alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Sandi Rumput Misterius
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d693ce0c0cad77d4a36adb0/sandi-rumput-misterius

Sandi Rumput Misterius

Tampilkan isi Thread
Halaman 5 dari 6
Balasan post InaSendry
wkwkwkwk okedaahhh sistur
profile-picture
InaSendry memberi reputasi
Quote:


Monggo, Gan
Serem ya, tp aku ga baca semuanya males banyak bamgetemoticon-Frown
profile-picture
InaSendry memberi reputasi
uhuy ht keren banget sis😍
profile-picture
InaSendry memberi reputasi
ntapzzzz
profile-picture
InaSendry memberi reputasi
nunggu apdetan gan emoticon-Traveller
profile-picture
InaSendry memberi reputasi
Quote:


Ish ish ish
Quote:


Cerita yang lain ya emoticon-Jempol
Quote:


Makasih kunjungannya, Gan
Quote:


Makasih makasih emoticon-Peluk
ngeri ini mah,, *tutup muka*
profile-picture
InaSendry memberi reputasi
wuiihh, keren
perjalanan ke masa depan😍
profile-picture
InaSendry memberi reputasi
Quote:


Betuuuul, beb.
Quote:


Lah, kok ngeri to?
profile-picture
DianAhmadKaskus memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:


Mantul dah😍
profile-picture
InaSendry memberi reputasi
Quote:


Hai, beb. Makasih dah mampir emoticon-Peluk

Pulang dari Masa Lalu

Sandi Rumput Misterius
ilustrasi

Pak Lurah menatap tak percaya setelah aku mengatakan bahwa kami berenam--aku, Rara, Hana, Mimi, Iis dan Lintang--adalah peserta lomba  perkemahan pramuka yang sedang berlangsung di lapangan desa Ringin Kembar.

"Pak, saya tidak ngelantur. Sudah empat hari ini kami berkemah. Dan tidak hanya kami, tapi masih ada sebelas regu lain dari sekolah yang berbeda. Ada juga dua belas orang panitia."

Agak kesal juga aku menjelaskan pada Pak Lurah. Karena aku dan teman-temanku adalah anggota pramuka yang pantang membual. Kami adalah regu inti yang selalu diikutsertakan pada setiap perlombaan pramuka. Pastinya
prinsip Dasa Dharma Pramuka sudah melekat dalam jiwa.

"Baik, baik. Kalau begitu Bapak akan menelepon sekolah kalian. Tunggu sebentar di sini!"

Lelaki itu mengeluarkan benda persegi dari kantung celananya, mirip ponsel hanya saja lebih lebar, lebih pipih tapi tidak ada keypadnya. Ia menggeser-geserkan jari pada layar, lalu mendekatkan benda itu ke telinganya sambil berjalan ke luar ruangan. Mungkin itu adalah telepon seluler canggih, karena ini adalah tahun 2019.

Rara dan yang lainnya juga sama bingungnya, saat menyadari bahwa saat ini kami berada di zaman yang sangat jauh dari zaman kami.

"Na." Rara mencolek lenganku. "Ini beneran kita sedang di tahun 2019?"

"Ya kamu lihat aja kalender itu." Kutunjuk kalender di dinding dan kalender kecil yang ada di atas meja kerja.

"Gila! Ini benar-benar gila dan sukar dipercaya!" seru Lintang.

"Berarti ... kita sedang berada di masa depan?!" sahut Mimi takjub.

"Iyalah."

Pak Lurah memasuki ruang tamu lagi dengan wajah serius. Kami serentak diam,menunggu apa yang hendak beliau sampaikan.

"Begini adik-adik ..., saya sudah menghubungi kepala sekolah kalian. Sekarang beliau dan orangtua kalian sedang dalam perjalanan kemari."

Plong rasa hati kami mendengarkan penjelasan Pak Lurah. Tak lama kemudian muncul seorang lelaki-- sepertinya ia seorang pamong desa--mengangguk hormat pada Pak Lurah. Ia merogoh kantung kresek dan membagikan sebuah bungkusan serta air mineral.

"Kalian makanlah dulu," ujar Pak Lurah.

Mendadak perutku merasa sangat lapar. Begitu juga Rara, Hana, Mimi, Lintang dan Iis. Mereka langsung menyambar nasi bungkus di meja dan memakannya dengan lahap.

Baru saja makanan itu berpindah ke dalam perut kami, terdengar deru mobil memasuki halaman kantor kelurahan. Seorang lelaki tambun keluar dari mobil paling depan, di belakangnya ada dua mobil polisi, menyusul paling belakang sebuah mobil tua yang sangat kukenal. Itu mobil ayah.

Mereka berjalan beriringan mendekati kami yang sudah berdiri di teras. Namun, ayahku terlihat lebih tua. Aku jadi ragu untuk mendekati beliau. Kupandangi saja wajah ayah tanpa berkedip, rambutnya banyak yang memutih.

"Ina ...!

Ayah memelukku erat. Aku hanya diam mematung. Bingung harus berkata apa.

"Nak, kamu kembali," isaknya haru.

"Mari kita bicarakan di dalam, Bapak-Bapak," ujar Pak Lurah. "Anak-anak ini masih bingung dengan kejadian yang mereka alami."

"Jadi begini, Pak ....

Salah seorang polisi yang hadir membuka suara.

"Jadi ... adik-adik ini memang mengikuti kegiatan lomba pramuka. Namun, mereka tidak pernah kembali saat acara penjelajahan. Panitia dan orangtua mereka sudah melaporkan kepada kami. Sayangnya segala upaya yang kami tempuh tidak membuahkan hasil. Dan mereka dinyatakan menghilang ... sepuluh tahun yang lalu."

Aku terperenyak mendengar ucapan Pak Polisi itu. Begitu juga teman-teman, mereka spontan duduk  di kursi kayu panjang.

"Kami me-menghilang, Pak?" ulangku tak percaya.

"Iya, anak-anak. Bahkan Pak Surya--kepala sekolah semasa kalian masa itu sampai menanyakan keberadaan kalian ke orang pintar. Namun, tidak membuahkan hasil. Kalian lenyap begitu saja."

"Ina dan kalian semua ..., Ayah bersyukur kalian telah kembali dengan selamat. Sebentar lagi orangtua kalian akan menyusul kemari." Ayah menatapku dan teman-teman dengan haru.

Benar apa kata ayah, beberapa menit kemudian orangtua Rara, Mimi, Hana, Lintang dan Iis telah sampai. Mereka menangis dan memeluk anak-anaknya haru.

Entah bagaimana melukiskan perasaan ini. Kami menghilang dan kembali setelah sepuluh tahun, tapi tidak ada perubahan berarti pada kami. Namun, orangtua dan semua sudah berubah sesuai zaman. Biarlah ... misteri ini tetap menjadi misteri sebagaimana kehendak Tuhan.

Malang, 23 September 2019
profile-picture
delia.adel memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post InaSendry
Sedih sekali enih bunda..ya rahasia di atas sebuah rahasia
profile-picture
InaSendry memberi reputasi
Quote:


Hehe.. iya, say. Kadang rahasia harus tetaplah rahasia demi kebaikan semua
wah... melintasi waktu.
profile-picture
InaSendry memberi reputasi
Halaman 5 dari 6


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di