alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Sendirian, 20 Menit Keluar Jalur Trek Pendakian.
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d90ef6bf0bdb20b5d659c71/sendirian-20-menit-keluar-jalur-trek-pendakian

Sendirian, 20 Menit Keluar Jalur Trek Pendakian.

Hello Gais!!

---------------------------------

Jumpa Lagi Dithread Zeref777

Sang Penyihir Permulaan


Kali ini zeref mau nulis cerpen tentang menanjak ke gunung gais. Cerita ini ane dapet dari temen kerja ane. Berhubung ada event kaya gini, sekalian aja ane tulis emoticon-Leh Uga

Sendirian, 20 Menit Keluar Jalur Trek Pendakian.


Namaku adalah dody, aku seorang mahasiswa. Karena sedang libur natal, aku mengajak teman kampusku untuk berlibur ke kenalanku ketika KKN di Banyuwangi. Kita berangkat menggukan kereta. Namanya adalah Khotib. Dia memiliki kebun buah naga dan jeruk yang lumayan luas. Saat ini harga buah naga sedang turun drastis. Jadi khotib sangat senang, lagi pula kami kuga membantu mereka untuk memanen sebagian. Aku mengajak 5 temanku, yaitu Maimun, Asrof, Rony, iksan dan Rifa'i. Mereka semua adalah pendatang yang berkuliah di Surabaya.

Sendirian, 20 Menit Keluar Jalur Trek Pendakian.


Setelah puas memakan buah naga dan jeruk, kita memutuskan untuk kembali pulang. Malamnya, kita berencana untuk ke bali, atau ke wisata yang lain di daerah banyu wangi. Setelah diskusi panjang, mereka banyak setuju ke kawah Ijen, Setelah ku tunjukan vidio api biru dari Youtube. Namun Khotib tidak menyarankan kesana, karena sedang musim hujan. Karena temanku tadi sudah terlanjur tergiur naik gunung, lalu Khotib memberikan opsi untuk ke gunung Raung. Karena pemandangan gunung raung sangat alami dan benar benar indah. Sebagian temanku ada yang sudah pernah naik ke gunung Semeru, ada juga yang hanya pernah ke Bromo. Kecuali Rony yang memang selama ini dia selalu fokus kuliah.

Sendirian, 20 Menit Keluar Jalur Trek Pendakian.


Sebelum berangkat, Khotib bercerita kepada kami tentang apa saja adab yang harus kita patuhi di di gunung Raung ini. Khotib sudah sangat sering ke gunung Raung. Namun hanya 4 kali dia ke puncak sejati. Sedang aku juga sudah 2 kali kesini. Namun hanya sampai puncak bendera saja. Karena jalur ke puncak sejati bagiku sangat ekstrim dan aku tidak mau mengambil resiko. Lagi pula naik ke puncak bendera sudah cukup melelahkan.

Sendirian, 20 Menit Keluar Jalur Trek Pendakian.


Waktu tempuh dari rumah Khotib ke pos warung sekitar 1 jam. Kita berangkat menggunakan sepeda motor yang di pinjamkan khotib dari sepupu dan teman temannya (tidak geratis). Kita berangkat hanya berbekal 1 tenda yang hanya muat 4 orang. Untungnya tema temanku semuanya membawa jaket, meskipun bukan jaket parasut. Sebenarnya peralatan Khotib lengkap untuk naik ke puncak sejati. Namun kita memutuskan untuk sampai ke puncak bendera saja. Karena kami yakin bahwa Rony akan kelelahan dan putus asa. Seperti saat pertama kali aku mendaki ke penganggungan 4 tahun yang lalu.

Kami berangkat dari rumah jam 8 pagi. Kita berniat melalui jalur Kalibaru. Sampai di pos 1 sudah jam 9 lebih 17 menit. Tanpa istirahat, kita langsung bergegas mulai mendaki menuju pos dua. Karena kita sadar bahwa kita akan membutuhkan waktu lebih untuk menemani Rony beristirahat. Dan kita juga berkomitmen bahwa kita harus sampai, walau apapun yang terjadi. Itu seperti tantangan buat ku. Seperti aku sedang memamerkan kepada Rony, Betapa menyenangkanya mendaki gunung. Belum sampai di pos 2, Rony mengajak istirahat sebentar.

Kita sampai di pos 2 sekitar jam 2 siang. Tanpa istirahat, kita langsung melanjutkan perjalanan. Karena kita sepakat agar istirahat di jalan saja. Kecuali saat akan makan dan malam tiba. Namun saat tiba di pos 3, kita semua kelelahan. Dan memutuskan beristirahat sebentar. Setelah di rasa cukup. Kita melanjutkan perjalanan ke pos 4. Selama perjalannan kita ke pos 4, kita banyak beristirahat. Karena memang kita merasa lelah dan mulai lapar. Sesampai di pos 4, Kita sepakat untuk memasak mie instan. Hari sudah gelap. Saat ini sudah jam 18 lebih 12 menit. Setelah makan, kita berdiskusi. Apa mau mendirikan tenda, atau lanjut dulu. Karena lokasi pos 4 cukup sempit, kita memutuskan untuk lanjut. Rony masih kelihatan semangat, meskipun tampak jelas rasa lelah terukir di wajahnya.    

Setelah melewati pos 5 tiba tiba perut ku sakit dan ingin BAB. Mungkin gara gara makan mie instan, karena setelah abis makan mie instan mesti kaya gini. Aku ingin kembali ke pos 4, Tapi jika kembali ke sana seakan akan tenagaku yang tadi akan sia sia. Tapi jika ku teruskan mendaki bersama yang lain sampai pos berikutnya, kurasa tidak akan kuat karena Rony kelelahan. Setiap beberapa meter dia selalu meminta istirahat. Memang dari awal aku sudah tahu jika durasi menanjak kita akan menjadi lebih lama karena temanku yang belum pernah menajak itu. Sialnya, di sekitar kita istirahat tidak ada tempat yang bagus untuk melakukan BAB. Lokasinya terlalu miring.

Setelah kupikirkan matang matang, ku putuskan untuk mendaki lebih dulu sendirian. Agar aku dapat menemukan tempat yang bagus tanpa harus berhenti menemani Rony istirahat. Setelah ku jelaskan panjang lebar akhirnya mereka setuju. Lagi pula aku sudah hafal trek ini karena sudah sering ke sini.

Setelah itu aku pamit kepada mereka dan berencana untuk bertemu di pos berikutnya. Atau di pos 7 karena kita sepakat untuk mendirikan tenda di sana. Sebenarnya aku ingin mengajak salah satu dari mereka, namun sepertinya mereka juga kelelahan kecuali khotib. Tapi jika aku mengajaknya, Aku takut mereka akan tidak nyaman karena tidak ada guid.

Langkah demi langkah kutahan sakit ini. Aku terus naik dan menunggu situasi sepi. Karena aku juga cukup malu jika ada pendaki lain yang melihatku. Aku menyalip beberapa pendaki. Hingga akhirnya kulihat kebelakang tampak lampu senter mereka sudah cukup jauh. Aku melihat sebuah pohon yang cukup besar, tanah di sekitarnya juga tidak terlalu miring. Meskipun sebelahnya adalah jurang yang cukup dalam. Aku tidak membawa senter, aku hanya menggunakan HP. Jika di lihat dari arah bawah tidak akan kelihatan karena tertutup semak. Namun jika di lihat dari atas akan terlihat sedikit bagian bahuku.

Baru masuk sedikit ke semak, Ada 2 orang yang sedang turun dari atas. Gara gara orang tadi, aku terpaksa masuk lebih dalam kehutan. Karena sedikit panik, aku terpeset lumayan jauh. Namun aku masih dapat  melihat jalur trek dengan jelas. Karena sudah terlanjur terperosok, ku putuskan untuk melakukannya di sini. Baru diam beberapa menit, pikiranku jadi aneh. Tiba tiba aku merasa merinding, padahal aku tidak pernah begini. Karena tidak nyaman, aku menengok ke kanan dan kekiri. Namun tidak ada apa apa.

Sendirian, 20 Menit Keluar Jalur Trek Pendakian.


Lalu aku sadar bahwa saat ini aku sedang sendirian. Setelah menyadari itu, tiba tiba rasa merindingku bertambah parah. Setelah kurasa cukup, Segera ku pakai celanaku dengan tergesa gesa. Belum usai ku kancing, telingaku serasa ada yang meniup "Wus". Dan itu jelas sekali kalau bukan angin. Karena tiupannya sangat singkat dan terarah. Ku kancing dengan cepat celanaku. Tanpa menengok kanan kiri aku langsung memegang dahan yang  akan ku gunakan untuk berpegangan kembali ke jalur trek. Karena sebelumnya aku telah terperosok ke jurang.

Entak sial atau apa, dahan itu patah dan aku tersungkur kembali ke tempat itu. Jelas sekali kudengar suara tertawa "hahaha" suara itu jelas dan sangat besar. Seperti suara orang berbadan kekar. Jujur aku benar benar takut dan berusaha naik kembali dengan merangkak memegangi tanah dan akar. Namun akhirnya tetap tidak bisa. Aku merasa panik. Karena sudah mentok dan takut. Ku luapkan perasaan takut ini dengan berteriak dan marah marah ke suara itu.

Lalu tak lama ku dengar juga suara langkah kuda diatas aspal. Aneh sekali bukan, di hutan semuanya tanah. Tapi suara kaki kuda tersebut sangat nyaring. Sebenarnya aku sudah mulai tidak takut. Tapi aku juga takut. Gimana ya. Intinya sebenarnya aku takut. Tapi logika ini sudah pasrah, mekipun takut mau kemana? kalo lari kehutan bakalan tersesat. Jadi dahan patah tadi selalu ku pegang dengan tangan kananku, sedang tangan kanan kiriku memegang senter HP. Jika muncul sesuatu, aku akan memukulnya meggunakan dahan ini.

Sendirian, 20 Menit Keluar Jalur Trek Pendakian.


Namun suara suara itu tak lama mulai hilang. Lalu ku dengar suara candaan para pendaki di atas. Kupanggil mereka dengan suara keras. Namun anehnya tidak ada yang mendengar. Hingga mereka mulai naik dan meninggalkan jalur itu. Setelah kepergian mereka, terdengar lagi suara tertawa seperti tadi "Hahaha". Dalam hati aku terus berdoa agar mereka tidak menggangguku. Tiba tiba diatasku, ada satu daun yang terus terusan bergoyang. Padahal tidak ada angin di sini.

Semakin ku genggam erat potongan dahan ini. Dan "haaaaaa" ternyata ada seekor bunglon yang melompat kearahku dari daun tadi. Aku benar benar histeris dan hampir menangis. Kaget sekali. Aku sadar, meskipun aku laki laki, jika sendirian aku tidak bisa apa apa. Lalu ku dengar lagi suara angin yang meniup di telinga kananku. Ku beranikan menengok, tapi tidak ada apa apa. Aku terus menunggu dan di goda oleh hal hal seperti itu.

Hingga terdengar suara yang benar benar aneh dan menakutkan. Aku mendengar suara seperti suara bambu yang di pukul dengan kayu" tek... tek... tek..". Suara itu awalnya pelan dan sangat jauh. Lalu tiba tiba suaranya semakin keras, dan sekan akan sedang mendekatiku. Ritmenya juga semakin cepat. Untungnya aku melihat ada cahaya lampu senter para pendaki yang menyenter daun diatasku. Aku spontan berteriak minta tolong sekeras kerasnya, tanpa malu. Ku lempar dahan kayu yang ku pegang tadi.

Dan bertapa bersyukurnya aku, mereka mengetahui kehadiranku. Dan menerangiku dengan cahaya senternya. Hati ini terasa benar benar plong. Lalu mereka membantuku dengan peralatan climb yang mereka bawah. Ketika aku mulai memanjat, aku menyadari ada yang aneh. Aku baru sadar ternyata bayangan pohon besar di sampingku sejak awal tadi sebenarnya tidak pernah ada. Karena tanpa lampu harusnya pohon tidak punya bayangan. Lalu ku pastikan dengan meminjam senter mereka. Dan benar, setelah ku matikan. Bayangan yang kulihat tadi sejak aku akan turun ke semak itu tidak pernah ada. Bayangan hitam dan tinggi masih kuingat jelas. Namun berkat kehadiaran mereka aku jadi lebih tenang. Aku meminta air kepada mereka. Dan menceritakan apa yang ku alami di bawah sana. Mereka terdiri dari 5 orang laki laki. Namun kebanyakan dari mereka malah tertawa dan bukan takut.

Akhirnya ku putuskan naik bersama rombongan mereka dan menunggu teman temanku di pos 7. Setelah kuperiksa jam, ternyata aku terjebak di sana hanya sekitar 20 menit. Namun yang kurasakan benar benar lama seperti berjam jam. Mereka berlima adalah pendaki profesional dan berniat ke puncak sejati. Aku memeriksa tenda tenda di pos 7, aku belum menemukan team temanku. Setelah ku tunggu sekitar 15 menit, akhirnya mereka sampai. Langsung ku ceritakan kisah ini kepada mereka sambil mendirikan tenda di pos ini. Dan mereka juga tertawa bukanya takut.

Kita memutuskan untuk tidur dan melanjutkan pendakian jam 1 atau 2 pagi.

Sekian kisah dari temen ane.

Sampai Jumpa Lagi

..............

bye bye

emoticon-Traveller


Sumber pict : doc pribadi, Google
profile-picture
xxArial memberi reputasi
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
mantap betulll bisa metik buah buahan sendiri, seger pula tuh ye keliatannyaa
Quote:


Pasti lah. Apa lagi gratis pula emoticon-Leh Uga


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di