alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Keresahan Jiwa Kakak Pembina
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4afabdf4d6954da963ce30/keresahan-jiwa-kakak-pembina

Keresahan Jiwa Kakak Pembina

Keresahan Jiwa Kakak Pembina

"Kakak hitung sampai tiga, ya! Yang terlambat, push up!" teriak saya setelah beberapa kali meminta adik-adik pramuka penggalang untuk berkumpul. Hampir habis rasanya suara ini.

"Oke, gitu dong. Masa harus nunggu dihitung dulu baru mau berbaris rapi," ucapku, masih dengan nada sedikit berteriak.

"Siap, Kak!" Jawab mereka, kompak.

Sore itu, hampir senja. Saya masih berada di sekolah tempatku mengajar, mendampingi anak-anak berlatih Pramuka. Beberapa minggu terakhir ini saya intens ada bersama adik-adik tingkat Penggalang ini. Kebetulan sekolah kami menjadi petugas upacara pada hari Pramuka tanggal 14 Agustus mendatang. Kebetulan juga, tidak ada guru yang bersedia membina mereka.

Siswa-siswi di SMP ini cukup semangat dan antusias mengikuti latihan demi latihan. Ya, meski sesekali terlihat agak malas-malasan, mungkin karena capek seharian belajar di kelas, kemudian dilanjutkan latihan Pramuka.

"Oke adik-adik, latihan hari ini kita cukupkan. Kita ketemu lagi besok lusa, jam setengah dua. Ingat, pakaian lengkap dan berkumpul tepat waktu," pungkas saya menutup sesi latihan sore itu.

Kemudian, saya tunjuk salah seorang anak untuk memimpin doa lalu membubarkan barisan. Latihan sore itu berakhir dengan salam-salaman melingkar. Sebuah tradisi yang masih kami lestarikan.

"Kak, Kakak jangan berhenti, ya!" Ucap Siska, salah satu anggota regu putri.

"Maksudnya?"

"Iya, kami berharap Kakak terus jadi Pembina Pramuka di sekolah ini. Jangan seperti Kak Ridwan yang tiba-tiba pergi tanpa pesan," pinta Siska dengan wajah penuh harap, memohon.

"Insya Allah. Kalian doakan saja semoga Kakak sehat wal afiat dan terus sembgat mendampingi kalian. Dah, sana! Udah sore nanti gak ada angkot lagi," ucap saya menutup pembicaraan kecil menjelang pulang itu.

Latihan Pramuka sudah selesai, anak-anak sudah pulang, sekolah sepi. Tersisa saya seorang diri. Pak Wardiman, sang penjaga sekolah entah ke mana. Sejak siang tadi tak terlihat batang hidungnya. Mungkin ia akan kembali ke sekolah menjelang gelap. Terpaksa saya tutup gerbang sekolah tanpa digembok.

Sepanjang perjalanan pulang, di atas motor bebek warisan ayah saya, jadi teringat sosok Kak Ridwan yang pergi tanpa pesan. Anak-anak yang penuh semangat berlatih Pramuka ditinggalkan begitu saja. Sayang, saya tidak mengenalnya secara langsung. Hanya tahu dari papan informasi yang memuat data guru di sekolah. Terpampang nama Ridwan Santoso, guru Matematika sekaligus Pembina Osis dan Pramuka.

Lamunan saya terpecah. Teringat handphone yang sedang diisi batere di ruang guru. Putar balik, kembali melesat ke sekolah.

Bersyukur, sesampainya di sekolah pintu gerbang belum digembok. Rupanya pak Wardiman belum datang.

"Astagfirullah!" Saya melompat kencang seraya mengucap istighfar. Sosok laki-laki setengah baya muncul tiba-tiba dari balik pintu gerbang. Kemunculannya persis saat saya baru saja memegang handle pintu.

"Oh, pak Diki. Kenapa, kaget?" tanya pak Wardiman sambil tersenyum lebar. Mungkin ia merasa puas berhasil mengagetkan saya.

"Iya, Pak. Tadi saya pergi gak ada orang. Sekarang tiba-tiba muncul ada bapak dari balik gerbang," jawab saya sambil mengelus dada yang masih berdegup kencang.

"Hehe, iya maaf. Gak sengaja, Pak. Kebetulan saja. Kenapa balik lagi?" Pak Wardiman bertanya lagi, "ada yang ketinggalan?" Lanjutnya.

"Iya, Pak. Handphone saya masih di ruang guru. Lagi dicas," jawab saya yang sudah agak tenang.

Bergegas saya menuju ruang guru yang tak jauh dari gerbang sekolah. Rupanya pak Wardiman masih menunggu saya. Ia berdiri di depan gerbang sambil memperhatikan hilir mudik laju kendaraan yang melintas.

"Aduh, makasih pak udah ditungguin. Maaf jadi ngerepotin," ucap saya sambil membantu menutup gerbang.

"Gak apa-apa, udah tugasnya. Dulu waktu pak Ridwan masih jadi Pembina Pramuka, saya juga sering sampe hampir maghrib kayak gini," jawab pak Wardiman.

"Pak Ridwan? Bapak kenal dekat dengan beliau?" Saya mencoba mencari tahu tentang pak Ridwan yang sempat disebut-sebut oleh Siska sebelumnya.

"Yah kenal atuh, sekarang juga masih suka ketemu. Sering malah," jawab pak Wardiman agak kurang jelas, karena ada sebatang rokok di mulutnya.

Obrolan di pintu gerbang itu berlanjut. Saya menawarkan diri untuk mengantar pak Wardiman pulang. Ia pun tak menolak. Sehabis sholat magrib, baru saya pulang.

Selama dalam perjalanan, saya coba menanyakan perihal pak Ridwan yang katanya pergi tanpa pesan itu. Pak Wardiman memberikan informasi sesuai apa yang ia tahu saja.

Katanya, dulu pak Ridwan itu guru paling rajin di sekolah itu. Mengajar full hampir di semua kelas. Di luar jam pelajaran juga masih mendampingi anak-anak berlatih pramuka, upacara, bahkan bela diri.

Pak Wardiman juga kaget ketika mengetahui kalau pak Ridwan mengundurkan diri sekolah. Entah apa penyebab pastinya.

Cuma yang pak Wardiman tahu, pak Ridwan merasa terlalu dieksploitasi tenaganya. Bukannya ia tidak mau menjadi pembina dan membimbing anak-anak, tetapi karena ada ketidakseimbangan porsi tugas antara guru-guru di sekolah kitu. Pak Ridwan yang masih berstatus honorer, mempunyai banyak tugas, tetapi tak sebanding dengan gaji sebagai honorer. Sedangkan guru-guru lain yang berstatus guru tetap, malah terkesan santai dan leha-leha. Tak mau tahu urusan kegiatan ekstrakurikuler yang tidak ada honornya. Namun, soal gaji, guru dengan status pegawai tetap itu berkali-kali lipat dari gaji Pak Ridwan.


Meski penjelasannya pak Wardiman itu hanya sebatas analisisnya, karena sering menjadi teman ngobrol pak Ridwan, saya bisa mengerti kondisinya. Karena itu pun saya alami saat ini. Namun, sebagai guru honorer yang baru, masa iya mau pilih-pilih tanggung jawab. Selama saya mampu, saya terima dan berusaha memberikan yang terbaik.

Namun, kadang saya pun sering terjebak pada konsel idealis dan realistis. Saya senang berada di tengah anak-anak. Berlatih baris-berbaris, morse, tali temali, dan semua keterampilan dalam Pramuka. Entah, apakah nanti saya bisa bertahan dalam menghidupi diri saya dan keluarga dengan gaji sebagai honorer. Atau akankah saya akan seperti pak Ridwan, yang memilih menjadi pedagang bubur ayam dibanding berprofesi sebagai guru. Hanya Tuhan yang tahu.


the end
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Laditachuda dan 2 lainnya memberi reputasi
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Guru mungkin bisa mengikuti sertifikasi, kalau lolos lumayan
profile-picture
berbagi274 memberi reputasi


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di