alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
MYTHS JILID II (MISTERI ALAS MANGIN)
5 stars - based on 11 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bf6a91d1a9975057d8b456b/myths-jilid-ii-misteri-alas-mangin

MYTHS JILID II (MISTERI ALAS MANGIN)

Tampilkan isi Thread
Halaman 7 dari 8
seru gan
wahh akhirnya ada updatenya emoticon-Big Grin
nungu kelanjutannya
CHAPTER XXIX
TITIK TERANG


Pariuk Nangkub
Pukul 21.00


“Dang, Nen, kamu dimana?”. Teriak Kukus dari dalam rumah yang sudah dikelilingi kobaran api.

HUWA..HUWA..HUWA..HUWAA...

Terdengar teriakan Endang yang tidak terlalu jelas dari dalam kamar Endang. Kukus pun langsung bergegas menuju sumber suara.

ASTAGFIRULLAHAL’ADZIM

Kukus terbelalak kaget ketika melihat Neni sudah terbujur kaku di pangkuan Endang dengan tubuh yang sudah dipenuhi luka bakar. Tanpa pikir panjang, Kukus pun langsung membopong mereka dan bergegas keluar dari kobaran api.

INNA.. LILLAHI.. ANAKKU...

Kukus yang baru keluar dari kobaran api, disambut dengan teriakan Pak Nahuri yang menangis menjadi-jadi. Warga pun langsung membantu membopong tubuh Endang dan Neni ke tempat yang lebih aman.

“Pak Juli, saya sudah memanggil Kyai Munir”. Ucap Pak Mualim yang sudah kembali dari Kampung Cilangkap. Terlihat di belakangnya ada Kyai Munir dan Pak Dadih.

Kedatangan Kyai Munir pun langsung disambut warga dengan penuh harapan, semoga kedatangan beliau mampu memberikan titik terang dari permasalahan yang menimpa kampung mereka. Kyai Munir tertegun sejenak, ketika melihat kobaran api yang menyala-nyala. Tak lama kemudian, ia pun mengangkat kedua tangannya, dan langsung memanjatkan doa.

DORR..DOOR..DORR...

Tak lama setelah Kyai Munir memanjatkan doa, tiba-tiba suara petir terdengar menggelegar diatas langit. Warga hanya terheran-heran ketika mendengar suara petir itu. Mereka berdecak kagum dengan kekuatan doa dari Kyai Munir, karena tak menunggu lama, hujan pun turun dengan derasnya dan memadamkan kobaran api yang tengah melahap rumah Pak Nahuri.

ALHAMDULILLAH..

Warga pun mengucap syukur atas turunnya hujan itu. Hujan yang benar-benar didambakan semua warga, yang merasakan susahnya kekeringan yang melanda kampung mereka.

“Bapak-Bapak, Ibu-Ibu sekalian, sebaiknya kalian segera menggali tempat dikuburnya kelopak kembang sereh yang sudah tersebar di lima titik, karena itulah penyebab kekeringan yang melanda kampung bapak ibu sekalian”. Ucap Kyai munir.

“KELOPAK KEMBANG SEREH???” Warga pun berteriak dengan nada keheranan.

“Iya betul, itulah yang saya dapatkan dari penerawangan. Lima lokasi itu adalah Persawahan Alas Mangin, Persawahan Lembur Dukuh, Pertengahan Kampung Lembur Dukuh, Persawahan Kampung Pariuk Nangkub, dan Pertengahan Kampung Pariuk Nangkub”. Ucap Kyai Munir lagi.

“Sebentar..sebentar..Pak Kyai. Kelopak kembang sereh itu apa?”. Tanya Pak Doel Kebingungan.

“Kembang sereh itu semacam jimat yang didapat dari persekutuan dengan jin. Benda itu memiliki kekuatan yang besar, bahkan mampu membuat kekeringan seperti yang melanda kampung ini”. Jawab Kyai Munir menjelaskan panjang lebar.

“Astaghfirullah..Siapa yang tega memakai jimat itu untuk membuat kekeringan ini Pak Kyai?”. Pak Mualim kini yang bertanya.

“Entahlah, saya juga tidak terlalu yakin. Ketika saya melakukan penerawangan, wajahnya terlihat samar-samar, karena hampir seluruh tubuhnya di penuhi oleh sisik ular”. Jawab Kyai Munir lagi.

“SISIK ULAR???” Warga pun kembali berteriak dengan nada keheranan.

“Saya pernah melihat orang seperti itu, Pak Kyai”. Ucap seorang pemuda dari belakang kerumunan warga.

Warga pun menoleh ke belakang, dan menatap tajam ke arah Athox dan Adong yang sedang berusaha menenangkan Kukus yang tertunduk lesu.

“Siapa yang kau maksud itu, Nak?”. Tanya Pak Doel, Ayahnya Athox.

“Dia adalah Dayat, seorang pemuda dari Kampung Lembur Dukuh”. Ucap Athox dengan wajah serius.

“APAA.....”. Warga kembali dibuat keheranan atas penuturan Athox.

Alas Mangin
Pukul 23.00


Hujan masih mengguyur deras dan sesekali bunyi putir menggelegar Cumiakkan telinga. Ditengah derasnya air hujan, terlihat barisan warga tengah bergegas menuju persawahan Alas Mangin. Rupanya persawahan Alas Mangin adalah lokasi terakhir yang harus warga datangi, untuk menggali kelopak kembang sereh yang terkubur di pertengahan sawah. Sesampainya dilokasi yang dituju, warga pun langsung memulai menggali tanah di tengah persawahan Alas Mangin.

“Ini kelopak kembang sereh yang terakhir, tolong ambilkan pembungkusnya”. Ucap Pak Mualim sambil menggenggam kelopak kembang sereh terakhir. Salah seorang warga pun dengan sigap memberikan kain pembungkusnya. Mereka berencana mengumpulkan semua kelopak kembang sereh dan menyerahkannya kepada Kyai Munir.

Sementara itu, di bukit Alas Mangin yang tak jauh dari persawahan Alas Mangin, Dayat tengah mengendap-endap mengawasi warga yang tengah menggali kelopak kembang sereh terakhir. Emosinya meluap-luap karena seluruh rencananya telah berhasil digagalkan warga.

“Persetan dengan semua ini, siapa yang berani menghancurkan rencanaku ini?”. Ucap Dayat Geram.

Warga yang telah selesai menggali kelopak kembang sereh terakhir itu, akhirnya bergegas pulang menuju perkampungan. Mereka tidak sadar bahwa Dayat tengah membuntutinya dari belakang, karena penasaran dengan orang yang telah berhasil menggagalkan rencananya.

Pariuk Nangkub
Pukul 23.30 WIB


“Saya sudah mengumpulkan kelima kelopak kembang sereh itu, Pak Kyai”. Ucap Pak Mualim ketika sampai di Balai Desa Kampung Pariuk Nangkub yang masih ramai dipenuhi warga.

Kedatangan Pak Mualim dan warga lainnya yang bertugas menggali, disambut dengan wajah kegirangan oleh warga yang sejak tadi menunggu di balai desa. Tampak beberapa warga memberikan handuk kepada Pak Mualim dan tim penggali, karena kondisi baju mereka basah kuyup akibat hujan deras yang mengguyur.

“Bawa semua kelopak kembang sereh itu kemari”. Perintah Kyai Munir. Pak Mualim pun langsung menyodorkan bungkusan berisi kelopak kembang sereh ke hadapan Kyai Munir yang duduk bersila.

“BISMILLAH....” Ucap Kyai munir sambil meremas seluruh kelopak kembang sereh di tangannya.

Sementara itu, dibalik pohon sawo yang berada tak jauh dari balai desa, tampak Dayat tengah memperhatikan kerumunan warga. Ia tak berani mendekat, karena takut di ketahui oleh warga. Dengan hati-hati, Dayat terus mengawasi warga, dan pandangannya tertuju kepada Kyai Munir yang tengah melakukan sesuatu dengan jimat kebanggannya.

FWUSSH...

Kelopak kembang sereh yang berada di tangan Kyai Munir, berubah menjadi debu dan menghilang tertiup angin malam. Warga pun bersorak kegirangan dan saling berpelukan satu sama lain, karena telah berhasil menyelesaikan masalah yang melanda kampung mereka.

HOREEE.... SISIK-SISIK ULARNYA HILANG

Dayat yang berada dibalik pohon berteriak kegirangan, karena seluruh sisik ular ditubuhnya menghilang. Ia seakan dibuat lupa bahwa dia tengah bersembunyi, dan berteriak dengan kerasnya. Tentu saja teriakan itu membuat seluruh warga menoleh ke arahnya.

“ITU DAYAAAAAT.......” Ucap Pak Mualim dan langsung beranjak dari tempat duduknya.

Dengan penuh amarah, Pak Mualim dan Warga lainnya bergegas menuju tempat Dayat berada. Dayat pun kaget bukan main, karena ia telah lalai dan membuat warga mengetahui tempat ia bersembunyi. Ia pun langsung berlari pontang-panting berusaha menyelamatkan diri.

Bersambung emoticon-Traveller
profile-picture
cos44rm memberi reputasi
Lanjut gan.. 👌😁
udah da uptade .....kasih kbr klo da update lgi gan
mantap... lanjutkan lg kang
Mantap gan .... Lanjutkan
CHAPTER XXX
PERBURUAN


Pariuk Nangkub
Pukul 00.00


Hujan deras masih terus mengguyur seluruh penjuru Kampung Pariuk Nangkub. Daun-daun Pepohonan bergoyang tertiup oleh angin yang menerjang bersamaan dengan air hujan. Sesekali suara petir terdengar menggelegar, namun warga masih terus memburu Dayat, tak memperdulikan pakaian mereka sudah basah kuyup.

“Kemana perginya Si Biang Kerok itu?”. Tanya Pak Mualim yang masih terus mencari kemana perginya Dayat. Rupanya Dayat mampu meloloskan diri dari kejaran warga, karena situasi hujan dan kurangnya penerangan membuat Dayat leluasa untuk kabur.

“Coba cari di semak-semak”. Teriak Pak Juli memberi saran. Warga pun langsung berhamburan mencari ke setiap semak-semak yang mereka temui. Namun nihil, Dayat tak kunjung mereka temukan.

Sementara itu, Dayat yang berhasil meloloskan diri dari kejaran warga, dengan sangat hati-hati ia masuk ke dalam rumah salah seorang warga. Ia merasa diuntungkan, karena rumah yang ia masuki tidak ada penjagaan. Semua itu karena pemilik rumah juga ikut musyawarah di balai desa, dan belum kembali ke rumahnya. Perlahan-lahan Dayat masuk ke dalam rumah, dan langsung menuju salah satu kamar. Ia berniat mencari pakaian ganti, karena pakaiannya sudah basah kuyup akibat hujan deras.

KREEEEKKK..

Pintu kamar ia buka perlahan-lahan, sambil sesekali melihat sekeliling karena takut ada yang mengetahui keberadaannya.

ASTAGA...

Dayat terperanjat kaget, karena didalam kamar ternyata ada seorang gadis yang tengah tertidur pulas. Sejenak Ia mencoba menenangkan diri, kemudian melangkah dengan hati-hati menuju ranjang tempat gadis itu tertidur. Setelah memastikan bahwa gadis itu benar-benar tertidur pulas, Dayat pun langsung menuju lemari pakaian. Satu persatu isi lemari itu ia bongkar, namun tak ada satupun pakaian yang cocok, karena sejatinya lemari itu milik gadis yang tertidur itu. Dengan perasaan jengkel, ia pun bergegas menuju kamar sebelah, dan tak lama berselang ia pun mendapat pakaian gantinya, walaupun agak sedikit longgar. Setelah keluar dari kamar itu, Dayat langsung bersiap pergi dari rumah itu, karena takut ada warga yang berhasil menyusulnya.

DREPP...

Tiba-tiba Dayat menghentikan langkahnya, seolah ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.

“Hujan-hujan begini sepertinya enak kalau mencicipi sesuatu yang hangat-hangat”. Gumam Dayat sambil tersenyum. Ia pun kembali masuk ke dalam kamar gadis itu, dan langsung melancarkan aksinya. Satu-persatu pakaian gadis itu ia lepaskan dengan perlahan-lahan, karena takut gadis itu terbangun. Tak lama kemudian, gadis itu sudah bertelanjang bulat, membuat Dayat tak bisa lagi mengendalikan dirinya. Ia pun langsung meraba-raba tubuh gadis itu dengan gencarnya, bahkan ia sampai lupa bahwa ia sedang menjadi buronan warga. Permainan Dayat yang kasar, membuat gadis itu terbangun dari tidurnya dan terbelalak melihat Dayat yang sedang asyik meraba-raba.

AAAAAAAAAAAAAAHHH.....

Gadis itu berteriak dengan kerasnya, membuat Dayat gelagapan. Ia tak sempat menahan teriakan gadis itu, karena sedang asyik menikmati keindahan tubuh gadis itu.

PLAK..PLAK... PLAK...

Dalam keadaan panik, Dayat menampar pipi gadis itu dengan keras. Dayat langsung membuka bajunya, dan menyumpalkannya ke mulut gadis itu. Gadis itu meronta-ronta mencoba memberontak, namun Dayat semakin beringas. Ia pun semakin gencar melakukan aksi bejatnya, seolah dirinya tengah berada dalam puncak kenikmatan. Dayat tak segera melarikan diri, karena nafsu birahinya yang sudah tak terbendung lagi. Hingga tanpa ia sadari, warga sudah berkumpul di depan rumah, sesaat setelah mendengar teriakan gadis itu.

BRUAK....

Salah seorang warga menendang pintu depan rumah itu, dan langsung menerobos masuk di ikuti warga lainnya di belakang. Mendengar suara pintu yang di tendang itu, Dayat yang berada di dalam kamar menjadi panik dan langsung bergegas keluar kamar meninggalkan gadis itu. Baru saja ia menutup pintu kamar, warga sudah datang memergoki Dayat yang telanjang dada, karena tak sempat mengambil baju yang di sumpalkan ke mulut gadis itu.

“Anak Bank Swat, mau lari kemana lagi kau?”. Ucap Pak Mualim dengan nada penuh emosi.

DUAK....

Dayat menendang meja di ruang tamu ke arah warga, untuk menghalang langkah warga. Tanpa pikir panjang, ia pun langsung berlari ke arah pintu belakang. Namun naas, ternyata di belakang rumah sudah ada warga yang menunggunya. Dayat pun terkepung, dan nyaris tak ada jalan keluar.

PRANG....

Dalam keadaan panik, Dayat memecahkan kaca jendela dan langsung menerobos keluar melalui jendela itu. Namun tetap saja usahanya untuk kabur tak membuahkan hasil, karena warga langsung mengepung tempat keluarnya Dayat, membuat Dayat berada dalam keadaan terpojok. Wajahnya pucat pasi melihat warga yang terlihat siap menerjang, bak singa yang hendak menerkam mangsanya.

“To..To..To..Tolong ampuni saya, saya mengaku salah”. Ucap Dayat terbata-bata.

“Halah, sudah jangan banyak omong, kita habisi saja dia”. Ucap Pak Dadih yang terlihat sudah tak sabar ingin menghajar Dayat.

BUAK..BUAK..BUAK...

Pak Nahuri menonjok perut Dayat berkali-kali, membuat Dayat meringis kesakitan. Ia pun berlutut, sambil menahan perutnya yang sakit dengan kedua tangannya.

“Kau ini manusia atau iblis?, kenapa kau tega membakar rumahku?”. Ucap Pak Nahuri kesal.

Dayat hanya terdiam tak mampu berkata apa-apa. Dirinya hanya bisa pasrah, seakan sudah siap menerima apa saja yang akan menimpa dirinya.

CLEPP...

Tiba-tiba Dayat merasakan ada sesuatu yang menusuk di sela-sela selangkangannya. Rupanya itu adalah tangkai kembang sereh yang sudah tak ada kelopaknya. Ia menyimpan tangkai kembang sereh yang sudah tak berkelopak itu di sela celana dalamnya. Semangatnya pun bangkit kembali, ketika tahu bahwa ia masih menyimpan tangkai kembang sereh itu. Ia yakin sekali bahwa tangkai kembang sereh itu masih memiliki kekuatan yang besar.

DUAK..DUAKK..DUAKK..

Pak Dadih menendang keras tubuh Dayat, membuat Dayat terguling dan tubuhnya ambruk ditanah.

“Kalau ditanya orang tua itu dijawab, Dasar Gob lock”. Ucap Pak Dadih.

HAHAHAHA..HAHAHAHA...

Tiba-tiba Dayat tertawa dengan kerasnya, membuat warga keheranan. Warga menyangka bahwa Dayat kehilangan akal sehatnya. Dayat masih saja tertawa, sambil tangannya terus menggenggam erat tangkai kembang sereh.

FWUSSH.....
Tiba-tiba datang angin kencang menghantam warga yang mengepung Dayat, dan membuat seluruh warga terpental dan terbanting ke tanah. Angin kencang itu adalah hasil dari kekuatan yang dimiliki tangkai kembang sereh. Situasi pun berbalik, kini malah warga yang ambruk terhantam angin kencang itu.

HAHAHAHA....HAHAHAHAHA....DUAKK..DUAKK...DUAKK..

Dayat tertawa kembali sambil menendang dengan keras tubuh warga satu persatu. Warga pun tak bisa bangkit, karena saat mereka terpental, tubuh mereka terbanting dengan keras ke tanah.

CUIH..CUIH..CUIH..

Dayat meludahi wajah Pak Nahuri yang ambruk di tanah. Pak Nahuri hanya bisa pasrah atas perlakuan Dayat yang sudah kelewat batas.

“Jangan salahkan saya, Bapak Tua. Semua itu saya lakukan, karena kelakuan anak kau yang sudah berani menghancurkan kehidupan saya”. Ucap Dayat dengan nada penuh kesombongan.

“Da..Da..Dasar anak kurang ajar, berani-beraninya kau berbuat seperti ini kepada orang tua”. Ucap Pak Nahuri sambil meringis kesakitan.

HAHAHAHA..HAHAHAHA...

“Sudah tidur saja, Pak Tua. Jangan banyak bacot. Semoga kalian semua tidak masuk angin, tidur dihalaman rumah dalam kondisi hujan deras”. Ucap Dayat lagi mengolok-olok warga sambil terus tertawa.

ASTAGHFIRULLAH AL’ADZIM
Terdengar seseorang di belakang Dayat mengucap istighfar, yang tentu saja membuat Dayat kaget bukan kepalang. Ia tak menyadari kedatangan orang itu, karena terlalu berfokus pada Pak Nahuri.

“P.PPP..PP..Pak Kyai????” Ucap Dayat terbata-bata.

Bersambung emoticon-Traveller

ini Chapter XXX, jadi judulnya boleh Pake R atau L emoticon-Malu
profile-picture
fakhrie... memberi reputasi
lanjut lg broo
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16
Jejak gan..
ngasih tanda
gelar tiker
Quote:


Kebalik kit Gan. Sy dr pandeglang, sekarang malah di Jogja (Godean). Alas mangin sm Ciomas mah jauh gan. Ciomas mah Serang, Alas Mangin mah Rangkas (Lebak). Selatannya kota Rangkas lah klo ga salah.
Kentang lg dah.. 😭
Lama amat ga update .. Semangat gan
Horror lagi euy.. bookmark dulu ah. emoticon-Cendol Gan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tllaisn dan 2 lainnya memberi reputasi
CHAPTER XXXI
KARMA


DUAR..DUAR...

Petir masih terdengar diiringi hujan yang turun dengan derasnya. Namun itu tidak menyurutkan aksi dua insan yang tengah berduel.

FWUSH...

Dayat mulai melancarkan serangan angin topannya ke arah Kyai Munir. Namun tentu saja hal itu tak membuat Kyai Munir bergeming sedikit pun. Dayat pun dibuat terpojok, karena semua serangannya pada Kyai Munir tak ada yang mempan.

“Ini sudah melampaui batas, Nak. Sebaiknya segera hentikan perbuatanmu itu dan segeralah bertaubat”. Ucap Kyai Munir kepada Dayat.

“Halah, Pak Kyai kalau mau ceramah dimasjid saja, ayo serang saya kalau berani”. Ucap Dayat menggertak, padahal otaknya sedang berfikir keras mencari cara bagaimana bisa melawan Kyai Munir.

DAKK...DAKK....

Kyai Munir menghentakkan kaki kanannya ke bumi dua kali, dan mulutnya terlihat khusyuk berdoa. Keanehan pun terjadi, Dayat yang tengah berhadapan dengan Kyai Munir tiba-tiba ambruk, seolah kedua lututnya menyatu dengan tanah.

“Persetan Kau, Bapak Tua. Jangan harap hidupmu bisa tenang”. Ucap Dayat dengan nada penuh emosi.

KRAUK..KRAUK..

Dayat yang sudah terpojok dengan cepat memakan tangkai kembang sereh ditangannya. Dayat pun menjelma menjadi manusia setengah ular, setelah memakan tangkai kembang sereh itu. Dengan mata menyeringai tajam, ia pun langsung menyerang Kyai Munir dengan melilit tubuhnya. Namun Kyai Munir tentu saja tidak tinggal diam, ia pun mulai membaca doa kembali sambil sesekali meniupkannya ke tubuh Dayat yang menjelma menjadi manusia setengah ular.

AHHH... PANASSSS......

Dayat berteriak dengan kerasnya, karena merasakan seluruh tubuhnya seperti terbakar. Kekuatan dari doa Kyai Munir ternyata mampu membuat seluruh tubuh Dayat seperti terbakar, bahkan air hujan pun tak mampu membuat rasa panasnya menghilang.

SRAK.SRAK..SRAK..

Dayat yang merasa sudah tak sanggup melanjutkan duel dengan Kyai Munir, terpaksa harus kabur menjauh dari hadapan Kyai Munir. Tubuhnya yang sudah menjadi setengah ular, bergerak perlahan dengan sisa tenaganya, menerjang tanah yang basah karena air hujan.

DUAR....

Tiba-tiba petir menyambar tepat ke arah Dayat dengan begitu cepatnya, dan langsung membuat seluruh tubuh Dayat terbakar hangus. Dayat pun tewas seketika dengan kondisi yang sangat mengenaskan Mungkin sudah takdirnya Dayat harus meninggal dengan cara seperti itu, atau mungkin suatu karma karena telah membakar rumah Pak Nahuri.

ASTAGHFIRULLAHAL’ADZIM

Kyai Munir hanya mampu mengucap Istighfar dari kejauhan, ketika melihat Dayat tersambar petir hanya dalam satu kedipan mata. Berkat bantuan Kyai Munir, malam itu pun menjadi akhir dari teror Dayat yang sudah membuat warga sengsara.

Lembur Dukuh
Pukul 08.00 Esok Hari


Tubuh Dayat yang hangus terbakar sudah tiba di Kampung Lembur Dukuh. Terlihat warga dari kedua kampung itu berbondong-bondong mengantar jasad Dayat yang di gotong dengan keranda bambu. Sosok Dayat yang sudah bukan seperti manusia lagi, melainkan manusia setengah ular, menjadi ramai diperbincangkan warga. Dari mulut ke mulut, kabar itu pun terus tersebar dengan cepat, bahkan tersebar hingga kampung sebelah.

Tak lama kemudian, warga pun mengurus prosesi pemakaman Dayat yang hangus terbakar akibat tersambar petir. Walaupun warga tidak suka dengan perbuatan Dayat semasa hidupnya, namun warga tetap mengurus prosesi pemakaman Dayat sesuai yamg diperintahkan Kyai Munir sebelum beliau kembali pulang ke Kampung Cilangkap.

BRUAKK....

Pak Mualim membanting keras gayung ditangannya ke tanah, membuat warga yang tak jauh darinya menjadi keheranan. Wajah Pak Mualim yang ditugaskan memandikan Dayat pagi itu, terlihat cemberut dan penuh emosi.

“Ada apa, Lim?”. Tanya Pak Dadih yang berada tak jauh dari tempat Pak Mualim dengan nada sedikit tinggi.

“Bagaimana saya bisa memandikan jasad Dayat, kalau setiap saya memercikan air ke tubuhnya, tiba-tiba saja keluar asap dan hawa panas dari tubuhnya, yang membuat air yang saya percikkan tak sedikit pun bisa membasahi tubuhnya”. Ucap Pak Mualim Kesal.

ASTAGHFIRULLAHAL’ADZIM

Warga lainnya hanya mampu mengucapkan istighfar, mendengar penuturan Pak Mualim. Keanehan demi keanehan memang terus bermunculan sejak awal prosesi pemakaman. Dimulai dengan air yang selalu surut ketika memandikan tubuh Dayat, karena tubuh Dayat terus mengeluarkan asap dan hawas panas saat dimandikan. Lebih parahnya lagi, tanah yang digali untuk menjadi kuburan Dayat terus saja mengeluarkan air, dan mengeluarkan bau tak sedap, yang membuat warga yang ditugaskan menggali kubur tak kuasa untuk melanjutkan penggalian.

Sungguh akhir yang sangat mengenaskan untuk Dayat, hingga dengan sangat terpaksa warga pun harus menghanyutkan mayat Dayat ke sungai Ciujung, karena tanah pun seperti tak mau menerima jasadnya. Mungkin ini suatu karma, karena Dayat pernah membuat tanah kekeringan. Entahlah, hanya tuhanlah yang tahu.

Bersambung emoticon-Traveller

Just info : Next chapter MYTHS JILID II mulai masuk ke tahap akhir. tetap tunggu updatenya yah, walaupun sering kentang. emoticon-Sorry
mantabbbb
apdet lagi jangan nanem kentang dulu gan ... tanem rumput aja biar panennya cepet emoticon-Big Grin
Diubah oleh spyderblueone
Halaman 7 dari 8


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di