alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Teka Teki Kematian Erna
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4d77a76df231166a34d024/teka-teki-kematian-erna

Teka Teki Kematian Erna

Update seminggu sekali, pentengin ae ya Gan. Hehe.

Daftar Isi :

Bagian Satu

Bagian Dua

Bagian Tiga

Bagian Empat




12 Agustus 2003

Perempuan itu berjalan semakin dekat ke arahku, aku tidak percaya bahwa itu adalah dia. Rambutnya berubah menjadi lebih lurus dan pendek sebahu. Wajahnya menjadi lebih putih dari yang dulu. Lantas apakah aku bahagia bertemu dengan dia? Jawabannya adalah tidak. Aku berusaha menghindari perempuan itu, namun kakiku berlari di tempat. Aku tidak beranjak satu centimeter pun dari posisiku berpijak. Matanya semakin menatapku, namun tidak sinis. Tapi aku semakin takut, bahkan hampir menangis.
Dia sudah ada di hadapanku, aku tetap diam di tempat. Aku mematung, berkeringat dan gemetaran.

"Ikut aku Pi? Tanyanya, sambil senyum ramah.

"Tidak."

"Ayolah, enak disana."

"Tii..dak," aku terbata-bata.

"Kenapa?"

"Bukankannya kau sudah meninggal?"

"Siapa bilang? Aku masih hidup."

"Pembohong, lantas di mana kau selama ini?

"Aku hanya pindah tempat tinggal."

"Pembohong!

"Jadi kau tidak mau ikut?

"Tidak, kau pergilah!

"Yasudah aku duluan ya."

Kemudian perempun itu hilang, seiring dengan bangkitnya aku dari tidur malam. Aku berkeringat sekaligus ketakutan. Nafasku sesak, jantungku berdetak tak beraturan. Kulirik jam dinding, pukul 01.00 dini hari. Suasana kamar kosku sangat lengang. Aku semakin takut. Kesunyian seolah mengolok-ngolokku dengan bayangan ketakutan. Kuambil earphone, kucolokkan ke ponselku, kupasang earphone ketelingaku dan ku putar lagu hip hop dengan volume sangat kencang. Aku berusaha menenangkan diriku, hingga aku tidak ingat jam berapa aku mulai bisa terlelap kembali.


Ps : Ayo tinggalkan jejak ya, 20 komentar langsung update part selanjutnya ya. Hehehe. Terimakasih banyak.

Salam misteri emoticon-Cendol Gan emoticon-Cendol Gan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
liaaa376 dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh delviharahap20
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 3
Numpang puter balik
ane salah belok

emoticon-Ngacir2
profile-picture
eghy memberi reputasi
Sebaiknya bikin dalam draft dlu story nya, kalo udah ada 5 part baru bikin trit emoticon-Traveller
profile-picture
sipit.siput memberi reputasi
Quote:


Udah ada gan, cuman ga ane up
Quote:


Hadeehhh

Bagian Dua

29 Agustus 2003

Aku tidak tahu sedang berada dimana. Aku diam sejenak memperhatikan segala yang ada. Aku terus menelusuri jalan sepi, kiri kanan hanya kutemukan pohon dan kabut putih. Aku terus berjalan maju dengan perasaan takut. Sedikit demi sedikit kabut memudar, menampilkan sebuah potret rumah kayu yang sedang ramai. Jarakku ke rumah itu hanya tinggal beberapa meter, aku terdiam memperhatikan. Orang-orang duduk berdampingan di kursi plastik yang disedikan tuan rumah. Ibu-ibu dan bapak-bapak serempak membacakan ayat-ayat Al-Qur'an. Tepatnya surat Yasin. Bendera putih terpajang di atas tiang di halaman. Aku berjalan menuju rumah itu, bukan karena simpati atau penasaran. Melainkan tidak ada tujuan lain yang bisa kuperhitungkan. Aku hanya akan bertanya ini dimana, dan mencari jalan agar bisa pulang ke rumah. Entah kenapa aku bisa sampai ketempat ini, aku seolah tersedot mesin waktu, yang menjatuhkanku di tempat menakutkan ini.

"Permisi bu, ini dimana ya? Tanyaku pada salah seorang ibu-ibu di halaman rumah itu.

"Ini di rumah duka," jawabnya, padahal bukan itu jawaban yang kuinginkan.

"Maksut saya ini di daerah mana bu?

Belum sempat ibu-ibu itu menjawab, ada seseorang yang menyentuh bahu kiriku. Spontan aku menoleh ke arahnya.

"Kaaa...uu," tenggorokanku tercekat, tiba-tiba aku kehilangan akal. Nafasku sesak, jantungku berdetak sangat cepat. Badanku kaku dan langsung berkeringat. Mimik wajahnya tidaklah mengerikan, dia tersenyum ramah. Namun aku tetap saja takut dan mematung seperti batu.

"Kau sama siapa kesini? Tanyanya.

"Tiii...ddak tahu, kau kenapa ada disini?

"Ini rumahku."

"Kau sudah meninggl kan?

"Aku masih hidup!

"Kau sudah meninggal, kenapa kau terus mengaku masih hidup!

Tiba-tiba seolah ada energi yang entah datang dari mana. Membuatku memiliki keberanian untuk membentaknya, aku merasa sudah diambang batas. Aku sangat muak dengan rasa takut yang di timbulkannya. Aku sangat muak dengan pikiran-pikiran yang membuatku takut. Aku sudah muak dengan kehadirannya yang selalu tiba-tiba. Dan sialnya orang-orang menatap biasa ke arah kami berdua. Seolah mereka tidak terkejut melihat Erna. Seolah kami hanya berbincang biasa.

"Aku masih hidup, sudah kukatakan aku masih hidup! Jawabnya tak kalah tegas.

"Siapa yang meninggal di dalam?

"Kau boleh masuk dan melihatnya sendiri."

Tanpa menjawab omong kosong perempuan itu, aku memasuki rumah duka. Dengan sopan aku melewati pelayat-pelayat yang ada. Aku terpatung di depan pintu masuk rumah itu. Seorang laki-laki paruh baya menangis, mengguncang-guncang mayat itu. Aku sangat terharu, perlahan aku mendekati manusia yang dibungkus kain kafan putih dan diselimuti kain batik itu. Aroma kapur barus sangat menyengat di seluruh isi ruangan. Dengan sopan aku minta izin agar lebih dekat ke si mayat. Setelah aku tepat persis di samping lelaki itu. Aku dapat melihat dengan jelas siapa sebenarnya si mayat, raut wajahnya sangat datar. Menampilkan lingkar mata yang sudah sangat hitam, bibir pucat pasi. Wajah sendu itu sudah kehilangan pigmen warna coklat khas dirinya. Wajahnya kini lebih pucat, bahkan sangat pucat menampilkan urat-urat biru yang berbentuk seperti akar tumbuhan.

Aku kembali kehilangan akal, otakku seolah tiba-tiba hilang. Aku seolah tidak memiliki kepala. Hening kurasakan, ini lebih dari sekedar rasa ketakutan. Rasa takut yang luar biasa ini menjadikanku mati rasa dan lumpuh tiba-tiba. Beberapa menit aku seolah menjadi patung yang tak memiliki nyawa. Aku tersadar ketika sebuah tangan menyentuh bahuku.

"Dik, temannya Erna? Seorang wanita paruh baya bertanya.

"Bu bisa tolong bantu saya berdiri? Saya tidak kuat," jawabku mengabaikan pertanyaannya.

"Ayo..ayo."

Kemudian ibu itu berdiri di hadapanku, menjulurkan tangannya. Meraih sisi ketiakku, dan perlahan membantuku untuk berdiri. Aku berdiri dengan sangat lunglai, ibu tadi menggopohku sampai ke tepian halaman ke bawah sebuah pohon mangga. Karena aku yang memintanya. Seorang bapak-bapak mengambilkanku sebuah kursi plastik, meletakkannya di bawah pohon mangga itu. Aku kemudian mendudukinya, mereka berdua pun meninggalkanku.
Aku dirundung rasa ketakutan dan kekhawatiran. Aku hanya ingin pulang! Aku berpikir keras, namun tak kutemukan jawaban.

Lagi-lagi perempuan itu kembali hadir di hadapanku. Menampilkan senyum ramah, namun tetap saja mengerikan di mataku.
Aku kembali kehabisan kesabaran, dengan sedikit keberanian yang tersisa aku membentaknya.

"Cukup, aku tidak mengerti ini apa. Aku hanya ingin pulang! Tolonglah kau mengerti!

"Apa yang harus kumengerti, aku tidak melakukan apa-apa," dia menjawab dengan nada datar.

"Kau sudah meninggal!

"Aku belum meninggal!

"Aku hampir gila! aku tidak mengerti. Aku kehilangan akal, tadi mayat di dalam rumah itu adalah kau. Dan sekarang kau berdiri di depanku! Dan aku berbicara pada arwah. Sungguh ini membuatku gila!

"Baiklah akan kutunjukkan sesuatu."


Hai readers, ayo dong di vote sama di komen. Itung itung amal buat author. Ditunggu ya 20 komentarnya. Heheh, dikritik juga boleh kok.

Terimakasih banyak emoticon-Cendol Gan
Lanjutkan gan...
Quote:


Terimakasih.
update gila2an lah.. hehehe
Quote:


Kalo komennya rame gan. Uehehe
Quote:


Kalo komennya rame gan. Uehehe
Quote:


Kalo komennya rame gan. Uehehe
updateeeeeeee
lanjutkan.....
dutunggu yak

Bagian Tiga

Perempuan ini memegang tanganku, seketika ada energi tak kasat mata yang sangat kuat menghantam tubuhku. Gelap kurasakan, aku tidak bisa melihat apa-apa. Rasa panik menyerangku, aku menggerakkan tanganku meraba sekitar. Namun nihil, tak kugapai apapun. Perlahan mataku mulai bisa melihat cahaya, aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Menyesuaikan intensitas cahaya yang baru saja menyirami mataku.

Tiba-tiba aku sudah berada di sebuah ruang tunggu sebuah bangunan. Bau menyengat obat-obatan seolah menjadi pengharum ruangan. Orang-orang hilir mudik di hadapanku. Petugas berbaju putih bergantian melintas kesana kemari. Ada yang berlari-larian, ada juga yang berjalan santai. Mimik sendu dan cemas menghiasi wajah-wajah orang di sekitarku. Bahkan ada juga yang sudah menangis tersedu-sedu.

"Anakku-anakku," ucap ibu-ibu yang menangis itu.

Kulirik orang yang duduk di sampingku, dia hanya diam seolah menungguku melontarkan sebuah kalimat padanya.

"Kenapa kita bisa sampai disini? Tanyaku padanya.

"Kau ingin melihatku kan?

"Maksutmu apa? Aku sangat kebingungan.

"Ayo kita kesana," tanganya menunjuk sebuah ruangan pasien kelas menengah. Rungan nomor 3 dari sebelah kiri.

Kemudian dia berdiri, dia seolah membaur dengan angin. Kaki itu tidak kulihat berpijak pada keramik lantai. Kaki itu berada dua jengkal di atas lantai. Aku berusaha menekan rasa takutku dan mencoba bersikap biasa saja.
Aku bangkit dari tempat dudukku, ada sesuatu yang aneh kurasakan. Telapak kakiku tidak merasakan dinginnya lantai keramik. Aku membeku, ada yang tidak beres. Dengan keraguan, kuberanikan menundukkan kepalaku. Melirik kearah kakiku berada.

"Astaga," ucapku terkejut. Perasaanku campur aduk, aku kembali di selimuti kengerian yang mendalam.

"Apa aku sudah meninggal?
Erna tidak menjawab.

"Tolong jawab, ini maksutnya apa?

"Kau tenang dan ikuti aku. Kalau tidak mau terserah kau mau melakukan apa."

Dia berucap sambil kemudian melayang perlahan, aku mau tidak mau harus mengikutinya dari belakang. Rasanya aneh, aku tidak perlu menggerakkan kakiku. Angin seolah mendorongku kemana pun tempat yang ingin kutuju. Aku berada tepat di belakangnya. Kami mengintip apa yang ada di dalam ruangan itu dari sebuah jendela. Kemudian badan Erna menembus dinding, berdiri tepat di samping perempuan usia 30 an yang sedang menangis. Erna berbalik dan menatapku.

"Masuklah," perintah perempuan itu, tidak ada yang mendengar suaranya selain aku.

"Bagimana caranya? Tanyaku dan tidak ada pula yang mendengar suaraku selain Erna.

"Terobos dinding itu, cepat!

Bagaimana bisa aku menerobos dinding, ku coba perlahan memasukkan tanganku ke dinding itu.

"Astaga," aku tersentak, tanganku berhasil menerobos dinding. Rasanya seperti menerobos air, tidak ada penghalang apapun.
Aku kemudian melangkah menerobos dinding, kemudian berdiri tepat di samping perempuan yang menangis tadi.

"Astaga, apa ini!
Aku tersentak, melihat ke arah perempuan yang terbujur lemah di atas kasur pasien. Dia sudah sangat pucat, tangannya sudah membiru akibat bekas tusukan infus di sana sini. Matanya sangat sendu, menatap lurus keatas dan mata itu kosong. Bibirnya mengerjap-ngerjap seperti ikan yang di tarik ke darat. Dia kehabisan nafas saat itu. Kemudian perempuan itu semakin kehabisan nafas, kejang-kejang. Hingga satu tarikan nafas panjang, menghantarkannya ke sebuah keheningan keabadian.
Mata itu tertutup perlahan, tidak ada lagi hembus angin dari hidungnya. Serempak tangis pecah dari si Ibu, Bapak dan kedua anak remaja di ruangan itu.

"Innalilahi," ucap si bapak sambil menutup mata perempuan yang sudah meninggal itu dengan tangannya.

Aku terpaku sesaat, hingga kemudian aku tersadar arwah perempuan itu di sampingku, dia membawaku ke tempat ini untuk melihat bagaimana cara dia meninggal. Kemudian perempuan itu pergi meninggalkan ruangan, dengan kembali menerobos dinding. Aku mengikuti kepergiannya.

"Erna itu tadi kau kan, kau benar-benar sudah meninggalkan!

"Aku belum meninggal!

"Lantas tadi itu apa?

"Itu hanya berpura-pura!

"Tidak-tidak, apa kah sakit ketika ragamu di tarik Erna? Tanyaku mengabaikan pernyataannya.

"Sakit sekali."

"Benarkah? Lantas kau masuk Surga atau neraka?

"Tidak keduanya, aku hanya melayang-layang saja."

"Maksudmu apa?

"Sudahlah lupakan omonganku tadi. Pokoknya aku belum mati, semuanya hanya tipu daya!

Tiba-tiba seolah ada energi besar mendorongku ke alam bawah sadar. Aku tersentak dari tidurku, aku langsung terduduk di atas kasur. Nafasku terengah-engah, wajahku sudah penuh keringat. Aku masih ketakutan, itu seolah bukan mimpi. Kejadian itu seolah terlalu nyata untuk kukatakan sebagai sebuah mimpi. Ku raih ponselku, tepat pukul 01.00 dini hari. Perempuan itu kembali masuk ke dalam mimpiku. Aku berusaha tenang dan melawan ketakutanku.


Hai-hai, jangan lupa amal komentar dan cendolnya ya agan-agan. Masih ditunggu loh 20 komentarnya. Hehe.

Terimakasih sudah mau baca cerita yang author bagikan. See uu ❤
profile-picture
pearlly memberi reputasi
Quote:


Udah di up gan. Baca ya hehe.
Quote:


Terimakasih sudah baca. Sudah di up ya gan.
muantabbbb..ditunggu next updatenya ya..josss
keren langsung 3 chapter
titip sendal di malam jumat dulu
Quote:


Cara bikinya gmn gan ane pemula mau buat cerita bersambung
Diubah oleh Kharachan252
lanjutttttt
Halaman 1 dari 3


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di