alexa-tracking
Kategori
Kategori
4.82 stars - based on 11 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d1dcdf9d439721c624ce2df/langkah-kecil-kecil

Langkah Kecil-Kecil

Tampilkan isi Thread
Halaman 2 dari 4
asik juga nih ceritanya. lanjut lagi gan.... emoticon-Cendol Gan
profile-picture
agungdar2494 memberi reputasi
Punya kemampuan seperti itu bukannya gak boleh dipake sembarangan ya, tanggung jawabny sama Tuhan. kok iseng banget baca pikiran orang..
Quote:


Oke sist thanks emoticon-Cendol Gan
**
A R K A - A R I A

Hembusan angin menebarkan bau rumput basah setelah hujan. Entah menurut orang lain tapi bagi gue bau rumput yang basah itu nyaman banget. Gue lihat sebentar ke arah pintu keluar tampaknya Mafaza dan Canda sedang terlibat dalam suatu obrolan. Obrolan yang bisa gue tebak tentang apa, Canda yang kena marah pulang kesorean, basah kuyup, dan berhias lumpur di kaki hingga badannya. Nampaknya ini akan jadi dialog panjang satu pihak, "yang tabah dan kuat dek" doaku untuk Canda.

Rupanya gue keliru, malah sebaliknya Canda menjelaskan sedangkan Mafaza mendengar diam. Canda yang sadar akan kesempatan jarang ini, jelas dengan cepat kabur masuk ke dalam.

Melihat Mafaza yang moodnya tidak begitu buruk, dengan percaya diri gue ajak aja ke pasar, semoga moodnya membaik.

Tak perlu lama bagi gue untuk memilih apa yang gue emang perlukan. Sebuah travelbag simpel sederhana. Mood Mafaza masih belum juga baik, dia seperti memikirkan sesuatu yang gue gak tau tentang apa.

Persis setelah gue membayar travelbag, gue melihat seorang ibu-ibu yang sedang tarik menarik tas dengan seorang laki-laki. Gue melangkah dengan cepat setengah berlari.

Dengan sigap gue mengambil tangan si laki-laki, menariknya kebawah dan membenturkan wajahnya ke lutut kanan, setelah itu langsung ku kunci tangannya ke belakang.

Tepuk tangan bergemuruh seketika, aku benci suasana ini. Lagipula, darimana saja mereka tiba-tiba hadir dan tepuk tangan?

"Arka Aria" teriak seorang perempuan yang kuhapal suaranya mengintip dan menyerobot dari balik kerumunan.

"Ibu gak kenapa-kenapa bu?" Tanyanya ke ibu memastikan. Matanya tajam mengitari seluruh badan sang ibu, seperti detector yang memerika setiap jengkal tubuh

"Aku gak kenapa-napa, maf" gue yang menjawab meski bukan gue yang ditanya.

"Kamu bantu tenangin ibunya ya, aku nganter cowok ini ke kantor polisi" pintaku ke Mafaza, yang dijawabnya dengan anggukan.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ceuhetty dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh agungdar2494
dikit amat nih gan, update nya?
+1 for today. emoticon-coffee

Jangan kasih kendor atuh. Karena Arka dan Canda masih perlu sosok seorang Mafaza. emoticon-army

Dan saran, ada baiknya setiap pergantian POV kasih nama di atasnya. Agar para pembaca tidak kebingungan membedakan mana sudut pandang Mafaza, dan mana sudut pandang Arka.

Contoh:

Quote:

Mantap. Semoga lekas naik HT.🔥









emoticon-Paw
profile-picture
ingintidur memberi reputasi
Quote:


Iya sist, ngetik lewat hp pusing. Lanjut nanti depan komputer ya.

Quote:


Siap Dok, thanks sarannya.

Aamiin
**
M A F A Z A

Mencari seorang Arka semestinya tidak cukup sulit, seorang laki-laki dengan tinggi 180 cm, berat ideal, kulit putih bersinar. Namun untuk menerobos kerumunan ini dengan badan mungil sepertiku, beda kasus lagi.

Aku menemukannya persis ditengah keramaian, terlibat aksi dengan seorang ibu dan seseorang yang sedang menunduk kesakitan. Setelah berhasil menyelinap diantara banyak orang yang sedang menonton, aku langsung mengamati Arka, tidak ada apa-apa kecuali bercak darah dilutut kanannya. Kuamati seorang ibu yang kulitnya pucat pasi. Tidak terdapat luka fisik apapun, namun ibu tersebut sedang terkena trauma dan panik ringan, aku harus segera membawanya keluar dari kerumunan ini atau dia akan sesak napas dan bisa berakibat fatal.

Seperti yang kuharapkan, Arka berinisiatif untuk membawa pelaku ke kantor polisi diiringi dengan orang-orang yang mulai mencoba main hakim namun selalu berhasil dihalau oleh Arka (Sepertinya dia lebih cocok jadi polisi ketimbang pengacara). Kerumunanpun berangsur sepi, orang-orang lebih tertarik terhadap pelaku ketimbang korban. Syukurlah.

Quote:


Langit sudah sepenuhnya jingga, sebentar lagi malam. Seorang pemuda mendekati kami perawakan dan wajahnya mirip sekali dengan Arka, sepintas aku kira ia Arka. Untuk sekedar jaga-jaga ku proses sedikit informasi singkat dari kepalanya. Namanya Atmaja Bagaskara yang kalau diartikan adalah Putera Matahari. Arka juga artinya matahari, apa mereka mirip karena namanya sama? Nama panggilannya Maja, seorang arsitek berusia 25tahun. Rupanya Maja adalah putra dari Ibu yang sedang disampingku ini. Pantas saja mukanya mirip.

Quote:


Berbeda dengan Arka, aku dititipkan ke panti sedari bayi, aku tak sempat mengenal ibu atau ayahku. Ceritaku kosong, dan singkat. Seorang bayi yang mungkin belum genap 40 hari, dititipkan ke depan pintu panti asuhan. Sejak itu aku dirawat oleh Ibu panti, yang kuanggap ibuku sendiri. Ibu Rahma.


profile-picture
profile-picture
profile-picture
ceuhetty dan 5 lainnya memberi reputasi
jangan2 kembaran nih sama Arka. emoticon-Bingung (S)
Lanjut lagi gan...
Nitip jemuran sambil baca 🙏
Quote:


Gak kembar kok, Arka kan 21tahun, Maja 25tahun emoticon-Toast
Siap.

Quote:

Silahkan ganemoticon-2 Jempol
Quote:


Ok deh, lanjut gan....
Wah jadi HT gan emoticon-Shakehand2 emoticon-Shakehand2
Quote:


Iya nih, momodnya baik banget.. Padahal cerita ane gk sebanding ama trit2 HT lainnya, viewer dan komen juga sedikit.. tapi HT emoticon-Ultah
Balasan post agungdar2494
boleh ni gan
profile-picture
arcaraya memberi reputasi
**

A R K A - A R I A

Kantor polisi

Suara mesin tik memenuhi ruangan, ada seorang ibu muda sekitar pertengahan 30 sedang melaporkan anaknya yang hilang. Selalu ada kejahatan setiap hari.

"Sesungguhnya hati juga butuh makanan, menu-nya adalah perbuatan baik, buruk, dengki, sombong, syukur, ikhlas dan banyak lagi. Kamu mau kasih makan hatimu apa, nak?" Ceramah bu Rahma tiba-tiba menggema di pikiran gue.

Semua orang mungkin ingin menjadi orang baik, tapi tidak semua orang hanya melakukan hal-hal yang baik, sebagian atau malah kebanyakan mementingkan terpenuhnya keinginan pribadi, parahnya dengan segala cara meskipun merugikan orang lain.

"Rajin banget kesini bang, udah jadi Polisi aja." Tegur Anton mengagetkanku keluar dari ruangan kepala kepolisian.

"Iya nih, kejahatan gak ada habisnya" jawab gue lesu dan sebal tanpa sengaja mengeraskan cengkeraman ke jambret amatir ini.

"Andai gak ada lagi kejahatan, bisa santai gue ya bang" jawab Anton terkekeh sembari mengamankan si penjambret.

"Ayo bang saya temenin bikin laporan" lanjutnya lagi.

Anton adalah seorang polisi yang cukup muda, lebih muda setahun dari gue. Lulus SMA ia langsung daftar dan menjadi polisi. Ikut jejak sang ayah, katanya.

Seusai menceritakan kronologis secara lengkap ke polisi, gue langsung bergegas ingin pamit, namun ditahan oleh Pak Lukman. Pak Kapolda daerah kami.

"Wah lagi-lagi Arka. Bawa apa lagi hari ini? Kamu jadi anggota kita aja lah sekalian." pintanya seru kemudian tertawa berat khas bapak-bapak seram.

"Arka mau sekolah dulu pak, sekali lagi. Ini pamit ya sekalian, bulan depan Arka cabut. Jauh pak, jangan kangen" jawab gue ke Pak Lukman.

Gue dan Pak Lukman akrab, bermula dari penjambret yang gue tangkep pertama kali. Waktu itu gue masih semester satu kalo gak salah, sekitar 3tahun yang lalu.

Pak Lukman kaget lihat gue yang menurut beliau mirip anaknya tapi lebih muda 4 tahunan bisa nangkep dan bawa pelaku seorang diri tanpa terluka.

"Mana korbannya?" Tanya Pak Lukman waktu itu.
"Korbannya aman pak, ama temen saya ditenangin ke panti." Jelas gue
"Korban harus dibawa kesini, supaya kronologisnya jelas, kita perlu keterangan dari korban." Jelas Pak Lukman galak.
"Santai aja kali pak, korbannya di panti, bapak urusin dulu penjahat ini. Korbannya tenang gue bawa kesini. Kalo gue bawa kesini sekarang bareng si pelaku, menurut bapak apa bijak?" Jelas gue tak kalah galak membuat mesin tik yang tadinya bernyanyi tiba-tiba hening.

Kira-kira begitulah keakraban gue ama Pak Lukman dimulai haha. Beliau bilang muka gue mirip anaknya, tapi sifat nggak sama sekali.

"Arka, ini korbannya dimana?" Tanya Pak Lukman setengah bercanda.

"Ada ama temen Arka pak, aman." Jawab gue, ngeh bahwa Pak Lukman juga sedang mengenang masa pertama bertemu.

"Jadi tahun berapa kira-kira temen Arka ini jadi istri Arka?" Ledek Pak Lukman yang kemudian diikuti tawa Anton yang terbahak.

"Adik pak, adik." Jawab gue, kali ini langsung kabur.

**

Di Panti

"Assalamualaikum" salam gue sembari masuk ke rumah, tidak ada jawaban. Rupanya anak-anak sedang sholat berjamaah. Ahmad yang mengimami kali ini, adik gue yang sebentar lagi jadi anak sulung di panti ini ngegantiin gue ama Mafaza. Dengan sigap gue ambil wudhu kemudian menyusul, masbuk.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ceuhetty dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh agungdar2494
"Jadi tahun berapa kira-kira temen Arka ini jadi istri Arka?" Ledek Pak Lukman yang kemudian diikuti tawa Anton yang terbahak. 


setuju nih, sama pertanyaan pak Lukman...
Quote:


Arka nya langsung kabur, bukan kali pertama dapet pertanyaan begitu (katanya) haha.

Btw thanks ya karna selalu ngikutin cerita iniemoticon-Shakehand2
Jngan2 Arka dan Aria kakak adik nih..
Eh kok itu ngetiknya belum pake komputer masih pake mesin tik ya emoticon-Hammer2
Quote:


Di beberapa instansi dan daerah emg masih pake mesin tik sist hheemoticon-Malu
Halaman 2 dari 4


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di