alexa-tracking
Kategori
Kategori
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d3937eafacb9524e85dc427/gara-gara-daster

Gara-Gara Daster

Tampilkan isi Thread
Halaman 2 dari 5
Quote:


Berarti aku istri konglomerat donk ... aku ga pake daster ... jiahahah kabooorrr

emoticon-Ngacir2emoticon-Ngacir2
profile-picture
profile-picture
Rapunzel.icious dan TissueM4gic memberi reputasi
Bukan Penulis

Oleh : Suranti Vulka

Gara-Gara Daster Sumber : Pixabay

"Mana naskah yang aku minta untuk revisi kemarin?" tanya Tyo kepada Tyas.

"Belum, Kak."

"Ck! Udah berapa hari ini?"

Hening. Tyas tidak mampu menjawab. Dirinya takut kena semprot dengan kata-kata yang lebih kasar lagi. Tyas memang penulis, tetapi jiwanya yang lembut selalu menolak jika ada kritikan tajam meski itu membangun.

"Artyasti Tiwi!" teriak suara di seberang.

"Besok, Kak," jawab Tyas spontan. Detik berikutnya dia merutuki diri karena telah bicara sembarangan.

"Nggak! Aku tunggu hari ini," tegasnya sebelum menutup telepon.

Tyas berteriak mengucapkan beribu kata kutukan untuk sang teman kolaborasi. Dia marah dan frustasi. Giginya gemelutuk menahan geregetan.

"Aku sumpahin kamu, Tyo. Bakal jatuh cinta sama aku, sampai untuk melukai hatiku pun kamu tak sanggup. Awas aja!" serunya.

Seolah dikabulkan langit, tiba-tiba lampu di kamarnya berkelap-kelip. Tyas tersenyum memiringkan bibir. Dia puas karena ucapannya akan terkabul. Detik selanjutnya, lampu padam.

"Tyaaas! Mati lampu, ya?" tanya mamanya.

Tyas melongo, dirinya kaget bukan main. Ternyata bukan karena keinginannya terkabul, tetapi sebuah masalah menambahi deritanya hari ini.

"Tuhaaan!"

***

"Kemarin ke mana? Ditelepon mati, sms, WA nggak satu pun dibalas," cerocos Tyo menyambut pagi Tyas.

Gadis berambut ikal sepinggang itu menunduk lesu. Pagi hari harusnya mendapat sebuah motivasi agar seharian bisa menjalankan aktivitas dengan baik, Tyas malah mendapat ceramah yang membuat telinganya sakit. Dia beruntung, karena ini hari Minggu, jadi pikirannya tidak terbebani.

"Maaf, Kak. Kemarin setelah kakak menelepon mati lampu, baterai hp tinggal sedikit. Aku pake ngetik baru dapat separo, udah mati."

Tyo mendesah mendengar suara lesu Tyas.

"Ya, udah. Kirim naskahmu sekarang."

"Nanti siang, Kak. Kan baru dapat separo. Tadi malam ketiduran, nggak tahu lampu hidup jam berapa."

Kening Tyo berdenyut nyeri. Kedua jarinya segera memijit pelipis. Ingin sekali rasanya dia mengeluarkan sumpah serapah, tetapi urung, karena hanya akan membuang energinya saja.

"Ya. Kutunggu siang ini."

Terdengar suara kegirangan dari Tyas. Tyo diam mendengar suara rekannya. Dirinya membayangkan bagaimana wajah gadis yang selama setahun ini sudah dikenalnya lewat sosial media.

"Terima kasih, Kak." Ucapan Tyas mengiringi suara telepon ditutup.

Tyo masih diam, pria berkulit kuning langsat itu melamun. Membayangkan sebuah pertemuan dengan Tyas di dunia nyata, sebab selama ini, mereka hanya berinterakasi di dunia maya saja. Tyo teringat kembali awal dirinya terlibat sebuah kolaborasi dengan Tyas.

Tyo dan Tyas bertemu di sebuah grup kepenulisan. Awalnya mereka saling berbalas komen, juga saling memberi kritikan di tiap tulisan mereka masing-masing. Tyas seringkali tidak terima dengan cara Tyo memberi kritik. Gadis itu balik menyerang jika tulisannya mendapat komentar negatif dari Tyo.

Pria berusia 25 tahun itu, mengernyitkan dahi karena hanya Tyas yang berani membalas setiap komentarnya.

[Kalau tulisanku selalu salah, ajari aku.] Tulis Tyas saat itu.

Tyo menimang beberapa hari sebelum mengiyakan keinginan gadis itu.

Hari berganti, sebuah notif masuk ke akun Tyo, siapa lagi jika bukan Tyas. Gadis yang memiliki hobi membaca buku komik itu, meminta kritik darinya di sebuah postingan cerita.

Tyo hanya tersenyum membaca tulisan Tyas. Dirinya menatap layar ponsel lima inci miliknya dengan raut gemas. Hal itu karena semua kritikan dari Tyo tak diacuhkan Tyas, bahkan kesalahan gadis itu masih sama.

[Ck! Kayak gini mau jadi penulis? Sekolah aja sana.]

[Makanya ajari aku.]

[Oke. Kita kolaborasi. Satu hari kirim naskah ke aku minimal 1000 kata.] Tulis Tyo.

Komentar Tyo tak dibalas. Tyo memiringkan bibir. Dirinya tahu bahwa Tyas tidak akan sanggup.

Sebuah notif masuk membuyarkan lamunan Tyo. Satu pesan WA dari Tyas. Tyo membuka dan membaca cerita yang dikirimkan Tyas barusan. Lama pria yang memanjangkan rambutnya sebahu itu menekuri naskah di depannya. Dirinya, tidak menemukan satu kesalahan pun. Tulisan Tyas sudah semakin rapi dan logis. Namun, hal itu tidak membuatnya bahagia.

[Tulisan kamu masih kurang nge-feel.]

[Masih salah?] Diikuti emot menangis.

[Makanya kalau aku bilang dengerin.]

[Aku udah bikin sesuai yang kakak bilang.]

[Ngeles aja! Ck! Kolaborasi apa kalau kayak gini namanya?]

[Kalau aku salah terus, berarti siapa yang gagal? Kakak kan?]

Tyo terdiam setelah membaca pesan dari Tyas. Dirinya merasa tertampar. Skak mat! Ponsel kesayangan yang selalu menghadirkan cerita menarik sehingga disukai ribuan orang itu terpelanging di meja kayu. Dirinya beranjak, meraih gitar lalu rebahan di ranjang. Jarinya memetik senar gitar mengiringi bibirnya yang bersenandung lirih.

"Yo," panggil mama.

Tyo menegakkan badan dan menyandarkan punggung di kepala ranjang. Sedikit beringsut agar mamanya bisa duduk di sampingnya.

"Apa, Ma?"

"Nanti kita mau silaturahmi ke rumah sahabat papa."

"Tyo, nggak ikut kan, Ma?"

"Justru itu mama ke sini. Kamu harus ikut."

"Yaaa, Mama. Tyo masih banyak kerjaan ini."

"Kerjaan apa? Toh, hari Minggu kamu libur kan?" Selain jadi penulis, Tyo juga bekerja.

Tyo meletakkan gitarnya lalu berdecak jengkel. Pria berhidung mancung itu, menekuk wajahnya.

"Sekalian kenalan sama anak mereka. Katanya dia juga suka nulis kayak kamu. Siapa tahu jodoh, Yo."

Tyo mengernyitkan dahi, kemudian mengangguk tanda setuju.

***

Tyo dan keluarganya tiba di rumah yang dituju. Pemilik rumah menyambut mereka dengan hangat. Setelah berbasa-basi dan berkenalan sebentar, Tyo pamit ke luar untuk merokok. Nyonya rumah mengantarnya hingga ke taman belakang.

"Seharusnya bukan tante yang ngantar kamu. Entah anak tante tadi ke mana. Padahal udah dikasih tahu kalau bakal ada tamu," gerutu sang pemilik rumah.

"Nggak apa-apa, Tante."

Tyo melangkah menuju salah satu kursi taman. Suasana taman memang sangat sepi, tetapi beberapa lampu yang terpasang di beberapa titik membuat taman terang.

"Kamu kenapa ada di sini?" tanya seorang gadis. Sebuah novel yang tergenggam di tangannya, ia peluk erat.

Tyo tak membalas. Pria itu hanya mengangkat sebatang rokok yang terselip di antara jarinya. Gadis itu beranjak hendak pergi meninggalkan Tyo. Namun, novel yang dibawanya membuat Tyo tersenyum senang.

"Katanya kamu penulis, ya?"

Gadis itu diam tak menjawab, tetapi mengurungkan niatnya untuk pergi.

"Nulis apa? Romance?" tanya Tyo dengan nada mengejek.

Gadis tadi protes dengan mata melotot. Tyo terkekeh melihat ekspresinya.

"Udah nulis berapa novel?"

Tyo semakin gencar menggoda gadis itu, membuat amarah tercetak jelas di mata bulatnya.

"Mau satu, kolaborasi dengan penulis keren. Dia pacar aku. Jadi, kamu jauh-jauh, gih!"

Tanpa diduga, gadis itu mengambil ponsel lalu menggeser layar.

"Mau ngapain?"

"Telepon pacar aku. Biar kamu nggak nerima perjodohan ini."

"Perjodohan?"

Ponsel Tyo berbunyi. Dia melihat layar ponsel, di sana tertera nama Artyasti Tiwi. Lelaki itu menatap gadis di depannya yang sedang menelepon. Tyas kaget, dia mematikan ponselnya, bersamaan dengan matinya ponsel Tyo. Tyas kembali menelepon, ponsel Tyo kembali berbunyi.

Pria itu masih menatap lekat Tyas yang kebingungan. Ada rasa bahagia yang menyelimuti hatinya. Tanpa dia duga, dirinya justru bisa bertemu dengan Tyas di rumah gadis itu sendiri.

"Artyasti Tiwi!" panggilnya berseru.

Tyas menatap Tyo, wajahnya masih menampakkan keterkejutan. Gadis itu juga tak menyangka akan bertemu Tyo di rumahnya. Bahkan, dia tak pernah bermimpi bertemu idolanya secara langsung.

Bergegas, Tyas pergi dari hadapan tyo.

"Kenapa hanya bukuku yang kamu peluk, aku juga mau," seru Tyo. Dirinya tak digubris Tyas yang telah masuk ke dalam rumah.

Senyum terkembang menghiasi bibir cokelat Tyo. Dia menyulut rokok yang sejak tadi belum dinyalakan. Duduk sendiri di kursi bekas Tyas. Tangannya yang bebas mengetik sesuatu di layar ponselnya.

[Kamu cantik juga.]

Tidak ada balasan, meski sudah dibaca. Sepuluh menit menunggu, tetap tidak ada balasan dan karena rokok pun sudah habis, Tyo masuk rumah kembali.

"Lama banget ngapain aja, yo?" tanya mamanya lirih.

"Ketemu bidadari, Ma," selorohnya membuat semua tertawa.

"Tyas, ya?" tanya tuan rumah.

"Iya, Om."

Pria berkemeja warna abu-abu itu duduk di sebelah papanya. Dia dengan tenang mengikuti obrolan orang tuanya dan orang tua Tyas. Namun, sesekali matanya melirik ke arah tangga. Berharap Tyas muncul kembali.

Harapan Tyo sirna, sampai dia pulang, Tyas tak menampakkan diri lagi.

"Bagaimana pendapatmu soal anaknya Om Darmawan tadi, yo?" tanya papa ketika mobil sudah meluncur.

"Cantik, Pa."

"Kamu suka?"

"Dia suka Tyo nggak?"

"La kamu suka nggak?"

Tyo diam. Jantungnya kembali berdebar kencang kala mengingat wajah Tyas. Pipi terus, bibir tipis berwarna pink tanpa gincu. Mata bulat besar dan rambut panjang ikal. Tyas begitu memesona di mata Tyo.

"Suka," jawabnya mantap.

Tawa kedua penumpang berderai. Harapan mereka untuk menjodohkan keduanya sepertinya akan berjalan mulus.

***

[Sudah tidur?]

Ada debar terasa saat Tyo menunggu balasan dari Tyas. Dulu, perasaannya masih samar, sekarang terasa sangat nyata.

Di sisi lain, wajah Tyas tak henti merona. Gadis itu juga tak pernah menyangka jika dirinya akan dijodohkan dengan Tyo. Penulis dengan nama akun Prast Tyo. Debar jantung yang sejak tadi bertalu tak berhenti juga. Bibir tipisnya terus mengembang, bahan novel yang sejak tadi ia bawa tak sedetik pun dilepas.

Tyas membuka pesan yang dikirim Tyo.

[Belum.]

[Kita akan dijodohkan.]

[Kakak keberatan?]

[Kamu sendiri?]

[Enggak.]

[Sama.]

Tyo dan Tyas tersenyum senang.

End
Yogyakarta, 8 Juli 2019
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Alea2212 dan 5 lainnya memberi reputasi
Reserved1
Reserved2
Iya kayak gini, Mbak. Kalo udah banyak cerpennya bisa buat indeks link di bawah header thread
Quote:


Mak reserved 1 2 3 buat awal bikin trit header ajah Mak emoticon-Goyang

Tp udah telanjur gpp kayaknya
profile-picture
Rapunzel.icious memberi reputasi
Quote:


Terima kasih, Mbak emoticon-Kiss
profile-picture
evywahyuni memberi reputasi
Quote:


Beneran nggak apa-apa? 😅
Quote:


Ma sama juga, Mbakemoticon-Shakehand2
Melayang ke awan-awan nih aku😆😆. Bukan real story, kan?😆
masih rame aja ini emoticon-Wakaka
Quote:


Aku belum jd istri tp suka pake daster emoticon-Hammer
Aseeek dipanjangin... Lanjooot
Quote:


Gapapa mak, ciyus deh emoticon-Goyang
Quote:


Bukan Mbak hehehehe
Quote:


Siap
Quote:


Aku bukan istri konglomerat, dong, karena suka pake daster #tarik_bajunyaemoticon-Ngakak
Quote:


Kalau udah jadi istri tambah suka emoticon-Malu
profile-picture
Rapunzel.icious memberi reputasi
Quote:


Siap
Quote:


Terima kasih sudah mampir, Gan
Halaman 2 dari 5


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di