alexa-tracking
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ca36ba0facb956b9e6d94df/gadis-bercadar-itu

Gadis Bercadar Itu

Tampilkan isi Thread
Halaman 8 dari 9
Balasan post shafanya
Quote:


apakah agam begitu juga emoticon-Leh Uga
Quote:


Ya, ada beberapa.
Temen dari TK, SD sampe kuliah,
Teman kuliah & teman kerja.
Sebagai sahabat sering nerima curhatan dan bahkan nanya pendapat tentang pilih calon suami yg mana.

Alhamdulillah sekarang sudah menikah dan bahagia dengan keluarga nya masing2.

Malah sempet ga sengaja ketemu mereka pas honeymoon bersamaan di suatu tempat wisata emoticon-Ngakak
Lihat 1 balasan
Balasan post shafanya
Quote:


wahhahaa... bagus dah klo gtu persahabatan"y awet dari Tk sampai temen kerja. Udah nyaman sebagai sahabat tanpa adanya cinta.
Kadang timbul"y cinta malah bisa merusak persahabatan.
Bisa kebetulan gitu ketemunya gak janjia dulu ya

Part 17 - Hari Bersama Lia

Maaf baru sempat update. Beberapa minggu terakhir saya (penulis), dan sekeluarga merawat kakek saya yang sedang dirawat dikarenakan sakit paru-paru. Dan alhamdulillah, tepat di tanggal 17 Agustus 2019 pukul 00:35, beliau sudah tidak perlu tersiksa karena sakitnya. Alhamdulillah beliau sudah pulang kerumah. Dan beliau juga sudah berpulang menghadap sang Khaliq. Mohon do'anya kepada semua reader yang masih setia dan mungkin sudah bosan menunggu cerita ini berlanjut. Dan hari ini saya sempatkan update sekaligus saya ingin meminta maaf untuk keterlambatannya. Bagi yang ingin sharing, kalian bisa kunjungi Instagramsaya atau melalui Private Message. Sekali lagi mohon maaf.
Happy Reading


Keesokan harinya, aku dikabari oleh Andin kalau hari ini dosen tidak masuk dan hanya satu mata kuliah saja. Jadi hari ini aku tak ada kuliah. Aku dan Lia janjian untuk ketemu di rumahku. Sekitar jam delapan, Lia mendatangi rumahku menggunakan skuter maticnya.
“Kok kamu belum siap-siap sih?” ucapnya
“Emang kita mau kemana?” tanyaku
“Kita jalan-jalan. Pasti belum mandi yah” katanya
“Enak aja. Udah dong” ucapku
“Yaudah cepet ganti baju” katanya sambil mendorongku kedalam

Setelah beberapa menit aku mengganti bajuku, aku kembali menghampiri Lia. Aku membawa motornya dan memboncengnya. Lia hanya menunjukkan jalan padaku kemana aku harus pergi. Dan aku tahu kalau jalan ini menuju ke arah Lembang
“Kita mau kemana” tanyaku
“Kita ke Tangkuban Parahu” jawabnya
“Eh, emm tapi”
“Udah gapapa. Aku yang traktir kamu. Aku tau kamu baru melewati masa sulit, sekarang waktunya kamu refreshing” katanya
“Emm, yaudah deh. Tapi nanti aku ganti ya” ucapku
“Iya terserah kamu aja deh, yang penting sekarang kita refreshing” katanya

Beberapa menit perjalanan kami tiba di Saung Pengkolan. Disana kami beristirahat sejenak sambil sarapan pagi. Udara sudah mulai terasa dingin karena memang sudah memasuki kawasan pegunungan. Karena tak banyak pilihan diwarung tersebut, kami hanya memesan mie instan untuk menghangatkan perut kami. Suasananya cukup adem disini. Warung ini tepat berada dipinggir jalan. Dan disisi lain merupakan pepohonan dan rumah-rumah warga yang berada di dataran yang lebih rendah.
“Dingin ya” kata Lia
“Lumayan” jawabku
“Ga jauh lagi ko, 15 menit juga sampai, lancar kan lalu lintasnya” katanya
“Iya iya”

Setelah selesai sarapan, kami melanjutkan perjalanan ke tujuan kami. Lima belas menit kemudian kami tiba di pintu masuk dan mulai naik keatas dengan motor ini. Udara terasa semakin dingin disini. Sampai pada akhirnya kami tiba ti tujuan kami. Setelah aku memarkirkan motor, kami berjalan disekitaran tempat wisata itu. Lia juga mengambil beberapa foto disana. Sampai kami tengah berdiri ditepi pagar yang membatasi jalan dengan kawah.
"Kita foto yuk" ajak Lia
"Iya Lia" jawabku

Tidak hanya foto menggunakan handphone milik Lia, tapi ia juga meminta tolong pada orang untuk memfoto kami menggunakan DSLR yang ia bawa. Kami juga sempat menghampiri dan berhenti di beberapa stand toko yang ada disitu.
"Danar, aku pengen beli ini. Bagus ga?" katanya
"Iya boleh, bagus kok" jawabku

Setelah mebeli syal tersebut ia langsung memakainya
"Gimana?" tanyanya
"Cantik kok" jawabku
"Syalnya juga?" katanya
"Iya aku ngomongin syalnya hehe" ucapku
"Iihh ngeselin. Akunya jelek dong" katanya
"Kamunya lebih cantik hehe" ucapku

Kami benar-benar menikmati liburan kami. Lia benar-benar bisa membuatku tak terfikirkan tentang apa-apa saja yang sedang aku hadapi saat ini. Otakku benar-benar dibuat tenang olehnya, ditambah lagi dengan suguhan pemandangan tempat wisata ini yang membuat pikiran menjadi lebih rileks. Kami duduk di sebuah kursi yang terbuat dari kayu dan dibelakangnya terdapat kawah Tangkuban Parahu
“Gimana jalan-jalannya?” tanya Lia
“Boleh lah hehe. Makasih banyak ya” ucapku
“Aku sudah janji aku akan terus ada disamping kamu” katanya sambil bersandar di pundakku
“Kamu ga malu temenan sama aku? Yang cuma tukang kue?” tanyaku
“Kenapa harus malu? Aku kagum sama kamu” katanya
“Aku boleh tanya sesuatu?” ucapku
“Tanyalah” katanya
“Kamu punya pacar?” tanyaku
“Emm engga sih, tapi emmm.... ada lah laki-laki yang aku suka” katanya
“Oh ya? Cerita dong, kok kamu ga pernah cerita sih” ucapku
“Hehe, kamunya ga nanya yaudah aku diem aja hehe” katanya
“Orang mana? Satu kampus?” tanyaku
“Iya, satu kampus kok. Pokonya dia perfect deh” katanya
“Ulala, ada yang jatuh cinta” godaku
“Iiihh hehe udah ah malu tau” katanya
“Hehe merah tuh” godaku
“Iish udah atuuh maluuu” katanya sambil memukul-mukul lenganku

Jam sebelas siang, kami memutuskan untuk keluar dari tempat wisata tersebut. Pada saat perjalanan pulang, Lia berkata padaku bahwa ia masih ingin pergi ke suatu tempat. Aku hanya mengikuti perkataannya dan ia ingin pergi melihat air terjun yang kebetulan aku tahu tempat yanh dimaksud. Tapi aku merasa malu. Seharusnya aku yang traktir dia, bukan sebaliknya. Kami langsung meluncur ke tujuan. Setibanya disana, kami harus menuruni banyak anak tangga. Yang aku tahu pasti saat kami pulang pasti akan sangat melelahkan.

Akhirnya kami tiba dibawah dan langsung berhadapan dengan air terjun tersebut. Sekarang air terjun tersebut lebih dikenal dengan nama Air Terjun Pelangi, karena jika malam akan ada lampu warna warni yang menyala dari sekitaran air terjun tersebut. Kami juga menyempatkan diri untuk shalat di mushola sekitar. Setelah shalat, aku dan Lia duduk disebuah batu besar yang menghadap langsung ke air terjun.
"Kamu ga cape?" tanyaku
"Engga, kamu cape yah? Maaf ya" katanya
"Engga kok" jawabku tersenyum
"Sejuk ya disini, suara air terjunnya juga bikin rileks" katanya
"Kamu bisa aja pilih tempat" ucapku
"Iya dong, siapa dulu. Lia gituh" kata Lia dengan bangga

Aku dan Lia mendengarlan lagu dari handphone milik Lia. Kudengar sesekali Lia bernyanyi. Mungkin persahabatanku dengan Lia terlihat seperti lebih dari seorang sahabat. Tapi kami sama sekali tak pernah membahas hal-hal seperti ini. Cukuplah kami jalani saja dengan apa adanya.

Tiba-tiba handphoneku berdering, aku lihat nama didepannya tertulis “Andin”. Lia sempat melihat kearah handphoneku, tapi aku masih belum mengangkat telefon itu.
“Angkat aja, takutnya penting” kata Lia
“Emm, ah ga penting kayanya” ucapku
“Eeh jangan gitu, kasian. Udah gapapa, angkat aja” katanya

Akupun mengangat telefon itu.
“Halo, assalamualaikum” ucapku
“Waalaikumussalam, Danar, lo dimana?” tanyanya
“Gue lagi diluar. Ada apa?” tanyaku
“Oh, lagi sama siapa?” tanyanya
“Sama Lia” jawabku
“Oh, yaudah deh, gue tunggu lo pulang aja. Sorry ya ganggu” katanya, dan telefon langsung ditutup begitu saja.

Aku sedikit heran, kenapa dia langsung menutup telfonnya. Yasudah, mungkin kepencet.
“Kenapa?” tanya Lia
“Gatau nih, tiba-tiba ditutup” jawabku
“Emm, nanti malem kita makan diluar ya” katanya
“Kamu banyak ngeluarin uang Cuma buat aku, ada hal yang lebih penting Lia” ucapku
“Sahabat juga penting hehe. Yuk berangkat” katanya
“Sekarang?” tanyaku
“Tahun depan. Sekarang dong. Yuk” katanya

Kamipun beranjak dan berjalan kembali ke parkiran yang berada di atas. Seperti dugaanku sebelumnya, kami cukup kelelahan saat menaiki ratusan anak tangga untuk mencapai tempat parkir.
“Cape yah” kataku
“Pake nanya lagi” jawabnya
“Hehe, kamu yang ngajak kesini lhoo” ucapku
“Hehe, yaudah yuk berangkat” ajaknya

Kamipun kembali pulang kerumah. Lia menyuruhku untuk pulang kerumahnya, agar aku tak harus jalan kerumah jika aku mengantarkan Lia kerumahnya langsung. Lia juga berkata ia ingin membantuku membuat kue. Akupun mengiyakan saja permintaannya. Singkat cerita, malam hari tiba. Lia sudah pulang sebelum magrib untuk bersiap mengajakku makan malam. Oh iya, aku teringat dengan Andin yang tadi siang menelponku. Sampai sekarang tak ada kabar lagi dari dia.

profile-picture
profile-picture
Alea2212 dan midim7407 memberi reputasi
Diubah oleh cwhiskeytango
turut berduka nih, atas meninggalnya sang kakek. semoga Khusnul khatimah, serta amal ibadahnya di terima di sisi Allah SWT. Amin......emoticon-Turut Berduka


Andin cemburu tuh makanya gak. ngasih kabar lagi,
Keknya kok lelaki yang di sukai sama Lia itu si Dannar ya....
turut berduka cita atas meninggal nya beliau, insyaAllah husnul hotimah.. aamiin
Turut berduka cita untuk kakek agan, semoga di terima amal ibadahnya. emoticon-Smilie


Kayaknya ada bau bau ngambek nih emoticon-Ngakak (S)
Quote:


Quote:


Quote:


Aamiin untuk doanya. Terima kasih banyak untuk supportnya. Updatenya mungkin di IG lebih dulu hehe
alhamdulillah update lagi, turut berduka cita ya gan semoga diberikan jalan yg terbaik buat alm. dialam kubur nanti
Quote:


Aamiin aamiin

Part 18 - Many Happy Returns

*Tok tok tok
“Assalamualaikum” ucap seseorang dari balik pintu rumah
“Waalaikumussalam” jawabku sambil membuka pintu
“Udah siap?” tanya gadis itu yang tak lain adalah Lia
“Udah, berangkat sekarang?” tanyaku
“Yuk” katanya

Kamipun berangkat menggunakan motor. Saat perjalanan, aku bisa mendengar suara Lia seperti sedang menelfon seseorang, tapi aku tak bisa dengar apa yang mereka bicarakan.
“Danar, bawa motornya pelan-pelan aja ya” katanya
“Iya” jawabku
Aku mengikuti saja kemana Lia menunjuk jalan. Sampai kami tiba disebuah kafe. Aku dan Lia duduk di dekat kaca yang menghadap ke jalan raya.
“Kamu tunggu disini, jangan kemana-mana okey” katanya
“Iya iya” jawabku

Aku menunggu di meja sendiri dengan minuman yang sudah dipesan sebelum kami tiba. Dan sepertinya meja ini sudah dipesan juga. Pengunjung disini juga tak terlalu banyak. Saat aku sedang menikmati minumanku, ada suara bisikkan dari belakang
“Happy birthday to you, happy birthday to you” begitulah suara itu

Aku menoleh dan Lia sedang berdiri bersama salah satu waiter. Ia duduk didepanku sambil meletakkan sebuah kue ulang tahun kecil kemudian menyalakan lilin yang berbentuk angka 19 itu.
"Surprise" ucapnya
"Lia" ucapku terbata
"Kenapa hehe. Heran yah" katanya
"Aku bahkan ga inget hari ini aku ulang tahun" ucapku
"Kamu terlalu cuek sih. Oh ya mba, makasih ya sudah bantu saya" ucapnya pada waiter
"Sama-sama, kalau ada pesanan lain bisa panggil saja" ucap waiter cantik

Kemudian Lia menyanyikan lagu happy birthday untukku dan menyuruhku untuk meniup lilin tersebut.

*Fyuuh* aku meniup lilin itu hingga apinya mati
"Yeeey makin tua" katanya sambil tepuk tangan kecil
"Kamu niat banget sampe nyiapin kaya gini segala" ucapku
"Harus spesial untuk orang yang spesial" katanya
"Spesial?" ucapku heran
"Iya, kamu itu spesial. Kaya martabak" katanya
"Kamu ini. Makasih banyak ya" ucapku sambil mengusap kepalanya

Lia bangkit dari kursinya dan duduk disampingku. Kemudian ia memelukku dari samping. Aku benar-benar bingung dengan perasaanku sendiri pada Lia. Kebanyakan jika terjalin sebuah hubungan yang dinamakan sahabat antara laki-laki dan perempuan diantara mereka akan muncul perasaan cinta. Bagaimana aku dengan Lia? Untukku, ku akui pendapat itu benar. Sudah sepuluh tahun lebih aku dekat dengan Lia, bagaimana mungkin tidak muncul perasaan suka padanya? Mungkin bagiku itu sesuatu yang tak bisa aku hindari. Aku sudah mengetahui bagaimana karakter Lia. Begitupun Lia mungkin sudah mengetahui karakterku, dan kami saling menerima. Jika tidak, mungkin aku dan Lia takkan ada disini sekarang.
“Emm anunya potong sekarang?” tanyaku
“Eh apaaaa?” katanya
“Anu kue nya” ucapku
“Ish kamu mah. Iya nih pisau nya” kata Lia sambil memberikan pisau padaku

Aku dan Lia membelah kue kecil itu hingga menjadi beberapa bagian. Aku memberi satu potong untuk Lia. Saat Lia hendak mencicipi, ia menyodorkan garpunya padaku dan hendak menyuapiku. Aku hanya menerima apa yang ia lakukan. Sampai tersisa beberapa potong kue yang kami sisakan.
“Mau lagi?” tanya Lia
“Udah cukup” jawabku
“Mubazir dong?” katanya
“Emm, kamu siapin ini sendiri?” tanyaku
“Engga, tadi sama temenku yang kebetulan kerja disini
“Kasih aja ke dia, dan sampaikan ucapan terima kasihku buat dia” ucapku
“Emm, kamu yakin?” tanyanya
“Iya yakin” jawabku
“Yaudah kalau gitu aku kesana dulu ya” katanya sambil membawa kue tersebut

Setelah aktivitas di kafe malam itu selesai, aku berniat langsung mengantar Lia pulang, meskipun Lia berkata untuk kerumahku saja agar aku tidak cape. Tapi aku tak bisa membiarkan ia pulang sendiri pada malam hari. Tapi saat kami hendak keluar dari kafe, kami tak menyadari bahwa hujan sudah turun sedari tadi.
“Yaah, hujan gede yah” kata Lia
“Engga kok, ini cuma salju” ucapku
“Yeeeh, salju darimana coba” sambil menyenggolku
“Kita tunggu hujan reda dulu aja ya. Kamu bawa jas hujan?” tanyaku
“Bawa sih, tapi cuma satu” katanya
“Emm iya deh, kita tunggu reda aja. Kalau masih ga reda, kita tembusin” ucapku
“Eh jangan dong, kita tunggu reda aja” katanya
“Kalau kemaleman gimana?” tanyaku
“Gapapa, nanti aku kabari orang rumah” jawab Lia

Jarak dari kafe ini ke rumah cukup jauh dan harus melewati rute yang padat. Cukup lama kami menunggu hujan sampai kami kembali memesan minum di kafe tersebut. Tak terasa waktu sudah menunjukkan hampir jam sepuluh malam. Hujan masih turun diluar tapi tak terlalu deras.
“Kita pulang sekarang ya” ucapku
“Eh masih hujan” jawabnya
“Gapapa, kamu pake jas hujan, aku pake jaket aja” ucapku
“Ga boleh dong, nanti kamu sakit” katanya
“Aku gapapa, udah terbiasa dingin. Yuk” ajakku
“Danar, engga, kita tunggu hujan reda aja” katanya
“Aku ga yakin hujan ini akan berhenti sekarang”
“Gapapa, aku gamau egois. Masa ku pake jas hujan, sementara kamu ga pake, nanti kalau kamu sakit gimana?” katanya
“InsyaAllah aku ga akan kenapa-kenapa” ucapku
“Kita tunggu reda, okey” katanya
“Iya deh” jawabku mengalah

Setengah jam kemudian, hujan mulai mereda, waktu menunjukkan jam sepuluh lebih. Aku dan Lia buru-buru untuk pulang. Tapi saat tengah perjalanan, hujan kembali turun dan membuat kami sedikit basah. Akhirnya aku berhenti disebuah ruko yang sudah tutup dan memakaikan Lia jas hujan.
"Loh loh kok???" ucap Lia terbata
"Kamu pake, jangan banyak tingkah okey" ucapku
"Danar, tapi kamu gimana?" katanya
"Ayo naik" kataku

Lia sempat terdiam sebentar khawatir dengan keadaanku, tapi aku yakinkan padanya kalau aku akan baik-baik saja. Waktu juga sudah menunjukkan jam setengah sebelas malam. Lia berpegangan erat padaku. Aku sedikit menggigil saat membawa motor ini, tapi kutahan agar Lia tak khawatir. Pada akhirnya kami tiba dirumah Lia. Hujan juga sudah agak mereda tapi masih turun.
"Assalamualaikum" ucap Lia
"Waalaikumussalam, ya ampun kalian hujan-hujanan?" ucap ibunya Lia
"Kita pake jas hujan kok bu. Maaf kami pulang terlambat" ucapku
"Kamu kok basah banget? Katanya pake jas hujan?" ucap ayahnya Lia
"Gapapa ko pak, kalau gitu saya langsung pamit ya" ucapku
"Engga, kamu ga boleh kemana-mana. Saya mau bicara sama kamu" ucap beliau
"Emm b..bb..baik pak" jawabku singkat

Aku dan Lia masuk mengikuti orang tuanya Lia. Aku diberikan handuk untuk mengeringkan tubuhku, Ibunya Lia juga membawakan teh manis hangat untuk kami berdua. Di ruang tamu, aku duduk bersama Lia dan orang tua Lia duduk bersebrangan denganku. Aku hanya tertunduk saja ketika itu. Tapi yang aku tahu, ayahnya Lia menatapku dengan tajam. Ia seperti sedang memperhatikan aku. Entah apa yang ada dipikiran beliau. Tapi jika aku dimarahi beliau, aku rasa, aku pantas mendapatkannya. Aku dan Lia terdiam sampai akhirnya ayahnya angkat bicara
“Terima kasih banyak nak Danar” ucap beliau
“Ayah?” ucap Lia kebingungan
“Kamu bela-belain ga pake jas hujan cuma buat Lia” katanya
“Em, saya hanya gamau Lia kenapa-kenapa” ucapku
“Kenapa kok kamu sampai segitunya sama Lia? Kamu suka sama Lia?” tanya beliau
“Ayaaah” ucap Lia memotong
“Aku sama Danar kan sahabat, ayaah” kata Lia
“Ayah sama ibumu juga dulu sahabat hehehe” kata beliau
“Ayaah” kata Lia agak sedikit teriak
“Hayo, kamu belum jawab pertanyaannya. Kamu suka Lia? Kalau enggak, ga mungkin sampai segitunya jaga anak bapak” ucap beliau

Lia melihatku dengan sedikit memerah wajahnya. Aku melihat ke arah Lia sebentar dan kembali tertunduk.
“Iya, saya suka sama Lia”

Lia nampak terperanjak ketika aku katakan hal tadi. Mungkin ia tak nyaman dengan peryataanku. Kulihat orang tuanya Lia hanya tersenyum pada kami. Tapi aku tak melihat Lia tersenyum. Bodoh... kenapa aku mengatakan itu. Kau bodoh Danar....
“Saya pamit pulang dulu” ucapku
“Looh, kan masih hujan diluar” ucap ibunya Lia
“Gapapa, udah larut, saya takut mengganggu” ucapku
“Jangan, diluar masih hujan, kamu udah hujan-hujanan tadi, nanti kamu sakit” ucap ayahnya Lia padaku
“Lebih baik kamu menginap saja disini, bapak ada baju yang bisa kamu pakai” lanjutnya
“Eh, jangan pak, saya pulang aja. Saya ga mau ngerepotin” ucapku
“Engga, ga repot kok. Lagian kan bapak yang nawarin” katanya
“Gapapa pak, saya pulang aja. Kalau boleh saya pinjam payung saja” ucapku
“Bener nih? Ga disini dulu aja?” tanya ibunya Lia
“Iya, bu. Makasih atas tawarannya” ucapku
“Gimana pak?” tanya ibunya Lia
“Yasudah, ga usah dipaksa. Tapi kamu ganti baju dulu ya, nanti kami pinjamkan jas hujan” ucap ayahnya Lia
“Baiklah” ucapku

Lia masuk kedalam, tanpa berkata apa-apa lagi. Mungkin Lia marah padaku. Setelah aku mengganti baju, dan diberikan jas hujan, aku berpamitan pada orang tua Lia. Tapi sedari tadi aku tak melihat Lia lagi. Mungkin dia ada dikamarnya dan sudah istirahat.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
shafanya dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh cwhiskeytango
keknya sih Lia cuman shock aja tuh, kalo cintanya gak bertepuk sebelah tangan. emoticon-Malu
Turut berduka cita untuk kakek agan emoticon-Turut Berduka

Waduh kentang nih gan,gimana respon echa ya kalau benar danar jadian sama lia emoticon-Bingung
Wahhh udah updte ternyata...
Turut berduka gan, moga alm kakek ditempatkan yg terbaik diSisiNya
ceritanya jadi segi-empat dong... Lia + mba Jilbab, + mba Cadar
ah, masih aman, sisa 1 slot..

Part 19 - Anugerah

Aku keluar dari rumah Lia setelah berpamitan, baru saja aku hendak menutup pintu pagarnya, aku meliha Lia sedang berdiri di pintu. Ia menghampiriku menggunakan payung. Ia tersenyum manis padaku
"Makasih banyak" katanya
"Maaf aku lancang. Aku gamau ngerusak persahabatan kita" ucapku
"Rasa itu ga bisa dipaksa. Kalau kamu memang suka sama aku, itu hak kamu. Dan aku juga ingin kamu tau kalau akupun begitu" katanya
"Maksudnya?
"Aku juga suka sama kamu Danar. Udah sangat lama. Tapi aku juga gamau ngerusak persahabatan kita" katanya
"Kamu masih mau bersahabat dengan aku?" tanyaku
"Tentu saja. Tapi aku harap rasa suka ini ga membawa kesedihan nantinya. Danar, jodoh itu ditangan Allah. Jika suatu hari nanti aku bukanlah orang yang Dia pilihkan untuk kamu, aku berharap bisa terus menyayangi kamu sebagai sahabat kecilku" katanya
"Baiklah, aku paham kok" jawabku
"Jika suatu hari nanti kita disatukan, aku akan menjadi orang paling bahagia. Tapi jika tidak, aku berharap persahabatan kita bisa menjadi saksi, kalau kita pernah saling menyayangi" katanya
"Kita berdoa yang terbaik aja ya Lia" ucapku
"Iya Danar" jawabnya tersenyum
"Kalau gitu aku pulang ya. Kamu langsung tidur" ucapku
"Iya kamu hati-hati" katanya

Akupun pulang kerumahku. Setelah hari itu, aku kembali dekat dengan Lia. Dekat sebagai sahabat.

Beberapa bulan kemudian. Aku memasuki kuliah semester tiga. Ini berati aku sudah menjadi kaka tingkat dikampusku. Oh ya, bagaimana aku dengan Andin maupun Ersha? Semua baik-baik saja. Andin dan Permata masih suka membantuku membuat kue untuk jualan. Aku juga sudah mulai mengejar ketertinggalanku dikampus.

Suatu hari aku sedang berjualan di dekat taman fakultas. Aku berfikir sejenak kalau aku sudah merasa seperti mempekerjakan Andin dengan Permata. Meski mereka yang selalu menawarkan diri, tetapi aku tak bisa terus menerus mengiyakan tawaran mereka yang membuat waktu mereka tersita hanya olehku. Aku rasa aku akan bicara pada mereka untuk tidak membantuku lagi. Dan kebetulan ketika aku sedang berdagang dirumah, Andin dan Permata datang kerumahku
"Kebetulan kalian datang" ucapku
"Assalamualaikum. Ada apa emang?" tanya Andin
"Gini, gue ga enak sama lo sama Permata, udah beberapa bulan bantuin gue. Gue minta, lo berhenti ya. Gue ga enak sama kalian" kataku
"Loh kenapa? Kami ikhlas bantuin antum" kata Permata
"Kalian banyak bantu, makasih banget, tapi gue ga mau waktu kalian tersita buat bantuin gue. Padahal ada hal yang lebih penting" ucapku
"Engga kok. Gapapa" kata Andin
"Udahlah Din. Gue makasih banget sama kalian. Tapi gue bisa hadapi ini sendiri kok" ucapku
"Tapi kami hanya ingin bantu antum" kata Permata
"Bantu doa juga udah cukup" ucapku
"Tolong banget ya, hargai keputusan gue" lanjutku pada mereka

Andin dan Permata saling bertatapan dan kembali melihat kegiatanku
"Iya, tapi kita masih boleh bantu jual?" tanya Andin
"Ga usah Din. Gapapa kok" jawabku

Kulihat ada ekspresi sedikit kecewa dari Andin. Tapi aku tak mungkin terus mengandalkan bantuan mereka. Setelah itu mereka berpamitan untuk melanjutkan kegiatan mereka masing-masing. Sampai jam pulang sekolah tiba, kueku masih ada yang tersisa. Aku berniat untuk langsung pulang kerumah saja untuk mempersiapkan daganganku besok. Aku juga masih memiliki bahan-bahan kue yang masih tersisa jadi aku tak membeli bahan tambahan. Sisa uang yang tersisa dari dagangan hari ini aku tabungkan untuk biaya kuliahku dan biaya tak terduga nantinya.

Keesokan pagi, sebelum aku berangkat ke kampus, aku mencoba untuk menitipkan daganganku di warung-warung. Mungkin dengan cara ini bisa menambah penghasilanku dan juga mengurangi kesibukanku berdagang jika aku sedang ada tugas.
“Assalamualaikum bu” ucapku
“Waalaikumussalam, eh nak Danar. Mau beli apa?” tanya beliau
“Engga bu, emm boleh ga kalau saya nitip kue disini?” tanyaku
“Oh, boleh boleh” katanya
“Saya simpen 10 aja dulu ya bu. Ini saya simpan kue kecil aja. Harganya 1500, 500 nya untuk ibu” ucapku
“Oh gitu, iya iya, nak Danar mau berangkat kuliah?” tanya beliau
“Iya bu” jawabku
“Sok yang semangat hehe” katanya
“Iya insyaAllah, saya berangkat dulu bu, nanti sore saya kesini lagi. Assalamualaikum” ucapku
“Waalaikumussalam” jawab beliau

Akupun berangkat ke kampus menggunakan sepeda seperti biasanya. Saat perjalanan, aku mendapat telefon dari Lia. Obrolan singkatku dengan Lia, ia mengajakku untuk berangkat bareng ke kampus. Tapi aku berkata kalau aku membawa sepeda, dan ia ingin dibonceng olehku. Karena belum terlalu jauh, aku memutar balik dan bergerak menuju rumah Lia. Setibanya aku disana, kulihat ia sedang duduk di teras sambil mendengarkan lagu dari headsetnya.
“Assalamualaikum” ucapku
“Waalaikumussalam” jawabnya
“Berangkat bareng?” tanyaku
“Ayo” jawabnya tersenyum

Aku membonceng Lia menuju kampus. Selama perjalanan Lia tak banyak bicara selain menikmati perjalanan hingga akhirnya kami tiba di kampus.
“Kamu pulang jam berapa?” tanyanya
“Jadwalnya sih jam 12 siang” jawabku
“Kalau gitu, pulangnya bareng yah” katanya
“Emang kamu pulang jam berapa?” tanyaku
“Hari ini sih cuma satu matkul aja, jadi paling jam sembilan juga udah bubar” katanya
“Loh, nanti kamu nunggu dong. Ga bete emang?” tanyaku
“Engga lah. Aku bisa ke perpus dulu kok” katanya
“Oke aja sih kalau maunya gitu” jawabku
“Yaudah, aku ke kelas ya, sampai ketemu lagi” katanya

Aku juga berjalan menuju kelasku. Setibanya aku dikelas, aku menyimpan tas dan langsung berjalan menuju kursiku. Aku tak menggelar dagangan karena jam kuliah akan dimulai. Aku juga melihat Andin yang sedang mengobrol dengan Toga. Dan Andin sepertinya tak menyadari kedatanganku. Kuliahpun dimulai. Aku begitu konsentrasi pada kuliahku. Aku tak ingin terlambat lagi dan mengecewakan orang tuaku. Selesailah mata kuliah pertama. Ada jeda waktu sekitar 15 menit sampai masuk mata kuliah kedua.
“Lo lagi deket sama Lia ya” tanya Andin tiba-tiba
“Gue emang deket sama dia. Dia kan sahabat gue” jawabku
“Lo suka ya sama dia” tanyanya
“Kenapa emang?” tanyaku
“Gapapa. Gue mau ke belakang dulu” katanya sambil tiba-tiba pergi

Beberapa saat ia kembali, ia mengambil tas yang ada disampingku dan ia pindah duduk kedepan. Pada jam pulang, aku mendapat SMS dari Lia bahwa ia sudah menungguku di taman fakultasku. Aku langsung menghampirinya kesana. Setibanya disana, kulihat gadis yang tengah duduk di kursi taman sambil memegang sebuah buku kecil di tangannya.
“Assalamualaikum” sapaku
“Waalaikumussalam” jawabnya
“Maaf ya jadi nunggu” ucapku
“Engga kok. Pulang sekarang?” tanyanya
“Ayok” jawabku

Kami pulang menggunakan sepeda yang aku bawa. Aku jadi teringat saat dulu pertama kali aku membonceng Lia saat masih kecil. Dulu aku mengebut dan Lia tak berpegangan sehingga membuat ia jatuh dan menangis. Selama perjalanan, memoriku kembali pada masa-masa kecilku bersama Lia. Dan sekarang gadis kecil itu tengah tumbuh menjadi wanita yang cantik. Tibalah kami dirumah Lia.
“Masuk dulu yuk” ajaknya
“Emm gapapa gitu?”
“Gapapa. Yuk” katanya

Akupun mengikutinya masuk kedalam. Aku disambut baik oleh ibunya Lia. Saat itu Lia sedang masuk ke kamarnya untuk menyimpan barang-barangnya. Aku menunggu di ruang tengah seorang diri. Tiba-tiba ibunya Lia menghampiriku dan duduk disampingku
“Gimana keadaanmu nak?” tanya beliau
“Alhamdulillah sehat bu” jawabku
“Kamu masih jualan kue?” tanyanya
“Alhamdulillah masih bu, cuma sekarang beberapa dititip di warung” ucapku
“Ibu mau menawarkan kerja sama nih” katanya
“Kerjasama gimana ya?” tanyaku
“Gini, ibu baru aja buka toko kecil di deket kampus kamu sama Lia” katanya
“Iya, lalu?” tanyaku
“Kamu bisa kan jadi supplier ibu buat di toko?” tanya beliau
“Eh, ibu serius?” tanyaku
“Serius hehe. Kamu bisa?” tanya beliau lagi
“Bisa bu bisa, insyaAllah bisa” jawabku dengan antusias
“Jadi untuk sekarang kamu hanya perlu kirim seminggu sekali aja. Apa aja jenisnya terserah nak Danar aja” katanya
“Emm, baik bu, kapan saya harus kirim?” tanyaku
“Nanti hari minggu aja. Sekalian ke toko ibu” katanya
“Baik bu” jawabku
“Yasudah, ibu tinggal kedapur dulu. Kamu ngobrol-ngobrol aja sama Lia. Kalau mau apa-apa ambil aja” katanya
“Iya bu, makasih banyak” ucapku

Lia datang dan duduk disampingku. Ia langsung saja tersenyum seperti mengejekku.
“Cie jadi juragan hehe” kata Lia
“Ih apaan hhe. Alhamdulillah” ucapku
“Hehe. Iya, nanti abis pulang kuliah aku juga ikut bantu jaga toko kok” katanya
“Oh ya? Bagus bagus hehe, biar kamu ga nganggur hehe” ucapku
“Enak aja, aku ga pernah nganggur. Tapi suka kamu anggurin huuu” katanya
“Engga ih. Ini kan di apelin hehe” ucapku
“Terus harus apa ngapelin teh hehe” tanyaku
“Emm. Ajak aku jalan-jalan” katanya
“Mau jalan kemana? Mending pake sepeda” ucapku
“Iih ga jalan kaki juga atuh. Kita pake motor ayah aja” katanya
“Emang boleh?” tanyaku
“Boleh, STNKnya kan ada di aku. Kita ke Braga aja yuk” ajaknya
“Ayo deh” jawabku

Liapun bersiap-siap dan aku hanya tetap mengenakan pakaian yang apa adanya saja. Tak lama ia kembali dan memberikan kunci motornya padaku.
“Bu, Lia sama Danar mau pergi dulu” kata Lia
“Mau kemana nak?” tanya ibunya Lia
“Mau jalan-jalan bu. Boleh ga?” tanya Lia
“Iya boleh. Jangan pulang terlalu malam ya” katanya
“Baik bu” ucapku

Kamipun berangkat menuju tempat yang dimaksud. Selama perjalanan, kami saling bercanda ria. Terkadang Lia bernyanyi dengan sedikit keras, tapi aku dapat merasakan kebahagiaan yang ada dalam dirinya. Ga peduli orang-orang menganggap kami norak atau apalah. Kami benar-benar menikmati hari yang seharusnya dinikmati. Kami tiba di jalan Braga dan langsung memarkirkan motor disitu.
“Danar,sini, kita foto” katanya sambil mengeluarkan kamera kecil dari tasnya
“Loh, bawa kamera?” tanyaku
“Bawa dong. Momen kaya gini tuh pantas untuk diabadikan” katanya

Kami berfoto dengan beberapa gaya. Banyaknya sih Lia yang banyak gaya. Kami juga sempat meminta salah satu tukang parkir disitu untuk memotret kami berdua. Setelah kami puas berfoto, Lia mengajakku untuk pergi ke daerah kampus kami. Ia ingin menunjukkan dimana lokasi toko kuenya. Kurang lebih empat puluh menit perjalanan kami baru tiba di tujuan. Memang kondisi jalan agak sedikit macet. Kami berhenti di sebuah toko yang masih tertutup. Toko tersebut bernamakan ‘Syifa Cake’. Nama toko di ambil dari nama Lia. Liana Asyfa.
“Nah nanti aku bakal jaga disini. Kamu nanti kirim kue kesini” kata Lia
“Deket banget dari kampus ya hehe”
“Iya hhe. Soalnya nanti aku juga bakal jaga disini kan. Jadi biar ga jauh gitu. Eh kebetulan ibu kenal sama yang punya tempat, jadi ya bisa nego nego hehe” kata Lia
“Alhamdulillah kalau gitu”
“Kamu itu jago bikin kue. Aku yakin suatu hari kamu bakal punya toko kue dimana-mana hehe” kata Lia
“Aamiin” ucapku
“Udah mau magrib. Pulang yu” katanya
“Ayo”

profile-picture
midim7407 memberi reputasi
Quote:

Untung ga sampe jantungan ya hehe
Quote:

makasih gan emoticon-Berduka (S) responnya emm liat nanti hehe
Quote:

aamiin aamiin
Quote:

tiba-tiba nambah 1 slot wkwk. bukan Squad. masih 3 man squad haha emoticon-Ngakak (S)
Lihat 1 balasan
Balasan post cwhiskeytango
Quote:


sebetulnya masih penasaran,
yang bantu Danar bangkit dari keterpurukan kan Andin,
tapi yg ambil kesempatan jalan-jalan, Lia.
Ersha --> Targetnya Danar

3 Woman Squad + 1 lagi lah biar battle Royale emoticon-Big Grin
Alhamdulillah update juga trit yg ditungu tungu emoticon-Big Grin
Hehehe romantis dan bikin nagih euy ceritanya,mangga ateuh di lajeung deui..
Halaman 8 dari 9


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di