam saja Iki! Aku kan tidak membunuhnya, ini juga salah Rinrin hingga Pinkan dan Sasya mati. Dia memang pantas bertanggung jawab.” Mendengar penjelasanku Iki diam seribu bahasa.

Dia merangkak dan segera bergerak ke arah Rinrin. Aku tidak tahu lagi apa yang dipikirkannya. Dia menyeret kakinya dan meninggalkan noda darah dimana-mana. Aku cukup terkejut karena Iki hanya datang untuk memeluk Rinrin dengan lembut. Ya kurasa tidak ada salahnya untuk membiarkan mereka berdua bermesraan.

Aku kehilangan Denis. Tapi aku dapat melihat ujung sepatunya yang bersembunyi di sela lemari perlengkapan alat bersih-bersih yang terletak di pojok kiri.

“Tertangkap!” teriakku keras. Tidak ada siapa-siapa di sana selain sepasang sepatu. Kemudian dengan cepat aku berbalik dan memergoki Denis yang muncul dari belakangku, “Hahaha, tadi itu hanya bercanda. Apa kau pikir aku akan tertipu?”

Noda darah yang ada di lantai tidak bisa berbohong. Sejak awal aku sudah tahu bahwa Denis sebenarnya bersembunyi di balik meja-meja dan sengaja meletakkan sepatunya di samping lemari agar aku megira dia bersembunyi di sana. Lalu dia berniat untuk menyerangku dari belakang. Rencana yang sangat klasik.

Denis tak kalah terkejut karena rencananya dapat kubaca dengan jelas. Beberapa tulang tangan yang hancur memaksanya untuk menarik pisau yang tadi tertancap di tangannya dengan mulutnya sendiri. Dia tampak kesusahan. Sudah tidak ada pilihan bagi Denis untuk mundur. Jadi dia tetap maju dan berusaha menancapkan pisau yang digigitnya itu ke tubuhku. Aku pun menghindar dan mengambil langkah mundur. Lalu dengan cepat aku menendang kaki kanannya dan Denis jatuh kehilangan keseimbangan.

Sebelum ia dapat bangkit kembali, aku mengayunkan palu dan menghantam tulang hidungnya dengan keras. Tulang hidungnya patah dan ada banyak darah yang mengalir. Pisau terlepas dari mulutnya dan dia berteriak kesakitan.

“Keparat, keparat kau Timi! Beraninya merusak wajahku.”

Sepertinya aku perlu memberi Denis sedikit pelajaran agar dia tidak banyak bicara lagi. Pertama-tama aku merampas kacamatanya. Kemudian memaksanya buka mulut dan menyayat lidahnya. Kini Denis tak akan melakukan banyak perlawanan dengan rasa sakit yang terus membuatnya menjerit seperti perempuan.

Melihat kondisi Denis tiba-tiba membuatku tertawa, “Huahahah . . . Lucu sekali.”

Sepertinya ada yang tidak beres dengan diriku, entah bagaimana aku merasa sangat bahagia. Seakan hormon dopamin diproduksi begitu banyak dalam diriku dan memberi sensasi bahagia dalam skala yang begitu besar. Aku melanjutkan kegiatanku dengan serius. Memukul telapak tangannya dengan palu, mebuat bunyi Tam! Tum! ketika palu beradu dan menyisakan noda darah dimana-mana. Dilanjutkan dengan memukul-mukul tangan, kaki, tulang rusuk dan terakhir kepalanya. Aku tidak ingat sejak kapan Denis berhenti berteriak yang pasti aku terus fokus memukul dan menghantam segalanya. Itu benar-benar menyenangkan. Darahnya memercik hingga ke wajah dan pakaianku. Ini jelas hal yang salah.

“Timi, tolong aku! Ada yang aneh dengan Rinrin.” Iki tiba-tiba saja memanggilku dengan panik.

Sayang sekali Iki tak menyaksikan secara langsung ketika aku menghabisi Denis dengan sedikit brutal. Aku mengambil potongan lidah Denis dan menyimpannya di dalam saku, kupikir akan bagus untuk menunjukkannya pada Iki. Meski tubuhnysa sudah hancur lebur, aku pastikan dia benar-benar mati dengan menancapkan pisau tepat di jantungnya.

Aku menghampiri Iki, “Ada apa?”

“Rinrin dari tadi menggigil dan dia tampak pucat. Dia terus bergumam bahwa seseorang akan membunuhnya. Aku sudah berulang kali memberi tahunya bahwa kau akan menghabisi Denis dan kita akan segera keluar dari sini.” Iki masih memeluk Rinrin dan mencoba untuk menenangkannya. “Bagaimana dengan Denis, kau berhasil membunhnya?”

“Yep. Mayatnya ada di dekat tumpukan meja yang ada di sebelah sana.”

“Syukurlah. Jangan khawatir, aku akan membantumu menanggung dosa ini,” ujar Iki meyakinkan.

“Sebenarnya, aku tidak mempermasalahkan itu. Aku hanya ingin sesuatu darimu setelah aku berhasil menghabisi Denis si bajingan itu.”

“Katakanlah, begitu kita keluar aku akan berusaha mengabulkannya.”

Aku mendekat dan berbisik di telinga Iki, “Yang kuinginkan itu kematianmu.”


PART 11

“Apa?” Iki tampak terkejut dan baru menyadari bahwa aku telah menusuk perutnya dengan ujung palu yang runcing dan menekannya cukup dalam.

“Selamat tinggal,” ucapku sambil tersenyum.

Rinrin yang berada di samping Iki tampak terkejut dan tidak menyangka terhadap apa yang kulakukan. Aku mengabaikan Rinrin, menarik ujung palu yang runcing lalu mengangkat dan menghantamkannya ke rahang sebelah kanan dan rahang sebelah kiri hingga ada beberapa gigi Iki yang rontok. Badannya kujadikan kanvas untuk melukis. Kembali kutancapkan ujung palu yang runcing di dada Iki lalu menariknya secara vertikal hingga ke bagian perut, kutarik lagi secara horizontal dan juga secara diagonal. Dengan begitu di badan iki terdapat goresan pola yang indah. Anggap saja ini bentuk penghargaanku terhadap si ketua kelas.

“Baiklah, sekarang giliran siapa?” Dengan cepat aku melirik Rinrin.

Rinrin terdiam dan pasrah. Lebih tepatnya dia tidak bisa bergerak dengan tangannya yang tertancap di kaki meja. Dia memejamkan mata, mungkin saja tengah berdoa agar masuk surga. Aku tak bisa lagi untuk menahan tawa, ini terlalu lucu. Namun sebelum aku dapat menghabisi Rinrin dengan tanganku sendiri, sebuah peluru bersarang di kepalanya. Rinrin membuka mata, darah terus mengucur dari otaknya dan dia segera meregang nyawa.

Aku sudah tahu siapa yang menembakkan peluru. Jadi sebelum aku yang menjadi sasaran selanjutnya, aku berlari dan membalik sebuah meja untuk kujadikan tameng. Dari balik meja itu aku berbicara dan sesekali mengintip.

“Huh, Reol kau sangat mengganggu. Aku pasti akan mengalahkanmu, tidak maksudku si nomor nol.”

Mendengar kata-kataku, Reol sedikit terkejut. “Jadi kau sudah tahu kan bahwa aku sebenarnya nomor nol? Seperti dugaanku, Timi memang luar biasa.”

“Ya, aku sudah tahu sejak kau mengumunkan bahwa ada pemain dengan nomor kematian nol. Biar kujelaskan bagaimana aku bisa mengetahuinya.” Aku mengintip dari balik meja, terlihat Reol yang meletakkan pistolnya dan tampak mendengarkan dengan serius. “Well, aku orang pertama yang mengambil stik. Aku ingat hanya ada enam stik di sana, jika kau memasukkan nomor nol seharusnya terdapat tujuh stik. Itu berarti sudah ada pemain yang mengambil stik dan menyisakan enam stik.

“Tapi, bisa saja dari awal memang ada enam stik. Lalu salah satu dari kalian yang memegang nomor nol,” potong Reol.

“Ya memang ada kemungkinan seperti itu. Kalau memang begitu, itu artinya dari satu sampai enam ada satu nomor yang tidak ada dan digantikan dengan nomor nol. Anggap saja nomor dua keberadaannya digantikan dengan nomor nol, lalu ketika dadu menunjukkan nomor dua dan tidak ada yang mati. Kami pasti akan dengan cepat sadar kalau ada yang salah.”

Reol tertawa sambil bertepuk tangan. Dia terlihat puas. “Baiklah analisis yang bagus. Kalau begitu jelaskan apa alasanmu membunuh teman-temanmu? Bukankah kau terlihat keluar dari karakter aslimu karena membunuh secara membabi buta seperti tadi? Jika aku tidak lebih dulu memusnahkan Rinrin, tubuh gadis itu pasti hancur lebur karena harus mati di tanganmu.”

Alasan? Apa aku perlu menjelaskan alasan atas aksi gilaku setelah terkurung di dalam sini? Semu orang yang kulihat bahkan sifatnya sudah tidak bisa kukenali lagi. Aku hanya mencoba membunuh iblis yang merasuki teman-temanku. Karena yang kubunuh itu iblis, aku tidak merasa bersalah sedikitpun dan tidak ada rasa sakit yang tertinggal.

Aku bergumam di dalam benakku dan tampak diam untuk sesaat. Reol mengambil inisiatif untuk kembali berbicara.

“Apa perlu aku yang jawab? Tentu saja karena kau memang suka membunuh kan, Timi? Lebih tepatnya ini adalah dirimu yang sebenarnya. Bukankah menyenangkan ketika aroma darah memenuhi otakmu?”

“Jangan samakan aku denganmu. Aku membunuh hanya karena terpaksa. Lagipula lagu yang kau putar itu dapat mengguncang emosi seseorang hingga mendorongnya punya keberanian dalam membunuh. Kau pikir aku tidak tahu, bahwa itu semacam cara mencuci otak melalui musik.” Aku berhenti bicara dan diam sesaat. Suasana sunyi, “Eh lagunya . . . ?”

Mataku terbelalak dan aku baru menyadari sesuatu. Sejak Reol bilang rule permainan diganti dan kami harus memusnahkan nomor nol, lagu mengerikan itu sudah tidak berputar lagi. Itu artinya aku dengan berani membunuh dalam kondisi sadar. Ini tidak sama dengan kasus Pinkan dan Sasya. Aku benar-benar membunuh karena aku menikmatinya? Tidak, ini tidak mungkin. Ini sangat sulit dipercaya.

Sial, persetan dengan apa yang terjadi. Aku hanya perlu membunuh Reol dan keluar dari tempat ini. Sebagai anggota dari klub lari aku cukup percaya diri dengan kecepatanku dalam berlari. Aku hanya perlu berlari sambil menghindari tembakan dari Reol.

PART 12

Aku bangkit dan keluar dari tempat persembunyianku. Menantang Reol secara terang-terangan. Dia masih memasang senyum kemenangannya dan memegang pistol dengan kedua tangannya. Bangg!! bunyi peluru ketika ditembakkan begitu keras, aku mencoba menghindar ke arah kanan sebisaku. Pelurunya sedikit menyalip bahuku. Goresan itu cukup perih dan meninggalkan luka yang cukup dalam. Aku meraih kursi secepat yang kubisa sebelum Reol kembali menembak. Dengan satu tangan aku mengangkat kursi kayu dan melemparkannya ke arah Reol. Kursinya tak sampai menghantam kepala Reol, tapi cukup berhasil untuk menghambat Reol. Aku berlari ke arah pintu dan menghantam gagang pintu dengan palu. Lubang kuncinya rusak dan pintu berhasil terbuka.

Reol mencoba menyusulku sambil menembakkan pelurunya. Namun posisi berdirinya yang kurang stabil menyebabkan dia tiga kali menembak secara sia-sia. Pelurunya meleset. Noda darah dari bahuku yang terus menetes sangat tidak membantu dalam melarikan diri. Aku berlari di sepanjang koridor. Berlari dan terus berlari agar memperbesar jarak antara Reol dengan diriku. Aku mendapat ide untuk masuk ke kamar mandi wanita. Lalu di sana ada lima pintu untuk setiap wc. Aku masuk ke pintu wc paling ujung.

***

“Timi, kau di mana?” suara Reol bergema di koridor.

Langkah kakinya semakin mendekat dan dia terus memanggil namaku seenaknya. Aku sangat tidak suka ketika dia ikut memanggilku Timi seperti yang lain. Yang boleh memanggilku Timi itu hanyalah teman-teman dekatku. Kalau diingat-ingat lagi, sebenarnya kami berenam pernah berada di satu SD. Itulah alasan kenapa hanya mereka berlima yang biasa memanggilku Timi di SMA. Ya, kami berenam ‘pernah’ berteman. Sialan, kenapa aku jadi mengingat masa lalu di saat-saat seperti ini. Toh pertemanan kami sudah lama hancur karena insiden itu. Benar-benar ingatan yang buruk. Lucunya lagi kami malah berakhir seperti orang asing. Terjebak dalam permainan bodoh dan membunuh satu sama lain.

“Sejak awal pemenang permainan ini sudah diputuskan. Jadi Timi, kau menyerah saja.” Reol telah tiba di kamar mandi.

Aku bisa mendengar dengan jelas suara pintu wc yang berada di pojok kanan saat Reol menendangnya. Dia kembali berjalan lalu menendang pintu berikutnya. Jantungku berdetak semakin kencang. Ini benar-benar posisi yang sulit. Reol terus mendekat dan aku semakin terjebak. Aku berhasil menemukan jendela, tetapi ukurannya terlalu kecil dan kurasa hanya bisa dilewati oleh anak-anak. Pintu ketiga dan keempat talah diperiksa oleh Reol. Dan sekarang adalah giliran pintu ke lima.

“Maaf Timi, sepertinya kau mengecewakanku. Kupikir kau setidaknya bisa mengimbangiku dalam bermain.

Reol membuka pintu kelima secara perlahan. Lalu Bang!! Dia menembak secara spontan dan mengenai tembok. Dia terlihat kesal karena aku berhasil mengecohnya dengan sepatu yang kuletakkan di depan pintu.

Bodoh sekali dia tertipu dengan tipuan yang hampir sama dengan tipuan yang Denis gunakan. Aku tak bisa lagi mempertahankan posisiku yang tengah memanjat kedua dinding dengan kaki dan tangan ala spiderman. Melihat ekspresi Reol dari langit-langit membuatku ingin tertawa keras. Namun, ini bukankah saatnya untuk tertawa. Ini adalah saatnya pembalasan.

Dengan tidak sabar, aku menyerang Reol dari atas. “Waktunya pembalasan,” teriakku.

Reol mendongak dan terkejut ketika melihatku yang memanjat di antara kedua dinding dan kini melompat ka arahnya. Aku jatuh tepat dengan menindih tubuhnya. Pistol terlepas dari tangannya dan aku segera melemparnya ke dalam kloset.

Aku mengunci kedua tangannya di belakang sambil memukul kedua betisnya dengan palu. Reol berada di posisi tengkurap, sementara aku tengah menunggangi punggungnya dan menyiksanya terus-menerus. Aku hanya melukai kakinya yang putih itu dan membuatnya berwarna biru. Penyiksaanku bahkan belum sampai pada pembukaan. Sebelum aku menyiksanya lebih jauh, Reol tiba-tiba mengatakan hal yang tidak terduga.

“Bagaimana rasanya menjadi pembully? Apa itu menyenangkan? Hahaha . . .” Reol bertanya dan anehnya dia masih bisa tertawa.

“Pembully? Apa maksudmu? Aku tidak pernah melakukan hal seperti itu.”

“Gadis yang kalian berenam siksa itu? Apa kau lupa?”

Mataku menyipit, kata-kata Reol memancing ingatan masa laluku. “Kau . . . ? Tahu dari mana?” tanyaku sambil menjambak rambutnya.

“Kalau kau tanya seperti itu? Tentu saja aku tahu segala hal tentang kalian. Lagipula tidak mungkin aku mengundang kalian bermain tanpa mengetahui segala hal kelam tentang diri kalian. Hahaha . . .” Kali ini dia menyeringai. Seringai yang begitu mengerikan.

“Cepat jawab! Tidak mungkin ada orang lain yang tahu selain kami,” aku berteriak tepat di kupingnya.

“Kkkkk . . .” Reol terkekeh. “Aku dengar, di sebuah sekolah dasar ada enam orang anak yang bersahabat. Nama mereka Sasya, Pinkan, Denis, Iki, Rinrin dan leader-nya adalah anak bernama Timi. Mereka berenam selalu bersama hingga seorang anak perempuan pindah ke kelas mereka. Setelah tahu bahwa anak perempuan itu sering pindah sekola karena pembullyan, mereka jadi berinisiatif untuk membully-nya. Awalnya mereka berpura-pura ingin menjadi temannya. Namun, dua hari setelah bersikap manis, mereka langsung menunjukkan sifat aslinya. Hari itu, ketujuh anak itu berkumpul di rumah Iki untuk kerja kelompok dan di sanalah pembantaian dimulai.”

“Hey, hentikan omong kosongmu seolah kau berada di sana!” bentakku marah,

Reol tak menggubrisku dan dia kembali bercerita. Untuk sesaat aku tidak bisa menyiksanya, kata-katanya begitu kuat dan mengganggu hingga ke dalam otakku.

“Dengan polosnya anak perempuan itu menantikan kerja kelompok dan membawa segala macam perlengkapan untuk membuat kerajinan. Hari itu, tatapan keenam temannya benar-benar berbeda dari biasanya. Pinkan tampak kesal karena tidak bisa memenangkan perlombaan model cilik, jadi dia melampiaskan amarahnya kepada anak permpuan itu. Dia menggambil gunting memotong rambut, bulu mata dan alis anak perempuan itu secara berantakakkan. Kelima anak lainnya hanya menonton seolah itu adalah permainan. Anak perempuan berambut panjang itu kini memiliki rambut pendek yang acak-acakan. Dia menangis berharap akan ada yang menolong.”

Perasaanku sedikit terguncang. Itu benar-benar ingatan yang ingin kulupakan. Bagaimana bisa si Reol sialan itu tahu segalanya. Reol sama sekali tidak menunjukkan ekspresi sakit setelah kakinya lebam dan biru. Seolah rasa sakitnya tidak akan bereaksi hanya karena luka fisik.


PART 13 (END)

“Jengkel dengan tangisan anak perempuan itu, Iki mengambil kaos kaki yang seminggu belum dicucinya dan disumpalkan ke dalam mulut bocah itu. Mereka semua tertawa, seolah ada badut yang tengah menghibur. Rinrin yang juga ingin ikut menyiksa anak perempuan itu tanpa pikir panjang meraih cangkir dan menyiramkan teh panas. Meski tak meninggalkan luka bakar, panasnya cukup untuk membuat kulitnya berubah merah. Kemudian, Denis mengeluarkan beberapa ulat dari kotak kayu yang sering di bawanya untuk memberi makan hewan peliharaannya. Sasya membantu Denis dan memasukkan ulat tersebut ke dalam pakaian anak perempuan itu. Anak perempuan itu menangis, tak mampu berteriak, menggeliat, kulitnya perih hingga dia bahkan ingin muntah beberapa kali.”

“Cukup!” potongku. “Hentikan ocehanmu itu! Sekarang!” Nadaku semakin meninggi.

“Menyedihkannya lagi, anak perempuan itu sempat berpikir bahwa Timi lah yang paling baik. Sayangnya, dia salah besar. Timi memang menghentikan teman-temannya untuk membully anak perempuan itu. Tetapi besok dan besoknya lagi bahkan hingga sebulan anak perempuan itu terus dibully oleh kelima temannya dan Timi tetap menjadi penonton. Lalu, pada suatu hari Timi membawa anak perempuan itu ke tempat yang sepi. Dia mengajaknya ke belakang sekolah. Untuk anak seusia Timi, dia adalah anak yang sudah berpikir cukup dewasa. Timi, bercerita kepada anak perempuan itu, bahwa hidup ini membosankan. Sekolah itu sebenarnya tidak berguna, seseorang yang pada dasarnya nakal sampai akhir pun akan tetap nakal. Orangtuanya terlalu sibuk bekerja dan memikirkan uang, Timi bilang dia tidak membutuhkan uang atau apapun, dia hanya merasa kosong. Meski tidak terlalu paham dengan pemikiran Timi, anak peremuan itu hanya diam dan terus mendengarkan. Kemudian Timi tiba-tiba berkata akan membantunya agar anak perempuan itu tidak dibully lagi. Dua hari kemudian anak itu menghilang. Bersamaan dengan itu, keenam anak itu bertengkar dan menyalahkan satu sama lain.

“Apa kau puas? Cepat beri tahu aku, kau dengar cerita itu dari siapa? Tidak mungkin orang yang sudah mati bisa menceritakannya!” teriakku menggila.

“Eh? Aku hanya bilang gadis itu menghilang dan kau bilang dia mati? Apa itu kau yang membunuhnya?” Sekali lagi Reol tertawa tanpa henti.

Bagaimana mungkin Reol tahu kejadian itu dengan spesifik? Mereka saja tidak tahu bahwa aku pernah membawa anak perempuan itu ke tempat yang sepi. Iya, memang benar karena aku lah anak perempuan itu mati. Aku hanya merasa bosan karena penyiksaan yang dilakukan teman-temanku itu terlalu ringan. Apa salahku? Aku hanya membantu agar anak perempuan itu tidak lagi disiksa oleh kelima temanku. Aku mendorongnya ke dalam sumur tua yang kering yang ada di belakang sekolah. Sangat menyenangkan ketika melempar kepalanya dengan batu dari atas dan kepalanya akan berdarah. Kadang aku melempar bebrapa serangga agar dia dapat memakannya. Sayangnya aku tidak pernah memberinya minum. Selain itu aku sudah membantunya keluar dengan menjulurkan tali yang dilumuri minyak. Dianya saja yang payah tak dapat memanjat dan berkali-kali jatuh hingga tubuhnya menghantam tanah. Sangat menyenangkan ketika melihatnya yang berusaha bertahan hidup. Aku tidak ingat sudah berapa lama mengurungnya di sumur, yang pasti dia terlihat sekarat dan mati begitu saja. Namun, mayatnya tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Aku tidak mau pusing memikirkannya. Setidaknya itu adalah hari-hari menyenangkan, dan sesudahnya aku kembali merasa bosan.

Lamunanku segera buyar. Aku kembali memfokuskan pikiranku. “Kalau memang aku yang membunuhnya lalu kenapa? Apa kau ingin lapor polisi? Lagipula kita ini sama-sama pembunuh,” ujarku sambil memelototinya.

“Akhirnya kau mengakuinya. Sayangnya anak itu belum mati dan dia tengah menuntut sebuah pembalasan dendam,” suara Reol jadi penuh penekanan.

Aku lengah, Reol mengayunkan kepalanya ke belakang dan menghantam kepalaku dengan keras. Dia berhasil melepaskan tangannya dan mendorongku hingga jatuh. Menendang palu yang kupegang hingga jauh dari jangkauanku. Kemudian dia balik menindih perutku. Mencengkram leherku lalu mencekiknya perlahan.

“Mungkinkah . . .” kata-kataku menggantung begitu saja.

“Iya, gadis yang kalian siksa itu aku! Pasti sangat mengejutkan, bukan? Kau bilang hidup ini membosankan? Lalu apa kau menikmati game yang telah kupersiapkan khusus untuk dirimu itu.”

Aku tersenyum, mengumpulkan suara untuk tetap bicara. “Tidak, aku sangat yakin dia sudah mati. Aku tidak tahu alasanmu berpura-pura menjadi dia. Well kalau kau bertanya tentang gamenya, aku akan menjawab itu cukup menyenangkan. Di dalam diriku ini memang tidak beres, hanya dengan menyaksikan darah kekosongan itu sedikit terisi. Jauh di dalam diriku aku sangat senang ketika melihat Pinkan mati begitu juga dengan Sasya. Selama ini aku hanya berpura-pura naif dan membiarkan pikiranku berargumen bahwa ini salah, bahwa aku tidak ingin membunuh dan pemikiran bodoh lainnya.”

Reol menggulung rambutnya, memperlihatkanku bagian samping dari lehernya. Terlihat ada luka bakar yang berukuran kecil di sana. Sekarang aku percaya bahwa dia adalah gadis itu. Dulu, ketika latihan menyalakan korek api kayu, Saysa meniup apinya dan menyulut korek api yang masih panas di leher anak perempuan itu.

“Aku senang karena kalian membunuh satu sama lain. Selama permainan, aku berusaha keras menahan diriku agar tidak menembaki kepala kalian semua dengan pistol. Kalau kalian langsung mati tanpa menderita, bukankah itu tidak adil? Penyiksaan yang kalian lakukan itu tidak pantas diterima manusia, itu adalah perlakuan yang terburuk dari yang paling buruk. Setiap hari, tidak, bahkan setiap detik aku berpikir untuk bunuh diri. Tapi kalau aku bunuh diri lalu apa? Kalian pasti akan tetap menjalani hidup dengan menyenangkan.”

Reol terlihat kehilangan ketenangannya. Betisnya yang membiru masih sanggup ia gerakkan. Seringai yang sama masih tergurat di wajahnya. Kalau kuperhatikan lagi wajahnya, aku masih tidak ingat wajah anak perempuan yang sering kami bully itu. Dia tak lebih dari mainan, jadi aku tidak pernah memperhatikan wajah anak perempuan itu dengan saksama. Sejujurnya aku tidak peduli lagi dengan identitas Reol yang sebenarnya, yang perlu dilakukan cukup bunuh, bunuh dan bunuh semua yang megganggu. Aku sudah mencengkram tangan Reol dan berusaha melepasnya dari leherku, namun dia gigih dan tak mau melepasnya. Dia terus mencekikku, membuat oksigen sulit mengalir ke otakku.

“Yang paling menyedihkannya ibuku tahu bahwa aku dibully dan dia hanya bilang agar aku harus tetap sabar dan bertahan di sekolah. Dia tidak mau terus-menerus mengurusi kepindahanku dan malu akan cemohan tetangga! Bahkan ibuku sendiri tidak menganggapku sebagai anak!” Reol berteriak di depan wajahku. Dia mengangakat kepalaku dan menghantamkannya ke lantai. Ouch, itu benar-benar menyakitkan.
Sungguh aku tidak peduli dengan penderitaannya. Aku tidak peduli juga dengan curhatannya. Aku menatap sekitar dan memikirkan ide untuk lolos dari gadis sinting ini. Jika aku bisa bebas darinya, akan kucincang dia menjadi potongan dadu dan membuangnya ke dalam kloset. Dia pantas menerimanya! Mengetahui fakta bahwa dia adalah gadis yang sama dengan gadis yang kusiksa dulu malah menguatkan tekadku untuk menghabisinya dan mengirimnya ke neraka.

Aku kehabisan ide. Keberuntunganku sepertinya sudah habis. Reol menghantamkan kepalaku yang kedua kalinya dan dia terus mengomel kalau dia tidak akan membuatku langsung mati tanpa menderita. Di tengah-tengah keputusasaan, aku mendengar sirine dari mobil polisi yang tengah mengepung bangunan ini. Bagus! Aku hanya perlu mengulur waktu hingga polisi menemukanku.

“Kalau kau berhasil hidup? Seharusnya kau menjauh dariku dan mencoba menjalani hidup senormal mungkin! Dasar sinting,” umpatku dengan suara yang sedikit tersendat.

Reol sedikit melonggarkan cengkramannya karena jika tidak aku pasti akan cepat mati. Aku yakin Reol juga mendengar suara sirine polisi tetapi dia tampak tenang dan sama sekali tidak takut denga polisi. Ah, dia memang sudah kehilangan akal jadi dia juga tidak takut dengan apapun lagi.

“Normal kau bilang? Aku sudah lama menjadi sinting! Yang selama ini kulakukan hanya berpura-pura bersikap normal. Luka yang kuterima dari enam tahun lalu memang sudah lama menghilang, tapi sakitnya masih mengalir hingga ke dalam tulangku! Setiap kali aku tidak ingin mengingat, itu malah teringat dengan jelas bersama dengan ekspresi kalian yang ingin kuludahi.”

“Baiklah sebelum aku meninggal, ada satu hal yang cukup membuatku penasaran. Bagaimana caramu keluar dari sumur itu?” tanyaku sambil berusaha mengulur waktu.

Mendengar pertanyaanku Reol semakin terlihat senang. “Itu karena Tuhan masih menyayangiku. Seseorang yang tengah melaksanakan tugasnya di sekitar situ menemukanku. Jadi dia menyelamatkanku dan mengangkatku menjadi anaknya.”

“Huahahaha . . .” dalam kondisiku yang tercekik dia malah mebuatku tertaawa terbahak-bahak. “Ya cerita yang mengharukan! Sebainya kau mengajukan ceritamu agar diangkat menjadi judul sinetron,” ejekku meremehkan.

Duar! Seseorang mendobrak pintu. Dilihat dari seragamnya jelas dia adalah seorang polisi. Sayangnya ini adalah kemenangan untukku. Aku tersenyum pada Reol dan dia balik tersenyum dengan lebar.

“Papa,” serunya dengan kegirangan.

Tunggu jadi maksudnya? Tidak, tidak ini sangat tidak masuk akal.

Pria paruh baya itu menyeret anjing pemburunya masuk dan terlihat khawatir. “Reol, apa kau baik-baik saja? Bukankah sudah Papa bilang untuk tidak buat terlalu banyak keributaan. Meskipun jabatan Papa tinggi ini akan sedikit sulit untuk dibereskan.”

Reol tertawa dan meludah ke wajahku. “Kau dengar itu? Papa akan membereskan segalanya. Maaf saja jika kau pikir kau akan selamat,” ujarnya penuh senyum kemenangan.

“Jadi apa yang akan kau lakukan dengan anak itu? Kita harus segera membereskannya. Astaga Reol, kakimu membiru. Apa ini ulah anak kurangajar itu!” Polisi itu segera menatap benci ke arahku.

“Papa, kenapa Papa tak melepas Blacki dan membiarkannya makan? Kurasa itu cara yang layak untuk membiarkan binatanang mati di tangan binatang.”

Apa maksudnya? Aku tidak bisa lagi mengolah informasi. Polisi itu terlihat melepaskan tali yang mengikat di leher anjing berwarna hitam itu dan memberikan sinyal agar anjing itu berlari ke arahku. Si polisi sialan itu membantu Reol berdiri dan dari kejauhan mereka menatapku yang tengah diterjang oleh si anjing keparat. Anjing yang mereka panggil Blacki itu terus-terusan meneteskan air liurnya. Kemudian dia menggigit luka pada bahuku. Giginya yang tajam merobek kulitku. Aku berusaha untuk lepas darinya namun dia semakin menggila dan menggiggit bahkan mengoyak tubuhku. Di saat itulah aku terpaksa menerima kenyataan, bahwa aku akan mati. Mati menyedihkan dan masuk ke dalam neraka.

End.


woww, cerita yang bagus gan. rasanya agak terburu buru sih. pendalaman karakternya juga kurang tapi tetap thrillernya kerasa
Lihat 1 balasan
Balasan post ih.sul
Quote:


Makasih Gan, lain kali ane buat yang lebih bagus emoticon-Big Grin
Balasan post angelous91
Quote:


Ok gan makasih banyak, entar ane mampir di ceritanya. Maaf kalo ane up nya agak lama emoticon-Big Grin
Halaman 2 dari 2


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di