alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cinta Dua Generasi (Novel bukan Picisan)
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d737b37c820844e0149b49f/cinta-dua-generasi-novel-bukan-picisan

Cinta Dua Generasi (Novel bukan Picisan)

Tampilkan isi Thread
Halaman 2 dari 6
4. Belum sempat aku bermain detektif untuk mencari tau siapa pemilik lukisan ini, kudengar teriakan dari arah pintu kelas. Seakan menjawab pertanyaanku, datangla si pemilik kertas ini, Vienna.

"Mengapa kau membuka-buka barangku?" geramnya sambil berjalan ke arahku.



"ini lukisanmu?" tanpa menjawab ia langsung mengambil kertas ditanganku, dan ditatapnya mataku dengan mata tajam indahnya

"Sangat tidak sopan, membuka barang milik orang lain tanpa izin."



"Maaf, aku tidak tidak tahu kalau kertas ini milkmu, aku menemukannya di lantai."

"Baiklah kalau begitu." Ucapnya lalu duduk di kursinya.

Rasa penasaran ini sungguh tidak bisa dibendung lagi, tanpa bisa kucegah mulut ini dengan sendirinya berbicara

"Kalau boleh tahu, apakah itu gambar masa kecil dirimu?"tanyaku pelan dan ragu.

"Bukan, dan kurasa kita tidak sedekat itu untuk aku menceritakan tentang diriku."

Kata-katanya membuatku menyesal telah bertanya, kukutuk mulutku yang seenaknya saja berbicara terlebih kepada seorang bidadari cantik ini.

"Baiklah, maaf kalau begitu."

"Tidak perlu meminta maaf, sebaliknya mari kita berteman, sudah hampir setahun kita duduk sebelahan, tetapi sangat jarang kita ngobrol."

"Tentu saja." kataku kikuk, karena memang aku tidak tahu bagaimana cara berteman, dan belum ada yang mengajakku berteman seperti ini.



tteett...tteett



Lagi-lagi, bel tanda istirahat berakhir, dan kedatangan seorang guru mengakhiri percakapan kami. Maka, fokuslah aku kedepan, ke arah guru matematika yang sedang menjelaskan tentang persamaan kuadrat.

"Karena sekarang kita berteman, ada satu hal yang sangat ingin kutanyakan padamu." tanyanya membuyarkan fokusku.

"Apa?"

"Aku dengar kamu dapat beasiswa penuh benar?"

"Benar, kenapa?"

"Benar dugaanku, kau anak yang pandai, nilaimu pasti sangat bagus saat smp, juga pasti banyak sertifikat lomba telah kau dapatkan."

"Tidak juga"

"Jangan merendah, banyak orang pintar bersekolah disini, tetap saja mereka tidak mendapatkan beasiswa."

Benar juga katanya, pikirku. Memang niat awalku mendaftar di sekolah ini hanyalah iseng belaka, yakin seratus persen aku tidak mungkin dapat keterima, apalagi dapat beasiswa penuh, tapi tidak pernah benar-benar aku pikirkan, bagaimana orang sepertiku bukan hanya diterima di sekolah ini, tetapi juga beasiswa, penuh pula!

"Entah, aku juga tidak yakin Vienna, seingatku, aku tidak pernah mengikuti lomba, juga nilai smpku memang dapat dikatakan bagus, tetapi masih banyak yang jauh diatasku nilainya."

"Panggil saja Vie, Hmmm, kalau begitu mungkin, maaf, karena keadaan ekonomimu membuat mereka memberikan beasiswa."

"Mungkin."

"Kalau begitu, boleh sekarang aku bertanya siapa anak perempuan dalam lukisan itu?"tanyaku sedikit ragu.

"Bukan perempuan Bim, tapi Lelaki." Raut wajahnya berubah, sepertinya dia tidak ingin membahas tentang lukisan itu. Aku pun mencoba untuk mengubah arah pembicaraan.

"Lukisanmu bagus Vie, ingin jadi pelukis kau?"

"Terimakasih, memang aku gemar melukis, tapi tidak lebih. Tak pernah terpikirkan olehku untuk berkarier sebagai pelukis, bagaimana denganmu?"

"Bagaimana denganku bagaimana?"

"Apa cita-citamu Bim?"

"Belum terpikir, tapi aku ingin berkuliah di luar negri, merintis karier, dan keluar dari jurang kemiskinan ini Vie. Tentang jurusan ataupun pekerjaan, aku masih tidak yakin." Benar juga, sudah seharusnya aku memikirkan tentang jurusan yang aku ambil, dan pekerjaan macam apa yang aku ambil nanti.

"Oh, semoga berhasil kalau begitu." Tidak ingin mengakhiri percakapan ini,

"Sudah lama kau berpacaran dengan Robert?"

Vienna, terdiam beberapa saat sebelum menjawab, kulihat ada sedikit keraguan di wajahnya.

"Hampir 2 tahun."

"Kalian bersekolah di smp yang sama?"

"Iya."

Ingin aku melanjutkan percakapan ini, tapi suara Bu Anna mengakhiri percakapan kami.

"Bima Tabara, maju kamu kerjakan soal ini" Kurasakan tatapan dari puluhan pasang mata murid.

Bukan perkara besar menyelesaikan soal itu, beruntung aku tidak punya teman, sehingga waktu di kelas kuhabiskan untuk belajar dan fokus mendengarkan penjelasan, bukan hal yang susah bagiku untuk menyelesaikan soal itu. Baru saja aku hendak kembali ke tempat dudukku, Bu Anna menghardik:

"Bima, ini peringatan pertama. Jangan lagi kau ganggu murid lain yang ingin belajar, ini sekolah tempat belajar bukannya tempat bercengkrama." Aku hanya menunduk, sungguh tidak adil. Banyak sekali murid yang ribut di kelas ini, tetapi sekalinya aku ribut langsung dijadikan perkara.

"Sekarang, silahkan kembali duduk, dan jangan ganggu Vienna lagi."

"Maaf ya, gara-gara aku kau jadi kena semprot Bu Anna."Ujarnya pelan.

"Bukan salahmu Vie" Jawabku lalu mulai mencatat pelajaran, begitu juga Vienna.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
penikmatindie dan 8 lainnya memberi reputasi
Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Siap gan, makasih atas supportnyaemoticon-Wowcantik
emoticon-Wowcantik
profile-picture
penikmatindie memberi reputasi
keren 👍👍👍👍 Ditunggu lanjutannya bro 👍
Semangat nulisnya ya, kak emoticon-2 Jempol
kasihan tuh Bima, tapi emang sih. ngobrol di saat jam pelajaran emang gak baik.
strata sosial... cerita yg menarik.. lanjut gan..
5."Selesaikan dulu tugasmu ini." tegasku, memang sudah beberapa minggu terakhir ini, Meisha memintaku untuk membantunya belajar setelah toko tutup, memang aku tidak minta digaji, karena sudah kuanggap Meisha ini sahabatku, tapi tetap saja Koh Hendra biasanya memberiku sedikit uang setelah aku mengajari Meisha. Uang jajan katanya.
"Tidak, ceritakan dulu mengapa hari ini kau senyum-senyum terus Bim? ada hubungan dengan bidadarimu kah? "rengeknya. Memang aku sering menceritakan kepadanya tentang seorang gadis cantik yang kuanggap seorang bidadari, Vienna.

"Sungguh tidak ada apa-apa Mei, hanya saja hari ini dia mengajakku berteman."
"Berteman dengannya saja sudah membuatmu ceria seperti orang gila, senyum-senyum sendiri, tidak bisa kubayangkan kalau nanti kau berpacaran dengannya." jawabnya ketus.
"Tentu saja aku senang karena dia satu-satunya temanku di sekolah. Dan tidak mungkin aku berpacaran dengannya Mei. Akukan pernah cerita, dia sudah ada pacar, bukan hanya rupawan, kaya raya, juga cerdas Mei."
"Persis seperti kau Bim. Hanya saja beda nasib." Apakah baru saja dia mengatakan aku juga tampan? entahlah, tak ingin membahas Vienna lagi, aku pun kembali membantunya mengerjakan tugas sekolahnya, dan mengajarinya beberapa pelajaran yang ia tidak mengerti.

"Hati-hati Bim" ucap Meisha, setelah aku keluar dari rumahnya untuk pulang ke rumahku.
Sambil berjalan, masih aku memikirkan tentang teman yang baru kudapatkan itu. Mungkin karena hanya Mei lah teman yang aku punya, sehingga senang  bukan main aku ketika mendapatkan teman baru. Sebuah teriakan gadis yang kukenal membuyarkan lamunanku, segera aku melihat ke arah suara, beberapa meter didepanku, kulihat 4 preman jalanan, yang dulu sempat menganggu toko Koh Hendra sedang menertawakan dan menganggu seorang gadis. Entah apa perkaranya, aku yakin pasti mereka sedang atau berniat melakukan suatu hal yang buruk.
"Vienna!" teriakku, sontak membuat mereka menoleh kearahku, dan langsung saja Vienna belari ke belakangku, menyembunyikan badannya dibalik punggungku.
"Kau yang kemarin sudah berani mengancam kami kan?" Hardik pria yang berbadan paling besar dan kuanggap sebagai ketua mereka.
"Benar, dan akan kulakukan lagi jika kalian tidak minggir." Kukeraskan suaraku. Akupun tak yakin apakah trik ini bisa berhasil seperti dulu lagi. Benar kiraku, tiba-tiba, dikeluarkan pisau dari pinggangnya sambil tertawa meremehkan. Kurasakan sesuatu menarik bajuku semakin kencang, kulihat ke belakang, wajah Vienna menjadi pucat, dan keringat bercucuran, tetap tidak bisa mengurangi kecantikannya.
"Mari kita lihat, lebih cepat polisi datang atau lebih cepat pisau ini?"ancamnya, sambil mengacungkan pisau ke arahku. Segera, aku lepaskan tangan Vienna dari bajuku dan mengisyaratkannya untuk menjauh.
Setelah Vienna mundur beberapa langkah, dan berada di aera yang cukup aman, langsung saja aku mengambil kuda-kuda seperti yang pernah kupelajari. Sedikit ragu, karena sudah lama aku tidak berkelahi, tidak yakin bisa menang, tetap saja aku beranikan diri.
Kucoba untuk melucuti pisau dari tangannya, ternyata ia tidak tahu teknik silat sedikitpun, dengan mudah pisaunya sudah berpindah kepemilikan, sekarang akulah yang megacungkan pisau ke arahnya.
"Pergilah, dan jangan ganggu kami lagi." Tanpa menjawab mereka pun langsung pergi, setelah mereka menghilang dari pandangan, aku merasakan sebuah tangan dengan gemetar menyentuh punggungku. Berbalik badan, ku tepuk-tepuk bahunya menenangkan.
"Tidak usah takut, mereka sudah pergi. Lagipula apa yang kau lakukan malam-malam begini sendirian?" Vienna tidak menjawab, sepertinya masih terkejut dengan kejadian yang baru saja dialaminya, kulihat badannya masih gemetar. Kutariklah tangannya menuju ke tempat nasi goreng langgananku dan Meisha. Kira-kira sekitar 2 menit berjalan,
kami sampai dan masih saja kurasakan badannya gemetar, walaupun memang tidak separah tadi.
Segera aku duduk-kan dia di salah satu kursi, dan akupun duduk di sebrangnya.

Teringat olehku, aku baru saja melakukan kesalahan membawanya kesini. Baru aku ingat kalau Vienna adalah murid B.I.S. tentu saja ia terlahir dari keluarga yang kaya raya, dan pacarnya Robert sudah pasti sering membawanya ke restoran-restoran mahal. Memikirkan itu membuatku menjadi malu, mengajaknya ke warung kaki lima seperti ini.
"Terimakasih sudah menolongku" badannya sudah tidak gemetar lagi, sepertinya dia sudah bisa sedikit lebih tenang sekarang.
"Tidak masalah, kau adalah temanku, tentu sudah seharusnya aku menolong, dan apa yang kau lakukan disini malam-malam begini sendirian?" mengulagi pertanyaan tadi.
"Sebenarnya, aku sedang mencari seseorang, kau sendiri mengapa ada disini?"
"Rumahku berada disekitar sini Vie, barangkali aku bisa membantu, siapa nama orang yang hendak kau cari itu?"
"Wulan." Setahuku, hanya bundaku yang bernama Wulan di daerah ini.
"Eh, Bima tumben gak bareng neng Meisha? pesan kayak biasa Bim" tiba-tiba Roy penjual nasi goreng memotong pembicaraan kami, kembali aku teringat kesalahanku telah membawanya kesini. Ragu, tidak tahu apa yang harus aku katakan.
Seakan mengerti yang ada dipikiranku, Vie menjawab santai.
"Aku nasi goreng satu ya, agak pedas."
"Siap" Segera Roy kembali ke gerobaknya dan memasak.
"Kamu mau makan ditempat seperti ini Vie?"
"Tentu saja Bim, makanan di pinggir jalan jauh lebih nikmat dari makanan di restoran-restoran mewah, menurutku."
"Bagus kalau begitu, sungguh jarang ada anak orang kaya yang berpikiran seperti itu."
"Siapa bilang aku anak orang kaya?"
"Pendidikanmu, pacarmu, juga wajahmu"
"Hanya karena aku bersekolah di B.I.S. dan memiliki hubungan dengan Robert bukan berarti aku berasal dari keluarga yang kaya raya Bim." Katanya, "Juga, apa hubungannya dengan wajahku?" Jawabannya sungguh membuatku terkejut, jika dia bukan dari kaya raya, bagaimana mungkin dia bisa bersekolah di B.I.S. Sedikit ragu, kujawab.
"Cantik Vie."Jawabku singat.
Sekilas, kulihat pipinya memerah.
"Terimahkasih, siapa itu Meisha?pacarmu?"tanyanya
"Bukan, dia adalah sahabatku, juga anak dari pemilik toko kelontong tempatku bekerja."
"Bundaku pernah berkata, Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri." Sambil ternsenyum, ia melanjutkan
"ngomong-ngomong apa ada orang bernama Wulan tinggal di sekitar sini?"
"Setahuku, hanya satu orang bernama Wulan disekitar sini, dan orang itu adalah bundaku, dan kurasa tidak mungkin dia orang yang kau cari." Kataku, "Lagipula ada urusan apa dengan orang yang bernama Wulan itu?sampai-sampai berpergian sendiri malam-malam.
"Hanya seorang kenalan lama Bim, boleh sekiranya kau antarkan aku kerumahmu untuk melihat bundamu?"
"Tentu saja, tapi dapat kupastikan tidak mungkin kau mengenali ibuku Vie, aku sudah tinggal disini kurang lebih 10 tahun, semenjak aku berusia 6 tahun, dan tidak pernah aku melihat ibu bertemu orang seperti kau." Kenangan samar-samar dari masa lalu muncul lagi.  Masih dapat kuingat meski samar, hari dimana aku dan bunda pergi dari sebuah rumah, rumah yang besar seingatku.
"Setidaknya, aku ingin memastikan informasi yang kudapat ini Bim."
Hendak aku bertanya lebih jauh, tapi Roy terlebih dahulu datang dengan nasi gorengnya yang nikmat tiada tara.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
penikmatindie dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh notararename
Tabara barata... Mirip sih.. 😀
wah jangan-jangan Bima dan Vie adalah saudara nih....
jgn" vienna itu anaknya ibunya bima..
Quote:


Quote:

yakin?:v ditunggu aja gan ceritanyaemoticon-Wow
emoticon-Sundul
profile-picture
michaaaaa memberi reputasi
Lanjut lagi dong gan ceritanya . Seru nihemoticon-Hansipemoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Gan
Vienna kayaknya semenjak dr kecil sdh dijodohkan dengan bima...

*Ikutikutankepocritanya
emoticon-Ngakak
6."Dimana rumahmu Vie? lebih baik kuantar pulang setelah kau memastikan bahwa bundaku bukanlah orang yang kau cari." Sekarang kami sedang dalam perjalanan kearah rumahku.
"Untuk sekarang sebaiknya kau tidak perlu tahu dimana aku tinggal Bim, aku akan menelepon sopir untuk menjemput." Kata-katanya berkontrakdisi dengan yang diungkapnya sebelumnya bahwa ia bukanlah terlahir dari orang kaya, sekarang ia berkata kalau akan ada seorang sopir datang untuk menjemputnya. Mungkin tadi ia mencoba untuk merendah agar aku tidak merasa tidak nyaman, pikirku tidak ingin berpikiran yang tidak-tidak.
"Baiklah kalau begitu"
"Ngomong-ngomong bagaimana caranya kau bisa melawan preman tadi, dan sepertinya tadi bukanlah pertemuan kalian yang pertama."tanyanya.

Tidak banyak yang tahu bahwa, dulu aku pernah belajar silat kurang lebih 3 tahun lamanya. Masih teringat dengan jelas, pertemuan pertamaku dengan Meisha, sekaligus alasan bunda menyuruhku belajar silat. Itu adalah hari pertamaku masuk salah satu smp di Jakarta. Aku melihat ada seorang gadis yang sedang menangis karena dirundung oleh kakak kelasnya. Memang, sedari kecil aku bunda selalu mengajarkanku bahwa lelaki yang membuat seorang wanita menangis adalah seorang yang jahat. Aku yang tidak tega, juga didorong oleh ajaran bunda langsung memukul salah satu dari kakak kelas yang sedang merundung Meisha. Alhasil, akhirnya akulah yang dihajar habis-habisan dan diberi sanksi berupa skors selama 3 hari. Awalnya bunda memarahiku karena pulang dengan baju yang kotor, dan wajah lebam, tetapi setelah kujelaskan perkaranya ia langsung mengajakku pergi ke salah satu kenalanannya seorang guru silat yang cukup terkenal. Entah bagaimana ia bisa memiliki kenalan seorang guru silat, bahkan bisa membuatku belajar silat secara gratis. Bunda hanya berpesan kepadaku bahwa ia mengajakku belajar silat, bukan agar aku bisa berkelahi, tetapi agar aku kelak dapat menjaga seseorang yang aku sayangi, termasuk diriku sendiri. Semenjak hari itu aku dan Meisha menjadi dekat, dan dia menawariku bekerja di toko milik ayahnya.

"Oh, tidak pernah aku menyangka ternyata kau bisa berkelahi Bim, dan sepertinya kau sungguh peduli terhadap sahabatmu Meisha, barangkali kau ada perasaan lebih untuknya?" goda Vienna.

Sebenarnya, aku tidak pernah menceritakan kehidupan pribadiku dengan orang lain, selain Meisha. Tapi baru saja kuceritakan padanya peristiwa di toko kelontong satu tahun yang lalu saat preman itu menganggu toko Meisha, awal mula pertemuanku dengan Meisha, dan bagaimana aku bisa belajar silat. Entahlah, mengapa didekat Vienna, kepribadianku berubah, dari yang tertutup menjadi terbuka.

"Tentu saja, Meisha dan ayahnya sudah sangat baik kepadaku selama ini Vie, juga dia temanku satu-satunya, wajar saja jika aku peduli." Kurasakan ada sepasang mata menatapku tajam, seakan kurang setuju dengan perkataanku barusan. Tersadar akan sesuatu, segera aku melanjutkan.
"Beruntungnya, sekarang sudah bertambah satu temanku." Aku menoleh kearahnya, dan kamipun tertawa, dan melanjutkan perjalanan ke rumahku.

"Nah, itu rumahku" sambil mengarahkan jariku ke arah sebuah rumah kecil, kulihat sepeda yang biasa kugunakan untuk pergi ke sekolah, tidak ada di teras. Langsung saja hatiku berdegup kencang, cemas aku langsung berlari ke rumah dan memanggil bunda.
"Bunda!!" teriakku, sambil mengetok pintu. Tidak ada sahutan, aku mengintip dari kaca ternyata lampu belum dihidupkan, yang berarti bunda tidak ada di rumah, sedikit aku merasa lega, mungkin saja bunda sedang menggunakan sepedaku untuk pergi ke suatu tempat, tapi kemana? tidak biasanya bunda tidak di rumah jam segini.
"Kenapa, gusar seperti itu Bim? ada apa?"tanyanya sambil menepuk bahuku. Tidak ingin membuatnya khawatir, aku menjawab :
"Maaf Vie, sepertinya bunda sedang tidak di rumah."
"Tidak apa-apa Bim, mungkin lain kali" Lalu, dia membuka ponselnya, dan berkata
"Kalau begitu, aku pulang dulu Bim sopirku sudah menunggu di pinggir jalan itu" jawabnya sambil menunjuk ke jalan raya di ujung lorong tempatku tinggal.
"Oke Vie, mari aku antar sampai kau masuk mobil"
Ia hanya mengangguk dan tersenyum, lalu berjalanlah kami menuju ke jalan raya di ujung lorong tempatku tinggal.

Tambah yakin aku, kalau Vienna ini memang orang kaya, meskipun aku tidak tahu banyak tentang mobil, tapi dari desain-nya dapat kupastikan kalau ini mobil mahal. Sebelum pergi, Vienna membuka kaca mobilnya untuk berpamitan, sekilas kulihat wajah sopirnya dalam kegelapan, sungguh aku merasa tidak asing dengan wajah si sopir sungguh rasanya pernah aku melihat wajahnnya entah dimana dan kapan. Akupun tersenyum kepadanya dan, ia balas tersenyum kepadaku sambil menganggukan kepala botaknya, lalu mobilpun berjalan pergi dari pandanganku, akupun berjalan pulang ke rumah.

Kubuka kamar bunda, berharap bunda meninggalkan pesan barangkali dalam belum secarik kertas, karena bunda tidak memiliki ponsel, juga aku tidak menemukan pesan apapun di ruang tamu.
Ini adalah pertama kalinya aku masuk ke kamar bunda, setelah kurang lebih 7 tahun. Karena bunda pernah melarangku masuk ke kamarnya, entah apa alasannya aku tidak terlalu memikirkannya, tidak ada juga niatku untuk memasuki kamarnya, hingga hari ini aku memutuskan untuk memeriksa kamarnya. Mungkin saja dia meninggalkan pesan disini pikirku, dan jika masih aku tidak menemukan apa-apa maka aku akan mencari bunda, karena seingatku bunda tidak pernah keluar rumah jam segini.

Aku duduk di kasur bunda, untuk berpikir kira-kira apa yang harus kulakukan, karena bunda tidak meninggalkan pesan apa-apa. Tapi, kurasakan ada sesuatu yang mengganjal di bawah kasur bunda. Kemudian, aku angkat spreynya dan kulihat banyak sekali tumpukan amplop putih, kurang lebih ada sekitar 80-an. Kulihat, tertera inisial pengirim semua amplop tersebut : H.B.
Kuambil salah satu amplop yang berada paling atas, segelnya masih utuh, menandakan bunda tidak pernah membukanya. Kucoba untuk meraba kira-kira apa isinya, dan kurasakan seperti tumpukan kertas di dalam kertas ini, tidak yakin akupun mengambil amplop lain yang berada dibawahnya. Sama saja, masih utuh segelnya dan dapat kurasakan tumpukan kertas saat kuraba.
Amplop yang berada paling bawah menarik perhatianku. Segelnya sudah terbuka, langsung saja kuambil, kukeluarkan isinya. Mataku membelalak melihat isinya, puluhan lembar uang ratusan ribu, dan secarik kertas : sebuah surat. Tambah kaget aku ketika aku tersadar, bahwa kemungkinan besar amplop yang lain juga berisi uang segini banyaknya. Kucoba untuk membuka salah satu amplop yang lain, dan betul saja dugaanku, isinya puluhan lembar uang ratusan ribu, hanya saja tidak ada surat di dalam amplop ini. Banyak sekali yang ingin kutanyakan kepada bunda. Bagaimana bisa dia membohongi aku selama ini, dengan menyembunyikan uang ini. Seharusnya dengan uang segini banyak, setidaknya bunda bisa menyewa tempat tinggal yang lebih baik dari tempat tinggal yang sekarang. Bukannya tidak bersyukur, hanya saja sangat disayangkan menyimpan uang sebanyak itu, tetapi hidup melarat.
Teringat akan sebuah surat yang belum sempat kubaca. Segera, aku memasukkan kembali uang bewarna merah itu ke dalam amplop, dan kubukalah surat itu, ditulis tangan :

Agustus, 2010.
Teruntuk Sayangku,
Bagaimana kabarmu? aku harap kamu baik-baik saja.
Pasti berat untukmu tiga tahun terakhir ini.
Memang seharusnya kusampaikan ini secara langsung, tetapi aku juga tahu tidak mungkin kamu mau menemui aku, mendapat balasan surat darimupun rasanya tidak mungkin.

Sudah lama aku ingin menuliskan sepucuk surat untukmu, tapi istriku selalu saja mengawasi aku.
Sekarang, istriku sedang sakit keras, langsung kugunakan kesempatan ini untuk menuliskan surat untukmu. Sungguh ironi, penderitaan seseorang adalah kebahagiaan untuk seseorang lainnya.
-----

Maafkan aku yang sudah mengingkari janji.
Tapi, tentu aku tahu tidak mungkin kamu dapat memaafkanku.
Bahkan, akupun tidak akan memaafkan diriku, seandainya aku adalah kamu.
Jujur sungguh selama tiga tahun terakhir ini aku selalu merindukanmu, juga anakku yang saat ini tentu saja sudah berusia sembilan tahun.

Belum sempat aku membaca keseluruhan isi surat tersebut, sebuah tangan menarik surat itu secara paksa.
"Bukannya sudah bunda bilang jangan masuk ke kamar bunda?" Mengamuk,
"Sekarang, bukan hanya masuk ke kamar bunda, kamu juga sudah membuka barang-barang milik bunda." Aku berdiri dari kasur, dan meminta penjelasan.
"Aku masuk ke kamar bunda karena mengira bunda mungkin meninggalkan surat tentang kemana bunda pergi, kan memang bunda biasanya selalu berada di rumah jam segini. Lalu, surat dari siapa itu? apakah itu ayahku? Jika memang itu ayahku mengapa bunda tidak menjawab saat aku bertanya tentang ayahku dulu, sehingga aku berpikir bahwa ayahku sudah meninggal." Suaraku meninggi, "Dan uang itu, bukannya menggunakannya, bagaimana bisa bunda menyembunyikannya, untuk makanpun kita kesusahan. Dengan uang itu, sungguh bisa membantu kita Bunda." Bunda memotong perkataanku, matanya merah, ia berkata :
"Tidak! kamu tidak memiliki ayah Bima, ayahmu sudah meninggalkanmu sejak hari pertama kau datang ke dunia ini! Bunda juga tidak sudi untuk menggunakan uang itu, uang itu Bima, tidak akan pernah bunda gunakan, karena bunda sudah tidak tahu siapa pemilik uang itu. Bunda sudah lama melupakan pria yang mengirimkan surat itu!" katanya, kini air mata mengalir di pipinya.
"Tapi Bima berhak untuk mengetahui siapa ayah Bima!" Teriakku. Bunda kini duduk di kasur, menangis deras. Ingin aku meneruskan amarahku, tapi melihat bunda menangis seperti ini, membuatku mengurungkan niatku. Aku berjongkok di hadapan bunda, dan kupeluk dirinya, tangisnya semakin kencang.
"Maafkan bunda, tapi bunda belum siap untuk menceritakan semuanya Bim.Maaf." ucapnya sambil terisak-isak. Kupeluk bunda, dan kini kurasakan air mataku menetes.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
idner69 dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh notararename
Lihat 1 balasan
ditunggu update-an nya 👍😁
Wiiih, tambah seru aja nih gan ceritanya. Mantabbb emoticon-Wowcantik emoticon-Wowcantik
profile-picture
notararename memberi reputasi
Dan makin kuat dugaanku, bahwa Bima dan Vienna mempunyai ayah yg satu.
profile-picture
notararename memberi reputasi
Disamping itu, mungkin ayahnya Bima menyuruh vienna untuk menemui ibunya bima pada saat itu
profile-picture
notararename memberi reputasi
yah, rasa penasaran nya gak kejawab dong, karena Vie gak jadi ketemu sama Bundanya Bima. emoticon-Big Grin
TERNYATA satu bangku, satu perusahaan, hanya beda pabrik aja..
lanjut suhu..
Halaman 2 dari 6


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di