alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cahaya Diantara Kegelapan
5 stars - based on 4 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d1cb91cc0cad713ab29438f/cahaya-diantara-kegelapan

Cahaya Diantara Kegelapan

Tampilkan isi Thread
Halaman 2 dari 2
semakin menjadi penasaran
Chapter 10
Sebuah Pengakuan






Quote:


Aku menatap nya yang sedang tertunduk sambil memainkan kedua kaki nya. Hal mengejutkan apa lagi yang akan ia lakukan? Mengapa wanita ini selalu saja bisa membuatku seakan akan bodoh seperti ini?

Susana hening tiba tiba memeluk kami berdua. Tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya, begitu juga denganku. Aku lebih tertarik untuk menunggu kata selanjutnya yang akan ia ucapkan. Namun aku rasa itu tidak akan terjadi. Setelah mengucakan kata nya itu, ia tidak berani lagi menaikan wajah nya, menatap wajahku

Hingga aku pun mengalihkan pandangan mataku ke arah langit kembali, melakukan hal yang seperti biasa ku lakukan. Namun tanpa di temani oleh bulan. Kali ini, aku hanya menyampaikan semua keluh kesahku seorang diri. Sedang asyiknya hatiku berbicara, tiba tiba saja harus berhenti karena sebuah ucapan dari wanita di samping ku ini

Quote:


Suasana hening kembali datang. Tidak ada sepatah kata yang keluar diantara kami berdua. Aku asyik memandang ribuan bintang yang terang di langit sana, sedangkan Sabrina asyik dengan lamunan nya. Bulan telah kembali menampakkan dirinya. Namun entah kenapa saat ini perhatianku lebih tertarik dengan seorang wanita disampingku. Entahlah apa yang ada di dalam lamunan nya. Namun dari samping dapat ku lihat senyuman nya yang terkadang muncul di sudut bibir nya.

Dalam hati aku berdo’a kebaikan untuk diri nya. Aku tidak mau dan tidak pernah tega melihat wanita yang harus menangis karena mengalami goncangan kehidupan. Aku bahagia bisa membantu nya. Aku bahagia bisa meringankan sedikit beban nya. Dan yang terpenting aku bahagia bisa melihat senyuman nya!

Kali ini bahu kiriku terasa berat, aku yang sedang melamun pun terkejut saat melihat wanita di sampingku sedang menyandarkan kepala nya di bahuku.

Quote:



Cerita hidup ku ya? Mungkin, aku lebih memilih untuk tidak pernah di lahirkan daripada harus menjalani kisah hidup seperti ini, batinku..
Ini reborn?
iya ini reborn gan, kmaren kan semenjak kepergian almarhum tees coba lanjutin cerita ini versi tees tp katanya tees udah dapet file cerita ini versi lengkapnya punya almarhum jadi cerita yg lama di hapus trus di reborn lagi sekarang... itu setau ane yak maapin klo ternyata salah
profile-picture
daisyfields memberi reputasi
Diubah oleh aan2604
Quote:


Makasih udah mau bantu ngejawab kak emoticon-Smilie sedikit info, thread ini adalah thread yang kembali di reborn setelah sebelumnya di delete. Hal itu karena untuk thread yang kali ini pure sepenuhnya diceritakan dari sudut pandang Ts sebelumnya.
Terimakasih emoticon-Smilie
Ditunggu update-nya gan/sis emoticon-Jempol
Chapter 11
The Beginning






TOK TOK TOKK!!!
Aku mengetuk pintu kamar nya dengan keras

Quote:


Dan tidak lama kemudian ia keluar dengan menggunakan sebuah kemeja putih polos dan rok yang menurutku itu terlalu kecil. Atau memang seperti itu model nya? Entahlah! Namun melihat nya berpakain seperti itu membuat jakun ku naik turun

Quote:


Hmm.. menunggu lagi dan lagi, batinku kesal
Aku segera melangkahkan kaki ini menuju balkon yang berada tidak jauh dari kamar nya Sabrina. Aku perhatikan pemandangan yang berada jauh disana. Sebuah bangunan pencakar langit yang menjulang tinggi menjadi sebuah pemandangan yang tidak bisa lepas sepanjang mataku memandang.

Lalu di sebelah kanan nya, ada sebuah tempat perbelanjaan yang megah lengkap dengan wahana permainan roller coaster yang keluar dari bangunan tersebut. Unik, batinku. Dalam hati aku berfikir, bagaimana ya rasa nya menaiki wahana tersebut?

Quote:


Kali ini, ia masih mengenakan kemeja putih polos, namun di padukan dengan celana jeans hitam panjang. Dan tidak lupa, hoodie merah muda luntur andalan nya yang melapisi bagian luar badan nya. Entah kenapa, aku sangat menyukai tampilan sederhana nya ini, daripada penampilan yang sebelum nya. Ia terlihat lebih lucu, di tambah rambut hitam pekat nya yang di kuncir kebelakang menyerupai kuda. Dan tidak lupa, sebuah poni yang berada di jidat nya juga sedikit helaian rambut yang tergerai di samping poni nya.

Satu kata untuk nya, She’s looks perfect!

Quote:

Sepanjang perjalanan, hal biasa yang ia lakukan terhadapku adalah memeluk ku dengan erat nya. Sambil berceloteh mengenai suatau hal, membuat perjalanan ku sangat tidak terasa. Sesampai nya aku di Rumah Makan milik salah satu kerabatku, aku segera mengajak nya untuk bertemu temanku.

Namun belum sempat kaki ini melangkah lebih jauh, ia menarik tanganku dengan paksa

Quote:


Aku dan Sabrina segera duduk di kursi yang sudah di sediakan oleh pegawai tadi, ternyata kursi ini memang sudah di pesan untuk ku, batinku. Aku kemudian mengalihkan pandangan ku ke arah Sabrina yang tengah celingak celinguk memperhatikan sekeliling nya.

Entah apa yang sedang ia perhatikan, namun melihat nya seperti itu membuat senyum di bibirku merekah

Quote:


Aku memperhatikan ia yang sedang melepas hoodie merah muda nya itu. Kemudian ia titipkan hoodie itu kepadaku sambil menitipkan sebuah pesan “Awas kalo jaketku kotor”. Hahahaha.. dalam hati aku tertawa, sebegitu berharga nya hoodie merah muda mu ini?

Kemudian aku masih memperhatikan ia yang sedang berjalan mengikuti om Eki di depan nya. Sebelum nya di kost-an, aku sudah memberikan ia sedikit pelajaran untuk mengikuti sebuah tes interview agar berjalan lancar. Dan aku berharap, ia memahami semua pelajaran yang sudah ia terima dan bisa menerapkan nya untuk saat ini. Yup, semoga saja.

Quote:


Baru saja aku hendak menjawab pertanyaan Randi, Sabrina sudah keluar dari ruangan nya om Eki. Ia menatapku tersenyum sambil memeluk tas gendong di dada nya. Aku sudah bisa menebak bahwa Sabrina pasti di terima, batinku yakin

Perlahan tapi pasti, ia berjalan menghampiri kami lalu kemudian duduk di sebelah ku. Aku yang dari tadi sibuk memperhatikan nya, heran melihat tingkah nya yang seperti ini. Ada apa dengan dia? Batinku.
Kemudian Sabrina mendekatkan wajah nya kepadaku lalu membisikan sebuah kalimat yang membuat aku begitu bahagia

Quote:

profile-picture
aan2604 memberi reputasi
Quote:


Ini kisah nyata TS?
"cek atm aku udah tf uangnya". motong ceritanya -__ kayak Spongebob global tv yang di potong pas bagian akhir, pas selesai iklan ternyata udah abis.
Chapter 12
The Moment






Quote:


Baru saja aku hendak menjawab pertanyaan Randi, Sabrina sudah keluar dari ruangan nya om Eki. Ia menatapku tersenyum sambil memeluk tas gendong di dada nya. Aku sudah bisa menebak bahwa Sabrina pasti di terima, batinku yakin

Perlahan tapi pasti, ia berjalan menghampiri kami lalu kemudian duduk di sebelah ku. Aku yang dari tadi sibuk memperhatikan nya, heran melihat tingkah nya yang seperti ini. Ada apa dengan dia? Batinku.
Kemudian Sabrina mendekatkan wajah nya kepadaku lalu membisikan sebuah kalimat yang membuat aku begitu bahagia

Quote:


Kami mengobrol banyak siang itu. Terutama tentang pekerjaan yang akan Sabrina jalani esok hari. Ia terlihat antusias mendengarkan om Eki saat beliau menjelaskan meknasime pekerjaan dan segala seluk beluk tentang tempat ini sambal diselingi dengan candaan khasnya.

Om Eki bisa dibilang seseorang yang pandai menempatkan suatu hal pada tempatnya. Ia tahu kapan harus bersikap serius, dan santai. Tidak heran mengapa ia sangat di hormati oleh para pegawainya. Terlebih ia seorang yang senang bercanda.

Sesekali aku perhatikan wajah Sabrina dari samping. Ia yang sedang serius menatap lawan bicaranya, lalu tersenyum, tertawa saat mendengar celotehan om Eki membuat hatiku sedikit bahagia. Entahlah, namun saat melihat ekspresi wajahnya itu mengingatkanku akan seseorang yang sudah setahun pergi. Aku merasa ada kesamaan antara Alm Annisa dan Sabrina, namun entah dimana akupun belum mendapatkannya.

Quote:


Kita memakan makanan yang sudah dihidangkan dengan khidmat. Terlebih Sabrina, aku melihatnya sangat menikmati makanan tersebut. Sekali lagi, mataku dibuat terhipnotis oleh dirinya. Setiap kali aku melihat kearahnya, mata ini selalu sulit untuk dikendalikan.
Sepertinya mataku benar benar menikmati makhluk indah yang ada di depanku ini..

Quote:


Sungguh, hal itu telah menjadi moment indah yang telah hadir dalam hidupku
keknya tees ngepost ini juga sambil nangis dh keinget kenangan2 itu, emoticon-Mewek
Chapter 13
See You in 17






Quote:

Damn! Ia benar benar pintar dalam bersikap. Beberapa kali pertanyaannya membuat gua stuck! Gua terdiam, berpikir sejenak apa yang harus gua lakukan setelahnya. Bagaimana caranya untuk membuat ia percaya padaku. Salah satu sudut bibirku sedikit naik dan kupejamkan mataku sambil menggaruk pelan kening yang tidak gatal ini menggunakan ujung jari telunjuk. Apa yang harus aku berikan untuknya?

Quote:


Sementara aku masih terdiam mematung diatas motorku. Mencoba untuk memahami hal yang baru saja terjadi. Mencoba untuk menetralisir rasa menakjubkan yang tiba tiba datang tanpa permisi. Apa ia baru saja mengecup pipiku? Tanyaku dalam hati.

Aku pegangi pipi yang baru saja terkena serangan kejutan dari seorang wanita misterius berhoodie merah jambu tersebut. Mengapa ia melakukan hal seperti itu? Aku mencoba mencari jawaban yang masuk akal atas semua yang baru saja terjadi. Namun belum sempat aku menemukan jawabannya, suara cempreng yang tidak asing memanggilku dan menyadarkanku dari lamunan tidak berguna ini.

Quote:
profile-picture
nothingnew memberi reputasi
Quote:


anggap aja fiktif kak emoticon-Smilie
Quote:


hehehe if you know what i feel emoticon-Smilie
Quote:


kayaknya jarang ada orang yg sanggup ngerasain apa yg tees rasain sekarang, karna ane blom nemu orang yg sekuat tees apalagi almarhum, kalian emang luar biasa... salut
memang sulit yah meninggalkan org yg tersayang. apapun itu ts harus tetap melangkah

wenak rek
Semangat teruss buat apdet bangg
Diubah oleh nothingnew
Chapter 14
Kejutan






Tanggal 17 di bulan sekian..

Hari ini aku ingin bertolak kembali ke kota kembang, dimana sebelumnya aku sudah membuat janji dengan wanita misterius yang aku tau bernama Sabrina. Sebelumnya, aku mempersiapkan terlebih dahulu barang-barang yang akan aku bawa dalam perjalanan ini.

Quote:

Cuaca pagi ini cukup bersahabat, batinku. Aku sejenak pergi ke pemakaman umum di sekitar rumahku untuk mengunjungi sebuah makam yang sedang aku rindukan. Aku berjalan disebuah jalan kecil yang hanya cukup untuk satu motor. Jalan ini diapit oleh sawah dan juga empang di kedua sisinya.

Sesekali aku menghirup udara segar yang masih murni ini. Embun dingin menyeruak masuk ke dalam rongga hidungku, membuat organ dalam tubuhku menggigil kedinginan. Aku pandangi sebuah pemandangan luas dan indah yang menakjubkan dihadapanku. Pemandangan ini sungguh menyejukan mata. Bersih, asri, dan yang pasti sebuah warna hijau terang yang belum terkontaminasi oleh polusi.

Pemandangan inilah yang Alm.Ayahku inginkan. Yup, namun sayang sekali ia telah terlebih dahulu pergi sebelum bisa menikmati pemandangan indah ini. Aku lanjutkan kembali perjalanan menuju makam yang masih ada di ujung jalan ini.

Quote:


Sesekali air mataku menetes dengan sendirinya. Perasaan sedih tiba tiba datang kedalam hatiku, jiwaku bergetar saat tanganku mengelus pelan nisan yang bertuliskan namanya. Pagi yang penuh keindahan itu tiba tiba lenyap, tergantikan oleh sebuah kesedihan dari sebuah kehilangan.

Quote:

Aku memejamkan mata, mencoba untuk meresapi semua energi pagi yang ada disekitar. Aku menghembuskan nafas pelan, lalu mencoba untuk menghirupnya kembali dalam dalam. Entah menagapa, aku merasakan perbedaan udara saat ini. Serasa ada kehangatan yang masuk menembus relung hati. Aku tersenyum, mencoba untuk menyadari apa yang sebenarnya terjadi.

Quote:


Lalu aku panjatkan do’a untuk beliau sejenak. Dengan khusyuk akumembaca ayat demi ayat yang aku peruntukan untuknya. Setelah selesai, aku siram makamnya dengan sebotol air yang sebelumnya telah aku bawa, dari ujung kaki sampai kepala telah terbasahi oleh air, tidak ada yang terlewat. Kemudian aku bangkit, matahari telah menampakan sinarnya. Hawa hangat matahari menjalar di seluruh tubuhku. Aku menghirupnya dalam dalam.

Ahh!! Sudah lama sekali aku tidak merasakan hawa seperti ini. Pagi ini benar benar pagi yang sangat bersahabat bagiku. Dan aku menyukainya!

---


Aku panaskan motorku sebelum aku berangkat menuju kota Bandung. Aku mengecek kembali semua barang bawaan untuk memastikan tidak ada yang terlewat, dan juga memeriksa kelayakan motorku, seperti ban, rem dan lampuutama. Memastikan bahwa semuanya baik-baik saja. Setelah aku yakin semuanya dalam keadaan baik, dan mendapatkan izin dari ibuku, aku segera melajukan sepeda motor menuju tujuan.

Pukul sepuluh, aku sudah berada di daerah cibiru. Yup, aku memberhentikan sepeda motorku disini lagi, tempat dimana aku menyaksikan bagaimana terenggutnya nyawa seseorang yang aku sayangi dengan tragis. Entah mengapa, setiap kali aku berkunjung ke kota ini, aku selalu memberhentikan sepeda motorku di daerah ini. Atau lebih tepatnya di jalan ini.

Quote:

Dari percakapan itulah aku dan ibu warung yang aku tau bernama Ibu Siti itu menjadi akrab. Setiap kali aku berkunjung ke Bandung, aku pasti selalu singgah di warung miliknya ini. Beliau adalah orang yang ramah, dan merupakan pendengar yang baik. Ia mengetahui semua kejadian yang aku alami dalam hidup ini. Dan ia juga sering kali memberikanaku saran atas kejadian itu. Sebagaimana ia bersikap layaknya seorang ibu yang memberikan wejangan kepada anaknya.

Ibu Siti meninggal pada awal tahun 2018. Dan itu sangat membuatku terkejut karena kepergiannya yang tiba tiba. Terakhir kali aku berkunjung ke warungnya ibu Siti, aku masih bisa mendengar beberapa wejangan dari beliau. Dan saat ini warung ibu Siti masih ada, namun aku tidak terlalu mengenal sosok ibu warung yang sekarang. Aku masih sering berkunjung ke warungnya, hanya untuk menghangatkan tubuhku sejenak, ataupun mengingat semua kenangan di tempat ini.Walaupun aku dan ibu warung yang sekarang tidak terlalu akrab, namun sepertinya beliau pun mengetahui tentang kejadian kecelakaan yang aku alami beberapa tahun silam. Hal itu membuatku sedikit terkejut, tapi aku tidak begitu menghiraukannya.

Pukul setengah sebelas siang aku sudah berada di café tempatnya bekerja. Setelah sebelumnya aku menelpon om Eki untuk meminjam Sabrina setelah jam istirahat, dan disetujui olehnya. Aku pun berniat memberikan kejutan kepadanya.

Quote:


Aku memperhatikan sekitar. Tempat ini selalu saja ramai seperti biasanya, batinku. Diarah jam sepuluh, aku melihat om Eki keluar dari ruangannya. Ia tersenyum menatapku dan aku balas kembali dengan senyuman.

Dari jauh aku melihat seorang Sabrina sedang berbincang dengan seorang waiter yang mencatat pesananku. Aku segera mengenakan upluk hoodie berwarna abu-abu untuk melengkapi penyamaranku. Dan aku menunduk saat melihat ia berjalan menghampiriku.

Quote:


Aku segera melepaskan hoodie yang kukenakan dan tersenyum saat melihat wajah terkejut miliknya. Ia tidak percaya melihatku. Seolah olah aku ini hantu yang baru saja bangkit dari kuburnya. Sumpah demi apapun, melihat wajah terkejutnya itu membuatku geli sendiri! Aku ingin sekali tertawa, namun aku tahan demi menjaga skenario yang telah aku susun.

Quote:

Sepertinya semua rencanaku untuk membuatnya terkejut berjalan dengan sukses, batinku tersenyum senang..
ini chapter versi almarhum ya sist??? klo nggak salah di trid sebelumnya di lanjutin versi sista????
Halaman 2 dari 2


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di