alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
🚫 Let Me Tell You a Story (Konten Dewasa) 🚫
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d5cea74af7e93206a12fe3f/let-me-tell-you-a-story-konten-dewasa

🚫 Let Me Tell You a Story (Konten Dewasa) 🚫

Tampilkan isi Thread
Halaman 7 dari 24
Jadi greget .....mendidih rasanya darah ini...
Yang sabar yaa sis....
Jujur nulis ini affecting my real life. Aku jadi lebih sensitif, lebih gampang ketrigger.
Sebenernya aku itu belum baik-baik aja, sama sekali. Aku pura-pura baik-baik aja, aku simpen semuanya sendiri biar orang gak perlu kasihan sama aku atau nganggap aku ini butuh bantuan. Gak pernah sehari itu aku lewatin tanpa keinget masa lalu dan bikin mataku berkaca-kaca, bahkan liat orangtua sama anaknya aja aku udah pengen nangis, nyesek banget rasanya. Hidup aku penuh kebohongan, aku tutup-tutupi semua yang aku rasain.
Kalau ditanya capek apa enggak, aku capek, capek banget. Ngetik ini aja aku udah mau nangis lagi.
Kemarin abis maghrib, aku ketrigger lagi. Perkara sepele, merembet kesana-kemari. Aku yang ngerasa udah bisa nguasain jalan fikiranku ternyata gak bisa. Tadi malem aku udah sampai megang pisau dan pengen nyakitin diri sendiri lagi.
Yang aku ingat, selalu keluar narasi yang sama setiap ada orang yang tahu kondisiku yang kambuhan ini. Mereka pasti akan bilang "ngertiin posisi kita, kamu mati kita yang susah. Bisa gak sih ngertiin kita?". Dan itu gak memperbaiki aku, sumpah enggak. Aku malah makin serba salah, aku hidup malah nyakitin orang, aku matipun nyakitin orang. Aku selalu harus ngertiin kondisi orang, sedangkan aku juga butuh dimengerti. Gak nyaman, hidup aku itu gak nyaman sama sekali.
Insiden di chapter sebelum-sebelum ini belum jadi puncak masalahku, ada yang lebih parah dari ini yang bahkan tiap ingat itu aku pengen mati aja rasanya.
Udah curhatnya, aku lanjutin aja ceritanya ya...



Chapter 11 - Duniaku Abu-Abu Part 3
Ditelingaku aku mendengar suara ramai, ramai sekali. Seperti banyak orang wara-wiri di sekitarku, kudengar juga suara seseorang sesegukan dan tanganku rasanya seperti digenggam seseorang. Ah, tadi aku baru berbuat bodoh ya.
Tenggorokanku rasanya penuh, sesuatu seperti ingin keluar. Perut bawahku sakit rasanya, dan entah kenapa nafasku berat sekali. Kucoba membuka mataku perlahan-lahan, cahaya lampu masuk ke bola mata dan menyilaukanku. Pandanganku langsung bertemu dengan lampu ruangan, ruangan yang kukenal sekali. Ruang bangsal dengan aroma khas alkohol dan obat-obatan. Kulirik sebelah kiriku, ada beberapa orang yang kukenal sekali. Mas Ibra duduk di sebelahku dan menangis di atas punggung tanganku, Mbak Christy nampak tertunduk lesu di kursi belakang Mas Ibra. Haaah, aku merepotkan orang lagi.
Kugerakkan tanganku, Mas Ibra sontak menoleh. Dia nampak kaget sekaligus senang melihatku memandanginya.

"Dik, dik... Udah bangun kamu sayang?", Mas Ibra langsung menciumi keningku dan mengelus rambutku.
Aku hanya mengangguk pelan, Mbak Christy mendekatiku dan ikut mengelus rambutku. Mas Ibra bergegas memanggil perawat untuk memeriksaku (aku lupa di bagian ini apa yang mereka bicarakan). Perawat masuk dengan Dokter di depannya, mereka memeriksaku sebentar dan kemudian berdiskusi dengan Mas Ibra.
"Kamu sudah 2 hari gak sadar, Mila", Mbak Christy membuka obrolan sambil tetap mengelus rambutku.
Aku hanya menatapnya, "Aku sama Ibra mau telepon orangtuamu, tapi Ibra takut karena kamu bilang gak mau dibenci Ibu", lanjut Mba Christy.
Setelah itu, Mas Ibra dan Mba Christy menanyai apa yang aku rasakan, apa yang mau aku makan, dan hal-hal kecil lainnya. Tak ada sedikitpun pertanyaan mereka seputar apa yang terjadi atau kenapa sampai aku mau bunuh diri. Aku tau Mba Christy ingin sekali tau apa yang terjadi, mungkin Mas Ibra yang melarangnya bertanya. Mas Ibra juga nampak menahan sesuatu, seperti sedikit kaku dan agak marah namun berusaha tersenyum buatku. Aku sempat menanyakan biaya rumah sakit, Mas Ibra bilang dia yang menanggung karena aku berbuat bodoh di rumahnya dan itu jadi tanggung jawabnya. Dia juga melarangku berbuat bodoh lagi karena uangnya hampir habis untuk berobatku, disertai tawa bodohnya.
Aku diperbolehkan keluar dari RS 2 minggu kemudian, banyak teman-teman kampus yang menjengukku termasuk Eni. Eni tak banyak bicara saat itu, dia hanya memelukku dan diam setelahnya. Aku juga tak ingin menanyainya apa-apa (biasa, aku dan kemalasanku mencari perkara baru).
Bagian ini skip aja ya Gan, karena masih sakit, aku jadi banyak tiduran dan melamun di kamar. Ke kampus sebentar dan pulang lagi ke kost. Benar-benar seperti aku gak ada masalah.

--
Bulan demi bulan berlalu, luka jahitanku pelan-pelan sembuh. Tapi, aku masih tetap minum dan menyayat tanganku diam-diam dibelakang Mas Ibra. Ibu dan Ayah sesekali mengunjungiku sambil berbelanja kebutuhan bisnis mereka, dan aku tetap dengan kaos lengan panjangku untuk menutupi apa yang kulakukan, Mas Ibra juga tak pernah cerita apa-apa tentang apa yang terjadi padaku.
Hari itu pertengahan minggu, dan aku masih di kampus sambil menenteng botol minumku. Isinya bukan air putih Gan, alkohol. Kadang kucampur dengan minuman lain supaya aromanya tidak terlalu kentara saat aku di kampus. Sengaja aku pilih botol minum alumunium agar tak ada yang tahu apa isinya. Jujur sebenarnya aku takut melakukan itu, tapi kalau tak minum aku tak bisa tenang dan fikiranku kacau. Aku tak bisa konsentrasi belajar dan hanya bisa ingat insiden pemerkosaan itu. Sengaja juga aku pilih Capt. Morgan yang bagiku tidak ada efek besar jika kuminum dalam jumlah banyak karena kadarnya tidak terlalu tinggi.
Setelah mata kuliah kedua adalah jam makan siang, sengaja aku tidak bergabung dengan teman-temanku. Perutku terasa sakit sekali hari itu, yah sebenarnya sudah beberapa hari tapi aku tak begitu perduli. Aku izin tidak melanjutkan kelas ketiga dan terakhir hari itu dan begergas pulang ke kost. Di kost kubuka bajuku dan hanya mengenakan tanktop karena tubuhku rasanya panas, mungkin kebanyakan minum aku hari ini. Kuminum air putih sebanyak mungkin dan berbaring berharap rasa sakit itu segera pergi.
---
Pagi itu aku terbangun karena dikejutkan ketukan pintu kamarku, seingatku aku tak ada janji dengan siapapun. Mas Ibra juga pagi ini pasti sudah di kantor, fikirku sambil berjalan ke arah pintu dan membukanya. Saat pintu terbuka aku kaget karena Ibu dan Ayah sudah berdiri di depan kamarku membawa cake coklat kesukaanku lengkap dengan lilin menyala dan coklat batang bertuliskan selamat ulang tahun. Mereka menyanyikan selamat ulang tahun, dan memintaku meniup lilin.
"Yeeeey, selamat ulang tahun anak Mama Papa. Sengaja kasi surprise karena sekalian belanja kebutuhan bisnis", kata Ibu sambil memelukku.
"Selamat ulang tahun nak, makin sukses dan pintar kuliahnya yaa", timpal Ayah.
Aku meminta mereka masuk ke kamar dan duduk di sofa. Aku meletakkan kue di atas meja namun tiba-tiba Ibu menangkap lengan kananku. Aku meringis kesakitan, luka sayatan kemarin belum kering. DAN FAK AKU LUPA PAKAI KAOS LENGAN PANJANG, umpatku dalam hati.

Ibu menarikku duduk dan bertanya, "APA INI??????".
Aku diam dan hanya berani menunduk.
"Dik, jawab! Kamu kenapa heh???!!!", hardik Ayah kemudian.
"JAWAB PAPAMU!!", teriak Ibu lagi sambil mendaratkan telapak tangannya kencang sekali di pipiku. Telingaku berdenging, aku merasakan getir darah di lidahku. Ahhh, here we go again gumamku.
Melihatku tetap diam Ibu kemudian menjambak rambutku dan berteriak-teriak tak karuan tentang dia rugi menguliahkanku dan segala macamnya. Aku tetap bungkam. Ibu semakin murka dan menendangku sampai aku terjungkal dan kepalaku terhempas ke meja kaca di depan sofa. Nyeri langsung menjalar di kepalaku, terasa ada sesuatu yang mengucur, mungkin darah fikirku dalam hati.
Ayah tak membelaku sama sekali, dia hanya menatapku nanar. Seolah-olah dia juga sedang menahan gejolak amarahnya. Saat itu rasanya aku ingin sekali mengusir mereka, dan mengunci diriku sendiri. Atau aku yang kabur dan menjauh dari semua ini. Pergi dan hidup menggembel seorang diri, aku sama sekali sudah tak perduli. Sampai akhirnya Asisten Mas Ibra datang masuk karena mendengar keributan itu, Mbak Yanti kaget melihatku sudah tersungkur dengan dara mengalir dari keningku. Dia segera memelukku dan meminta Ibu untuk tenang dulu.

"Cerita aja Mbak Mila, ada Mbok Yanti disini. Sama Mbok ya nduk...", bujuknya.
Aku yang sudah lelah, sungguh aku lelah sekali dengan hidupku saat itu terpaksa menceritakan semuanya dari awal sampai akhir. Ayah diam, dia tak bersuara sedikitpun. Ibuku? Ibu menangis. Menangis sesegukan dalam diamnya, aku dan Mbak Yanti hanya diam.
Saat itu sempat hening beberapa saat, sampai Ibu akhirnya buka suara,
"Kamu, kamu memang anak setan. Anak sial. Kenapa sih yang kamu bawa itu petaka terus? Aib terus? Malu aku malu!!!!", bentaknya sambil menangis.
"Mulai detik ini, aku tak akan lagi kasih kamu biaya apa-apa. Terserah kamu mau seperti apa. Tapi jangan berani-berani kamu ceritakan hal ini ke siapa-siapa. Tutup mulutmu, jangan bikin malu keluarga ini lagi. Uangku sudah habis buatmu, dan sekarang aku juga harus bayar Ibra puluhan juta karena berobatmu! Kamu memang selalu bikin susah aku!!!! Satu lagi, cari Ricky itu. Kamu harus nikah sama dia, daripada kamu gak perawan dan cuma jadi aib keluarga!!", bentak Ibu sambil berlari keluar kamar. Ayah tetap diam, dia menatapku, mengambil beberapa lembar uang 100ribuan dari dompetnya dan menaruh di meja. "Kabari Papa kalau kamu sudah tenang dan buat keputusan. Papa juga akan tenangkan Mamamu", ucapnya sambil beranjak pergi dari kost. Kudengar deru mobil keluar dari pekarangan rumah.
Mbak Yanti hanya memelukku sambil menangis tersedu-sedu.

"Selamat Ulang Tahun, aku", gumamku lirih.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ariid dan 19 lainnya memberi reputasi
@Deadtree sama sis, menulis masa lalu itu emang kadang membangkitkan luka lama yang akhirnya bikin keadaan kita jadi keganggu. Tapi ini salah satu media kita buat unleash segala macem ganjalan yang ada di hati dan jiwa. Semangat menulis terus sis.
profile-picture
makgendhis memberi reputasi
Diubah oleh yanagi92055
sumpah gw emsosi sendiri klo bayangin ceritanya, semoga membaik dan tetep survive ya
bagus critany
ikut larut dalam story sista 😫
kejadian ini berapa tahun yg lalu sis?
yg masa kuliah nya ente?
wah gila sih ini, turut berduka sis.

Keep Strong

salut sih masih bisa bertahan hingga detik ini, kalau gw mah belum karuan strong seperti dirimu emoticon-Angkat Beer
Chapter 12 - Babak Baru

Pagi itu pukul 06.00 aku buru-buru keluar rumah dan pergi mengendarai sepeda motor yang kubeli dengan hasil kerja paruh waktuku. Aku mengendarai motorku ke arah Bintaro, aku melihat kesana-kemari mencari plang tulisan kontrakan atau kost di sepanjang jalan itu. Sudah 1 minggu sejak hari ulang tahunku dan amukan Ibu. Aku memutuskan untuk pindah kost dan sementara cuti kuliah untuk mencari pekerjaan tetap dan mengumpulkan uang kuliahku sendiri. Mas Ibra sempat melarangku mati-matian namun akhirnya luluh juga dengan 1 syarat, uang yang diberikan Ibu untuk mengganti biaya berobatku akan dikembalikan padaku. Aku sempat menolak, namun Mas Ibra mengancam akan membenciku jika aku tidak menerima uang itu. Aku terpaksa mengiyakan, aku tak bisa dibenci Mas Ibra. Dia banyak membantuku, satu-satunya cara yang bisa kulakukan untuk membalas budinya adalah dengan tidak kembali membuatnya kecewa.

Saat itu aku memegang uang sekitar 27jt, 26 juta dari Mas Ibra dan 1 juta uang yang diberikan Ayah saat hari ulang tahunku. Mas Ibra menyarankanku untuk menyewa kontrakan petak saja 1 tahun full selama aku cuti kuliah, agar aku tak perlu pusing lagi memikirkan tempat tinggal. Mas Ibra juga memintaku untuk membeli beberapa furnitur primer seperti tempat tidur, lemari, kompor, kulkas dan mesin cuci agar uang hasil kerjaku nanti bisa digunakan untuk kebutuhan makan dan transportasi, sisanya biar bisa ditabung katanya. Sebenarnya aku tak terlalu ingin cuti, uang yang diberikan Mas Ibra lebih dari cukup untuk membayar kuliah 1 semesterku. Tapi aku tak bisa lagi mengumpulkan uang untuk semester 2 dan kebutuhan harian. Tapi, Mas Ibra bilang aku butuh istirahat dan berfikir. Nilaiku toh anjlok, daripada semakin jeblos Mas Ibra memintaku untuk 'refreshing' sejenak dari urusan perkuliahan, dan terutama agar tak perlu satu angkatan dengan Eni.

Perihal Ricky, Mas Ibra sudah gatal ingin memburunya. Aku yang menahan Mas Ibra, aku tak ingin semuanya semakin kacau. Balas dendam mungkin menyenangkan, tapi aku tak mau semuanya semakin berlarut-larut. Ibu sudah kepalang membenciku, jangan sampai hanya karena emosiku Ibu membuangku dan tak menganggapku anak. Mas Ibra memberiku pekerjaan di gerainya di Tanah Abang, dia bilang kebetulan karyawannya mengundurkan diri. Daripada aku kerja di tempat lain, Mas Ibra memintaku bekerja dengannya. Sungguh, aku tak paham lagi bagaimana caraku membalas budi Mas Ibra saat itu.
Aku menemukan 1 rumah kontrakan di Bintaro, dengan 1 ruang keluarga, 1 dapur, kamar mandi dan 1 kamar seharga 800rb per bulannya. Ibu kontrakan nampak ramah, dan kontrakan itu kebetulan baru saja dibangun sehingga masih sangat layak untuk kuhuni. Setelah menyelesaikan pembayaran setahun penuh, aku langsung pulang ke kost dan mengemaskan barang-barangku. Mas Ibra membantuku sesekali memandangku sedih, tak bisa pisah katanya. Sudah biasa hidup denganku, hehe. Aku memberi Mas Ibra pengertian kalau aku harus belajar dewasa dan tidak lagi berbuat bodoh seperti kemarin-kemarin. Aku harus bisa bertahan dengan segala cobaan hidupku seperih apapun itu. Mas Ibra hanya mengangguk dan kami kembali sibuk membereskan barang-barangku yang ternyata cukup banyak, padahal saat masuk ke kost ini aku hanya membawa 3 kotak dan sekarang malah bertambah jadi 8 kotak lebih.
Seusai memindahkan barang-barang, aku pergi ke toko perabotan di pasar. Mas Ibra tak bisa menemani karena sore itu dia harus terbang ke Australia menjenguk orangtuanya. Cukup lama aku berbelanja, aku beli 1 sofa, 1 springbed lengkap dengan 3 sprei dan bantal guling. Aku juga membeli rak piring, lemari dari bahan kayu serut, lemari pakaian, beberapa bohlam, perlengkapan bebersih, kompor dan lain-lain. Kulihat saldoku masih cukup, kuputuskan membeli sebuah kipas angin dan 1 televisi ukuran 24inch untuk hiburanku di rumah. Setelah berbelanja, aku kebingungan sendiri membawa pulang semua yang sudah kubeli. Untung penjaga toko menyediakan mobil pickup dan mengantarkanku ke rumah.
Setelah semuanya selesai, dan aku masih punya beberapa juta rupiah di tabungan. Dimulailah hari-hariku di kota orang, hidup sendirian. Sunyi sekali kurasakan saat itu, tak menyenangkan. Tapi aku harus terbiasa. Aku sudah membuang semua pisau sayatku, aku buang semua botol-botol alkohol yang kusimpan di dalam koper. Sejak insiden itu, aku memaksakan diriku untuk berubah. Untuk tak lagi bergantung pada alkohol dan luka sayatanku. Meski aku tetap merasakan sesuatu yg bergejolak dan ingin keluar dari dadaku. Meski aku masih menangis setiap malam dan mengamuk sendirian. Yang penting aku tak perlu lagi buat Ibu menangis. Yang kufikirkan saat itu aku pasti bisa menutupi semuanya, asal Ibu tak lagi benci padaku. Saat itu bagiku apa yang kurasakan tak penting, yang penting adalah Ibuku.

1 bulan berlalu sejak kepindahanku ke Bintaro, aku merasa jauh lebih baik meski masih sering mengingat-ngingat rasa sakit dan menangis, setidaknya aku sudah tidak terlalu ingin melukai diri sendiri. Luka di tanganku sudah mulai mengering dan tak ada luka baru di atasnya, bagiku ini sebuah pencapaian besar.
Tak banyak hal menarik yang terjadi di hidupku, hanya bekerja dan main twitter saat itu. Pernah sekali aku mengenal seorang pria, dia terkenal di twitter dengan ratusan ribu followers. Suatu hari dia follow aku di instagram dan mengirimiku pesan pribadi untuk mengajakku kopdar. Aku yang memang suka sekali dengan caranya menulis twit, dengan senang hati bertemu. Singkat cerita, kami janjian di sebuah cafe di Pondok Indah Mall. Dia nampak tak terlalu beda dari yang di foto. Tidak tampan, biasa saja. Kami mengobrol sepulang kerja saat itu, dari pukul 17.00 sampai hampir 21.00. Malam itu dia menawarkan diri untuk mengantarkanku pulang ke rumah, awalnya aku menolak tapi dia sedikit memaksa. Kuizinkan dia mengantarku pulang dengan taxi (iya, gak modal memang). Sesampainya di depan pagar rumahku, aku langsung turun dan berterimakasih padanya telah mengantarku pulang. Dia ikut turun dan bilang ingin mampir bertamu, namun lagi-lagi kutolak karena saat itu sudah pukul 22.00 dan komplek rumahku sudah mulai sepi, apa kata tetangga kalau dia kuizinkan masuk. Dia sedikit memaksa dan tiba-tiba merangkulku. Aku yang langsung paham maksudnya apa segera memintanya pulang saat itu juga, mengunci pagar, dan masuk ke rumah. Dasar Fakboy umpatku dalam hati.

Beberapa minggu kemudian, aku yang juga ingin punya pacar ini tiba-tiba dihubungi oleh Gema sahabat SMAku. Dia ingin mengenalkanku dengan temannya yang satu desa denganku tapi sekarang stay di Jakarta. Kuizinkan Gema memberikan nomor BBMku saat itu, dan lelaki itu menghubungiku. Kami mengobrol panjang lebar sampai akhirnya aku baru tau kalau dia vokalis band yang sedang merintis karir di Jakarta (seingatku lumayan dikenal kok lagu-lagunya). Singkat cerita, sang vokalis ini janjian denganku. Sama seperti di atas, janjian bla bla bla dan berakhir dengan dia Fakboy. Skip, untung band dia sudah bubar saat ini.

Ganti bulan, aku lagi-lagi gak kapok-kapoknya mencoba mengalihkan kecamuk otakku dengan mau-mau saja diajak berkenalan dengan pria. Kali ini aku kenal dengannya dari Facebook. Dia warga tetangga di desaku tapi kuliah di London School Jakarta. Dan lagi-lagi sama seperti cerita diatas, berakhir dengan Fakboy. Sekarang? Dia drummer band papan atas. Sempat beberapa kali mengontakku via line, whatsapp setelah pertemuan kami dan terang-terangan ingin mengajakku having sex dan kutolak mentah-mentah. Terakhir dia menghubungiku tahun lalu, dan masih lihat story instagramku beberapa bulan lalu.

Banyak sekali pria yang keluar masuk di hidupku selama 3 bulan awal aku cuti, dan semua-muanya Fakboy. Terakhir seingatku seorang mahasiswa perhotelan, pengusaha dan mahasiswa kedokteran. Beberapa orang tampan, beberapa orang biasa saja. Tapi yang jelas semuanya hanya perduli dengan sex. Bahkan yang pengusaha pernah hampir membawaku ke hotel khusus short time di Situ Gintung (beberapa orang pasti tahu ini hotel apa).
Sampai akhirnya bulan ke 4 aku yang sedang asik ngobrol dengan temanku di Circle K Bintaro, diajak berkenalan oleh seorang lelaki. Dia manis, kulitnya putih (aku yang kuning ini malah minder), rambutnya rapi belah samping, tingginya sekitar 170cm sepertinya. Namanya Rama, kali pertama dia mengajakku berkenalan aku ingat sekali canggungnya dia. Rama duduk di sampingku dan mengenalkan dirinya dengan senyum lebarnya. Aku menyambutnya biasa saja. Rama meminta nomor teleponku dan pin BBMku saat itu, temanku yang dengan antusias memberikannya pada Rama.
Setelah itu, Rama pamit untuk kembali ke mobil karena teman-temannya sudah menunggu disana. Aku mendengar 3 temannya menggoda rama yang berani-beraninya mengajak cewek kenalan. Aku hanya tersenyum saat dia melirikku dibalik kemudi mobilnya.
"Ciyeee, tuh kan apa kata gue. Potong rambut pendek buang sial, buktinya langsung dapet kenalan. Kayaknya si dia cowok baik-baik deh Mil.", Arin menggodaku sambil menyeruput gelas kopinya habis. Aku tersenyum sambil memandang wajahku di pantulan kaca, aku baru saja potong rambut pendek siang tadi. Keputusan paling berani karena selama ini aku selalu bertahan dengan rambut lurus sepinggang, dan tiba-tiba langsung kupotong pendek ala polwan dan kuwarnai coklat.
Sore itu aku dan Arin pulang ke kontrakan dan mengobrol banyak, Rama mengirimiku pesan BBM. Sambil bercanda dengan Arin, aku juga mengobrol dengan Rama di BBM. Rama orangnya lucu, wawasannya juga nampak luas. Terbukti dari obrolan kami yang ngalur ngidul dari politik, sosial sampai gosip artis (hehe). Beberapa minggu aku mengobrol dan janji temu dengan Rama, dia nampak antusias dan layaknya anak baik-baik mengantarku sampai ke depan gerbang rumah. Sampai akhirnya di minggu ketiga, saat kami tengah asik berbincang di sebuah cafe di Radio Dalam, Rama menggenggam tanganku dan berkata,
"Mila, Rama suka sama Mila. Rama maunya serius sama Mila. Mila mau kah jadi pacarnya Rama?", tanya Rama lembut (iya, dia tak menggunakan aku kamu, tapi nama dirinya sendiri. Imut sih, tapi gimana ya.. hehe)
Aku yang juga mulai tertarik dengan Rama mengiyakan pertanyaannya. Dan jadilah saat itu aku akhirnya punya pacar pertama, dan berharap Rama bisa jadi langkah awal aku lepas dari traumaku ini.

(bersambung)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
omie073 dan 17 lainnya memberi reputasi
Quote:

Sama-sama Gan, semoga suka update terbarunya

Quote:

Terima kasiiih emoticon-Big Grin

Quote:

Siap Gan, ini mencoba tidak memaksakan. emoticon-Smilie

Quote:

Sampe sekarang belum hilang Gan emoticon-Smilie

Quote:

Sabar sis sabar emoticon-Frown((((

Quote:

Iya Gan, makanya ini dikuat2in. Huhu

Quote:

Amiin terima kasih banyak yaaa emoticon-Smilie

Quote:

Makasiiii emoticon-Smilie

Quote:

Jangan emosi tapi ya emoticon-Big Grin

Quote:

Dari 2009 Gan ane kuliah. emoticon-Smilie

Quote:


Gak strong Gan, sama kok. Cuma ya untungnya gak sampai bunuh diri emoticon-Smilie
Terima kasih banyak ya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aganaf dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
ud 10 thn brti yh gan
kalau bgtu ceritakan smpai kehidupan yg sekarang yah
masi berharap hidup ini ad heli ending gtu gan..
walaupun blm ending hehe
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aganaf dan 2 lainnya memberi reputasi
emosi mah kaga sist ,greget iye 😫😫
Balasan post deadtree
pasti suka dong sis, ini salah satu cerita yg aku tunggu" update'an nya.emoticon-2 Jempol soal nya cerita nya itu mengingat kan ku pada tokoh utama perempuan nya di cerita SK2H emoticon-Matabelo
profile-picture
aganaf memberi reputasi
jujur sejujur jujurnya, pengalaman nya sis percya ga percaya tapi nyata....spechles, pedih banget masa lalunya, ane cuma bisa doain semoga happy ending dan ada hikmahnya ya sis amin, cheers
profile-picture
profile-picture
makgendhis dan rriandi memberi reputasi
sista ini kan gak bisa cerita ke orang2 ttg apa yang sista alami. mungkin dengan adanya cerita ini, bisa mengurangi beban yang sista alami. walaupun harus mengingat hal-hal yang membuat sista sedih. semangat sista.... emoticon-Blue Guy Cendol (S)
akan diupdate besok atau senin ya Gansis, thanks 😔
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dwika.wiedya dan 5 lainnya memberi reputasi
Quote:


Okee .. semangka ..emoticon-Big Kiss
Bacanya ngenes sis
izin masang tenda sist..nunggu kelanjutannya
Lanjut
Halaman 7 dari 24


×
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di