alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
4.93 stars - based on 119 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a062830dac13e9f048b4567/roman-sejarah-sinar-jingga-ditanah-blambangan

[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN

Tampilkan isi Thread
Halaman 185 dari 213
Quadruple Makasih dobel apdet nya ki @curahtangis ..

sampek ndredeg mocone, seakan2 duduk disamping alm ranu di atas pohon, untungno aku nang wit sijine dadi sih iso ndelik ...

Diubah oleh spyderblueone
Terima kasih ki Lurah Curahtangis sudah memperkenankan untuk membaca cerita semewah ini emoticon-Cendol Gan
racikan ramuan jampi2 ki curah di tunggu biar kita pada mabuk bacanya.. haduwh lemes buka tutup trit masih sepi.. suwun kiemoticon-Maluemoticon-Ngakak
Sambil menantikan lanjutan cerita fiksi ki curah... Ane nitip dagangan tongos gigi barangkali Raden Jingga mau menyamar lagi.. emoticon-Big Grin
Ikut nyimak emoticon-Ngacir
MISI KE WILWATIKTA

Dengan penuh penyesalan. Jingga membawa pergi jenasah Ranu pergi ke arah barat. Mendaki menembus hutan. Ia menghindari bertemu pengungsi yang dijumpainya sebelumnya. Dengan kemampuannya berlari, Jingga layaknya terbang dari pohon ke pohon. Tubuhnya yang sudah tidak berbentuk karena penuh darah prajurit Majapahit. Sehingga beberapa orang yang melihat pergerakannya mengira moyet buntung lewat.

Di sebuah tempat sedikit lapang. Jingga berhenti. Ia menggali tanah menggunakan belati Paman Andaka, mengubur jenasah Ranu dengan layak. Kemuadian ditutup dengan lempengan batu batu agar tidak digali oleh binatang liar.
Usai mengubur, Jingga duduk memeluk lutut, menangis sesenggukan di depan makam Ranu.
"Ranu, maafkan aku. Aku membuatmu celaka. Padahal kamu telah berbuat baik kepadaku, kepada rakyat Blambangan..." Jingga meracau menyesali kesalahannya. Ia menyesal, mengapa membawa jenasah jenasah itu ke pemakaman yang dibuat Ranu. Menyesal mengapa Ranu tidak diungsikan jauh jauh dari pertempuran.
"Teman apa aku ini, pemimpin apa aku ini, Raja apa aku ini, yang kerjanya menyengsarakan rakyatnya dan orang orang terdekatnya."
Jingga terus meracauh dan termenung. Batinnya benar benar terpukul.
"Sekarang apa bedanya aku dengan mereka yang aku musuhi?"
Perlahan langit mulai gelap oleh kabut dan awan. Hujan turun semakin lama semakin deras. Jingga masih tetap mematung. Darah dan lemak yang menempel sedikit demi sedikit terkikis luruh ke tanah memerahkan tanah dibawahnya. Derasnya hujan dan dinginnya udara gunung, tak membuat Jingga beranjak. Hanya sudah tidak meracau lagi. Dinginnya air dan kabut sedikit menenangkan kekacauan batinnya.
Hari berganti malam. Jingga masih tetap tak beranjak dari sana. Ia seperti tak peduli kepada sekitarnya. Tak peduli kepada dirinya sendiri. Beberapa anjing hutan berusaha mengendus mendekat. Saat beberapa depa dari Jingga. Anjing hutan itu tiba tiba kabur ketakutan.

Langit perlahan lahan kembali terang, mengusir kabut yang menyelimuti gunung Raung. Disamping makam Ranu, Jingga masih duduk memeluk lututnya. Hanya saja sekarang wajahnya amat pucat. Tubuhnya menggigil. Sebetulnya hujan dan dingin semalam biasa Jingga hadapi. Namun keadaan batin yang rapuh membuat pertahanan tubuhnya turut rapuh. Tanpa bisa ditahan, Jingga akhirnya terguling dengan tetap memeluk lutut.

Dan mekanisme tubuh sungguh luar biasa. Disaat akal dan tubuh tidak mampu menahan tekanan berlebih. Otomatis tubuh mengistirahatkan paksa. Saat ambruk ke tanah, Ia langsung pingsan tidak ingat apa apa. Tak menggigil lagi. Tarikan wajah kesedihan dan penyesalan tidak tampak lagi. Wajahnya tampak seperti masa masa Jingga masih belum berangkat ke Wilwatikta.

Tengah hari
Terdengar auman keras di kejauhan. Auman itu semakin lama semakin dekat ke tempat Jingga pingsan. Di beberapa tempat semak semak bergerak. Sebagian seperti terbelah. Lalu muncul wajah wajah putih besar di sela selanya. Sekawanan harimau putih berjalan mendekat tempat Jingga pingsan. Setelah berada di tanah lapang, kawanan harimau putih itu berhenti. Yang terdepan lantas mengaum menggelegar. Mengibas ibaskan ekor lalu duduk di tanah. Diikuti kawanannya. Mereka duduk menghadap Jingga yang pingsan. Seekor harimau yang masih muda, perlahan maju mendekati Jingga. Sepertinya penasaran. Namun belum sampai tujuannya mendekati. Harimau putih yang terbesar langsung Mengaum hendak menyerang harimau muda tadi. Tak ayal harimau muda itu langsung loncat berlari ke semak semak. Bersembunyi disana.

Kembali suasana tenang, hanya suara napas kawanan harimau terdengar mirip orang ngorok. Kawanan harimau putih ini adalah kawanan para jantan. Harimau harimau itu baru beranjak dewasa. Baru keluar dari kawanan keluarganya untuk menjadi pejantan tangguh. Yang dewasa dan terbesar adalah yang menjadi pimpinan kawanan itu.

Pimpinan kawanan itu berjalan mendekati Jingga. Mengendusnya dari ujung kepala sampai kaki. Berusaha mengenal macam macam bau yang ada di tubuhnya. Harimau putih itu lalu menjilati darah kering yang masih menempel di beberapa bagian tubuh Jingga. Sesekali menggunakan kepalanya, harimau itu membalik tubuh Jingga, dan kembali dijilati sampai bersih. Darah yang menggumpal di pakaian Jingga juga dibersihkan.
Diperlakukan seperti itu, lama lama Jingga tersadar dan merasa geli. Sempat kaget melihat seekor harimau putih yang besar menjaliti tubuhnya. Untung kesadarannya cepat pulih dan mengenal harimau itu. Harimau putih itu adalah Si Mbenu. Teman masa kecilnya.

Menyadari Jingga telah sadar, Mbenu langsung menjilati wajah Jingga dengan sayangnya. Mbenu mengggosok gosokkan lehernya saat Jingga memeluknya. Agak lama mereka melepas kangen, layaknya sahabat yang baru berjumpa. Mbenu bangkit berjalan sambil mengajak Jingga mengikutinya. Jingga bangkit mengikuti Mbenu. Kawanannya mengikuti dari samping dan belakang.
Mbenu berjalan menerobos semak semak. Jalanan semakin menurun. Beberapa kali Mbenu mengaum mengatur kawanannya yang sering berbuat ulah. Ternyata Mbenu membawa Jingga ke sebuah sumber air yang cukup besar, airnya mengalir deras. Disana ada kubangan yang cukup besar. Sepertinya Mbenu menyuruh Jingga membersihkan diri di kubangan itu.

Jingga lantas membersihkan diri dan pakaiannya. Disana ada pohon jambu hutan. Setelah mandi, Jingga mengambil beberapa buah dimakannya. Perutnya kosongnya protes minta diisi.

Jingga merasa dirinya mulai pulih. Ia lantas pamit melanjutkan perjalanan. Masih banyak yang harus Ia selesaikan.

***

Tiga hari Jingga berjalanan menembus lebatnya rimba belantara. Sampai di Dusun Atas hari sudah malam. Penjaga yang melihat kedatangan Jingga terkejut melihat penampilan Jingga yang kumuh. Pakaiannya sudah tidak jelas warnanya. Coklat, bekas darah.
"Tolong carikan aku pakaian yang layak. Aku mau mandi dulu. Rahasiakan kedatanganku sampai aku sudah rapi," perintah Jingga kepada penjaga pos timur.
"Baik Pangeran," Penjaga itu langsung pulang mengambil pakaian terbaiknya dan buah klerek untuk sabun. Jingga berterimakasih saat menerimanya, langsung pamit mandi di sungai dekat pos jaga. Setelah mandi, Jingga kembali ke pos. Pamit hendak langsung pulang. Petugas Jaga membunyikan sandi melaporkan kedatangan Jingga.
Jingga berjalan menuju rumahnya. Ia rindu dengan adiknya, Untari.
Sampai di rumah, Ki Osok dan beberapa prajuritnya yang berjaga malam ini sudah menunggu. Mereka sudah mendapat kabar kedatangan Jingga.
"Selamat datang Pangeran," samut Ki Osok, mempersilahkan Jingga menuju Bale Utama.
Di Bale sudah tersedia makanan dan minuman kesukaan Jingga. Jingga tersenyum gembira mendapat sambutan hangat dari Ki Osok dan pasukan. Ia heran bagaimana hidangan itu begitu cepat disiapkan. Padahal perjalanan dari pos timur ke rumahnya tidak lama.
"Wah, terimakasih, bisa langsung aku makan Paman?"
"Silahkan, ini memang kami siapkan untuk Pangeran,"
"Wah hebat, bisa secepat ini menyiapkan," puji Jingga, sambil menikmati masakan Ki Osok.
Ki Osok hanya tersenyum gembira melihat masakannya dimakan dengan lahap. Jingga cegukan karena kerongkongannya belum siap kemasukan makanan sebanyak itu. Ki Osok segera mengangsurkan air segar untuk diminum sambil tersenyum. Yang hadir juga gembira menyaksikan Jingga menyantap makanan.

Usai makan, Jingga menyampaikan hasil perjalanannya ke Blambangan. Semua menyimak dengan serius. Jingga menceritakan kalau dirinya tidak unjuk diri. Karena Ia tidak tahu siapa kawan siapa lawan.
"Kondisi Blambangan hancur, Rakyat hampir semuanya mengungsi. Paman Andaka beserta seluruh pasukannya tewas dalam puputan." Jingga sejenak tercekat mengingat kenangan buruk di pemakaman. Ia menarik nafas menahan airmatanya tidak jatuh.
"Mereka dimakamkan oleh sahabatku, Ranu," kembali Jingga menangis, mengingat jasa Ranu dan kesalahannya yang mengakibatkan meninggalnya Ranu.
"Bahkan jasad Paman Andaka entah dimana. Aku hanya menemukan kepala Paman Andaka ditancapkan di ujung tombak di Alun Alun. Bersama jasad jasad pejabat Blambangan."
Orang orang yang mendengar kisah Jingga terpancing emosinya. Tangan tangan mereka terkepal menahan emosi.
"Aku akhirnya bisa membalaskan penderitaan Paman Andaka dan pejabat pejabat Blambangan. Aku gantung Senopati Branjangan di Alun alun menggantikan pejabat Blambangan yang mereka gantung. Kembali jatuh banyak korban, mereka tidak mau diperingatkan," Jingga mengeleng gelengkan kepalanya tanda meyesali keadaan itu.
Sementara kisah kisah lain Ia tidak ceritakan. Karena baginya itu aib. Juga tidak ingin membebani orang orang ini dengan rahasia besar. Mungkin lain kesempatan saat berdua saja dengan Ki Osok, Jingga akan menyampaikan kesalahannya di Blambangan.

"Bagaimana kabar disini?"
"Syukurlah, situasi aman terkendali."
"Adikku bagaimana?"
"Baik, Ia sedang tidur. Sepeninggal Pangeran, setiap hari uring uringan terus."
"Terimakasih Paman, telah menjaganya."
Pembicaraan berhenti, ada beberapa orang berjalan bergegas mendatangi. Mereka adalah caraka yang dikirim ke Wilwatikta untuk menemui Raden Sidatapa.
"Lapor Pangeran, Kami sudah bertemu dengan Raden Sidatapa. Kami sampaikan keadaan yang terjadi. Beliau terkejut mendapat kabar dari Pangeran. Beliau berjanji akan menyampaikan kepada pihak yang tidak terkait dengan jaringan Dutamandala."
"Terimakasih, bagaimana situasi Wilwatikta?"
"Situasi Wilwatikta sedang tegang. Disibukkan persiapan perang dengan Pamotan, Istana timur."
Mendengar Pamotan disebut, Jingga langsung teringat Ratna. Semoga tidak terjadi hal hal buruk disana.
Pembicaraan selajutnya lebih ke hal hal teknis dan detail. Semua menyimak pengarahan Jingga.
"Setelah ini aku akan meninggalkan kalian lagi. Jadi patuhi Ki Osok. Tata dan jaga tanah ini. Ini tanah kalian."
"Siap Pangeran."
Jingga lantas pamit pergi. Ia hendak menemui adiknya di biliknya.
"Tari, bangun, ini Kakang," Jingga mengetuk pintu bilik Untari.
Untari bangkit, Ia sebenarnya mendengar kalau Kakaknya sudah datang. Tapi Ia tidak mau ikut campur urusan para prajurit di Bale Utama.
"Kakang baik baik saja?" Tanya Untari sambil mengamati Kakaknya dari ujung kepala sampai kaki.
"Kakang baik baik saja, bagaimana hari harimu?"
"Bosan, tidak ada teman."
"Adikku, kamu sudah beranjak dewasa, apakah ada pemuda yang menarik hatimu?"
Untari terkejut mendapat pertanyaan yang jauh dari situasi yang dihadapi.
"Kakang ini aneh, bagaimana bisa dengan situasi seperti ini?"
"Ya mungkin, kan Kakang tidak bisa mengawasi setiap saat. Ada tidak?"
"Tidak ada," jawab Untari singkat. Jujur.
"Kalau nanti kakang kenalkan orang yang kakang hormati, maukah berkenalan dahulu?"
"Terserah Kakang," jawab Untari. Wajahnya memerah, malu. Untung malam hari, sehingga tidak ketahuan Kakaknya.
"Kamu kan tahu, Kakang tidak bisa selamanya menjagamu. Kakang terikat oleh nasib banyak orang. Kalau bisa, Kakang lepaskan semua itu, lalu kita hidup layaknya paria. Namun Kakang terlanjur terseret didalamnya. Semua masalah sepertinya bermula dari Kakang. Jadi Kakanglah yang harus menyelesaikannya sendiri."
Untari mengangguk saja. Meski tidak sepenuhnya mengerti apa yang dimaksudkan Kakaknya.
"Besok Kakang mau ke Wilwatikta, sebelumnya kita ke Sunda menjumpai keluarga Raden Sastro. Kakang ingin menyelesaikan masalah pribadiku dulu."
"Aku diajak Kakang?"
"Ya, nanti aku titipkan ke Raden Sastro. Mau?"
"Mau Kakang, Raden Sastro dan RA. Sulastri orangnya baik, aku dianggap anaknya oleh mereka."
"Nah gitu, Kakang jadi tenang,"
"Kenapa kita tidak ke Wilwatikta dulu?"
"Kamu tahu sendiri, Kakang ini buronan Wilwatikta. Disana terlalu berbahaya. Kakang tidak ingin terjadi apa apa terhadapmu disana."
"Baiklah, kalau begitu aku siap siap."
Jingga membantu Untari mempersiapkan perjalanan besok.
"Kakang, mampir ke Kak Ratna?"
"Bisa, kalau memungkinkan."
"Asik... asik... jalan jalan," Untari bersenandung gembira. Jingga tersenyum sambil menarik nafas sesak. Ia tidak akan bercerita yang berat berat ke Adiknya. Biarkan Ia hidup dalam dunianya.

Untari melanjutkan tidur untuk mengumpulkan tenaga. Jingga keluar menemui Ki Osok yang masih berada di Bale Tamu.
"Paman, waktu di hutan aku bertemu Si Mbenu. Ia sudah besar sekali."
"Wah dia tidak menanyakanku kan?" Tanya Ki Osok sambil nyengir. Ia Ingat dulu begitu ketakutan melihat harimau putih itu.
Jingga tertawa, tidak menjawab pertanyaan iseng Ki Osok.
"Ki Saya berencana ke Wilwatikta. Mau menyelesaikan sampai tuntas urusanku. Agar perang ini tidak berlanjut."
"Kalau begitu aku mau menyiapkan diri," kata Ki Osok yang hendak bangkit.
Jingga menahan Ki Osok bangkit.
"Jangan, biar aku selesaikan sendiri. Ki Osok dan yang lain tetap disini. Jaga dusun ini tetap damai. Jangan terlibat pertentangan. Utamakan kedamaian dusun kita."
"Apakah ini berarti?" Ki Osok menggantung kalimatnya. Maksudnya jelas, apakah ini adalah perjumpaan terakhirnya dengan Jingga?
"Semoga tidak ada lagi korban dari permusuhan ini Ki," jawab Jingga mengambang.
"Aku mengajak adikku, Ia bosan sendiri disini."
Mendengar Untari diajak, Ki Osok langsung ceria kembali. Dengan mengajak Untari berarti Jingga akan menjaga diri.

Malam itu Jingga dan Ki Osok bercerita mengenang masa lalu. Bercerita hal hal konyol disaat kecil. Sejenak Jingga bisa melupakan beban dirinya.

***

Orang orang banyak berkumpul di kediaman Jingga. Kabar hendak perginya Jingga cepat menyebar. Pagi ini mereka menunda pergi ke ladang. Memang bukan hal aneh bila Jingga melakukan perjalanan. Seperti disaat pergi ke Blambangan baru baru ini. Namun kali ini mereka terdorong hatinya ingin menghantar keberangkatan Jingga. Ada keharuan di ujung mata mereka. Titik titik air mata jatuh membasahi pipi disaat bergiliran mereka dipeluk Jingga. Mereka terpancing dengan wajah Jingga yang tidak bisa menahan haru. Mata Jingga merah oleh airmata. Pemandangan yang tidak pernah mereka lihat selama ini.
"Terimakasih kalian repot repot datang hanya untuk menghantarku pergi. Jaga dusun ini untuk tetap damai. Hindari permusuhan. Bantu Ki Osok menjaganya. Jangan kemana mana bila tidak mendesak," Begitulah Jingga berpesan kepada orang orang yang hadir. Untari hanya menganguk membalas hormat para lelaki itu.

Diiringi tangis tertahan. Jingga dan Untari memacu kudanya turun kearah utara. Menuju Pelabuhan Jangkar. Pelabuhan terdekat. Dari sana mereka melanjutkan naik Kapal. Menumpang kapal dagang yang hendak ke Pamotan.

Saat Jingga dan Untari berangkat menumpang kapal dagang. Dari arah timur datang kapal dagang menuju Pelabuhan Jangkar. Diatas kapal dagang itu berdiri seorang laki laki gagah dengan rambut sebahu. Ialah pimpinan armada dagang dari timur. Ki Gembong. Ini perjalanan dagang pertamanya ke Jawa setelah sekian bulan berada di Maluku menghancurkan jaringan Dutamandala. Kedatangannya ke Pelabuhan Jangkar selain hendak berdagang, juga hendak menyampaikan laporan misi ke timurnya yang berjalan sukses kepada Jingga.

Penampilan Ki Gembong sudah berubah mengikuti jabatannya sebagai pimpinan armada dagang. Keseringan mengadakan pertemuan dagang membuatnya harus menyesuaikan diri dengan rekan pedagang yang lain. Bila melihat penampilannya sekarang, orang tidak akan mengira kalau dirinya adalah pimpinan Pasus yang diandalkan Jingga.

Ki Gembong turun ke Pelabuhan lalu menghadap syahbandar, mengenalkan diri sebagai pimpinan pedagang dari timur. Selanjutnya Ia terlibat pembicaraan bisnis dengan pengusaha pengusaha lain. Transaksi jual beli sudah lancar Ia kerjakan. Tidak sampai setengah hari, transaksi sudah selesai dilakukan. Tinggal bongkar muat barang yang dilakukan awak kapal dan kuli angkut pelabuhan.

Ki Gembong diiringi tiga pengawal, diam diam berangkat ke Dusun Atas dengan menyamar sebagai rakyat biasa. Perjalanan lancar. Sampai di Dusun Atas, rombongan Ki Gembong disambut gembira oleh Ki Osok dan keluarga mereka yang ditinggal. Apalagi dikabarkan seluruh pasukan Ki Gembong selamat dan sukses semua. Sebagai bukti, Ki Gembong menyerahkan sekarung tail emas untuk kas Jingga. Emas itu segera disimpan.
"Apa Pangeran ada?" Tanya Ki Gembong.
"Pangeran baru tiga hari lalu berangkat dengan adiknya,"
"Berarti adiknya sudah ketemu?"
"Benar, namun keadaan semakin tidak menentu," Ki Osok lantas menceritakan kejadian kejadian sejak Pasukan Ki Gembong berangkat ke timur. Mulai kedatangan Senopati Kijang Anom yang mendamaikan Blambangan, lalu kedatangan Senopati Branjangan yang menebar teror. Kematian Ki Andaka yang melakukan puputan bersama pasukannya menghadapi kekejaman pasukan Senopati dan terakhir Pangeran membunuh Senopati Branjangan sebagai balasannya.
Ki Gembong terpukul dengan kabar kematian Ki Andaka. Baginya Ki Andaka adalah guru dalam segala hal. Kanuragan, kecerdikan, telik sandi serta kesetiaan mengabdi. Benar benar tak ada bandingnya.
"Saat ini Pangeran pergi ke Wilwatikta akan menyelesaikan semua, begitu katanya,"
"Sepertinya Pangeran akan menghabisi Dutamandala," duga Ki Gembong.
"Sepertinya begitu," Ki Osok setuju analisa Ki Gembong.
"Mengapa tidak menugaskan kita?"
"Sejak ke Blambangan beberapa waktu lalu sudah tidak memerintahkan kita."
"Mengapa tidak dikawal diam diam?"
"Pangeran memerintahkan kami disini berjaga. Mana berani meninggalkan tugas."
Memang dalam dunia keprajuritan. Sebuah perintah mutlak dilaksanakan. Seaneh apapun perintah itu, tetap harus dilaksanakan. Adakalanya pimpinan seperti Pangeran punya strategi khusus yang harus dijalankan tanpa harus dijelaskan demi menjaga kerahasiaan operasi.
"Semoga urusan Pangeran cepat beres."

***


Jingga terkesima melihat banyaknya kapal laut di pelabuhan Pamotan. Meski belum pernah berinteraksi dengan mereka. Namun Jingga mengenal dari bentuknya, kapal kapal itu adalah kapal dari negeri Cina. Yang terkecil memiliki tiga tiang layar yang bahannya dari bambu terbaik. Ada puluhan kapal berbagai ukuran yang bersandar maupun yang melempar sauh agak ketengah. Berarti yang berada disini adalah utusan Laksamana Cheng Ho. Begitu besarnya armada kapal Cheng Ho, hanya utusannya saja, sudah memenuhi lautan seperti ini.
Menurut kabar yang diceritakan dari para pelaut. Armada Laksamana Cheng Ho sangat besar. Dengan kekuatan awak sampai 25.000 lebih dan kapal dari kecil sampai besar mencapai tigaratus lebih. Kapal kapal besar memiliki sembilan tiang layar. Lebar seratus enampuluh kaki dan panjangnya empat ratus kaki. Membuat tidak ada yang berani melawan atau sekedar mengganggu mereka.
Untunglah Laksamana Cheng Ho bukan berjiwa penakluk. Armada yang sangat besar itu tidak digunakan untuk menduduki kerajaan kerajaan yang dilaluinya. Ia memilih berdagang secara adil dan menjalin persahabatan. Sehingga kerajaan kerajaan yang dikunjungi tidak merasa tertekan dan mengambil manfaat bersama.

"Kapal tidak bisa bersandar. Pelabuhan terlalu sesak. Kami akan melanjutkan ke barat," kata Nakoda kapal yang ditumpangi kepada Jingga.
"Kalau mau turun, kami antarkan ke darat dengan perahu."
Jingga memandang adiknya,
"Kita terus apa turun disini?"
"Terserah Kakang,"
"Sebaiknya kita terus. Saat ini Ratna pasti sibuk dengan kedatangan tamu dari mancanegara."
"Iya, kita lanjut saja," kata Untari meneguhkan untuk terus berlayar ke Kahuripan.
"Kami memutuskan ikut ke Kahuripan Ki," kata Jingga kepada Nakhoda.

Berangkatlah kapal itu kembali. Barang barang yang harus diturunkan, sudah diangkut menggunakan perahu menuju pelabuhan. Daripada antri mendapat giliran sandar.

Jingga memandang ke arah pelabuhan. Kenangannya disana beberapa hari dengan Ratna masih melekat dalam ingatan. Ia bersyukur Ratna bisa melepaskan diri darinya. Ia tidak bisa memaafkan bila Ratna celaka karena terkait dengan dirinya. Sementara dalam kehidupannya, hanya dipenuhi tragedi dan penderitaan belaka.

***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Araka dan 38 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
manteeeeep......suwun ki,
Trenyuh aku ma kisah jingga, selain percintaan, kehidupan lain pun sama menderita'y.
Makasih jingga, setidak'y nana tidak merasakan rasa sakit karena ditolak.
Semoga nana hidup bahagia.
Fyuhhh..
emoticon-Sorry
makasihh kiii atas updatenya
Mantab ki...
sip top markotop lah.....
Mantap updatenya ki..,semoga misi negara dan misi pribadi bisa lancar.
#menununggu lencari
Makasih updatenya ki.
Semangat buat dobel update emoticon-Angkat Beer emoticon-Shutup
Mantap, akhirnya jingga mencari lencari..
Pantau terus pokonya, terima kasih ki emoticon-2 Jempolemoticon-2 Jempol
jingga menjemput impian..
profile-picture
addieboy memberi reputasi
Makasih Ki untuk updatenya...
Siap menunggu pembalasan Jingga kepada Dutamandala...
Semangat Ki...
lencari deg2an emoticon-Smilie
Dan sang raja hutan pun...tunduk pada penerus tahta blambangan..
Makasih Ki Curah..keep update
Mantaaap ki curah pepet terus jangan kasih kendor
Balasan post curahtangis
lagi
lagi
lagi
Halaman 185 dari 213


×
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di