alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Perburuan Pembakar Hutan Bidik Siapa: Kepala atau Ekor?
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d5141d22f568d42a06906ab/perburuan-pembakar-hutan-bidik-siapa-kepala-atau-ekor

Perburuan Pembakar Hutan Bidik Siapa: Kepala atau Ekor?


Perburuan Pembakar Hutan Bidik Siapa: Kepala atau Ekor?

Langkah maju boleh jadi telah berlangsung dalam penyelidikan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tengah berlangsung di Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

Pekan lalu (7/8), jajaran Polda Riau telah menangkap 26 orang pelaku terkait kebakaran hutan. Pelaku yang ditangkap merupakan perorangan atau individu, bukan koorporasi. Penangkapan dilakukan karena mereka sengaja membuka atau membersihkan lahan dengan cara dibakar. Total luas areal lahan yang terbakar mencapai 210,655 hektar.

Dua hari berselang, Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Riau mengumumkan menetapkan perusahaan perkebunan sawit PT Sawit Subur Sejahtera (SSS) sebagai tersangka kasus serupa. Kapolda Riau Irjen Pol. Widodo Eko Prihastopo menyebut, PT SSS merupakan perusahaan perkebunan sawit yang berlokasi di Kabupaten Pelalawan, Riau. Luas lahan perusahaan yang terbakar mencapai 150 hektar. Hasil penyidikan juga menyebutkan lahan konsesi terbakar akibat kelalaian pihak perusahaan.

Selain PT SSS, Widodo mengaku pihaknya tengah mendalami dan bukan tidak mungkin akan segera menetapkan satu perusahaan sebagai tersangka. Perusahaan itu bertanggung jawab atas kebakaran lahan yang terjadi di Langgam, Kabupaten Pelalawan.

Sebelumnya, lima perusahaan perkebunan dan kehutanan di Riau mendapat surat teguran dari Satgas Udara Siaga Darurat Karhutla Riau terkait dengan temuan karhutla di sekitar area konsesi mereka. Kelima perusahaan tersebut adalah PT Priatama Rupat (Surya Dumai Group), PT Jatim Jaya Perkasa (JJP) Teluk Bano II, PT Wahana Sawit Subur Indah (WSSI) Koto Gasib Siak, PT Seraya Sumber Lestari (SSL) Koto Gasib Siak dan PT Langgam Inti Hibrindo (LIH).


Gubernur Kalbar Siap Panggil 94 Pengusaha


Di Pontianak, jajaran Polda Kalimantan Barat (Kalbar) juga tengah memburu para pelaku karhutla. Kabiro Operasional Polda Kalbar Kombes Pol. Jayadi bilang dalam dua hari terakhir ada peningkatan pengungkapan kasus. Tercatat sudah ada 11 kasus yang tengah dalam tahap penyelidikan.

Langkah lebih agresif bahkan dilakukan Gubernur Kalbar Sutarmidji, yang memastikan akan memanggil 94 pengusaha yang di sekitar lahan usahanya terdapat kebakaran hutan. Ke-94 perusahaan tersebut terdiri atas 56 perkebunan dan 38 Hutan Tanam Industri (HTI).  Gubernur akan minta klarifikasi dan tanggung jawab perusahaan jika terlibat kebakaran hutan.

Sutaridji menyatakan akan tegas terhadap aturan. Jika memang terbukti terjadi kebakaran lahan dalam radius 2 kilometer dan terbukti ada unsur kesengajaan, maka izin usaha perusahaan yang bersangkutan akan dicabut.

Perburuan Pembakar Hutan Bidik Siapa: Kepala atau Ekor?

Meski tampak populis, langkah inisatif ini justru mengundang pertanyaan. Mengapa pemanggilan tidak didampingi TNI-Polri yang memang berwenang serta ditugaskan Presiden Jokowi untuk memburu pembakar hutan? Apakah mungkin langkah tersebut demi "menyatukan jawaban" alias kongkalikong untuk menghadapi penyelidikan aparat? Jika tidak, mengapa harus mendahului aparat??


Sepuluh Korporasi Tersangka Pembakar Hutan


Jika ditelusuri secara seksama, PT SSS merupakan perusahaan ke-11 yang menjadi tersangka perkara kebakaran. Sebelumnya pada 2014 ada PT Kalista Alam yang secara sah dinyatakan bersalah melakukan perbuatan melawan hukum membakar lahan gambut tripa. Atas perbuatan tersebut perusahaan sawit ini dihukum ganti rugi sebesar Rp366 miliar.

Berikutnya ada PT Bumi Mekar Hijau (BMH) yang terafiliasi Sinar Mas Group, terbukti membakar lahan seluas lebih dari 20 ribu hektar. Mereka dituntut kompensasi Rp78,5 miliar. Hanya 1% dari total gugatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebesar Rp7,9 triliun.

Kemudian ada pula PT Palmina Utama yang pada 2013 lalu harus membayar dendan Rp1,5 miliar karena terbukti membakar lahan di Desa Cintapuri Darussalam, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. PT National Sago Prima, anak perusahaan PT Sampoerna Agro Tbk, ini ikut menyumbang kebakaran lahan seluas 3 ribu hektar. Mahkamah Agung (MA) akhirnya mengabulkan tuntutan kompensasi KLHK sebesar Rp1,07 triliun pada awal Januari 2014. 

Selanjutnya berturut-turut ada PT Waringin Agro Jaya, PT Ricky Kurniawan Kertapersada, PT Jatim Jaya Perkasa, PT Merbau Pelalawan Lestari, PT Surya Panen Subur dan PT Waimusi Agroindah.


Bidik Kepala atau Ekor?


Langkah perburuan terhadap ulah para pembakar hutan tentu patut mendapatkan apresiasi. Kita telah melihat bagaimana penegakkan hukum mulai menyentuh ranah korporasi, tidak hanya aktor individual. Namun demikian, kita masih belum melihat nama-nama korporasi raksasa yang familiar di telinga dalam daftar panjang tersebut. Bisa jadi perusahaan-perusahaan itu hanyalah sebatas kepanjangan tangan dari korporasi besar untuk cuci tangan dalam kasus karhutla.

Padahal, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kalimantan Tengah, Rawing Rambang, pernah menyebut ada sekitar 1,6 juta hektar lahan sawit di provinsi itu, yang dikuasai oleh sebanyak 183 perusahaan. Dari total luas lahan tersebut, ada tiga raksasan yang mendominasi, yakni Sinar Mas Group, Astra Group dan Wilmar Group.

Dengan demikian, besar kemungkinan perburuan masif para pelaku pembakar hutan baru menyentuh 'ekor'nya saja. Sedangkan para 'kepala' masih berlindung di balik tameng para 'bintang tua' purnawirawan TNI maupun Polri yang ada di baliknya.

Perburuan Pembakar Hutan Bidik Siapa: Kepala atau Ekor?

Tengoklah nama-nama Komjen (Purn.) Nanan Soekarna, eks Wakapolri zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang saat ini menjabat Komisaris Independen di PT Eagle High Plantation Tbk, salah satu perusahaan sawit terbesar di tanah air. Atau mantan Kapolri periode Januari 2015-Juli 2016, Jenderal Polisi (Purn.) Badrodin Haiti, yang saat ini bernaung di bawah Sinar Mas Group sebagai Senior Advisor.

Atau tengok PT Golden Plantation Tbk yang jajaran dewan komisarisnya diisi oleh para purnawirawan TNI. Mantan Kepala Staff Umum TNI tahun 2015, Marsekal Madya TNI (Purn.) Dede Rusamsi, yang kini tercatat sebagai Komisaris Utama, Kepala Puslitbang Sumdahan Puslitbang Kementerian Pertahanan Brigadir Jendral (Purn.) Syukran Hambali yang menjabat Komisaris Independen dan Marsekal Madya (Purn) Wahyudin Karnadinata sebagai Komisaris.

Tidak hanya para 'bintang tua', korporasi sawit pun banyak menggunakan eks pejabat tinggi negara demi "mengamankan" bisnisnya. Seperti PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk yang menggunakan jasa Bungaran Saragih, eks Menteri Pertanian pada zaman Kabinet Gotong Royong, dan Marzuki Uzman, eks Menteri Kehutanan dan Perkebunan zaman Presiden Gus Dur.

Tak heran mereka tampak aman sentosa. Ada backing kuat di belakangnya. Menjerat raksasa-raksasa inilah yang sesungguhnya kita inginkan! Melumpuhkan 'kepala', bukan 'ekor'!





Acuan:


Polisi Tangkap 26 Orang Pelaku Pembakaran Hutan dan Lahan di Riau

PT SSS Ditetapkan Sebagai Tersangka Korporasi Kasus Karhutla

Gubernur Kalbar Panggil 94 Perusahaan Terkait Karhutla

10 Perusahaan Ini Pernah Terseret Kasus Karhutla 
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
banyak drama nya nehemoticon-Leh Uga
Sejauh ini ane apresiasi aja sama aparat.
bidik yg bener ntar meleset
Ekor donk. Yg ngebakar kn ekor. Klo ekor gmau walau kepala yg nyuruh ya gak ada bakar2. Kepala kn gk berani ngebakar. emoticon-Traveller
klasik indo, yang diributkan itu kepala atau ekor, nggak bakalan kelar sama kayak kucing mengejar ekor sendiri.emoticon-Ngakak

harusnya kan meributkan bukti ya. kalau terbukti membakar ya dihukum. mau kepala atau ekor sama aja.emoticon-Big Grin
Kita harus ucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya untuk intitusi polri dan tni dong emoticon-Ngakak
Banyangkan klo tidak ada jendral2 itu lo nggak bakaan bisa ngisap asap gratis gan.emoticon-Hammer2
Nyang kena cuma coro2 nya aje nich.. Percuma turunin panglima same kapolri wkwkwkw
Sepertinya harus ada batasnya balas budi manusia.
Karena negeri ini lembek sama purnawirawan, hutan yang jadi korbannya.
PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk yang menggunakan jasa Bungaran Saragih, eks Menteri Pertanian pada zaman Kabinet Gotong Royong, dan Marzuki Uzman, eks Menteri Kehutanan dan Perkebunan zaman Presiden Gus Dur


INi mah udah pasti aman sejahtera hahaha


×
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di