alexa-tracking
Kategori
Kategori
5 stars - based on 4 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4944f7b840885207768c76/selasa-kliwon

SELASA KLIWON

Tampilkan isi Thread
Halaman 2 dari 2
update update
profile-picture
kaliankenalsaya memberi reputasi

CHAPTER 6

"Tidak terjadi apa-apa Em, Sepertinya itu luka kering ku yg kembali memgeluarkan darah, Seingatku, aku menggaruknya semalam. Bahkan aku sampai tak tau jika luka itu kembali basah"

Emely memperhatikan bekas cakaran yg terdapat di tubuh girwanda. Parah memang. Sayatan kecil namun panjang itu terus mengeluarkan darah. Darah yg merah dan segar. Terdapat memar di sepanjang luka itu, jika saja emely yg merasakan, akan betapa sakitnya luka yg dia alami. Apalagi ditambah, ia sengaja merobek luka girwanda untuk menguji apakah ia betul-betul kebal terhadap lukanya itu.

Emely, Sikapnya memang cuek dan keras. Tetapi, melihat keadaan girwanda yg seperti ini, ia tak bisa mempertahankan rasa sedih nya. Diam-diam, air mata sudah mengalir dari mata bulat nya. Girwanda, Apa yg ia alami semalam memang sulit untuk dilupakan. Pertama kalinya ia berkorban untuk seseorang, seseorang yg nasibnya sangat bergantung padanya. Melihat emely, membuatnya rindu dengan sosok perempuan itu. Sosok yg di rindukan seumur hidup.

"Kau tak usah pikirkan luka di punggung ku. Aku boleh minta sesuatu?"

Emely segera mengusap air mata di pipinya hingga kering agar girwanda tidak tau jika ia menangisi nya. Tapi tetap saja, girwanda adalah seorang yg berbeda darinya. Ia tau segalanya, bahkan jika emely menangis.
"Apa itu? katakan saja"

"Suaramu menjadi sangat dalam. Kau menangis ya?"

"Kau tak melihatku, jadi sebaiknya jangan sok tau"

"Apa aku perlu melihatmu? Rasa-rasa nya, kau yg jangan sok membohongiku"

"Kau perlu apa? Cepat katakan"

"Pengalihan yg baik! Baiklah, Toling carikan aku belatung, beberapa biji. Dan beras ketan"

"Kau menyuruhku cari binatang menjijikan itu?"

"Itu lebih baik daripada kau menangis saja! Cepat!"

Emely mendengus kesal mendengar ucapan girwanda. segera ia mengendarai motor ke pasar. Dengan kecepatan melebihi setan terbang, Emely menerobos jalanan kebun yg sepi siang itu untuk menuju pusat desa. Dalam perjalan ia tak habis pikir, apa yg sebenarnya terjadi dengan girwanda, luka itu, luka yg cukup serius.

"Apa dia bertemu binatang buas, hanya binatang buas yg punya cakaran seperti itu"

"Kenapa makhluk itu terus saja berdalih jika luka ditubuhnya bukan karena apa-apa, Lihat saja pasti aku tau, dan pasti jelas ku buktikan jika anak ini punya urusan yg tidak bisa dianggap remeh"

Knalpot bak kaleng rombeng kembali memecah kesunyian di hari yg hampir panas. Memasuki jalan besar pusat desa, Emely memarkir motornya tak jauh dari pintu masuk belakang pasar. Emely berjalan bersalip-salip karena suasana pasar yg sangat ramai pengunjung di setiap hari nya. Emely berjalan menuju suatu lapak yg di penuhi lalat. disana, ia akan dapat menemukan belatung yg di pinta girwanda, ya tempat pembuangan sayur mayur yg telah busuk dan rusak.

Ia mengambil secarik kertas. Lalu menempatkan beberapa puluh belatung di atasnya. Di rasa cukup. Emely membungkus kertas berisi belatung itu dan menaruhnya di tas kecil yg ia sampingkan di bahunya.

Kembali ia menelusuri jalanan pasar, dan berjalan ke arah pintu depan pasar, disana ia menjumpai jono, kawan main nya dulu yg sekarang terlihat tua dan kusam, walaupun perbedaan usia keduanya hanya berjarak 2 tahun. Jono, pedagang kaya di desa bambu mukti. Pedagang dengan pemilik ruko 8 pintu yg berisi ratusan ton beras.

"Oh hay emely, sahabat kecilku, ada kau sambangi aku si juragan beras di desa bambu mukti?"

"Aku minta sejumput beras ketan, nanti biar ayahku yg membayar nya padamu"

"Oh astaga, sejumput beras ketan? kau minta 1 ton aku berikan, wahai sahabatku"

Jono si juragan beras segera melangkah ke dalam toko, mengambil karung dan berjalan ke arah ruang belakang di toko nya. Sekitar 5 menit emely menunggu, Jono kembali dengan membawa 10kg Beras ketan.

"Hey kau! Tolong angkut beras ini dan antarkan ke kendaraan emely parkir! Sekarang!"

Jono memerintah salah satu kuli nya. Kuli yg dimaksud pun mengerti, dimana letak dan motor emely biasa parkir, karena memang emely cukup dikenal karena kecantikan nya.

"Kau gila, aku minta sejumput kau beri 10kg, bagaimana aku harus membayar nya?"

"Tak perlu bayar! Jelas aku kawan mu. Aku bantu jika kau merasa kesusahan. Tenang sajalah, segera kembali, aku khawatir beras ketan mu di curi orang, ingat, sekarang musim pencuri merajalela, tak pandang siang maupun malam, bahkan hanya sebiji BH milik nenek-nenek mereka ambil, Jaman semakin gendheng!“

"Baiklah, kalau itu mau mu. Tapi, jika aku bisa mengembalikan nya suatu saat, mohon jangan kau tolak ya! Aku pamit"

Jono memperhatikan kawan kecilnya pergi, di antara lalu lalang banyak manusia. Jelas, Jono paham betul jika emely memang memiliki ketertarikan sendiri. Jono hanya tersenyum, mengingat bagaimana ia dan emely dulu. Zaman sudah berganti dan berubah. Tapi, yg namanya sahabat, memang di pastikan wajib abadi dan indah.

---

Emely kembali kerumah girwanda. Sesampainya, ia melihat girwanda tengah duduk di kursi goyang.

"Macam kakek-kakek kau!"

"Tapi yg lebih dulu menjadi nenek adalah kau, hahaha"

"Kau membawa pesanan ku???"

"ya! bahkan aku baru tau jika ada manusia senang pelihara belatung!"

"Selain sok menjadi pembohong, rupanya kau juga senang menjadi sok tau, hahaha"

"Banyak bicara! Apa yg harus dilakukan dengan binatang ini?"

"Sebelumnya, kenapa kau bawa ketan begitu banyak? Aku sebenarnya hanya minta 500 gram."

"Itu urusanku! Lalu aku harua lakukan apa dengan pesanan mu ini?"

"Kau ambil 2 mangkuk ketan, satu mangkuk kau taruh di meja kecil itu. dan sisanya kau rendam dengan air satu ember"

Emely menjalankan perintah girwanda, melakukan nya dengan cekatan dan rapih. Ia sebenarnya bingung, apa fungsi dari ini semua. Tetapi, ia pasti akan tahu sendiri jawabannya.

[B"Lalu?"[/B]

"Kau ambil beras ketan yg di meja kecil itu, dan belatung yg kau bawa tadi"

Baik, Setelah itu?"

"Kau taruh dan taburkan beras ketan itu di atas luka ku! Sekarang!"

Emely menjalankan perintah girwanda. Menaruh dan menaburkan beraa ketan itu pada area leher dan punggung. Hal yg tak disangka-sangka, beras ketan yg baru saja di taburi, Mengeluarkan asap dan gosong begitu saja.

"AAHH!!! SAKIT SEKALI!!!

Emely terkejut bukan main, Ketan yg ia taburkan menjadi begitu kering dan hitam. Seakan tubuh girwanda mengandung api yg sangat panas.

"Kenapa jadi begini??? Kau, kau terkena apa sebetulnya?"

Girwanda tidak menjawab pertanyaan Emely sedikitpun. Ia menahan sakit yg dirasakan setelah beras ketan mengenai tubuh nya. Matanya terpejam rapat, mulutnya meringis, Sakit dan perih memang. Setelah beberapa jam emely korek lukanya, baru ia rasakan sakit yg luar biasa. Kepala Girwanda berkunang-kunang, tubuhnya gelimpungan tak dapat lagi menahan bobotnya.

"Tolong, aku di telungkupkan di pembaringan ku, kau ambil belatung itu, dan taruh di atas luka ku segera! Lalu tolong balut punggung dan dadaku, Aku khawatir jika telat sedikit, luka ku akan membusuk"

Emely yg khawatir segera membantu memapah girwanda ke pembaringan nya. Dan segera menjalankan apa yg girwanda pinta.

Dalam keadaan setengah sadar, Ia bersumpah akan terus menjaga emely. Bahkan, jika dirinya harus mati itu bukan masalah lagi. Ia membayangkan wajah emely, tersenyum. Berharap hari-hari ke depan nya untuk emely, akan lebih indah lagi.

---

"Girwanda!!! Tolong akuuu!!!"

"Girwanda!!! Tolong akuuu!!!"

"Aku takut disini!!! Tolong aku girwanda!!!"

Teriakan dan jeritan yg menakutkan menyadarkan girwanda, girwanda tersadar dari tidurnya, dan sudah berada di tempat gelap, dingin dan menakutkan!

Ia mengerjapkan matanya, mengingat kembali, dimana ia sebelumnya! Tetapi ia tak sanggup mengingat, Sekarang, ia berada di atas pembaringan. Pembaringan yg dingin dan lembab. Kasar juga keras. Tangan nya meraba pembaringan nya. Sebuah batu, girwanda ternyata ada di atas sebuah batu besar. Hawa dingin memasuki lubang telinga nya, dingin yg berbeda, dingin yg membuat hati dan pikiran seketika membeku.

"GIRWANDAAA TOLONG AKU!!!"

Girwanda tersadar sepenuhnya setelah mendengar teriakan yg tidak asing lagi bagi nya. Emely, ya itu teriakan emely!

Girwanda segera bangkit dan berjalan dengan langkah goyah menuju suara teriakan emely. Berjalan di atas bebatuan kecil dan tajam sedikit menghalangi langkah girwanda, tetapi girwanda telah bersumpah terhadap dirinya, jika akan melindungi emely kapan pun. dan bagaimana pun.

Dalam cahaya obor yg redup dan remang, dan wewangian di ruangan yg di hiasi batu ini, kesadaran girwanda kembali terganggu, seperti tertarik mata girwanda selalu ingin terpejam. Dalam perjuangan nya untuk melangkah lebih dalam, girwanda dikejutkan dengan suara yg besar dan dalam, tepat di belakangnya!

"Mau Kemana?"

Girwanda segera menoleh dan Memperhatikan siapa yg berbicara, Girwanda kenal betul sosok ini, sosok yg sangat di benci nya juga sangat ditakuti nya jika mendekati emely.

"Kembalikan emely! Keparat!"

Girwanda berbicara dengan bersusah payah, sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya, dan pusing yg amat hebat yg ia rasa.

"Sayangnya, tidak akan pernah!"

Sosok itu mengangkat sebuah kayu besar yg dihiasi duri besi menghiasi seluruh permukaan kayu.

"Kau, betul-betul menantangku ya?"

Girwanda menajamkan matanya ke arah sosok tersebut, antara marah dan khawatir. bukan khawatir benda itu merobek tubuhnya, tetapi, khawatir jika emely dilukai olehnya!

"Jangan banyak bicara! Sebab perbuatan mu, kau pantas mati!"


BUGHHH!!!



Hantaman benda keras dan tajam menimpah tubuh lemah girwanda. Girwanda hanya menatap lekat sosok itu, sambil tersenyum.

"Tuhan tau mana yg wajib di musnahkan, sebab Tuhan tau, mana tangan kanan nya yg wajib di bela"

Tersenyum penuh makna, girwanda yg terluka tetap merasa menang. Perlahan mata nya terpejam. Sosok dihadapan nya mulai memudar, sepudar kemampuan nya. Dan semua perlahan menjadi,

GELAP
profile-picture
dupa.fair memberi reputasi
Balasan post ariefdias
Ini ngapain diquote semua om .. ya kira updatenya ga taunya ...emoticon-Cape d...
profile-picture
kaliankenalsaya memberi reputasi
Bersambung.........


Loading...

emoticon-Leh Uga
profile-picture
kaliankenalsaya memberi reputasi
waah ada cerita horor lagi....hebat emang para penghuni sfth emoticon-Big Grin semangat buat TS, mudah-mudahan dilancarkan nulisnya dan tidak meninggalkan kentang untuk kita semua hehe
profile-picture
kaliankenalsaya memberi reputasi
Quote:


Pasti gan emoticon-Cendol Gan
Quote:


Belum gan. Masih proses di tamatkan.
Quote:


Belum gan..
Quote:


membaca cerita tidak membunuhmu kok gan
Quote:


Sudah gan
Quote:


emoticon-Ngakak
Quote:


Nanti di sambung lagi emoticon-Cendol Gan
profile-picture
profile-picture
dupa.fair dan anakjahanam721 memberi reputasi
Quote:


Kalo ada kentang tinggal dijual gan hehehe
profile-picture
dupa.fair memberi reputasi
Hay para reader... Maaf ya untuk index blm bisa dibuat.. Pasti nanti di rapihkan lagi.. Oh ya, Untuk para viewer tercinta.. Mohon dukungan nya dan subscribe di channel youtube saya 👉 Ameliong Liong , dan ini link terbaru dari video saya


Berisi konten Cerita Video bergenre Horror.

Berkarya dimana pun, dan kapan pun 😇😇😇
profile-picture
dupa.fair memberi reputasi

CHAPTER 7

Girwanda membuka mata, pandangan nya jernih dan tubuhnya terasa sangat ringan. Ia memandangi sekelilingnya, atap bambu, lentera kecil di ujung ruangan, dan pembaringan yang hangat. Ia bangun perlahan-lahan, mencoba melonggarkan seluruh sendi nya yg kaku. Menghirup nafas panjang, dan beranjak dari pembaringan nya menuju halaman depan.

Girwanda membuka balutan kain yg masih melekat di bagian dada dan punggungnya. Belatung yg di taruh emely sudah membesar, sebesar ukuran kelingking anak-anak. Luka girwanda mengering, tidak ada darah dan nanah di luka itu. Semua habis di makan belatung.

Girwanda membuang penolong nya itu ke semak belukar, Lalu ia berjalan ke hutan kecil di belakang rumahnya. Memetik beberapa dedaunan yg sekira nya mampu dijadikan obat sebagai perapat luka.

Bekas luka girwanda lumayan hitam, masih dilapisi sisa lebam di pinggir garis sepanjang luka nya, Girwanda menumbuk dedaunan yg telah ia dapat dari hutan kecil dirumah nya. Setelah itu menumpuk nya di atas luka tersebut.

"Kau sudah sadar?"

Suara seorang pria yg tak asing bagi girwanda. Segera ia menoleh tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Disana ia jumpai sosok kurus, tinggi, berwajah kecil. Rasa jengkel yg ia alami malam itu belum juga pudar. Walaupun tubuh girwanda merasakan sakit yg sangat parah, tetapi baginya, ia akan merasa lebih sakit jika pria dihadapan nya ini terancam bahaya.

"Kak, kau bahkan tak terlihat senang aku kemari. Kau masih menjadikan yg kemarin adalah masalah?"

"Bukan. Aku bukan tak senang. Hanya saja, kau datang di saat yg tak tepat. Kemarin, harusnya kau tak perlu hadir. Ini bisa mencelakakan mu. Kita kan sudah sepakat, menjalani ini secara terpisah, kalau begini, Kau pun juga dalam bahaya!"

Pria itu mendengus pelan. Ia tau, kakak nya cukup emosional dalam hal memperhatikan keselamatan adik-adiknya. Ia tau juga, bagaimana pun diam nya girwanda, bisa sewaktu-waktu berubah menjadi ular kesetanan jika aturan nya di tentang. Tetapi, pria ini memiliki cara tersendiri menghadapi girwanda.

"Lebih baik aku ikut dalam dunia yg penuh bahaya bersama kau, kak! Dari pada aku membiarkan Kakak ku yg satu ini dalam bahaya!"

"Kau! Kau tak tau kah jika kita ini menghadapi manusia munafik! Aku khawatir, suatu yg besar akan mengancam keberadaan kita, termasuk emely. Maka dari itu, aku mencari dia sejak sekarang ini."

"Kak, Kau tenang sajalah, kita ini kan bersatu, yg penting, selama waktu berjalan, kau jaga rahasia ini baik-baik, aku pun begitu"

"Apa kau terluka pada malam itu?"

Girwanda memperhatikan pria yg adalah adik nya dengan seksama. Dengan pandangan tajam. Dan juga batin yg getir.

"Tidak kak, setelah dia pergi, kakak ku bawa kerumah ku, untuk menghilangkan sebagian ilmu hitam yg meresap di badanmu. tapi, aku khawatir perempuan itu tau, makanya aku kembalikan kau kerumah ini"

Girwanda merasa berkecil hati, baginya, keadaan sangat terbalik, tidak etis seorang adik menyelamatkan kakak nya, sedang adiknya berjuang sendirian malam itu, di mata girwanda, hal ini sangat mencoreng status nya.

"Untung ada emely yg membantu ku merawat luka ini, kalau tidak, entah bagaimana. berjalan pun aku tak sanggup kemarin"

Merasa tak perlu menutupi perasaan nya, Girwanda mengakui jika ia kemarin betul-betul tak sanggup lagi menahan luka dan ilmu jahat dalam dirinya. Biar begitu, girwanda harus berbesar hati, mengakui jika adik nya kini bukan anak kecil lagi yg perlu dilindungi.

"Aku yg memanggilnya kak, melalui alam bawah sadarnya"

"Oh, ternyata kau, harusnya.. kau tak perlu lakukan itu."

"Luka di tubuhmu betul-betul parah, Aku khawatir sesuatu terjadi denganmu. Jadi, Baiklah, untuk sementara ini, kau dirumah saja. Khusus emely, biar aku yg gantikan posisi mu."

"Tak perlu, aku sudah cukup sehat. Kau besok kembali lagi kemari, dan jangan lupa, awasi gerak gerik perempuan itu!"

"Baik kak, Tapi apa aku tak boleh barang sejenak menemani kakak di rumah ini. menginap setiap hari aku pun mau?"

"Elmanda, Situasi ini semakin memburuk, kau memang harus hidup berpisah denganku, misi kita sekarang ini cukup berat! dan, semalam pun aku rasa pria itu telah tau status kita"

"Oh.. Pria bergigi tonggos yg aku hadapi semalam yg hendak membawa tubuh mu, dia penyembah jin hutan, aku tau lah siapa dia."

"Tonggos darimana katamu? Jelas-jelas yg aku hadapi lelaki tua yg memiliki taring! Tangan dan kaki memiliki cakar, dan lagi pula, aku rasa tak pernah melihat dia menyembah di hutan tersebut! Pria tua ini orang lain!

"Tapi kak, kalau pria tonggos semalam bukan yg menyerangmu, lalu untuk apa dia mau membawa tubuhmu? Yg pertama, Harusnya sebagai pemuja pesugihan, melihat tubuhmu tergeletak tentu bukan urusan dia. Yg Kedua, Jika dia hendak jadikan kakak Tumbal, itu kan hal yg mustahil, aku tau jin disana selalu memakan tumbal titisan sang pelaku, bukan orang lain!"

[B]"Perkataan mu ada benar nya. Dugaanku, Kita sekarang memang sudah di incar!"


"Kita tinggalkan rumah ini kak!"


Girwanda segera bergegas mengambil barang-barang dan memasukkan nya ke dalam ransel kecil. Mengeluarkan ontel nya, dan menggembok pintu rumah rapat-rapat. Segera ia bawa adik nya pergi dari rumah itu. Mencari tempat persembunyian baru.

ELMANDA

Malam gelap berangin kencang, ia mendaki bebatuan gunung yg curam. Dalam hatinya, ia harus temukan dimana kakak nya, mati atau selamat. Setelah beberapa jam lalu ia menyambangi rumah girwanda, Elmanda tidak menemukan siapapun, Hanya darah ayam yg berceceran di lantai dan setengah kemenyan yg masih dibalut bara. Ia paham, tidak mungkin kakak nya meninggalkan tempat ini tanpa merapihkan semuanya jika tidak buru-buru. Elmanda segera berlari menuju arah perbukitan timur, mengambil tongkat pusaka yg ia dapat dari gunung belakang desa Bejo Sewu. Setelah itu ia terpaksa berlari lagi menuju perbukitan selatan, karena ontel milik girwanda lenyap tak berbekas.

Berlari sekencang dan sekuat tenaga, walau sempat terjatuh beberapa kali, di tengah malam yg gelap menelusuri jalanan bukit selatan, mencari keberadaan kakak nya. Angin kencang dan suara binatang malam yg bersahutan tak menyurutkan nyali elmanda. Bagaimana pun, ini sudah dia anggap sebagai risiko, berhadapan dengan maut setiap saat. Elmanda menggenggam kuat tongkat berwarna hitam kemilau dengan 3 mata tombak di ujungnya yg dihiasi zamrud di setiap sisi nya. Ia tahu dimana keberadaan kakak nya, dimana lagi kalau bukan di hutan paling terkutuk itu. Diantara semua hutan, hutan di perbukitan selatan lah yg paling kuat energi hitam nya!

"Kau takkan pergi seperti ini jika kau tidak di pancing! aku yakin, sesuatu sudah turun ke wilayahmu, dan aku yakin juga, desa bejo sewu bukan lagi tempat yg aman bagi mu! kecuali, ini ada hubungan nya dengan emely!"

Elmanda menyusuri gelap nya hutan, barisan pohon bagai bayang-bayang menakutkan yg siap menerkam nya kapan saja. Elmanda sempat terkecoh pikirannya, karena, ia mendengar suara girwanda dari segala arah. Ia teguhkan hati nya, Ia teringan ucapan kakak nya itu,

"Jika kau sedang di hutan dan mencariku, Pasti akan ada seribu suara yg menyerupai ku, Selalu pergi lah ke hutan dalam arah timur, karena, timur adalah aman bagiku, sebab disana aku dilahirkan!"


Elmanda berlari sekencang-kencangnya. Berlomba dengan waktu. Tak peduli ranting tajam yg ia tapaki. Tak peduli makhluk malam yg mengamati. Elmanda fokus dengan pikiran nya. di tengah hutan, dekat tempat para pemuja hutan, ia mendengar dentuman keras. Elmanda bingung, suara apa itu barusan. Ia menyelinap dari pohon ke pohon. Mencoba menangkap asal suara, elmanda memanjat salah satu pohon, dari kejauhan beberapa meter di depan nya, ia melihat sesosok berjubah, Jubah Hitam !

Sosok jubah hitam itu menggotong tubuh girwanda, membawanya ke bibir hutan. Elmanda dengan cepat tau siapa sosok yg membawa kakak nya!

"Pemuja itu akan membawa girwanda kemana? Sialan! Tunggu balasan ku!"

Elmanda terbang dari pohon ke pohon, menjadikan nya bagai bayang-bayang hitam yg berterbangan di tengah malam. Elmanda hendak mencegat sosok itu di bibir hutan, tapi terlambat, sosok itu tau dan segera melemparnya dengan pisau bermata 4! Pisau yg melayang dan berputar dengan cepat nyaris mengenai mata elmanda! Dengan cekatan ia menangkap pisau itu dan melemparnya kembali kepada sosok berjubah hitam yg sebelum nya lari untuk menutup identitas! Tapi kemampuan elmanda yg cukup jago, membuat sosok jubah merah tergores leher nya di bagian belakang!

"Kita lihat, siapa kau sebenarnya! mau main-main dengan ku ya, lebih baik ku buat mati saja!"

Elmanda terbang ke arah pohon di depan nya dan segera terjun menimpa tubuh sosok jubah hitam lalu menancapkan tombak mata 3 nya ke punggung bagian atas !

Sosok itu memberontak beberapa saat hingga akhir nya tak sadarkan diri. Setelah memastikan sosok itu mati, elmanda bangkit lalu membalik tubuh sosok jubah hitam itu, memperhatikan wajah nya lalu kembali menikam dada nya dengan tonmbak mata 3 nya. Lalu meludah 3 kali ke arah mayat yg bersimbah darah

"BUSUK!"

Elmanda mengangkut tubuh girwanda, mengikat tangan nya dan menaikan nya di atas ontel yg tergeletak tak jauh dari sang mayat. Malam semakin larut hampir menuju pagi. Malam kelam ini elmanda lalui dengan membunuh seorang pemuja, lagi.
profile-picture
dupa.fair memberi reputasi
Terima Kasih kepada para pembaca yg sudah subscribe dan like di channel saya... Bagi yg blm segera subs ya... 😇😇😇
profile-picture
dupa.fair memberi reputasi
lanjut om juragan
lanjutkan TS, saya nenda ah di sini
Halaman 2 dari 2


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di