alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
4.93 stars - based on 119 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a062830dac13e9f048b4567/roman-sejarah-sinar-jingga-ditanah-blambangan

[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN

Tampilkan isi Thread
Halaman 195 dari 214
terima kasih paman curah
Terima kasih Ki Curah
atas update nya..

Semoga ki curah tidak bosen 😆
Diubah oleh masfaber
duh aku juga ikut bimbang
suwun update nya ki ... dobel dongg emoticon-Angkat Beer
saya berdoa, mudah2an paman sehat selalu, skalian khilaf & update lagi hari iniemoticon-I Love Indonesia
Tinggal nunggu jingga dengan lencari.
Nanaku sudah bahagia versi ki curah.
emoticon-nyantai emoticon-terimakasih
Diubah oleh indahmami
mantep lah, next apdet kita akan menyaksikan jingga mejalankan rencananya,

penasaran?
tentuemoticon-Ngakak
Dan Jingga pun galau ....
Hmmm.. kalo dipikir-pikir lebih dalam, ternyata kedalaman emoticon-cystg
profile-picture
i1indramana memberi reputasi
Nanggung ki updatenya.apalagi edisinya versi galau heheheh...
But,thanks updatenya ki...
ga cuma jingganya aja yang galau, reader pun sama haha
profile-picture
indahmami memberi reputasi
Biar g semakin galau, sebaliknya Ki curah update lagi Ki..wkwkwkwk..
masih menunggu pembalasan Jingga,Dutamandala tewas,Jingga menyerahkan diri ke Majapahit...
profile-picture
indahmami memberi reputasi
Ambyar ki curah
hmmm.. galaukan jadi'y....
Semakin penasaran ki..emoticon-Cendol Gan
Muantap kicurah jangan kasih kendor gasnya ki .... pepet terus ...
ki @curahtangis itu jingga galau akut. ndak baik bikin orang galau lama lama, nanti dia bisa mik baygon atau nyeruput kopi sianida. saran saya segera ki kasih solusi (ndang diupdate 😁) biar galaunya ga kelamaan. sebelum terlambat ki... suwun!! 🤣🤣🤣
Jingganya dikit2 melempem kayak kerupuk paman... emoticon-Cape d... (S)
profile-picture
indahmami memberi reputasi
Diubah oleh dikalasenang
PERNIKAHAN I


Kerajaan mengumumkan tiga hari lagi akan diadakan pawai perayaan kemenangan peperangan dengan Pamotan. Pawai itu akan melewati jalan jalan utama Wilwatikta dan berakhir di Lapangan utara Istana. Pawai melibatkan sebagian pasukan yang terlibat dalam penaklukan Pamotan. Juga panji panji dan pataka pusaka kerajaan Pamotan. Disertakan juga keempat putri dan para selir Bhree Wirabhumi. Hal ini untuk menunjukkan bahwa Pamotan benar benar telah jatuh kembali ke tangan Wilwatikta.

Keikutsertaan keempat putri Bhree Wirabhumi dalam pawai atas titah langsung dari Raja. Mereka ditugaskan bersikap gembira dihadapan rakyat Majapahit. Mereka menjadi duta pemersatu Majapahit. Dengan senyuman saja didepan rakyat, sudah cukup mendinginkan potensi gejolak para pendukung Bhree Wirabhumi yang masih hidup. Mereka harus menunjukkan, saat ini mereka baik baik saja, ditempatkan sesuai darah keturunannya. Untuk membantah berita Hoax di masyarakat kalau keluarga Bhree Wirabhumi dijadikan tawanan, juga membantah berita yang menceritakan berbagai perilaku buruk Pasukan Wilwatikta yang menyerang Pamotan.

Jingga kembali ke penginapan setelah mengetahui berita itu. Di kepalanya sudah penuh dengan rencana menyesuaikan situasi. Sampai di penginapan, Jingga menemui Raden Kijang Anom sedang duduk membaca kitab, ditemani Untari yang duduk tak jauh.
"Lagi bahas apa nih? Serius amat," sapa Jingga kepada Untari.
"Gak bahas apa apa, bengong aja," jawab Untari. Ekspresinya kesal. Jingga menoleh ke Raden Kijang Anom yang masih asik membaca. Lantas tersenyum, Untari sepertinya kesal pada Raden Kijang Anom yang asyik baca.

Jingga mendekati Raden Kijang Anom yang menyapanya hanya dengan anggukan.
"Paman, ajak Tari jalan jalan, biar tidak uring uringan seperti itu," bisik Jingga sambil berkedip.
Raden Kijang Anom mengangguk, kitab yang dibacanya disimpan.
"Tari, mau ikut jalan jalan, mumpung masih sore?"
"Kemana?"
"Kepasar sana,"
"Ayuk, aku bersiap dulu ya," Untari lantas masuk bersiap. Berdandan. Terdengar obrolan kecil Untari dan Lencari didalam. Obrolan perempuan.
"Bagaimana?" Tanya Raden KIjang Anom tanpa menjelaskan apa yang ditanyakan kepada Jingga.
"Sesuai rencana," jawab Jingga juga tidak menjelaskan apa yang direncanakan. Sebuah pembicaraan basa basi laki laki yang menunggu perempuan kelar berdadandan.

Akhirnya Untari keluar bilik. Jingga terkejut melihat penampilan Untari begitu cantik. Adiknya sudah besar sekarang. Jingga lantas memandang Raden Kijang Anom. Ia juga terlihat terpesona dengan penampilan Untari.
"Kakang, aku pergi dulu," pamit Untari kepada Jingga.
Jingga mengangguk sambil mengangkat tangan membalas salam tangan dari Raden Kijang Anom. Dipandanginya kedua orang itu yang berjalan berdampingan sampai hilang di gerbang. Terlihat cocok satu dengan yang lain.

"Mereka terlihat serasi ya," Kata Untari dari pintu bilik kamarnya. Agak mengagetkan Jingga yang pikirannya masih kepada Untari dan Raden Kijang Anom.
"Iya,"
"Bagaimana keadaanmu?"
"Kalau gini bagaimana?" Lencari balik bertanya, berjalan keluar bilik lalu duduk didepan Jingga. Kedua tangannya mencubit pipinya yang sudah berisi. Seperti mencubit pipi anak kecil.
Jingga mengangguk sambil mengangkat jempol.
"Cari, beberapa hari ini aku banyak berpikir, apakah harus kusimpan sendiri atau kubicarakan kepadamu. Aku bukannya tak mau terbuka terhadap masalah yang sedang aku hadapi. Tapi sebagai lelaki yang harus menjaga yang dikasihinya, termasuk menjaga kekasihnya dari menanggung beban hidup. Tapi bila tidak bercerita kepadamu, aku merasa seolah meninggalkanmu sendiri tanpa tahu apa yang terjadi.
Jadi, menurutmu apakah aku cerita apa tidak?"
Lencari tajam menatap Jingga. Sambil tersenyum Ia menjawab, "Terserah Kakang yang menurut Kakang baik, Aku tidak menuntut untuk tahu, karena aku yakin Kakang sayang padaku. Dan semua itu dilakukan untuk kebaikanku juga."

Jingga lantas menceritakan perkembangan situasi diluar sana. Bahwa Majapahit sedang menyiapkan penyerangan yang lebih besar dan lebih mematikan ke Blambangan.
"Semua itu salahku, seandainya dahulu cepat aku selesaikan, pasti tidak berlarut seperti ini. Keluargaku, rekan rekanku, Rakyat Blambangan akan tetap hidup normal seperti dulu."
Jingga menangis menyesali kesalahannya.
"Banyak orang mati karena membelaku, atau mati oleh tanganku dan para pembelaku. Dan sepertinya ini tidak akan berhenti, bahkan semakin lama semakin besar. Cari, aku tak kuat menanggung semua dosa ini,"
Lencari maju menggenggam tangan Jingga, menguatkan dan memberi dukungan.
"Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri Kakang," kata Lencari berusaha menghibur.
Jingga mengeleng. Mengusap airmata sejenak.
"Ini tanggung jawabku,"
Lencari memandang mata Jingga. Ada sebuah tekad yang kuat. Lencari terkejut menangkap pesan yang terpancar dimata Jingga. Hening, cukup lama mereka diam dengan pikiran masing masing.
"Coba katakan yang Kakang rencanakan," kata Lencari berusaha memastikan pesan yang ditangkapnya.
Jingga lantas membisiki Lencari semua rencanya yang akan dilakukannya di Wilwatikta. Kembali Lencari terhenyak. Memandang mata Jingga memastikan yang diucapkannya itu benar benar kehendak Jingga.
Jingga balas menatap, menarik nafas panjang lalu mengangguk, memastikan yang dibisikkan adalah benar.
Mendapat kepastian rencana itu, airmata Lencari mengalir deras. Tapi Ia tidak menunduk, tatapannya masih menatap Jingga. Menunjukkan dirinya adalah perempuan yang kuat, perempuan yang bisa diandalkan Jingga.

"Apapun yang Kakang putuskan, aku ikut. Kita tidak boleh lagi terpisah," kata Lencari memberi jaminan kepada Jingga.
Jingga meminta Lencari tidak usah ikut dalam misi ini. Namun Lencari kukuh ikut.
"Sebelumnya aku harus menegaskan statusku Kakang, biar tidak menjadi kisah buruk yang dibebankan ke Kakang Nantinya,"
"Ya, besok malam kita menghadap Pangeran Mahesa,"
"Benar Kakang? Terimakasih," Lencari gembira akhirnya akan menemui Pangeran Mahesa, calon mantan suaminya.
"Tapi biar aku sendiri yang menyelesaikan, Kakang tidak usah ikut ikut,"
"Iya, aku hanya mengantar saja, sebagai kusir,"
Lencari mencubit pipi Jingga karena gak enak menyebut dirinya sebagai kusir.
"Ya bukan kusirlah,"
Jingga tersenyum, mengiyakan saja. Ia salut dengan sikap yang ditunjukkan Lencari. Setelah mendengar semua misi yang akan dilakukan Jingga. Lencari masih bisa bersikap biasa. Bahkan semakin bahagia.
Jingga tidak tahu, kalau orang yang saling cinta, situasi apapun tetaplah indah, asal dilakukan bersama.

"Adik Untari perlu tahu?"
"Tidak perlu, malah nanti aku minta mereka untuk pergi ke Sunda, menemui kedua orang tuamu, aku akan menulis surat meminta tolong Ayahandamu untuk menikahkan mereka. Bagaimana?"
"Setuju,"

Matahari mulai tenggelam, Jingga dan Lencari terlibat pembicaraan yang menyenangkan. Jingga lebih banyak tersenyum, beban yang selama ini ditanggung sendiri terasa terangkat hilang bersamaan dengan sikap Lencari yang mendukungnya. Mereka kini mencapai tahapan baru dalam hubungan batin mereka. Malam ini mereka akan melewati tahap baru lagi dalam kehidupan mereka.

Pembicaraan mereka terhenti ketika Raden Kijang Anom dan Untari datang. Ditangan keduanya membawa banyak belanjaan. Wajah Untari terlihat berbunga bunga, beda jauh dengan saat diacuhkan Raden Kijang Anom yang lebih sibuk dengan bacaannya.
"Waduh, yang habis borong di pasar. Mana nih oleh olehnya," goda Lencari sambil mengusap sisa sisa airmatanya.
Untari senyum senyum malu. Sudah lama sekali Ia tidak belanja seperti ini. Apalagi ini di Wilwatikta, tempat barang bagus dari mancanegara berkumpul.
"Aku dipaksa Kakang Kijang," jawab Untari memberi alasan.
"Wah sudah panggil Kakang sekarang," ledek Jingga. Yang diledek langsung melayangkan cubitan ke lengan Jingga.
"Yang sirik tidak boleh ikut makan," sindir Untari kepada Jingga. Lencari tertawa melihat Untari yang uring uringan. Raden Kijang Anom tersenyum terus sejak datang, tak memberi komentar.
Selain memberi barang barang kesukaan Untari, mereka juga membeli banyak makanan untuk makan malam.
Sambil menikmati makan malam, mereka terus bercanda. Jingga dan Lencari berkali kali saling pandang dan tersenyum. Sedangkan Untari melakukan hal yang sama dengan Raden Kijang Anom. Mereka sibuk dengan pikiran masing masing, dengan mimpi dan angan masing masing.

Sesuai rencana, setelah selesai makan malam dan bercengkrama, Jingga menyampaikan rencananya kepada Raden Kijang Anom dan Untari dengan disaksikan Lencari.
"Paman, Untari, sesuai rencana, aku memohon kepada Raden Kijang Anom untuk membawa adikku, Untari kembali ke rumah ayahanda Raden Sastro."
Untari terkejut, kenapa Ia harus diantarkan kembali ke Sunda, sementara Jingga dan Lencari masih di Wilwatikta.
"Kami berdua ada misi rahasia, tak bisa dijelaskan semua."
Akhirnya Untari mengerti, Ia tidak perlu banyak tanya dan protes dengan rencana Jingga.
"Tari, seumpama Raden Kijang melamarmu, apakah kamu mau terima?" Tanya Jingga, kembali membuat Untari terkejut.
"Tadi sudah aku sampaikan Pangeran, dik Tari menjawab mau," kata Raden Kijang Anom, menjawab pertanyaan Jingga kepada Untari.
"Benar? Wah Syukurlah, selamat ya Paman," ucap Jingga memeluk Raden Kijang Anom gembira. Lencari juga memeluk Untari sebagai ucapan selamat.
"Nah, besok aku titip surat kuasa kepada Raden Sastro untuk menikahkan kalian,"
"Aku menunggu Kakang nikahnya,"
"Jangan mempersulit sesuatu yang mudah. Kalau begitu aku nikahkan kalian sekarang saja."
Awalnya yang mendengar tertawa dianggap ucapan Jingga bercanda. Ternyata Jingga dan Lencari menyiapkan upacara pernikahan secara sederhana. Sempat ditolak Untari karena dianggap tidak serius. Namun setelah melihat sikap Jingga yang serius, Untari dan Raden Kijang Anom menuruti kemauan Jingga.
Dengan perlengkapan sederhana, sangat sederhana. Jingga menikahkan Raden Kijang Anom dan Untari dengan saksi Lencari.
Raden Kijang Anom dan Untari begitu gagap dan belum siap dengan perubahan cepat yang dialami. Mereka baru menyadari kalau mereka menikah beneran setelah Untari diusir Lencari agar tidur bersama suaminya. Bahkan Jingga membantu memindahkan barang barang milik Untari kedalam kamar Raden Kijang Anom.
Untari yang awalnya menolak akhirnya malu malu mengikuti suaminya masuk kamar.

Jingga dan Untari menarik nafas panjang. Keduanya kembali merenung, duduk bersebelahan memandang keluar. Kearah bulan yang tersembunyi disela sela dedaunan pohon maja. Tak ada kata kata yang meluncur dari bibir mereka. Keduanya sudah saling mengerti dan memahami.

***


profile-picture
profile-picture
profile-picture
andir004 dan 23 lainnya memberi reputasi
PERNIKAHAN II


Pagi hari, udara segar menerobos masuk kedalam bilik Lencari yang baru dibuka. Mengganti udara hangat nan pengap semalam. Jingga yang biasa tidur dibale depan bilik, sudah keluar jalan jalan mengamati situasi sekitar. Sebelum orang orang beraktifitas, disaat para pemabuk masih lelap di gubug gubug persimpangan jalan. Disaat para pencuri baru pulang membawa barang curiannya, disaat para penjaga terlelap berat, Jingga sudah berkeliling. Mengamati apa ada yang aneh atau berubah suasananya di awal pagi ini.

Lencari sudah rapi ketika datang Jingga membawa jajanan untuk sarapan. Ia juga membawa beberapa bahan ramuan yang baru dipetiknya di sekitar penginapan.
"Itu pengantin belum ada yang bangun?" Tanya Jingga sambil tersenyum.
"Belum," jawab Lencari sambil mengerling. Tersenyum sedikit menggoda.
"Kalau gitu kita sarapan dulu, aku lapar," ajak Jingga, membuka bungkusan yang dibawanya. Singkong rebus yang diberi taburan kelapa dan garam.
Lencari membuka bungkusan lain yang berisi nasi ketan bertabur kelapa dan bubuk kacang.
Sesekali mereka saling suap untuk mencicipi makanan masing masing.
Setelah usai sarapan, baru terdengar suara dari penginapan Raden Kijang Anom.
Jingga langsung terkekeh tanpa sebab. Lencari tersenyum, tapi tangannya langsung mencubit lengan Jingga agar tidak keras keras tertawa.
"Jangan usil," protes Lencari. Ia kemudian membicarakan rencananya nanti sore berangkat ke kediaman Pangeran Mahesa. Sesuai pengamatan Jingga, biasanya sore hari, Pangeran Mahesa akan mampir ke rumah Ibundanya untuk makan malam, setelah malam, baru pulang ke kediamannya.

Pembicaraan terhenti ketika melihat Raden Kijang Anom dan Untari mendekati mereka. Terlihat mereka sudah berkemas hendak berangkat.
"Sudah siap?" Tanya Jingga. Dulu Jingga yang selalu mengikuti perintah Raden Kijang Anom, kini kondisinya berbalik. Sekarang Raden Kijang Anom yang mengikuti perintah Jingga.
"Siap Kakang," jawab Raden Kijang Anom sedikit kaku. Maklum ini kali pertama memanggil Jingga dengan sebutan Kakang. Semua tersenyum dibuatnya.
"Selamat jalan, hati hati di jalan. Titip Adikku, terimakasih banyak," Jingga lantas memeluk Raden Kijang Anom. Airmata Jingga menetes tanpa dapat ditahan. Ia lantas memeluk Untari.
"Jaga baik baik Suamimu, jaga baik baik Ayahanda Raden Sastro dan Ibunda RA Sulastri," pesan Jingga pada Untari.
Untari mengangguk, tak bisa bicara. Airmatanya tumpah tanpa Ia tahu kenapa. Hatinya tiba tiba ngilu.
"Jaga Ayah bundaku ya," Lencari turut berpesan. Mereka berdua lantas berpelukan, bertangisan.

Sebagai mantan Prajurit, Raden Kijang Anom tak berlama lama pamitan. Mereka lalu pergi menunggangi kuda masing masing menuju Sunda lewat jalan tengah, tidak menyusuri sungai Brantas menuju Kahuripan. Tapi langsung menuju barat lewat Kertabhumi, Jagaraga, Pajang, Mataram, Paguhan sampai Sunda. Sebuah perjalanan darat yang panjang.

Sepeninggal Raden Kijang Anom dan Untari, suasana terasa lengang.
"Kok terasa sepi ya?"
"Iya, biasa dengar kicauan Untari." Jawab Jingga sambil tertawa. Dalam hati Jingga menangkap kegelisahan dalam diri Lencari. Maka sejak saat ini, Jingga tidak akan meninggalkan Lencari sedetikpun.
Mereka berdua lantas berkemas, rencana sore nanti akan keluar dari penginapan. Barang barang dipindahkan ke kereta kuda.
Belum siang hari, kegiatan beres beres sudah selesai. Kini mereka terjebak pekerjaan menunggu. Tak ada pekerjaan lain lagi.
"Bagaimana kalau kita keluar dari sini sekarang, lalu kita jalan jalan melihat kotaraja," kata Lencari, mulai bosan diam menunggu.
Jingga menyetujuinya. Setelah menyelesaikan pembayaran, mereka bergerak menuju kotaraja. Lencari duduk disebelah Jingga yang mengendalikan kereta. Lencari menutup tubuh dan wajahnya dengan kain lebar kecoklatan, ditambah wajahnya dicoklatkan sehingga seperti orang dusun, sehingga orang sulit mengenalinya. Sementara Jingga merubah tampangnya menjadi seperti orang dusun. Gigi dicoklatkan dan tongos.
Dengan penampilan seperti itu, berdua menikmati pemandangan kotaraja dengan leluasa. Jingga mengunjungi tempat tempat yang berkesan dalam hidupnya. Kasatriyan, Alun alun, Kadewaguruan. Beberapa tempat tidak bisa didatangi karena bukan untuk kalangan biasa. Lencari juga menceritakan tempat tempat dan kerabatnya yang pernah didatangi di Kotaraja. Siang itu mereka benar benar menikmati perjalanan tak tentu arah. Mencicipi berbagai jajanan masa kecil, membeli mainan.
Lencari membeli sepasang wayang alit. Laki laki dan perempuan. Katanya itu wayang Rama dan Shinta.
"Kakang, dulu aku pernah membeli wayang seperti ini, rencananya untukku satu untuk Kakang satu, tapi lantaran sakit, wayang itu entah dimana sebelum aku berikan ke Kakang," Lencari memberikan wayang yang perempuan ke Jingga.
"Cantikan kamu daripada wayang ini," seloroh Jingga, memuji.
"Ya jelaslah," kata Lencari sambil mencibir aleman.

Mendekati sore, Mereka ke pemandian untuk membersihkan diri. Lencari berdandan sederhana. Wajahnya dibersihkan tanpa riasan. Meski begitu, Ia terlihat sangat cantik. Saat keluar pemandian, Lencari mengenakan jubah dan menutupi wajahnya. Sementara Jingga tetap dengan penampilan dusunnya, Ia menunggu diatas kereta.

"Sudah siap?" Tanya Jingga kepada Lencari yang terlihat gugup duduk didalam kereta.
"Siap," jawabnya sedikit gugup.
Jingga memacu kereta kudanya menuju kediaman Ibunda Pangeran Mahesa. Jalan yang dilalui mengingatkan Jingga masa masa menjadi cantrik di rumah Raden Natanegara. Lantas bermunculan nama Janur yang konyol, Dyah Pramesti yang tomboy dan Dyah Wulandari yang menginjak masa masa ingin bebas. Bagaimana kabar mereka sekarang? Batin Jingga.

Jingga menghentikan laju keretanya tepat didepan gerbang rumah Ibunda Pangeran Mahesa Ariya. Beberapa penjaga gerbang mengawasi. Jingga langsung turun membukakan pintu kereta mempersilahkan Lencari turun.

Para penjaga yang mengenal Lencari langsung memberi hormat,
"Aku mau menghadap Pangeran Mahesa," kata Lencari, kembali ke gaya angkuh tak butuhnya.
"Baik Ndoro, akan hamba sampaikan," kata penjaga lantas pergi masuk melaporkan kedatangan Lencari. Tak lama penjaga itu kembali dan mempersilahkan Lencari masuk diiringi mereka. Sementara Jingga dipersilahkan istirahat di bale khusus abdi.

Terjadi kegemparan didalam kediaman Ibunda Pangeran Mahesa. Saat itu Ibunda Selir dan Pangeran Mahesa sedang bersantai di taman ketika mendapat Laporan Lencari hendak menghadap. Butuh waktu beberapa saat untuk menentukan sikap. Akhirnya Ibunda Selir yang mengijinkan Lencari untuk masuk. Ia ingin tahu langsung dari Lencari duduk persoalannya kekacauan rumah tangga putranya ini.

Oleh Penjaga, Lencari dibawa ke taman.
Lencari menghormat dalam sesuai tata cara kerajaan. Ibunda Selir dan Pangeran Mahesa terus memandang tajam ke Lencari. Mereka terkejut melihat Lencari yang terlihat sangat kurus, ringkih.
"Silahkan duduk,"
"Terimakasih."
"Katakan apa maksud kedatanganmu, bukankah kamu sudah meninggalkan anakku?"
"Ampun Ndoro, memang benar hamba meninggalkan Pangeran."
"Lalu buat apa kembali? Apa belum puas menyakiti anakku?"
"Bukan maksud hamba Ndoro, hamba dipaksa menikah karena tekanan dari pihak luar," Lencari menceritakan kronologis kejadian yang menimpanya. Hal itu juga sudah dijelaskan kepada Pangeran Mahesa dimasa lalu.
Ibunda Selir mendengarkan semua penjelasan Lencari. Pada dasarnya Ibunda Selir merasa sayang dan cocok dengan Lencari. Gadis yang cerdas dan bukan penjilat seperti umumnya gadis disekitar Pangeran Mahesa. Namun bagai petir disiang bolong, Ia mendapat kabar kalau Lencari kabur meninggalkan putranya. Selama ini hanya dari Putranyalah Ia mendapat penjelasan. Itu membuat dirinya yang semula sayang kepada Lencari, perlahan mulai membenci.

Berkali kali Ibunda Selir menanyakan ke Pangeran Mahesa, apa benar yang dikatakan Lencari. Dengan berat hati Pangeran Mahesa mengiyakan apa yang disampaikan Lencari. Semakin lama mendengar kisah Lencari, Ibunda Selir merasakan kemiripan nasib dirinya dengan Lencari.
Dahulu Ia adalah Seorang putri Raja di Swarnabhumi. Menjalin kasih diam diam dengan seorang perwira kesayangan Raja. Masa masa yang sangat indah untuk dikenang. Meski sembunyi sembunyi, Ia bisa menikmati indahnya cinta kasih itu.
Sampai akhirnya, Ia mendapat kabar kalau dirinya diminta utusan Majapahit untuk dijadikan istri Raja Majapahit. Ia tidak bisa menolak, karena wanita dalam hirarki kerajaan selalu dijadikan sebagai alat kekuasaan. Dengan adanya dirinya di lingkaran Raja, bisa berjuang untuk kerajaan dan Rakyatnya. Bahkan bisa bisa anak keturunannya akan menjadi salah satu Raja Majapahit kelak.

Berangkatlah Ia ke Wilwatikta. Untunglah Ayahandanya mengutus salah seorang pengawal kesayangannya untuk menjaga. Dari sekian prajurit, yang siap untuk ditugaskan ke Wilwatikta hanya dia. Jadilah keduanya berangkat bersama pasukan laut Majapahit menuju Wilwatikta. Mereka bersama namun ada tabir antara mereka.

Kini Ia memiliki dua anak dari Raja. Pengawal itu tetap menjaganya dan diangap Paman sendiri oleh kedua anaknya. Saking rapatnya menjaga rahasia, kedua anaknya tidak pernah tahu kisah itu.
Kekasih itu tak lain adalah Ki Halimun. Orang sakti yang sempat mengajari Jingga saat masih di kadewaguruan dan berlatih tanding saat menyamar jadi cantrik di rumah sebelah.

Maka saat Lencari bercerita lika liku kehidupannya selama bersama Pangeran Mahesa, yang tergugah perasaannya adalah Ibunda Selir sendiri. Ia sampai menangis. Hal yang tidak pernah dilihat oleh Pangeran Mahesa selama hidupnya.
"Ibunda tidak apa apa?"
Ibunda Selir menjawab dengan gerakan tangan, menyatakan dirinya tidak apa apa.
"Lencari, sebagai imbalan atas kejujuranmu, Bunda mengijinkan kamu meninggalkan anakku."
"Ibunda...." Seru Pangeran Mahesa kaget dengan perubahan sikap Ibundanya. Sejujurnya Pangeran Mahesa masih berharap Lencari kembali kepadanya dengan bantuan Ibunda. Ia ingin menyiksa Lencari sebagai balasan perbuatannya meninggalkan dirinya selama ini.
Bukan seperti ini.
"Pangeran, ceraikan Lencari. Kasihanilah dirinya, Ibu sebagai wanita bisa merasakan penderitaannya," pinta Ibunda Selir kepada Pangeran Mahesa.
Pangeran Mahesa diam mematung. Ibunda Selir sampai menggoncang goncangkan tubuhnya agar segera melakukan permintaannya. Sedang Lencari duduk menunduk bermohon permintaannya dikabulkan.
"Baiklah Bunda," akhirnya Pangeran Mahesa menyetujui.
"Katakan, kau menceraikan Lencari,"
"Aku Pangeran Mahesa Ariya, hari ini aku ceraikan istriku, Lencari. Sudah," ucap Pangeran Mahesa setengah terpaksa. Ia lantas berdiri meninggalkan Ibunya dan Lencari.
Ibunda Selir menghampiri Lencari, memerintahkan bangkit lantas memeluknya.
"Sudah, kejarlah mimpimu, hanya ini yang bisa bunda bantu. Maafkan kami,"
"Terimakasih Bunda, terimakasih banyak," ucap Lencari sepenuh hati. Rasa haru dan gembira memenuhi dadanya. Beban berat yang ditanggungnya kini telah terangkat dari pundaknya.
Bergegas Lencari memohon diri untuk melanjutkan perjalanannya. Kakinya terasa ringan melangkah meninggalkan kediaman Ibunda Selir.

Diluar, Jingga tak banyak bertanya, melihat ekspresi Lencari yang berbinar, sudah cukup memberi jawaban.
"Secepatnya kita pergi dari sini," pinta Lencari setelah naik kereta.
Tanpa banyak kendala, kereta mereka bergerak ke barat menuju tempat matahari tenggelam.
"Kemana kita?" Tanya Jingga.
"Ke rumah Eyang Sidatapa,"
"Siap,"

Jingga mengarahkan kereta ke kediaman Raden Sidatapa. Demi kerahasiaan, mereka kembali menyamar sebagai rekan Anjani. Tanpa banyak menimbulkan kecurigaan mereka masuk. Raden Sidatapa yang mantan prajurit, cepat bisa beradaptasi dengan skenario Jingga. Sehingga para penjaga rumah tidak curiga.

Raden Sidatapa membawa Lencari dan Jingga masuk. Di ruangan tersembunyi, baru Raden Sidatapa menanyakan semua yang muncul dibenakknya.
Lencari menceritakan semuanya, sampai terakhir yang dirinya dapat ijin bercerai dengan Pangeran Mahesa.
Suasana haru menyelimuti mereka. Anjani dan Lencari menangis berpelukan. Jingga dan Raden Sidatapa diam menyaksikan.
"Lalu apa rencana kalian selanjutnya?"
"Eyang, maukah menikahkan kami sekarang?" Pinta Lencari langsung. Permintaan yang membuat Raden Sidatapa dan Anjani terkejut.
"Bagaimana bisa aku melangkahi kedua orang tuamu," jawab Raden Sidatapa sungkan.
"Tidak apa apa Eyang, aku yakin ayah-bunda setuju, kami mengejar waktu Eyang,"
Raden Sidatapa berpikir sejenak. Suasana berubah hening menunggu keputusan Raden Sidatapa.
"Baiklah, aku lakukan," kata Raden Sidatapa akhirnya.
Lencari langsung menghambur memeluk Raden Sidatapa. Kembali menangis haru.
"Sudah sudah, kalian bersiap dulu. Anjani, siapkan perangkat pernikahannya ya,"
"Baik eyang," jawan Anjani, bergegas keluar menyiapkan segala sesuatunya.

Setelah semua siap, Raden Sidatapa dengan terbata bata menikahkan Jingga dan Lencari dengan penuh kesederhanaan dan rasa haru. Setelah dinikahkan, Raden Sidatapa menjamu keduanya makan malam dan diberi kamar untuk bermalam.

Malam itu, malam puncak perjalanan kisah kasih Jingga dan Lencari. Puncak kebersamaan baik lahir maupun batin. Semuanya serasa dimampatkan, melebur menyatu dalam semalam. Rasa sedih, gembira, rindu, hasrat, harapan, kenyataan, ragu juga optimis. Semuanya.

Kini keduanya merasakan kesempurnaan hidup dan cinta mereka.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
andir004 dan 35 lainnya memberi reputasi
Halaman 195 dari 214


×
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di