alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cinta Ini Begitu Menyakitkan
3.8 stars - based on 5 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cd4f6a6af7e932e9d720963/cinta-ini-begitu-menyakitkan

Cinta Ini Begitu Menyakitkan

Tampilkan isi Thread
Halaman 9 dari 9
Quote:


Ngeri banget sis liat picnya
profile-picture
delia.adel memberi reputasi
Quote:


Ya begitulah kira-kira gan sis
Quote:


GIF
profile-picture
delia.adel memberi reputasi
Mobilnya menyentuh pepohonan kurang taste sista lebih ada tastenya jika mobilnya menabrak pepohonan jadi ada emosi yang terpancar keluar Sista.


En selamat ya cerita Sista jadi hot trit sekarang.
profile-picture
delia.adel memberi reputasi
Quote:


Ya begitulah kira-kira
Quote:


Ya mksh kakak...maaf aku masih suka kepoin link kakak ya


Quote:



Sama-sama Sista emoticon-Shakehand2 emoticon-Toast

Yah nggak papah kepo Sista emoticon-Big Grin
profile-picture
delia.adel memberi reputasi
Quote:


Iya link kakak masih aku simpan soalnya
Quote:


Link apa? Minta dongemoticon-Betty
profile-picture
delia.adel memberi reputasi
Quote:


Link apa? Aku minta link nya dong!emoticon-Betty
profile-picture
delia.adel memberi reputasi
Quote:


Quote:


Link aku ya cari uang bisa kaga ya
profile-picture
profile-picture
anakjahanam721 dan rajabebek memberi reputasi
Quote:


Delia ngomongin cinta...
emoticon-DP
profile-picture
delia.adel memberi reputasi
Quote:


Iya om...emang kaga boleh ya omemoticon-Ngakakemoticon-Mewekemoticon-Mewekemoticon-Mewek
profile-picture
adolfsbasthian memberi reputasi
Quote:


Boleh2 aja sih...
emoticon-Leh Uga
profile-picture
delia.adel memberi reputasi

SOCIAL EXPERIMENT

profile-picture
delia.adel memberi reputasi

Nenek Tua

Spoiler for screenshot gogle:



Sebuah rumah, sepi dan berantakan. Dedaunan menumpuk berserakan dan begitu banyak lumut tumbuh di sekeliling tembok yang berwarna angkuh, nampak seorang nenek tua. Dia kesepian dan terasing. Matanya yang bulat dan penuh garis keriput berjalan gontai keluar dari kamar dan berkata, "hai langit! Di mana kekasihku?"

Padahal malam ini, hanya ada gulita dan letak kesenangan para pemabuk yang asik menikmati berteguk-teguk air surga seperti biasanya. Tetapi nenek tua itu nekat berjalan ke luar rumah mencari kekasihnya, si burung pelatuk dari kerajaan zaman Erectus.
Spoiler for screenshot gogle:


Nenek tua bertemu dengan begundal tengik dekat samping rumahnya. Dia memperhatikan pemuda itu satu persatu, berharap kekasihnya ada pada salah satu pemuda yang sedang mabuk alkohol.

"My love, Derectus ...." Nenek tua langsung memeluk tubuh salah satu pemuda.

"Hajar, broe!"

"Ada apa, Nek? Kau minta aku temani malam ini ya? Baiklah!"

Semua pemuda pemabuk masuk ke dalam rumah nenek dan berpesta pora bersama tubuh renta si nenek.

"Gila! Nenek itu ternyata masih gadis!"

"Lezat, gurih dan nikmat!"

"Hai! Bagaimana jika si nenek hamil?"

"Tidak mungkin! Dia terlampau tua."

Sejak saat itu kejadian ini menjadi berulang-ulang setiap malam, dan membuat wajah keriput nenek tua menjadi lebih kencang, bahkan semakin muda saja. Sedangkan para pemuda pemabuk semakin keriput dan tidak segar lagi sampai akhirnya mereka meninggal satu persatu.

Rumah nenek tua juga semakin indah di pandang mata. Perlahan-lahan semua lumut dan sampah menghilang begitu saja. Bahkan dinding rumah semakin lebih berkharisma.

Dan anehnya Setipa malam nenek tua selalu duduk di beranda menanti kekasihnya. Tiga bulan kemudian nenek tua hamil. Pest kehamilannya segera dirayakan dengan kemegahan yang melebihi sebuah pernikahan. Semua orang yang diundang terkesima oleh kecantikan nenek tua yang berubah semenjak awal kehamilannya.

Bahkan banyak pria bujangan yang terpikat oleh kecantikan nenek tua. Dari sekian banyak yang mendekati nenek tua, hanya satu pria yang mengacuhkannya. Dia adalah Ich, pria sederhana berkepala batu. Anak dari juragan jengkol yang tinggal di dekat bukit merah, delapan kilometer dari rumahnya.

Nenek tua mendekatinya dan menyapanya, "nak, sudahkah kau cicipi nasi rawon ku?"

"Sudah! Tetapi tidak enak. Terlalu tua warnanya, mengelabuhi pandangan mata."

"Coba kau nik ...." Pemuda itu menyela pembicaraan nenek tua, kemudian pamit pulang.

"Maaf! Aku permisi pulang."

Nenek tua hanya melongo tidak percaya akan perbuatan Ich kepadanya. Amarah nenek akhirnya tumpah, pesta dibubarkan tiba-tiba dan dia menghancurkan banyak perabotan. Ada sebagian pemuda yang masih berada dalam rumah nenek tua, saat amarahnya meledak. Kemudian para pemuda itu di ajak masuk ke dalam kamar utama dan mulai berpesta pora kembali.

Tarian nenek tua yang sedang hamil, membuat napsu para pria naik ke ubun-ubun, sehingga hasrat nakalnya mulai menjelajahi lekuk tubuh nenek tua. Nenek tua menikmatinya dan semakin merajalela. Akhirnya satu persatu para pemuda dilayani, sambil terus tenggelam ke dalam alunan musik slow, yang berbunyi hingga waktu begitu cepat berganti menjadi begitu teriknya.

"Hai pulanglah kalian! Ini sudah tengah hari."

Para pemuda itu kemudian pulang dengan kenangan indah bersama si nenek tua. Sedari kejadian malam itu, rumah nenek tua terkunci rapat, hingga seekor lalat saja tidak berani mendekat.

Kehamilan nenek mencapai usia tua dan saatnya melahirkan. Dokter di telpon untuk segera datang. Beberapa jam kemudian bayinya lahir dengan banyaknya kumpulan lemak di sekujur tubuh bayi.

"Nak? Ayo kita mencari matahari."

Kemudian bayi dijemurnya agar lemak yang mengumpul bisa hilang. Setelah beberapa menit di jemur, bayi berwarna merah dan lemaknya sudah menghilang. Nenek kemudian bernyanyi tembang Jawa.
Tak lelo lelo lelo ledung
(aku timang-timang)
Cup menenga aja pijer nangis
(Cup diamlah jangan nagis terus)
Anakku sing bagus rupane
(Anakku yang ganteng wajahnya)
Yen nangis ndak ilang baguse
(jika nangis nanti hilang gantengnya)

Tak gadang bisa urip mulyo
(Aku gadang bisa hidup sejahtera)
Dadiyo priyo kang utomo
(Jadilah pria yang utama)
Ngluhurke asmane wong tuwa
(Mengharumkan nama orang tua)
Dadiyo pandekaring bangsa
(Jadilah pendekar bangsa)

Wis cup menenga anakku
(Sudah cup diamlah anakku)
Kae mbulane ndadari
(Itu bulannya purnama)
Kaya butho nggegilani
(Seperti raksasa yang mengerikan)
Lagi nggoleki cah nangis
(Sedang mencari anak yang nagis)

Tak lelo lelo lelo ledung
(Aku timang-timang)
Enggal menenga ya cah bagus
(Cepat diam ya anak ganteng)
Tak emban slendang batik kawung
(Aku gendong dengan selendang batik kawung)
Yen nangis mundak ibu bingung
(Jika menangis nanti Ibu bingung)

Diubah oleh delia.adel
Halaman 9 dari 9


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di