alexa-tracking
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cf402ca4601cf374159badb/litle-albert-bagian-1

Litle Albert bagian 1

Litle Albert bagian 1


Kategori
Fiksi, Novel, Slice of life

Sinopsis
Keseharian kurir kereta yang berpetualang menyusuri dunia. Cerita berawal dari Norwegia yang berlatar abad ke 17.

PROLOG


Hari ini adalah hari kedukaan. Seorang pemimpin veteran sedang terbaring lemah layaknya manusia biasa.

“apa nenek baik baik saja?” Tanya seorang anak gadis di sebelahnya.

tidak apa apa Liza. Ini hanya demam tahunan yang kebetulan sedang menimpa nenek.” Ujar nenek tua itu. Begitu jelas kerut di dahinya.

demam kebetulan macam apa yang dapat menimpa orang terhebat yang telah menjaga kampung ini selama puluhan tahun?” desak anak kecil itu.

meski begitu, nenek tetaplah manusia Liza” Jawab sang nenek dengan tersenyum.

Tampak sang anak sedang menggenggam erat erat tangan kiri neneknya dengan kedua tangannya. Sesekali ia mengelus dahinya dengan kain yang telah dibasahi oleh air.

“nek, apa benar mama telah menukar nyawanya dengan Liza?” Tanya anak itu dengan nada sedikit ragu.

“hahaha dari mana kau mendengar itu Liza?” Tanya sang nenek dengan nada canda tawa. Seperti rasa sakit yang di alaminya tidak pernah terjadi.

“sejak nenek sakit, akhir akhir ini, banyak orang yang membicarakan mama di belakang nenek. Seakan akan nenek akan segera meninggal. Mereka tampak bingung untuk menemukan orang lain seperti nenek.” Jawab Liza dengan ungkapan serius.

“semua yang dikatakan orang orang itu tidak benar Liza” sahut nenek dengan tegas.

tapi nek, sebenarnya aku merindukannya. Tidak bisa kah aku bertemu dengan mama? Jika benar nyawa dapat ditukar, aku ingin menukarnya sebentar saja nek. Aku ingin melihat wajahnya. ” Ujar Liza dengan penuh harapan.

sudah kubilang Liza, menukar nyawa itu tidak pernah ada. Entah itu menukar nyawa manusia sesama manusia atau bahkan menukar nyawa dengan iblis. Itu tidak pernah ada Liza. Karena sesungguhnya nyawa bukan milik manusia. Bahkan seharusnya manusialah yang menjadi milik nyawa. Nyawa akan selalu berpetualang tanpa batas, sedang manusia akan berakhir setelah mereka mati.” Jawab sang nenek dengan panjang lebar. Seakan akan menutup seluruh bagian mulut Liza.

“Jika kau benar benar ingin bertemu denganya, aku akan membertahu sebuah cara.” Ujar nenek itu, tempaknya sang nenek sedang mencoba menghibur Liza yang telah berkecil hati karena semua tekatnya telah di patahkan.

“apa itu nek?” Sahut Liza dengan semangat.

tunggulah hingga kau berumur 20 tahun, lalu datanglah ke danau pembatas desa ketika pagi. Berdirilah beberapa meter dari pohon Akasia. Lalu pandangilah air danau yang jernih itu. Setelah beberapa menit kau akan melihatnya dengan jelas Liza.” Ucap sang nenek.

“apa aku harus menunggu selama itu nek?” Tanya Liza tampak kecewa.

iya Liza, terlalu cepat bagimu untuk menemuinya sekarang.” Jelas sang nenek.
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!

Albert

“Mama, mama, bantulah dia terbang.” kata seorang anak kecil yang sedang membawa sebuah bayi burung di tanganya.

“Albert, kamu jangan berlarian di dalam rumah.” Ujar ayah anak kecil itu.

Anak kecil itu bernama Albert Zoanorland. Dia berumur sepuluh tahun. Dia hidup di pedesaan kecil di Norwegia abad ke 17. Desa ini terletak di lembah pegunungan yang dingin. Sedang ujung selatan desa berbatasan dengan danau yang luas.

Mama, mama,” pangil anak itu kepada ibunya berulang ulang.

Tampak seorang wanita cantik yang tengah duduk di teras belakang rumah. Tangan kirinya sedang membawa sebuah buku. Melihat Albert yang berlari menghampirinya, wanita itu mengankat kedua tanganya lebar lebar. Albert langsung terjun kedalam pelukanya.

“Mama, aku menemukanya di bawah pohon di depan. Bantulah dia terbang.” Ujar anak kecil itu.

“Dia masih anak anak Albert. Bagaimana dia bisa terbang?” kata wanita itu.

Wanita itu adalah ibu Albert, dia bernama Liza Anorland.

Tapi mama, dia sendirian. Apa yang harus ku lakukan?” Tanya Albert.

“Ya sudah, mama akan membuatnya terbang. Albert duduklah di situ. Mama akan segera kembali” ujar ibu Albert.

Albert yang sebelumnya duduk di pangkuan ibunya, berpindah ke kursi sebelah kiri. Kursi itu di batasi sebuah meja bulat yang terbuat dari kayu pinus. Sambil menunggu ibunya yang masuk ke rumah, Albert meletakan kedua tanganya diatas meja. Lalu memandangi anak burung yang berada di telapak tanganya.

Ibu Albert masuk ke ruang tempat penyimpanan barang barang.

Lisa, aku berangkat dulu.” Ujar ayah Albert yang mengagetinya dari belakang.

iya, sayang. Sudah, Ayo lepas.” Ucap Liza yang menyuruh Zoan melepas pelukanya dari belakang.
Kemudian Zoan ikut membungkuk dan mencari apa yang di butuhkan sang istri dari dalam kotak itu.

Sudah, kamu berangkat saja, Romie sudah menunggu dari tadi bukan?” Tanya Liza.

“Ya sudah, aku berangkat dulu sayang. Jaga Albert.” Ucap Zoan sambil mengecup pipi istrinya.

Zoan bekerja sebagai kurir pengantar barang menggunakan kereta kuda. Sudah sejak lama dia bekerja menjadi kurir. Bahkan sebelum dia menikah dengan Liza. Dia sudah memiliki kereta sendiri dan sudah menghampiri berbagai negara. Dia cukup cerdas dan menguasai banyak bahasa. Itu yang membuat majikanya begitu perhatian dengannya.

“Sayang, kenapa kamu meninggalkan bekalmu?” Tanya Liza dengan suara yang keras karena Zoan sudah di depan rumah.

Hari ini cuma sebentar sayang. Aku hanya mengantar ke sebrang danau.” Jawab Zoan dengan suara keras pula.

Mendengar itu, ibu Albert lalu kembali untuk menemani Albert.
Diubah oleh zeref162534
Ibu Albert kembali dengan membawa sebuah batu persegi yang lebarnya kurang lebih 40cm. Sedang tebalnya sekitar 1,5cm. Dia mengisaratkan Albert agar menyingkirkan tanganya dari atas meja. Dia meletakan batu itu, lalu mengeluarkan buku kecil dari sakunya.

ayo, letakan anak burung itu disini.” Kata sang ibu sambil menunjuk lokasinya.

Albert meletakan anak burung itu tepat di tengah batu. Dipermukaan batu itu tampak sebuah ukiran kuno dengan gambar yang sulit di mengerti. Batu itu selalu di wariskan turun temurun dari nenek moyang ibu Albert dulu. Lalu Albert memandang ibunya. Tampak sang ibu sedang memegang buku kecil di tangan kirinya. Sedang matanya tertutup.

sekarang Albert berdoa kepada tuhan. Agar anak burung ini bisa terbang dan bermain bersama teman temanya.” Ujar sang ibu yang telah membuka matanya.

Sesuai perintah ibunya, Albert menyatukan kedua telapak tanganya menjadi satu genggaman dan menempelkanya tepat di tengah dada. Lalu dia menutup matanya dan menekuk kepalanya kebawah, sambil mencium gengaman itu dengan penuh harapan.

Sedang ibunya mengangkat tangan kirinya untuk mempermudah membaca buku yang dia bawa. Kemudian tangan kanannya mengeluarkan sebuah botol dari dalam sakunya. Dia membuka tutup botol itu dengan tangan kirinya. Lalu menuangkan sebuah cairan kental yang berwarna merah, tepat di tubuh anak burung itu.

Terdengar lirih di telinga Albert, sang ibu sedang mengucapkan kata kata yang tidak dia mengerti. Bau cairan yang tajam itu sempat mengerutkan dahi Albert. Namun dia tetap menutup matanya dan terus memanjatkan doa.

Meskipun kata kata itu tidak dimengerti Albert, tapi dia sadar kalau kata kata yang duicapkan ibunya itu terus diulang ulang. Kemudian sang ibu memasukan tanganya lagi kedalam sakunya. Setelah tangannya dikeluarkan, tampak dia sedang menggenggam sesuatu yang bentuknya terlihat seperti tanah kering.

Dengan sekuat tenaga sang ibu mengayunkan tangan kanannya tepat di tengah batu itu dan menutup anak burung itu dengan telapak tangan kanannya.

“Albert, bukalah matamu.” Suruh ibunya.

Albert mengendorkan genggamanya dan mengangkat pandanganya. Sambil membuka mata, terdengar suara burung dari dalam genggaman ibunya.

mama apakah itu suara burung tadi?” Tanya Albert kepada ibunya.

“iya Albert, apa kamu akan membiarkanya terbang?” Tanya ibunya kembali.

“iya mama, agar dia tidak sendirian lagi” ujar Albert.

Sang ibu mengangkat telapak tanganya. Seketika, burung itu terbang ke langit. Anakan burung yang sebelumnya matanya masih tertutup dan hanya diselimuti rambut rambut bayi. Kini seluruh tubuhnya lebat dengan bulu bulu indah.

Dia berkicau dengan berjuta kegembiraan. Kebahagiaan itu juga dirasakan Albert. Dia langsung melompat ke pelukan ibunya sambil berkata.

horreee.. mama hebat.” teriak Albert kegirangan.
profile-picture
lebahmaduid memberi reputasi

LIZA ANORLAND

“Liza, Liza!” Terdengar suara perempuan tua yang memanggil ibu Albert. Dia mengetuk pintu dengan tempo yang cepat.

“Liza bangun, Liza!” Ucap nenek itu lagi.

Liza mencoba mengumpulkan kesadaranya. Karena baru setengah jam yang lalu dia tertidur. Terdengar samar gemericik air hujan, namun tidak cukup deras. Liza berjalan menghampiri pintu itu. Sepertinya sudah hampir tengah malam dan suara itu masih saja terdengar berulang ulang.

“Iya nek, sebentar.” Jawab Liza sambil mengangkat balok kayu pengunci pintu.

Saat di buka, tampak seorang nenek sedang membawa payung basah yang sudah terkuncup. Sedang di sampingnya ada seorang wanita setengah baya yang tengah menggendong seorang anak perempuan kecil seumuran Albert.

“Apa yang terjadi nek?” Tanya Liza spontan kaget setelah membuka pintu.

“Dia terjangkit wabah nak, tolong selamatkan dia Liza!” Ucap nenek itu dengan tulus.

Tanpa pikir panjang, Liza menyuruh mereka masuk ke sebuah ruangan yang biasa ia gunakan untuk mengobati orang orang. Orang orang sekitar percaya bahwa Liza adalah tabib utusan tuhan. Tidak ada seorangpun yang tidak sembuh setelah mendapat pertolongan darinya. Sudah sejak kecil Liza dapat melakukan banyak hal. Selain karena ilmu yang diajarkan Almarhum neneknya, dia juga memiliki ketekunan yang sangat hebat.
Anak tersebut di baringkan di tempat yang sudah di sediakan Liza.

“Apa zoan masih belum pulang?” Tanya sang nenek.

“Belum nek, kemarin dia berpamitan akan pergi ke kerajaan. Mungkin 2 hari lagi nek.” Jawab Liza sambil mengumpulkan alat alat yang akan ia gunakan.

Anak ini terjangkit wabah yang sekarang sedang melanda hampir di seluruh daratan. Wabah ini susah di obati karena belum jelas apa penyebabnya. Namun jika sudah pernah sekali terkena wabah ini dan berhasil sembuh, seumur hidup dia tidak akan pernah terjangkit wabah lagi. Akan tampak benjolan seperti sebuah jerawat yang besar rata ratanya sebesar tomat.

Benjolan itu cukup sakit saat di tekan. Jika di tusuk dengan jarum akan keluar air berwarna putih kecoklatan. Namun benjolan itu tidak akan mengecil meski cairannya telah keluar. Tidak sedikit, orang dewasa dan anak anak yang telah mati karena wabah ini. Mereka akan susah bergerak ketika benjolan ini sudah memenuhi seluruh tubuhnya. Akhirnya mereka kekurangan nutrisi dan mati.

Bahkan terdengar kabar ada sebuah desa yang berakhir kosong setelah seminggu seluruh penduduknya terjangkit wabah tersebut. Wabah ini menular melalui darah, seperti gigitan nyamuk.

Anak yang terjangkit wabah tersebut bukan berasal dari desa yang Liza tempati. Namun berasal dari desa sebelah. Dia dibawa oleh kakak perempuanya kemari dengan bantuan nenek itu yang mereka temui di jalan. Liza memang tidak pernah pandang bulu ketika menolong orang.

Sebelum menjadi suaminya, dahulu Zoan juga pernah di tolong olehnya. Bahkan dia juga mengobati luka perampok yang saat itu mencoba merampok Zoan.
“Nek tolong panaskan air ini hingga mendidih” Suruh Liza sambil memberikan gerabah berisi air.

Nenek segera merebusnya. Sedang di sampingnya, duduklah kakak perempuan dari anak itu. Dengan wajah tegang dia menggenggam erat erat tangannya dan memanjatkan doa berkali kali.
Dengan tangan kanannya, Liza menyentuh genggaman kakak perempuan itu lalu berkata.

“Teruslah berdoa. Semorat maritnya kalimat yang sedang coba engkau susun, tuhan pasti akan selalu memahaminya” Dengan senyuman manisnya, Liza mencoba meyakinkanya.

Air telah mendidih, Liza memasukan beberapa lembar daun mint kedalam air tersebut. Lalu dia mengambil alat penumbuk. Dia memasukan kunyit, bawang putih, beserta bubuk kering berwarna coklat ke kuning kuningan seperti warna cengkeh. Dia juga memasukan beberapa tetes cairan berwarna hijau tua dari botol kecil yang di pegangnya. Setelah halus, dia menuangkan sedikit air rebusan mint kedalam tumbukanya. Lalu mengaduknya dengan pegangangan tumbuk tersebut.

Setelah dirasa cukup, Liza memanjatkan doa. Lalu dia mengisyaratkan kepada kakak perempuan anak itu agar membukakan pakaian anak ini. Dia juga menyuruh untuk membuatnya duduk dan memenganginya. Anak itu tampak pucat dan kesakitan. Tubuhnya tampak memerah hingga kebiruan. Ada sekitar 8 benjolan di seluruh tubuhnya.

“Tolong pegangi kuat kuat, rasa sakitnya akan membuatnya meronta ronta.” ujar Liza.

Kakak perempuan itu tampak mengangguk.

“Akan ku bantu.” Sahut nenek tua itu.

Lisa menyayati benjolan anak itu satu persatu dengan belati. Tampak wajah sedih kakaknya yang memandanginya penuh harapan.

“Perih kak, perih! Aduuh, perih!” Rintih anak itu.

Air mata sang kakak mulai menetes, dia bahkan memalingkan wajahnya karena tak sanggup memandangi wajah adiknya. Sambil mengoleskan ramuan ke bekas sayatan, Liza mengucapkan kata kata yang tidak begitu di pahami oleh sang kakak perempuan. Liza tampak serius dan penuh keyakinan.

“Aaaah aduuhh!” teriak anak itu sambil meronta ronta sehingga membuat pegangan kakaknya kuwalahan.

Liza tampak tetap tenang dan terus mengolesinya meski anak itu menggeliat seperti cacing yang terkena terik matahari.

“Akhirnya selesai juga. Baringkanlah anak itu dan selimuti dia dengan ini.” ucap Liza sambil memberikan sebuah selimut ke kakaknya.
Anak itu tampak lemas. Kakak perempuanya menggenggam telapak tangan kirinya. Dan memandanginya penuh harapan.

“Apakah dia akan benar benar sembuh?” Tanya sang kakak dengan nada serak karena tenggorokanya penuh dengan lendir kesedihan.

“Dia aka segera sembuh. Mungkin 3 jam lagi demamnya akan turun.” Jawab Liza dengan penuh keyakinan.

“Terima kasih nyonya.” Ucap kakak perempuan itu dengan lega.

“Sudah malam, tidurlah di sini. Nek tolong temani dia tidur ya” pinta Liza ke nenek itu.

Mereka akhirnya tidur di ruangan itu. Sedang Liza kembali untuk mnenemani albert. Ruangan ini cukup luas. Selain di gunakan untuk menolong orang, Liza biasanya menggunakan tempat ini untuk melakukan ritual dan berserah hormat kepada leluhur.

Sang kakak masih tidak bisa tidur karena khawatir dengan kondisi adiknya. Dia duduk dan tetap memegang erat erat telapak tangan adiknya. Sedang nenek sudah tidur pulas sejak tadi. Tak terasa bayang bayang cahaya fajar sudah mulai tampak dari sela lubang rumah Liza.

Entah mengapa sang kakak malah merasa sangat mengantuk setelah melihat itu. Dia memandangi adiknya. Tampak nyaman dan pulas tidurnya. Tanpa di sadari dia juga ikut tertidur.

“Hah.. Rusty..” ucap sang kakak yang telah terbangun dari mimpi buruknya.

Dia cukup berkeringat. Dia menoleh mencari kemana adiknya, sambil mengusap keringat yang memenuhi dahinya. Sang nenek juga tidak ada. Lalu dia mencari kehalaman depan. Tampak bayangan pohon yang hanya tersisa seperempat dari tinggi pohonnya. Lalu dia mendengar tawanya dari belakang rumah. Dia spontan berlari.

Tampak senyum bahagia dari adiknya yang tengah bermain bersama Albert dan kelincinya. Dia menghampiri dan memeluknya begitu saja. Meski di depanya duduk ibu Albert. Dia tak malu malu untuk menangis dan mengucap sukur berkali kali. Sang adik juga memeluk kakaknya dengan bahagia. Bahkan Albert juga ikut memeluk dengan kegirangan.

“Terima kasih karena telah menolong kami nyonya. Maaf hanya ini yang kami punya.” Ucap sang kakak yang tengah duduk bersama ibu Albert.

Dia memberikan kantong berisikan kepingan uang. Ibu Albert menerima uang tersebut dan meletakan diatas meja yang membatasi tempat duduk mereka. Lalu dia mendorong uang itu kehadapan sang kakak dengan senyum manis di wajahnya.

“Terima kasih juga. Aku telah menerima ini. Dan aku juga memberikannya kepadamu.” Ucap ibu Albert.

“Tapi nyonya…” kata sang kakak yang belum sempat menyelesaikan kalimatnya karena Liza menyahutnya.

“Sudahlah. Gunakan ini untuk keperluanmu sehari hari. Aku telah mendengarnya, bahwa kedua orang tuamu telah menjadi korban dari wabah ini.” Sahut Liza dengan tegas.

Liza memegang tangan kakak itu dan menyuruhnya memasukan kantong itu kembali.
Lanjutkann bray
Izin nenda emoticon-Malu
profile-picture
zeref162534 memberi reputasi
mampir emoticon-Sundul Up
profile-picture
zeref162534 memberi reputasi
emoticon-Wowcantik
profile-picture
zeref162534 memberi reputasi
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16

ZOAN KAMOSSE

Tengah malam hampir tiba, sudah 4 hari Zoan belum kembali. Padahal biasanya ketika dia mendapat pekerjaan di kerajaan paling lama hanya 2 hari. Liza memang tidak khawatir, namun dia lebih merindukanya.

Sudah sejak lama Zoan bekerja sebagai kurir. Berawal saat muda dulu di tanah mesir yang berpasir. Dia mengikuti pamannya yang juga seorang kurir. Dia mengantar barang barang dan menjelajahi dunia. Dia juga bertemu sahabatnya Romie di Turki. Karena bosan, mereka memutuskan untuk membuka rute di bagian utara. Setelah itu dia bertemu dengan Liza di lembah Norwegia. Dan berakhir dengan menikahinya.

Pagi telah tiba. Zoan masih belum pulang. Liza memulai kebiasaanya seperti biasa yaitu mengunjungi kebun lalu memasak. Tampak Albert yang masih dalam keadaan tidur. Liza memang biasanya meninggalkan Albert ke kebun sendirian. Dan ketika dia pulang, Albert sudah bangun dan menunggunya di depan rumah.

Sambil berjalan, Liza memandangi daun daun yang masih basah karena berselimut embun. Bahkan matahari masih belum tampak.

“Liza, apa kau akan mengunjungi kebun?” Tanya seorang perempuan yang umurnya 6 tahun lebih tua darinya. Perempuan itu berada di sisi kiri Liza.

“oh, iya. Maaf aku tidak menyadari bahwa ada seseorang disana. Tomat tomat ini benar benar mengahalangi.” Ucap Liza dengan perasaan malu.

Liza menghampiri wanita itu. Mereka berbincang bincang, meskipun tidak lama. Wanita itu kemudian memberi Liza beberapa tomat.
Di perjalanan Liza juga bertemu wanita wanita yang lain, mereka saling bertukar sapa. Para suami di desa ini ketika pagi biasanya mereka akan mengurus ternak. Sedang sang istri mengambil sayur dan bahan makanan di kebun.

Setelah cukup mengambil bahan yang dia butuhkan, Liza memutuskan untuk pulang. Kebun Liza juga sedang panen. Meskipun tidak semua. Hanya untuk barisan sayur kubis.

Di jalan, Liza memberikan beberapa kubis yang dia panen kepada orang orang yang telah di temuinya. Karena sudah menjadi kebiasaan bagi warga yang memiliki kebun untuk melakukan itu.



Liza telah sampai di rumah, dia memandangi kursi yang biasa tempat Albert duduk ketika sedang menunggunya. Namun sepertinya Albert tidak sedang duduk disana. Sangat jarang sekali Albert bangun lebih siang dari ini. Setelah berjalan melewati pagar rumahnya, Liza menyadari bahwa kereta Zoan sudah berada di samping rumahnya. Dia berjalan cukup tergesa gesa. Mungkin karena dia merindukanya.

Liza membuka pintu.
“Mama, Papa pulang dan membawa seseorang bersamanya. Lihatlah” ucap Albert yang sedang duduk disamping seorang laki laki remaja.

Wajah Liza yang sebelumnya gembira karena kepulangan suaminya telah berubah menjadi cukup serius. Bahkan dia mengabaikan suaminya di depannya. Dia mengamati anak yang sakit itu. Seketika wajahnya berubah menjadi panik. Dia segera meletakan seluruh barang bawaanya dengan tergesa gesa.

Zoan berkata “Sayang, maaf karena aku telah membawanya kemari.”

Liza tiba tiba menarik Albert yang saat itu duduk di sebelah remaja itu. Dia memeriksa seluruh tubuh Albert dalam keadaan sangat panik.

Lalu dia menatap suaminya, Zoan berkata “Aku telah memberikan Albert obat yang biasa kau berikan padaku sebelum aku memasukan anak ini kerumah.”

Raut wajah Liza telah berubah. Dia sepertinya malu karena dia lupa bahwa suaminya selalu dia beri obat yang dapat membekukan penyebaran penyakit ini. Atau biasa dikatakan obat pencegahan.

Zoan berdiri dan memeluk Liza dari belakang. “Apa kau tak merindukanku sayang, kenapa wajahmu seakan sedang marah padaku?” kata zoan sambil menempelan dagunya di pundak Liza.

“hmmm” Liza menghela nafas panjang dan mencubit tangan Zoan.

Tampak Zoan kesakitan dan menarik kebelakang tangan kanannya.

“ya sudah, ajak Albert ke dapur. Cuci sayurnya dan rebus.” Ucap Liza kepada suaminya.

“Tapi aku baru sampai sayang, Hah,? Makan sayur rebus lagi?.” Kata Zoan mencoba mengelak.

“horre, masak sama papa” ucap Albert dengan girang, dia melompat lompat di depan ayah dan ibunya.

“Sayur rebus itu paling bergizi. Sudah , kebelakang sana.” Perintah Liza sambil mendorong suaminya ke dapur.

Sedang Liza kembali memeriksa anak ini. Karena dia tampak sedang terkena wabah yang sedang menyerang orang orang di seluruh wilayah kerajaan saat ini.

BANGSAWAN MUDA

Remaja itu telah diobati. Tinggal menunggu beberapa jam saja dia akan terbangun dan sadar kembali. Liza tampak memeriksa seluruh perlengkapan anak itu. Terdapat beberapa benda penting yang menunjukan identitas seorang bangsawan.

“sayang, siapakah anak ini?” Tanya Liza kepada Zoan dengan suara yang cukup keras karena Zoan sedang berada di dapur.

Zoan tak mendengarnya. Sehingga Liza mendekatinya ke dapur. Terlihat Albert dan Zoan sedang asik bercanda dan mengabaikan sayuran yang sedang mereka rebus.

“mengapa ketika para lelaki sedang bersama, wanita selalu diabaikan.”
Gumamnya tak jelas.

Akhirnya Liza malah ikut bergabung dan bercanda seperti keluarga harmonis lainya. Dia juga menanyakan tentang remaja yang sedang mereka tolong. Tidak biasanya Zoan memperdulikan orang penting. Karena bagi Zoan, para bangsawan itu selalu mengatasnamakan keegoisan mereka sebagai penyeimbang keadaan di kerajaan. Mereka bahkan mendewakan dan mengeluh eluhkan keegoisan itu apabila kebetulan sedang sejalan dengan pemikiran rakyat jelata.

Remaja itu adalah seorang bangsawan, namun dalam kasta yang tidak begitu tinggi. Zoan menolongnya karena dia sempat melihat orang tuanya yang memohon mohon pada tabib kerajaan namun diabaikan.

Di kerajaan dan seluruh kota Oslo Zoan cukup terkenal. Selain karena bukan asli orang norwegia, Zoan adalah lelaki yang cerdik dan dapat diandalakan. Banyak pesan dan paket kerajan yang berhasil di antarnya tanpa lecet sedikitpun. Zoan memiliki banyak kenalan di kalangan kusir dan saudagar jalanan. Dia bahkan sudah menjelajahi hampir seluruh daratan eropa dan bagian mesir. Namun sejak pernikahanya dengan Liza dia memilih untuk mengambil rute dekat saja.

Malam ini mereka tidur bertiga layaknya keluarga yang sangat bahagia. Sebelum tidur Lisa menengok sang anak remaja. Namun dia masih belum bangun. Demamnya sudah turun, seluruh lebam di tubuhnya juga mulai mengering.
Diubah oleh zeref162534
Ke esokan harinya,..
“sayang aku berangat ya.” Ucap Zoan
Liza menganggukan kepalanya.

Suasana masih pagi buta. Zoan sengaja berangkat pagi untuk mengantar sang remaja dahulu. Sang anak remaja telah sadar dan sehat bugar layaknya seorang pria yang beranjak dewasa pada umumnya. Dia mengucap banyak terima kasih kepada Liza. Dia bahkan berjanji akan mengenalkanya kepada raja. Bahwa dia adalah tabib yang benar benar dapat diandalkan. Liza hanya tersenyum melihat kepolosan lelaki muda itu. Karena Albert masih tidur, Liza melambaikan tangan dan melepas kepergian mereka berdua sendirian.

Setelah melewati perbukitan dan hutan kurang lebih 30 menit tibalah mereka di ibu kota. Kerajaan Oslo sangatlah ramai. Banyak pedagang di pinggir pelabuhan. Di sini juga banyak berbagai ragam orang yang bukan asli norwegia. Mereka memang sengaja berdagang. Kebanyakan mereka adalah orang dari bangsa India dan Turki. Di sini tidak begitu dingin. Berbeda dengan tempat tinggal zoan yang dekat dengan gunung yang berlapis es.

Setelah masuk ke jantung kota Oslo. Tibalah mereka di tempat tinggal bangsawan muda itu. Rumahnya cukup bagus, namun tidak begitu dekat dengan istana kerajaan. Tampak Kedua orang tuanya kaget dan memeluk erat remaja itu. Tetangganya mulai berkumpul dan tak percaya. Karena kata sang tabib kerajaan sang anak itu seharusnya tidak bisa di selamatkan.

Zoan tak ingin mendapat perhatian warga, sehingga dia menyelinap dari kerumunan dan pergi melanjutkan pekerjaanya. Karena dia akan mengantar sebuah paket yang arahnya berlawanan dengan kerajaan.

Setelah cukup lama berpeluk lega dengan kedua orang tuanya. Pemuda itu akhirnya menyadari bahwa Zoan sudah tidak di sampingnya. Dia mencoba mencarinya di balik kerumunan orang orang ini. Namun keretanya juga sudah tidak ada. Sang pemuda berfikir bahwa Zoan telah pergi. Padahal sang pemuda ingin membalas jasanya dengan beberapa keping emas yang dimiliki keluarganya.

Sang pemuda mengajak orang tuanya masuk. Dia ingin membicarakan tentang kunjungan kerumah Zoan sebagai tanda jasa atas bentuannya. Setelah sepakat untuk bertamu kerumanhya besok, anehnya sang pemuda itu tiba tiba lupa jalan yang telah mereka lalui. Ingatannya jadi kacau dan tidak jelas. Yang dia ingat hanya wajah Liza yang benar benar cantik.

ROSTARD SANG TABIB

Seminggu telah berlalu sejak kejadian pemuda yang selamat dari wabah maut yang kritis. Kisahnya semakin menyebar dan terdengar hingga ke telinga tabib kerajaan. Banyak penduduk sakit yang bertamu ke pemuda itu untuk menanyakan diamanakah tempat tinggal Liza. Tapi sayangnya sang pemuda itu lupa jalan yang di lewatinya bersama zoan kemarin. Seakan akan perjalanan itu hanyalah sebuah mimpi yang samar.

Zoan juga tak tampak di kerajaan. Meskipun sebenarnya ada beberapa berkas yang harus di kirimnya. Sepertinya dia sengaja menerima pekerjaan lain dan menghindari kerajaan. Zoan memang tidak ingin menjadi perhatian. Meskipun kelakuan sesuka hatinya selalu membuatnya tampak.

“ku dengar kau di sembuhkan oleh seorang tabib perempuan?” Tanya Rostard sang tabib kerajaan.

“dia bukan tabib, dia hanya seorang ibu rumah tangga.” Jawab sang bangsawan muda.

Kedua orang ini bertemu di sebuah acara pesta pertunangan keluarga kerajaan. Tampak orang orang ramai dan berlalu lalang menikmati hidangan.

jawabanmu sekaan akan mencederai profesiku. Apa yang membuatmu berucap seperti itu?” Ucap sang tabib dengan perasaan geram.

Dia mencengkram gelas yang di pegangnya. Lalu meletakan kembali gelas berisi anggur itu ke meja. Kata kata pemuda itu membuatnya kehilangan selera untuk meneguknya.

Liza memang seorang ibu rumah tangga. Dan tidak pernah menginginkan di sebut sebagai tabib.” Ujar pemuda itu dengan tegas.

Rostard yang merasa dengki, ,lalu pergi meninggalkan pemuda itu. dia mulai terpikirkan tentang Liza. Karena menurut pandangan pengobatanya, seharusnya pemuda itu sudah tidak dapat di selamatkan. Lalu metode apa yang di gunakan perempuan itu untuk menanganinya? Bahkan seluruh tamanan di kebun kerajaan tidak dapat menyelamatkannya. Dia terus memikirkanya hingga berhari hari.

Kabar tentang Liza semakin hangat di wilayah Oslo. Zoan yang berencana berkunjung ke kerajaan pun membatalkannya. Padahal dia sudah berada di desa perbatasan kerajaan Oslo. Dia memutuskan untuk pulang agar tidak menarik perhatian.

Hari masih agak siang. Jarang jarang Zoan pulang jam segini.

sayang.. aku pulang. Albert dimana?” Teriak Zoan.

ia duduk di kursi teras depan rumah. Dia sengaja tidak masuk karena ingin memandangi kuda kesayangannya.

Liza yang mendengar panggilan itu, langsung bergegas keluar untuk menemui zoan.

Alber sedang bermain di Altar desa. Tumben kamu jam segini mau pulang?” ucap Liza.

kenapa pertanyaanya seperti itu?” jawab Zoan dengan manja.

bukankah biasanya kamu nunggu matahari tenggelam baru pulang sayang.” Ujar Liza.

biasanya jam segini juga mau pulang dan pengen pulang sayang. Tapi gabisa. Hmmm” gumam Zoan.

hahaha iya iya. Ayo masuk. Aku masak jamur ini. Kan itu kesukaan kamu. “ ucap Liza.

gak mau makan, aku di luar ajalah.” Gerutu Zoan.

Tanpa berucap sepatah kata pun, liza langsung masuk kedalam rumah. Lalu menutup pintu dan menguncinya. Zoan yang menyadari bahwa Liza menguncinya di luar, langsung berdiri dan membujuknya.

hey.. buka sayang. Aku cuma bercanda..” teriak Zoan dari luar.

Liza tidak menanggapi ucapan Zoan. Namun dia tetap berdiri dan bersandar di pintu yang di kuncinya. Dia tampak tersipu manis mendengar rayuan Zoan dari balik pintu.

JESPER

Albert dan jesper bermain di altar desa. Letaknya cukup jauh dari rumah albert. Karena altar desa berada di tengah tengah pemukiman. Sedang rumah albert berada di bagian ujung belakang desa. Altar ini dulu sebenarnya di gunakan untuk ritual menghormati leluhur. Namun seiring berjalanya waktu, kebiasaan itu mulai menghilang. Entah karena mereka telah menemukan keyakinan baru atau hanya tekad keyakinan mereka sudah mulai luntur.

Namun altar ini masih sering di gunakan untuk membahas masalah yang terjadi di pemukiman. Juga untuk tanggal tertentu mereka juga mengadakan pesta jamuan yang sengaja di adakan untuk mempererat hubungan dalam pemukiman ini.

Altar ini tampak seperti lapangan yang luas hanya saja tidak begitu banyak rumput yang tumbuh. Sedang di bagian tengah di letakkan sebuah batu yang di tata rapi. Sehingga terlihat seperti sebuah panggung yang berbentuk menyerupai persegi. Terdapat juga tempat duduk yang mengelilingi tempat itu. meskipun tidak berjajar rapi.
Banyak anak anak dan orang dewasa yang menghabiskan waktunya di sini saat sore hari.
“albert lihat, aku mendapatkanya.” Ujar Jesper.
Tampak seekor undur undur yang menempel di benang sari sebuah bunga. Dia menggunakan itu untuk memancing undur undur itu.

Dari lubang yang mana itu?” Tanya Albert.

ini yang tadi bekas kamu pancing.” Jawab jesper.

bagaimana bisa? Bukanya tadi sudah ku pancing.” Tanya albert keheranan.

Itu membuat mereka berdua terdiam sebentar dan memandangi hasil dari undur undur yang mereka dapatkan.

mungkin itu teman atau saudaranya yang sedang bertamu” sahut seseorang yang berada di belakang mereka.

Tampak seorang kakek tua yang kebetulan lewat di belakang mereka.

memangnya bisa?” Tanya albert.

tentu saja bisa. Bukankah sebelum kalian berdua kesini, salah satu dari kalian bertamu untuk menjemputnya?” kata kakek tua itu.

iya, tadi aku yang mengajak albert kesini.” Sahut jesper.

“jadi benar kan kata kakek.” Ucap sang kakek dengan sedikit tersenyum.

kenapa aku tidak terpikirkan ya? Orang dewasa memang tahu segalanya.” ujar jesper ke albert.

Sambil menggerakan sikunya ke dada albert.

hahahaha” mendengar itu sang kakek tertawa bangga.

tidak semua orang dewasa tahu segalanya. Terkadang mereka hanya membolak balikkan kata dan memanfaatkan umur mereka untuk memperkuat pendapatnya hanya karena mereka telah menjalani hidup lebih lama di dunia ini.” kata albert.

Kakek tua itu tertawa semakin menjadi jadi. Sedang jesper yang tidak mengerti akhirnya ikut tertawa pula.

nak, siapa yang memberitahumu semua itu?” Tanya kakek tua itu.

papa” ujar albert.

SANG SAUDAGAR


Hari masih cukup pagi. Bahkan matahari masih tidak tampak, terdengar suara yang mengetuk tempat tinggal Rostard.
Tok.. tok,.,. tok.. tok..

“tuan Rostard apakah anda sudah bangun? Raja memintaku untuk membangunkanmu.”
Ujar pesuruh itu.

“iya tunggu sebentar.” Joawab Rostard sang tabib.
Rostard membuka pintu, tampak pesuruh kerajaan yang mengunakan pakaian khas kerajaan Norwegia.

“maaf tuan jika saya mengganggu ketenangan anda” ujar pesuruh itu.

“tidak apa apa, lagi pula ini perintah raja. Memangnya ada apa sampai sampai kau membangunkan aku sepagi ini?”
tanya sang tabib.

“ada seorang anak saudagar yang tengah terserang wabah, dan dia adalah teman baik raja. Sehingga sang raja menyuruhku untuk membangunkanmu tuan.” Kata sang pesuruh.

“oh.. lalu dimana dia? Apa aku yang kesana atau mereka akan kemari?”
tanya sang tabib.

“lebih baik kita kesana saja dulu tuan.” Jawab sang pesuruh.

Mereka berjalan menuju ruang penjamuan. Jaraknya tidak cukup jauh karena rumah Rostard masih berada dalam lingkungan istana.
Istana pagi ini masih tampak sepi. Hanya tampak penjaga yang sedang berpatroli di tiap sudut istana.

“selamat pagi baginda..”
sapa Rostard kepada raja.

“oo.. pagi Rostard, ini ada sahabatku yang sedang kesulitan. Anaknya terserang wabah, apakah kau mau melihatnya?” tanya raja.
“siap tuanku,” jawab sang tabib.

Saudagar itu memiliki kumis yang cukup tebal, namun tidak memiliki jenggot. Dia tidak cukup tinggi, namun bukan berarti kerdil.

“hay rostard namaku Waftel,”
ujar saudagar itu.
Saudagar itu berdiri dari tempat duduknya dan mendatangi Rostard.

“iya tuan. Saya Rostard. Salam kenal”
jawab rostard sambil menjabat tangan saudagar itu.

“langsung saja ayo ku tunjukan anak ku. Aku sudah berlabu di beberapa pelabuhan dan bertanya kepada teman temanku di sekitanya. Namun tidak ada tabib yang bisa menjamin keselamatan anakku. Apakah kau bisa?” tanya saudagar itu.
Mereka berbincang sambil berjalan menuju ruang istirahat tamu yang telah di siapkan raja.

“mari kita lihat saja dulu keadaan anak anda tuan.”
Jawab Rostard.

“apakah kau adalah tabib terbaik se kerajaan ini?” tanya sang tabib.

“iya tuan.” Jawab Rostard dengan bangga.

“ku pikir dia seorang wanita.” Ujar sang saudagar.

Mendengar itu, Rostard jadi teringat Liza. Dia masih tidak terima karena pasien yang sudah difonisnya tidak mungkin sembuh malah kembali jadi lebih sehat. Dia sebenarnya ingin berkunjung ke tempat zoan. Untuk belajar ilmu penyembuhan lebih dalam lagi. Namun gara gara jawaban sang bangsawan muda itu, membuat hati Rostard jadi angkuh.

Tibalah dia di ruangan itu. Tempat terbaringnya anak perempuan saudagar itu. Wajah cantiknya dipenuhi dengan benjolan yang menjijikan.

“apakah kau dapat menolongnya?”
tanya sang saudagar.

“ini cukup parah, biar ku lihat dulu.” Jawab rostard.

“jawab saja, kau dapat menyembuhkanya atau tidak? Nyawa anakku tunggalku sedang di pertaruhkan. Jika tidak, aku akan membawanya ke tempat lain” Geram saudagar itu.

“maaf tuan, aku juga perlu waktu untuk mengamatinya dulu.” Jawab Rostard.

“ kau butuh berapa jam? Kalau memakan banyak waktu aku akan pergi. ” Ujar saudagar itu.

“aku akan memberi pertolongan pertama dulu.” Kata Rostard dengan hati yang sudah mulai gusar.

“baik, akan ku tunggu sebentar.” Kata saudagar itu.

Rostard mengeluarkan sebuah obat dari dalam perlengkapanya. Lalu meminumkanya ke wanita cantik itu.
Setelah beberapa menit, wanita itu tampak tenang. Benjolan merah berair yang seakan akan mau meledak itu sekarang mulai mengendur.

“tumbuhan apa yang kau racik dalam obat itu?”
tanya saudagar itu.

“banyak tuan.” Jawab Rostard tak ingin menjelaskannya. Karena Rostard masih bingung memikirkan cara untuk menyembuhkan wanita itu.
“terserah, yang terpenting adalah anakku dapat sehat seperti dahulu.” Seru saudagar itu.

“mari kita kembali ke tempat raja, aku juga harus meracik obat lain. Agar anak anda dapat menjadi sehat lebih cepat.” Ajak Rostard.

Guy Faykey

Sang saudagar masih menyimpan sedikit keraguan terhadap Rostard. Sehingga selama perjalanan kembali, Rostard di cerca begitu banyak pertanyaan.

Lalu sampailah mereka di tempat perjamuan. Tampak mata mata kerajaan datang dan menundukan kepalanya untuk melapor.

Namun, kedatangan Rostard dan Waftel membuat sang raja mempersilahkan mata matanya untuk kembali terlebih dulu.

“Charles, apa yang kau dapat dari Britania” Tanya saudagar.

“Bagaimana kau tau dia dari britania?”
sontak sang raja kaget.

“jangan meremehkan jaringan sang penguasa gandum. hahaha” tawa saudagar.

“hanya kabar buruk saja. Tapi sepertinya tidak ada pengaruh bagi negeri tercintaku ini.” Ujar sang raja.

“apakah tentang pemusnahan itu?” Tanya saudagar.

“Wah.. jaringanmu benar benar mengagumkan Waftel.” Ujar sang raja

aku memang sengaja menyelidikinya. Karena jika pemusnahan itu diadopsi di setiap kerajaan di seluruh dunia, maka pasarku akan hancur. Dan mereka tidak akan lagi mementingkan makanan.” Keluh saudagar.

Mereka berdua tampak asik membahas permasalahan di Britania. Sedang Rostarad tampak termenung, dia tidak begitu memperhatikan pembicaraan itu karena dia masih berfikir tentang anak yang sudah di vonisnya meninggal, tapi dapat di tolong oleh Liza.
Sehingga tak lama setelah itu, dia memutuskan untuk pamit agar dapat menemukan racikan obat yang lebih baik dari Liza.

“Apa kau tahu Charles, sebenarnya insiden ini hanya gara gara satu orang yang di curigai sebagai penyihir. Dia bernama Guy Faykey.”
Cerita saudagar.

“Maaf paduka raja dan tuan saudagar, saya izin undur diri dulu” Ujar Rosartd.

“oh iya Rostard jangan sampai terlalu lama ya. Karena aku harus melanjutkan perjalananku.”
Kata saudagar kepada Rostard.

“apa Guy Faykey ini benar benar penyihir?” Tanya sang raja.

“bagaimana kau tidak tahu? Apa yang selama ini mata matamu lakukan?”
Tanya saudagar balik.

“ceritakan padaku teman. Apa yang sebenarnya terjadi.” Pinta sang raja

Lalu sang saudagar mulai bercerita tentang masa muda Guy Faykey yang dia dapatkan dari orang orang kepercayaannya. Guy Faykey adalah seorang yatim yang dipungut oleh biara kerajaan. Dia di besarkan dalam istana kerajaan. Setelah cukup dewasa, dia mengikuti militer kerajaan. Hingga 20 tahun kemudian. Dia di percaya dan menjadi Jendral utama Britania.

Pada masa keemasanya, dia menaklukkan begitu banyak kerajaan di barat hingga di juluki si hawa salju. Tidak pernah sekali pun dia gagal dalam penaklukkannya. Namun dia bukan tipe jendral yang menginvasi kerajaan mana pun. Dia hanya membekukan bangsa dan kerajaan yang kemungkinan besar akan menghambat perkembangan Britania kelak.

Setelah dia merasa lelah menjadi pimpinan militer. Dia memutuskan untuk menngundurkan diri meskipun dia tidak begitu tua. Kudengar dia mengundurkan diri setelah invasinya di daerah pinggiran perbatasan turki dan mesir.

Setelah mengundurkan diri, dia banyak menghabiskan waktu di gereja serta menyendiri di hutan dan goa goa. Sejak saat itulah muncul anggapan bahwa Guy Faykey memiliki ketertarikan terhadap hal yang lain yaitu hal magis.

Diubah oleh zeref162534


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di