alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Teror Hantu Cekik [Horor Misteri Urban Legend Kisah Nyata]
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d72090f28c99132023d8d63/teror-hantu-cekik-horor-misteri-urban-legend-kisah-nyata

Teror Hantu Cekik [Horor Misteri Urban Legend Kisah Nyata]

"Tumben sepi banget. Biasanya banyak orang nongkrong di kampung ini" gumam Pak Ahmad, penjual mie tek-tek keliling yang biasa berjualan di kampung ini setiap malam. Merasa sedikit lelah karena dia berjualan sambil memikul dagangannya, dia pun memutuskan beristirahat sejenak di pos ronda. Baru beberapa menit beristirahat, dia pun merasakan serangan kantuk yang luar biasa. Padahal dia sudah terbiasa berjualan setiap malam hingga dini hari, tanpa merasa ngantuk sedikitpun. Tapi malam ini sungguh berbeda, mungkin karena suasana kampung ini yang sangat sepi tidak seperti biasanya sehingga membuatnya kurang bersemangat untuk berjualan.


Selamat malam para menghuni SFTH baik dari dunia nyata maupun dari dunia gaib. Perkenalkan nama saya Giri (samaran). Sebetulnya saya member lama di Kaskus dan cukup lama juga mengikuti forum SFTH ini, tetapi kali ini saya memakai ID baru, identitas baru supaya tidak banyak kekepoan diantara kita.

Kali ini saya akan mencoba bercerita sekelumit kisah misteri yang pernah terjadi di kampung saya sekitar 20 tahun yang lalu. Sejujurnya saya agak bingung kisah ini mau dikatakan kisah nyata atau tidak. Yang jelas kejadian ini benar-benar pernah terjadi, tetapi mengenai kebenaran atau fakta yang sesungguhnya saya sendiri masih bingung antara percaya atau tidak percaya.

Cerita kali ini saya akan mencoba mengangkat sebuah "urban legend" tentang teror hantu cekik yang dulu pernah terjadi di kampung saya hampir setiap tahun di bulan suro (muharram). Banyak spekulasi mengenai penyebab teror ini, ada yang bilang disebabkan karena ada orang yang sedang mendalami ilmu hitam, ada juga yang mengatakan disebabkan karena berhubungan dengan nyai roro kidul yang sedang punya hajat di bulan suro dan sedang mencari budak/pengikut dan rumornya saat itu di kampung saya ada salah seorang yang menyembah nyai roro kidul tersebut sehingga mencari budak dari jiwa yang dikorbankan dari kampung saya, ada pula yang mengatakan disebabkan karena serangan santet dan lain-lain.

Hingga saat ini, misteri mengenai penyebab sesungguhnya teror tersebut masih belum terpecahkan meskipun sekarang sudah tidak pernah terjadi lagi. Kejadian terakhir adalah kejadian yang nantinya akan saya ceritakan, di tahun berikutnya sampai sekarang sudah tidak pernah terjadi lagi. Saya akan coba mengulik cerita ini berdasarkan pengalaman saya sendiri dan hasil cerita dari orang-orang di kampung saya.

Saya akan coba bercerita dengan alur pelan supaya mudah dipahami. Untuk update, saya tidak bisa menjanjikan setiap hari karena saya juga sambil mencari narasumber dan kebetulan kejadian ini sudah cukup lama jadi butuh waktu bagi narasumber saya untuk mengingat kejadian ini. Disamping itu juga banyak kesibukan lain di dunia nyata yang harus saya kerjakan.


Kampung ini terletak di pinggiran kota kecil di provinsi Jawa Tengah. Suasananya masih asri dikelilingi persawahan. Masyarakat kampung ini mayoritas berprofesi sebagai petani. Penduduk kampung ini belum terlalu padat. Masih banyak lahan-lahan kosong tidak terurus yang banyak ditumbuhi tanaman bambu dan pisang, juga terdapat empang-empang di lahan kosong tersebut.

Selain asri, sekilas nuansanya juga sedikit horor karena masih banyaknya lahan kosong tanpa penerangan yang memadahi tersebut. Banyak cerita mistis mengenai lahan-lahan kosong itu. Mulai dari genderuwo, pocong, kuntilanak dan lain sebagainya. Banyak cerita dari penduduk kampung ini mengenai pengalaman horor mereka bertemu dengan berbagai jenis penampakan tersebut. Tapi saya tidak akan menceritakan itu karena hal itu bukan hal unik lagi, tapi sudah menjadi kebiasaan.

Satu hal yang sampai sekarang masih menjadi misteri, dulu di kampung ini pernah terjadi teror hantu cekik hampir setiap tahun, dan kejadiannya selalu di bulan suro. Dan kabarnya teror ini baru akan berhenti jika sudah ada orang meninggal dunia yang dipercaya merupakan korban dari teror tersebut atau bulan suro sudah habis meskipun belum ada korban. Jadi perlu diketahui, setiap terjadi teror tidak selalu jatuh korban. Apa dan bagaimana teror ini terjadi dan bagaimana masyarakat mengatasinya? Saya akan memulai ceritanya di part berikutnya.


INDEX

Spoiler for index:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
redbaron dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh girisakya
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2

Teror Pertama (Pak Ahmad)

Tanpa disadari, Pak Ahmad akhirnya terlelap karena sudah tidak kuat menahan kantuk yang menyerangnya. Dalam tidurnya dia bermimpi didatangi sosok tinggi besar. Sosok itu melihatnya dengan tatapan yang sangat mengerikan. Dalam mimpinya tersebut, Pak Ahmad seolah tersadar bahwa ini adalah mimpi. Tetapi dia tidak bisa berbuat apapun, bahkan untuk terbangun dari tidur pun dia tidak bisa. Sosok itu mendekatinya lalu tangannya memegang leher Pak Ahmad. Tidak bisa bergerak, tidak bisa berucap. Itulah yang terjadi. Pak Ahmad seolah tersihir oleh sosok itu. Tak berapa lama Pak Ahmad merasakan tekanan yang begitu kuay di lehernya. Dia dicekik.

Pak Ahmad berusaha berontak. Dia berusaha melepaskan diri dari cengkraman sosok itu. Menyadari bahwa yang sedang dihadapi bukan manusia, Pak Ahmad berusaha melawan dengan doa-doa dan bacaan Al-Qur'an. Meskipun mulutnya tidak bisa berucap, Pak Ahmad bedoa di dalam hatinya dengan penuh keyakinan bahwa Tuhan pasti akan memberikan pertolongan. Entah sebuah keberuntungan atau memang datang pertolongan dari Tuhan, tiba-tiba muncul cahaya putih dari lehernya yang sedang dicekik sosok itu. Dan sekejap kemudian sosok tersebut menghilang.

Beberapa saat kemudian, sayup-sayup Pak Ahmad mendengar namanya dipanggil. Awalnya dia hanya mendengar satu suara, lama-lama suara tersebut semakin banyak dan ramai. Perlahan Pak Ahmad membuka matanya, dan setelah kesadarannya terkumpul, di sekelilingnya sudah banyak warga kampung ini berkumpul.

Pak Ahmad berusaha bangun, nafasnya memburu dan keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya.
"Minum dulu, pak" ucap salah seorang warga diikuti Pak Ahmad menerima segelas air putih itu lalu meminumnya hingga tandas.
"Apa yang terjadi, pak?" Tanya Pak Ahmad setelah dia merasa lebih tenang.
"Tadi Pak Dayat sedang dalam perjalanan ke mushola untuk adzan subuh, saat melewati pos ronda beliau melihat Pak Ahmad tertidur sambil meronta-ronta seolah minta tolong. Lalu dia memanggil warga" ucap Pak Sarto, orang yang memberikan minum kepada Pak Ahmad.
"Apa yang terjadi Pak? Bagaimana Pak Ahmad bisa sampai tidur di pos ronda sampai pagi begini? Biasanya kan jam 12 malam Pak Ahmad sudah pulang dari jualan?" Tanya Pak Dayat.
"Sudah pagi ya? Padahal saya tadi merasa tertidur hanya sebentar" ucap Pak Ahmad.

Setelah itu Pak Ahmad pun menceritakan apa yang dialaminya kepada warga kampung ini. Para warga saling menatap satu sama lain ketika Pak Ahmad bercerita. Mungkin mereka memiliki pemikiran yang sama yaitu "teror cekik sudah dimulai".

Setelah Pak Ahmad selesai bercerita, warga pun membubarkan diri dan Pak Ahmad juga pulang ke rumahnya. Mulai malam ini Pak Ahmad memutuskan untuk libur berjualan sampai keadaan kembali aman. Hal itu dilakukan bukan tanpa alasan, Pak Ahmad sudah mengetahui mengenai cerita teror ini dan kapan biasanya teror ini terjadi. Tapi dia tidak pernah menyangka kalau dia juga akan mengalaminya secara langsung bahkan hampir menjadi korban. Biasanya jika ada salah seorang yang sudah mulai diincar seperti Pak Ahmad, teror ini akan terus mengikutinya. Tetapi dia bisa sedikit lebih tenang, karena orang yang memiliki iman kuat dan rajin beribadah seperti Pak Ahmad ini tidak akan mudah menjadi korban. Tetapi dia harus tetap waspada dan melakukan pencegahan karena bisa saja dia akan lengah dan kembali diserang. Oleh karenanya dia memutuskan untuk libur berjualan dulu sementara waktu sampai keadaan kembali aman.

Para warga juga kembali beraktifitas seperti biasanya hari ini. Mereka melakukan aktifitas masing-masing seperti biasanya. Hanya saja, mulai hari ini mereka harus selalu waspada karena teror cekik sudah dimulai. Mereka tidak berani beraktifitas di luar rumah sampai malam hari datang. Mereka yang bekerja di sawah pun pulang lebih awal supaya sebelum maghrib sudah berada di rumah masing-masing. Saat maghrib dan isya' mereka tetap pergi ke mushola kampung untuk sholat berjamaah, tetapi setelah selesai jamaah isya' mereka semua langsung pulang ke rumah masing-masing dan mengunci rapat rumahnya. Tidak ada yang berani keluar rumah bahkan nongkrong seperti hari-hari biasanya.

Mereka percaya hantu cekik hanya mengincar orang yang berada di luar, terutama sendirian. Karena memang biasanya dulu seperti itu. Ketika di dalam rumah mereka semua merasa aman. Alhasil semenjak hari ini, kampung ini menjadi sangat sepi ketika malam hari. Hal itu membuat suasana semakin mencekam. Aku yang biasanya setiap malam ikut nongkrong bersama pemuda kampung ini pun jadi mengurungkan niat untuk keluar rumah karena tidak ada teman dan suasananya sangat mencekam. Ketika sudah merasa bosan, biasanya aku pergi keluar desa saat masih sore dan nongkrong bersama kawan-kawan lain di kota dan biasanya aku pulang jika hari pagi.

Beberapa hari berlalu, tidak ada lagi kejadian teror yang terjadi. Tetapi warga kampung masih belum berani keluar saat malam hari. Mereka percaya teror ini tidak akan berhenti sampai adanya korban atau bulan suro ini berlalu. Jadi mereka masih berlindung di rumah masing-masing sampai bulan suro ini selesai. Mereka percaya hantu cekik tidak akan berani melakukan teror di dalam rumah mereka karena setiap rumah warga sudah dilindungi dengan doa dari kyai kampung ini. Akan tetapi apa yang mereka percayai kali ini runtuh ketika di suatu malam mereka mendengar teriakan dari salah satu rumah warga dan diikuti suara gaduh seperti perabotan rumah yang dipukuli.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
redbaron dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh girisakya
hifghjdfg
nongkrong dulu ah

Teror Kedua (Kesurupan)

Mendengar kegaduhan tersebut, warga pun berhamburan keluar dari rumahnya masing-masing menuju ke sumber suara. Aku yang saat itu kebetulan sedang berada di rumah juga tidak mau ketinggalan ingin melihat apa yang sedang terjadi. Meskipun orang tuaku melarangku keluar rumah, tapi itu tidak bisa membendung rasa penasaranku.

Aku berlari mengikuti beberapa orang yang kupikir sedang memikirkan hal yang sama denganku. Hingga tak berapa lama, kami pun sampai di salah satu rumah warga yang sudah ramai dikerumini warga kampung ini.

"Ada apa pak?" Tanyaku kepada salah seorang warga yang sudah sampai terlebih dahulu.

"Aku juga belum tau pasti apa yang sedang terjadi, Ri. Tapi katanya si Wahid kesurupan. Ini sedang ditangani Pak Sholihin" jawab orang yang kutanya tadi. Pak Sholihin adalah seorang kyai di kampungku.

Aku mencoba merangsek masuk ke dalam rumah melalui sela-sela tubuh warga yang berkerumun di depan pintu rumah ini. Beruntung aku memiliki badan yang kurus, jadi bisa dengan mudah melewati kerumunan warga. Aku benar-benar penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Karena dari setiap kejadian teror di kampung ini pada tahun-tahun sebelumnya aku tidak pernah bisa mendapatkan jawaban pasti mengenai misteri teror ini. Setiap aku bertanya, mereka selalu memberikan jawaban yang tidak pasti, bahkan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru yang sukses membuat rasa penasaranku semakin membuncah.

Setelah bersusah payah mencoba melewati kerumunan warga yang semakin rapat di barisan depan, akhirnya aku pun sampai di barisan paling depan dan bisa melihat secara langsung kejadian malam itu. Dengan mata kepalaku sendiri aku melihat Mas Wahid meronta-ronta sambil dipegangi beberapa orang. Sedangkan Pak Sholihin mencoba memberikan pertolongan dengan memegang keningnya sambil membacakan doa-doa entah apa karena aku tidak bisa mendengar suaranya.

Beberapa waktu kemudian Mas Wahid menjadi lebih tenang. Ibunya memberikan minum segelas air putih yang telah diberikan doa oleh Pak Sholihin. Dia menenggak air itu hingga tandas. Warga yang menyaksikan kejadian itu pun menghela nafas panjang menandakan kelegaan bahwa ketegangan ini telah berakhir. Akan tetapi hal itu hanya berlangsung beberapa menit saja. Tepat sebelum Pak Sholihin hendak berpamitan tiba-tiba Mas Wahid berteriak histeris kemudian meracau dengan kata-kata yang teramat sulit dipahami. Dia berbicara dengan bahasa yang asing didengarkan orang kebanyakan. Sebetulnya dia bicara dengan bahasa jawa (mungkin). Tapi bahasa jawa yang diucapkan seperti bahasa jawa yang bukan umumnya digunakan sehari-hari. Lebih ke arah bahasa jawa yang sangat kuno. Beberapa kata yang jelas terucap dan bisa dipahami hanyalah kata "darah" dan "mati". Selebihnya kami tidak memahami apa yang diucapkannya. Pak Sholihin mencoba kembali menolongnya. Kali ini seperti terlihat lebih sulit karena aku melihat sendiri dari sudut wajah Pak Sholihin yang telah dipenuhi guratan tanda lanjutnya usia telah dipenuhi titik-titik air tanda keringat mulai bercucuran.

Dalam pergulatannya, Mas Wahid sesekali melihat sekelilingnya dengan matanya yang melotot masih sambil meracau. Hingga ketika pandangannya mengarah padaku, dia pun berhenti bergerak dan terus mengarahkan pandangannya padaku. Aku yang sedari tadi hanya terpaku melihat kejadian ini pun seketika bergidik ngeri. Mas Wahid masih terus memandangku tanpa ekspresi sedikitpun. Hingga beberapa detik kemudian aku melihat perubahan pada raut mukanya. Diawali dengan senyuman yang mengerikan, atau lebih tepatnya seringai, lantas berubah menjadi ekspresi marah dengan matanya yang melotot. Aku yang masih terpaku dengan kejadian itu tanpa menyadari saat ini warga yang berada di sekelilingku telah bergerak mundur mungkin karena takut, jadi tinggal aku sendirian berada di depan mereka. Dalam dekapan kengerian dan rasa takut yang mulai menjalar, aku mencoba melawannya hanya melalui tatapan mataku. Tanpa bergerak sedikitpun, aku memandang tajam ke arah mata Mas Wahid mencoba mengintimidasinya atau mungkin makhluk yang saat ini menguasainya. Beberapa saat kemudian secara tiba-tiba Mas Wahid mencoba melompat untuk menyerangku secara langsung. Beruntung beberapa orang masih menahan tubuh Mas Wahid sehingga dia tidak bisa menjangkau tubuhku. Beberapa orang yang berada di belakangku juga secara spontan menarik tubuhku dan menjauhkanku dari jangkauan dan tatapan Mas Wahid.

"Edan kamu, Ri. Kayak gitu mau kamu lawan?" Ucap Mas Rizal, salah satu warga kampung ini yang usianya tidak jauh denganku, hanya selisih beberapa tahun saja di atasku.

"Bukan niat mau lawan, mas. Tapi aku kejebak kayak gitu ya udah mau gimana lagi. Hehe" ucapku sambil sedikit cengengesan untuk menutupi rasa takut.

"Ya udah ya udah.. Lihat dari luar aja sini ga usah masuk. Kayaknya bahaya" ucak Mas Rizal.

"Sebetulnya apa yang terjadi mas?" Tanyaku.

"Entahlah, Ri. Tapi aku dengar, Mas Wahid ini sedang mempelajari suatu ilmu. Entah apa itu aku kurang paham" jawab Mas Rizal.

"Ilmu? Ilmu apaan mas? Ga ngerti aku" ucapku menyelidik.

"Aku juga ga paham ilmu apaan, Ri. Tapi katanya sejak sebulanan yang lalu Mas Wahid ini mempelajari ilmu. Aku dengar, awalnya dia nemuin buku kuno di rumah almarhum kakeknya. Buku itu isinya tulisan arab gundul semua. Mas Wahid kan pernah mondok juga, jadi dia bisa baca tulisan itu. Awalnya dia nanyain tentang buku itu ke Pak Sholihin. Setelah Pak Sholihin membaca buku itu, Pak Sholihin melarang Mas Wahid mempelajarinya karena katanya berbahaya kalau tanpa didampingi seorang guru. Sedangkan Pak Sholihin tidak bersedia mendampinginya karena menurut Pak Sholihin ilmu dalam buku itu cukup berbahaya kalau seseorang menguasainya tanpa kontrol yang cukup. Dan Pak Sholihin menyimpulkan bahwa Mas Wahid ini belum cukup siap mempelajarinya, baik secara usia maupun kematangan iman dan mental. Pak Sholihin menyuruh Mas Wahid membakar buku itu. Tapi ternyata secara diam-diam Mas Wahid mempelajarinya sendiri sehingga inilah yang terjadi, Ri" ucap Mas Rizal panjang lebar, sedangkan aku hanya manggut-manggut saja mencoba mencerna setiap perkataannya.

Malam semakin larut, beberapa warga telah kembali ke rumahnya masing-masing. Sedangkan aku, Mas Rizal dan beberapa pemuda kampung ini masih tetap menunggu di depan rumah Mas Wahid. Kami ikut berjaga dan bersiap jika Pak Sholihin memerlukan bantuan tenaga kami. Iya benar, hingga malam selarut ini Mas Wahid masih belum tenang juga. Pak Sholihin masih belum berhasil menenangkannya. Kali ini semua pintu dan jedela rumah Mas Wahid ditutup rapat supaya tidak menjadi tontonan warga. Tapi dari luar kami masih bisa mendengar dengan sangat jelas suara dari dalam rumah karena rumah Mas Wahid ini terbuat dari kayu jadi tidak terlalu menghalangi suara dari dalam. Kami, sekelompok pemuda kampung berjaga dengan sangat waspada. Mengingat teror hantu cekik juga belum berakhir dan saat ini kami semua sedang berada di luar rumah, tempat yang sangat rawan diserang teror tersebut. Entah kejadian Mas Wahid ini ada hubungannya dengan teror cekik atau tidak, saat ini kami belum bisa menyimpulkannya.

Waktu terus bergulir, Pak Sholihin masih berjibaku dengan Mas Wahid yang kerasukan dan masih belum bisa teratasi. Ketika Pak Sholihin mencoba berkomunikasi dengan Makhluk yang menguasai Mas Wahid, makhluk itu seolah tidak bisa atau tidak mau diajak berkomunikasi. Makhluk tersebut selalu berusaha menyerang melalui tubuh Mas Wahid.

Hingga waktu memasuki subuh dan adzan subuh telah berkumandang, secara tiba-tiba tubuh Mas Wahid terhempas dengan sendirinya dan dia tak sadarkan diri. Setelah dibantu beberapa orang, akhirnya Mas Wahid pun sadar. Dia terduduk lemas seperti teramat sangat kelelahan. Pak Sholihin mencoba berkomunikasi dan Mas Wahid bisa merespon dengan baik. Artinya saat ini tubuhnya sudah tidak dikuasai oleh makhluk gaib lagi. Setelah beberapa saat, akhirnya Pak Sholihin berpamitan untuk menjadi imam sholat subuh di mushola. Kami pun juga berpamitan.

Kejadian Mas Wahid ini benar-benar sangat misterius. Berdasarkan penuturan Pak Sholihin, beliau tidak berhasil mengusir makhluk yang menguasai tubuh Mas Wahid saat itu. Beliau hanya sanggup menjaga supaya makhluk itu tidak mencelakai Mas Wahid atau orang lain dan juga menjaga supaya sukma Mas Wahid tidak dibawa pergi. Dan ternyata kejadian malam tadi hanyalah awal. Setelah itu, hampir setiap malam selama bulan suro ini Mas Wahid selalu "kumat", dan ketika subuh, dia sembuh sendiri. Setelah bulan suro habis, Mas Wahid sudah tidak pernah "kumat" lagi. Akan tetapi setelah itu, jiwanya menjadi seperti "kurang lengkap" hingga saat ini. Apakah kejadian Mas Wahid ini ada kaitannya dengan teror hantu cekik? Jawabannya ada!
profile-picture
itkgid memberi reputasi
di kampung ane dulu juga pernah ada isu hantu cekik, sekitar tahun 98 gan. tau bener ada apa nggak, yang jelas saat ada isu tersebut, kampung ane yang notabene ada di tengah kota kabupaten jadi sepi, padahal kampung ane 24 jam nonstop slalu ada aktivitas warga, soalnya kampung ane deket ama pasar sayur yang mulainya malem ampe pagi.
Quote:


Tahun 90-an sampai awal 2000-an memang sering terdengar isu teror hantu cekik di beberapa daerah gan. Terutama di Jawa Tengah. Salah satunya di desa ane juga. Makanya ini ane coba bercerita berdasarkan pengalaman ane dan orang2 kampung ane.. entah misteri ini akan terpecahkan atau akan tetap jadi misteri.. yg jelas sudah bertahun-tahun teror ini tidak pernah terjadi lagi.
kalo dulu di daerah ane hampir se kecamatan rame ngomongin teror yg sama, bahkan sampe muncul "penangkal" berupa bambu kuning yg dipasang di dpn pintu kamar, sekitar tahun 2003 - 2005an. Alhasil bener2 kalo udh lewat di atas maghrib yg daerah perkampungan jd sepi banget
Yo lanjut gan😀😀
uhuy
serem banget tuh gan, kayaknya kalo kejadian beneran bakalan menakutkan.
parkir dulu ah
Dulu pernah denger cerita dr teman ane yg beda daerah mirip dg cerita agan.. Apa desa / kecamatan di D***k?
lanjut gan.. emoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Gan

3. Teror Ketiga ; Sebuah Rencana Dan Rumah Bukan Tempat Aman Lagi

Beberapa hari setelah kejadian pertama Mas Wahid kesurupan, kampung ini kembali senyap setiap malam hari datang. Para warga masih berdiam diri di rumah masing-masing setiap malam karena mereka masih percaya bahwa teror hantu cekik tidak akan menyerang mereka ketika mereka jika hari sudah mulai petang. Hal itu dilakukan supaya dia tidak membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain. Sebab tidak ada lagi yang bisa dilakukan karena cara apapun yang sudah dilakukan selalu saja tidak berhasil mengusir makhluk yang menguasai tubuh Mas Wahid setiap malam. Seolah Mas Wahid sudah merelakan raganya dikuasai makhluk tersebut tanpa adanya perlawanan darinya. Masih belum jelas penyebab yang sebenarnya kenapa Mas Wahid bisa seperti itu. Buku yang dimaksud menjadi salah satu penyebab pun tidak ditemukan di rumahnya.

***

Malam ini aku baru saja pulang dari mendaki gunung sejak beberapa hari yang lalu. Aku memang hobi mendaki gunung. Ketika memasuki kampung, suasana mencekam langsung kurasakan. Sunyi tanpa aktifitas dari warga kampung ini. Ketika sampai di pos ronda, seseorang memanggilku dari dalam pos tersebut.

"Ri... Giri" suara seseorang memanggilku. Spontan aku menoleh.

"Eh, elu Mid" ternyata itu Khamid, salah satu pemuda kampungku sekaligus teman mainku yang memanggilku.

"Ngapain lu di sini? Kaga takut dicekek lu? Hahaha" ucapku lagi.

"Kaga lah. Lagian rame gini. Baru pulang lu, Ri? Sini lah mampir dulu" ucapnya.

Aku pun mengiyakan ajakannya dan melangkah menuju ke pos ronda. Ternyata di dalam masih ada beberapa orang lagi.

"Pada ngapain di sini? Bukannya pada anteng di rumah" ucapku sembari menaruh tas ransel besar bawaanku.

"Bosen sebenernya kita, Ri. Tiap hari ngedongkrok doang di rumah" ucap Hakim.

"Selain itu kita juga penasaran sama isu teror cekik ini. Kita juga mikir, kalo misal kita terus-terusan sembunyi ga ngelakuin apa-apa, teror ini bakalan datang lagi tahun depan dan seterusnya. Makanya kita lagi coba nyari jalan keluar, siapa tau bisa bongkar misteri teror ini, Ri" sambungnya.

"Terus lu udah tau caranya?" Tanyaku.

"Belom" jawab mereka serempak. Aku pun hanya menghela nafas panjang.

"Ngomong-ngomong gimana kabarnya Mas Wahid?" Tanyaku sembari mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celanaku.

"Masih kayak sebelumnya, Ri. Tapi makin kesini kayaknya makin parah deh" ucap Hakim.

"Makin parah gimana maksudnya?" Sambungku lagi sembari menghembuskan asap dari mulutku. Ruangan pos ronda yang sempit ini sekarang semakin dipenuhi asap rokok.

Hakim mematikan bara rokoknya yang memang sudah tinggal puntungnya lalu menyesap kopi hitam yang sudah setengah dingin karena sedari tadi terabaikan oleh hisapan demi hisapan nikotin. Usai meletakkan gelas yang isinya tinggal setengah, dia memandangku dengam tatapan menyelidik.

"Lu punya apaan, Ri?" tanyanya.

"Maksudnya?" Ucapku balik bertanya.

"Dulu waktu Mas Wahid pertama kali kumat, gw lihat dia seolah ingin nyerang elu" ucapnya datar.

"Dan gw rasa itu bukan kebetulan. Dari sekian banyak orang di situ kenapa cuma elu yang jadi perhatiannya. Setelah elu keluar, ga ada orang lain lagi yang diserangnya kecuali Pak Sholihin yang emang berniat ngelawan makhluk yang merasuki Mas Wahid" sambungnya dan akupun hanya terdiam tak mengerti apa yang harus kuucapkan.

"Gw bingung mau jawab apaan. Sejujurnya gw juga ga ngerti kenapa gw yang diserang. Waktu itu gw ga ngelakuin apa-apa, gw cuma ngelihat mata Mas Wahid. Dan perlu elu tau, gw ga punya pegangan apapun, kalo itu yang elu maksud." Jawabku.

"Beberapa hari ini gw sama Hakim dan anak-anak yang lain sering mikirin ini dan kadang menbahasnya, Ri" ucap Khamid.

"Kayaknya elu punya sesuatu yang itu bukanlah hal sembarangan. Kalo elu ngerasa ga punya apapun, mungkin elu belum nyadar aja mungkin, Ri. Coba lu inget-inget deh, ada cerita apa di masa lalu atau waktu elu masih kecil sebelum pindah ke kampung ini" sambungnya.

Aku memang bukan warga asli kampung ini. Aku berasal dari kelurahan yang letaknya di pusat kabupaten dekat dengan situs kuno peninggalan religius masa lampau. Aku pindah ke kampung ini saat usiaku 3 tahun karena ayahku bekerja di kampung ini sebagai pengajar di salah satu sekolah dasar. Aku kembali mengingat cerita dari ibuku mengenai diriku sewaktu masih bayi dulu. Dulu aku dilahirkan prematur ketika usia kandungan masih 7 bulan. Sebagai bayi prematur, aku memiliki tubuh mungil dan lemah. Setelah beberapa hari tinggal di dalam inkubator dan dinyatakan sudah sehat, aku pun dibawa pulang. Waktu itu keluargaku masih tinggal serumah dengan nenekku. Ternyata setelah sampai rumah aku menjadi pusat perhatian, baik dari bangsa manusia atau keluargaku yang lain maupun dari bangsa jin. Hampir setiap malam aku selalu rewel tidak jelas seperti merasa ketakutan. Padahal, menurut penuturan ibuku, segala cara untuk mengatasi bayi rewel sudah dilakukan, seperti mengecek popok, mengatur posisi tidur senyaman mungkin, sampai memberi ASI secukupnya. Tapi aku masih saja rewel. Hingga pada suatu malam, pamanku yang kebetulan sedang lewat di depan kamarku melihat aku yang sedang tertidur sedang diamati oleh makhluk besar hitam berbulu dan seolah hendak mengambilku. Karena pamanku ini memiliki kelebihan secara batin yang didapatkannya dari keturunan dan beliau juga mempertajam dengan mempelajarinya, maka pamanku bisa melihat dan melawan makhluk tersebut. Singkat cerita, aku pun selamat dari serangan makhluk tersebut setelah pamanku menolongku.

Hari demi hari berlalu dan hampir setiap malam aku masih menjadi incaran makhluk gaib. Pamanku semakin lama semakin kerepotan juga untuk menjagaku. Hingga akhirnya ayahku meminta bantuan kepada temannya yang seorang kyai sekaligus pimpinan salah satu pondok pesantren ternama di kotaku. Setelah teman ayahku menolongku, entah dengan cara apa, aku sudah tidak pernah diganggu lagi. Ada satu pesan dari teman ayahku kepada orang tuaku yang intinya, nanti setelah aku dewasa, aku akan menjadi orang yang tajam, baik secara pikiran maupun perasaan, oleh karenanya orang tuaku harus benar-benar menjagaku karena jika sampai aku salah jalan akan menjadi berbahaya.

Sejak aku ditolong oleh teman ayahku hingga saat ini aku tidak pernah bisa melihat penampakan makhluk gaib secara jelas, paling hanya bayangan-bayangan tidak jelas. Tapi aku selalu bisa merasakan kehadirannya jika makhluk itu sedang berada di dekatku. Dan entah tau darimana, seolah aku memiliki keyakinan jika aku memiliki semacam energi melalui mata. Hal itu datang begitu saja tanpa pernah kurencanakan atau kupelajari. Beberapa kali aku menghadapi orang kesurupan dan hanya melalui tatapan tajam ke matanya orang tersebut sembuh dengan sendirinya. Padahal aku tidak pernah melakukan ritual apapun atau menggunakan bacaan-bacaan khusus. Selain dalam hal gaib, terkadang aku menggunakan mata ketika hendak mempengaruhi seseorang atau bahkan mengintimidasi. Dan sejauh ini sangat sering berhasil. Entahlah aku hanya melakukan itu sesuai insting saja.

Usai aku bercerita tentang diriku tersebut kepada teman-temanku, mereka pun hanya manggut-manggut seolah menyadari sesuatu.

"Seperti yang gw duga, Ri. Elu emang punya sesuatu, tapi elu ga menyadarinya. Entah itu dari orang yang nolong elu waktu bayi dulu entah dari keturunan, gw juga ga tau karena bisa aja begitu mengingat paman elu juga punya kemampuan yang didapat dari keturunan. Gw rasa nenek moyang elu dulu bukan orang sembarangan" ucap Hakim.

"Terus hubungannya sama rencana kalian tadi soal mau bongkar misteri teror cekik ini apaan?" Tanyaku.

"Kita lagi mikirin mau pake kemampuan elu juga buat ngelawan teror ini" kali ini Rahmat ikut angkat bicara setelah sejak tadi hanya menjadi pendengar.

"Gila... Gw ga berani. Lagian gw juga ga ngerti gimana caranya dan gw ga yakin kalo gw punya kemampuan. Selama ini gw ngerasa semua itu cuma kebetulan doang" sahutku.

"Ya lu lakuin seperti yang biasa lu lakuin aja, Ri. Gw yakin kita semua bareng elu bisa ngelawan teror ini. Besok kita ketemu Pak Sholihin dulu. Kita konsultasi dulu sama beliau apa yang perlu dilakukan" ucap Khamid.

"Gw pikir-pikir dulu deh. Masih ga yakin gw." Ucapku.

"Yang jelas kita, pemuda kampung ini, udah jengah sama teror ini. Kalo kita ga ngelawan, tahun depan dan seterusnya bakal ada lagi. Gw harap besok habis maghrib lu ikut datang ke rumah Pak Sholihin" ucap Rahmat.

"Ya udah kalo lu mau pulang istirahat. Tapi kalo mau ikutan nongkrong di sini juga boleh. Kita rencananya mau sampe subuh" ucap Hakim.

"Gw ikut di sini aja. Kopi gw mana?" Ucapku dan salah satu di antara mereka pun kembali menyeduh kopi untuk kita semua.

Malam semakin larut. Kami semua masih tetap terjaga ditemani bergelas-gelas kopi dan berbatang-batang rokok sembari ngobrol ringan tentang apa aja. Mulai dari membicarakan sosok Eva, gadis kampungku yang berparas cantik dan berbadan seksi yang suka mandi di kali hanya berbalut kain jarik saja sampai membicarakan rencana jahat mencuri buah mangga di kebun milik warga untuk dinikmati bersama dan obrolan-obrolan lainnya supaya kita semua bisa terus terjaga hingga pagi.

Ketika kami semua sedang asik mengobrol, tiba-tiba kami mendengar teriakan diikuti suara gaduh dari sebuah rumah yang letaknya tidak jauh dari pos ronda ini. Tanpa komando, kami semua berlari menuju sumber suara tersebut. Sesampainya di tempat tujuan, kami melihat sebuah rumah yang pintunya terbuka dan beberapa orang sudah berada di dalamnya. Ternyata itu rumah Pak Jamal dan kami melihat Pak Jamal sudah terduduk lemas dengan ekspresi wajah ketakutan.

Berdasarkan keterangan Pak Jamal dan istrinya, Tadi Pak Jamal terbangun dari tidurnya karena ingin buang air kecil. Baru keluar dari kamar, belum sampai keluar rumah tiba-tiba Pak Jamal dihadang sosok tinggi besar. Pak Jamal kaget lalu ingin berteriak. Belum sempat bersuara tiba-tiba sosok itu mencekiknya. Istrinya yang sempat mendengar suara mencurigakan pun keluar dari kamarnya dan mendapati Pak Jamal memegang lehernya seolah sedang berontak dari cekikan seseorang tetapi istri Pak Jamal tidak melihat siapapun yang mencekik suaminya. Spontan Istri Pak Jamal berteriak dan seketika Pak Jamal terjatuh lemas. Tidak lama kemudian kami dan para tetangga datang.

Kami hanya berusaha menenangkan Pak Jamal dan istrinya karena kami pun tak tau harus berbuat apa. Beberapa waktu kemudian kami kembali mendengar teriakan dari rumah lain. Tak lama terdengar lagi teriakan lainnya hingga empat kali kejadian di malam itu. Tak ayal, hal itu membuat kampung ini menjadi gempar di malam itu. Akhirnya hampir seluruh warga keluar dan berkumpul menjadi beberapa kelompok. Sedangkan para pemuda dan para pria membagi personil menjadi beberapa bagian dan menjaga setiap kelompok tersebut hingga pagi dengan membawa senjata seadanya.
Diubah oleh girisakya
ijin bangun istana, ditunggu updatenya
updatenya manaa
jateng bagian utaraemoticon-Hammer2
Diubah oleh abdirevolusi
muantabbbb..lanjut lah..
berteduh sekaligus gembok..

4. Penjagaan ; Waspada

Meski terhitung hanya terjadi empat teror malam itu, tapi berhasil membuat suasana kampung ini semakin mencekam. Raut wajah tegang dan takut jelas terlihat dari para warga yang berkumpul di beberapa halaman rumah. Tidak berbeda dengan orang-orang yang bertugas berjaga. Meski sesekali mereka saling melempar candaan untuk mencairkan suasana, tapi kewaspadaan tidak pernah terlepas sama sekali. Aku yang ikut berkumpul dan berjaga di salah satu kelompok menjadi saksi akan suasana tegang dan mencekam malam itu yang sama sekali tidak bisa mereka samarkan.

Ketika waktu telah memasuki subuh, satu per satu warga kembali ke rumah mereka masing-masing dan sebagian ke mushola untuk sholat subuh berjamaah. Seperti yang kami semua duga, ketika waktu telah memasuki subuh dan berlanjut pagi, teror itu tidak akan menyerang lagi. Usai sholat subuh, para warga masih berkumpul di mushola. Mereka berembug untuk mengatasi teror ini, dipimpin oleh Ketua RW dan Pak Sholihin selaku kyai sekaligus sesepuh kampung ini.

"Sepertinya teror kali ini berbeda dengan teror tahun-tahun sebelumnya" Ucap Pak Zaeni, ketua RW kampung ini.

"Dulu mereka tidak pernah menyerang warga di dalam rumah. Tapi tadi malam, kita semua tau, mereka sudah berani menyerang warga di dalam rumah" sambungnya.

"Jadi, kita harus bagaimana, pak?" Tanya Pak Rohman, salah satu warga.

"Menurut saya, untuk sementara setiap malam kita berkumpul seperti tadi malam. Terutama bagi wanita dan anak-anak. Kita bagi menjadi 5 kelompok. Pemuda dan pria yang masih kuat bertugas berjaga. Nanti kita data ada berapa orang kemudian kita bagi sesuai jumlah kelompok" ucap Pak Zaeni.

"Tempat berkumpulnya di mana saja pak?" Tanya salah satu warga.

"Dirumah saya, Pak Rohmat, Pak Jaka, Pak Hasan dan Pak Jumali. Itu saya pilih karena mempunyai halaman yang cukup luas dan jaraknya tidak terlalu jauh setiap rumahnya. Jadi bisa mempermudah kita untuk saling berkoordinasi" Ucap Pak Zaeni.

"Kita berkumpul mulai selepas sholat isya, sampai subuh. Pak Sholihin, jika ada yang perlu ditambahkan saya persilahkan" sambungnya.

"Saya setuju dengan usulan Pak Zaeni. Untuk sementara itu yang bisa kita lakukan. Sebagai tambahan, kita tutup semua jalan masuk ke kampung kita setiap malam dan tempatkan penjaga di sana. Jika ada orang asing atau bukan warga sini masuk, harap diminta KTP dan tanyakan keperluannya. Jika mencurigakan langsung amankan. Tapi saya mohon untuk tidak menggunakan kekerasan. Nanti malam selepas maghrib saya minta semua pemuda dan laki-laki dewasa yang hendak ikut berjaga untuk berkumpul di rumah saya. Saya akan memberi sedikit bekal" ucap Pak Sholihin.

"Baik, saya rasa cukup untuk pertemuannya. Nanti siang saya akan memberikan informasi pembagian warga dalam kelompok dan peraturan dalam kelompok. Saya minta semua bisa bekerja sama dan tidak menentukan kelompoknya sendiri-sendiri sesuka hati supaya mempermudah saya membuat data anggota setiap kelompok. Pertemuan ini saya bubarkan. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh" ucap Pak Zaeni menutup pertemuan pagi itu diikuti para warga membubarkan diri setelah menjawab salam.

Tidak ada kejadian apapun yang berhubungan dengan teror cekik ini pada siang harinya, Pak Zaeni selaku ketua RW mendatangi rumah warga satu persatu untuk memberikan pengumuman mengenai pembagian kelompok dan peraturan di dalam kelompok tersebut. Salah satunya adalah warga dilarang meninggalkan kelompoknya tanpa alasan jelas dan tanpa didampingi warga lain dan salah satu penjaga. Hal ini dilakukan demi keamanan warga sendiri.

Petang menjelang, adzan maghrib pun berkumandang. Aktifitas warga masih seperti biasanya. Mereka berbondong-bodong datang ke mushola untuk sholat maghrib berjamaah. Usai sholat maghrib, para pemuda dan pria dewasa yang siap dan bersedia untuk berjaga berkumpul di dalam, teras dan halaman rumah Pak Sholihin. Usai melakukan doa bersama yang dipimpin oleh Pak Sholihin, satu persatu dipanggil ke dalam rumah untuk minum air putih yang telah diberikan doa. Aku pun tidak ketinggalan ikut di sana. Menjelang isya' semuanya telah selesai dan kami pun membubarkan diri untuk sholat isya' dan bersiap ikut berjaga di kampung ini. Pembagian tugas sudah dilakukan, kami tinggal menempatkan diri sesuai posisi dan tugas masing-masing nantinya.

Malam semakin larut, kegelapan dan suasana kelam semakin menguasai kampung ini. Meski penerangan listrik telah merata masuk desa kami sejak bertahun-tahun lalu, tapi di beberapa tempat masih sangat minim penerangan, terutama di lahan-lahan kosong yang belum terpakai. Hembusan angin yang meniup ujung-ujung pohon bambu dan pohon mindik yang menjulang tinggi yang banyak tumbuh di kampung ini sukses membuat suasana semakin mencekam. Bulan muda yang masih belum genap separo tak cukup menambah penerangan, justru membuat suasana semakin kelam. Meski langit cerah, tapi tak mampu ikut mencerahkan raut muka para warga yang telah berkumpul dalam kelompok-kelompok demi mendapatkan jaminan keamanan dan keselamatan dari teror cekik yang saat ini sedang menyerang kampung ini.

Para pemuda dan pria dewasa yang berjaga terus berusaha memecah ketegangan dengan obrolan dan candaan khas kampung ini, namun kewaspadaan tak pernah lepas dari mereka. Singkong rebus, kacang rebus, jagung rebus dan beberapa jenis makanan tradisional lainnya dipadukan dengan seduhan kopi hitam pekat menjadi kawan akrab untuk membunuh rasa kantuk yang biasa menyerang ketika malam semakin larut. Tak lupa gemeritik bara rokok kretek sesekali terdengar ketika mereka menghisap salah satu candu yang dipercaya mampu meningkatkan kewaspadaan dan konsentrasi. Setiap satu jam sekali, beberapa orang penjaga berkeliling kampung, menyisir dari rumah ke rumah hingga ke lahan-lahan kosong untuk mencari sesuatu yang mencurigakan dan untuk antisipasi pengamanan.

Malam kini telah memasuki fase sepertiga terakhirnya. Para wanita dan anak-anak sudah terlelap dalam tidurnya sejak beberapa jam yang lalu. Meski terlihat tenang, tapi jelas terlihat jika mereka tidak bisa terlelap dengan cukup nyenyak akibat rasa takut yang juga ikut menemani mereka. Para penjaga masih tetap siaga dengam tugas mereka masing-masing. Tak berapa lama terdengar suara gaduh dari kentongan yang dipukul berkali-kali secara konstan. Ternyata suara tersebut berasal dari beberapa penjaga yang sedang berpatroli keliling kampung. Tanpa komando, beberapa orang lainnya menyusul ke sumber suara. Ternyata mereka sedang berada di dekat rumpun pohon bambu di salah satu lahan kosong.

"Ada apa?" Tanya salah satu warga yang baru datang.

"Tadi kami sedang keliling, pak. Awalnya kami curiga di bekang rumah Pak Yusman ada sesuatu yang bergerak seperti ada seseorang yang sedang mengendap-endap. Kami pun inisiatif mendatanginya, sesampainya di belakang rumah, kami melihat bayangan hitam bergerak sangat cepat menuju ke pohon-pohon bambu ini. Kami pun mengejarnya sambil memukul-mukul kentongan untuk memanggil yang lainnya. Ketika kami sampai di sini bayangan itu sudah tidak ada lagi dan kami menemukan ini" ucap Hakim yang ternyata tadi ikut berkeliling sambil menyerahkan sebuah benda yang terbungkus kain hitam.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
redbaron dan 3 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di