alexa-tracking
Kategori
Kategori
4.83 stars - based on 6 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c83b0ba2637726c273052bf/hati-yang-kecewa

[SFTH] Hati yang Kecewa

Tampilkan isi Thread
Halaman 8 dari 9
Quote:


😂 Ada tuh bang yang baru
Cinta terlarang dosa yg menjalani. coba jawab.
profile-picture
bekticahyopurno memberi reputasi
klo baca nggak dari awal, ko imajinasinya kepotong-potong
profile-picture
bekticahyopurno memberi reputasi
Quote:


😂😂 bolehlah baca sambil minum jus...
profile-picture
bekticahyopurno memberi reputasi

CTIDS? : Berbagi Ranjang

Cinta Terlarang Ini Dosa Siapa? Awas Baper, Bagian 37


Hati yang Kecewa


Gina Aulia Seruyansyah


Wanita tercipta hanya sekedar tempat pembuangan sampah safsu pria. Itulah yang setidaknya mereka katakan padaku saat masih berkecimpung di dunia perjelijihan. Di mana antara hitam dan putih begitu tipis perbedaanya.

"Menikahlah dengan Aa Bayu, Angel!"

Sebuah permintaan bodoh dari seorang yang bibir mungilnya tak asing menari-nari di leherku dulu sebelum akhirnya di nikahi laki-laki bernama Bayu.

Sebagai sesama wanita tentu aku masih punya hati dan rasa. Meski perasaanku sejatinya sudah terkubur ribuan tahun bersama waktu yang sudah terlewati.

Masih pantaskah aku ini disebut manusia? Tanpa harapan, tanpa masa depan. Semua segelap mendung menelan awan menutupi mentari. 

Kehidupanku mulai berubah saat bertemu laki-laki yang bibir merekahnya tidak asing menyusuri setiap inci dari tubuhku mulai ujung rambut hingga ujung kaki. Segala cara sudah aku tepiskan nostalgia semalam di surga di Surabaya waktu itu.

"Baik," balasku lirih seraya menatap pria tampan yang baru saja menjadi seorang ayah. Mata, alis, hidung bahkan bibirnya mampu membuatku bertekuk lutut.

Apa yang harus aku katakan; Bahagia atau sedih? Jujur, aku bukanlah wanita munafik dan memang aku sudah jatuh cinta saat pertama menari bersama. 

Perbedaanya, Gina berani melangkah lebih cepat mengambil sikap.

Sedangkan diriku terlalu takut untuk jatuh cinta lagi dan menerima kenyataan hidup ini apa adanya. Bukan apa adanya? Sepertinya takdir membuat konspirasi untukku.

"Makasih ya, Gel," pinta untuk memeluknya. Kuhamburkan tubuhku dalam pelukannya dan kami menangis bersama.

Entah itu sebuah tangis bahagia atau tangis kepedihan? Aku tak bisa membedakannya. Permainan apalagi yang dilakukan waktu untukku? Setidaknya, tubuh jalang ini hanya akan kuabdiakan pada satu pria saja.

Tenggorokanku terbakar tercekat terdiam seribu bahasa untuk beberapa saat. Terlihat Bayu juga meneteskan air mata. Entah itu air mata bahagia karena akan punya dua istri? Atau air mata kepedihan karena akan memikul tanggung jawab yang besar.

Gilanya adalah Gina nampak lebih bahagia saat aku menerima mau di nikahi Bayu suaminya itu. Sunggunh pemandangan yang konyol dan tidak masuk akal sama sekali. 

Dua bulan berikutnya aku menikah dengan Bayu secara syah hukum agama dan negara. Memang tidak ada pesta yang meriah bahkan aku tak bisa mengabari kakakku di Manado.

Hanya ada beberapa tamu dari beberapa teman dan tetangga. Bagiku saat itu hanyalah meluruskan niat agar ke depan bisa hidup lebih baik lagi. 

~•☆•~


Aku masih memandangi diriku di cermin, masih cantik. Riasan wajah berkilau, rambutku digelung sederhanana mengenakan kebaya putih lambang kesakralan pernikahan. 

Kedua kakiku masih terekat di lantai, tidak mampu beranjak pergi meski sudah waktunya bersiap-siap menuju altar. Di hari paling bersejarah dalam hidupku, tidak ada satupun keluarga menemani.

"Pa... Ma... Apa kalian bisa melihatku di sini?" Gumamku sendu-sedan. Tanpa terasa sebening tirta meleh membanjiri pipi. 

Satu-satunya keluarga yang kumiliki tidak pernah menganggapku ada. Kakak, masih masih menyalahkanku atas kepergian Papa dan Mama.

Kuhela nafas dalam-dalam, sedikit demi sedikit tubuhku mulai bisa bergerak. Bagaimana'pun caranya harus kutepiskan segala keraguan dalam minda.

"Angela, kamu sudah siap?" tanya Gina yang berjalan mendekatiku. 

"Sudah!"

"Aku minta maaf jika membebanimu," ucap Gina sembari menyeka air mataku.

"Gak usah ngomong seperti itu, Celine. Bukankah kita sudah biasa berbagi ranjang?"

"Ah, kamu bisa aja!" Kemudian kita tertawa getir bersama seperti biasanya. Bedanya sekarang kita berbagi ranjang karena kerelaan dan cinta.

Dengan perlahan Gina  menuntunku menuju suaminya. Laki-laki yang juga akan menikahiku. Jodoh itu unik, yang di kejar menjauh, yang jauh mendekat. Inilah awal dalam hidupku menjadi Istri Bayu. Terserah kata orang meski harus berbagi ranjang.

Saat upacara sakral itu usai dan satu persatu tamu mulai pergi, aku masih saja seolah tak percaya bahwa kini sudah menikah.

"Malam ini milikmu, Angela. Maaf telah memintamu mengantikan kewajibanku untuk Aa Bayu," kata Gina memegang jemariku.

"Kenapa kita sama-sama aja? Seperti biasanya dulu."

"Ngaco kamu! Ini malam pertamamu."

"Lagian aku juga masih mengeluarkan flat darah. Memang sih sudah lewat massa nifas tapi gak tau belum juga bersih," jelas Gina.

"Tapi aku gak punya malam pertama yang bisa kupersembahkan untuknya."

"Emang aku punya? Udahlah kita sama-sama tau, Say."

Mungkinkah Gina tidak cemburu padaku? Atau memang urat sarafnya sudah putus? Entah semua ini bisa dikatakan sebagai malam pertama atau tidak? Yang jelas ini giliranku membahagiakan Bang Bayu.

Hebatnya lagi, aku belum malam pertama sudah punya putri cantik  bayinya Gina. Meskipun si mungil Lea bukan darah dagingku sendiri, namun aku sangat menyayanginya lebih dari pada diriku sendiri.

~♤~


Hati yang Kecewa


Angela Waro Seruyansyah


Malam pertama tidak perlu membaca kitab kamasutra karena bisa dikatakan aku ahlinya. Lucunya, aku justru dua kali lebih nervous saat kini tingal kita berdua di atas ranjang.

Sudah dua jam kita berdua mematung membisu tidak ada sepatah katapun yang terucap. Padahal sangat terpancar jelas kemolekan tubuhku yang mengenakan lingerie tipis lembut berwarna putih.

"Kalau Abang capek, istirahat saja." 

Aku mencoba untuk mencairkan suasana.

"Kenapa kamu mau menikah denganku?" tanyanya bagai petir menyambar.

Aku hanya memandangnya dengan mulut yang masih terkunci. Haruskah aku berkata jujur? Entahlah semendadak otak menjadi kosonng.

"Aku cinta ama, Abang. Meskipun itu bukan permintaan Gina, jujur aku memang cinta sama abang dari pertama aku datang kerumah ini," balasku lirih.

Sebenarnya aku sudah jatuh cinta saat pertama bertemu di Surabaya.

"Aku tidak bisa menjanjikanmu, bisa berbuat adil sebagai suami. Aku hanya bisa berjanji untuk menjalankan kewajibanku sebaik mungkin. Masih ada kesempatan sebelum semuanya terlambat," jelasnya.

"Aku mengerti dan siap dengan segala resikonya, Bang."

"Apa kamu mencintaiku?"

Mendengarnya aku hanya bisa menelan jelijihku sendiri. Sedikit kusibakan dua liuk melandai-landai memberinya sinyal. Namun lagi-lagi Bang Bayu hanya mematung tidak beranjak.

Rasanya otakku sudah mulai gila menahan gejolak  rindu dalam dada. Secepat kilat kutanggalkan semua benang yang menempel tubuhku sebagai jawaban atas semua pertanyaannya.

Karena sudah pernah mencoba berbagai gaya 'nyeleneh',  gak akan puas rasanya jika belum membuat  Bang Bayu mengakuiku sebagai Magister Kama Sutra pada malam pertama.

Derit ranjang menjadi melodi sepanjang malam dengan menyanyiakan deru nafas ke udara. Keperkasaanya menghuncam kalbuku hingga ke ujung langit menggapai surga.


Next 

BACK INDEKS Link
profile-picture
mbakendut memberi reputasi
Diubah oleh bekticahyopurno
Quote:


Yups emang sengaja dibuat seperti itu, biar ada penasarannya emoticon-Cool
profile-picture
YulianAnggita memberi reputasi
Quote:


Jawab apa, ya? Cinta Terlarang Ini Dosa Siapa?
profile-picture
yukinura memberi reputasi
Quote:


Lanjut doang, gak pernah nongol?
profile-picture
yukinura memberi reputasi

[HYK; CTIDS? ] Kota Seribu Bunga

Cinta Terlarang Ini Dosa Siapa? Awas Baper, Bagian 38

Hati yang Kecewa


Angela Waro Seruyansyah


Deru mesin mulai terdengar saat peswat  lepas landas melayang ke angkasa. Kuletakan kepalaku bersandar pada bahu pria bermata elang. Mata yang mampu membuat jelijihku meleleh berkali-kali.

Lukisan awan putih bergerak mulai nampak di luar jendala pesawat saat Penerbangan dari Bandar Udara Soekarno-Hatta menuju Sam Ratulangi Manado. Aku masih saja terekat seolah tidak mau lepas menikmati aroma harum tubuh lak-laki yang kini menjadi suamiku.

Entah apa yang membuat Bang Bayu memaksaku untuk pulang ke tanah kelahiran, Tomohon. Kota yang ditasbihkan sebagai Kota Bunga berkelas Internasional. Sebenarnya aku tidak yakin, kakak akan menerima kepulangan kita.

"Jangan takut! Kita pasti bisa meluluhkan kakakmu," kata Bang Bayu sembari menciumi pucuk rambutku.

"Tapi, Bang?"

"Sudahlah jangan dipikirkan. Percaya saja sama Abang."

Bukan kemarahan kakaku yang aku takutkan sebenarnya namun kenangan jahat di kota itu. Kenangan yang merengut keperawananku bahkan ke dua orang tua yang telah melahirkanku.

"Kalau Abang maksa, aku bisa apa?"

"Sayang... Kamu sekarang sudah menjadi istri Abang 'kan? Sudah semestinya keluargamu harus tau. Apapun hasilnya nanti, yang terpenting kita sudah melakukan yang terbaik."

"Iya sih Bang. Tapi kan aku udah cerita bagaimana masa laluku yang kelam."

"Setidaknya kamu tau semua masa lalumu. Sedangkan Abang?" pekik tanyanya terhenti. Seolah tersirat pada lensa matanya akan ada sesuatu.

"Abang sudah ingat semuanya?" balik tanyaku mengintrogasi. 

Mungkinkah Surya mengingat semuanya. Jujur aku memang tidak terlalu tau tentang masa lalunya. Yang aku tau dia dulu salah satu pelanggan yang kecelakaan dan kemudian di nikahi Gina.

"Ya Abang ingat."

"Ceritakan semuanya padaku, Bang," pintaku menatapnya serius.

"Bener kamu mau tau?" balasnya menantang.

"Ya Bang, Angela mau tau semuanya tentang Abang."

"Yakin?"

"Yakkin seribu persen."

"Baiklah. Abang ingat saat kamu selalu menatap aneh pada Abang."

"Maksudnya?"

"Saat Abang bermesraan sama Gina. Abang perhatiin kamu sebenarnya diam-diam suka 'kan sama Abang," balasnya menggoda puas.

Aku hanya diam jengkel sekaligus malu. Ternyata selama ini Bang Bayu memperhatikanku.

"Jangan tinggalin aku ya, Bang. Aku gak mau kehilangan orang yang aku cintai lagi," ucapku seraya memeluk tubuhnya eret-erat. 

"Ngomong apa sih sayang. Kamu dan Gina selamanya dalam hidupku. Aku cukup beruntung memiliki kalian. Bankan terkadang seolah tak percaya memiliki dua istri namun rukun."

"Bang Bayu hebat dong!" cebikku.

"Maksudnya?"

"Hebat bisa membuatku kewalahan saat di atas ranjang," balasku mencubit hidung mancungnya.

Tanpa sadar sudah satu jam pesawat melayang di udara. Kulihat para penumpang sebagian banyak yang tidur dikursi masing-masing.

Kalau tidak ada halangan, biasanya sekitar dua jam penerbangan untuk Jakarta-Manado. Semendadak mindaku teringat Lea di rumah bersama mamanya. 

"Lea sedang apa sekarang ya, Bang?"

Entah mengapa aku sangat kangen pada si cantik mungil yang berusia dua bulan sepuluh hari itu. Padahal baru beberapa jam saja meninggalkannya. Gina memang yang melahirkannya, namun  Lea adalah anakku.

"Paling nangis nyariin kamu."

"Gina yang nyariin Abang kali," balasku mencebik. Bang Bayu hanya manggut-mangut diam saja seolah tidak mendengar.

Dalam pelukan laki-laki yang keperkasaanya selalu membuatku bertekuk lutut, kelonjotan hingga tepar, perlahan mataku mulai terpejam memasuki alam mimpi.

~●~


Spoiler for Manado :


Burung besi raksa melayang ke udara mulai mendarat hinngga membangunkan tidur nyenyakku. Tak terasa kini aku sudah sampai di Bandar Udara Sam Ratulangi Manado.

"Udah bangun sayang? Bentar lagi kita turun."

Aku hanya mengeliat dengan isi kepala yang sedikit pusing hingga akhirnya pesawat itu berhenti. Para penumpang sudah mulai bersiap-siap turun, sedang kakiku masih memaku seolah tak mau beranjak pergi.

"Ayo kita turun sayang," imbuh pintanya.

Dengan malas terpaksa aku turun ke luar dari pesawat dengan memegang erat tangan Bang Bayu. Tangan yang selalu membuatku melayang ke ujung kutub utara.

"Bang kita cari penginapan Boulevard, ya. Besok kita baru ke Tomohon."

"Kenapa besok? 'Kan cuma satu jam saja dari sini?"

"Aku mohon please...."

"Apasih yang gak buat istri Abang," godanya seraya berjalan ke luar bandara untuk mencari Taxi.

"Ah gombal."

Hari itu sengaja aku ingin bersenang-senang dulu dengannya di Kota Manado. Aku juga kangen makan pisang goreng dengan sambal pedas di pantai Malalayang.

Seperti kata orang, belum bisa di katakan ke Manado jika belum Lima B; Bandara, Boulevard, Bunaken, Bubur Manado dan 'Bi bir Manado'.

Eits jangan salah dulu yah, bibir manado di sini adalah bibir pantai di sulawesi utara seperti yang di tulis oleh Pahlawan Nasional Sam Ratulangi. Dulu aku paling suka hang out di bibir Pantai Malalayang makan pisang goreng dengan sambal pedas khas Manado sembari menikmati indahnya pemandangan laut.

Setelah naik taxi kita meluncur kota yang sudah tak asing bagiku. Akhirnya kita menginap di salah satu hotel berbintang di sikitar jalan Piere Tendean, Wenang, kawasan Boulivard.

Aku duduk  manis di kursi bawah pohon ruangan lobby sementara Bang Bayu memesan kamar dan menyelesaikan segala adminitrasinya. Perlahan tubuhku sudah mulai segar meski hatiku di penuhi kenangan jahat masa lalu.

Bang Bayu mendekat menghampiriku kemudian di salah satu kursi seraya memandangku tajam.

"Kamu gak capek?" Sebuah tanya memberi isyarat.

"Selama bersama Abang, mana kita orang ada capeknya, jo,' balasku menantangnya. Meskipun Bang Bayu sudah mengakuiku sebagai Magister Kama Sutra, sebenarnya aku sering di buatnya tepar tidak berdaya.

Tidak beberapa lama staff resepsionis memanggil dan mengatakan kamar sudah siap. Sebab Bang Bayu sudah menantang, kita segera menuju masuk kamar.

Setibanya dalam kamar kuhamburkan tubuhku di atas ranjang. Sementara Bang Bayu tergesa mengunci pintu kamar hotel dari dalam.

"Aku capek, Bang. Gak usah ya?" tanyaku mencebik seraya berjalan menuju kamar mandi untuk membuang air kecil dan mandi membersihkan diri.

Seperti biasa, pria yang keperkasaanya selalu menghuncam hatiku melayang ke angkasa sudah tidak sabar, akhirnya kita mandi bersama.

Emang dasar mahkluk pejantan itu selalu tidak sabaran kalau ada maunya? Sama sekali gak peka dan gak bisa di katain. Sekali-kali coba ngerti sedikit kek, istrinya tu capek apa gak? Yah mau bagaimana lagi, aku selalu tak bisa menolaknya.

~♡~


Mencintai memang butuh kerelaan dan keikhlasan. Selain perjuangan, cinta juga butuh pengorbanan. Bercinta dengan hati untuk sebuah keabadian, impian para pecinta sejati.

"Kamu suka?" Sebuah bisik tanya yang membuatku geli merinding.

 Dalam dekapan Bang Bayu, aku memandangi pesona indahnya cahaya surya di atas laut dari beranda hotel. Dibawah pokok nyiur, angin menerpa manja memaksaku untuk tidak ingin terlepas dalam pelukan pejantan tangguh itu.

"Selama bersama Abang, Angela suka," balasku lirih.

"Kamu sudah siap?" tanyanya meyakinkan.

"Sudah Bang, besok kita pulang ke Tomohon," tegas balasku.

Setelah matahari terbenam, kita menyusuri kota Manado dan belanja  di Mega Mall Boulivard. Membeli beberapa hadiah buat kemenakan dan kakak di rumah, walaupun aku sendiri tidak yakin mereka akan menerimanya atau tidak.

Bunga di taman ketika mekar semua mata memandanginya namun saat gugur siapa yang tau? Akulah bunga yang sudah gugur terbuang itu.

Setelah satu jam lebih perjalanan dari Kota Manado ke Tomohon, akhirnya kita tiba di depan sebuah rumah.

Rumah di mana aku menghabiskan masa kecilku di sana. Seolah terdengar lagu Bunda-Melly Goeslow mengiringi langkah kakiku yang tertatih. Sebening tirta tanpa terasa melompat membanjiri pipi.

"Ma aku pulang!" pekikku sendu-sedan.

Kering kerontang dalam dada menyayat-nyayat jiwa. Seolah terlihat gambaran papa yang dulu selalu memanjakanku. Papa yang menyerahkan seluruh hidupnya untuk ke bahagiaan putrinya.

"Pa aku pulang!" imbuh pekikku lagi.

Satu persatu kenangan yang seharusnya indah kini justru menjadi kenangan jahat. Kenangan yang menpora-porandakan mindaku saat ini.

Dari dalam rumah terlihat satu-satunya saudara yang masih aku miliki di dunia saat ini. Seketika terhenyak memandangku dengan tatapan nanar berkaca. Waktu seolah terhenti dengan sebuah kepedihan di sana.

Mulutku masih terkuci rapat sedangkan air mata meleleh bersamaan ingusku yang tidak terbendung membanjiri wajah. Sebuah wajah yang paling di benci oleh Margareta Warow.

"Maafkan aku, Kak!" ucapku sendu-sedan.

Segera aku ingin bersimpuh di kakinya dengan tangisan tergugu sebelum akhirnya kakak menangkapku, menuntun untuk duduk di kursi ruang tamu.

"Kakak sudah memaafkanmu. Bagaimana seorang Kakak bisa membenci satu-satunya adik di miliki?" katanya sembari menyeka air mataku.

Sementara Bang Bayu hanya mengusap-usap pundakku yang kini duduk bersebelahan.

"Maafin aku, Kak," tangisku tergugu.

"Kakak yang seharusnya meminta maaf karena telah gagal menjagamu. Gagal menjaga amanah yang di titipkan oleh Mama dan Papa. Jujur memang kakak butuh waktu untuk bisa berdamai dengan diri kakak sendiri," tegas jelasnya.

Kita'pun berpelukan dengan tangisan yang pecah untuk beberapa saat.

"Kak, ini Bang Bayu, suamiku!" ucapku mengenalkan pada Kak Reta dan suaminya.

"Kapan kalian menikah? Kenapa tidak ngabarin, Kakak?"

"Baru sepuluh hari. Maafin aku, Kak."

"Sudahlah gak apa-apa. Yang terpenting kalian semua sudah ke sini. Bagaimana kalau besok kita ke Pendeta agar kalian di berkati?" 

"Maaf, Kak. Aku sudah pindah keyakinan," balasku memegang tangannya.

"Ya sudahlah kalau begitu. Biar nanti Kak Ary membeli makanan muslim untuk kalian."

Inilah pertama kali hubunganku dengan Kakak mulai membaik setelah lima tahun yang lalu. Andai saja Bang Bayu tidak memaksaku pulang, mungkin selamanya aku dan kakak masih salah paham.

Bunga di taman ketika gugur memang tidak ada yang tau. Sedangkan harumnya akan di kenang jua, seperti yang dikatakan Bang Bayu benar adanya. Yakinlah sebuah ketulusan harumnya  akan di kenang juga apapun keadaanya.

Seperti bunga ditaman yang terdiri dari berbagai warna, begitulah sebuah keindahan tercipta. Apapun warna bungamu, jadilah warnamu sendiri dengan tulus serta selalu bersyukur agar hidup lebih indah.

Next 


BACK INDEKS Link
profile-picture
profile-picture
mbakendut dan YulianAnggita memberi reputasi
Diubah oleh bekticahyopurno
harus jeli bacanya. biar g salah faham
profile-picture
bekticahyopurno memberi reputasi
Quote:


Salah pahammya di mana? Asal baca dari awal pasti tau, kalau baca lonc-loncat pasti bingung.
profile-picture
YulianAnggita memberi reputasi
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16
Quote:


Salah paham sama gaya bahasanya pak...😂😂

[HYK :CTIDS?] Balas Dendam

Cinta Terlarang Ini Dosa Siapa? Awas Baper, Bagian 39

Hati yang Kecewa


Tiada  maaf bagimu! Sampai ke ujung neraka, aku tidak akan memaafkanmu, Alena. Kamu telah merenggut segalanya bagiku. Persetan dengan dosa, andaikan dulu kamu tidak menggoda Mas Urya, mungkin saat ini dia masih ada bersamaku.


~Eva Puspita Sari Seruyansyah~


Lima Hari Sebelumnya

Hari-hari menjenuhkan seperti biasanya. Eva masih duduk di kursi kantor tempatnya bekerja dan menghabiskan waktu di sana. Tumpukan kertas seolah tidak ada habisnya menghampiri meja kerja setiap hari yang melelahkan.

"Reza sini!" teriak panggil Eva. Ya Reza yang kini menjadi tangan dan matanya di kantor.

"Ada apa, Ma," balasnya tergopoh mendekat.

"Lihat ini!" tunjuknya pada layar laptop.

"Iya, ada yang salah, Ma?" tanyanya bingung.

"Bukankah ini rekening bank dengan atas nama Surya?" tunjuk lagi dengan jantung berdegub kencang.

Terlihat ada  catatan aliran dana delapan belas tahun yang lalu. Tertera angka yang cukup fantastic di sana! Sekitar sepuluh milyar rupiah lebih.

"Bukankah transaksi itu setelah kecelakaan pesawatnya Papa?" tanya Reza mengernyitkan kening seolah tak percaya. Reza adalah anak panti yang sudah mereka anggap seperti anak sendiri.

"Benar, Za. Jadi selama ini Urya masih hidup?"

"Kalau memang masih hidup, kenapa gak pulang, Ma?"

"Apalagi kalau bukan memilih perempuan itu," balas Eva dengan hati terbakar sesakkan dada. Tubuhnya lemas terkapar tak berdaya.

Jika benar kamu masih hidup kenapa tidak pulang? Jika bukan buat aku maka buat Raditya anakmu? Tidak... Kamu memang bukan manusia, Urya. Bahkan saat pemakaman papamu sendiri kamu tidak pulang. Kenapa?

~ Pikir Eva Puspita Sari~

"Mama tenang dulu. Jika benar Papa Surya masih hidup pasti kita akan menemukannya. Reza akan meminta bantuan polisi untuk mengusut ini."

"Tidak Za. Kamu harus cari tau sendiri dengan diam-diam. Aku ingin tau apa yang sebenarnya terjadi. Ingat ini rahasia kita berdua. Kamu jangan memberitahu Raditya," tegas perintahna dengan nafas tersengal.

"Baik, Ma. Reza tau."

Apa kehebatan Alena sehingga Urya memilihnya? Apa karena tubuhnya lebih molek? Tidak. Aku bahkan lebih cantik darinya.

Lantas kenapa Alena mengatakan bahwa aku yang menang saat itu? Dasar perempuan binal licik. Begitu rupanya dia mengkelabuiku. Tidak Alena! Aku bukanlah perempuan lemah yang akan mudah menyerah begitu saja. Lihat saja nanti, pembalasan itu lebih kejam.]


~Eva Puspita Sari 

~•♡•~


Kanya Anantasya

Hummer H2 berwarna putih lembayung baru saja tiba di depan rumah Agra. Senja itu Kak Raditya menjemput Dita untuk dinner di rumah Lea. Turut juga aku yang duduk di depan dalam mobil.

Dres hitam selutut sederhana menempel pada kulit putih Dita nampak terlihat kalem sekaligus elegan. Rambut panjang terurai dengan tatapan mata judes membuatnya nampak cantik melangkah seksi berjalan menuju masuk ke dalam mobil.

Kulihat dua manik Kak Raditya yang memandangnya tidak berkedip saat membuka pintu mobil. Ia hanya bisa terperangah menelan jelijihnya sendiri berkali-kali. 

"Lu cantik, Ta!" ucap Kak Raditya tanpa dosa. Seolah darah mendesir dari ujung kaki hingga ujung kepala membuat jantungnya berdetak tak beraturan.

"Apa, Dit?" Dita terhenyak mematung denang pipi merekah.

"Gak.. Gak apa-apa," balasnya seraya mempersilahkan masuk dalam mobil. Kak Raditya memperlakukan Dita bak tuan putri.

"Ayo jalan," ucapnya setelah masuk dalam mobil bertenaga kuda itu.

"Baik," balasnya lirih. Segera Kak Raditya masuk dalam mobil dengan tangan gemetar. 

Roda mobil itu mengelinding muram bersama perih hatiku yang melihat pemandangan menyakitkan antara Kak Raditya dengan Dita. Apapun yang dilakukan ban belakang selalu warna cat mobillah yang di kagumi seperti halnya diriku yang tak dianggap.

"Bisakah kamu melihatku di sini? Melihatku sedikit saja?"


Gumamku pada angin dan jendela yang menyuguhkan lukisan bergerak muram. 

Sesekali kupaksakan mengintip wajahnya lewat pantulan kaca spion dalam mobil. Terlihat jelas sumburat wajahnya sumringah bahagia. Kebahagiannya yang justru membakar hatiku. Mengangah sakit tiada terkira.

"Raditya, aku bisa apa?"
pekik gumamku lagi.


Aku tak kuasa menahan perih ini. Sekalipun aku meneteskan air mata darah, aku bisa apa? Kamu bahkan tak pernah menganggapku ada.

Sungguh aku sudah tak sanggup dengan semua ini. Senyum, tawa dan tatapanmu untuknya telah menghunus, menghunjam jantungku berkali-kali.

"Dari tadi gue perhatiin lu diem aja, Nya?" Sebuah tanya dari Dita yang membuyarkan lamunanku.

"Enggak.. Gak ada apa-apa, Ta!" tegas balasku.

"Boleh minta nomer whatsapp lu," pintanya.

"Boleh," lalu kuberikan hapeku padanya.

"Makasih ya, Nya," balasnya setelah menyimpan nomer Ehatsapp-ku. "Beruntung lu punya kakak seperti Raditya," imbuhnya sembari mengembalikan benda persegi empat itu.

Aku hanya tersenyum kelu tipis manggut-manggut saja tidak membalas kata-katanya. Setelah beberapa saat, akhirnya kita sampai di rumah Lea. Terlihat satpam membukakan pintu pagar depan dan mobil, kamipun masuk di halaman rumahnya yang cukup luas dan di pakirkan di sana.

Lea langsung menyambut dan membawa kami ke ruang tamu untuk di perkenalkan pada keluarganya. Aku masih seolah tak percaya saat melihat Papanya Lea begitu mirip dengan Papanya Raditya dalam foto yang pernah aku lihat.

Namanya Om Bayu dan Istrinya Tante Angela, terlihat mereka seperti pasangan yang serasi dan penuh kebahagiaan. Memiliki dua putri cantik Lea dan Anni, menambah kebahagiaan itu.

Alangkah bahagianya mereka memiliki keluarga yang sempurna. Betapa bahagianya jika suatu saat nanti aku dan Kak Radit menikah dan memiliki keluarga yang bahagia seperti mereka.

 Ah tidak... Itu hanya khayalanku saja. Bahkan kini cintaku bertepuk sebelah tangan.

Semua hidangan sudah tersaji di meja makan dengan berbagai macam menu pilihan di sana. Kak Raditya duduk diapit aku dan Dita, sementara Lea berhadapan langsung kita di meja makan. Pembicaraan 'pun mengalir dan kami menceritakan berbagai hal di sana.

~•○•~


Raditya Bagaskara Seruyansyah

Mungkinkah pria gagah di depanku ini adalah ayahku? Kenapa saat melihatnya seolah tidak asing? Entah mengapa aku bisa merasakan sesuatu getaran yang begitu kuat, begitu dalam. Menerima undangan makan malamnya, itulah alasan aku datang kemari.

"Jadi kalian satu sekolahan dengan Lea?" Sebuah tanya gagah berwibawa dari Om Bayu.

"Iya, Om," jawab kami serentak kompak.

"Sekali lagi Om sekeluarga mengucapkan terimakasih pada kalian. Sebagai hadiah kalian minta apa?" tanyanya tajam. Kedua manik matanya memancarkan cahaya karismatik yang begitu kuat.

"Gak... Gak usah, Om. Kita gak minta apa-apa!" tegasku menolak. 

Jujur aku semakin penasaran ingin mengetahui lebih banyak siapa sebenarnya Om Bayu ini? Namun bukan sifatku menolong orang lain karena pamrih.

"Kalian mau liburan ke mana?" tanyanya lagi sembari meletakan sendok dan garbunya di piring.

Bahkan ayam goreng dengan sambal bawang aroma sedikit jinten serta asam jawa makanan kesukaanku, sepertinya sama dengannya. Bagaimana mungkin Tante Angela bisa memasak semua ini? Kelezatanya saat menggoyang lidah, sama seperti masakan Mama.

"Maksudnya, Om?"

"Kata Lea, kalian mau liburan 'kan? Nanti Om yang tanggung semuanya." 

Aku terpaksa tak bisa menolaknya. Kulihat Kanya dan Dita'pun seolah menghiyakan.

"Udah ada rencana mau liburan ke mana?" tanya Tante Angela ramah.

"Belum ada, Tan,' balas Kanya. "Mungkin ke Bali bisa jadi pilihan," sahut Dita.

Entah ada apa dengan Dita? Setiap mendengar nama Pulau Dewata Bali, seolah ada magnet untuk menariknya ke sana. Mungkinkah di sana dia di ciptakan? Padahal kata Dita mamanya dari Kota Malang.

Sebenarnya aku ingin ke kota Kretek Kudus, kotanya para santri. Atau ke Jepara, mengunjungi kakek dan nenek di kampung.

"Lea sependapat dengan Kak Dita. Tapi ke Pangandaran juga gak masalah tuh," imbuhnya.

Aku sendiri menjadi bingung mau ke mana? Memang benar, makhluk berambut panjang selalu banyak maunya. Setelah selesai makan kami'pun melanjutkan pembicaraan di halaman dekat kolam renang.

~•♡•~


Terang cahaya rembulan merona hiasi sang malam memantul indah di atas air jernih kolam renang. Jika benar Om Bayu adalah ayahku, maka aku benar-benar tidak akan memaafkannya.

Bagaimana mungkin seorang ayah begitu tega meninggalkan anaknya bahkan sejak dalam kandungan. Mungkin aku bisa terima jika suami-istri bisa bercerai, namun anak? Sampai ke ujung neraka 'pun tetap anaknya.

Aneh, jika melihat kasih sayang Om Bayu pada Lea dan Annie begitu tulus, rasanya tidak mungkin dia ayahku. Tante Angela juga baik dan ramah ke pada siapapun. Mungkinkah ini karena kita baru bertemu? Tidak... Lantas kenapa hati nuraniku seolah sudah mengenal mereka lebih dari siapapun? Entahlah.

"Kak Raditya?"

Sebuah suara dari gadis kecil berambut pendek berhidung mungil. Annie yang baru berusia sekitar sepuluh tahunan. Jarak usia antar Lea dan adiknya begitu jauh terpaut tuju tahun.

"Annie sini. Gimana kabarmu?" tanyaku dengan melemparkan senyum manis. Entah mengapa hatiku merasa bahagia saat melihatnya. Mungkin karena aku sangat menginginkan adik kecil.

"Baik. Kak Radit ganteng pasti banyak pacarnya ya?" balik tanya Annie tanpa merasa bersalah. Entah siapa yang mengajari anak sekecil itu bicara seolah dewasa. Aku hanya tersenyum saja.

"Kak Raditya belum punya pacar kok. Kamu aja yang jadi pacar Kakak," godaku terkekeh.

"Aku gak boleh pacaran soalnya masih kecil. Nanti Kak Dita marah! Iya 'kan, Kak?" Annie melemparkan mukanya pada Dita yang semendadak angin berdiri di belakangku.

"Iya apanya?" balasnya malu sembari mencubit pipi Annie kecil yang sok tau itu. Sontak  aku pun tercekat melihatnya seolah ada sesuatu yang aneh di sana. Mungkinkah aku mulai jatuh hati pada Dita? Lantas, apakah dia merasakan hal yang sama?

Ayu wajahnya telah menyinari relung hatiku yang telah lama beku. Sinar tatapan matanya yang tajam berulang kali telah menghuncam jantungku hingga berdetak tidak beraturan. 

Apalaigi saat bibir mungilnya memanggil, sungguh membuat tubuhku gemetar menggigil dari ujung kaki hingga ujung kepala. Hanya Dita yang beberapa hari ini membuatku tidur tidak nyenyak, makanpun tidak enak. 


Next


BACK INDEKS Link
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ymulyanig3 dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh bekticahyopurno
Quote:


Klo saya lupa deh gan, pemerannya banyak banget emoticon-Mewekemoticon-Mewek
profile-picture
bekticahyopurno memberi reputasi
Aku baca dari awal dulu, Kakemoticon-Big Kissemoticon-Big Kiss
profile-picture
bekticahyopurno memberi reputasi

[HYK; CTIDS?] Impian Pria

Cinta Terlarang Ini Dosa Siapa? Awas Baper! Bagian 40

Hati yang Kecewa


"Apa salahnya lelaki memiliki istri lebih dari satu? Aku baru saja pulang honeymoon bersama istri ke empat, Angela dari Manado. Akhirnya tiba juga kita di Bandung dengan semangat baru, semangat perjuangan menjalani hidup."


~•○•~


Urya Delapan sembilan belas tahun yang lalu.

"Lia sayang Papa pulang, Nak!"

Kupandangi wajah lembutnya dalam timanganku, entah sudah berapa kali kuciumi pipinya yang memerah gemesin. Sementara Angela masih sibuk bercengkerama dengan Gina di atas ranjang, bag koper terbuka dengan isi oleh-oleh dari Manado berantakan di sana.

"Jangan sama papa terus, mama juga kangen, Lea cantik. Sini Bang, biar si mungil aku gendong," pinta Angela memaksa. Karena aku masih kangen sama putriku tentu tidak aku berikan.

Seandainya setiap istri di dunia ini seperti Angela yang selalu menjadi Magister Kama Sutra di atas ranjang maka tempa-tempat pelacuran akan banyak yang tutup karena para suami pada betah tinggal di rumah.

Seandainya setiap istri di dunia ini seperti Gina yang dengan tulus menerima suaminya menikah lagi maka kantor-kantor pengadilan agama akan sepi kasus perceraian dan sibuk melayani pernikahan.

Tidak... Hinga detik ini aku masih dihantui rasa bersalah pada Eva yang selamanya menjadi jiwaku. Sakit hati ini belum juga sembuh akibat pengkhianatan Alena yang menderaku selama ini.

"Sini Bang! Lea malam ini bersamaku. Gina juga kangen sama Abang tuh," bisik Angela mencebik imbuhnya.

"Apaan sih? Aku dengar lo, Angel!" Sahut Gina berjalan mendekat malu. Semenjak Gina melahirkan hingga saat ini, memang aku belum memberinya nafkah batin.

Andai saja waktu itu aku tidak bertemu Alena mungkin Eva tidak harus menderita kesepian dan terluka. Tidak lucunya, akibat pertemuanku dengan Alena yang penuh luka ternyata justru menyelamatkan Gina dan Angela dari dunia pelacuran.

Ya kalau saja Alena tidak menikah lagi dengan laki-laki lain maka tidak mungkin aku bertemu Celine yang ternyata bernama Gina. Manusia memang hanya bisa berencana sedang takdir selalu berkata berbeda.

Siapa yang pernah menang berdebat dengan wanita? Kuberikan Lea pada Angela dengan sedikit menatapnya. Sekarang aku harus bisa menghadapi dua mahkluk cerewet bin bawel dalam hidup ke depan.

~•♡•~


"Madunya udah aku siapkan tu, Bang!" tunjuk Angela pada botol madu di atas meja. 

Sengaja madu alami itu aku pesan dari Nusa Tenggara Barat, di mana madu itu hanya di panen pada bulan tertentu setiap tahun. Gina yang mendengar semua itu hanya tersenyum malu.

"Kalau Aa Bayu capek, istirahat aja gi," pintanya lembut.

"Maafin Aa ya, Neng."

"Kenapa Aa minta maaf?" Setelah aku duduk di atas ranjang, Gina meletakan ke palanya di pangkuanku. "Aa gak salah kok. Jadi Neng minta jangan ngomong seperti itu lagi," imbuhnya.

Dulu aku pernah berkata pada Eva; Bukankah memiliki dua istri pekerjaan akan menjadi ringan? Satunya masak di dapur  sedang yang lain bersih-bersih rumah! Maksutnya bukan menjadi pembantu namun gotong royong dalam rumah tangga.

"Makasih ya, Neng," balasku seraya membelai rambutnya.

 Kota Bandung memang terkenal penghasil wanita cantik batinku saat memandangi wajahnya. Apalagi setelah melahirkan, wajah Gina nampak bersinar meski tanpa make up.

"Sekarang Neng sudah meresa tenang. Jika suatu saat Neng pergi sudah ada yang menjaga Aa dan Lea," ucap biibir mungilnya dengan tatapan nanar berkaca. Waktu seoalah terhenti, entah mengapa kurasakan perih dalam dada.

"Itu gak lucu! Aa gak suka Neng ngomong seperti itu. Pasti Neng akan sembuh!" pekik balasku. Sesuatu panas melesak keluar membanjiri wajahku.

"Jadi Aa sudah tau semuanya?" tanyanya terhenyak kemudian duduk menatapku mengintrogasi. Aku hanya membalasnya dengan anggukan saja. 'Aa tau penyaki Neng?" imbuh tanyanya lagi sendu-sedan.

Terlihat jelas Gina gemetar menggigil tubuhnya, bukan karena dinginnya suhu Kota Konfrensi Asia-Afrika pertama itu melainkan sesuai yang mengganjal dalam dada.

"Aa akan melakukan segalanya untuk kesembuhan Neng. Angela'pun sudah tau dari awal."

"Tapi Aa..." Sebelum Gina menyelesaikan kata-katanya, tergesa kulumat bibirnya. Jerit kepedihan dalam jiwa telah berganti derit ranjang sepanjang malam. Kini Gina telah mendapatkan nafkah batinya dariku yang mungkin telah lama dia tunggu.

"Minum dulu madunya, Aa," pintanya. 

"Sudah dari Neng!"

Jujur sebenarnya aku sangat takut untuk kehilangan Gina, wanita yang telah memberikan segalanya untuk kebahagiaanku. Satu jam saja aku bisa mencintainya seumur hidup sedang melupakannya memerlukan waktu seumur hidupku.

Malam itu seolah terdengar alunan Saat Terakhir-ST12 mengiringi kebersamaanku dengan Gina. Seperti Kota Bandung yang menjadi simbol kota perjuangan maka aku akan berjuang dengan segenap jiwa raga untuk kesembuhannya.

"Aa gak bosen ama Neng 'kan?" tanyanya seraya menunjukan sembulan lemak pada perutnya. Perut yang telah menjaga malaikat kecilku selama sembilan bulan sepuluh hari.

"Bosen kalau 'Neng Geulis' ngomong seperti itu terus," balasku sembari mencumbunya

Lebih baik istri-istri dan anak-anaku kelak yang menghantarkan mayatku kepemakaman dari pada aku yang melihat pemakamannya. 

Kasih sayang dalam hati terbagi seperti ranting pohon. Bila pohon kehilangan kehilangan salah satu rantingnya yang kuat, maka ia akan menderita namun tidak mati.

Meski aku tau kebenarannya seperti itu, aku lebih baik mati saja jika bisa memilih dari pada harus menerima penderitaan ini.

Gina memang bukan yang pertama ataupun yang terakhir. Kehadirannya telah membangun penjara sempit dan menyakitkan dalam hatiku. Di dalamnya ia telah mengasingkan kasih sayang dan hasrat-hasratnya.

"Bawa Neng ke surga, Aa!" pintanya maksa dengan sebening tirta melompat menghujani kulit lumbut pipinya.

Tiada kata-kata lagi yang terdengar kecuali deru nafas menyeruak memecah malam hingga pagi tiba. Kitapun sama-sama tepar saat sinar menatri mulai masuk menampar-nampar membangunkan dua manusia di atas ranjang.

Pagi itu aku pergi ke kantor dengan semangat dewa menyelesaikan pekerjaan yang menjenuhkan. Tentu saja mengumpulkan butiran-butiran beras untuk menafkahi meraka yang selalu menungguku pulang ke rumah.

Rumah impian semua pria di seluruh dunia. Ya impian pria yang mungkin mereka pendam karena tidak berani mengungkapkan pada istrinya. Kalau tidak percaya, tanyakan saja pada suami-suamimu itu wahai emak-emak? Plak.

Next



BACK INDEKS Link
Diubah oleh bekticahyopurno
Quote:


Iya memang banyak tokohnya ha ha , seperti film emoticon-Ngakak
Quote:


Silahkan, tapi panjang bingit, bisa sampai tidur2 ha ha ha
profile-picture
mbakendut memberi reputasi
Quote:


Ane baca di waktu senggangemoticon-Ngakak
profile-picture
bekticahyopurno memberi reputasi
Halaman 8 dari 9


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di