alexa-tracking
Kategori
Kategori
4.58 stars - based on 12 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c8e17e8977513209e2d752f/i-love-your-dimples

Kumpulan Teenlit : I Love Your Dimples

Tampilkan isi Thread
Halaman 10 dari 12
Quote:


Mlm beb
ry emang sdh pinter pun😍
Quote:


Hhh...lebay nih..mksih mksih pagi2 udah dapat pujian. Alhamdulillah.
Balasan post rykenpb
salah klick matanya ngantuk hhh'
Quote:


Mang mau klick ap gan..salam pagi
Quote:


Aku pinjem nama ya ha ha
Quote:


Nm siapa beb
ry, kamu di mana?
profile-picture
rykenpb memberi reputasi
ko banyak em dash?
profile-picture
rykenpb memberi reputasi
Quote:


Ada kok
Quote:


Emang knpa mbak
Quote:


biasanya dipake di narasi
profile-picture
rykenpb memberi reputasi
Quote:


Itu kan em dashnya di narasi...menurut mbak em dash itu apa dan apa fungsinya
Mengumpulkan keringat buruh-buruh yang berceceran di mana-mana
di dinding-dinding kota
dan lantai pabrik yang menua
sama saja dengan mengumpulkan airmata para betina
ketika berkaca dan menyaksikan kerut-merut di muka
lalu membanting cermin dan berkata;
tak ada lagi guna! Semua berlalu begitu saja!

Buruh-buruh yang sama jumlahnya dengan banyaknya butiran hujan
memenuhi jalanan di pagi yang kehilangan candaan
mengalir laksana air menuju di manapun ada lubang
yang digali dari keinginan tuan-tuan
untuk kemudian makan pagi, siang dan malam
di sela-sela selangkangan matahari yang tak jua meninggi
simbol dari harapan-harapan yang terkunci di peti mati

Siapakah yang sanggup memutar mesin-mesin industrialisasi?
jika bukan jari-jari dan kaki
para buruh yang melumasi matanya dengan oli
agar tak perlu melihat jeri pada angka-angka slip gaji
menghindarkan diri dari patah hati
lantas menambah angka-angka statistik tentang jumlah orang bunuh diri

Siapakah yang bisa mendandani wajah zaman yang begitu pesolek?
membubuhkan perona dan wangi-wangian pada tubuhnya yang molek
kalau bukan dengus nafas letih
dan sendi-sendi tulang yang merintih-rintih
dari para buruh yang menyuapi mulutnya setiap hari dengan asa
lalu memuntahkannya saat akhir bulan tiba

Ode ini untuk para buruh dan pekerja yang menggadaikan hari-harinya
pada almanak yang jarang sekali berganti rupa
lusuh dan bersahaja
orang-orang yang menyewakan kelelahannya
pada rencana-rencana yang enggan berenjana
namun tetap bersikukuh menjalaninya dengan niat mulia
profile-picture
rykenpb memberi reputasi
Quote:


Tumben mampir bang...selamat hari buruh...aku juga nih buruh..buruh tulis emoticon-Ngakak
profile-picture
Surobledhek746 memberi reputasi
Quote:


Rintik hujan tak jua memaksamu pulang. Pedal sepeda berputar nyanyikan lagu anak jalanan lapar. Hingga gersang mawar tak lagi tebarkan wangi. Dimana ia sembunyi.

Setiap helai kertas telah aku kuliti. Ia tak juga menampakkan diri. Padahal bulan merah saga sudah menepi pada tempatnya. Padahal semua surat sudah terkirim sampai di tangannya. Belum ada jawaban juga.

Pada buku tersusun kubongkar. Kucari lembaran indah dulu. Ada namamu di sana. Sebaris pesan pernah kau tuliskan. "Jangan menyerah sayang, hidup memang tak gampang." Aku masih ingat semuanya.

Jangan enggan kau bakar perpustakaan. Jika itu membuatmu senang. Hanya untuk sebaris rindu. Padahal tinggal titipkan pada angin malam. Aku masih megharapkan kau datang bawa pesan perdamaian.

Jangan sungkan kau bakar hutan. Jika itu membuatmu lega. Hanya untuk segenggam rasa. Aku masih tak tega kau pergi entah kemana. Mawar tak tinggalkan benih. Tangkai kering tak mungkin bertunas lagi. Dan aku masih di sini. Berkutat dalam sepi.

Aku masih membalik-balik buku. Tempatmu dulu ada di situ. Aku rindu kicau kutilang di pagi hari. Dengan pesan-pesan suci. Semua darimu. Semua untukku. Tak boleh yang lain membagi.

Kini aku masih di sini. Menanti bait terakhir yang pernah kau janjikan dulu. Pada mawar kering. Pada helaian kertas separo terbakar. Pada puing-puing tiang perpustakaan. Aku masih berharap ada pesan.
profile-picture
rykenpb memberi reputasi
Quote:


Malam ini separuh bulan menyibak tirai kenangan. Satu per satu lipatan waktu yang diendapkan musim memilih beku. Api yang dahulu menghangati adalah semusim hasrat yang menelanjangi jiwa kita. Api yang dulunya tergenggam di matamu telah redup oleh belati luka.

Kini musim dingin semakin beku. Setali rindu yang kita rajut telah terurai oleh deretan kelam. Wangi yang Tuan tidurkan dalam syahdu. Kini hanyalah angin entah. Seperti kata Tuan bahwa langit membagi musimnya. Tak usahlah mencari warna pada taman gersang. emoticon-Big Kiss
Semangat kakak
profile-picture
rykenpb memberi reputasi
Quote:


Okee
suka gambarnya
profile-picture
rykenpb memberi reputasi
Halaman 10 dari 12


×
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di