alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
'Kotak Waktu' (Buku Kedua @pudjanggalama)
4.95 stars - based on 19 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4aa4e4a727684917225b16/kotak-waktu-buku-kedua-pudjanggalama

'Kotak Waktu' (Buku Kedua @pudjanggalama)

Tampilkan isi Thread
Halaman 5 dari 6
Asyique
mantappp mabrooo
mantap.ni, nunggu karya om ari selanjutnya
Tandain dl ah.... emoticon-Cendol Gan
Numpang pasang jangkar dulu biar ngak ketinggalan lanjutannya
nenda omemoticon-Traveller
Balasan post rizkyl.e
Ane pecinta SK2H karya agan, update trus ya gan Kotak Waktunya
emoticon-Cendol Gan
Wow suhu SFTH turun gunung..nyimak gan..ijin gelar lapak
emoticon-Rate 5 Star
btw ini kisah nyata jg kah om pujangga?
Login lagi kaskus grgr ada suhuuu emoticon-Cendol Gan hahaha naro sendal disini ahhh
Diubah oleh pseudomonas.sp
sekrang baca ginian kok kerasa keren ya, lah dulu ane malah takut 😂😂😂
Hehe, tertanda dulu..
Selamat membaca di SFTH
Welcome back om ari 🙏🙏

BAB 10

Taka ingat kapan pertama kali jatuh cinta pada Keela. Di hari ulang tahunnya yang ke-15, pertengahan April tahun 2002. Siang itu, setelah selesai jam pelajaran, kelas I-2 tidak membubarkan diri. Seluruh siswa—kecuali Keela tentunya—sudah dikabari bahwa hari ini akan ada perayaan ulang tahun.

Tidak lama setelah bel terakhir berbunyi, Keela langsung jadi sasaran lemparan terigu dan telur mentah. Dalam sekejap ruang kelas dipenuhi asap putih. Setelah puas mengerjai, mereka bergantian mengucapkan selamat lalu pulang. Demikianlah definisi ‘perayaan’ yang ada di benak anak sekolah pada umumnya.

Dewi dan Elsa sudah menyiapkan pakaian ganti untuk Keela. Dengan antusiasme yang tersisa, mereka berdua mengantar Keela ke toilet sementara Taka dan Gugun menunggu di dalam kelas. Rencananya setelah ini mereka akan pergi makan di mal. Satu lagi definisi perayaan ulang tahun yang dimiliki anak muda: yang berulang tahun harus mentraktir makan teman-temannya.

Hampir setengah jam Taka menunggu dalam diam. Di sudut kelas, Gugun asyik bermain gitar. Dia berulang kali memainkan ‘Simfoni Nomor 9’ milik Beethoven. Taka hampir tertidur ketika pada akhirnya tiga orang yang ditunggunya datang.
Sebenarnya tidak ada yang berbeda dari penampilan Keela. Dia mengenakan seragam putih abu-abu milik Dewi. Sedikit longgar memang, tetapi tidak terlalu mencolok. Yang paling membuat pangling adalah rambut Keela tidak diikat. Kadar kecantikan Keela di mata Taka langsung melesat jauh secepat roket yang terbang ke angkasa.

“Rambutnya enggak diikat?” Tanya Taka tanpa melepas pandangan dari Keela.

“Ikat rambutnya kotor, kena telur sama tepung. Pada enggak bilang, sih, mau ada acara lempar telur. Tahu gitu kan aku bisa bawa ikat rambut cadangan dari rumah.”

“Enggak usah diikat, lebih bagus begini,” kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Taka.

Keela cuma senyum-senyum malu.

“Ehem, biasa aja ngelihatnya,” Dewi melemparkan handuk ke wajah Taka. Teman-temannya tertawa.

“Jadi, kita mau makan di mana? Bandung Indah Plaza?” tanya Gugun tidak sabar.

“Tadi aku ngobrol sama Dewi dan Elsa,” jawab Keela. “Katanya, daripada makan di mal mending masak sendiri.”

“Masak? Enggak salah, nih?”

“Iya. Dari sini kita belanja bahan-bahannya di pasar, terus ke rumahku. Kita makan-makan di sana. Aku sama Elsa yang masak. Gimana? Mau enggak?”

“Mau masak apa memangnya?”

“Rahasia.”

“Udah, enggak usah pada bawel. Tinggal ikut aja, duduk manis nunggu makanan matang,” Dewi angkat bicara. Kalau sudah Dewi yang mengultimatum, itu artinya keputusan sudah final.

Maka, berangkatlah mereka ke pasar untuk berbelanja bahan masakan. Mereka tiba di rumah Keela pada pukul setengah empat sore. Sementara para perempuan memasak di dapur, Taka dan Gugun duduk-duduk di teras rumah.

“Gue yakin Dewi enggak ngapa-ngapain di dapur,” kata Gugun. “Dia, kan, enggak bisa masak.”

“Iya juga ya. Paling ngeribetin Keela sama Elsa doang.”

“Heh, kalau mau ngomongin orang, lihat-lihat dulu! Tunggu orangnya enggak ada! Aku masih di ruang tamu, tahu?”

Taka dan Gugun cuma tertawa. Sore itu mereka makan menu yang dibuat oleh Elsa dan Keela: sayur asam, ikan asin goreng, lalapan, dan sambal terasi. Bersama ibunda tercinta dan kedua adiknya, Keela merayakan salah satu ulang tahun terbaik di hidupnya.

Menjelang magrib, Taka, Gugun, Dewi, dan Elsa pamit.

“Ka, jangan lupa puisinya,” Keela berbisik ketika Taka memasang tali sepatu di teras.

“Puisi?”

“Aku kan udah turuti permintaanmu. Sekarang, gantian kamu tulis puisi buatku.”

Taka tersenyum lebar. Dia pulang dengan hati berbunga-bunga. Malam harinya dia tak bisa tidur karena terus teringat betapa cantiknya Keela hari itu.
profile-picture
profile-picture
donny065 dan i4munited memberi reputasi

BAB 11

Satu-satunya yang membuat Taka resah adalah pergerakan Iqbal yang makin gencar mendekati Keela. Dengan label sebagai ketua OSIS dan banyak dikagumi karena prestasi serta parasnya, bukan hal sulit untuk laki-laki seperti Iqbal melakukan pendekatan kepada perempuan yang diinginkannya.

Terlalu kebetulan rasanya kalau setiap hari Iqbal tanpa sengaja bertemu dengan Keela di kantin. Kalau Iqbal sudah mendekat, biasanya Taka memisahkan diri dari rombongan. Dia biarkan Dewi dan Elsa menemani Keela, sementara dia dan Gugun menyelinap di antara kerumunan murid yang berjejalan di warung gorengan. Kadang, saat Keela tidak pergi ke kantin, Iqbal yang datang ke kelas I-2. Ketua OSIS itu tampak menikmati setiap tatapan kagum dari para perempuan. Taka ingin sekali menonjok mukanya, tapi dia sadar hal tersebut tidak akan serta-merta membuatnya lebih ganteng dari Iqbal.

“Terus terang, gue khawatir sama perkembangan zaman dewasa ini,” kata Gugun pada Taka ketika mereka menyelinap ke belakang sekolah bersama beberapa siswa yang lain. Saat itu jam pelajaran kosong. Sudah lumrah bagi sebagian siswa—khususnya para siswa nakal—bahwa belakang sekolah adalah tempat favorit untuk merokok karena aman dari pantauan guru.

“Maksudnya? Bagian mana dari perkembangan zaman yang lu khawatirkan?” Taka sambil menyerahkan batang rokok pada Gugun. Asap putih tipis melayang-layang di antara mereka berdua.

“Bagian yang terdapat konflik percintaan antara lu, Iqbal, dan Keela.” Gugun menyerahkan kembali rokok kepada Taka.

Tangan Taka tertahan di depan mulut. “Gue enggak ngerti yang lu omongin.”

Gugun tertawa sinis. “Lu pikir gue buta? Gue bisa lihat dengan jelas, kalau lu naksir Keela.”

“Ngawur.”

Gugun tertawa lagi. Direbutnya rokok dari Taka, lalu diisapnya dalam-dalam. Segera saja asap tebal berembus keluar dari mulut dan hidungnya. “Kita udah berteman lama. Enggak usah malu. Akui aja.”

Taka diam.

“Yang jelas, lu harus bergerak. Kalau lu diam aja, pasti Iqbal yang dapetin Keela.”

“Gerak gimana? Lu tahu sendiri gue kalah jauh sama dia.”

“Nah, dengan pertanyaan ini secara enggak langsung lu mengakui kalau lu suka sama Keela. Iya, kan?” Gugun kembali tertawa.

Taka merebut rokok dari Gugun, dicobanya menghisap dalam-dalam seperti yang dilakukan kawannya, tetapi sedetik kemudian dia terbatuk-batuk. Asap tebal meluncur keluar tiap dia membuka mulut. Tenggorokannya panas.

“Amatir,” Gugun merebut lagi rokoknya. Dengan satu isapan panjang habis sudah rokok itu, lalu diinjaknya sampai mati.

“Jadi, gue harus gimana?”

“Jangan langsung isap ke dalam hidung. Tahan dulu di mulut. Begitu mau dikeluarin, baru deh buang lewat hidung.”

“Maksud gue soal Keela, bukan rokok!”

“Oh…” Gugun tertawa. “Kalau soal cewek, jujur aja gue bukan ahlinya. Gue bukan Dewa Asmara. Jadi gue enggak bisa ngasih lu saran harus gimana. Tapi yang jelas, lu harus mulai bergerak. Itu aja.”

Taka memikirkan baik-baik saran dari Gugun. Hari-hari selanjutnya dia mulai mencari cara menarik perhatian Keela. Lalu dia teringat soal puisi yang pernah diminta Keela. Jadilah dia ke toko buku, membeli beberapa buku puisi, dan mulai belajar membuat sendiri dengan meniru dari yang dibacanya di buku.

Berkali-kali dia menulis, berkali-kali pula dia menghapusnya.

“Keela enggak mungkin suka sama puisi kayak gini,” Taka bicara pada diri sendiri setelah membaca salah satu puisi yang dibuatnya dengan susah payah, mulai dari malam sampai menjelang subuh. Dirobeknya kertas puisi itu. Lalu dia duduk terdiam sambil merenung.

Kamarnya sekarang sudah mirip seperti sebuah ruang penyelidikan di kantor polisi. Robekan kertas bertuliskan satu-dua kalimat tertempel di dinding-dindingnya. Taka cukup kesulitan dalam membuat puisi. Terkadang dia hanya menemukan satu kalimat saja, lalu mentok. Di lain waktu, dia menemukan kalimat lain tapi tidak berhubungan dengan kalimat yang sudah dia buat. Jadilah dia memisahkan setiap temuannya itu di kertas-kertas yang berbeda. Dia berharap akan segera menemukan lanjutan dari kalimat yang tertulis sebelumnya, tetapi nyatanya itu tidak terjadi.

Dalam keheningan malam, ketika dia memikirkan Keela dan deretan kata yang tertempel di dinding kamar, satu kalimat terlintas di benaknya.

Kita seperti kata, terhapus sebelum sempat terucapkan.
profile-picture
i4munited memberi reputasi

BAB 12

Dalam dua bulan terakhir nama Keela menjadi terkenal di kalangan siswa perempuan. Mereka penasaran seperti apa sosok yang berhasil menggaet hati pujaan kaum hawa di sekolah itu. Saking penasarannya, beberapa dari mereka sengaja datang ke kelas I-2 hanya untuk mencari Keela. Beberapa lainnya berkerumun di depan kantin menunggu Keela datang. Sekelompok siswi kelas 3 bahkan terang-terangan mendatangi Keela dan melabraknya di taman. Mereka tidak terima seorang murid pindahan membuat usaha mereka menarik perhatian Iqbal selama ini berakhir sia-sia.

Awalnya Keela tidak memedulikan omongan orang-orang, tetapi karena seringnya dia mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari mereka, Keela tampak mulai gelisah. Dia jadi jarang keluar kelas. Akhir-akhir ini dia bahkan menunggu sampai sekolah sepi untuk bisa pulang. Keempat sahabatnya jelas khawatir dengan perubahan situasi ini.

“Mereka semua iri sama kamu, Kee,” suara Dewi terdengar lantang di tengah lapangan basket yang sepi. “Enggak usah dengerin omongan mereka. Anggap aja angin lalu.”

“Benar, Keela. Enggak perlu terlalu dipikirin,” sambung Elsa. Sementara Taka dan Gugun diam saja. Saat itu mereka berlima sedang beristirahat sambil menunggu jam pelajaran olahraga selesai. “Namanya juga pacaran sama cowok yang digilai cewek satu sekolah. Banyak yang enggak suka.”

“Aku enggak pacaran sama Kak Iqbal,” Keela menegaskan.

“Beneran kamu belum jadian? Berarti saya masih punya kesempatan, dong!”

Dewi buru-buru mencubit lengan Elsa untuk mengingatkan. Elsa cuma senyum malu.

“Beberapa hari yang lalu Kak Iqbal sempat nembak, tapi kutolak.”

“Apa??? Ditolak???”

Giliran Gugun menggeplak kepala Elsa. “Berisik!”

“Kenapa kamu nolak dia?” Dewi bertanya.

“Taka yang tahu alasannya.”

Semua mata tertuju pada Taka.

“Eh? Kamu bilang apa, Kee?” Taka yang sejak tadi melamunkan hal lain menjadi terkejut ditatap seperti itu.

“Tadi Keela bilang,” Elsa menjelaskan. “Alasan kenapa dia nolak Kak Iqbal, cuma kamu yang tahu.”

“Kok mencurigakan ya,” sahut Dewi.

“Iya. Kenapa malah Taka yang tahu? Kenapa Keela enggak cerita ke saya dan kamu, Wi. Hm….”

“Hm….”

“Hei, udah, udah. Kasihan tuh Taka ketakutan dilihatin kalian kayak gitu,” Keela tertawa. “Aku sempat bilang sama Taka, kalau aku mau konsentrasi belajar. Karena itu memang tugasnya pelajar. Datang ke sekolah ya buat belajar, bukan pacaran. Gitu.”

“Oh, gitu doang. Pantas ceritanya ke Taka.”

“Saya pikir rahasia penting.”

Mereka berlima tertawa.

Dari arah kelas Bagas berlari menghampiri. “Kalian semua, kenapa masih di sini? Belum ganti pakaian pula! Jam pelajaran Matematika sebentar lagi dimulai. Saya sudah panggil Pak Maung dari ruang guru.”

“Waduh, gawat!”

Pak Maung adalah guru matematika kelas I, sekaligus merangkap guru konseling. Di kalangan para murid, dia terkenal sebagai guru killer. Setiap murid yang bermasalah pasti akan berhadapan dengannya, seperti ketika Taka dan kawan-kawan berkelahi di lapangan upacara tempo hari.

‘Maung’ adalah julukan yang disematkan para murid untuk guru killer tersebut. Nama sebenarnya adalah Marwan Candradinata, yang jika disingkat akan menjadi Ma-Can. Dalam bahasa Sunda, ‘maung’ juga berarti macan.

“Sebelum Maung mengaum, buruan kalian ganti pakaian!”

Maka secepat kilat Taka dan kawan-kawan membubarkan diri. Mereka melesat menuju kelas untuk mengambil seragam, lalu bergegas ke toilet. Gugun, Dewi, dan Elsa sudah lebih dulu ke toilet. Tinggal Taka dan Keela mengemasi seragam dari atas meja.

“Ka,” panggil Keela.

“Ya?”

“Menurut kamu, aku mesti gimana?”

“Kok masih nanya? Kita harus secepatnya ganti seragam sebelum si Maung datang.”

“Bukan soal itu.”

Taka terdiam.

“Soal Kak Iqbal….”

“Oh...” Taka berpikir sejenak. “Menurutku, balik lagi ke kamunya gimana. Kalau kamu suka sama Iqbal, jadian aja. Jangan mikirin omongan orang-orang yang enggak suka.”

“Memangnya enggak apa-apa kalau aku pacaran sama Kak Iqbal?”

Taka tertawa. “Itu kan hak kamu. Kok nanya ke aku? Udah, ya, aku duluan ke toilet,” Taka sambil berlari keluar. Agak jauh dari pintu kelas, dia menghentikan langkah. Sebuah pergulatan pikiran kemudian terjadi di kepalanya. Kenapa dia berkata seperti itu pada Keela? Seharusnya dia melarang Keela dekat dengan Iqbal. Kalau mereka benar-benar jadian, apa jadinya?

Taka merasa nelangsa. Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengutuk diri sendiri.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mamedmax dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh pujangga.lama
emoticon-I Love Indonesia
Hahahaha urg sunda mah emang kreatip,saya dulu juga punya guru dgn julukan meong..!kangen sama cara ngedidik jaman dulu,selain ngasih pelajaran ilmu juga ngelatih mental biar ga lembek kayak tahu,mau gaplok ya gaplok beneran,dan org tua murid pun ga mslh kalo emang si murid yg salah!
Alhamdulillah epeknya skr berasa saat kita terjun ke masyarakat..
Keluarkan saja bukunya saya beli klo preview nya seperti ini
mantap om,langsung update 3. ceritanya menarik 😂👍
Halaman 5 dari 6


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di