alexa-tracking
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ca36ba0facb956b9e6d94df/gadis-bercadar-itu

Gadis Bercadar Itu

Tampilkan isi Thread
Halaman 7 dari 9
Ijin bikin tenda dulu ahh ada cerita mantul..
mohon ijin nyimak kisahnya gan
sehat gan?

Part 14 - Bisnis

Keesokan hari, seperti biasa aku berangkat bareng Eca. Dan Eca agak bingung ketika aku membawa mobil ini menuju rumah Danar.
“Ini kan kerumah Danar?” katanya
“Iya Ca” jawabku singkat
“ Danar udah ketemu?” tanyanya
“Udah Ca. Maaf ya, aku ga kasih tau” ucapku
“Emm . . ya . . . ya Alhamdulillah kalau udah ketemu” katanya sedikit tertunduk.

Aku bisa melihatnya ia tersenyum. Tau bagaimana wanita bercadar tersenyum? Bisa dilihat dari matanya.
“Kamu senyum?” tanyaku
“Eh, engga kok emm.. kenapa?” katanya terbata
“Engga hehe”

Sampailah kami dirumah Danar. Aku dan Eca turun dari mobil kemudian berjalan menuju rumahnya. Kami mengetuk pintu rumahnya dan Danar mempersilahkan kami masuk. Eca memutuskan untuk menunggu diluar. Tapi saat kami masuk, aku melihat dia belum mengganti pakaiannya
“Loh kok belum siap-siap?” tanyaku
“Gue bingung Din” katanya
“Lo bingung kenapa? Ayo cepet ganti baju sekarang” ucapku sambil mendoronya ke kamar

Setelah beberapa saat menunggu, ia keluar kembali mengenakan kemeja yang aku belikan kemarin. Oh, dia begitu menawan. Akupun langsung mengajaknya keluar. Ia nampak terdiam ketika ia melihat Eca. Ecapun nampak terdiam ketika melihat Danar. Bisa kulihat mereka sempat bertatapan sedikit lama.
“Heeyyy” ucapku membyarkan mereka, terutama Danar
“Eh. Assalamualaikum” ucap Eca
“Wa wa waalaikumussalam” jawab Danar terbata-bata
“Ayo... malah pada melamun” ucapku

Kami bertigapun berangkat ke kampus. Tiba dikampus, Eca pamit, aku dan Danar berjalan ke kelas. Pada awalnya Danar ragu untuk masuk kedalam, tetapi aku mencoba membujuknya, hingga akhirnya ia masuk kedalam bersamaku, kemudian aku duduk disebelah kursinya
"Lo ga duduk didepan?" tanyanya
"Gapapa kan gue duduk disebelah lo?" ucapku
"Ya gapapa sih" katanya

Danar nampak sedikit gugup. Ia yang biasanya duduk didepan kelas atau di dekat tangga sambil berjualan kini ia duduk dikelas dan tidak melakukan apapun. Tiba-tiba Yoga menghampiri kami
"Weh Danar kemana aja lo. Kirain dah mati hahaha" ucapnya
"Huss kalau ngomong tu dijaga" ucapku

Danar hanya terkekeh saja mendengar ucapan Yoga. Tak lama kemudian dosenpun tiba dan memulai perkuliahan. Pada jam istirahat, aku mengajak Tika, temanku untuk makan siang di kantin. Tapi kulihat kembali Danar hanya diam saja dan tak kemana-mana
"Ayo makan" ajakku
"Iya, emang lo ga bosen?" kata Tika
"Ngga, gue disini aja" jawabnya singkat

Tak mungkin aku diam saja dan membiarkan Danar dengan perut kosongnya. Tapi aku juga tak ingin memaksa Danar. Aku tahu jika ia di paksa, itu hanya membuat ia emosi. Akhirnya aku dan Tika ke kantin berdua saja, tapi aku akan membelikan makan untuk Danar.
"Lo lagi deket sama Danar ya?" tanya Tika
"Hah? Engga. Kenapa?" tanyaku
"Engga, soalnya lo kaya keliatan deket aja gitu" katanya
"Pak Abu nyuruh gue buat bujuk dia biar dia mau kuliah lagi" ucapku
"Ooh tapi dia oke juga sih. Dia mandiri, pinter juga" katanya
"Emm iya. Eh.. Kenapa jadi ngomongin orang, udah ah makan" ucapku
"Nah lo sensi hahaha. Lo naksir sama Danar?" godanya
"Tikaaa..."

Selesai makan, aku membeli nasi uduk untuk Danar. Tika tetap saja menggodaku, tapi aku tak menggubrisnya. Saat kami tiba dikelas, aku melihat Danar masih saja diam namun terluhat ia sedang membaca buku.
"Nih buat lo" ucapku sambil meletakkan makanan itu
"Makasih, jadi berapa?" tanyanya
"Ga usah. Gue traktir hehe" ucapku
"Engga, untuk sekarang gue pengen bayar. Jangan debat" katanya
"Udah gapapa bener" ucapku
"Berapa Din" katanya lagi
"Kalau lo mau bayar, cukup ajarin gue gimana cara bikin kue" ucapku
"Oke oke. Gue akan ajarin. Tapi ini terakhir lo traktir gue" katanya
"Iya deeh” jawabku
“Ajak Permata juga ya” katanya
“Hah? Emm iya iya” jawabku

Sepulang kuliah, aku dan Danar menunggu Eca di parkiran. Tak lama kemudian Eca datang dan kami berangkat menuju rumah Danar. Selama perjalanan Pertama terlihat sedikit berbeda. Ia yang biasanya diam, kini mengajukan beberapa pertanyaan pada Danar. Tetapi, entah kenapa itu membuatku sedikit cemburu. Ah aku tidak boleh seperti ini. Danar itu sudah seperti sahabatku sendiri. Lagipula, jika mungkin mereka saling menyukai, aku tak bisa berbuat apa-apa. Setiap orang punya hak untuk memilih. Kami tiba dirumah Danar. Aku dan Eca diajaknya masuk dan ia juga menyajikan sesuatu yang ada dan sederhana. Tapi aku sangat memakluminya. Lagipun aku tak menuntut apapun dari Danar.
“Jadi bikin kue?” tanyaku
“Jadi, ayo masuk” ajaknya
Danar berencana membuat kue coklat dengan peralatan yang seadanya saja. Bahkan Danar tak menggunakan oven untuk membuat kue-kue tersebut. Untuk bahan dasar cokelatnya,

Bahan-bahan
- Susu bubuk rasa cokelat
- 2 sdm gula
- 3 sdm tepung terigu
- 2 sdm minyak
- 2 butir telur


Cara membuatnya, ya dibuat dengan cinta. Hehe. Danar begitu detil mengajariku dengan Eca cara membuat kue. Sampai akhirnya kami selesai membuatnya aku dan Eca mencicipi kue tersebut. Dan bagiku hasilnya lumayan juga. Ternyata Danar bisa juga membuat kue seenak ini.
“Lo hebat juga ya bikin kue” pujiku
“Ah, biasa aja. Lagipula ini kan resep keluarga” katanya
“Tapi jarang lho anak laki-laki bisa bikin kue seenak ini” ucap Eca
“Mungkin karena mereka ga pernah coba bikin. Tau makan aja” kata danar
“Jadi lo jualan lagi dikampus?” tanyaku
“Iya lah Din. Baru ini mata pencaharian gue” katanya
“Aku boleh bantu?” tanya Eca
“Ga usah, nanti repot” ucap Danar
“Kalau repot ga akan nawarin hehe” kata Eca
“Jangan ah” kata Danar
“Udah, antum bikin aja. Lagipun kuenya enak kok. Nanti ana coba tawarin ke teman-teman sama ke Rohis. Pasti pada suka.
“Ga repotin emang?” tanya Danar
“Engga” jawab Eca
“Yaudah, sekarang gimana kalau kita bikin lagi untuk persiapan besok?” ujarku
“Betul, biar semua siap. Mumpung bertiga, pasti jadinya cepet” kata Eca
“Yaudah deh” ucap Danar

Kami kembali membuat kue yang sama dengan yang kami buat sebelumnya. Semua selesai pada jam tujuh malam. Aku dan Eca memutuskan untuk pulang kerumah. Setibanya kami dirumah, aku seperti biasa aku mengerjakan tugas kuliahku. Tapi kali ini aku mengerjakannya di ruang televisi, menemani Eca yang sedang nonton. Tapi tak hanya itu
“Kamu baca apa Ca?” tanyaku
“Ini baca yang tadi hehe, cara bikin kue” katanya
“Oooh suka banget ya?” tanyaku
“Iya hehe, hebat ya dia” katanya
“Suka orangnya atau kuenya?” godaku
“Or..kue nya atuh Diiin” katanya
“Orangnya kali...hehe”
“Iih udah ah, kok jadi bahas itu” katanya
“Tuh ngambek hahaha” godaku lagi

Keesokan harinya, seperti sebelumnya, aku, Eca dan Danar pergi kekampus bersama menggunakan mobilku. Kami juga membawa beberapa tempat kue yang akan kami jual. Dikampus, kami janjian dengan Eca untuk bertemu di parkiran saja saat pulang kuliah. Kemudian kami berpisah. Aku menawarkan kue pada teman-teman sekelas, sementara Danar seperti biasanya menggelar lapak didekat tangga.
“Hey, ayo beli dong kue nya. Enak loh ini” ucapku pada semua temanku dikelas.
“Kue apaan Din?” tanya Yoga
“Kue coklat nih, bikinan rumah” jawabku
“Gue coba ya” katanya
Yoga mengambil satu kue tersebut dan mencicipinya.
“Gimana?” tanyaku
“Enak kok. Bikinan lo?” tanyanya
“Iya dong, dibantuin Danar juga” jawabku
“Eh, cobain nih kuenya enak bener dah ga bohong” kata Yoga

Beberapa anak mendatangiku dan membeli kuenya. Ya, meski yang membeli hanya beberapa, biar bagaimanapun aku mensyukurinya. Beberapa saat kemudian dosen sudah datang dan kami semua memulai perkuliahan seperti biasa. Tapi kali ini dosen tertuju pada satu mahasiswa yang sudah lama tak menampakkan dirinya dikelas ini.
“Kamu kemana aja?” tanya beliau
“Ada pak” jawab Danar
“Kenapa kamu ga kuliah? Kamu mau mengulang tahun depan?” kata dosen
“Ti tidak pak” jawab Danar
“Lantas kenapa kamu baru masuk?” tanya lagi
“Saya gamau mengecewakan orang tua saya” jawab Danar
“Setelah ini, kamu ikut saya ke ruangan saya” ucap beliau
“Baik pak” jawab singkat Danar

Kuliahpun berlanjut. Setelah mata kuliah pertama ini selesai, Danar mengikuti dosen menuju ruangannya, sedangkan aku tetap berada dikelas sambil menunggu dosen dari matkul selanjutnya, sambil melayani beberapa temanku yang hendak membeli kue. Sekitar lima belas menit berlalu, Danar kembali ke kelas dan duduk di kursinya
“Tadi lo kenapa?” tanyaku penasaran
“Gapapa Din, gue cuma dikasih tugas tambahan” kata Danar
“Oh, yaudah tenang aja, nanti gue bantuin” ucapku
“Emm terserah lo” katanya
“Oh iya, nih, hasil jualan tadi” ucapku sambil memberikan uang padanya
“Udah ada yang beli?” tanyanya
“Udah dong” jawabku
“Makasih ya, udah mau bantu” katanya
“Sama-sama. Santai aja lagi” ucapku

Sepulang kuliah, aku dan Danar menunggu Eca di parkiran. Sampai sekitar sepuluh menit Eca datang menghampiri kami berdua. Ia juga memperlihatkan tempat kue yang ia bawa, dan ternyata isinya kosong. Dengan kata lain Eca berhasil menjual semua kue itu.
“Abis?” tanya Danar
“Iya hehe” jawab Eca
“Hebat” kata Danar singkat tersenyum kecil
“Yaudah, yuk kita pulang. Kita masih harus bikin kue untuk besok” ucapku
“Iya, berati sekarang beli bahan dulu ya” kata Danar
“Iya, dan nanti bikin kuenya dirumah gue aja ya, biar alatnya memadai” ujarku
“Iya serah lo aja Din” jawab Danar

profile-picture
profile-picture
situmeang96 dan Alea2212 memberi reputasi
Kira2 bikin kue coklat apa itu, sejenis kue kering atau basah? Kalau kue kering gak di oven berarti dikukus donk.
cinta segitiga nih..... emoticon-Malu

Kuenya diganti nama, jadi kue cinta....
Quote:


Ga jg sih, Karena yang satu bertepuk sebelah tangan emoticon-Malu (S)
yaelah kentang nih agan atau sis yah gw bilang nya 😂😂

Part 15 - Rindu

Hari ini, aku mengikuti ujian akhir semester. Beberapa minggu, beberapa bulan kebelakang, Andin dan Permata membantuku berjualan kue di kampus. Aku sangat bersyukur dapat memiliki teman seperti mereka. Jika tak ada mereka, aku mungkin sudah menyerah. Aku menatap foto keluarga yang sedang aku pegang ini. Aku rindu ayah dan ibu. Sangat rindu.
“Udah siap?” tanya Andin yang sedang menunggu bersama Permata
“Emm udah ayo” jawabku
“Lo kangen mereka ya?” tanyanya
“Sangat” jawabku singkat

Hari ini aku tidak jualan karena aku ingin fokus pada ujianku dulu. Mungkin nanti sore aku akan mencoba membuka lapak didepan rumah saja.

Dikampus, aku mengikuti ujian satu persatu. Aku benar-benar berusaha mengejar ketertinggalanku. Nasib baik dosen mau memberikanku kesempatan, bukan karena kondisi yang sedang aku alami. Tetapi aku masih ingin belajar dan sebisa mungkin menyelesaikan semua studiku. Sepulang kuliah, aku berencana membereskan barang-barangku yang sudah lama tak kubereskan. Memang pada saat itu Andin membantuku membersihkan rumah, kecuali kamarku. Rumah ini benar-benar sepi tanpa kehadiran ayah dan ibu.

Aku memasuki rumah tua ini. Aku terdiam dan terpaku. Aku melihat sekeliling ruang tamu. Aku melihat dua orang tua sedang mengajari seorang anak laki-laki mengaji. Aku berjalan perlahan ke ruang tengah, dan disitu kulihat seorang lelaki berumur sedang tertawa bersama seorang anak kecil. Pandangaku beralih ke arah ruangan disebelah kamarku. Aku melihat lelaki tadi sedang terbaring ditemani seorang wanita (istrinya). Aku mendengar suara orang mengaji dibelakangku. Saat aku menoleh, terlihat seseorang tengah tertutupi kain berwarna putih. Beberapa orang menangis disitu termasuk wanita dan anaknya. Kemudian aku memasuki kamarku, aku melihat seorang lelaki tengah berdiri memegang foto keluarganya.

Entah bagaimana, tiba-tiba aku tersadar, itu semua adalah bayanganku. Dan sekarang aku tengah berdiri dikamarku sambil memegang foto keluarga. Aku kembali menyimpan foto itu dan menjalankan apa yang menjadi niatku tadi. Aku membereskan kamarku dan kamar alm kedua orang tuaku. Setelah selesai, aku juga membereskan etalase yang pernah aku buat untuk berjualan ketika ibu masih ada. Kulihat waktu sudah menunjukkan jam tiga sore. Adzanpun berkumandang dan aku bergegas untuk berangkat ke masjid. Setelah shalat ashar, aku dihampiri oleh pak ustadz
“Assalamualaikum Danar” ucap beliau
“Wa\alaikumussalam pa” jawabku seraya salim pada beliau
“Gimana kabarnya?” tanya beliau
“Alhamdulillah baik pak” jawabku
“Sekarang kamu tinggal sendiri ya? Ga ada keluarga lain?” tanyanya
“Ga ada pak, mereka semua udah ga peduli lagi” ucapku
“Mungkin mereka sedang sibuk dan belum sempat datang” katanya
“Sudah cukup sabar saya menghadapi mereka, tapi tetap saja mereka tak peduli” ucapku
“Yasudah, kita doakan saja agar mereka diberikan hidayah oleh Allah” katanya
“Aamiin”

Pak ustadz menyuruhku ikut dengannya, dan aku mengikutinya menuju ruang DKM. Beliau mempersilahkan aku duduk.
“Ada apa ya pak?” tanyaku
“Nak, ini ada titipan dari warga” ucap beliau sambil memberi amplop coklat
“Apa ini pak?” tanyaku
“Sudah lama kami semua mengumpulkan dana untuk membantu kamu, semenjak almarhumah ibumu meninggal. Tapi setelah itu kamu ga ada dirumah, sekarang saatnya” ucap beliau
“Maaf pak, saya ga bisa terima” jawabku
“Kenapa?” tanya beliau
“Saya merasa tidak pantas saja” jawabku
“Ini rezeki dari Allah, jangan ditolak” ucap beliau tersenyum
“....” aku tertunduk diam
“Kalau saja kamu tahu, almarhum orang tuamu suka membantu tetangga yang sedang kesusahan” ucap beliau
“Maksud pak ustadz?” tanyaku bingung
“Ya, mereka selalu menolong warga lain yang suka kesusahan, misal, dulu saya ingat betul almarhum ayahmu pernah memberikan bantuan pada seseorang yang sedang membutuhkan biaya untuk berobat, dan beliau berkata, uang itu untuk biaya kamu melanjutkan sekolah dan kuliah. Tapi beliau tetap menggunakan uang itu untuk menolong orang itu. Sampai akhirnya ketika saya penasaran, dan bertanya pada beliau. Beliau hanya berkata ‘suatu saat, keluargaku akan mengerti bahwa kebahagiaan itu bukan dilihat dari seberapa banyak harta kita, tapi seberapa banyak kita dapat membantu orang banyak’ kira-kira seperti itu ucapan beliau
“Saya ga pernah tahu pak ustadz” ucapku
“Dan ini adalah ucapan terimakasih dari para warga yang pernah dibantu oleh orang tuamu dulu” ucap pak ustadz
“....” aku kembali tertunduk, dan airmataku mulai menetes
“Kamu ambil, dan semoga ini berguna untuk kehidupanmu” ucap beliau sambil meletakkan amplop tersebut di genggamanku

Aku langsung sujud syukur disitu. Menangis, aku bangga, bangga pada kedua orang tuaku. Mereka telah mendidikku sebegitu baiknya, terutama didikan tentang agama. Tapi aku merasa belum bisa membalas kebaikan mereka.
“Terima kasih banyak pak, kalau begitu saya langsung pamit, saya mau ziarah” ucapku
“Iya nak, sama-sama”
“Assalamualaikum” ucapku
“Waalaikumussalam” jawab beliau

Aku pergi ke makam kedua orangtuaku. Setibanya disana, aku berdiri diantara dua tanah yang tertancapkan kayu nisan bertulisan nama ayah dan ibuku. Ya, mereka dimakamkan bersebelahan atas permintaan almarhumah ibu. Jika ibu meninggal, beliau ingin dimakamkan disebelah makam ayah.
“Bu, izinkan diriku untuk mengusap air matamu melalui bait-bait doa ini, sehingga bisa luluh semua dosa-dosaku.”
“Ayah, apakah dirimu merasa nyaman berada di sana? Tanpa adanya dirimu, di sini terasa begitu berbeda. Akan tetapi, aku berjanji akan berusaha dengan sekuat tenaga seperti yang pernah kau ajarkan pada diriku dan berusaha membuatmu lebih bangga.”

Aku menangis kembali didepan makam mereka sambil menaburi bunga diatasnya. Tiba-tiba suasana menjadi sangat sunyi. Tidak ada suara apapun kecuali angin yang bertiup. Aku mendongkakkan kepalaku, melihat ke arah atas dan sekitar, tidak ada orang disini. Padahal saat aku datang, ada beberapa orang yang sedang berziarah juga. Kemudian aku mendengar suara memanggil namaku. Suara itu tepat berada dibelakangku dan sontak aku langsung berbalik. Aku melihat hal yang sulit aku percaya. Orang tuaku
“Ibu? Ayah?” ucapku sedikit bingung sambil menghapus airmataku
“Iya, ini kami nak” ucap ibu
“Aku rindu kalian” ucapku sambil berdiri menghadap mereka
“Kemarilah nak, peluklah kami” ucap ayah sambil mengulurkan tangan

Aku meraih tangan ayah dan ibu, dan aku benar-benar merasakan sentuhan hangat mereka. Kini aku berdiri tepat didepan mereka dan aku memeluk mereka berdua, begitupun dengan mereka. Oh aku sangat rindu dipeluk seperti ini. Aku tahu seharusnya laki-laki tidak cengeng seperti ini, tetapi, tetap saja dimata orang tuaku, aku hanya seorang anak kecil tidak berdaya. Aku menangis sejadi-jadinya, mengeluarkan semua kesedihanku, melepas rasa rinduku pada mereka.
“Kamu baik-baik saja kan nak” ucap ibu
“Aku baik bu. Ibu, ayah, aku rindu kalian” ucapku
“Kami juga rindu kamu nak. Doakan kami ya nak, dan jaga ibadahmu, semoga nanti Allah izinkan kita bersama lagi disurgaNya.
“Ayah tahu kamu anak yang kuat. Jangan menangis, anak ayah ga boleh cengeng” ucap ayah tersenyum padaku.
“Danar mohon, jangan tinggalin Danar lagi” ucapku
“Maaf nak, kami harus pergi. Ingatlah nak, jadilah anak yang soleh, jangan tinggalkan ibadah. Doamu sangat berarti untuk kami nak” ucap ayah
“Kalian mau kemana?” tanyaku
“Kami mencintaimu nak” ucap ibu sambil berbalik dan pergi

Aku mencoba mengejar mereka, namun kakiku tak bisa aku gerakkan. Seperti ada tangan yang sedang menahan kakiku. Aku melihat kearah kakiku dan mencoba menariknya, namun saat aku kembali melihat kearah orang tuaku, sosok mereka telah tiada. Aku berusaha sekuat tenaga hingga kakiku bisa terlepas dan membuatku terjatuh.

Aku sadar, aku tengah memeluk kayu nisan ibuku. Pipiku basah karena airmataku. Itu hanya mimpi? Tapi rasanya begitu nyata. Semua terjadi begitu saja tanpa aku sadari. Aku melihat sekelilingku dan keadaan kembali normal. Aku menghapus airmataku dan berpamitan pada kedua orang tuaku. Aku pulang kerumah dengan perasaan yang tak menentu. Sampai setibanya aku dirumah, aku melihat dua orang wanita yang tengah duduk diteras rumahku. Andin, dan Permata.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
DanyMartadinata dan 2 lainnya memberi reputasi
kebaikan seseorang memang tidak hilang begitu saja, pasti bila saatnya tiba, semua itu akan kembali kepada si pemberi kebaikkan.
Semangat gan. emoticon-Peluk
Sebaik2nya manusia itu yg bermanfaat bagi orang lain. Sungguh mulia sekali hati ayahnya Danar. Alloh pasti akan membalas"y meski itu hanya sebesar biji zahrah.
males baca , tp sukses deh buat ts smngt bgt nulisnya emoticon-Ngacir
makasih update nya gan, mantul
Ditunggu update selanjutnya gan. Tulisan bagus gan emoticon-thumbsup

Part 16 - Teman Lama

“Assalamualaikum” ucapku pelan
“Waalaikumussalam” jawab mereka berdua
“Lo darimana Danar?” tanya Andin
“Gue abis ziarah” jawabku lemas
“Antum kenapa pucat?” tanya Permata
“Gapapa, aku masuk dulu ya, kalau mau apa-apa ambil saja” ucapku sambil melewati mereka berdua.

Aku duduk diruang tengah sambil memegang foto ayah dan ibuku. Aku menatap mereka lama seraya mengingat kejadian tadi yang terasa begitu nyata. Mungkin tak sopan aku langsung meninggalkan Andin dan Permata tadi, jadi aku putuskan untuk kembali menghampiri mereka.
"Sorry. Kalian ada apa kesini" ucapku
"Gue khawatir aja sama lo. Dikampus lo langsung ngilang, terus gue susul kerumah juga tadi lo ga ada. Lo darimana?" tanya Andin
"Gue ke makam. Gue baik-baik aja. Jangan berlebihan, dan kalian bisa pulang" jawabku
"Ana bawain ini buat antum" ucap Permata sambil memberikan kotak makan
"Syukron" ucapku sedikit tersenyum
"Maaf, gue ga ada maksud ngusir" ucapku
"Lo lagi banyak pikiran ya?" tanya Andin
"Gapapa ko Din” jawabku
“Yaudah, gue sama Eca pamit dulu ya, lo istirahat aja” kata Andin
“Em iya, maaf soal tadi, gue bener-bener ga berniat ngusir” ucapku
“Iya gapapa kok, kita paham. Kami pulang dulu. Assalamualaikum” ucap Permata

Malam harinya, setelah aku selesai shalat isya di masjid, aku berniat membeli nasi goreng di dekat masjid yang berada di pinggir jalan sana. Sekitar dua puluh menit kemudian, setelah keinginanku terpenuhi, aku kembali berjalan pulang kerumah. Dari kejauhan aku melihat ada seseorang yang sedang duduk di depan rumahku. Aku menghampirinya, dan seketika ia melihatku, ia langsung berdiri dan tersenyum padaku.
“Kamu ngapain disini?” tanyaku
“Aku nunggu kamu hehe” jawab Lia
“Ada apa? Kamu apakabar?” tanyaku
“Alhamdulillah, aku baik. Engga kok, cuma mau ketemu aja hehe. Kamu udah makan?” tanya Lia
“Ini abis beli nasi goreng” jawabku sambil menunjukkan makananku
“Emm makan bareng yuk” ajak Lia padaku
“Boleh, emang kamu belum makan?” tanyaku
“Belum. Tadinya aku masakin ini buat kamu, tapi kamu udah jajan hehe” ucapnya
“Yaudah, gapapa, yuk masuk. Diluar dingin. Kita makan bareng didalem aja” ajakku

Aku masuk kedalam dan kami duduk diruang makan bersama. Kulihat Lia membawa makanan yang sama. Nasi goreng, tapi ia buat sama seperti ibuku.
"Kamu bikin nasi goreng?" tanyaku
"Iya, kan dulu sempet diajari alm ibumu" jawabnya
"Boleh aku coba?" tanyaku
"Kan kamu udah beli" katanya
"Ini buat besok aja. Lagipula kamu udah repot-repot dateng kesini" ucapku
"Ga repot kok. Yaudah kamu cobain yah" katanya sambil membuka kotak rantang yang ia bawa

Malam itu, kami makan bersama sambil bercerita tentang masa lalu kami. Aku masih sangat ingat bagaimana aku dan Lia bertemu.

Saat itu, ayah baru selesai mengisi ceramah di masjid. Sebelum kembali, ayah Lia datang menemui ayahku bersama dengan Lia. Usiaku saat itu masih 8 tahun. Dulu keluarga Lia merupakan pindahan dari Surabaya. Keluargaku menjadi orang-orang yang pertama mereka kenal. Aku disuruh ayahku untuk mengajak Lia bermain.
"Nama kamu siapa?" tanyanya dengan nada lugu
"Aku Danar, kamu siapa?" tanyaku polos
"Namaku Liana Asyfa" katanya
"Aku panggil kamu Lia yah" ucapku
"Okey"

Selain perkenalan awal kami, aku juga masih ingat ketika Lia pernah diganggu anak-anak kampung sini, kemudian aku berlagak so pahlawan untuk menolongnya. Tapi malah aku juga ikut diganggu. Dan setelah peristiwa itu, Lia mengajakku kerumahnya. Kami menggambar bersama saat itu.
"Kamu gambar apa" tanyaku
"Ini aku, ini kamu" sambil menunjuk gambar yang dimaksud.

Kepolosanku saat melihat gambar Lia yang menuliskan kata 'My Hero' didekat gambarku membuatku tertawa kecil.
"Janji kita bakal terus jadi sahabat?" tanyanya sambil mengangkat jari kelingkingnya
"Iya janji" Jawabku seraya mengaitkan jari kelingkingku padanya.

Sejak saat itu juga awal persahabatan kami dimulai.

"10 tahun lebih kita kenal, 10 tahun lebih kamu jadi sahabatku, 10 tahun lebih kamu selalu jadi 'My Hero'. Tapi saat kamu lagi butuh seorang pendengar, aku malah ga ada" kata Lia
"Lia, kamu udah jadi sahabat yang baik, dan selalu menjadi sahabat yang baik untuk aku" ucapku
"Kamu selalu ada saat aku sulit, tapi saat kamu sulit aku malah ga ada. Apa aku pantas disebut sahabat?" kata Lia
"Kamu akan tetap menjadi sahabatku" ucapku
"Maaf ya, kalau aku ga ada disisi kamu saat kamu sulit" katanya
"Sudah sudah. Kamu adalah orang yang berarti dalam hidup aku, setelah kedua orangtuaku" ucapku

Ia terperanjak kemudian menatapku. Ia berdiri namun tetap menatapku dengan dalam. Ia berjalan kesampingku, kemudian ia menarikku untuk ikut berdiri. Lia memelukku seketika.
"Aku janji, mulai sekarang aku bakal selalu ada untuk kamu" katanya
"Makasih banyak Lia"

Kalau kalian ucap 'kan udah lama deket, dari kecil pula, ga ada rasa sama Lia?'. Jujur saja, ada rasa nyaman saat aku dekat dengan Lia. Aku menyayangi Lia, sebagai sahabatku. Jikalau mungkin Lia punya rasa lebih padaku, aku menghargainya. Malam itu setelah kami makan bersama, Lia berpamitan untuk pulang.
"Aku anter kamu pulang ya" ucapku
"Eh ga usah, aku pulang sendiri aja" katanya
"Gaboleh, kamu udah masakin untuk aku, sekarang giliran aku. Aku anter kamu" ucapku
"Emm ga repotin?" tanyanya
"Engga. Tapi gapapa pake sepeda?"
"Gapapa, aku seneng malah hehe" katanya dengan antusias
"Yaudah yuk"

Aku mengeluarkan sepeda, mengunci pintu rumah, dan membonceng Lia pulang kerumahnya. Angin berhembus tidak terlalu besar, tapi tetap udara dingin terasa. Aku menawarkan jaketku pada Lia, tapi ia berkata aku saja yang pakai. Aku merasakan dingin di tangannya.
"Tangan kamu masukin jaket aku aja kalau dingin" ucapku
"Bilang aja pengen dipeluk hahaha" katanya
"Yaudah ga usah hehe" ucapku

Tapi ia benar-benar memasukkan kedua tangannya ke saku jaketku. Perlahan aku mengayuh sepedaku menuju rumahnya, sampai tak terasa kami sudah sampai. Kulihat ada ayahnya Lia sedang duduk diteras. Lia mengajakku untuk masuk, dan akupun salim pada beliau
"Assalamualaikum pak" ucapku
"Waalaikumussalam. Gimana kabar kamu nak?" tanya beliau
"Alhamdulillah baik pak. Bapak gimana kabarmya?" tanyaku
"Alhamdulillah, kami semua baik disini" jawab beliau
"Ayo, masuk dulu" ajak Lia
"Emm aku langsung pulang aja ya" ucapku
"Udah ayo masuk dulu. Belum malem banget juga kan. Udah lama kamu ga main kerumahku" kata Lia
"Emm yaudah deh"

Aku mengikuti Lia masuk kedalam rumahnya. Aku disambut hangat oleh ibunya, dan dipersilahkan duduk
“Gimana kabarnya nak?” tanya ibunya Lia
“Alhamdulillah baik bu” jawabku
“Kemana aja hehe, jarang main kesini sekarang” katanya
“Hehe maaf bu” ucapku
“Kamu sibuk kuliah ya sekarang” katanya
“Emm iya bu” jawabku
“Ya gapapa, kamu bikin kedua orangtuamu bangga” katanya seraya tersenyum padaku
“Iya bu, insyaAllah” jawabku
“Yasudah, ibu buatkan minum dulu. Sekalian mau cuci piring didapur. Kamu ngobrol aja sama Lia” ucap beliau
“Ga usah repot-repot bu, terima kasih banyak”

Aku dan Lia mengobrol diruang tengah. Kami kembali bercerita tentang masa-masa ketika dulu kami selalu bermain bersama saat kami masih kecil. Sampai waktu tak terasa sudah menunjukkan jam sepuluh malam.
“Aku pulang ya, udah larut” ucapku
“Emm iya deh” jawab Lia
“Bu, pak, saya mau pamit pulang” ucapku pada mereka yang kebetulan sedang duduk dekat kami
“Oh iya, jangan bosen main kesini ya” ucap ibunya Lia
“Engga ko, insyaAllah nanti Danar main lagi kesini” ucapku
“Yaudah, aku pulang ya. Sampai ketemu besok” ucapku pada Lia
“Besok? Kita ketemu?” tanyanya
“Iya dong. InsyaAllah” ucapku tersenyum padanya

Setelah berpamitan, Lia mengantarku sampai depan gerbang rumahnya dan akupun pulang menggunakan sepedaku.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
baby.sally dan 3 lainnya memberi reputasi
alhamdulillah update lagi, nggak ada bosennya nungguin trid yg 1 ini
Lihat 1 balasan
Balasan post aan2604
Quote:

Lagi ada yang pengen dibeli emoticon-Big Grin jadi agak ketunda hehe emoticon-Big Grin happy reading
Jarang2 persahabatan cewek dan cowok gk pake cinta.. Biasanya salah satu melibatkan perasaan jadi persabatannya hancur dech.
Salut utk mereka yg tetap komit jadi sahabat selalu.
profile-picture
shafanya memberi reputasi
mustahil, kalau persahabatan antara cowok dan cewek itu, tanpa ada rasa suka dalam diri masing-masing. emoticon-Malu
Quote:


Banyak kok di kehidupan nyata.
Bener2 non rasa ingin memiliki.
Tapi bermain dan beraktivitas bersama.
Sampai menikah dengan pilihan masing2.
profile-picture
yunie617 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Halaman 7 dari 9


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di